Fokus penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Nyai mengembangkan artefak di TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Bagaimana Nyai menjalankan kepemimpinan dalam pengembangan artefak di TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep dan Pesantren Darus Sholah Jember?
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
PEMBAHASAN
PENDAHULUAN
KONTEKS PENELITIAN
Perbedaan yang paling menonjol dalam situasi nyai-nyai di dua Pondok Pesantren TMI Al Amien Prenduan Suimenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember yaitu. Nyais di TMI Putri Al Amien dan Pondok Pesantren Darus Sholah memiliki latar belakang pendidikan dan latar belakang keluarga yang berbeda.
FOKUS PENELITIAN
Maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas kepemimpinan nyai-nyai di TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember beserta segala bentuk faktor atau situasi yang mendukung atau menghambat aktivitas tersebut guna mengembangkan unsur konstruktif. membentuk budaya organisasi pada pondok pesantren yang dikelolanya, unsur-unsur yang bersangkutan adalah artefak, nilai inti dan asumsi inti yang saling dipahami (common core asumsi), dengan rumusan: Kepemimpinan Nyai dalam Pengembangan Budaya Organisasi di Tarbiyatul Muallimaat Al Islamiyah (TMI Putri) Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Bagaimana Nyai mengembangkan asumsi dasar di TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember.
TUJUAN PENELITIAN
MANFAAT PENELITIAN
Perkembangan budaya organisasi dimaknai sebagai perkembangan unsur-unsur budaya organisasi itu sendiri, yaitu berkembangnya nilai-nilai, keyakinan, artefak, dan asumsi bersama. Jadi, pengembangan budaya organisasi yang dimaksud adalah pengembangan unsur-unsur yang membangun budaya Islami asrama, dan dalam hal ini terbagi menjadi tiga; unsur artifaktual, unsur nilai inti pesantren, unsur asumsi dasar yang dikembangkan di pesantren.
SISTEMATIKA PENULISAN
Berdasarkan hal tersebut, Tarbiyatul Muallimat Al Islamiyah merupakan salah satu bentuk pendidikan formal pesantren yang berupa pendidikan mudalam muallimien. Pembahasan terdapat pada bab 5. Pada bab ini peneliti menganalisis secara mendalam dan sistematis hasil penelitian pada bidang tersebut sesuai dengan rangkaian fokus penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.
PENELITIAN TERDAHULU
Marhumah mendeskripsikan aktivitas Nyai sebagai agen perubahan di pesantren, sedangkan penelitian ini mendeskripsikan aktivitas kepemimpinan Nyai dalam mengembangkan objek, nilai, dan asumsi yang mendasari di pesantren. Evi Muafiah meneliti segregasi gender di pesantren, sedangkan penelitian ini menggambarkan aktivitas kepemimpinan Nyai dalam pengembangan fasilitas, nilai-nilai dan asumsi dasar di pesantren.
KAJIAN TEORI 1. Kepemimpinan
Karena adanya kesadaran akan perlunya hubungan setara antara laki-laki dan perempuan, maka perjuangan gender sebagai sebuah entitas terus berlanjut. berpendapat bahwa seks bersifat politis, terutama karena hubungan antara laki-laki dan perempuan merupakan paradigma hubungan kekuasaan. Argumen lain yang menjelaskan kesenjangan kepemimpinan adalah bahwa perempuan memiliki karakteristik gender yang berbeda dengan laki-laki.
دسفي نم اهيف لعتجأ اولاق , ةفيلخ ضرلأا فى لعاج نىإ ةكئلاملل كبر لاق ذإ و كل سدقن و كحبسن ننح و ءامدلا كفسي و اهيف
Konsep kepimpinan dalam Islam diwakili oleh istilah khalifah, ulul Amri, Imam dan malik.44 Selain empat istilah tersebut, terdapat penggunaan istilah Sultan, Qaid, Rais dan Ra'iy yang juga mewakili kepimpinan. Al-Quran menggunakan istilah khalifah untuk menekankan fungsi penciptaan manusia di atas muka bumi. Nabi Adam AS. Diberi mandat sebagai khalifah untuk memimpin atau mengurus tanah dengan niat yang baik. Dalam QS.
مكنم رملأا ليوأ و لوسرلا اوعيطأ و الله اوعيطأ اونمأ نيذلا اهيأ يا
Muhammad Ali As Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahawa rancangan penciptaan dan perlantikan khalifah di muka bumi ini bertujuan untuk melaksanakan syariat Allah, ayat ini ditujukan kepada Nabi Adam As. Ajaran Islam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia dalam bentuk syariah yang mengatur kehidupan umat Islam. Imamah (badan kerajaan) dipegang sebagai pengganti fungsi kenabian memelihara agama dan juga mengatur kehidupan dunia.
Pemimpin adalah orang yang mengambil keputusan untuk rakyatnya, maju atau mundurnya rakyat tergantung pada kualitas pemimpinnya, maka seorang pemimpin setidaknya mempunyai sifat-sifat utama yang harus dimilikinya, yaitu : 53. Keadilan adalah titik keseimbangan itulah yang menentukan tegak atau tidaknya alam semesta.Seorang pemimpin tidak cukup hanya cerdas, karena terkadang kecerdasannya menipu orang, maka pemimpin juga harus jujur dan adil. Memimpin dirinya sendiri agar tidak menuruti hawa nafsunya sendiri.Pemimpin tipe ini dilandasi oleh nilai-nilai hidup dan pandangan hidup yang diyakininya.
با سناأ َلكوعدن موي لاو مبهاتك نوءرقي كئلوأف هنيميب هباتك تيوأ نمف مهمام
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah SWT., menjadi saksi yang lurus dan jangan sekali-kali kebencian terhadap kaum mendorong kamu untuk berlaku zalim, berlaku adillah karena itu lebih dekat. bertakwa Setiap orang yang dilahirkan ke dunia adalah pemimpin, itu bermakna dia memimpin dirinya untuk sentiasa beramal soleh, berjalan di jalan Allah dan melakukan segala-galanya untuk kepentingan dirinya dan orang lain di sekelilingnya.
ءارسلإا ( لايتف نوملضي17
Mengenai Imamah, Al Mawardiu menyebutkan 7 syarat yang bersifat mu'taberoh (umumnya diketahui), yaitu: Keadilan dengan segala kondisi, Ilmu yang berkaitan dengan ijtihad dan hukum istimba, sehatnya indra jasmani, sehatnya bagian-bagian tubuh, pandangan yang memadai tentang kepemimpinan dan kemaslahatan. . keberanian menjaga harga diri dan syarat terakhir tetap mempunyai garis keturunan dari Kurej.54. Mengenai syarat terakhir yang mengharuskan pemimpin umat islam mempunyai nasab dari pihak Quraisy, berdasarkan hadis riwayat Ahmad dari Anas dari Abi Barzah : نم ةمثلأا". ruang dan pesantren, perlu kita pahami terlebih dahulu 'kita' .posisi historis, sosiologis dan budaya perempuan muslim dalam masyarakat muslim Indonesia secara keseluruhan.
نىإ اؤللما اهيأ يا تلاققلأ
Tanpa pemahaman yang jelas terhadap realitas sejarah, sosial, dan budaya, maka hanya akan timbul miskonsepsi dan distorsi yang menyesatkan mengenai kedudukan perempuan dalam bidang pendidikan, khususnya pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya.55.
ميحرلا نحمرلا للهامسب هنا ناميلس نم هنإ . يمرك باتك ليإ ي
ينلسرلما عجري بم ةرظانف ةيدبه مهيلا
Al-Qur'an mengisahkan tentang Balqis yang merupakan seorang pemimpin perempuan pada masanya di QS. Dan Aku akan mengirimkan utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan Aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan tersebut.” Sikap Bilqis menunjukkan kecerdasan dan kemampuannya dalam memimpin, serta menggambarkan emosinya yang tidak kejam dalam memimpin.
اوقفنأ ابم و ضعب ىلع مهضعب الله لضف ابم ءاسنلا ىلع نوماوق لاجرلا
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara mendalam dan komprehensif kepemimpinan nyai di Tarbiyatul Muallimat Al Islamiyah (TMI Putri) Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Solah Jember dalam pengembangan unsur budaya organisasi di masing-masing pondok pesantren. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah peran Nyai sebagai pemimpin dalam mengembangkan unsur budaya organisasi di dua pondok pesantren yaitu TMI Putri Al Amien Prenduan dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Kasus TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep. a) Nyai di TMI Putri Al Amien Prenduan ada 3 orang dan mereka melakukan kepemimpinan dan perawatan secara kolektif.
Lokasi Penelitian
Nyai-nyai di TMI Putri Al Amien Prenduan dan Pesantren Darus Sholah Jember mempunyai latar belakang pendidikan yang beragam dan memadai dalam artian telah menyelesaikan pendidikan tinggi, sehingga dapat diasumsikan dapat menjalankan kepemimpinan dan mengembangkan unsur budaya organisasi dalam keislaman masing-masing. organisasi. pesantren. Kedua pesantren tersebut mempunyai ciri khas, sesuai dengan karakter kelembagaan yang berkembang di masing-masing pesantren. TMI Putri Al Amien dengan identitas Pondok Pesantren Ashriyah tentunya memiliki karakter budaya tersendiri, seperti halnya Pondok Pesantren Darus Sholah yang mengintegrasikan kurikulum nasional ke dalam manajemen tentunya juga memiliki karakter budaya Pondok Pesantren tersendiri.
Kehadiran Peneliti
Karena peneliti sendiri adalah seorang perencana yang memahami seluk beluk apa yang diteliti, maka peneliti mengumpulkan data, menyajikan data dan melakukan analisis terhadap data yang diperoleh, menafsirkan data dan selanjutnya melaporkan hasil penelitian. temuan penelitian yang dilakukan pada kedua pesantren tersebut khususnya terkait dengan kepemimpinan Nyai dan pengembangan unsur budaya organisasi di TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Pedoman observasi juga harus dibuat oleh peneliti berdasarkan instrumen yang dirancang dan direncanakan sehingga peneliti dapat dengan mudah melakukan observasi di lapangan sesuai fokus penelitian yang telah ditetapkan. Pedoman observasi ini sering digunakan untuk mengamati kondisi sarana dan prasarana, aktivitas kepemimpinan Nyai di lingkungan pesantren, termasuk aktivitas guru dalam menjalankan fungsi perkantoran, serta kondisi atau iklim budaya di lingkungan pesantren, yang memperlihatkan ciri-ciri pengembangan unsur budaya organisasi di pesantren.
Subyek Penelitian
Tujuan dari purposive sampling adalah peneliti menentukan sampel sasaran dalam melakukan wawancara, sampel ini ditentukan untuk memperoleh informasi yang akurat serta menghemat waktu, biaya dan tenaga. Purposive sampling digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan sebagai berikut: peneliti memperoleh informasi kinerja percabangan dan pembinaan terkait kepemimpinan nyai serta pengembangan budaya organisasi di kedua kediaman Islam, peneliti memperoleh temuan di lapangan mengenai seluk beluk dan temuan-temuan yang dianggap unik, dan informasi yang diperoleh peneliti menjadi dasar yang kuat dalam penelitian ini. Selanjutnya peneliti menggunakan pendekatan snowball sampling dengan harapan informasi akan terus mengalir dan bertambah hingga mencapai titik di mana tidak ada lagi informasi yang dianggap baru atau sudah mencapai titik jenuh, ibarat bola salju yang semakin besar peranannya, Informasi yang diperoleh dari subjek penelitian terus bertambah dari masing-masing informan, hingga dianggap cukup setelah peneliti memperoleh jawaban yang sama dan merasa tidak ada hal baru yang perlu diselidiki.
Sumber Data
Sumber data primer dalam penelitian berasal dari perkataan, tindakan para informan dan data tambahan lainnya yang bersumber dari perkataan dalam dokumen-dokumen pesantren.63. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang meliputi beberapa orang, terdiri dari Nyai, direktur marhala, pimpinan madrasah, pengurus dewan pengawas organisasi dan pengurus organisasi dari kalangan santri. Berikut sumber data TMI Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember.
Teknik Pengumpulan data
Lain pendapat dari pemerhati pesantren dan tokoh masyarakat sekitar TMI Puti Al Amien Prenduan dan pesantren Darus Sholah. Penelitian studi kasus kualitatif tentang peran nyai dalam pengembangan budaya organisasi di TMI Puti Al Amien Prenduan dan Pesantren Darus Sholah, tidak cukup hanya mengandalkan wawancara dan observasi saja, namun diperlukan juga studi dokumentasi agar data yang ditemukan valid. dan dapat diandalkan. Informasi Profil atau CV Nyai TMI Puti Al Amien Prenduan dan Pesantren Darus Sholah.
Analisis Data
Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, kemudian dikembangkan menjadi hipotesis. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini akan dianalisis berdasarkan model analisis yang dikembangkan oleh Miles, Huberman dan Saldana. Data yang disajikan merupakan suatu susunan kumpulan informasi yang telah dipersempit agar mudah disimpulkan dan dicerna.
Keabsahan Data
- Tahapan-tahapan Penelitian
Tujuan penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Melakukan penjajakan secara umum, dengan tujuan untuk memperjelas permasalahan yang ditemukan di lapangan terkait kepemimpinan Nyai dan pengembangan budaya organisasi di TMI Putri Al Amien Prenduan dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember. Pada bab ini akan disajikan secara berurutan hasil penelitian dan temuan penelitian di lapangan mengenai kepemimpinan Nyai dalam pengembangan unsur budaya organisasi di dua pondok pesantren yang ia asuh, yaitu Tarbiyatul Muallimat Al Islamiyah (TMI Putri) Al. Amien Prenduan Sumenep dan Pondok Pesantren Darus Sholah Jember.
DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN
- TMI Putri Al Amien Prenduan Sumenep
- Pondok Pesantren Darus Sholah Jember
Mereka untuk sementara dititipkan di Pondok Al Amien Putri 1, sambil menunggu pembangunan hunian TMI Putri. Dengan profil seperti ini, Nyai-nyai di TMI Putri memiliki kompetensi yang cukup untuk terlibat sebagai guru aktif. Kondisi tersebut memaksa Nyai Rosyidah menerima peran sebagai pengasuh di Pondok Pesantren Darus Sholah baik untuk santri maupun santri.
PAPARAN DATA
Dalam struktur kelembagaan TMI Al Amien Prenduan, Dewan Pengasuh Wanita berkedudukan sejajar dengan kedudukan Majlis Kyai. Berikut struktur dan pola kerja Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep secara keseluruhan; Namun hal ini sedikit berbeda dengan yang terjadi di TMI Putri Al Amien Prenduan.