PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan konsep kepribadian ideal untuk mewujudkan pribadi yang berakhlak mulia. Selain itu diharapkan manfaat penelitian ini relevan dengan konsep kepribadian ideal dalam Islam sudut pandang Prof. Buya Hamka dan mengaitkannya dengan kepribadian muslim abad 21 sebagai perwujudan pembentukan dan pengembangan kepribadian muslim.
Memberikan informasi dan wawasan kepada masyarakat luas tentang pentingnya pengembangan kepribadian muslim di era digital dalam kehidupan sehari-hari. Bahan masukan dan pertimbangan bagi peneliti lain yang tertarik untuk membahas kepribadian, khususnya dalam upaya mewujudkan kepribadian yang sesuai dengan syariat Islam dan sesuai dengan tuntutan zaman sebagai alternatif dari krisis kepribadian di dunia Islam.
Batasan Istilah
Umat Islam adalah orang-orang yang menganut agama Islam yang disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW. Kata Muslim hanya mengacu pada pemeluk agama Islam, dimana penganut laki-laki disebut Muslim, sedangkan penganut perempuan disebut Muslimah. Pada abad ini, masyarakat hidup dalam lingkungan yang didorong oleh teknologi dan media yang ditandai dengan berbagai keistimewaan, sehingga pada abad ini individu dituntut untuk memiliki keterampilan dan pengetahuan agar dapat bertahan hidup.
Telaah Penelitian Terdahulu
Jurnal Laela Hamidah Harahap, Sawaluddin dan Nuraini berjudul “Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam Menurut Buya Hamka” Jurnal Ilmiah. Hasil penelitian ini, menurut Buya Hamka, kepribadian guru dalam pendidikan agama Islam harus memahami betul konsep pendidik sebagai subjek yang dapat ditiru, tugas pendidik dan mempunyai sifat-sifat yang selayaknya seorang pendidik.17. Penelitian ini dilakukan peneliti untuk menanamkan nilai-nilai karakter generasi milenial dari sudut pandang Hamka.
Tesis Dimas Tri Atmojo (2018), “Konsep Pendidikan Karakter dalam Buku Pribadi Besar Karya Buya Hamka dan Implikasinya Terhadap Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah” yang mengupas dan menganalisis konsep pendidikan karakter menurut Buya Hamka melalui buku Kepribadian Hebat terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah menengah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa dalam buku Kepribadian Agung terdapat nilai-nilai karakter yang meliputi agama, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas dan lain sebagainya yang mungkin berimplikasi pada pembelajaran bahasa dan sastra. Bahasa Indonesia. di sekolah menengah.19. 19 Dimas Tri Atmojo, “Konsep Pendidikan Karakter dalam Buku Besar Pribadi Buya Hamka dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Menengah”, Skripsi, 2018.
Metode Penelitian
- Pendekatan dan Jenis Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Sistematika Pembahasan
Kepribadian Ideal dalam Islam
- Pengertian Kepribadian Ideal dalam Islam
- Karakteristik Kepribadian
- Jenis-jenis Kepribadian
- Indikator Kepribadian Ideal dalam Islam
Selain itu, kami berharap manfaat penelitian ini relevan dengan konsep kepribadian ideal dalam Islam dari sudut pandang Prof. Buya Hamka dengan Kepribadian Muslim Abad 21 Penelitian ini mencoba mengkaji konsep kepribadian dalam Islam dari sudut pandang Prof. Buya Hamka dan menghubungkannya dengan kepribadian muslim abad 21 sebagai perwujudan pembentukan dan pengembangan kepribadian muslim. Kepribadian ini menggambarkan jiwa yang tenang dan tenteram, yaitu kedamaian, kepuasan, kegembiraan, kebahagiaan dan terbebas dari segala kekhawatiran karena keraguan. Jiwa yang tenteram (muthma'innah), jiwa yang condong pada rasa tenteram dan tenteram, jiwa ini mendekatkan diri kepada Allah.
Abad 21
- Pengertian Abad 21
- Karakteristik Abad 21
- Kemampuan yang Harus Dimiliki Individu di
- Tantangan pada Abad 21
Generasi Alfa merupakan julukan abad 21 sebagai sekelompok manusia yang lahir pada tahun 2010 hingga tahun 2025. Generasi abad 21 merupakan sumber daya manusia yang lahir dengan perkembangan teknologi maju yang dapat disebut sebagai generasi digital.15 Oleh karena itu, kebebasan berkreasi dan berinovasi sangat diperlukan. adalah mutlak.adalah sesuatu yang harus dipupuk dalam kehidupan abad 21 ini.16. 16 Wayan Sutama dkk., Kompetensi Open Ended Play dan Abad 21 Dalam Perspektif Pendidikan Anak Usia Dini (Malang: Penerbit Inara, 2021), 7.
Ciri utama memasuki abad 21 yang menunjukkan kondisi awal era baru adalah kecepatan perubahan yang luar biasa dalam bidang kehidupan manusia. Bidang kehidupan manusia meliputi bidang ekonomi, teknologi, transportasi, dan sosial budaya.18 Ciri yang paling mencolok pada abad ke-21 adalah kemudahan akses informasi kapan pun dan di mana pun dengan bantuan teknologi. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ciri-ciri abad 21 antara lain akses terhadap informasi yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja (information), penerapan penggunaan mesin (computing), kemampuan melakukan segala aktivitas sehari-hari. pekerjaan (otomatisasi) dan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja (komunikasi).20 Sedangkan menurut pandangan lain, ciri-ciri abad 21 antara lain 1 dari 3 masyarakat Indonesia adalah generasi milenial.
Literasi digital merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan seseorang untuk bertahan hidup di abad ke-21. Berpikir kritis merupakan keterampilan abad 21 yang harus dikuasai individu agar berhasil meniti karir di masa depan. Perkembangan dunia pada abad 21 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai aktivitas kehidupan.
Transformasi dunia abad 21 berdampak pada beberapa aspek yaitu pasar global yang terus berkembang, kompetensi dalam skala global, pengetahuan sebagai mata uang baru dan kebutuhan akan teknologi.30. Perubahan kehidupan di abad 21 merupakan tantangan yang sangat penting di era revolusi 4.0 dan merupakan permasalahan yang harus dihadapi dan diselesaikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Selain itu, tantangan terbesar abad ke-21 adalah globalisasi yang akan mempengaruhi sebagian aktivitas masyarakat di dunia.31.
32 Wayan Sutama dkk, Kompetensi Open Play dan Abad 21 Dalam Perspektif Pendidikan Anak Usia Dini (Malang: Penerbit Inara.
KEPRIBADIAN IDEAL DALAM ISLAM
Konsep Kepribadian Perspektif Prof. Dr. Buya
Buya Hamka telah banyak memberikan ilmu dan pengajaran bagaimana menjadikan diri menjadi pribadi yang besar dan kuat. Buya Hamka menyebut sosok Bung Karno merupakan pemimpin yang penuh pesona. Banyak orang yang cerdas dan mempunyai banyak ide dan ide, namun tidak cepat memahami dan memahami maksud orang lain.
Buya Hamka juga menjelaskan bahwa akal manusia menyuruh kita untuk memperhatikan diri kita sendiri dengan menjaga dan mengatur seluruh hidup kita, tidak perlu mengikuti orang lain sebelum memikirkan apakah yang kita ikuti itu cocok dan sejalan dengan diri kita sendiri. Buya Hamka menjelaskan tentang keberanian Bud mengatakan sesuatu yang diyakininya benar, meski orang akan membencinya. Dalam kehidupan bermasyarakat, pasti ada orang yang berani menyatakan hal yang dianggap benar.
Buya Hamka menjelaskan, wujud kebaikan, kebenaran, dan keadilan yang mutlak hanya ada satu, yaitu mengupayakan kebaikan. 31 orang yang berjiwa besar tidak mengetahui bahwa ada kejahatan di dunia ini. Buya Hamka menyebutkan bahwa seorang filosof Islam terkenal bernama Iqbal mengajarkan ilmu mentransfer sifat Tuhan kepada diri sendiri sehingga tidak ada lagi batas antara kita dan Allah. Buya Hamka mengartikan kesadaran diri sama dengan mawas diri karena kita berada dalam keadaan sadar untuk mengendalikan diri agar selalu berhati-hati dalam berbuat dan berkata.
Buya Hamka juga mengatakan bahwa orang yang mengetahui harga diri dan kedudukannya tidak akan menyombongkan diri dan akan selalu bertindak jujur, sehingga orang-orang seperti ini akan dihormati, dicintai dan disukai banyak orang. Buya Hamka memaparkan, percaya pada diri sendiri merupakan pilar kebebasan pribadi dan bangsa, sehingga dapat menumbuhkan jiwa moral yang kuat. Orang yang akan menang dalam suatu pekerjaan adalah orang yang mengukur pakaiannya sesuai dengan badannya.
Buya Hamka memberikan gambaran, seseorang yang memiliki kecenderungan menjadi jurnalis tidak akan berhasil jika menjadi tentara dan berperang. Buya Hamka mengatakan ibadah adalah mengakui diri sebagai hamba atau hamba Allah, tunduk pada kehendak-Nya, baik dengan sukarela maupun dengan paksaan. Oleh karena itu, orang yang mempunyai perasaan yang baik dapat membandingkan masyarakat dan lingkungannya sendiri serta masyarakat dan lingkungan orang lain.
Analisis Konsep Kepribadian Ideal dalam Islam
Buya Hamka sesuai dengan indikator kepribadian Hasan Al Banna yaitu mutsaqqof al-fikr (wawasan luas).67 Seorang muslim yang berwawasan luas akan berpikir cepat dan berhati-hati dalam berbicara. Buya Hamka adalah munazhzham fî syû'nih (terorganisir dalam urusan seseorang) dan haris 'ala al-waqtihi (disiplin dalam menggunakan waktu)70 Seorang muslim yang bijaksana adalah yang mampu mengatur segala urusannya dengan baik dan profesional. Buya Hamka menyebutkan bahwa hikmah dengan perkataan meliputi tiga hal yaitu perasaan halus, kefasihan dan.
Buya Hamka, menurut Hasan Al Banna, berkaitan dengan indikator kepribadian yaitu qâdirâ’ala al-kasbi (kemampuan mengatur urusan sendiri/kemandirian).79 Seorang muslim yang beriman pada dirinya akan berusaha melakukan segala sesuatu secara mandiri dan berusaha mengatur urusannya sendiri tetap dipertahankan. dan memperjuangkannya. Buya Hamka menurut Hasan Al Banna berkaitan dengan teori kepribadian yaitu matîn al-khuluq (akhlak yang kokoh). Buya Hamka juga menjelaskan pentingnya memiliki kepribadian yang terbuka atau cerdik.2 Seseorang yang berwawasan luas akan berpikir kritis dan logis serta cenderung lebih cepat mengidentifikasi informasi yang relevan dan tidak relevan.
Buya Hamka yang sejalan dengan kemampuan berkomunikasi pada abad 21 adalah arif dan arif dalam bertutur kata.6 Karena dengan hikmah dan hikmah dalam bertutur kata maka individu akan tertib dalam segala urusannya, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Buya Hamka tentang kepribadian ideal dalam Islam semuanya relevan dengan kepribadian muslim di abad 21, meskipun ia lahir pada tahun 1908. Buya Hamka dalam berbagai bidang keilmuan kemudian menyebabkan banyak ahli, pemerhati dan peneliti berdiskusi dan mengkaji tulisan Prof. . Dr.
Buya Hamka dari berbagai sudut pandang keahlian yang dimilikinya, sehingga pemikirannya selalu berkembang dan harus mengikuti perkembangan terkini. Buya Hamka meliputi : mempunyai daya tarik, pandai, arif dan arif dalam berbicara, berwawasan luas, mengenal diri sendiri, sehat, percaya diri, mempunyai pengaruh keimanan dan keyakinan, mempunyai pengaruh dalam shalat dan beribadah, dan mempunyai sifat baik. ikhlas dan sabar. Buya Hamka dengan karakter abad 21 seperti a) budi pekerti yang arif dan arif dalam bertutur kata menunjang kemampuan komunikasi, b) cerdas atau berwawasan luas menunjang kemampuan berpikir kritis, c) rasa percaya diri menunjang kemampuan kreatif, d) daya tarik menunjang kemampuan bekerja sama/berkolaborasi, e) pengaruh agama dan keyakinan serta pengaruh doa dan ibadah mendukung pembentukan karakter individu berdasarkan nilai-nilai agama, f) berwawasan luas mendukung pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai nasionalisme dan integritas, g) pengetahuan diri mendukung pembentukan karakter berdasarkan nilai gotong royong dan nilai kemandirian.
Buya Hamka dan relevansinya dengan kepribadian muslim abad 21, peneliti memberikan saran sebagai berikut. “Konsep Pendidikan Karakter dalam Buku Pribadi Agung Karya Buya Hamka dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.” Skripsi, 2018. Buya Hamka: Analisis Sosial Kitab Tafsir Al-Azhar.” Jurnal Pendidikan Sosial Budaya Vol.
KEPRIBADIAN MUSLIM PADA ABAD 21
RELEVANSI KEPRIBADIAN IDEAL DALAM