• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 7 - PEK

N/A
N/A
Sergio Elhanderi

Academic year: 2024

Membagikan "Kelompok 7 - PEK"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

KOMPETENSI SOSIAL GURU

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah profesi dan Etika Keguruan Dosen Pengampu : Dr. Suci Yuniati., S. Pd., M.Pd

DISUSUN OLEH:

Hafizhah Khairunnisa 12110521328 Putri Sri Rahayu 12110522243

KELAS 6B

PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU 2023/2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul Kompetensi Sosial Gurusesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Shalawat beserta salam, kita sampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW dengan melafadzkan Allahuma shalli a’la Muhammad wa’ala ali Muhammad. Yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang. Semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaat dari-nya.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi dan Etika Keguruan. Selain itu, tujuan dibuatnya makalah ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Suci Yuniati., S. Pd., M.Pd.

selaku dosen pengampu mata kuliah Profesi dan Etika Keguruan. yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan makalah. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam proses penyusunan makalah.

Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah. Sehingga, kedepannya dapat dilakukan revisi atas kekurangan yang ada pada makalah.

Pekanbaru, Februari 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

BAB I ... 4

PENDAHULUAN ... 4

A. Latar Belakang ... 4

B. Rumusan masalah ... 4

C. Tujuan penulisan ... 4

BAB II ... 5

PEMBAHASAN ... 5

A. Pengertian Kompetensi sosial ... 5

B. Karakteristik Guru yang memiliki Kompetensi social ... 5

C. Implementasi Kompetensi Sosial Guru ... 8

D. Pandangan Islam Terhadap Kompetensi Sosial Guru ... 9

BAB III ... 12

PENUTUP ... 12

A. Kesimpulan ... 12

B. Saran ... 12

DAFTAR PUSTAKA ... 13

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan icon fundamental dalam rangka membenahi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dengan pendidikan, manusia akan memiliki akhlak, moral, ataupun etika yang baik sehingga tercipta kehidupan yang teratur. Dengan pendidikan yang sesungguhnyalah manusia akan mampu merekonstruksi pola pikirnya.

Dunia pendidikan saat ini sedang diguncang oleh berbagai perubahan.

Perubahan-perubahan ini merupakan penyesuaian dari kebutuhan masyarakat maupun permasalahan-permasalahan yang terjadi pada saat ini. Di Indonesia, permasalahan-permasalahan dalam pendidikan sangatlah bervariasi. Sebagai contoh tawuran antara SMA 70 Jakarta dengan SMA 6 Jakarta yang memakan korban meninggal dunia. Hal ini merupakan ketidakberhasilan dari sebuah proses pendidikan sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan pun sangat sulit untuk dicapai.

Guru merupakan salah satu faktor keberhasilan dari sebuah proses pendidikan. Pada dasarnya guru merupakan pendamping dari peserta didik dalam rangka mengembangkan potensinya dan mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Proses Pendidikan (pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik apabila guru tidak mampu berkomunikasi dengan peserta didik. )leh karena itu, guru haruslah memiliki sebuah kemampuan dalam bergaul ataupun berkomunikasi dengan peserta didik. Tidak hanya itu, guru juga harus dapat berkomunikasi dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua (wali peserta didik, dan masyarakat sosial. Kemampuan inilah yang sering disebut dengan kompetensi sosial guru.

B. Rumusan masalah

Makalah ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan pokok, antara lain:

1. Apa pengertian kompetensi sosial?

2. Bagaimana karakteristik guru yang memiliki kompetensi sosial?

3. Bagaimana implementasi dari kompetensi sosial guru?

4. Bagaimana pandangan islam terhadap kompetensi sosial guru?

C. Tujuan penulisan

1. Mengetahui pengertian kompetensi sosial

2. Mengetahui karakterisitik guru yang memiliki kompetensi sosial 3. Mengetahui penerapan dari kompetensi sosial guru

4. Mengetahui bagaimana pandangan islam terhadap kompetensi sosial guru

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Kompetensi sosial

Menurut Buchari Alma (2008:142), kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.[1] Seorang guru harus berusaha mengembangkan komunikasi dengan orang tua peserta didik sehingga terjalin komunikasi dua arah yang berkelanjutan. Dengan adanya komunikasi dua arah, peserta didik dapat dipantau secara lebih baik dan dapat mengembangkan karakternya secara lebih efektif pula.

Sedangkan menurut Spencer dan Spencer. kompetensi social adalah karakter sikap dan peilaku atau kemauan dan kemampuan untuk membangun simpul-simpul kerja sama dengan orang lain yang relative bersifat stabil ketika menghadapi permasalahan di tempat kerja yang terbentuk melalui sinergi antara watak, konsep diri. motivasi internal serta kapasitas pengetahuan sosial.[2]

Dalam Standar Nasional Pendidikan, Pasal 28 ayat (3) butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan. orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar[3]. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam RPP tentang guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk:

1. Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat.

2. Menggunakan tekhnologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik. sesama pendidik. Tenaga kependidikan, dan orang tua/wali peserta didik.

4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Berdasarkan beberapa pengertian kompetensi sosial di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru adalah kemampuan dan kecakapan seorang guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif pada pelaksanaan proses pembelajaran serta masyarakat sekitar.

B. Karakteristik Guru yang memiliki Kompetensi social

Karakteristik Guru yang Memiliki Kompetensi Sosial Menurut Musaheri, ada dua karakteristik guru yang memiliki kompetensi sosial, yaitu [4]:

1. Berkomunikasi secara santun

(6)

Les Giblin menawarkan lima cara terampil dalam melakukan komunikasi dengan santun, yaitu:

1. Ketahuilah apa yang ingin anda katakan 2. Katakanlah dan duduklah

3. Pandanglah pendengar

4. Bicarakan apa yang menarik minat pendengar 5. Janganlah membuat sebuah pidato.

2. Bergaul secara efektif

Bergaul secara efektif mencakup mengembangkan hubungan secara efektif dengan siswa. Dalam bergaul dengan siswa, haruslah menggunakan prinsip saling menghormati, mengasah, mengasuh dan mengasihi.

Ada 7 kompetensi sosial yang harus dimiliki agar guru dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif, baik disekolah maupun dimasyarakat, yakni: [5]

1. Memiliki pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama.

2. Memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi.

3. Memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi.

4. Memiliki pengetahuan tentang estetika.

5. Memiliki apresiasi dan kesadaran sosial.

6. Memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan.

7. Setia terhadap harkat dan martabat manusia.

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru berkaitan dengan kompetensi sosial dalam berkomunikasi dengan orang lain, antara lain:

1. Bekerja sama dengan teman sejawat

Jagalah hubungan baik dengan sejawat, buahnya adalah kebahagiaan. Guru- guru harus berinteraksi dengan sejawat. Mereka harus dapat bekerja sama dan saling menukar pengalaman. Dalam bekerjasama, akan tumbuh semangat dan gairah kerja yang tinggi.

Dalam ayat 7 kode etik guru disebutkan bahwa "Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial". Ini berarti bahwa:

(1) guru hendaknya. menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru dalam

(7)

lingkungan kerjanya, dan (2) guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial didalam dan diluar lingkungan kerjanya.

2. Bekerjasama dengan kepala sekolah

Kepala sekolah merupakan unsur pembina guru yang paling strategis dalam jabaran tugas di lingkungan pendidikan formal. Menurut Smith, mereka harus mampu menciptakan sistem kerja yang harmonis, menampakkan suatu tim kerja yang mampu mendorong guru bekerja lebih efektif.

3. Bekerja sama dengan siswa

Guru bertugas menciptakan iklim belajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan gembira. Kreatifitas siswa dapat dikembangkan apabila guru tidak mendominasi proses komunikasi belajar, tetapi guru lebih banyak mengajar, memberi inspirasi agar mereka dapat mengembangkan kreativitas melalui berbagai kegiatan belajar sehingga siswa memperoleh berbagai pengalaman belajar Hal itu dapat memberi kesegaran psikologis dalam menerima informasi. Disinilah terjadi proses individualisasi dan proses sosialisasi dalam mendidik.

Adapun hal-hal yang menentukan keberhasilan komunikasi dalam kompetensi sosial seorang guru adalah:

1. Audience atau sasaran komunikasi, yakni dalam berkomunikasi hendaknya memperhatikan siapa sasarannya sehingga sang komunikator bisa menyesuaikan gaya dan "irama" komunikasi menurut karakteristik sasaran. Berkomunikasi dengan siswa SD tentu berbeda dengan siswa SMA

2. Behaviour atau perilaku, yakni perilaku apa yang diharapkan dari sasaran setelah berlangsung dan selesainya komunikasi. Misalnya seorang guru sejarah sebagai komunikator ketika sedang berlangsung dan setelah selesai menjelaskan Peristiwa Pangeran Diponegoro, perilaku siswa apa yang diharapkan. Apakah siswa menjadi sedih dan menangis merenungi nasib bangsanya, atau siswa

(8)

mengepalkan tangan seolah-olah akan menerjang penjajah Belanda. Hal ini sangat berkait dengan keberhasilan komunikasi guru sejarah tersebut.

3. Condition atau kondisi, yakni dalam kondisi yang seperti apa ketika komunikasi sedang berlangsung. Misalnya ketika guru Matematika mau menjelaskan rumus- rumus yang sulit harus. Seorang guru harus mengetahui kondisi siswa tersebut, apakah sedang gembira atau sedang sedih, atau sedang kantuk karena semalam ada acara. Dengan memahami kondisi seperti ini maka guru dapat menentukan strategi apa yang ia gunakan agar nantinya apa yang diajarkan bisa diterima oleh siswa.

4. Degree atau tingkatan, yakni sampai tingkatan manakah target bahan komunikasi yang harus dikuasai oleh sasaran itu sendiri. Misalnya saja ketika seorang guru Bahasa Inggris menjelaskan kata kerja menurut satuan waktunya, past tense, present tense dan future tense, berapa jumlah minimal kata kerja yang harus dihafal oleh siswa pada hari itu. Jumlah minimal kata kerja yang dikuasai oleh siswa dapat dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan guru Bahasa Inggris tersebut., Apabila tercapai berarti ia berhasil, sebaliknya apabila tidak tercapai berarti ia gagal.

C. Implementasi Kompetensi Sosial Guru

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 salah satu kewajiban dar seorang pendidik adalah memberi teladan dan menjaga nama baik Lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. [6]

Dalam PP No. 19 Tahun 2005 jo PP No. 32 tahun 2013 pasal 28 (3) butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud kompetensi sosial adalah kemampuan guru dari sebagian masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. [7]

Kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik dengan lingkungannya. Implementasi kompetensi sosial guru di ranah

(9)

sekolah maupun luar sekolah sangat penting untuk mendukung pengembangan siswa secara holistik. Berikut adalah beberapa langkah implementasi kompetensi sosial guru.

1. Pendidikan dan pelatihan guru. Menyelenggarakan pelatihan khusus untuk guru dalam mengembangkan kompetensi sosial mereka dan melibatkan pakar di bidang psikologi dan pendidikan untuk memberikan wawasan strategi terkini.

2. Penerapan model peran. Memperkenalkan model peran positif dalam interaksi guru dengan siswa dan membimbing guru untuk menjadi teladan dalam menunjukkan nilai-nilai sosial dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

3. Integrasi kompetensi sosial dalam kurikulum. Dengan menyisipkan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kompetensi sosial dalam kurikulum dan mengintegrasikan proyek kolaboratif, diskusi kelompok, dan kegiatan sosial dalam pembelajaran.

4. Penerapan metode pengajaran aktif. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelas.

5. Kolaborasi dengan orang tua/wali dan masyarakat. Melibatkan orang tua dalam program pembelajaran yang mendukung perkembangan kompetensi sosial siswa dan menjalin kemitraan dengan masyarakat untuk mengintegrasikan kegiatan sosial di luar sekolah.

6. Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler. Mendorong guru untuk terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang memungkinkan interaksi sosial dengan siswa dan memperkuat ikatan antara guru, siswa, dan orang tua.

D. Pandangan Islam Terhadap Kompetensi Sosial Guru

Dalam mentransformasikan ilmu kepada peserta didik, guru tidak hanya bertanggung jawab kepada peserta didik agar membuat mereka paham mengenai apa yang dikomunikasikan dan membuat peserta didik menjadi pintar. Namun di dalamnya harus tercermin aplikasi keimanan kepada Allah SWT. Di dalam Islam begitu rinci tentang bagaimana seseorang harus menjalankan kewajiban atas dasar iman kepada

(10)

Allah, semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa segala sesuatu dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. [8]

Seorang pensisik yang tengah mengaplikasikan kompetensinya terutama kompetensi sosial sangat berkaitan dengan ayat yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an, Dimana eksistensi seorang guru sebagai manusia yang sedang memegang Amanah mendidik, seperti firman Allah dalam QS. Al-Ashr (103) 1-3, yang artinya; “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Berkaitan dengan kompetensi sosial, ayat ini diaplikasikan dalam bentuk interaksi dan komunikasi dengan lingkungan kerja dan peserta didik secara baik sehingga mampu menyampaikan nasihat kepada peserta didik serta dapat saling mengoreksi untuk tetap dalam kebenaran dan kesabaran dengan sikap empatik dalam berkomunikasi kepada semua stakeholder pendidikan.

Dalam ajaran Islam, selain akhlak kepada manusia, adalah akhlak kepada Allah yang merupakan sikap yang harus dilakukan manusia sebagai makhluk dengan perilaku yang ukuran baik buruknya bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadits. Akhlak dalam Islam adalah akhlak yang membimbing manusia agar berhubungan baik kepada Allah dan kepada makhluk-Nya. Makhluk Allah disini maksudnya adalah manusia yang berinteraksi dan berkomunikasi untuk mendapatkan tujuan hidupnya.

Dalam QS. Yunus (10) 100, yang artinya; “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang- orang yang tidak mempergunakan akalnya”. Berkaitan dengan kompetensi sosial yang dimiliki guru, adalah bahwa sikap sosial guru harus dapat diteladani oleh peserta didik, karena dalam pembelajaran guru harus selalu menjalin hubungan sosial dengan peserta didik yang sifatnya membangun proses pembelajaran yang menyenangkan tanpa pilih- pilih agar komunikasi berjalan multi arah antara guru dan peserta didik. Hal ini merupakan penerapan kompetensi sosial yang dilaksanakan pada interaksi sosial secara harmonis baik dalam kelas maupun di luar kelas tanpa mendiskriminasikan antara satu dengan yang lain.

Nabi Muhammad saw senantiasa memberi contoh interaksi sosial yang baik dengan para sahabat, relasinya selalu berjalan seimbang dan harmonis, tidak pernah

(11)

terjadi ketegangan antara Nabi sebagai guru dengan para sahabat sebagai murid. Hal itu menjadi contoh bagi para sahabat dalam berinteraksi sosial, tidak boleh ada saling merendahkan satu sama lain.

Pandangan Al-Qur’an tentang kompetensi sosial pendidik bahwa kompetensi sosial dinyatakan dalam bentuk kemampuan berkomunikasi secara efektif dan religious dengan menunjukkan kepedulian terhadap kondisi sosial yang membutuhkan sikap egalitarian berupa akhlaqul karimah sesuai tuntunan Al-Qur’an. Kompetensi sosial pendidik dalam perspektif Al-Qur’an merefleksikan nilai-nilai spiritual sehingga akan memunculkan dampak positif bagi hubungan antara peserta didik dan para pendidik, mencegah munculnya sifat-sifat buruk seperti kasar, pendendam atau egois pada peserta didik. Kompetensi sosial pendidik dalam perspektif Al-Qur’an direfleksikan juga dalam akhlak mulia sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah sebagai Uswah hasanah.

(12)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan dalam RPP tentang guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk: Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara fungsional, bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Seorang guru yang memiliki kompetensi sosial akan diterima baik di lingkungan masyarakat sekitar. Hal tersebut terjadi karena dengan penguasaan kompetensi sosial bagi guru, maka ia mampu berkomunikasi dengan baik dengan masyarakat, dapat menyesuaikan diri dengan nilai- nilai yang menjadi pegangan masyarakat dimana ia bertugas, serta mampu mengatasi masalah sosial yang timbul di masyarakat. Seorang guru juga menjadi teladan bagi masyarakat. Oleh sebab itu kompetensi sosial perlu dimiliki oleh setiap guru agar nantinya ia mampu beradaptasi dan diterima oleh masyarakat dengan baik.

Apabila guru bisa beradaptasi dengan baik dan tidak ada pertentangan di dalam masyarakat, maka tujuan pendidikan pun akan mudah untuk dicapai

B. Saran

Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini, akan tetapi masih banyak kekurangan yang perlu diperbaki. Hal ini dikarenakan masih kurangnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran membangun dari para pembaca sangat diharapkan untuk evaluasi kedepannya.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter: Strategi Membangun Kompetensi dan Karakter Guru, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2012), hal 124

[2] Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan, (Bandung; Refika Aditama, 2013), hal 225

[3] E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal 173

[4] Afdhol Abdul Manaf, Kompetensi Sosial Guru, http://afdholhanaf.blogspot.com/2013/09/kompetensi-sosial-guru-oleh- afdhol_24.html , diakses tanggal 12 Februari 2024, Pukul 20.35 WIB [5] E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2007), hal 176

[6] M. Dr. Anda Juanda, Etika Profesi Keguruan, CV. ELSI pro, pp. 37-65.

[7] N. F. Ahmad Zain Sarnoto, "Kompetensi Sosial Pendidik Dalam Perspektif Al- Qur'an," Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, vol. 12, no. 2, pp. 308-319, 2022.

[8] I. Fauzi, Etika Profesi Keguruan, K. Umam, Ed., Jember: IAIN Jember Press, 2018, p. 152.

Referensi

Dokumen terkait

Kompetensi sosial guru : kemampuan dalam pribadi seorang guru sebagai bagian dari masyarakat, baik masyarakat di lingkungan sekolah maupun masyarakat di luar sekolah, untuk

“ Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya

Menurut Barnawi (2012), kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berinteraksi dengan menjadi bagian dari warga sekolah dan warga masyarakat. Guru akan banyak

Jadi kompetensi sosial guru Pendidikan Agama Islam dalam interaksi belajar mengajar adalah kemampuan seorang guru sebagai bagian dari masyarakat untuk

a. Kompetensi pedagogik, merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:1) pemahaman wawasan atau landasan

“ Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya yang diampunya yang sekurang- kurangnya meliputi

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang- kurangnya meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan

C.Kerangka Berfikir Kompetensi sosial guru adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan lingkungannya baik itu