BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Kebijakan Perusahaan
PT. Nindya Karya (Persero) adalah salah satu perusahaan konstruksi di Indonesia dengan kepemilikan saham dipegang oleh Negara Republik Indonesia dan PT. PPA (Persero). Selain menjalankan usaha bidang konstruksi, perseroan juga menjalankan usaha dalam bidang Engineering, Procurement, Construction (EPC) dan investasi.
Ditahun 2012 PT. Nindya Karya (Persero) berkomitmen memperbaiki citra dan meningkatkan kinerja perusahaan melalui “Nindya Reborn” menjadi perusahaan yang cerdas berbasis pada pengetahuan dan teknologi. Hal ini dilakukan dengan melakukan restrukturisasi perusahaan dan teknologi. Hal ini dilakukan dengan melakukan restrukturisasi perusahaan secara menyeluruh baik perubahan logo perusahaan, visi, misi, nilai-nilai dasar, budaya, bidang keuangan, organisasi, SDM dan sistem Perusahaan. Komitmen ini dibangun dengan semangat tinggi untuk fokus pada pelanggan serta keinginan yang kuat untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
Guna mencapai visi misi dan melaksanakan Nilai-nilai Utama Budaya Perusahaan manajemen PT. Nindya Karya (Persero) secara konsisten menerapkan kebijakan sistem manajemen dalam mencapai : 1. Sistem Manajemen Mutu
27
2. Sistem Manajemen Risiko dalam Pencapaian Hasil Usaha
3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan (K3), untuk mencegah Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja
4. Sistem Manajemen Lingkungan, untuk menciptakan proses kerja yang ramah lingkungan dan mencegah pencemaran
5. Sistem Manajemen Perlindungan Informasi untuk menjaga kerahasiaan dan menyediakan informasi yang handal
6. Pedoman Tata Kelola Perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GGC) dan ketaatan dalam memenuhi peraturan perundangan dan persyaratan lainnya yang berlaku.
B. Perencanaan Toolbox Talk
Pada PT. Nindya Karya (Persero) proyek Spillway Bendungan Tugu Trenggalek mempunyai program 678 (Enam Tujuh Delapan). Program tersebut adalah program yang dilakukan pekerja setiap pagi Pukul 06.00 WIB senam pagi, bersih diri yang dilakukan pada mess masing-masing dan sarapan di direksi keet, pukul 07.30 WIB melaksanakan program Toolbox Talk yang dilaksanakan pada halaman Direksi keet perusahaan, dan pukul 08.00 WIB memulai pekerjaan.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
Gambar 2 : Halaman Direksi Keet Perusahaan Sumber: Dokumentasi Penulis
Program Toolbox Talk telah diatur dalam prosedur perusahaan bidang komunikasi HSE dengan nomor dokumen P-SMNK-02-07 yang berlaku mulai tanggal 1 April 2019 yang berisi tentang tata cara komunikasi, konsultasi dan informasi Health Safety Environment (HSE) yang baik dan terarah sesuai dengan kebijakan HSE. Program Toolbox Talk diberikansetiappagikepadaseluruhpekerjasebelummemulaikegiatan yang disampaikan oleh Site Operational Manager (SOM) atau Pelaksana dalam kelompok sesuai jenis pekerjaannya. Dalammelaksanakan ToolboxTalk diperlukanbeberapaperalatanuntukmenunjangkeberjalanan
29
selama 10-15 menit, sebelum memulai pekerjaan kepada pekerja Sub- Kontraktor atau Mandor. Adapun materi yang disampaikan adalah:
1. Rencana kerja dan perintah kerja 2. Potensi bahaya
3. Alat-alat dan materi yang digunakan 4. Cara menangani bahaya
5. Alat keselamatan yang wajib digunakan A. PelaksanaanToolbox Talk
Pada PT. NindyaKarya (persero) Proyek Spillway BendunganTugumelaksanaanToolbox Talkpadahalamandireksikeetyang terletak di Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Program tersebut dilaksanakan setiap pagi hari sebelum pekerja memulai pekerjaannya yaitu sekitar pukul 07.30 WIB.
Belum ada Standar Operasional Prosedur (SOP) khusus yang mengatur tentang keberjalanan Toolbox Talk. Namun sudah tercantum dalam prosedur komunikasi HSE yang telah diterbitkan oleh PT. Nindya Karya dengan Nomer Dokumen P-SMNK-02-07 pada 1 April 2019 yang berisi tentang diagram alir keberjalanan Toolbox Talk, Pokok bahasan materi yang akan disampaikan dalam Toolbox Talk, serta format daftar hadirpeserta Toolbox Talk.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
Gambar 3 : Pelaksanaan Toolbox Talk
Sumber: Dokumentasi PT. Nindya Karya Proyek Spillway Bendungan Tugu Trenggalek Jawa Timur
Karyawan yang bekerja di PT. Nindya Karya Proyek Spillway Bendungan Tugu Trenggalek terdiri dari 70 orang yang bekerja di office serta 156 tenaga kerja lapangan. Sebelum dimulainya Toolbox Talk para pekerja melaksanakan cuci tangan, pemeriksaan suhu tubuh, dan penyemprotan desinfektan di pintu masuk direksi keet. Kualifikasi lolos screening pada tahap ini adalah suhu tubuh pekerja dibawah 37,3°C.
Untuk pekerja yang tidak lolos screening, akan dilakukan karantina di ruang isolasi selama 4 jam lamanya untuk menunggu apakah suhu tubuhnya akan turun dan memenuhi syarat atau tidak. Jika suhu tubuh pekerja belum juga turun, maka akan segera dirujuk ke Puskesmas Pucang
31
disediakan form nya oleh pihak HSE Officer di halaman direksi keet.
Absensi peserta Toolbox Talk akan terlampir pada lampiran 1 dan 2.
Pelaksanaan Toolbox Talk pada PT. Nindya Karya Proyek Spillway Bendungan Tugu Trenggalek dipimpin oleh Site Operational Manager (SOM) dengan pembacaan statistik proyek, item pekerjaan,
potensi bahaya apa saja yang akan ditimbulkan pada pekerjaan, alat-alat yang akan digunakan, serta yel-yel untuk menambah semangat pekerja sebelum memulai pekerjaan.
Dalam pelaksanaanya masih terdapat pekerja yang tidak datang Toolbox Talk dan masih terdapat pekerja yang berangkat terlambat untuk
melakukan Toolbox Talk. Bahkan pekerja dari sub-kontraktor PT. Nindya Karya Proyek Spillway Bendungan Tugu tidak pernah mengikuti Toolbox Talk yang diadakan pada halaman Direksi keet.Hal ini menyebabkan
berbagai near miss bahkan accident pada pekerja dalam melakukan pekerjaanya. Perusahaan sudah melakukan upaya pengendalian dengan melakukan inspeksi K3 setiap harinya untuk mencari root causeaccident.
Penyebab paling mendasar adalah human error yang meliputi ketidakpahaman terhadap standar operasional prosedur pada operator baru, mengabaikan prosedur pada operator lama dan operator belum memahami tentang potensi bahaya dan keadaan darurat.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
B. Monitoring danevaluasi
Monitoring program ToolboxTalkdilakukan oleh tim HSE, dimana pelaksanaan Toolbox Talk didokumentasikan dan data hasil per hari disimpan dalam dokumen komunikasi K3. Data tersebut dapat menjadi monitoring dan evaluasi oleh tim HSE Proyek Spillway Bendungan Tugu, selain itu data tersebut digunakan oleh HSE Manajer untuk dilaporkan untuk data kegiatan komunikasi K3 yang akan dilaporkan pada tim HSE PT. Nindya Karya (Persero) Wilayah II. Evaluasi program Toolbox Talk dilakukan untuk mengetahui apakah program Toolbox Talk berjalan sesuai prosedur atau tidak dan sebagai bahan untuk perbaikan yang dilakukan oleh tim HSE.
Pelaporan Toolbox Talk sendiri dilakukan setiap hari melalui aplikasi whatsapp group HSE PT.Nindya Karya Wilayah II guna memantau apakah program dijalankan perharinya. Selain pelaporan melalui virtual setiap 1 (satu) bulan sekali kepada HSE PT. Nindya Karya (Persero) sebagai bukti penanggungjawaban tim HSE telah melaksanakan program Toolbox Talk setiap harinya di Proyek Spillway bendungan Tugu dengan data berupa:
a. Daftar hadir Toolbox Talk
33
e. Laporan pelaksanaan Toolbox Talk
C. Upayaperbaikankomunikasi K3 melaluiToolbox Talk
Kegiatan konstruksi memiliki jenis pekerjaan dan potensi bahaya yang beragam pada setiap item pekerjaannya. Setiap pekerja diharapkan dapat bekerja secara maksimal sehingga produktivitas dapat tercapai.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa tenaga kerja memahami perintah kerja dan potensi bahaya pekerjaan yang dijalankan adalah dengan mencanangkan komunikasi K3 yang efektif untuk mencapai produktivitas yang maksimal. Salah satu program komunikasi K3 yang dijalankan oleh tim HSE adalah kegiatan Toolbox Talk. Program ini diselenggarakan untuk memastikan tenaga kerja
paham akan potensi bahaya dari pekerjaan yang dikerjakannya sehingga dapat meminimalisir potensi kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja, selain itu program ini bertujuan untuk memastikan tenaga kerja dalam kondisi selamat dan sehat dan tidak dalam kondisi sebaliknya misalkan sakit atau terpengaruh minuman atau obat-obatan terlarang yang dibuktikan saat pemeriksaan awal sebelum mengikuti toolbox talk. Jika dalam kondisi yang maksimal, maka diharapkan tenaga kerja dapat melakukan pekerjaannya dengan maksimal sehingga meningkatkan produktivitas perusahaan.
Potensi bahaya yang ada di proyek Spillway Bendungan Tugu antara lain bahaya terkena gerakan alat, bahaya kejatuhan, bahaya roboh,
commit to user
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
licin karena hujan, bahaya longsor, bahaya banjir, bekerja diketinggian, dan bahaya peledakan.
Berdasarkan data dari perusahaan, jenis kecelakaan yang paling banyak terjadi sifatnya near missdengan penanganan tenaga kerja berupa perawatan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) sampai istirahat untuk sementara waktu. Sampai saat ini, belum terjadi kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa, kecacatan dan hilangnya hari kerja.
Perusahaan telah menyelenggarakan kegiatan pencatatan dan investigasi kecelakaan kerja. Selain itu juga telah mendaftarkan tenaga kerjanya pada program BPJS Ketenagakerjaan. Namun sampai saat ini perusahaan belum memiliki program kembali kerja sebagai upaya untuk memulihkan kondisi tenaga kerja setelah mengalami kecelakaan kerja.
Setiap kejadian kecelakaan terjadi sebagai hubungan sebab-akibat.
Terjadinya kecelakaan dapat menimbulkan kerugian baik bagi perusahaan maupun tenaga kerja. Kerugian tersebut meliputi kerugian material, waktu dan buaya.
Pada dasarnya kerugian yang diperoleh sebagai akibat dari adanya insiden yang bisa terjadi karena dipengaruhi oleh perbuatan tidak aman dan kondisi tidak aman yang menjadi penyebab langsung terjadinya
35
Program Toolbox Talkini dilaksanakan sebagai upaya untuk menanggulangi faktor bahaya perorangan yang menjadi sebab dasar terjadinya kecelakaan. Dalam program ini perusahaan berusaha meningkatkan kemampuan fisik dan mental tenaga kerja sehingga dapat meminimalisir kecelakaan kerja.
library.uns.ac.id digilib.uns.ac.id