MAKALAH
NIE DALAM DESENTRALISASI INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Kelembagaan Dosen Pengampu: Yustirania Septiani, S.Pd., M.Sc.
Disusun oleh:
Kelompok 5
1. Muji Rahayuningsih (2210101018) 2. Anis Setiyawati (2310101010) 3. Nurul Lita Rahmasari (2320101060) 4. Luthfatul Latifah (2320101088) 5. Yusup Muhammad P. B. (2320101105) 6. Muhammad H. Julian (2340101183) PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TIDAR MAGELANG
2025
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan rahmat yang telah diberikan kepada kami semua, sehingga kami dapat menyusun makalah mata kuliah Ekonomi Kelembagaan dengan materi mengenai Nie Dalam Desentralisasi Indonesia.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Yustirania Septiani, S.Pd., M.Si. selaku Dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Kelembagaan yang telah memberikan tugas kelompok kepada kami. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada anggota kelompok yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah mengenai Nie Dalam Desentralisasi Indonesia ini tak lepas dari kata sempurna baik dari segi penyusunan bahasa maupun penulisannya.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dalam penulisan makalah selanjutnya kami dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga makalah mengenai Nie Dalam Desentralisasi Indonesia ini bisa menambah wawasan para pembaca dan bisa bermanfaat untuk perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.
Magelang, 25 Maret 2025
Kelompok 5
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan... 3
BAB II PEMBAHASAN...4
A. Pengertian Desentralisasi...4
B. Manfaat dan Kerugian Desentralisasi...7
C. Studi Kasus... 10
BAB III PENUTUP... 13
A. Kesimpulan... 13
DAFTAR PUSTAKA...15
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada saat ini, pemerintah dituntut untuk semakin responsif terhadap permintaan masyarakat, terutama dalam konteks globalisasi yang dituntut untuk menjadi pemerintah yang efesien, transparansi dan juga pemerintah yang memiliki partisipasi pada publik yang besar banyak caranya untuk mencapai hal tersebut mulai dari penerapan esentralisasi yang sudah dilakukan anyak egara. Dimana desentralisasi diyakini mampu mendekatkan pemerintah dengan masyarakat serta memperkuat demokrasi lokal melalui pelimpahan kewenangan dari pusat ke daerah.
Selain itu, desentralisasi di Indonesia juga dipengaruhi oleh tuntutan global akan tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif dan partisipatif, sebagaimana dijelaskan oleh Rodden (2004) yang menyatakan bahwa desentralisasi seringkali menjadi respon terhadap tekanan internasional untuk meningkatkan akuntabilitas lokal.
Di indonesia sendiri, penerapan desentralisasi menjadi titik balik reformasi tata kelola pemerintahan pasca runtuhnya orde baru pada 1998, dimana kebijakan desentarliasasi di wujudkan dengan munculnya Undang-Undang No.22 Tahun 1999, yang didalamnya memiliki tujuan untuk mendorong efektivitas pemerintahan, dengan cara meningkatakan layanan publik dan juga pemerataan pembangunan daerah Indonesia. Salah satu contohnya dalam konteks pelayanan publik, misalnya di sektor kesehatan, desentralisasi telah mendorong perubahan dalam distribusi tenaga kesehatan, namun masih menyisakan ketimpangan kualitas dan akses terutama di wilayah luar Jawa-Bali (Diana et al., 2015) lalu kemudian diperburuk dengan ketergantungan fiskal daerah terhadap pemerintah pusat, dan juga fragmentasi hukum yang kemudian menciptakan kebingungan regulasi di pemerintahan pusat (Hidayat et al., 2025).
Tidak selalu berjalan mulus, desentralisasi di indonesia juga selalu mendapatakan tantangan, seperti struktur birokrasi yang sangat terpusat dan juga kaku yang membuat pemerintah daerah sulit mengembangkan kapasitas aparatur sendiri, karena banyak posisi yang masih dikerjakan oleh pegawai pusat yang didelegasikan (King, 1988), lalu tingginya potensi korupsi banyak ketika elit lokal memanfaatkan ruang otonomi untuk memperkuat kekuasaan mereka sendiri ketimbang melayani publik (Hidayat et al., 2025).
Selain Itu, kordinasi yang sangat lemah antara masyarakat pemerintah daerah dan juga pemerintah daerah dengan pusat. Desentralisasi di Indonesia lebih condong dipahami sebagai distribusi layanan, bukan distribusi kekuasaan politik.
Dimana pemerintah pusat akan lebih cenderung mengalihkan tanggung jawab administratif ke pemerintah daerah tetapi tanpa memberikan otonomi keputusan secara nyata, yang mengakibatkan efisiensi yang diharapkan belum bisa sepenuhnya tercapai (Devas, 1997).
Tetapi di sisi sebaliknya desentralisasi juga membuka peluang untuk hubungan internasional melalui paradiplomasi. dimana paradiplomasi adalah keterlibatan pemerintah daerah dalam kerja sama lintas negara. Dimana kejadian tersebut semakin relevan ketika daerah seperti Provinsi Jawa Barat menjalin kerja sama strategis dengan negara bagian Australia Selatan, menunjukkan bagaimana otonomi daerah dapat memperluas peran aktor sub-nasional dalam diplomasi internasional Dharmajaya & Raharyo, 2019).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep desentralisasi dipahami dan diimplementasikan dalam konteks pemerintahan Indonesia pasca reformasi?
2. Apa saja manfaat dan kerugian dari penerapan desentralisasi berdasarkan teori dan praktik yang ada?
3. Bagaimana desentralisasi berkontribusi terhadap penguatan hubungan internasional melalui praktik paradiplomasi?
4. Apa tantangan utama yang dihadapi pemerintah daerah dalam mengimplementasikan kerja sama internasional seperti pada studi kasus Jawa Barat dan Australia Selatan?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui bagaimana konsep desentralisasi dipahami dan diimplementasikan dalam konteks pemerintahan Indonesia pasca reformasi 2. Untuk Mengetahui apa saja manfaat dan kerugian dari penerapan desentralisasi
berdasarkan teori dan praktik yang ada
3. Untuk Mengetahui bagaimana desentralisasi berkontribusi terhadap penguatan hubungan internasional melalui praktik paradiplomasi
4. Untuk mengetahui apa tantangan utama yang dihadapi pemerintah daerah dalam mengimplementasikan kerja sama internasional seperti pada studi kasus Jawa Barat dan Australia Selatan.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Desentralisasi
Desentralisasi merupakan salah satu konsep penting dalam penyelenggaraan pemerintahan modern yang menekankan pada pembagian wewenang dan tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah. Secara umum, desentralisasi bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang lebih efektif, dekat dengan rakyat, dan mampu merespons kebutuhan lokal secara lebih cepat dan tepat. Melalui desentralisasi, diharapkan pemerintah daerah memiliki otonomi lebih besar dalam mengelola sumber daya, mengambil keputusan, dan melaksanakan program-program pembangunan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Dalam konteks ini, desentralisasi dipandang sebagai sarana untuk mendorong partisipasi masyarakat, meningkatkan efisiensi administrasi, dan memperkuat demokrasi di tingkat lokal (Lathifah et al., 2024).
Desentralisasi mempunyai berbagai pengertian. Menurut International Encyclopedia of Social Science (1968: 370), desentralisasi adalah sebuah terminologi yang merujuk pada transfer kekuasaan dari sebuah pemerintah pusat kepada otoritas yang berfungsi secara spesifik dan legal personal berbeda, seperti peningkatan otonomi dari sebuah pemerintah daerah atau perusahaan publik (BUMN). Menurut (Rondinelli, 1981), desentralisasi tidak hanya mencakup transfer kewenangan politik dan administratif, tetapi juga melibatkan redistribusi sumber daya finansial untuk memastikan keberlanjutan otonomi daerah. Dalam definisi yang lebih luas, Bank Dunia (World Bank) mendefinisikan desentralisasi sebagai penugasan dan tanggung jawab dalam aspek keuangan, politik, dan administrasi kepada tingkatan-tingkatan pemerintahan yang lebih rendah (Litvack, Ahmad, dan Bird, 1998: 7) dalam Abdullah (2005).
Desentralisasi global tidak hanya terbatas pada pembagian kewenangan dalam satu negara, tetapi juga melibatkan peran aktor sub-nasional (seperti pemerintah daerah) dalam hubungan internasional. Menurut (Hooghe & Marks, 2017), desentralisasi global mencerminkan pergeseran paradigma dari negara sentralistik ke multi-level governance, di mana pemerintah daerah diberi ruang untuk terlibat langsung dalam kerja sama lintas batas, baik dalam bidang ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Konsep ini semakin relevan dengan meningkatnya kompleksitas isu global yang membutuhkan solusi lokal (Hooghe
& Marks, 2017).
Sebagai anti tesis dari sentralis, desentralisasi menurut Parson adalah
“sharing of the governmental power by a central rulling group with other groups, each having authority within a specific area of the state”. Sedangkan Mawhood mendefinisikan desentralisasi sebagai “devolution of power from central to local governments”. Kedua pendapat tersebut pada intinya mengambarkan bahwa desentralisasi adalah pelimpahan kekuasaan kepada pemerintahan daerah untuk mengatur dan mengurus urusan tertentu sebagai urusan rumah tangganya sendiri.
Desentralisasi merupakan intrumen untuk mengingkatkan demokratisasi di daerah, karena dapat membuka ruang yang lebih besar kepada masyarakat untuk terlibat di dalam proses pembuatan keputusan- keputusan politik di daerah, hal ini berkaitan dengan realitas bahwa setelah ada desentralisasi lembaga-lembaga didaerah memiliki otoritas dalam proses pembuatan dan implementasi kebijakan publik sehingga membuat lebih dekat dengan rakyat, relasi ini yang memungkinkan rakyat melakukan kontrol terhadap pemerintah daerah (Pinori et al., 2024).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, konsep desentralisasi berhubungan dengan transfer kekuasaan dan kewenangan dari level pemerintahan yang tinggi kepada yang lebih rendah dalam suatu sistem pemerintahan. Namun demikian, disebabkan arti dari konsep desentralisasi dapat dihubungkan dengan berbagai aktor dan juga mekanisme dari sebuah sistem pemerintahan, konsep
desentralisasi dalam tulisan ini dapat secara umum diberi karakteristik sebagai transfer dari tugas-tugas, resources dan kekuatan politik kepada level menengah (regions) dan level yang lebih rendah (communities) dalam kerangka hubungan yang sekooperatif mungkin (Marz, 2001: 2) dalam Abdullah (2005).
Dalam perspektif Ostrom (1990), desentralisasi merupakan bagian dari pendekatan polycentric governance di mana multi-level pemerintah berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah publik secara lebih efisien. Dari perspektif politik, desentralisasi diartikan sebagai pengalihan kekuasaan dari pemerintah pusat ke lokal, yakni dari tingkat atas ke lebih rendah dalam hierarki teritorial, maka devolusi kekuasaan merupakan substansi utama desentralisasi dan tidak terbatas pada susunan pemerintahan. Pengertian tersebut sejalan dengan paradigma global, bahwa isu mengenai otonomi daerah di beberapa negara ialah menyangkut persoalan penyebaran kekuasaan (dispersion of power ) sebagai manifestasi riil dari demokrasi, atau dengan kata lain implementasi asas otonomi daerah melalui proses desentralisasi pada hakekatnya merupakan penerapan konsep teori “areal division of power” yang membagi kekuasaan secara vertikal suatu negara, sehingga menimbulkan adanya kewenangan penyelenggaraan pemerintahan di satu sisi oleh Pemerintah Pusat, sedangkan di sisi lain dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Konsep ini pada dasarnya adalah manifestasi demokratisasi politik di daerah (Pinori et al., 2024).
Di Indonesia, desentralisasi mulai diterapkan secara nyata setelah runtuhnya rezim orde baru dan memasuki era reformasi pada akhir 1990-an.
Kebijakan ini dianggap sebagai salah satu upaya untuk mengatasi sentralisasi yang berlebihan pada masa sebelumnya, di mana segala keputusan dan kendali pemerintahan terpusat di Jakarta (Lathifah et al., 2024). Reformasi ini kemudian melahirkan sejumlah kebijakan yang bertujuan memberikan lebih banyak kewenangan kepada pemerintah daerah melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah. Dengan undang-undang ini, pemerintah pusat memberikan otonomi yang luas kepada daerah, terutama dalam
pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, dan pengelolaan keuangan daerah. Desentralisasi ini merupakan titik awal perubahan besar dalam tata kelola pemerintahan di Indonesia (Lathifah et al., 2024).
B. Manfaat dan Kerugian Desentralisasi
Beberapa ahli berpendapat bahwa kebanyakan teori mendukung desentralisasi dengan alasan untuk meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya (Musgrave, 1959; Oates, 1977; Tiebout, 1956). Mengacu pada Tiebout desentralisasi mendorong adanya kompetisi antar pemerintah daerah.
Prud'homme menekankan bahwa desentralisasi memiliki peluang yang lebih besar dalam mengarah pada korupsi karena semakin besar pemerintah daerah diberi kekuasaan melalui hak pengeluaran, makin tinggi pula korupsi yang akan terjadi dalam tingkat ini. Bardhan dan Mookherjee juga berpendapat bahwa desentralisasi dapat mengarah pada kendali yang dikuasai oleh elite daerah yang membuat pemerintah daerah menjadi semakin korup. Mereka juga menunjukkan tentang bagaimana desentralisasi menciptakan masalah dan memperburuk koordinasi ketika para pejabat pemerintahan mempertahankan status quo. Di sisi lain, penelitian (Smoke, 2003) menunjukkan bahwa desentralisasi dapat memperburuk ketimpangan antar daerah jika tidak disertai dengan mekanisme redistribusi yang adil, terutama di negara-negara dengan kapasitas fiskal daerah yang beragam
Penelitian oleh (Andrews & Schroeder, 2003) menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam tata kelola daerah dapat mengurangi risiko korupsi dan meningkatkan transparansi, sehingga memperkuat manfaat desentralisas. Desentralisasi juga menciptakan ketidakstabilan makroekonomi.
Dalam (Wihana, 2021) Prud'homme mengatakan bahwa desentralisasi kelihatannya berpotensi menghasilkan biaya tinggi, mengurangi efisiensi dalam penyampaian layanan dan mungkin pendapatan yang lebih besar. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Shleifer dan Vishny bahwa desentralisasi kemungkinan meningkatkan korupsi. Dalam model yang mereka kemukakan, birokrasi pemerintahan bertindak sebagai monopolis yang menyediakan barang
dan jasa yang dibutuhkan oleh sektor swasta. Dalam sistem sentralisasi, birokrasi melakukan korupsi secara bersama-sama. Namun, dalam korupsi yang terdesentralisasi, birokrasi bertindak sebagai monopolis korupsi yang independen. Ketika birokrasi bertindak monopolis yang independen maka mereka menghiraukan terjadinya biaya tinggi dalam permintaan barang dan pada akhirnya meningkatkan beban suap secara kumulatif. Menurut Ebel dan Yilmaz (2002:7) dalam Wihana, (2021) merangkum beberapa manfaat dan kerugian desentralisasi.
Bidang Manfaat Kerugian
Stabilitas Potensial meningkatkan
pengelolaan makroekonomi
Hakikatnya meruntuhkan (merusak) Kemampuan
sektor publik
Membatasi ukuran sektor publik
Tidak ada hubungan yang signifikan antara
desentralisasi fiskal dengan kemampuan sektor public Pertumbuhan
ekonomi
- Diasosiasikan
dengan pertumbuhan yang lebih lamban
Partisipasi demokrasi dan
Pemerintah daerah berada
dalam tekanan para
konstituennya dalam
Pemerintah daerah lebih korup
transparansi mengelola sumber daya dan melaksanakan pelayanannya secara efektif. Kecermatan masyarakat membuat para pejabat mempekerjakan staf
yang berkompeten.
Desentralisasi fiskal meningkatkan otonomi politik yang memotivasi partisipasi pada tingkat daerah.
Sistem desentralisasi memiliki kepekaan terhadap pilihan- pilihan masyarakat.
Sumber: Ebel dan Yilmaz (2002:7) dalam (Wihana, 2021)
Desentralisasi di Indonesia dianalisis sebagai fenomena yang meskipun bertujuan mendekatkan pemerintah kepada rakyat, justru menciptakan jarak yang lebih jauh antara keduanya. Salah satu manfaat yang diharapkan dari desentralisasi adalah peningkatan efisiensi dan responsivitas pemerintah daerah dalam menyediakan layanan publik yang sesuai dengan kebutuhan lokal (Lele, 2012).
Teori desentralisasi fiskal menyatakan bahwa pemerintah daerah memiliki keunggulan informasi dan pemahaman lokal yang lebih baik, sehingga lebih responsif dalam menyediakan barang dan jasa publik sesuai kebutuhan masyarakat. Hal ini menjadikan desentralisasi fiskal relevan dalam mengatasi ketimpangan pembangunan antar daerah. Selain itu, peningkatan layanan publik turut menciptakan iklim investasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam penelitiannya (Cahyadi, 2019), mengemukakan bahwa desentralisasi fiskal memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada periode 2010–2017. Temuan ini menunjukkan bahwa
desentralisasi fiskal belum memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi, yang mungkin disebabkan oleh pengelolaan keuangan daerah yang belum optimal.
C. Studi Kasus
Desentralisasi Global dalam Praktik Paradiplomasi: Studi Kasus Kerja Sama Antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Indonesia dan
Australia Selatan
Studi ini merujuk pada jurnal “Decentralization of Foreign Cooperation:
Case Study of Sister Province Cooperation between West Java, Indonesia and South Australia” oleh (Dharmajaya & Raharyo, 2019b). Penelitian ini menggambarkan bagaimana Pemerintah Provinsi Jawa Barat memanfaatkan ruang desentralisasi untuk menjalin kerja sama luar negeri melalui konsep paradiplomasi. Globalisasi telah mengubah lanskap hubungan internasional dengan semakin terbukanya ruang bagi aktor-aktor sub-nasional untuk terlibat dalam kerja sama lintas negara. Fenomena ini dikenal sebagai paradiplomasi, yakni praktik diplomasi yang dilakukan oleh aktor non-negara atau sub-nasional seperti pemerintah daerah, kota, atau provinsi. Paradiplomasi merupakan wujud konkret dari desentralisasi global, di mana kekuasaan dan pengaruh dalam hubungan internasional tidak lagi dimonopoli oleh negara pusat, tetapi juga dilakukan oleh entitas lokal untuk mencapai kepentingan pembangunan wilayah (Lecours, 2008).
Dalam kerangka hukum Indonesia, praktik paradiplomasi memiliki dasar legal yang kuat, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 dan diperbarui melalui UU No. 32 Tahun 2004. Pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menjalin kerja sama internasional, dengan catatan tetap dalam koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Dalam Negeri.
Paradiplomasi ini bahkan pernah mendapat dukungan langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kunjungannya ke Australia pada tahun 2010,
yang mendorong para investor asing untuk menjalin hubungan langsung dengan pemerintah daerah.
Kerja sama ini menunjukkan karakteristik paradiplomasi multidimensi (multidimensional paradiplomacy), yaitu kerja sama lintas sektor yang mencakup bidang pertanian, perikanan, pariwisata, pendidikan, dan budaya.
Kerja sama seperti ini mencerminkan upaya sub-nasional untuk tidak hanya terlibat dalam kerja sama ekonomi, tetapi juga dalam ranah sosial dan budaya (Lecours, 2008). Implementasi MoU ini melibatkan pembentukan Joint Working Group yang bertugas menyusun, menjalankan, dan mengevaluasi program kerja sama, sebagaimana disarankan oleh Tavares, 2016 (Dharmajaya & Raharyo, 2019) dalam model lima tahap paradiplomasi: inisiasi, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan penyelesaian.
Beberapa capaian nyata dari kerja sama ini antara lain dalam sektor pertanian, Jawa Barat berupaya meningkatkan kualitas ekspor produk seperti mangga Gedong Gincu dengan belajar dari sistem hortikultura dan pengendalian hama di Australia Selatan. Namun, pelaksanaan program ini menghadapi kendala komunikasi antar lembaga pelaksana. Di sektor perikanan, program magang dan alih teknologi dilakukan untuk mendukung pengembangan budidaya abalone di Jawa Barat, yang masih memiliki potensi besar namun belum tergarap maksimal. Sementara dalam sektor pariwisata, budaya, dan pendidikan, tercatat adanya pertukaran guru dan siswa, partisipasi dalam festival budaya seperti OzAsia, serta pengembangan program literasi yang terinspirasi dari South Australia’s Reading Challenge.
Namun, kerja sama ini juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya komunikasi dan koordinasi antara lembaga pelaksana di masing-masing wilayah. Selain itu, beberapa program seperti magang pelajar dan pelatihan ke luar negeri terhambat oleh keterbatasan dana, sehingga memerlukan keterlibatan sponsor atau pihak ketiga. Keterbatasan infrastruktur di Jawa Barat juga menjadi kendala dalam mengoptimalkan potensi wisata dan produk ekspor seperti mangga Gedong Gincu atau perikanan laut.
Tantangan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan paradiplomasi tidak hanya tergantung pada dokumen kerja sama, tetapi juga pada kapasitas kelembagaan, kesiapan sumber daya manusia, serta kontinuitas komunikasi bilateral yang baik (Dharmajaya & Raharyo, 2019).
Aktor non-negara dalam konteks ini mengacu pada entitas seperti pemerintah daerah, yang meskipun bukan perwakilan diplomatik resmi, tetap memiliki kemampuan untuk menjalin kerja sama internasional dalam ruang lingkup kewenangannya. Dalam kerangka ini, paradiplomasi menjadi instrumen strategis yang dapat mempercepat pembangunan daerah dan memperkuat relasi internasional negara secara lebih inklusif.
Melalui studi kasus kerja sama antara Jawa Barat dan Australia Selatan, dapat disimpulkan bahwa desentralisasi global melalui paradiplomasi membuka peluang besar bagi pemerintah daerah untuk berkontribusi dalam hubungan internasional. Meski demikian, diperlukan penguatan kapasitas, fleksibilitas regulasi, serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah agar potensi ini dapat dimaksimalkan secara berkelanjutan demi kemajuan daerah dan kontribusi terhadap diplomasi nasional.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam konteks pemerintahan Indonesia pasca-Reformasi, salah satu langkah strategis untuk memperbaiki tata kelola negara adalah desentralisasi dengan jalan melimpahkan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Undang-Undang No. Tersebut diterapkan yang mewujudkan program itu. Dengan UU Nomor 22 Tahun 1999, desentralisasi diharapkan mampu mengakselerasi pelayanan publik, menaikkan efektivitas pemerintahan, mendorong pemerataan pembangunan di seluruh area Indonesia, dan memperkokoh demokrasi lokal. Desentralisasi secara konseptual memberikan berbagai manfaat penting, seperti pengelolaan sumber daya yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal, peningkatan efisiensi pada layanan publik, serta penguatan partisipasi aktif masyarakat. Akan tetapi, ada sejumlah tantangan yang dihadapi oleh desentralisasi, seperti adanya potensi korupsi di tingkat lokal, ketimpangan pembangunan di antara wilayah, lemahnya koordinasi birokrasi di antara tingkatan pemerintahan, serta ketergantungan fiskal daerah terhadap pemerintah pusat.
Melalui studi kasus tentang kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Australia Selatan, makalah ini turut menyoroti praktik paradiplomasi sebagai suatu bentuk konkret dari manfaat desentralisasi. Kerja sama ini membuktikan bahwa pemerintah daerah betul-betul mampu memperluas peranan dirinya dalam hubungan internasional yang meliputi bidang budaya, bidang pendidikan, bidang pariwisata, bidang perikanan, serta bidang pertanian.
Dengan belajar serta berkolaborasi bersama pihak luar negeri, paradiplomasi ini memungkinkan daerah mempercepat pembangunan lokal mereka. Namun, implementasinya menghadapi tantangan. Beberapa keterbatasan sumber daya, kendala komunikasi antar lembaga, dan keterbatasan infrastruktur adalah hambatan yang perlu diatasi. Keberhasilan desentralisasi dan paradiplomasi Indonesia di masa depan sangat bergantung pada perbaikan koordinasi antara pusat dan daerah, penguatan kapasitas institusional daerah, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan globalisasi. Desentralisasi memberikan suatu peluang besar bagi transformasi pemerintahan serta
pembangunan daerah itu. Komitmen yang kuat dan reformasi yang berkelanjutan juga dituntut agar manfaat yang diharapkan itu dapat tercapai secara optimal.
Secara keseluruhan, desentralisasi telah membawa perubahan fundamental dalam sistem pemerintahan Indonesia. Untuk memaksimalkan manfaatnya, diperlukan upaya berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas daerah, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, mengoptimalkan pengelolaan keuangan daerah, serta membangun sinergi yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah. Dengan demikian, desentralisasi tidak hanya menjadi instrumen reformasi, tetapi juga motor penggerak pembangunan nasional yang lebih merata dan berkeadilan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S. (2005). Desentralisasi : Konsep, Teori dan Perdebaatannya. 6.
Andrews, M., & Schroeder, L. (2003). Sectoral decentralisation and intergovernmental arrangements in Africa. Public Administration
and Development, 23(1), 29–40. https://doi.org/10.1002/pad.257 Cahyadi, E. (2019). Fiscal Decentralisation and Economic Growth in Indonesia.
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 5, 320–327.
https://doi.org/10.21776/ub.jiap.2019.005.03.8
Devas, N. (1997). Indonesia: What do we mean by decentralization? Public Administration and Development, 17(3), 351–367.
https://doi.org/10.1002/(SICI)1099-162X(199708)17:3<351::AID- PAD955>3.0.CO;2-J
Dharmajaya, A. F., & Raharyo, A. (2019). Decentralization of Foreign Cooperation: Case Study of Sister Province Cooperation Between West Java, Indonesia And South Australia [Desentralisasi Kerja Sama Luar Negeri: Studi Kasus Kerja Sama Antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Indonesia Dan Austra]. Jurnal Politica Dinamika Masalah Politik Dalam Negeri Dan Hubungan Internasional, 10(1), 39–56. https://doi.org/10.22212/jp.v10i1.1316 Diana, A., Hollingworth, S. A., & Marks, G. C. (2015). Effects of decentralisation and health system reform on health workforce and quality-of-care in Indonesia, 1993-2007. International Journal of Health Planning
and Management, 30(1), E16–E30.
https://doi.org/10.1002/hpm.2255
Hidayat, A. R., Hospes, O., & Termeer, C. J. A. M. (2025). Why Democratization and Decentralization in Indonesia Have Mixed Results on the Ground: A Systematic Literature Review. Public Administration and Development, 1–14. https://doi.org/10.1002/pad.2095
Hooghe, L., & Marks, G. (2017). Unraveling the Central State, but How? Types of Multi-level Governance. Global Governance, 97(2), 61–71.
https://doi.org/10.4324/9781315254234-12
Jaya, W. K. (2021). Ekonomi Kelembagaan dan Desentralisasi. Gadjah Mada University Press.
King, D. Y. (1988). Civil service policies in Indonesia: An obstacle to decentralization? Public Administration and Development, 8(3), 249–260. https://doi.org/10.1002/pad.4230080302
Lathifah, H., Frinaldi, A., & Magriasti, L. (2024). Transformasi Kebijakan Desentralisasi Di Indonesia Dan Implikasinya Terhadap Stabilitas Pemerintahan Daerah Di Era Globalisasi. 11(2), 577–584.
Lecours, A. (2008). Political Issues of Paradiplomacy : Clingendael Institute, 1–22.
Lele, G. (2012). The Paradox of Distance in Decentralized Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 15(3), 220–231.
Ostrom, E. (1990). Governing the Commons. Governing the Commons.
https://doi.org/10.1017/cbo9780511807763
Pinori, J. J., Setiabudhi, D. O., & Ronald, T. K. (2024). Kerangka Desentralisasi Asimetris dalam Memperkuat Hubungan Internasional di Wilayah Perbatasan Asia- Pasifik. 32(1), 54–69.
Rodden, J. (2004). Comparative Federalism and Decentralization: On Meaning and Measurement. Comparative Politics, 36(4), 481.
https://doi.org/10.2307/4150172
Rondinelli, D. A. (1981). Government Decentralization in Comparative Perspective. International Review of Administrative Sciences, 47(2), 133–145. https://doi.org/10.1177/002085238004700205
Smoke, P. (2003). Decentralisation in Africa: Goals, dimensions, myths and challenges. Public Administration and Development, 23(1), 7–16.
https://doi.org/10.1002/pad.255
Wihana Kirana Jaya (2021). Ekonomi Kelembagaan dan Desentralisasi.