MODUL DASAR- DASAR
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PKM121
METODE IDENTIFIKASI BAHAYA SESI KE-4
DISUSUN OLEH:
DECY SITUNGKIR, S.K.M., M.K.K.K
METODE IDENTIFIKASI BAHAYA
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa mampu:
1. Mahasiswa memahami konsep manajemen risiko 2. Mahasiswa memahami metode identifikasi bahaya
3. Mahasiswa mengetahui teknik-teknik metode identifikasi bahaya
B. URAIAN MATERI
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan yang menyebabkan hilangnya sumber daya atau harta benda. Kecelakaan yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti perjalanan yang biasa dilewati menuju dan kembali ke tempat kerja, dianggap sebagai kecelakaan kerja. Upaya K3 dilakukan untuk menghindari kecelakaan yang disebabkan oleh bahaya di tempat kerja. (Djatmiko ., 2016) Bahaya dapat menyebabkan kecelakaan atau insiden yang membahayakan manusia, peralatan, material, dan lingkungan.
Bahaya didefinisikan sebagai tingkat kemungkinan yang signifikan bahwa bahaya tersebut dapat menyebabkan insiden atau luka pada orang, yang ditentukan oleh kemungkinan dan tingkat keparahan yang diakibatkannya.
Manajemen K3 yang baik harus digunakan untuk mengelola dan menghindari bahaya dan risiko K3 ini.(Goetsch, 2015)
Manajemen risiko adalah bagian penting dari manajemen keselamatan dan kesehatan (K3) dan dapat digambarkan sebagai uang dengan dua sisi.
Aplikasi manajemen umum untuk berbagai tindakan yang dapat menimbulkan risiko dikenal sebagai manajemen risiko.
1) MANAJEMEN RISIKO
Gambar 3.1 Manajemen Risiko
Dalam Ramli (2013) konsep manajemen risiko telah dikembangkan oleh berbagai lembaga atau institusi sesuai dengan kebutuhan masingmasing.
Australia melalui Lembaga Standarisasi mengembangkan standar AS/NZS 4360 mengenai manajemen risiko. Standar ini bersifat generik, sehingga dapat digunakan dan diaplikasikan untuk berbagai jenis risiko atau bidang bisnis seperti keuangan, operasi dan K3, menurut standar AS/NZS 4360 tentang standar manajemen risiko, proses manajemen risiko mencakup sebagai berikut:
a. Penentuan konteks b. Identifikasi risiko c. Analisa risiko d. Evaluasi risiko e. Pengendalian risiko
2) IDENTIFIKASI BAHAYA
Identifikasi bahaya merupakan proses mengidentifikasi bahaya yang ada di tempat kerja. Bahaya merupakan segala sesuatu yang memiliki kemungkinan menyebabkan cedera kepada orang, kerusakan properti,
kerusakan lingkungan, atau kombinasi dari ketiganya. Risiko: kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan dengan konsekuensi yang ditentukan dalam periode yang ditentukan atau dalam keadaan yang ditentukan. Risiko dapat dinyatakan baik sebagai frekuensi (jumlah peristiwa yang ditentukan dalam unit waktu) atau sebagai probabilitas (probabilitas terjadinya peristiwa tertentu setelah peristiwa sebelumnya), tergantung pada situasinya.
Jenis-jenis bahaya antara lain:
a. Bahaya mekanik yaitu bahaya yang terkait dengan mesin yang digerakkan oleh tenaga, baik secara otomatis maupun dengan pengoperasian manual. Contoh b. Bahaya fisik yaitu bahaya yang terkait dengan lingkungan, contoh kebisingan,
getaran, radiasi, suhu
c. Bahaya ergonomi yaitu bahaya yang timbul akibat ketidaksesuaian pekerja, peralatan kerja, tugas yang dilakukan, dan lingkungan kerja, misalkan sikap tubuh yang buruk saat mengangkat, peralatan yang tidak ergonomis, gerakan berulang
d. Bahaya psikososial yaitu bahaya berkaitan dengan kondisi psikologis misalkan jam kerja yang panjang, relasi antar rekan kerja yang tidak baik, peran yang ambigu
e. Bahaya listrik yaitu bahaya yang bersumber dari energi listrik. Contoh : bekerja dengan peralatan listrik di lantai yang basah atau sumber kelembaban lainnya, kontak dengan kawat telanjang yang membawa arus, dan menggunakan tangga logam untuk bekerja pada peralatan listrik
Sebagai bagian dari proses manajemen risiko, OHSAS 18001 menetapkan prosedur identifikasi bahaya dan penilaian risiko sebagai berikut:
1. Menyangkut semua kegiatan organisasi, baik rutin maupun tidak rutin.
Tujuannya adalah agar semua bahaya yang ada di tempat kerja dapat diidentifikasi dengan baik. Ini mencakup bahaya yang dapat muncul dalam kegiatan non-tradisional seperti pemeliharaan proyek, pengembangan, dll.
2. Menyangkut semua aktivitas orang yang memiliki akses ke tempat kerja Sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1970, perlindungan keselamatan berlaku untuk semua orang yang berada di tempat kerja, termasuk orang lain yang masuk ke tempat kerja.
Akibatnya, identifikasi bahaya juga mempertimbangkan keselamatan individu yang tidak terlibat dalam organisasi, seperti kontraktor, pemasok, tamu, atau pengunjung
3. Perilaku manusia, keterampilan, dan komponen manusia lainnya Ketika melakukan identifikasi dan penilaian risiko, faktor manusia harus dipertimbangkan. Orang dengan perilaku, kemampuan, pengalaman, latar belakang sosial, dan pendidikan yang tidak aman. Perilaku yang buruk mendorong tindakan berbahaya yang dapat menyebabkan insiden.
4. Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan orang di tempat kerja. Organisasi tidak dapat berfungsi atau berkembang sendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain. Ada banyak sumber bahaya yang masuk ke dalam perusahaan, seperti bahan, jasa, orang, atau material yang datang dari luar. Semuanya memiliki risiko yang dapat membahayakan organisasi.
5. Risiko yang muncul di lingkungan tempat kerja akibat tindakan yang berkaitan dengan pekerjaan yang berada di bawah kendali organisasi Bahaya dapat berasal dari dalam dan luar organisasi. Sebagai contoh, ada kemungkinan bahwa gas, api, suara, dan debu dapat menyebar dari aktivitas di sekitar lokasi kerja yang dapat menimbulkan bahaya bagi perusahaan.
Identifikasi dan evaluasi komponen luar perlu dilakukan.
6. Mencakup seluruh infrastruktur, peralatan dan material di tempat kerja, baik yang disediakan organisasi satu pihak lain. Infrastruktur juga mengandung potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan.
7. Perubahan dalam organisasi, kegiatan atau material.
8. Setiap perubahan atau modifikasi yang dilakukan dalam organisasi termasuk perubahan sementara harus memperhitungkan potensial bahaya K3 dan dampaknya terhadap operasi, proses, dan aktivitas.
9. Setiap persyaratan legal yang berlaku berkaitan dengan pengendalian risiko dan implementasi pengendalian yang diperlukan.
10. Rancanan lingkungan kerja, proses, instalasi, mesin, peralatan, prosedur operasi dan organisasi kerja, termasuk adaptasinya terhadap kemampuan manusia
Identifikasi bahaya dan risiko dapat dilakukan melalui beberapa metode antara lain:
a. Teknik/metode pasif
b. Teknik/metode semiproaktif c. Teknik/metode proaktif
3) TEKNIK IDENTIFIKASI BAHAYA TEKNIK/METODE PASIF
Metode ini merupakan metode yang sangat rawan dikarenakan tidak semua bahaya dapat menunjukkan eksistensinya sehingga dapat terlihat dengan mudah. Contoh seseorang akan mengetahui adanya bahaya lobang di jalan setelah tersandung atau terperosok ke dalamnya. Kita tahu bahaya listrik setelah tersengat aliran listrik. Cara ini bersifat primitive dan terlambat karena kecelakaan telah terjadi, baru kita mengenal dan mengambil langkah pencegahan
TEKNIK/METODE SEMIPROAKTIF
Teknik ini disebut belajar dari pengalaman orang lain, naun teknik ini juga kurang efektif karena tidak semua bahaya telah diketahui atau pernah menimbulkan dampak kejadian kecelakaan, tidak semua kejadian dilaporkan atau diinformasikan kepada pihak lain atau diambil sebagai pelajaran dan kecelakaan telah terjadi yang berarti tetap menimbulkan kerugian, walaupun menimpa pihak lain
TEKNIK/METODE PROAKTIF
Metode ini merupakan metode terbaik dalam mengidentifikasi bahaya dan risiko. Ada beberapa teknik antara lain:
A. Data Kejadian
Teknik ini bersifat semi proaktif karena berdasarkan sesuatu yang telah terjadi sehingga daat digali informasi yang lebih mendalam terkait bahaya yang ada di lingkungan kerja
B. Daftar Periksa
Teknik checklist merupakan bentuk analisa bahaya yang paling sederhana.
Checklist tepat digunakan untuk kondisikondisi yang telah dikenal sebelumnya, oleh karena itu pembuatan tabel checklist sering didasarkan pada peraturan, petunjuk atau pengalaman yang telah dikenal sebelumnya, akan tetapi checklist juga memiliki kelemahan yaitu, hal-hal yang tidak tertulis tidak akan teridentifikasi
C. Brainstorming
Pelaksanaan brainstorming dapat dilakukan dalam tim di tempat kerja, yang berasal dari suatu bidang atau departemen atau lintas fungsi
D. What if Analysis
Metode ini merupakan metode identifikasi bahaya awal untuk meninjau desain dengan menanyakan serangkaian pertanyaan awal yaitu bagaimana-jika (what-if). Metode what if merupakan metode analisa bahaya curah pendapat yang terstruktur untuk menetukan hal-hal apa yang bisa salah, menilai dari kemungkinandan konsekuensi dari situasi-situasi yang terjadi. Jawaban atas pertanyaan ini akan membentuk dasar penilaian mengenai penerimaan resiko tersebut dan menetukan rekomendasi tindakan untuk resiko-resiko yang dinilai tidak dapat diterima Analisis what-if merupakan bagian dari cara tabel checklist, yang kemungkinan merupakan metode identifikasi bahaya tertua. (Sudrajat et al., 2008)
E. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
FMEA merupakan metode untuk analisa bahaya secara kualitatif yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana suatu peralatan, fasilitas, atau sistem dapat gagal serta akibat yang dapat ditimbulkan. Tujuannya untuk mengidentifikasi kegagalan yang mempunyai dampak yang tidak diinginkan pada sistem operasi. Identifikasi kegagalan potensial dilakukan dengan cara
pemberian nilai atau skor masing – masing moda kegagalan berdasarkan atas tingkat kejadian (occurrence), tingkat keparahan (severity), dan tingkat deteksi (detection).(Akbar et al., 2018), (Puspitasari & Martanto, 2014)
F. Hazard and Operability Study (HAZOPS)
Alur proses produksi adalah dasar untuk metode identifikasi bahaya yang dikenal sebagai HAZOP. HAZOP adalah teknik analisis bahaya yang digunakan untuk mempersiapkan penetapan keamanan dalam sistem untuk mengidentifikasi potensi bahaya.(Sabrina & Widharto, 2018) HAZOP dapat digunakan untuk berbagai fase proses. Selain itu, dapat digunakan kapan saja dan untuk peralatan baru atau lama. Metode ini juga lebih luas, karena selain melakukan identifikasi mesin dan atau komponen yang akan dianalisis, juga dapat digunakan untuk menentukan prosedur dan instruksi operasi untuk menemukan kegagalan. Metode HAZOP digunakan untuk meninjau proses dan operasi sistem secara menyeluruh untuk mengetahui apakah kemungkinan penyimpangan dapat menyebabkan kecelakaan yang tidak diinginkan atau tidak. Langkah-langkah identifikasi bahaya menggunakan HAZOP antara lain:
a. Mengetahui urutan proses yang ada pada area penelitian b. Mengidentifikasi bahaya yang ditemukan pada area penelitian
c. Mengklasifikasikan bahaya yang diketemukan (sumber bahaya dan frekuensi temuan bahaya)
d. Mendeskripsikan deviation atau penyimpangan yang terjadi selama proses operasi
e. Mendeskripsikan penyebab terjadinya penyimpangan (cause)
f. Mendeskripsikan apa yang dapat ditimbulkan dari penyimpangan tersebut (consequences)
g. Menentukan action atau tindakan sementara yang dapat dilakukan
h. Menilai risiko (risk assessment) yang timbul dengan mendefinisikan kriteria likelihood dan consequences (severity)
i. Melakukan perangkingan dari hazard yang telah diidentifikasi menggunakan worksheet HAZOP dengan memperhitungkan likelihood dan consequence, kemudian menggunakan risk matrix untuk mengetahui prioritas hazard yang harus diberi prioritas untuk diperbaiki
j. Merancang perbaikan untuk risiko yang memiliki level "Ekstrim", kemudian melakukan rekomendasi perbaikan untuk proses
G. Preminilary Hazard Analysis (PHA)
Preminilary Hazard Analysis atau disebut juga penilaian bahaya dan akibat merupakan upaya awal untuk menemukan bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan atau peristiwa yang tidak diinginkan secara tunggal atau bersamaan.
PHA adalah alat analisis keselamatan sistem yang digunakan untuk menemukan sumber bahaya, kondisi, dan potensi kecelakaan. Pada tahap awal siklus konseptual pengembangan sistem, PHA dilakukan. Insinyur, kontraktor, supervisor lini produksi, atau profesional keselamatan dapat melakukannya. Manajemen harus selalu mempertimbangkan segala risiko yang terkait dengan operasi sistem tersebut terlebih dahulu. Setelah menemukan ancaman dan dampak negatifnya, analis akan menilai setiap bahaya sesuai dengan kelas klasifikasi bahaya yaitu:
Bahaya Kelas I dianggap sebagai katastropik dan dapat menyebabkan kehilangan peralatan, kematian, atau cedera parah pada personel.
Bahaya Kelas II dianggap kritis dan dapat menyebabkan kerusakan besar pada peralatan atau cedera parah pada personel.
Bahaya Kelas III dianggap berbahaya dan dapat menyebabkan kematian atau cedera parah pada personel.
Bahaya Kelas IV dianggap tidak berbahaya, tidak akan mengakibatkan cedera pada personel, dan tidak akan mengakibatkan kerusakan pada peralatan apa pun
H. Fault Tree Analysis
FTA merupakan model diagram yang terdiri dari berbagai kombinasi kesalahan yang terjadi secara berurutan dan pararel yang mungkin memicu peristiwa
kegagalan yang sudah ditetapkan. FTA merupakan diagram logika simbolis yang menggambarkan secara grafis hubungan sebab-akibat dalam suatu sistem. FTA adalah analisis topdown yang digunakan untuk mencari kejadian dan kombinasi kejadian yang menyebabkan kerusakan sistem atau risiko kecelakaan kerja. Dengan melakukan analisis topdown, metode FTA menunjukkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja (kejadian dasar) yang muncul dan diuraikan dariFTA dapat membantu mengoptimalkan pengendalian sehingga kecelakaan kerja dapat dicegah.
Gambar 3.2 Fault Tree Analysis
Dalam fault tree analysis, peristiwa disusun berdasarkan hierarki:
1) Peristiwa utama yaitu peristiwa yang terjadi di bagian atas pohon yang akan dianalisis.
2) Peristiwa primer adalah kegagalan komponen utama.
3) Peristiwa sekunder adalah dampak pada komponen lain, perangkat, atau kondisi luar.
4) Peristiwa dasar adalah "suatu peristiwa yang terjadi pada tingkat elemen dan merujuk pada subdivisi terkecil dari analisis sistem".
FTA dilakukan dalam tiga langkah berdasarkan hierarki dasar ini. Pertama, peristiwa utama diidentifikasi; setelah itu, peristiwa primer dan sekunder dapat
diidentifikasi. Langkah terakhir adalah menyelesaikan hubungan antara peristiwa penyebab dan peristiwa utama dengan menggunakan AND dan OR.
Sebagai contoh ketika lampu listrik mati (Gambar 3.2) jika dianalisis menggunakan FTA maka logika AND dan OR dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dalam FTA, ada dua gerbang OR. Jika lampu mati, ada dua kemungkinan yaitu bola lampu akan padam atau ada pemadaman listrik. Jika terjadi pemadaman, itu bisa karena listrik tidak masuk ke gedung atau pemutus sirkuit internal gagal.
Sebaliknya, jika ada gerbang AND, kedua hasil harus terjadi agar peristiwa itu terjadi. Jika gerbang AND ditempatkan setelah pemadaman listrik, pemadaman listrik oleh perusahaan listrik dan kegagalan pemutus sirkuit internal harus terjadi agar peristiwa itu terjadi. Namun, ada batasan dalam FTA ini. Pengetahuan yang spesifik tentang desain, konstruksi, dan penggunaan produk diperlukan untuk menyelesaikan FTA dengan sukses. Selain itu, logika FTA mengasumsikan bahwa semua peristiwa adalah sukses atau kegagalan
I. Risk Based Inspection
Metode inspeksi berbasis risiko biasanya dapat diterapkan pada semua jenis industri dan sangat bergantung pada keadaan sebenarnya dari peralatan industri yang dianalisis karena RBI mengatur dan memeriksa peralatan atau unit kerja berdasarkan tingkat risiko yang dimilikinya. Inspeksi berbasis risiko adalah salah satu metode pemeriksaan yang paling efektif. Inspeksi Berbasis Risiko (RBI) adalah pendekatan inspeksi yang agak baru. RBI mencakup analisis risiko untuk menentukan kemungkinan kegagalan, besarnya dampak risiko yang terkait dengan kerugian, dan bagaimana kegagalan berhubungan dengan sistem operasi yang digunakan.(Saputra et al., 2022)
J. Job Safety Analysis
Cara terbaik untuk mengajarkan keselamatan di tempat kerja adalah job safety analysis (JSA). Ini terdiri dari tiga tahap:
(a) membagi pekerjaan menjadi urutan kronologis,
(b) menemukan kemungkinan bahaya untuk setiap tahap, dan
(c) membuat prosedur kecelakaan untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan bahaya tersebut.
C. KESIMPULAN
Keselamatan kerja merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor manusia, faktor pekerjaan dan faktor lingkungan, dimana pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencegah kecelakaan dengan melakukan pendekatan energi, manusia, administratif, teknis dan manajemen. Pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan melakukan manajemen risiko. Langkah awal di dalam manajemen risiko dengan melakukan identifikasi bahaya di tempat kerja sehingga perusahaan dapat melakukan pengendalian risiko di tempat kerja demi keselamatan dan keamanan pekerja.
D. DAFTAR PUSTAKA
Akbar, M. R., Subekti, A., & Dhani, M. R. (2018). MESIN EVAPORATOR DI PABRIK GULA. Proceeding 2nd Conference on Safety Engineering and Its Application, 2581, 779–782.
Djatmiko, D., R. (2016). Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Deepublish.
Goetsch, L. D. (2015). Occupational Safety and Health. Pearson.
Puspitasari, N. B., & Martanto, A. (2014). Penggunaan Fmea Dalam Mengidentifikasi Resiko Kegagalan Proses Produksi Sarung Atm (Alat Tenun Mesin) (Studi Kasus Pt. Asaputex Jaya Tegal). J@Ti Undip : Jurnal Teknik Industri, 9(2), 93–98.
https://doi.org/10.12777/jati.9.2.93-98
Ramli, S. (2013). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja OHSAS 18001 (Cetakan Ke). Dian Rakyat.
Sabrina, M. R. W., & Widharto, Y. (2018). Analisis Potensi Bahaya Dengan Metode Hazard and Operability Study Melalui Perangkingan Risk Assessment Studi Kasus: Divisi Spinning Unit 4 Ring Yarn Pt Apac Inti Corpora. Industrial Engineering Online Journal, 7(4), 1–7.
Saputra, R. A., Pangesty, A. I., & Soedarsono, J. W. (2022). Penilaian Risiko dan Perencanaan Inspeksi Pada Pipa Irigasi Heap Leaching (Pelindian) Industri Pertambangan Emas di PT. XYZ Menggunakan Metode Risk Based Inspection API 581. 1(26), 593–606.
Sudrajat, A., Setiawan, A., & Novitrie, A. (2008). Analisis Potensi Bahaya Dengan Metode Checklist dan What-If Analysis Pada Saat Commissioning Plant N83 Di PT . Gas Industri. Proceeding 1st Conference on Safety Engineering and Its Application, 1770(2581), 252–258.