• Tidak ada hasil yang ditemukan

kemanusiaan yang adil dan beradab - repository iiq - IIQ Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "kemanusiaan yang adil dan beradab - repository iiq - IIQ Jakarta"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

Dalam Al-Qur’an terdapat tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan makna manusia, yaitu kata insân, banî adam, dan basyar. Dalam Al-Quran dan hadis dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan mempunyai berbagai macam potensi yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh petunjuk tentang kebenaran hidup di dunia dan akhirat.3. 2 Musa Asy'arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-Qur'an, (Jakarta: Institut Studi Filsafat Islam, 1992), hal.

Keduanya mempunyai harkat kemanusiaan yang tinggi dan hendaknya diperlakukan sesuai nilai kemanusiaan, sesuai kodratnya sebagai makhluk Tuhan yang mulia. 12 Lajnah Pentashihan Al-Qur'an, Al-Qur'an dan Isu Kontemporer, (Jakarta: Lajnah Pentashihan Al-Qur'an, 2012), hal. Faktanya, ada beberapa ayat dalam Al-Qur'an yang memuat petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, termasuk ayat-ayat yang mengajarkan tentang kedudukan manusia di muka bumi dan prinsip-prinsip yang harus diikuti dalam kehidupan bermasyarakat. , seperti prinsip musyawarah atau konsultasi, ketaatan kepada pemimpin, pengakuan terhadap keberadaan hak asasi manusia (HAM), keadilan, kesetaraan dan kebebasan beragama.16.

Landasan persaudaraan umat manusia bukan saja karena semua manusia adalah makhluk Allah yang sederajat, namun juga karena agama menurut ajaran Al-Qur’an tidak boleh merusak persaudaraan dan hubungan baik tersebut, padahal keyakinan agama mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan. pikiran dan perilaku seseorang serta dapat menimbulkan pandangan yang sempit dan fanatik.17. Kemanusiaan yang diajarkan Al-Qur'an pada awalnya banyak diamalkan oleh umat Islam. Demikian pula yang dijelaskan dalam Al-Quran, ajarannya menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal, tidak ada perbedaan antar manusia, dan status manusia hanya dibedakan berdasarkan tingkat ketakwaannya, bukan karena.

يا هُّيأ

نم ل

ثن أ و

دنِع َٰٓ

للّ َٰٓٱ

للّ

ميِل ع َٰٓ

ريِب خ

Identifikasi Masalah

Ketiga, fakta bahwa selama ini masyarakat Indonesia belum maksimal dalam mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua Pancasila. Keempat, fakta bahwa Al-Qur'an merupakan kitab yang lengkap dalam pembahasan nilai-nilai kemanusiaan.

Pembatasan Masalah

Tafsir ini lebih condong pada gaya Adabiy-Ijtima`I (sastra-sosial), sehingga sesuai dengan tema yang diangkat dalam skripsi ini. Penafsiran ini sangat kontekstual dengan kondisi Indonesia, karena merespon berbagai hal nyata yang terjadi di dunia Islam Indonesia maupun internasional. Quraish Shihab menyusun tafsir ini dengan sangat baik dari beberapa tafsir sebelumnya, dan merumuskannya dengan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna, serta dengan pembahasan sistematis yang mudah diikuti oleh khalayak.

Latar belakang penulis tafsir ini yaitu Bakrie Syahid sebagai purnawirawan TNI, istimewa di sini karena membahas ayat-ayat tentang kemanusiaan yang berhubungan dengan hak asasi manusia dan kewajiban terhadap diri sendiri, masyarakat dan negaranya, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan. . Tafsir Al-Huda juga mempunyai corak sosial, dimana Bakrie Syahid dalam penafsirannya ingin menghindari kesan cara penafsiran yang terkesan melepaskan Al-Quran dari akar sejarah kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara keseluruhan. kelompok.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kajian Pustaka

Tesis Syaiful Haq, “Keadilan Sosial dalam Perspektif Al-Quran dan Pancasila”, menjelaskan bahwa konsep keadilan yang dapat dipahami dalam Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia seperti hukum, poligami dan sebagainya. Pancasila dan Islam mempunyai semangat yang sama dalam kehidupan manusia, yaitu menciptakan keadilan dan keamanan dalam masyarakat, hal ini terbukti dari ayat-ayat Al-Quran yang juga menjelaskan isi sila-sila Pancasila. 28 Syiful Haq, “Keadilan Sosial dalam Perspektif Al-Quran dan Pancasila,” Skripsi, (Yogyakarta: Uin Sunan Kalijaga, 2017), tidak diterbitkan.

Disertasi ini berbeda dengan penelitian yang akan penulis telaah karena disertasi ini bersifat tematik pada Al-Quran, sedangkan penulis akan membahas secara tematis dan fokus pada dua tafsir dengan pendekatan komparatif. Jurnal “Manusia Berkualitas Menurut Al-Qur’an” menjelaskan tentang konsep manusia berdasarkan Al-Qur’an dan pendapat para ulama, dari situ dapat ditarik benang merah bahwa pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah sebagai wujud yang paling canggih, apabila mampu memanfaatkan dengan baik segala potensi yang dimilikinya, dengan kata lain mengaktualisasikan potensi beriman kepada Allah, menguasai ilmu dan beramal shaleh, maka manusia akan menjadi manusia yang paling mulia dan berkualitas. makhluk di bumi.29. Artikel ini juga menjelaskan poin-poin mengenai proses menjadi orang yang berkualitas menurut Al-Quran.Melalui artikel ini penulis mendapat informasi tentang pengertian orang yang berkualitas, peta konsep klasifikasi orang yang berkualitas menurut Al-Quran. Al-Qur'an dan cara menguraikan ayat-ayat tentang kemanusiaan dalam Al-Qur'an.

Tesis “Kajian Tematik Konseptual Ayat Al-Quran Tentang Keadilan Sosial (Relevansinya dengan Sila Kelima Pancasila)”, menjelaskan tentang penafsiran ayat-ayat terkait keadilan sosial dan cara mensosialisasikan nilai-nilai keadilan sosial serta relevansinya dengan Pancasila di Indonesia. kehidupan Indonesia masa kini.30. Maka pada skripsi ini penulis banyak mendapatkan informasi tentang makna nilai-nilai dasar Pancasila, bagaimana menganalisis nilai-nilai Pancasila dari sudut pandang Al-Quran. 30 Muhammad Ridha, “Kajian Tematik Konseptual Ayat Al-Quran Tentang Keadilan Sosial (Relevansinya dengan Sila Kelima Pancasila”), Disertasi, Uin Sunan Kalijaga, 2016, tidak diterbitkan.

Tesis “Kemuliaan Manusia dalam Al-Qur’an” menjelaskan bahwa hakikat manusia adalah mempunyai potensi berpikir dan hikmah. Skripsi ini sedikit berbeda dengan penelitian yang akan penulis laksanakan, namun skripsi ini memberikan kontribusi bagi penulis dalam hal pengetahuan tentang manusia, hakikat manusia dan terminologi manusia dalam Al-Quran.32. Tesis “Kajian Metode dan Gaya Tafsir Al-Huda, Tafsir Al-Qur'an Basa Jawi oleh Brigjen TNI (Purn) Drs.

Kecenderungan Bakri Syahid dalam menafsirkan Al-Qur'an sangat jelas terlihat dari pendekatan sosio-kultural. Jurnal “Dimensi Kemanusiaan dalam Hukum Al-Qur’an” menjelaskan bahwa asas dan asas hukum tidak hanya terfokus pada teks saja, namun lebih diberikan penekanan pada tataran konteks, asalkan keakuratan asas dan asas hukum yang dimaksud. masih terjamin. .

Metodologi Penelitian 1. Jenis penelitian

  • Sumber data
  • Teknik pengumpulan data
  • Metode Analisis Data
  • Teknik dan Sistematika Penulisan

Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini merupakan salah satu prinsip dasar pandangan Islam tentang hak asasi manusia. Nahl [16]: 90, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allah memerintahkan setiap hamba-Nya untuk berbuat jujur. Nisa [4] :148, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan bahwa hukum positif melarang seseorang untuk terang-terangan mengucapkan kata-kata yang buruk di hadapan orang lain, agar pendengaran dan akhlak manusia terlindungi dari hal-hal yang merusak dan menyakitkan.

Quraish Shihab menjelaskan, ayat ini mengandung larangan melaknat keimanan orang musyrik karena makian tidak menghasilkan apapun mengenai kemaslahatan agama. Menurut Quraish Shihab, ayat ini menyindir pihak-pihak yang berada dalam kelompok yang bertikai, seperti Yahudi dan Nasrani. Nahl [16]: 90, Bakri Syahid memberi judul ayat ini dengan judul Poko-pokoking budi-pekerti kang utama, artinya prinsip utama budi pekerti.

Baqarah [2]: 256, Bakri Syahid menamakan ayat ini sebagai Ora Peksan ngrasuk agama, yang bermaksud tidak ada paksaan dalam agama. Nisa [4]:148, Bakri Syahid menajukkan ayat ini dengan tajuk larangan berkata-kata ala marang sapadha-padha, iaitu larangan berkata keji terhadap orang lain. Yang dimaksudkan dengan ucapan buruk dalam ayat ini menurut Bakri ialah meremehkan, menghina orang, marah, bergaduh dan lain-lain perkataan yang boleh mencetuskan permusuhan.

Bakri Syahid menjelaskan, ayat tersebut mengandung larangan menjadi seperti orang yang bermusuhan dan orang yang bertengkar. Berbeda dengan Bakri Syahid, ia tidak menjelaskan secara spesifik bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang hak asasi manusia, namun ia menjelaskan bahwa Allah mengagungkan anak cucu Adam, semuanya tanpa kecuali. Hal ini tercermin dalam tafsir Bakri yang menjelaskan bahwa anak Adam adalah seluruh manusia yang ada di permukaan bumi. An-Nisa [4]:​1, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pengantar untuk mengantarkan lahirnya persatuan dan kesatuan dalam masyarakat.

Berbeda dengan Bakri Syahid karena Bakri Syahid langsung mengartikan ayat ini tentang penciptaan manusia dari satu diri, yang dimaksud dengan satu diri yaitu Adam. Hal ini sesuai dengan penafsiran Bakri Syahid yang memberi judul ayat ini Poko-pokoking budi-kekerti kang utama, atau prinsip pokok budi pekerti, yaitu berbuat adil, berbuat baik, dan weweh marang kulawarga atau memberi kepada sanak saudara. Al-Baqarah [2]: 256, Quraish Shihab dan Bakri Syahid sepakat bahwa ayat ini merupakan larangan memaksakan kehendak orang lain ketika menganut suatu agama. Sikap ini mencerminkan kebebasan jiwa yang mutlak, karena agama merupakan unsur penting dalam meyakini suatu agama. kehidupan manusia yang mengandung makna keimanan di dalam hati mereka.

Al-An'am [6]: 108, Quraish Shihab menafsirkan ayat ini dengan pengertian bahwa ayat ini adalah ayat yang melarang menghina keimanan orang musyrik, sedangkan Bakri dengan larangan melaknat tuhan selain Allah tidak secara khusus menyebut orang musyrik. seperti yang dijelaskan oleh Quraisy.

Saran

Kehadiran risalah ini sekurang-kurangnya dapat menambah penemuan baru dalam dunia Al-Quran dan Tafsir serta menjadi oasis bagi penggemar sains. Abd al-Baqi, Muhammad Fuad, al-Mu'jam al-Mufahras Li alfadz al-Qur`an al-Karim, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 2010. Al-Ashfahani, Ar-Raghib, Mu'jam Mufradat Alfadz Al-Qur`an, (Beirut: Dar El-Fikr), hlm.

Fatikhin, Roro, “Keadilan Sosial dalam Perspektif Al-Qur’an dan Pancasila”, dalam Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Panangkaran”, Vo.Haryanto, Sri, “Manusia dalam Terminologi Al-Qur’an” dalam Jurnal Spektra Kajian Pendidikan Islam, hal. Haq, Syiful, “Keadilan sosial dalam perspektif Al-Quran dan Pancasila”, disertasi Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017.

RI Religion, Al-Qur'an and Contemporary Issues, Jakarta: Lajnah Pentashihan Al-Qur'an, 2012. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Forsknings- og Udviklings- og Uddannelsesagentur under Religionsministeriet i Republikken Indonesien, (Tafsir Al-Qur'an Thematic, Law, Justice and Human Rights, ), cet.1, serie. Ma'ruf, Luis, Al-Munjid Al-Maktabah Al-Katulikiyah Dictionary, Beirut Misrawi, Zuhairi Al-Qur'an Book of Tolerance, Jakarta: Pustaka Oasis, 2010 Rifyal Ka'bah, Politik og lov i Al-Quran, Jakarta: Kahirul Bayan, 2005.

Muthmainnah, Nur, Tafsir Pancasila: Kajian Nilai-Nilai Islam dalam Al-Qur'an, dalam Jurnal Kajian Al-Qur'an, Vol. Muhsin, Imam, Al-Qur'an dan Kebudayaan Jawa dalam Tafsir AL-Huda karya Bakri Syahid, Yogyakarta: Penerbit elSAQ Press, 2013. Nurdin, “Konsep Keadilan dan Kedaulatan dalam Perspektif Islam dan Barat”, dalam Jurnal Media Syariah , jilid.

Raharjo, Dawam, Pandangan Al-Qur'an Tentang Manusia dalam Pendidikan dan Perspektif Al-Qur'an, Yogyakarta: LPPI, 1999. Ridha, Muhammad, "Kajian Tematik Konseptual Ayat Al-Qur'an Tentang Keadilan Sosial (Relevansinya dengan Keadilan Sosial) Sila Kelima Pancasila", Skripsi Uin Sunan Kalijaga, 2016.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Model perlindungan hukum berparadigma kemanusiaan yang adil dan beradab ini pada tingkat implementasinya diharapkan dapat memberikan keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum

Judul Artikel Publikasi : Analisis Kesenjangan antara Teori dan Praktik mengenai Membiasakan Perilaku Sesuai Nilai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam

Berdasarkan kenyataan yang ada bahwa terjadi kesenjangan antara teori dan praktik mengenai membiasakan perilaku sesuai nilai sila kemanusiaan yang adil dan beradab

• Pancasila sila kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mempunyai makna bahwa seluruh rakyat Indonesia mendapatkan perlakuan yang adil baik dalam bidang hukum,

Landasan hukum Lembaga Peradilan Adapun yang menjadi dasar hukum terbentuknya lembaga-lembaga peradilan nasional adalah: 1 Pancasila terutama sila kelima, yaitu “Keadilan Sosial

8 kewajiban dan jelaskan pengertian kewajiban dan beri contoh, sebutkan contoh perilaku menghormati sesama manusia, sebutkan manfaat menerapkan nilai-nilai sila Kemanusiaan yang

Ada pun al-Qurthubîy dan Wahbah az-Zuhailîy, penafsiran keduanya dalam memaknai perilaku penista boleh dikatakan hampir sama yaitu menyumpahi Al-Qur`an karena ragu terhadap kebenaran

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tematik, penelitian ini membahas tentang bagaimana penafsiran ayat-ayat t}aharah dalam kitab tafsir jalalain.18 Hasil dari