• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK 2

N/A
N/A
Wahyu Cakra Wijaya

Academic year: 2025

Membagikan "KELOMPOK 2"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PERMASALAHAN K3 DAN SUMBER BAHAYA DARI

BAHAN/MATERIAL KONSTRUKSI

KELOMPOK 2

(2)

Dalam Pembangunan Gedung Presisi Divisi TIK Polri (Mabes Polri) dibangun pada Lokasi Mabes Polri Kebayoran Baru, Jakarta

Selatan

BAB 1 PENDAHULUAN

Berikut Data-data Proyek :

Nama Proyek : Gedung Presisi Divisi TIK Polri ( Mabes Polri ) Lokasi Proyek : Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Nilai Kontrak : Rp. 12.200.000.000.000,-

Kontraktor : PT. Adhi Karya ( Persero ) Tbk.

(3)

0

1 KETENTUAN UMUM 02

“Mengatur tentang kehandalan, keselamatan dan kesehatan serta kenyamanan gedung”

DALAM PERMASALAHAN K3 DAN SUMBER BAHAYA DARI

BAHAN/MATERIAL KONSTRUKSI pada Gedung Presisi Divisi TIK Polri ( Mabes Polri ) ada

Undang-Undang No.28/2002 Tentang Bangunan Gedung Mengenai

PELAKSANAAN TEKNIS K3

a. Kewajiban di bidang penanggulangan kebakaran b. Kewajiban pemasangan sistem proteksi pasif & aktif c. Kelengkapansarana evakuasi dan daerah aman

d. Kelengkapansarana pengolahan limbah e. Kelengkapansarana kenyamanan gedung

(4)

Bahaya dari bahan/material konstruksi di lapangan dapat berupa risiko cedera fisik, gangguan kesehatan jangka panjang, dan masalah lingkungan akibat limbah konstruksi. Pekerja konstruksi rentan terhadap kecelakaan seperti terjatuh, terbentur, atau tertimpa material. Selain itu, bahan bangunan tertentu, seperti asbes atau senyawa organik yang mudah menguap (VOC), dapat menyebabkan masalah pernapasan, kanker, atau gangguan neurologis. Limbah konstruksi juga menjadi masalah serius karena dapat mencemari lingkungan dan memerlukan penanganan khusus.

BAB 2 PERMASALAHAN DILAPANGAN

(5)

RISIKO FISIK

Terjatuh : Pekerja konstruksi berisiko terjatuh dari ketinggian, tangga, atau perancah. 

Terbentur : Benda jatuh atau terbentur benda keras dapat menyebabkan cedera serius. 

Terjepit/Terpukul : Peralatan konstruksi atau mesin berat dapat menyebabkan cedera terjepit atau terpukul. 

Tergores/Teriris : Material tajam seperti besi atau kaca dapat menyebabkan luka gores atau iris. 

(6)

RISIKO KIMIA

Paparan Asbes : Bahan bangunan seperti asbes dapat menyebabkan kanker paru-paru dan mesothelioma.

Paparan VOC : Senyawa organik yang mudah menguap dapat menyebabkan masalah pernapasan dan kanker.

Paparan Bahan Kimia Berbahaya Lainnya

Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan iritasi kulit, kerusakan mata, atau kerusakan organ. 

Masalah Lingkungan:

Limbah Konstruksi : Sisa material konstruksi seperti kayu, beton, atau plastik dapat menjadi masalah limbah.

Pencemaran : Limbah konstruksi yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari tanah dan air. 

Cara Mengatasi Masalah.

Penerapan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja): Menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sepatu keselamatan, sarung tangan, dan kacamata pelindung. 

Pelatihan K3 : Memberikan pelatihan K3 yang komprehensif kepada pekerja konstruksi. 

Manajemen Limbah : Mengelola limbah konstruksi dengan benar, seperti daur ulang atau pembuangan yang aman. 

Pemilihan Bahan Bangunan : Memilih bahan bangunan yang aman dan ramah lingkungan. 

Perencanaan dan Pengawasan : Merencanakan proyek konstruksi dengan baik dan melakukan pengawasan yang ketat untuk memastikan keselamatan dan kualitas. 

(7)

Hasil observasi sumber bahaya dari bahan/material konstruksi dalam permasalahan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) mencakup berbagai potensi bahaya yang dapat timbul selama proses konstruksi. Identifikasi dan pengendalian bahaya ini penting untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Beberapa contoh sumber bahaya meliputi: 

Potensi Bahaya Fisik:

BAB 3 ANALISA HASIL OBSERVASI

Debu :Debu dari material konstruksi seperti semen, pasir, dan kayu dapat menyebabkan masalah pernapasan jika terhirup.

Bising :Suara bising dari alat berat, mesin konstruksi, dan aktivitas lain di lokasi konstruksi dapat merusak pendengaran.

Getaran:Getaran dari alat berat dan mesin konstruksi dapat menyebabkan gangguan pada sistem muskuloskeletal pekerja.

(8)

Cahaya : Pencahayaan yang tidak memadai atau terlalu terang dapat menyebabkan kelelahan mata dan kecelakaan. 

Potensi Bahaya Kimia:

Bahan Kimia Berbahaya: Cat, pelarut, perekat, dan bahan kimia lainnya dapat menyebabkan iritasi kulit, mata, dan saluran pernapasan, Asbestos : Jika ditemukan dalam material konstruksi lama, asbestos dapat menyebabkan kanker paru-paru dan asbestosis.

Gas Beracun : Gas buang dari alat berat dan mesin konstruksi dapat menyebabkan keracunan jika terhirup dalam konsentrasi tinggi. 

Potensi Bahaya Mekanis:

Alat Berat : Risiko terjepit, tertimpa, atau tersambar alat berat.

Peralatan Tangan : Risiko terpotong, tertusuk, atau terkena benda tajam.

Material Jatuh : Risiko tertimpa material yang jatuh dari ketinggian. 

Potensi Bahaya Ergonomi:

Posisi Kerja : Posisi kerja yang tidak ergonomis dapat menyebabkan cedera otot dan sendi.

Angkat Angkat Beban : mengangkat beban berat secara tidak benar dapat menyebabkan cedera punggung. 

Potensi Bahaya Biologis

Bakteri dan Jamur : Material konstruksi yang lembab dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan jamur, yang dapat menyebabkan infeksi atau alergi.

(9)

Identifikasi Bahaya:

Melakukan inspeksi dan evaluasi terhadap bahan/material konstruksi untuk mengidentifikasi potensi bahaya.

Pengendalian Sumber Bahaya:

o Mengganti bahan berbahaya dengan bahan yang lebih aman.

o Memisahkan pekerja dari sumber bahaya.

o Menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai.

o Memastikan ventilasi yang baik untuk menghilangkan debu dan gas berbahaya.

o Menggunakan alat pelindung pendengaran untuk mengurangi kebisingan.

o Memberikan pelatihan tentang cara kerja yang aman.

o Melakukan pemeliharaan rutin pada peralatan dan alat berat.

Pengawasan dan Evaluasi:

Melakukan pengawasan rutin terhadap pelaksanaan K3 dan mengevaluasi efektivitas program K3.

Dengan melakukan identifikasi dan pengendalian bahaya secara efektif, risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat diminimalkan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat bagi semua pekerja konstruksi.

(10)

BAB 4 PERENCANAAN K3

label Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian (IBPRP) untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada bahan/material konstruksi bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai risikonya, dan menetapkan pengendalian yang sesuai. Tabel ini membantu memastikan bahwa semua aspek K3 terkait material konstruksi ditangani dengan baik, mulai dari penerimaan material hingga penggunaannya di lapangan.

(11)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan: Masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam konstruksi sangat krusial, mengingat tingginya risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja di sektor ini. Sumber bahaya berasal dari berbagai faktor, termasuk material konstruksi, peralatan kerja, metode kerja, dan kondisi lingkungan. Penerapan K3 yang efektif, termasuk identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko, sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi semua pekerja konstruksi. 

Saran:

1. Identifikasi dan Penilaian Bahaya:

Lakukan identifikasi bahaya secara komprehensif pada setiap tahapan proyek konstruksi, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Gunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment & Risk Control) untuk menilai risiko dan menetapkan langkah-langkah pengendalian yang tepat. 

2. Pengendalian Risiko:

Prioritaskan pengendalian risiko dengan urutan eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administrasi, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). 

3. Pelatihan dan Pendidikan:

(12)

Berikan pelatihan K3 yang komprehensif kepada seluruh pekerja, termasuk penggunaan APD, prosedur kerja aman, dan penanganan keadaan darurat. 

4. Pengawasan dan Penegakan:

Lakukan pengawasan rutin terhadap penerapan K3 di lapangan dan tegakkan aturan K3 secara konsisten. Berikan sanksi yang sesuai untuk pelanggaran K3. 

5. Penyediaan APD:

Pastikan ketersediaan APD yang sesuai dan berkualitas untuk semua pekerja. Lakukan pemeriksaan rutin terhadap kondisi APD dan pastikan pekerja menggunakannya dengan benar. 

6. Penyelidikan Insiden:

Lakukan penyelidikan terhadap setiap insiden kecelakaan kerja untuk mengidentifikasi akar penyebab dan mencegah kejadian serupa di masa depan. 

7. Peningkatan Kesadaran:

Tingkatkan kesadaran semua pihak terkait (manajemen, pekerja, kontraktor) mengenai pentingnya K3 dalam proyek konstruksi. 

8. Perbaikan Berkelanjutan:

Lakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap sistem K3 yang diterapkan di proyek konstruksi. 

9. Penggunaan Material Aman:

Pilih material konstruksi yang memiliki potensi bahaya rendah dan pastikan penanganan dan penyimpanan material dilakukan dengan benar untuk menghindari kecelakaan. 

10 Manajemen Ergonomi:

Perhatikan aspek ergonomi dalam desain tempat kerja dan metode kerja untuk mengurangi risiko cedera akibat postur kerja yang tidak tepat. 

(13)

Lampiran Foto-foto APD, Foto-foto APK,

Foto-foto Rambu K3

(14)

INVESTIGASI BAHAN DAN MATERIAL

Terdapat over penumpukan material di lantai kedua yang mana beban material tersebut kemungkinkan membahayakan Pekerja

Terdapat pekerja yg tidak memakai kaos tangan dan helm yg dimana bahan dan material yaitu semen terdapat bahan kimia yang begitu keras, yang bisa mebahayakan pekerja tersebut.

Terdapat pekerja yang tidak memakai sepatu standar K3 yang diamana sedang melakukan pemerataan lantai dengan menggunakan alat.

(15)

KEEP SAFETY AND ZERO ACCIDENT

TERIMA

KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Upaya pengendalian potensi bahaya dan risiko kecelakaan secara administratif dari aspek pelatihan diketahui bahwa pelatihan yang ada cukup efektif sebagai upaya

Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) bidang mata adalah penyakit atau kelainan pada mata akibat pemaparan antara lain faktor-faktor risiko di tempat

paham akan potensi bahaya dari pekerjaan yang dikerjakannya sehingga dapat meminimalisir potensi kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja, selain itu

1) Identifikasi potensi bahaya. 2) Penilaian risiko sebagai akibat manifestasi potensi bahaya. 3) Penentuan cara pengendalian untuk mencegah atau mengurangi kerugian. 5)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko keselamatan kerja, identifikasi bahaya, analisis risiko, pengendalian risiko pada kolam renang Universitas Negeri

1.2 Perumusan Masalah Untuk menghindari kecelakaan kerja tersebut, maka perlu dilakukan suatu proses identifikasi bahaya, analisis potensi bahaya, penilaian resiko, pengendalian

11 Tabel 5 Format Tabel Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko N o Uraian Kegiatan Identifikasi Bahaya Dampak / Risiko Penetapan Pengendalian Risiko Rencana Tindakan 1

Modul K3 membahas metode identifikasi bahaya dan manajemen risiko untuk mencegah kecelakaan kerja dan menjaga keselamatan di tempat