• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
pokemon kubar

Academic year: 2024

Membagikan " KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/90/2019

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana HIV

Transmisi vertikal merupakan metode penularan infeksi HIV dari seorang ibu kepada bayinya melalui salah satu tahapan yaitu pada saat intrauterin, intrapartum, ataupasca-natal (saat menyusui). Transmisi vertikal berperan sebagai metode penularan utama (92%) infeksi HIV pada anak berusia <13 tahun. Transmisi intrauterin terjadi melalui penyebaran hematogen melewati plasenta atau ascending infectionke cairan dan membran amnion.

Transmisi saat persalinan terjadi melalui kontak mukokutan antara bayi dengan darah ibu, cairan amnion, dan sekret servikovaginal saat melewati jalan lahir. Transmisi saat persalinan juga dapat terjadi melalui ascending infectiondari serviks serta transfusi fetal maternal saat uterus berkontraksi pada saat persalinan. Sebelum ditemukannya metode intervensi preventif yang efektif, angka transmisi vertikal HIV pada bayi yang tidak mendapat ASI sebesar 15–30%, sedangkan bayi yang mendapat ASI sebesar 25–45%. Transmisi vertikal intrauterin memiliki risiko sebesar 5-10%, sedangkan saat persalinan sebesar 10-20%. Pada populasi yang mendapatkan ASI risiko penularan infeksi HIV pada saat menyusui adalah sebesar 5-20%. Intervensi pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke anak yang efektif dapat menurunkan angka transmisi vertikal hingga kurang dari 2%.Pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke anak (PPIA)didefinisikan sebagai intervensi pencegahan infeksi HIV dari ibu kepada bayi. Intervensi pencegahan tersebut meliputi penanganan komprehensif dan berkelanjutan pada perempuan dengan HIV sejak sebelum kehamilan hingga setelah kehamilan serta termasuk penanganan bayi lahir dari ibu HIV. Empat pendekatan komprehensif untuk mencegah transmisi vertikal HIV, yaitu:a.Pencegahan primer infeksi HIV pada wanita usia reproduksib.Pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan pada wanita terinfeksi HIVc.Pencegahan transmisi vertikal HIV dari ibu kepada bayi d.Penyediaan terapi, perawatan dan dukungan yang baik bagi ibu dengan HIV, serta anak dan keluarganya.

Untuk menjangkau sasaran ibu hamil dan wanita usia subur, layanan PPIA dilaksanakan melalui paket layanan kesehatan reproduksi, khususnya layanan kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi remaja. Pada layanan KIA, karena mempunyai sasaran dan pendekatan yang serupa, layanan PPIA saat ini diintegrasikan dengan upaya pencegahan hepatitis B dan sifilis kongenital. Pintu masuk layanan PPIA adalah tes HIV pada ibu hamil. Bersamaan dengan pemeriksaan rutin lainnya pada layanan antenatal terpadu, tes HIV, hepatitis B, dan sifilismerupakan standar yang harus dilakukan padakunjunganke fasyankes

(2)

Target mencapai Eliminasi sebagaimana dimaksud padaayat (1) untuk HIV didasarkan pada indikator sebagaiberikut:

Jumlah infeksi HIV baru (insidens) menjadi 7 (tujuh) per 100.000 (seratus ribu) penduduk berusia 15 tahun ke atas yang tidak terinfeksi.

b. 95% (sembilan puluh lima persen) ODHIV ditemukan dari estimasi;

c. 95% (sembilan puluh lima persen) ODHIV mendapatkan pengobatan ARV;

d. 95% (sembilan puluh lima persen) yang masih mendapat pengobatan ARV virusnya tidak terdeteksi; dan

e. menurunnya infeksi baru HIV pada bayi dan balita dari ibu kurang dari atau sama dengan 50 (lima puluh) per 100.000 (seratus ribu) kelahiran hidup

Pencegahan Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak dilakukan oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta/masyarakat.

Pencegahan penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak dilakukan melalui:

skrining HIV, Sifilis, dan Hepatitis B pada setiap ibu hamil dan pasangannya yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan;

b. pemberian obat ARV kepada ibu dan pasangannya yang terinfeksi HIV dan pemberian obat Sifilis kepada ibu dan pasangannya yang terinfeksi Sifilis;

c. pertolongan persalinan dilakukan sesuai indikasi;

d. pemberian profilaksis HIV dan/atau Sifilis diberikan pada semua bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi HIV dan/atau Sifilis;

e. pemberian ASI kepada bayi dari ibu yang terinfeksi HIV dilakukan sesuai dengan standar dan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

f. penanganan ibu hamil terinfeksi Hepatitis B dan bayinya dilakukan sesuai dengan standar dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penerapan Kewaspadaan Standar Pasal 20

(1) Penerapan kewaspadaan standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) huruf k ditujukan untuk melindungi pasien dan Tenaga Kesehatan, serta masyarakat dan lingkungan dari cairan tubuh dan zat tubuh yang terinfeksi yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian infeksi.

(2) Penerapan kewaspadaan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Referensi

Dokumen terkait

Kedua : Daftar rumah sakit rujukan bagi Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) sebagaimana dimaksud Diktum Pertama sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini1. Ketiga :

(3) Dalam melaksanakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga atau ahli

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara

Data yang terkumpul baik data primer maupun sekunder diolah sesuai dengan kebutuhan baik secara manual maupun secara komputerisasi, kemudian dianalisis dengan cara

Kriteria Diagnostik Gangguan Panik Tanpa Agorafobia DSM- IV-TR 1 Baik 1 dan 2: a Berulangnya rekuren serangan panik b Sekurangnya satu serangan yang diikuti oleh sekurangnya satu

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fi tri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/4347/2021 TENTANG URAIAN TUGAS DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TUGAS KOORDINATOR JABATAN FUNGSIONAL DI LINGKUNGAN UNIT