• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 1 Komparatif PAUD

N/A
N/A
nur shoumi azifah azka

Academic year: 2023

Membagikan "Kelompok 1 Komparatif PAUD"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI PERBANDINGAN PAUD

DI NEGARA INDONESIA DAN NEGARA MALAYSIA

Oleh

1. Iswika Gigih Mahanani 17102241012 2. Naufal Nabih Winayu 17102244001 3. Ridho Nurmaghilma Susetyo 17102244003

4. Anis Hariyanisyah 17102244005

5. Nanda Dwi Kusumawati 17102244016

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2020

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang memegang peran paling penting bagi kehidupan manusia. Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, suku, sumber daya alam, dan sebagainya. Sebagai negara maju dan berkembang, sumber daya manusia tidak boleh dikesampingkan. Kualitas warga negara akan menentukan ke arah mana negara tersebut akan bergerak.

Pendidikan merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Oleh karena itu, setiap warga negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi.

Pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan kualitas warga negara.

Bagaimana tidak, pendidikan merupakan investasi seseorang bagi masa depannya dan merupakan bagian dari penentu kesuksesan seseorang. Pendidikan tentunya akan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi dan keterampilan, dan pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa.

Salah satu pendidikan di negara Indonesia adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD merupakan pendidikan yang diberikan bagi anak-anak usia prasekolah. Namun di negara Indonesia PAUD memiliki berbagai macam kelemahan yaitu pendidik PAUD tidak sesuai kualifikasi contohnya guru PAUD masih lulusan Sekolah Menengah Atas. Hal itu menyebabkan guru tidak memiliki kompetensi pedagogik dan mengenai pemahaman psikologi anak. Selain itu terdapat kekurangan yang terkait dengan sarana prasarana yang belum memadahi, sehingga dapat menjadi salah satu faktor penghambat dalam berlangsungnya kegiatan pembelajaran yang berguna dalam mengimplementasikan kurikulum. Permasalahan lain juga terjadi

(3)

dalam penerapan kurikulum yang masih kurang tertata, sehingga dapat menyebakan kesulitan bagi pendidik dalam melaksanakan pembalajaran kepada peserta didik. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah pendidikan pendidik atau guru kurang memadai. Kedua adalah pendidik biasanya hanya mengikuti arus permainan anak.

Pendidikan di Malaysia pada dasarnya banyak mengadopsi sistem dari negara Inggris. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu, Malaysia adalah salah satu negara bekas jajahan Inggris. Sehingga menyebabkan negara Malaysia maju dari segi pendidikannya. Salah satu penyebabnya adalah negara Inggris sangat memperhatikan pendidikan untuk negeri jajahannya. Segala peninggalan pendidikan Inggris khususnya dari segi pendidikannya sangat dijaga dengan baik. Berbeda dengan negara Indonesia yang bekas jajahan Belanda, karena Belanda hanya ingin mengeruk kekayaan negara jajahannya tanpa memberikan pendidikan yang intensif untuk negara jajahannya.

Negera Indonesia memiliki jenjang pendidikan salah satunya PAUD. Adanya pendidikan usia dini menunjukkan bentuk perhatian penuh pemerintah Indonesia terhadap perkembangan pendidikan bagi anak Indonesia. Pendidikan ini berdasarkan Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendididkan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Sedangkan di negara Malaysia, pendidikam prasekolah atau yang disebut dengan ‘tadika’ mengajar anak usia 4-6 tahun. Pendidikan ini bukan merupakan pendidikan wajib dalam sistem pendidikan di Malaysia. Sekolah tadika diselenggarakan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Selain sekolah tadika, sebagaian besar Sekolah Kebangsaan memilki kelas prasekolah. Kelas khusus ini diperuntukan untuk anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah.

(4)

Dalam penyelenggaraan pendidikan nasional masa depan, perhatian perbaikan sistem pendidikan nasional ditujukan pada aspek-aspek kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, tenaga kependidikan, manajemen pendidikan dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan (Indra Djati Sidi). Untuk itu diperlukan suatu kajian yang dapat dijadikan sebagai salah satu gambaran arah konsep dan kebijakan pendidikan yang baik. Salah satu caranya adalah dengan komparasi pendidikan di Indonesia dengan dengan pendidikan di negara yang mutu pendidikannya lebih baik.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, rumusan masalah yang dapat dikaji adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran pendidikan anak usia dini di negara Indonesia?

2. Bagaimana gambaran pendidikan anak usia dini di negara Malaysia?

3. Bagaimana perbandingan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan Malaysia?

4. Bagaimana bentuk implikasi pendidikan anak usia dini dari kedua negara ?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan makalah ini dapat disampaikan sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan gambaran pendidikan anak usia dini di negara Indonesia.

2. Mendeskripsikan gambaran pendidikan anak usia dini di negara Malaysia.

3. Mengetahui perbandingan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan Malaysia.

4. Mengetahui bentuk implikasi pendidikan anak usia dini dari kedua negara

(5)

D. Manfaat

Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Penulisan laporan diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan terutama pada pendidikan non formal terutama dalam pengembangan program pendidikan non formal.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Mahasiswa

1) Memperoleh ilmu tentang perbandingan Pendidikan Anak Usia Dini di Negara Indonesia dan Negara Malaysia

2) Dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk terjun membangun masyarakat.

b. Bagi Masyarakat

1) Meningkatkan kesadaran masyarakat akan Pendidikan Anak Usia Dini 2) Meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap program Pendidikan Anak

Usia Dini

(6)

BAB II KAJIAN TEORI A. Perbandingan (Komparatif)

1. Pengertian Pendidikan Komparatif.

Pendidikan Komparatif sebagai salah satu disiplin ilmu telah berkembang secara pesat karena telah diminati banyak orang. Hal ini selaras dengan keinginan mayoritas bangsa untuk terus mengembangkan sistem pendidikannya. Keinginan untuk berkembang ini di wujudkan dalam upaya-upaya salah satunya yaitu dengan melakukan komparasi pendidikan. Dengan adanya komparasi pendidikan ini hal-hal positif yang ada di negara lain dapat di adopsi dan diterapkan dalam negeri sendiri.

Disiplin ilmu komparatif mulai dirintis oleh beberapa ahli pada pertengahan abad ke 13 Masehi. Pendidikan komparatif memiliki kekhasan tersendiri bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain.

Secara Etimologis pendidikan kompraratif berasal dari kata pendidikan dan kata komparatif. Menurut kamus bahasa Inggris Oxford Learner’s Pocket dictionary kata pendidikan berarti pembelajaran atau pelatihan. Sedangkan kata komparatif diartikan sebagai keadaan yang berkaitan dengan usaha membandingkan . Kata komparatif sendiri berasal dari bahsa inggris “to compare“ (membandingkan) atau kata benda “comparison” (perbandingan) sehingga komparatif diartikan sebagai sesuatu yang bersifat membandingkan. Oleh karena itu pendidikan komparatif dapat diartikan sebagi ilmu yang mempelajari tatacara atau prosedur membandingkan dua atau lebih sistem pendidikan yang berbeda.

Secara terminologis pendidikan komparatif adalah sebagai disiplin ilmu yang mempelajari sistem pendidikan di beberapa negara yang menyangkut pada hal sebagai berikut :

1) Sistem pendidikan formal, non formal, dan informal 2) Teori dan praktek pendidikan

(7)

3) Latar belakang sosial ekonomi, politik, ideologi, dan budaya yang mempengaruhi sistem pendidikan.

Selain pengertian secara etimologis dan terminologis terdapat para ahli dengan beberapa pengertiannya masing- masing yaitu sebagai berikut:

a) Pengertian pendidikan komparatif menurut Isaac L Kandel

Pendidikan komparatif merupakan studi tentang teori dan praktek pendidikan pada waktu sekarang yang dipengaruhi oleh bermacam-macam latar belakang dan merupakan kelanjutan dari sejarah pendidikan

b) Pengertian pendidikan komparatif menurut C.V GOOD

Pendidikan komparatif adalah lapangan studi yang mempunyai tugas untuk mengadakan perbandingan teori dan praktek pendidikan sebagaimana terdapat pada beberapa negeri dengan maksud untuk mengadakan perluasan pandangan dan pengetahuan tentang pendidikan di luar batas negeri sendiri (Imam Barnadib,1994).

c) Pengertian pendidikan komparatif menurut Nazir (2005: 58)

Penelitian komparatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Bersifat membandingkan antara dua kelompok atau lebih dari suatu variabel tertentu.

Berdasarkan pengertian studi komparatif yang telah dikemukakan peneliti dapat memahami bahwa studi komparatif adalah suatu bentuk penelitian yang membandingkan antara variabel-variabel yang saling berhubungan dengan hubungan menggunakan hukum sebab akibat dan kemudian menentukan perbedaan-perbedaan atau persamaannya.

2. Tujuan Pendidikan Komparatif:

a. Menggambarkan sistem outcome pendidikan b. Membantu prakek lembaga pendidikan

c. Untuk memperjelas hubungan pendidikan dan masyarakat

d. Menentukan statement umum setelah dibandingkan atau kesimpulan pernyataan umumnya.

(8)

3. Ciri-ciri Metode Komparatif:

a. Merupakan dua atau lebih objek yang berbeda b. Masing-masing berdiri sendiri dan bersifat terpisah c. Memiliki kesamaan pola atau cara kerja tertentu d. Objek yang diperbandingkan jelas dan spesifik

e. Memakai standar dan ukuran perbandingan berbeda dari objek yang sama. (Muliawan, 2014:86).

Ciri-ciri metode komparatif yang lain yaitu menentukan mana yang lebih baik atau mana yang sebaiknya dipilih, rumusan masalah dalam metode komparatif membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau sampel dan waktu yang berbeda, membuat generalisasi tingkat perbandingan berdasaran cara pandang atau kerangka berfikir tertentu.

Berdasarkan ciri-ciri metode komparatif yang telah dipaparkan peneliti dapat memahami bahwa ciri-ciri metode komparatif merupakan suatu karakter atau ciri yang signifikan yang dimiliki oleh metode komparatif agar dapat membedakan antara metode komparatif dengan metode penelitian yang lain.

B. Pendidikan Anak Usia Dini

1. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini.

Masa usia dini pada anak yaitu pada rentang umur nol sampai enam tahun adalah masa keemasan atau dapat dikenal sebagai golden age, masa ini berlangsung pada anak mulai dari kandungan hingga berumur nol sampai enam tahun. Masa ini disebut masa keemasan karena perkembangan otak anak pada masa usia ini mengalami perkembangan yang sangat pesat selama hidup manusia. Oleh karena itu pada masa keemasan ini anak harus diberikan perhatian dan penanganan khusus yang dapat diwujudkan dengan pemberian pendidikan sejak dini oleh orang tua secara langsung maupun tidak langsung yaitu dengan lembaga terkait yaitu lembaga pendidikan anak usia dini.

(9)

Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Berk, 1992:18). Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini tertulis pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”. Selanjutnya pada Bab I pasal 1 ayat 14 ditegaskan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Depdiknas, USPN, 2004:4).

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap- tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Pendidikan bagi anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak, serta berbasis pada kebutuhan anak. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan sebuah pendidikan yang dilakukan pada anak yang baru lahir sampai dengan delapan tahun. Pendidikan pada tahap ini memfokuskan pada physical, intelligence/cognitive, emotional, and social education.

(10)

2. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bengsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangggung jawab (UU RI No.20/2003 BAB II Pasal 3). Tujuan pendidikan anak usia dini adalah:

a. Untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan dimasa dewasa.

b. Untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

c. Intervensi dini dengan memberikan rangsangan sehingga dapat menumbuhkan potensi–potensi yang tersembunyi (hidden potency) yaitu dimensi perkembangan anak (bahasa, intelektual, emosi, sosial, motorik, konsep diri, minat dan bakat).

d. Melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak.

3. Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Beberapa fungsi pendidikan bagi anak usia dini yang harus diperhatikan, dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1) Untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. Contoh: menyiapkan media pembelajaran yang banyak sesuai dengan kebutuhan dan minat anak.

(11)

(2) Mengenalkan anak dengan dunia sekitar. Contoh: field trip ke Taman Safari, selain dapat mengenal bermacammacam hewan ciptaan Allah juga dapat mengenal berbagai macam tumbuhan dan hewan serta mengenal perbedaan udara panas dan dingin.

(3) Mengembangkan sosialisasi anak. Contoh: bermain bersama teman, melalui bermain maka anak dapat berinteraksi dan berkomunikasi sehingga proses sosialisasi anak dapat berkembang.

(4) Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. Contoh:

mengikuti peraturan atau tata cara upacara bendera, dapat menanamkan peraturan dan mengenal arti penghormatan kepada pahlawan perjuangan bangsa.

(5) Memberikan kesempatan pada anak untuk menikmati masa bermainnya.

Contoh: bermain bebas sesuai dengan minat dan keinginan anak.

(12)

BAB III METODE

Metode Studi dalam Komparasi Pendidikan menurut Debold Van Dalen dalam

“Understanding Educational Research” dapat dilakukan melalui metode sebagai berikut:

1. Metode Historis Fungsional

Metode historis digunakan untuk menemukan fakta-fakta pendidikan masa lampau dalam rangka mencari keterkaitan dengan kondisi pendidikan sekarang bahkan juga untuk masa mendatang. Adapun tujuan yang di dapat mendapatkan hubungan antara pendidikan masa lampau dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Menurut Debold Van Dalen metode historis dapat di lakukan dengan cara:

a. Mengumpulkan sumber bahan.

Melalui metode histori fungsional atau keterkaitan aspek pendidikan peneliti menganalisis beberapa jurnal yang berkaitan dengan kompatif Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia dengan Malaysia.

b. Penilaian dan pengujian sumber data yang terkumpul, yang dilanjutkan dengan penelitian.

Peneliti mampu menilai relevanitas jurnal yang sesuai yaitu komparatif Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia dan Malaysia.

c. Menentukan hipotesis untuk menjelaskan hakikat fenomena pendidikan yang sudah lampau.

Dalam metode historis fungsional peneliti mampu memberikan dugaan sementara untuk menjelaskan fenomena di masa lampau berdasarkan data.

d. Melakukan penafsiran atas bahan-bahan yang telah terkumpul secara mendalam atau juga penyusunan bahan-bahan.

e. Menyimpulkan dan membuat laporan mengenai temuan-temuannya.

(13)

2. Analisis Literatur

Kajian pustaka merupakan bagian penting dalam sebuah penelitian yang kita lakukan. Kajian pustaka disebut juga kajian literature, atau literature review. Sebuah kajian pustaka merupakan sebuah uraian atau deskripsi tentang literature yang relevan dengan bidang atau topik tertentu. Ia memberikan tinjauan mengenai apa yang telah dibahas atau yang telah dibicarakan oleh peneliti atau penulis, teori atau hipotesis yang mendukung, permasalahan penelitian yang diajukan atau ditanyakan, metode dan metodologi yang sesuai.

Kajian literature merupakan alat yang penting sebagai contect review, karena literature sangat berguna dan sangat membantu dalam member konteks dan arti dalam penulisan yang sedang dilakukan serta melalui kajian literature ini juga peneliti dapat menyatakan secara eksplisit dan pembaca mengetahui, mengapa hal yang ingin diteliti merupakan masalah yang memang harus diteliti, baik dari segi subjek yang akan diteliti dan lingkungan manapun dari sisi hubungan penelitian dengan tersebut dengan penelitian lain yang relevan. (Afifuddin, 2012).

Pengertian kajian pustaka secara umum adalah bahasan atau bahan-bahan bacaan yang terkait dengan suatu topic atau temuan dalam penelitian. Randolf (2009) mendefinisikan kajian literature atau kajian pustaka, “ As an information analysis and synthesis, focusing on findings and not simply bibliographic citations, summarizing the substance of the literature and drawing conclusions from it.”

Kajian literature itu merupakan suatu analisis dan sisntesis informasi, yang memusatkan perhatian pada temuan-temuan dan bukan kutipan bibliografi yang sederhana, meringkas substansi literature dan mengambil kesimpulan dari suatu isi literatur tersebut. Secara singkat, Fraenkel, Wallen, & Hyun (2012) mengemukakan batasan kajian pustaka atau referensi sebagai berikut.

(14)

Kajian literature adalah suatu kajian khazanah pustaka yang mendukung pada masalah khusus dalam penelitian yang sedang kita kerjakan. Kajian ini sangat berguna bagi peneliti, misalnya untuk memberikan gambaran masalah yang akan diteliti, memberikan dukungan teoritis konseptual bagi peneliti, dan selanjutnya berguna untuk bahan diskusi atau pembahasan dalam penelitian. Disamping itu, kajian pustaka ataua literaur dapat membimbing peneliti untuk menyusun suatu hipotesis penelitian yang dikerjakannya.

Suatu kajian pustaka mungkin sepenuhnya memuat deskripsi, misalnya berupa suatu annotated bibliography, atau kajian ini memberikan suatu penting tentang pustaka dalam suatu bidang tertentu, yang menyatakan di mana kelemahan dan kesenjangan yang ada, yang membedakan dengan pandangan penulis tertentu, atau yang memunculkan permasalahan. Kajian pustaka itu tidak cukup hanya memberikan rangkuman tetapi juga akan memberikan penilaian dan menunjukkan antara bahan-bahan yang berbeda, sehingga memunculkan tema kunci. Bahkan suatu kajian yang bersifat deskriptif tidak cukup hanya menyebutkan daftar nama atau uraian kata-kata, tetapi juga perlu menambahkan komentar-komentar dan menghasikan tema-tema.

Suatu kajian pustaka memuat rangkuman dan uraian secara lengkap dan mutakhir tentang topic tertentu, sebagaimana ditemukan dalam buku-buku ilmiah dan artikel jurnal. Pada bagian kajian pustaka membicarakan hal-hal: 1) Membahas teori-teori pendukung yang melandasi masalah yang kita kaji. Teori dapat berupa teori induk (grand theory), teori turunan (middle range theory), dan teori aplikasi (applied theory). 2) Membahas hasil-hasil riset sebelumnya yang sudah dilakukan oleh orang lin mengenai topic yang sejenis. (Sarwono, 2010)

a.) Tujuan Kajian Literatur (Berg & Lune 2009. Chapter 2).

Ada dua tujuan utama dari kajian literatur. Pertama, kajian literatur yang dilakukan dengan tujuan untuk menulis sebuah makalah untuk memperkenalkan

(15)

kajian-kajian baru dalam topik tertentu yang perlu diketahui oleh mereka yang bergiat dalam topik ilmu tersebut. Kajian ini sewaktu-waktu dapat diterbitkan untuk kepentingan umum. Contoh kajian-kajian semacam ini dapat dilihat misalnya dalam Annual Review of Anthropology, Annual Review of Sociology, dan sebagainya. Mereka yang baru menjadi peneliti pemula dalam topik tertentu dapat menggunakan terbitan annual review ini sebagai bacaan awal. Tujuan kedua dari kajian literatur adalah untuk kepentingan projek penelitian sendiri.

Dalam hal ini, membuat kajian literatur adalah untuk memperkaya wawasan kita tentang topik penelitian kita, menolong kita dalam memformulasikan masalah penelitian, dan menolong kita dalam menentukan teori-teori dan metodemetode yang tepat untuk digunakan dalam penelitian kita.

Dengan memelajari kajian-kajian orang lain, kita dapat menentukan apakah akan meniru, mengulangi, atau mengeritik satu kajian tertentu. Kajian-kajian orang lain itu kita gunakan sebagai bahan pembanding bagi kajian kita sendiri.

Dengan mengkritisi karangan orang lain, kita lalu menciptakan sesuatu yang baru. Dalam tulisan ini khusus akan dibincangkan kajian literatur untuk kepentingan penelitian sendiri, khususnya bagi mahasiswa yang akan menulis karya ilmiah terakhir – skripsi, tesis, atau disertasi.

b.) Fungsi Kajian Literatur

Di bawah ini akan dipaparkan beberapa manfaat dari kajian literatur untuk kepentingan penelitian yang akan kita lakukan. Menulis kajian literatur berarti kita memperlihatkan kepada pembaca bahwa: Pertama, kita mengetahui kajian- kajian lain yang pernah dilakukan orang berkenaan dengan topik penelitian kita.

Kita telah akrab dan memahami satu khazanah pengetahuan tentang topik penelitian kita. Kita sedang membangun kredibilitas diri dalam khazanah pengetahuan yang menjadi topik penelitian kita. Satu kajian literatur memperlihatkan kepada pembaca tentang penguasaan kita tentang topik kajian

(16)

kita. Makin baik dan makin lengkap penulisan kajian literatur, makin baik pula penghargaan orang terhadap kita sebagai penulis kajian tersebut. Kedua, kajian literatur akan menghubungkan kajian yang akan kita lakukan dengan wacana luas dalam literatur tentang topik tersebut. Kita menutupi jurang yang ada antara projek penelitian yang sedang kita kerjakan dengan dunia literatur secara umum, bahkan kita memperluas kajian-kajian yang ada sebelumnya. Kita memahami alur perjalanan penelitian-penelitian sebelumnya tentang topik tersebut. Dengan pengetahuan tersebut, kemudian kita merancang bagaimana projek penelitian baru yang akan kita lakukan bisa tersambung masuk ke dalam jalur perjalanan penelitian-penelitian yang ada dengan topik tersebut.

Kajian literatur yang baik dapat menempatkan projek penelitian yang sedang dirancang ke dalam konteks bidang kajian yang terkait dengan khazanah umum, topik penelitian, dan daerah atau masyarakat penelitian. Ketiga, menunjukkan kemampuan kita dalam mengintegrasikan dan meringkaskan apa yang sudah diketahui orang lain tentang bidang kajian kita. Satu review merangkum dan mensintesekan keseluruhan hasil penelitian, mana hal yang sudah disepakati, mana yang masih dalam perdebatan, dan mana masih dalam perambahan, dan kira-kira ke arah mana topik penelitian kita ini akan berkembang pada masa yang akan datang. Keempat, dengan belajar dari orang lain kita dapat melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Kajian literatur yang baik adalah mengenali aspek- aspek yang masih gelap dan memberi insight dan hipotesis baru bagi penelitian lanjutan (Neuman (2011: 124) (Creswell 2003: 30).

(17)

c.) Cara Penggunaan Kajian Literatur

Fungsi Kajian Literatur Kriteria Tipe Kajian Kajian literatur

digunakan sebagai

‘kerangka’ dalam menyusun masalah

penelitian. Kajian literatur diletakkan

dalam ‘Bab Pendahuluan’

Harus tersedia beberapa literatur

Setiap tipikal bentuk kajian literatur ini digunakan dalam semua

jenis kajian kualitatif.

Kajian literatur disajikan dalam bagian yang terpisah, dalam sebuah Bab tersendiri, ‘Review

of Literature’

Jenis kajian literatur ini biasanya dilakukan

oleh mereka yang sangat akrab dengan pendekatan tradisional

dan positivis

Pendekatan ini digunakan dalam kajian-kajian yang menggunakan teori dan

latar belakang literatur yang kuat pada awal

kajian Kajian literatur disajikan

pada bagian akhir tulisan

‘Bab Kesimpulan’.

Kajian literatur menjadi modal bagi membandingkan dan mempertentangkan hasil

penelitian sendiri dengan hasil-hasil penelitian yang pernah

dilakukan orang lain.

Pendekatan ini paling sesuai bagi proses penelitian kualitatif induktif. Disini kajian

literatur tidak digunakan sebagai

pemandu dan pengarah kajian, tetapi

menjadi pembantu bagi lebih mengenali

pola atau kategori

Pendekatan ini digunakan dalam semua tipe pendekatan kualitatif.

Tetapi yang paling popular adalah dalam

penelitian grounded untuk menghasilkan teori.

Disini sang peneliti mempertentangkan dan

membandingkan kesimpulankesimpulan

(18)

yang ditemukan dalam penelitian sendiri.

teoritis yang dibangunnya dengan teori-teori lain yang dijumpainya dalam

literatur.

1.) Kajian literatur yang pertama: Kajian literatur dalam baris yang pertama dapat dimasukkan ke dalam ‘Bab Pendahuluan’ dari satu rencana studi. Kajian literatur ini memberikan satu latar belakang bagi masalah penelitian atau isu- isu yang akan membimbing keperluan kajian. Disini dipaparkan tentang siapa- siapa saja yang telah menulis tentang kajian yang seperti ini, siapa yang telah mengkajinya, dan siapa yang mengatakan bahwa isu seperti ini adalah penting untuk dikaji. Kerangka masalah tentu saja tergantung kepada kajian-kajian yang sudah tersedia.

2.) Kajian literatur yang kedua: Disini kajian literatur ditempatkan dalam bagian yang tersendiri. Ini adalah satu model yang tipikal dalam dalam kajian kuantitatif. Pendekatan yang seperti ini sering muncul ketika pembaca terdiri dari individu-individu atau pembaca-pembaca dengan orientasi kuantitatif.

Bagaimanapun, bentuk yang seperti ini juga biasa dilakukan dalam kajiankajian kualitatif yang berorientasi teori, seperti kajian-kajian etnografi dan etnografi kritikal, atau kajian-kajian dengan tujuan advokasi atau emansipatori (kajian postmodernist dan feminist, participatory action research, dan lain-lain), dimana peneliti mungkin meletakkan diskusi teori dan literatur dalam bagian yang tersendiri, khasnya pada awal dari kajian.

3.) Kajian literatur yang ketiga: Disini peneliti mungkin dapat menggabungkan kajian literatur ke dalam bagian akhir dari laporan kajian (Bab Kesimpulan), dimana kajian literatur digunakan sebagai pembanding (komparatif) atau penyangkal terhadap hasil yang diperoleh dari penelitian sendiri. Model ini populer di kalangan kajiankajian teori grounded.

(19)

Bagi peneliti pemula, pertimbangkanlah tempat yang tepat bagi kajian literatur dalam rencana penelitian yang sedang anda lakukan. Buatlah pertimbangan tersebut atas dasar siapa yang menjadi pembaca dari hasil proyek penelitian anda. Mungkin lebih baik meletakkan kajian literatur pada bagian awal tulisan untuk memberi kerangka bagi masalah penelitian. Letakkan kajian literatur tersebut dalam sub-bab tersendiri dalam Bab Pendahuluan, dan kemudian gunakan lagi pada bagian akhir kajian (kesimpulan) sebagai pembanding atau penyangkal terhadap hasil temuan kajian anda (Creswell 2003: 32-33).

3. Metode menurut Isaac Kendel a. Deksripsi

Hanya mempelajari system pendidikan.

b. Ekplanasi

Memahami makna nyata dari system pendidikan suatu bangsa.

c. Analisis Komparatif

Membandingkan perbedaan dari beragam sisitem pendidikan dan dasarnya.

(20)

BAB IV

HASIL PERBANDINGAN

A. Gambaran Pendidikan Anak Usia Dini di Negara Indonesia

Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan yang ditetapkan di Indonesia yakni pendidikan gaya barat. Pendidikan gaya barat hanya ditujukan untuk golongan elit saja. Pada masa penjajahan Belanda sekolah menggunakan pengantar bahasa daerah dan bahasa Belanda. Pendidikan pada masa penjajahan ditujukan untuk membentuk sumber daya masyarakat Indonesia yang berkualitas di bidang industri dan ekonomi yang nantinya dapat digunakan untuk kepentingan Belanda sendiri. Namun seiring dengan perkembangan jaman, golongan rakyat bawah pun mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal memperoleh pendidikan.

Di Indonesia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan hanya bagian dari sistem pendidikan formal. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengakui PAUD sebagai langkah menuju pendidikan dasar dan ditetapkan bahwa PAUD dapat diorganisasikan secara formal, nonformal, atau informal. Dalam pendidikan nonformal perubahan yang signifikan dalam pelayanan anak usia dini secara konsep dan diprogramkan serta disampaikan di seluruh Indonesia. Pada tahun 2019, pemerintah Indonesia mengalami kenaikan APK (Angka Partisipasi Kasar) sebanyak 14-15 persen saja. Dengan melihat APK pada tahu lalu maka dapat dikatakan belum semua anak-anak di Indonesia yang terlayani dalam pendidikan anak usia dini. Sehingga negara Indonesia berada di posisi keenam berdasarkan Global Talent Competitiveness Index pada tahun 2019. Secara global, sesuai dengan Index Starting Well yang dikeluarkan oleh The Economist Intelligence Unit, Indonesia menempati juara dua dari bawah. Indeks ini mengukur kualitas pra- sekolah di 45 negara menurut ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas lembaga pra-sekolah. Pendidikan anak usia dini di Indonesia juga menggunakan tiga pilar pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, dan learning to be.

(21)

Pencapaian yang terlihat dari Direktorat PADU (Pendidikan Anak Dini Usia) adalah percepatan pelayanan pendidikan jalur luar sekolah (nonformal) dalam struktur administrasi pemerintah. Kelompok Bermain dan Taman Penitipan Anak walaupun telah ada sebelum adanya Direktorat PADU, tetapi dengan Direktorat PADU pelayanan lapisan bawah lain yang sudah ada diakui dan dirangkul oleh perencanaan pemerintah. Meningkatkan membantu meragamkan tempat-tempat pelayanan TK/RA dalam jalur pendidikan sekolah (formal). Disamping itu kemungkinan ini membuka dan memperluas pelayanan anak usia dini pada anak-anak yang kurang beruntung (anak-anak yang kurang mampu). Berikut merupakan beberapa PAUD yang ada di Indonesia sesuai dengan jenis pendidikan formal, nonformal, dan informal:

TK/RA KB TPA Posyandu Bina

Keluarga Balita Usia 4-6 tahun 2-6 tahun 3 bulan-6

tahun

0-6 tahun 0-5 tahun

Sasaran Anak Anak Anak Anak dan Ibu Ibu

Waktu Kegiatan

2 jam/hari 2 jam minimal, 3 kali seminggu

8-10 jam setiap hari

2 jam, 2 kali sebulan

2 jam

Persyaraatan Kualifikasi

Pendidik

2 tahun di akademi (D2)

SLTA dengan training khusus

dan magang

SLTA dengan training khusus

dan magang

SMP dengan pelatihan

khusus

SMP dengan pelatihan

khusus Agen

Pemerintah yang bertanggung

Depdikna, Departement

Agama, Supervisi dan

Departement Sosial, Departement

Penididkan

Departement Sosial, Komponen

Supervisi

Departement Kesehatan

Kementrian Pemberdayaan

perempuan

(22)

jawab Monitoring RA

Nasional

Fokus Pembelajaran

Pendidikan Anak Usia dini perkembangan

anak dan kesiapan bersekolah dan

ajaran agama

Pendidikan pada dasarnya bermain-main perkembangan

emosi dan mental

Pelayanan perawatan untuk anak- anak yang orangtuanya

bekerja, digabung

dengan perkembangan

emosi dan mental

Pelayanan kesehatan untuk ibu dan

anak yang digabung

dengan pendidikan

orangtua

Pendidikan orangtua serta kegiatan untuk

anak juga ditawarkan

selama pertemuan

Tabel 1. Perbedaan Pendidikan Prasekolah di Indonesia Keterangan:

a. TK (Taman Kanak-kanak) adalah pelayanan pendidikan anak usia dini terutama disediakan untuk anak-anak usia 4-6 tahun. Demikian pula dengan RA (Raudhatul Athfal), tetapi di RA menekankan pada pengajaran agama Islam. RA berada di bawah Kementrian Agaman (Kemenag). TK/RA merupakan jenis program pendidikan anak usia dini dalam jalur pendidikan formal.

b. KB (Kelompok Bermain) menyediakan pendidikan anak pada usia 2-6 tahun.

KB memberikan pelayanan pendidikan setengah hari untuk anak. KB merupakan salah satu jenis pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal.

c. TPA (Taman Penitipan Anak) menyediakan pendidikan untuk anak usia 3 bulan-6 tahun. TPA menyediakan kebutuhan mendidik dan merawat anak untuk para ibu-ibu yang sibuk bekerja. TPA juga merupakan salah satu jenis pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal.

(23)

d. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan pusat kegiatan perawatan kesehatan dan juga untuk belajar tentang orang tua yang memberikan pelayanan pada anak-anaknya khususnya anak usia dini. Posyandu merupakan bagian dari jalur pendidikan informal.

e. BKB (Bina Keluarga Balita) bertujuan untuk menyediakan informasi pada ibu-ibu mengenai keterampilan orangtua, seperti bagaimana membesarkan dan mengawasi perkembangan fisik, emosi, dan intelektual anak usia dini. BKB juga merupakan bagian dari jalur pendidikan informal.

B. Gambaran Pendidikan Anak Usia Dini di Negara Malaysia

Pada jaman penjajahan Inggris, pendidikan Malaysia memiliki ciri-ciri yaitu kurikulum yang diterapkan di sekolah satu dengan sekolah lainnya berbeda, lokasi sekolah bagi setiap kaum terpisah, setiap jenis sekolah khusus mengikuti kaum, bahasa pengantar yang digunakan berbeda-beda seperti Sekolah Cina berbahasa pengantar Mandarin dan Sekolah Tamil menggunakan bahasa pengantar bahasa Tamil. Pada masa itu sistem penjajahan menggunakan “monitorial system” dimana pengajar-pengajar didatangkan dari Inggris, sehingga ada peningkatan mutu sekolah.

Para pengajar pada masa penjajahan diberikan pelatihan kerja profesional dan dikirim ke Raffles Collage (perguruan tinggi).

Malaysia merupakan negara dengan indeks pendidikan pra-sekolah terbaik kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Menurut Indeks Starting Well negara Malaysia unggul dalam segi keterjangkauan serta standar kesehatan dan keselamatan.

Pendidikan anak usia dini di Malaysia juga berpedoman pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

Malaysia membagi taman anak-anak menjadi dua berdasarkan Akta (undang-undang) yaitu Taska (Taman Asuhan Anak-Anak) dan Tadika (Taman Didikan Anak-Anak).

Taska merupakan jenjang pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia 0-4 tahun. Sementara itu, Tadika merupakan jenjang pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia 4-6 tahun atau usia prasekolah. Kedua

(24)

jenjang pendidikan antara Taska dan Tadika, memiliki sistem yang berbeda.

Perbedaan program Taska dan Tadika dapat ditunjukkan melalui Tabel 2. Perbedaan Program Taska dan Tadika.

Taman Asuhan Kanak-kanak (Taska)

Taman Didikan Kanak-kanak (Tadika)

Usia 0-4 tahun 4-6 tahun

Kurikulum Kurikulum Permata Negara Kurikulum Standar Prasekolah Kebangsaan (KSPK)

Tujuan Untuk menyediakan program pengasuhan dan pendidikan awal yang terpadu untuk anak-anak yang berumur 0-4 tahun.

Untuk mengembangkan potensi siswa berusia 4-6 tahun secara komprehensif dan terpadu.

Kegiatan Belajar Fokus pada permainan dan kegiatan yang dilakukan sehari- hari

Fokus pada aspek kognitif dalam kegiatan belajar

Jumlah Peserta Didik

Penerimaan pendaftar 10 orang atau lebih

Penerimaan pendaftar 25 orang

Pendidik Pendidikan sekurang-kurangnya adalah diploma.

Telah lulus Kursus Asuhan Permata atau Kursus Asas Asuhan Kanak-kanak.

Pendidikan sekurang-kurangnya adalah diploma.

(25)

Keterangan :

a. Taman Asuhan Kanak-kanak (Taska)

Taman Asuhan Kanak-kanak atau Taska merupakan pendidikan untuk tingkat prasekolah, yang memiliki model seperti Tempat Penitipan Anak (TPA) serta dipadukan dengan playgroup. Pendidikan anak usia dini di jenjang Taska bertujuan untuk mendidik anak-anak agar dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama maupun dengan lingkungan sekitar. Pembelajaran yang dilakukan pada jenjang Taska menggunakan Kurikulum Permata Negara. Kurikulum tersebut bertujuan untuk menyediakan program pengasuhan dan pendidikan awal yang terpadu bagi anak-anak usia 0-4 tahun. Kurikulum tersebut juga dirancang dengan berfokus pada pembinaan kualitas individu anak-anak. Aspek dalam kurikulum ini menitikberatkan pada bagaimana cara membina kepribadian, emosi, sosial, rohani, fisik, motorik, bahasa, kreativitas, dan intelektual anak. Rancangan kurikulum permata dapat berupa RPP, RPS, RPM, dan RPH.

Taska memberikan fasilitas ruang-ruang khusus bagi anak untuk melakukan berbagai aktivitas yang selalu didampingi oleh guru pengasuh. Dalam setiap ruang yang disediakan, anak-anak bebas untuk beraktivitas sesuai dengan tahap perkembangannya. Pada jenjang Taska terdapat pembagian kelas-kelas yang disesuaikan dengan kegiatan dan usia anak. Kelas tersebut dapat dibagi menjadi kelas untuk bayi dan kelas untuk anak usia 3-4 tahun. Kegiatan yang dilakukan bagi kelompok bayi dapat berupa pengasuhan dan stimulasi untuk membantu proses perkembangan. Kegiatan rutin yang dilakukan dalam Taska dapat berupa kegiatan sehari-hari seperti berikut:

 Menyambut kedatangan siswa

Dilakukan dengan kegiatan mengucap salam dan bersalaman, pendidik bertanya kabar siswa, dan pendidik memeriksa kondisi siswa.

(26)

 Pertemuan pagi

Dilakukan dengan doa bersama, menyanyikan lagu kebangsaan, menyanyikan lagu permata, menyanyikan lagu patriotik, dan membaca ikrar anak permata, dengan durasi waktu 30-40 menit.

 Makan dan minum

Dalam kegiatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk makan dan minum.

Pendidik juga menjelaskan terkait dengan adab makan yang baik.

 Kebugaran

Kegiatan kebugaran dilakukan melalui senam, tari, dan permainan bebas.

 Kesehatan dan kebersihan diri anak

Kegiatan ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan kesehatan, membasuh tangan, dan lain-lain.

Dalam pembelajaran di Taska juga melalui pengintegrasian enam bidang pembelajaran permata yaitu:

1. Perkembangan Sahsiah, Sosio-emosi, dan Kerohanian 2. Perkembangan Bahasa, Komunikasi, dan Literasi Awal 3. Perkembangan Awal Matematik dan Pemikiran Logik 4. Perkembangan Deria dan Pemahaman Dunia Persekitaran 5. Perkembangan Fizikal dan Psikomotor

6. Perkembangan Kreativif dan Estetika

Selain itu, dalam pembelajaran Taska juga menggunakan berbagai alat atau sumber belajar yang meliputi:

 Peralatan Musik

 Peralatan Manipulatif

 Peralatan Kognitif

 Peralatan Permainan Peran

(27)

 Peralatan Main Air dan Pasir

 Peralatan Fizikal dan Senam

 Peralatan Seni dan Kraf

 Bahan Bacaan dan Literasi

Taska memiliki sarana dan prasarana yang disediakan oleh kerajaan, namun dalam Taska biasanya dipungut bayaran bagi siswa atau peserta didik. Pegawai (semacam kader) atau pendidik juga mendapatkan gaji dari kerajaan. Pendidik menerima gaji minimum yang setimpal dengan tanggungjawab. Dalam proses seleksi, seorang calon pendidik di Taska juga perlu dipertimbangkan. Untuk dapat menjadi pendidik di Taska perlu memenuhi syarat yaitu sekurang-kurangnya pendidikan adalah tingkat diploma. Selain itu, pendidik di Taska juga telah lulus kursus KAAK/KAP dan terdaftar sebagai pengasuh atau pendidik yang mengikuti Akta Taska 1984 (pindanaan 2007).

b. Taman Didikan Kanak-kanak (Tadika)

Taman Didikan Kanak-kanak atau Tadika merupakan sekolah bagi anak-anak usia 4-6 tahun. Sama halnya dengan negara Indonesia, sekolah Tadika bukan merupakan pendidikan wajib dalam pendidikan di negara Malaysia. Model pendidikan di Tadika sama seperti pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di Indonesia. Pendidikan anak usia dini di jenjang Tadika memiliki tujuan yang sama seperti Taksa dengan tidak membedakan latar belakang sosial, agama, tempat tinggal, kondisi kesehatan, serta perkembangan intelektual anak. Pembelajaran yang dilakukan pada jenjang Tadika menggunakan Kurikulum Standar Prasekolah Kebangsaan (KSPK). Tujuan dari kurikulum tersebut adalah mengembangkan potensi siswa yang berusia empat sampai enam tahun secara komprehensif dan terpadu dalam aspek fisik, emosional, spiritual, intelektual, dan sosial melalui lingkungan belajar yang aman dan asuh, serta kegiatan belajar yang menyenangkan, kreatif, dan

(28)

bermakna. Kurikulum Standar Prasekolah Kebangsaan juga memberikan peluang bagi murid untuk dapat mencapai objektif sebagai berikut:

1. Menggunakan bahasa untuk berkomunikasi secara efektif.

2. Mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa yang beragama Islam.

3. Mempraktikkan nilai-nilai murni masyarakat Malaysia.

4. Menghargai dan peka terhadap budaya masyarakat Malaysia.

5. Menyayangi dan menghargai alam sekitar.

6. Mengembangkan konsep diri dan kepercayaan diri yang positif.

7. Mempraktikkan amalan kesehatan, membina kebugaran badan dan menjaga diri agar tetap aman.

8. Mengaplikasikan pemikiran kritis, kreatif dan inovatif serta kemahiran menyelesaikan masalah dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

Dalam Kurikulum Standar Prasekolah Kebangsaan, menggunakan pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan lingkungan belajar yang nyaman, anam, ceria, dapat mendorong rasa ingin tahu, dapat menjelajahi, dan mengeksplorasi, serta memberikan pengalam baru kepada anak-anak. pelaksanaan pembelajaran dalam KSPK, waktu yang ditentukan sekurang-kurangnya empat jam sehari (termasuk kegiatan istirahat).

Dalam pembelajaran di Tadika, seorang pendidik juga diharapkan agar dapat:

1. Memahami dan menghayati hak kanak-kanak 2. Mengakui pendapat dan partisipasi kanak-kanak

3. Mengenali dan menerima kenyataan kondisi kanak-kanak 4. Menyediakan lingkungan fisik dan sosial

5. Melibatkan orangtua dalam aktivitas kanak-kanak

(29)

C. Perbandingan Pendidikan Anak Usia Dini di Negara Indonesia dan Malaysia

Dari hasil penjelasan Pendidikan anak usia dini di masing-masing negara yaitu negara Indonesia dan negara Malaysia di atas dapat kita ketahui perbandingan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan Malaysia dapat dilihat dari jalur pendidikan, pelaksanaan, pendidik, peserta didik, fokus pembelajaran, pengawasan, lokasi sekolah dan keamanan. Petunjuk teknis penyelenggaraan PAUD di negara Indonesia dan negara Malaysia hampir sama. Petunjuk teknis penyelenggaraan PAUD dan hasil perbandingan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan di negara Malaysia dapat ditunjukkan sebagai berikut:

Aspek Indonesia Malaysia

Pengawasan Usia 0-2 tahun, 1 : 4 Usia 2-4 tahun, 1 : 8

Usia 0-1 tahun, 1 : 3 Usia 1-3 tahun, 1 : 5 Usia 3-4 tahun, 1 : 10 Lokasi Sekolah TK/RA :

- Memiliki luas lahan minimal 300 meter persegi untuk bangunan dan halaman.

- Memiliki ruang kegiatan anak yang aman dan sehat dengan rasio minimal 3 meter persegi per anak dan tersedia fasilitas cuci tangan dengan air bersih

Kelompok Bermain

Standar luas ruangan Tadika :

1,4 meter persegi setiap anak. Jika diruangan terdapat sepuluh anak maka area bermain di dalam gedung harus seluas 14 meter persegi. Ruangan haruslah berada di area yang paling aman dari keseluruhan gedung.

Standar luas ruangan Taska :

(30)

(KB) :

Memiliki jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jumlah anak, luas minimal 3 meter persegi per anak.

Taman Penitipan Anak (TPA) :

Memiliki jumlah ruang dan luas disesuaikan dengan jumlah anak, luas minimal 3 meter persegi per anak.

Satuan Paud Sejenis (SPS) :

Memiliki jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jumlah anak, luas minimal 3 meter persegi.

Jika di sebuah rumah yang terdaftar, luas lantai minimum yang ditetapkan adalah 2,5 meter persegi per anak. Jika dilingkungan tempat kerja atau institusi khusus penitipan anak, luas lantai minimum adalah 3,5 meter persegi.

(31)

Keamanan - Indonesia juga mewajibkan lokasi kegiatan anak-anak berada jauh dari tempat berbahaya seperti jauh dari dapur.

- Pemilihan alat permainan edukatif (APE) yang aman digunakan anak.

- Malaysia mewajibkan lokasi dapur dan tempat dengan banyak benda berbahaya bagi anak berada jauh dari tempat kegiatan anak.

- Penganjuran untuk - pemasangan CCTV - Pemilihan cat yang tidak

berbahaya

Jenis dan jenjang PAUD - Di Indonesia terdapat macam nama pendidikan anak usia dini yaitu TK atau RA, KB, TPA, Posyandu, BKB, dan sebagainya sesuai dengan jalur pendidikan baik formal, nonformal maupun informal.

- Sementara itu, di Malaysia terdapat dua jenjang pendidikan anak usia dini yaitu Taman Asuhan Kanak-kanak (Taska) dan Taman Didikan Kanak-kanak (Tadika).

Usia peserta didik PAUD - Pelaksanaan PAUD di Indonesia dapat melalui program TK/RA untuk anak usia 4-6 tahun, KB untuk anak usia 2-6

- Sementara itu, di negara Malaysia pelaksanaan PAUD dapat melalui dua program yaitu Taska untuk anak-anak usia 0-4

(32)

tahun, TPA untuk anak usia 3 bulan-6 tahun, Posyandu untuk anak usia 0-6 tahun, dan BKB untuk anak usia 0-5 tahun.

tahun dan Tadika untuk anak-anak usia 4-6 tahun

Kualifikasi pendidik PAUD

PAUD di Indonesia memiliki kualifikasi pendidik yaitu D2 untuk TK, SLTA dengan training khusus untuk KB dan TPA, serta SMP dengan pelatihan khusus untuk Posyandu dan BKB.

PAUD di Malaysia baik di Taska maupun Tadika memiliki kualifikasi pendidik yang sama yaitu pendidikan sekurang- kurangnya adalah diploma.

Fokus pembelajaran PAUD

PAUD di Indonesia

memiliki fokus

pembelajaran dalam kesiapan bersekolah, perkembangan emosi dan mental, serta memberikan edukasi bagi orangtua.

PAUD di Malaysia

memiliki fokus

pembelajaran dalam aspek kognitif dan kegiatan sehari-hari.

Pedoman PAUD Di Indonesia Pendidikan anak usia dini berpedoman pada Kurikulum Nasional yang isinya mengacu pada tiga pilar pendidikan yaitu learning to know, learning to do, dan learning to be

Pendidikan anak usia dini di negara Malaysia berpedoman pada Kurikulum Permata Negara yang berisi empat pilar pendidikan yaitu learning to know,

(33)

learning to do, learning to be dan learning to live together.

Pelaksanaan kurikulum

pelaksaaan kurikulum pendidikan anak usia dini di

negara Indonesia

menekankan pada enam bidang perkembangan yaitu nilai, agama, modal, fisik- motorik, kognitif bahasa, sosio-emosional dan seni.

kurikulum pendidikan anak usia dini yang digunakan di negara Malaysia terdapat

enam bidang

perkembangan yaitu agama, sosio-emosional, bahasa, komunikasi dan literasi awal, matematika awal dan pemikiran logika, pemahaman lingkungan sekitar, fisika, psikomotor, krativitas dan estetika.

Berikut adalah keterangan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan negara Malaysia:

1. Pengawasan

a.) Indonesia: Pengawasan anak-anak di PAUD Indonesia menggunakan parameter yang bisa dijadikan rujukan adalah rasio antara pengasuh dan anak. Aturan di Indonesia menggunakan rasio 1 : 4 (satu pengawas untuk empat anak) dengan usia 0-2 tahun, sementara usia 2-4 tahun menggunakan rasio 1 : 8 (satu pengawas untuk delapan anak).

(34)

b.) Malaysia: Tingkat pengawasan anak di Malaysia tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Parameter yang bisa dijadikan rujukan adalah rasio anatar pengawas dan anak. Aturan di Malaysia, untu anak usia 0-1 tahun rasionya 1 : 3 (satu pengawas untuk tiga anak), usia 1-3 tahun rasionya 1 : 5 (satu pengawas untuk lima anak), dan untuk usia 3-4 tahun rasionya 1 : 10 (satu untuk sepuluh anak).

2. Lokasi Sekolah

a.) Indonesia: persyaratan sarana dan prasarana penyelenggaraan PAUD di Indonesia terdapat dalam Pasal 32, Permendikbud 137 tahun 2014 untuk TK/RA harus memiliki luas lahan minimal 300 meter persegi, memiliki ruangan kegiatan anak baik di dalam maupun di luar ruangan, memiliki ruang guru dan ruang kepala sekolah, memiliki ruang UKS dengan kelengkapan P3K, memiliki alat permainan edukatif, dan memiliki tempat sampah yang tertutup serta tidak tercemar. KB (Kelompok Bermain), TPA (Taman Penitipan Anak) dan SPS (Satuan Paud Sejenis) memiliki persyaratan sarana dan prasarana yang hampir sama yaitu memiliki jumlah ruang dan luas lahan yang disesuaikan dengan jumlah anak atau peserta didik, luas minimal 3 meter persegi per anak, memiliki ruang atau fasilitas untuk bermain anak, memiliki fasilitas cuci tangan dengan air bersih, memiliki kamar mandi dengan air yang bersih, dan memiliki tempat sampah yang tertutup serta tidak tercemar.

b.) Malaysia: standar luas ruangan satuan Tadika adalah 1,4 meter persegi setiap anak. Malaysia juga menerapkan standar luas ruangan lainnya yaitu luas dapur minimal 4,5 meter persegi, kamar mandi 6 meter persegi, ruang staff 20 meter persegi. Untuk ruang terbuka dan parkir harus memiliki luas minimal 50 meter persegi dan 24 meter persegi. Untuk Taska jika di sebuah rumah yang terdaftar, luas lantai minimal yang ditetapkan adalah 2,5 meter persegi per anak. Jika dilingkungan kerja atau institusi khusus penitipan anak, luas lantai minimal 3,5 meter persegi.

(35)

Panduan pendirian PAUD di Malaysia sudah cukup lengkap.

Pertimbangan lokasi, luas bangunan, pelatihan dan kursus pengasuh, hingga anjuran pemasangan CCTV dimasukkan dalam panduan. Setiap pengelola yang melanggar akan dikenai denda oleh pemerintah Malaysia.

3. Keamanan

a.) Indonesia : Penyelenggaraan PAUD di Indonesia harus memperhatikan faktor keamanan baik keamanan pendidik maupun peserta didik. Tingkat keamanan di PAUD Indonesia sudah mewajibkan lokasi kegiatan anak- anak berada jauh dari tempat berbahaya seperti jauh dari dapur. Selain itu, pemilihan atau penggunaan alat permainan edukatif yang aman digunakan untuk anak-anak baik dari segi bahan maupun pewarnaan. Tetapi belum semua penyelenggara PAUD di Indonesia menyediakan CCTV.

b.) Malaysia : Penyelenggaraan pendidikan prasekolah di Malaysia tidak jauh berbeda dengan di Indonesia yaitu mewajibkan lokasi dapur dan tempat dengan banyak benda berbahaya bagi anak berada jauh dari tempat kegiatan anak. Selain hal tersebut, dalam penyelenggaraan pendidikan pra- sekolah di Malaysia pemerintah juga menganjurkan untuk memasang CCTV untuk keamanan, dan pemilihan cat tembok serta cat dalam alat permainan yang digunakan terjamin aman untuk anak-anak.

4. Jenis dan Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini

a.) Indonesia : Pendidikan pra sekolah di Indonesia terbagi menjadi 3 jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan pra sekolah jalur formal yaitu TK/RA, pendidikan pra sekolah jalur non formal yaitu KB (Kelompok Bermain), TPA (Taman Penitipan Anak), dan SPS (Satuan Paud Sejenis), dan pendidikan pra sekolah jalur informal yaitu posyandu dan BKB (Bina Keluarga Balita).

b.) Malaysia : Pendidikan pra sekolah di Malaysia terbagi menajdi dua jenjang pendidikan yaitu Taman Asuhan Kanak-kanak (Taska) dan Taman Didikan Kanak-kanak (Tadika).

(36)

5. Usia Peserta Didik

a.) Indonesia : Usia rata-rata peserta didik pra sekolah di Indonesia yaitu untuk TK/RA berusia 4-6 tahun, KB berusia 2-6 tahun, TPA berusia 3 bulan - 6 tahun, Posyandu berusia 0-6 tahun, dan BKB berusia 0-5 tahun.

b.) Malaysia : Usia rata-rata peserta didik pra sekolah di Malaysia yaitu untuk Taska berusia 0-4 tahun, dan Tadia berusia 4-6 tahun.

6. Kualifikasi Pendidik PAUD

a.) Indonesia : Kualifikasi pendidik atau pengajar di pendidikan pra sekolah di Indonesia yaitu D2 untuk TK/RA, SLTA dengan training khusus atau mengikiti diklat untuk KB dan TPA, serta SMP dengan pelatihan khusus untuk Posyandu dan BKB.

b.) Malaysia : Kualidikasi pendidik di pendidikan pra sekolah di Malaysia untuk pendidikan Taska dan Tadika adalah minimal telah menempuh jenjang Diploma.

7. Fokus Pembelajaran

a.) Indonesia : Fokus pembelajaran pendidikan pra sekolah di Indonesia adalah dalam kesiapan bersekolah atau dalam menyiapkan diri untuk memasuki sekolah ke tahap berikutnya, perkembangan emosi dan mental, serta memberikan edukasi bagi orangtua.

b.) Malaysia : Fokus pembelajaran pendidikan pra sekolah di Malaysia adalah pada pembinaan kualitas individu anak-anak. Aspek utama dalam fokus pembelajaran pendidikan pra sekolah di Malaysia adalah interaksi anak- anak, kaidah pengasuhan, membina emosi, rohani, sosial, fisik dan intelektualitas.

8. Pedoman PAUD

a.) Indonesia : Di Indonesia pendidikan pra sekolah berpedoman pada Kurikulum Nasional yang isinya mengacu pada tiga pilar pendidikan yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan/menerapkan), dan learning to be (belajar untuk menjadi).

(37)

b.) Malaysia : Malaysia menggunakan pedoman Kurikulum Permata Negara, dimana kurikulum ini dirancang dengan berfokus pada pembinaan kualitas individu anak-anak. Teori dalam Kurikulum Permata Negara berisi tentang interaksi anak-anak, kaedah pengasuhan secara holistik, dan panduan merancang kegiatan untuk mengkaji perkembangan anak.

9. Pelaksanaan kurikulum

a.) Indonesia : Kurikulum pendidikan anak usia dini di negara Indonesia menekankan pada enam bidang perkembangan yaitu nilai, agama, modal, fisik-motorik, kognitif bahasa, sosio-emosional dan seni. Dimana bidang perkembangan tersebut di masukan dalam kompetensi inti yang meliputi tiga pokok pembelajaran yaitu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.

b.) Malaysia : Kurikulum pendidikan anak usia dini yang digunakan di negara Malaysia juga terdapat enam bidang perkembangan yaitu agama, sosio- emosional, bahasa, komunikasi dan literasi awal, matematika awal dan pemikiran logika, pemahaman lingkungan sekitar, fisika, psikomotor, krativitas dan estetika. Berdasarkan enam bidang perkembangan tersebut dapat menghasilkan dua komponen yaitu pengasuhan dan pengajaran.

D. Bentuk Implikasi Pendidikan Anak Usia Dini dari Kedua Negara

Selanjutnya dari poin perbandingan diatas dapat di ambil beberapa alasan mengapa memilih negara Malaysia untuk dijadikan perbandingan pendidikan pra sekolah dengan negara Indonesia yaitu karena negara Indonesia dan negara Malaysia memiliki rumpun yang sama, wilayah yang berdekatan, bahasa yang hampir sama, dan budaya yang hampir sama. Selain alasan tersebut juga karena negara Malaysia merupakan negara yang menduduki peringkat kedua di Asia Tenggara yang sangat memperdulikan pendidikan pra sekolah setelah negara Singapura. Implikasi dari penelitian studi perbandingan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan di negara Malaysia ini yaitu adalah kita dapat mengetahui bawa walaupun negara

(38)

Indonesia dan negara Malaysia memiliki beberapa kesamaan seperti yang telah disebutkan di atas tetap terdapat beberapa perbedaan, dari beberapa perbedaan inilah kemudian kita dapat membandingkan pendidikan anak usia dini di 2 negara ini.

Setelah mengetahui dan memahami hasil perbandingan dari kedua negara ini kita kemudian dapat belajar dan terus mengupayakan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan anak usia dini di negara kita tercinta negara Indonesia. Dari perbandingan di atas terdapat beberapa point tentang penyelenggaraan pendidikan pra sekolah di Malaysia yang dapat adopsi di negara Indonesia sebagai wujud perbaikan pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. Beberapa hal yang dapat di adopsi adalah sebagai berikut:

1. Pelaksanaan pedoman 4 pilar pendidikan yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

2. Memperhatikan sistem pengawasan, lokasi dan keamanan dalam pendidikan pra sekolah.

3. Meningkatkan kualitas dalam kualifikasi pendidik pendidikan anak usia dini.

(39)

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Dalam penyelenggaraan pendidikan nasional masa depan, perhatian perbaikan harus dilakukan salah satunya yaitu perbaikan pada pendidikan anak usia dini di Indoneis Untuk itu diperlukan suatu kajian yang dapat dijadikan sebagai salah satu gambaran arah konsep dan kebijakan pendidikan yang baik. Salah satu caranya adalah dengan komparasi pendidikan di Indonesia dengan dengan pendidikan di negara yang mutu pendidikannya lebih baik yang dalam hal ini adalah negara Malaysia. Komparasi pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan negara Malaysia ini menghasilkan beberapa poin perbandingan berikut :

1. Perbedaan macam dan jenis pendidikan anak usia dini. Di negara Indonesia terdapat kurang lebih 5 macam nama pendidikan anak usia dini seperti TK/RA, BKB, Posyandu, TPA dan lainnya sementara di negara Malaysia hanya terdapat 2 macam nama pendidikan anak usia dini yaitu Taska dan Tadika.

2. Perbedaan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan anak usia dini. Pendidikan anak usia dini di negara Indonesia memiliki 3 pilar pendidikan yang di laksanakan yaitu learning to know, learning to do, dan learning to be. Sementara Pendidikan anak usia dini di Malaysia berpedoman pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together.

3. Perbedaaan dalam pelaksaaan kurikulum pendidikan anak usia dini di negara Indonesia menekankan pada enam bidang perkembangan yaitu nilai, agama, modal, fisik-motorik, kognitif bahasa, sosio-emosional dan seni. Sementara itu, kurikulum pendidikan anak usia dini yang digunakan di negara Malaysia juga terdapat enam bidang perkembangan yaitu agama, sosio-emosional, bahasa, komunikasi dan literasi awal, matematika awal dan pemikiran logika, pemahaman lingkungan sekitar, fisika, psikomotor, krativitas dan estetika.

(40)

4. Terdapat perbedaan dalam peserta didik, kualifikasi pendidik dalam pendidikan anak usia dini dan fokus pembelajaran pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan di negara Malaysia.

5. Terdapat perbedaan dalam pengawasan lokasi dan keamanan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini di negara Indonesia dan di negara Malaysia.

B. Saran

1. Pemerintah

a. Terus memperbaiki sistem pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini baik melalui perbaikan dan penyesuaian kurikulum atau peningkatan sarana prasarana dan lainnya

b. Mendukung atau mewadahi upaya-upaya perbaikan seperti adanya anggaran dana untuk pelatihan tenaga pendidikan pada pendidikan anak usia dini.

2. Bagi orang tua.

a. Menyadari bahwa pendidikan penting untuk di lakukan pada anak sedini mungkin dan mewadahinya.

b. Mencukupi kebutuhan pendidikan anak dalam keluarga atau pendidikan informal bagi anak.

3. Lembaga terkait.

a. Terus memiliki semangat dan motivasi untuk memperbaiki dan mengembangkan kelembagaan maupun satuan pendidikan anak usia dini itu sendiri.

b. Memiliki pikiran terbuka dan mau menerima saran untuk kemudian dapat di lakukan sebagai upaya perbaikan.

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Nur. 2018. “Kurikulum Malaysia”. Artikel Pascasarjana Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses dari http://academia.edu/, pada 6 Maret 2020.

Direktorat Pembinaan PAUD. 2015. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan PAUD Holistik Integratif di Satuan PAUD. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Jurnal Etnografi Indonesia. Vol.1 No.2 Desember 2016. Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Kurikulum Permata Negara Asuhan dan Didikan Awal Kanak-kanak 0-4 Tahun.

Diakses dari https://www.academia.edu/.

Kurikulum Standard Prasekolah Kebangsaan. Kementerian Pendidikan Malaysia.

Diakses dari https://www.academia.edu/.

Nordin, Norazly dan Mohd Zaidi Hajazi. 2019. “Pendidikan Anak Usia Dini Dan Pendidikan Awal Kanak-Kanak”. Jurnal Internasional Conference On Global Education VII “Humanising Tecnology For IR 4.0”.

Nurani Sujiono, Yuliani. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:

PT Indeks.

PLAN Malaysia (Jabatan Perancangan Bandar dan Desa). 2017. Garis Panduan perancangan dan penubuhan Tadika dan Taska 2017. Kementrian Kesejahteraan Bandar. Perumahan dan Kerajaan Tempatan:Malaysia.

Pundi (Penggiat Pendidikan Indonesia), “Pemerataan Akses dan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia”, Diakses dari http://pundi.or.id, pada tanggal 11 Maret 2019.

Rohman, Arif. 2013. Pendidikan Komparatif. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

(42)

Standar Nasional PAUD, Pasal 32 Permendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 137/2014..

UNESCO. 2005. “Pendidikan dan Perawatan Anak Usia Dini di Indonesia”. Laporan Review Kebijakan, Workshop UNESCO Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Instructional Design Guidelines: Level 5 is exciting for instructors since it allows one's teaching ideas to impact students anywhere in the world.. It also fosters