KERANGKA STRATEGIS KEBIJAKAN MONETER
Dosen Pengampu:
Dr. Ni Nyoman Reni Suasih, S.IP., M.Si.
Oleh:
Kelompok 3
Desti Maria Pinem (2207511060)
Nensita Br Sitepu (2207511061)
Francisco Siburian (2207511102)
PROGRAM STUDI SARJANA EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA 2024
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas Rahmat- Nya-lah kami dapat menyelesaikan paper yang berjudul “Kerangka Strategis Kebijakan Moneter ” dengan baik dan tepat waktu. Dalam kesempatan ini juga kami ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Ni Nyoman Reni Suasih, S.IP., M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Kebanksentralan yang telah membimbing kami dalam penulisan paper ini. Selain itu, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan paper ini.
Kami berharap paper ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada seluruh pembaca mengenai topik yang dibahas. Dalam penyusunannya, kami menyadari masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, baik dalam struktur maupun bahasa, oleh karenanya kami memohon saran dan kritik yang membangun dari para pembaca, sehingga kedepannya kami dapat menulis paper lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Jimbaran, 14 Oktober 2024
Kelompok 3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
BAB I... 1
PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan... 2
BAB II...3
PEMBAHASAN...3
2.1 Dimensi Konseptual dan Model Teoritis...3
2.2Studi Empiris dan Beberapa Isu Terkait... 5
2.3 Penerapan di Beberapa Negara... 8
2.4 Rezim Kebijakan Moneter di Indonesia...10
2.4.1 Inflation Targeting... 11
2.4.2 Efektivitas ITF di Indonesia...12
2.5 Kurs Nilai Tukar Yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate )12 2.5.1 Karakteristik Utama Dari Sistem ini...12
2.5.2 Keuntungan dari Managed Floating Exchange Rate...13
2.5.3 Tantangan Kurs Nilai Tukar yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate)...14
BAB III...15
PENUTUP... 15
3.1 Kesimpulan... 15
DAFTAR PUSTAKA...16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebijakan moneter merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi makro. Kebijakan moneter ditujukan untuk mendukung tercapainya sasaran ekonomi makro, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan, dan keseimbangan neraca pembayaran (Iswardono, 1997).
Kerangka kerja kebijakan moneter Inflation Targeting Framework (ITF) diterapkan secara formal sejak Juni 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (Money Base Targeting Framework) sebagai sasaran kebijakan moneter. Dengan kerangka ini, Bank Indonesia secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut. Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan melalui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan. Dalam kerangka kerja ini, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kecenderungan sejumlah bank-bank sentral di dunia menggunakan inflation targeting framework dalam kebijakan moneter sebagai rasa ketidakpuasan terhadap penggunaan besaran-besaran moneter yang bersifat forward looking, dengan memfokuskan secara langsung pada kestabilan harga atau inflasi yang rendah sebagai sasaran tunggal akhir. Pemilihan inflasi sebagai sasaran akhir sejalan dengan kecenderungan perkembangan terakhir bank bank sentral di dunia, dimana banyak bank sentral yang beralih untuk lebih memfokuskan diri pada upaya pengendalian inflasi.
Oleh karena inflasi tersebut, meningkatnya PDB nominal tidak dapat dijadikan sebagai ukuran peningkatan ekonomi maupun penyebaran di setiap strata ekonomi. Tidak hanya inflasi, permasalahan pinjaman perbankan juga memainkan peran penting dalam perubahan sektor riil d an perkembangan dunia usaha. Peran perbankan sangat diperlukan
sebagai penyedia dana bagi perusahaan dalam berbagai bentuk pinjaman usaha yang nantinya akan digunakan untuk operasional perusahaan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa itu Dimensi Konseptual dan Model Teoritis?
1.2.2 Bagaimana Studi Empiris Dan Beberapa Isu Terkait Pada Kerangka Strategis Kebijakan Moneter?
1.2.3 Bagaimana Penerapannya di beberapa negara?
1.2.4 Bagaimana Rezim kebijakan moneter di Indonesia?
1.2.5 Bagaimana Kurs Nilai Tukar Yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate )
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk Mengetahui Dimensi Konseptual dan Model Teoritis
1.3.2 Untuk Mengetahui Studi empiris dan beberapa isu terkait pada kerangka strategis kebijakan moneter
1.3.3 Untuk Mengetahui Penerapannya di beberapa negara 1.3.4 Untuk Mengetahui Rezim kebijakan moneter di Indonesia
1.3.1 Untuk Mengetahui Kurs Nilai Tukar Yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate )
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dimensi Konseptual dan Model Teoritis A. Dimensi Konseptual
Pasar keuangan berperan penting dalam meningkatkan efisiensi perekonomian melalui channeling funds dari pihak yang tidak memiliki kapasitas untuk memanfaatkan dana untuk kepentingan produktif kepada pihak yang mampu memanfaatkan dana untuk aktivitas produksi. Aktivitas di pasar keuangan dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas di pasar keuangan dan memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan individu, perilaku bisnis dan konsumen, dan fluktuasi kinerja perekonomian. Lebih lanjut, lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) mampu menurunkan biaya secara signifikan serta mampu menurunkan risiko secara substansial melalui skala ekonomi yang dimilikinya.
Contohnya: biaya asuransi menjadi ekonomis akibat skala usaha. Dalam pasar keuangan juga terdapat biaya transaksi dimana biaya transaksi timbul akibat pelaksanaan transaksi keuangan yaitu dapat berupa biaya berbentuk moneter dan waktu. Biaya transaksi dapat berkurang dengan adanya lembaga perantara keuangan (financial intermediaries).
Dalam pasar keuangan juga terjadi asimetri informasi, asimetri informasi terjadi jika salah satu pihak tidak memiliki informasi yang cukup terkait pihak lainnya dalam suatu transaksi, sehingga tidak mampu membuat keputusan yang akurat. Dampak asimetri informasi di pasar keuangan:
1. Adverse selection
Muncul sebelum transaksi terjadi. Yaitu pihak yang paling aktif dan terlibat dalam transaksi adalah pihak yang memiliki performa atau kinerja buruk. Contoh: kreditur dengan potensi buruk (i.e. gagal bayar) justru merupakan pihak yang paling aktif mencari pinjaman.
2. Moral Hazard
Muncul setelah transaksi terjadi. Yaitu adanya kemungkinan perilaku penyimpangan atau tidak diinginkan. Contoh: kreditur terlibat dalam usaha yang tidak menguntungkan, menurut debitur (atau bahkan digunakan untuk kepentingan konsumsi) setelah mendapat pinjaman
3. Potensi kejahatan
Dimana tindak kejahatan semakin marak senyampang dengan peningkatan intensitas asimetri informasi.
B. Model Teoritis
Pemodelan untuk mengevaluasi kerangka strategi kebijakan moneter melibatkan dua komponen berikut ini:
1. Central Bank Objective Function
Fungsi utilitas bank sentral yang mencerminkan preferensi pembuat kebijakan dalam menghadapi trade-off antara fluktuasi output dan inflasi. Tujuan Bank sentral adalah untuk meminimalkan social loss function sebagai berikut:
L = 1/2 [(𝜋𝑡 – 𝜋*)2 + 𝛽 (𝑦𝑡 − 𝑦𝑝 – 𝑘) 2] Dimana 𝜋, 𝜋𝑇, 𝑦, 𝑦𝑝, 𝑘, 𝛽 adalah inflasi, target inflasi, tingkat output riil, output potensial, parameter konstan yang mempengaruhi kesenjangan output, dan degree of inflation aversion bank sentral.
2. Central Bank Constraint Fungsi kendala bank sentral yang diderivasikan dari model sisi penawaran dalam perekonomian. Sisi penawaran menunjukkan trade-off antara tingkat output riil dan inflasi dalam perekonomian:
y𝑡 = 𝑦𝑝 + 𝛼 (𝜋𝑡 − 𝜋𝑡 e t) Dimana 𝑦, 𝑦 𝑝, 𝜋, 𝜋𝑒, 𝛼 adalah tingkat output riil, tingkat output potensial, tingkat inflasi, tingkat inflasi yang diharapkan, dan parameter inflation gap. maka dari itu koperasi di Indonesia di lindungi oleh badan hukum yang telah ditetapkan. Dalam undang-undang ini yang dimaksudkan dengan:
1. Koperasi adalah suatu organisasi bisnis yang di operasikan secara bersama berdasarkan prinsip-prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berazazkan kepada kekeluargaan. Bertujuan untuk mencapai kepentingan ekonomi bersama dan meningkatkan kesejahteraan bersama anggotanya maupun orang banyak yang membutuhkan.
2. Perkoperasian adalah suatu hal yang sangat berkaitan dengan kehidupan koperasi.
3. Koperasi Primer ialah suatu koperasi yang didirikan oleh sekurangnya 20 orang dimana setiap anggotanya berjumlah perseorangan.
4. Koperasi Sekunder adalah gabungan suatu badan koperasi yang memiliki jangkauan kerjanya sangat merata dan luas.
5. Gerakan Koperasi adalah keseluruhan organisasi koperasi dan kegiatan perkoperasian yang bersifat terpadu dan terarah untuk menuju tercapainya suatu cita- cita bersama.
Dasar hukum koperasi di Indonesia diatur dalam beberapa undang-undang, yang paling utama adalah:
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian: Undang- undang ini menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan dan pengembangan koperasi di Indonesia. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja: Undang-undang ini melakukan beberapa perubahan terhadap Undang- Undang Nomor 25 Tahun 1992, terutama terkait dengan kemudahan berusaha bagi koperasi.
Memahami dasar hukum koperasi sangat penting bagi:
1. Anggota koperasi: Untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai anggota, serta mekanisme pengambilan keputusan dalam koperasi.
2. Pengurus koperasi: Untuk menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Pengawas koperasi: Untuk melakukan pengawasan terhadap pengelolaan koperasi agar berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi.
4. Pihak yang berkepentingan lainnya: Seperti pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat umum, untuk mengetahui kedudukan hukum koperasi dalam sistem perekonomian nasional.
2.2 Studi Empiris dan Beberapa Isu Terkait
Dari tataran teoretis, perdebatan panjang antara beberapa aliran pemikiran mengenai peranan uang dan kebijakan moneter dalam perekonomian, maupun perdebatan mengenai permasalahan dualitas dalam penentuan strategi kebijakan moneter, belum menghasilkan beberapa pandangan yang konklusif. Hal ini antara lain lebih dikarenakan oleh adanya perbedaan penetapan asumsi kritis dan batasan analisis, yaitu hanya pada kondisi keseimbangan ekonomi dan jangka waktu tertentu. Beberapa langkah dalam rangka pembuktian teoretis dilakukan antara lain melalui pengembangan dan pengujian model empiris, yang umumnya ditujukan untuk menguji
apakah model dimaksud dapat menjelaskan fenomena empiris dalam suatu perekonomian dengan baik. Dengan demikian, pembenaran terhadap esensi teoretis dari perdebatan panjang di atas pada dasarnya lebih berpulang pada kemampuannya dalam menjelaskan isu-isu empiris.
Dari tataran empiris, selain mengacu pada kondisi-kondisi ekstrem yang mendasarkan pada hipotesis teoretis tertentu, pengembangan analisis umumnya juga mempertimbangkan kondisi lain yang tidak bersifat kaku serta mengakomodir beberapa penyesuaian yang bersifat pragmatis. Dalam perumusan kerangka strategis kebijakan moneter misalnya, pencapaian stabilitas output dan harga umumnya juga diupayakan secara bersama dengan memperhitungkan derajat fleksibilitas tertentu, yaitu dengan memperhitungkan pola hubungan antara output dan harga, baik dalam perspektif jangka pendek, maupun jangka panjang.
Menurut Fischer (1996), beberapa fakta empiris yang terjadi menunjukkan adanya kecenderungan pemberian tanggung jawab utama kepada bank sentral untuk mengendalikan laju inflasi. Namun, mengingat pemahaman pelaku ekonomi lebih didasarkan pada sinyal kebijakan moneter yang ditetapkan, maka strategi terbaik dalam merumuskan kebijakan moneter adalah dengan menonjolkan fakta bahwa kebijakan moneter dapat memengaruhi output. Dalam kaitan ini, bank sentral dapat ditugasi untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Namun, perlu dipahami pula bahwa tujuan tersebut akan dapat dilaksanakan sebaik- baiknya apabila bank sentral dapat secara konsisten memelihara laju inflasi yang rendah serta mendorong proses penyehatan sistem keuangan.
A. Pola hubungan output-harga jangka pendek dan fenomena Kurva Phillips
Pada umumnya, penerapan kebijakan ekonomi ditujukan untuk mencapai sasaran akhir, yaitu tingginya pertumbuhan output dan rendahnya laju inflasi. Yang menjadi fokus perhatian adalah fakta bahwa sampai saat ini belum terdapat konsensus mengenai pola hubungan antara kedua variabel tersebut. Temuan awal A.W. Phillips (1958) yang memaparkan hubungan atau trade-off antara stabilitas output dan harga menjadi salah satu topik kajian yang layak uji sampai saat ini. Hal ini terutama berkaitan dengan tiga isu penting yang menjadi pijakan penelitian antara lain adalah: (i) apakah hubungan atau trade-off tersebut secara empiris terjadi dan bagaimana hubungan atau trade-off tersebut terjadi dalam jangka pendek dan panjang?; (ii) apakah hubungan atau
trade-off tersebut bersifat linier (simetris) atau non-linier (tidak simetris)?; dan (iii) bagaimana implikasi dari hubungan atau trade-off tersebut terhadap penerapan kebijakan ekonomi?
B. Pola hubungan output-harga dalam siklus kegiatan ekonomi
Dalam dua dekade terakhir, kajian terhadap pergerakan bersama (comovement) antara perkembangan output dan harga juga menjadi salah satu fokus dalam analisis siklus kegiatan ekonomi (business cycle). Salah satu tujuan dari analisis ini adalah untuk mencari bukti mengenai jenis-jenis kejutan struktural (shocks) yang berperan dalam memengaruhi pola business cycle. Dalam hal ini, pengamatan pada peranan shocks itu sendiri menjadi bagian utama. Perlu dikemukakan bahwa sebelum ini telah diyakini secara luas bahwa perkembangan harga bersifat procyclical (Lucas 1977;
Mankiw 1989). Pandangan ini dianggap konsisten dengan teori dorongan permintaan (demand driven theories). Selain itu, beberapa pola hubungan pada Kurva Phillips juga dianggap sebagai salah satu landasan rasional bagi comovement yang positif antara kegiatan riil dan harga ataupun inflasi. Pada sisi yang berseberangan, Cooley dan Ohanian (1991) berpendapat bahwa pada dasarnya hubungan yang terjadi tergantung pada pengaruh relatif dua shocks, yaitu dari sisi permintaan (demand shocks) dan dari sisi penawaran (supply shocks). Dalam kaitan ini, demand shocks menyebabkan output dan harga bergerak ke arah yang sama, sementara supply shocks menyebabkan output dan harga bergerak ke arah yang berlawanan. Sementara itu, dengan mendasarkan pada fakta bahwa korelasi antara output dan harga pada periode setelah perang dunia II pada umumnya negatif (atau paling tidak hubungan positif yang lemah), Kydland dan Prescott (1990) menyimpulkan bahwa "any theory in which procyclical prices figure crucially in accounting for postwar business cycle fluctuations is doomed in failure".
C. "Sacrifice ratio": biaya pengendalian inflasi
Tujuan utama kebijakan moneter pada umumnya adalah pencapaian inflasi yang rendah dan stabil, dengan keyakinan bahwa hal tersebut akan memberikan kontribusi positif pada pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Pertanyaan praktis yang muncul adalah mengapa bank sentral tidak melakukan pengendalian atau penurunan inflasi secara drastis? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa langkah tersebut dapat menimbulkan pengorbanan atau biaya (cost of disinflation) yang tinggi bagi kelangsungan perekonomian secara keseluruhan. Misalnya, upaya untuk mengekang laju inflasi, yang dilakukan dengan
kenaikan suku bunga yang memicu resesi. Dari beberapa bukti empiris, para ekonom umumnya mempercayai bahwa kebijakan untuk memerangi inflasi (disinflationary policy) selain berdampak pada penurunan inflasi juga berkontribusi pada terjadinya resesi. Dengan demikian, bank sentral mempunyai dilema: di satu sisi menginginkan terkendalinya inflasi, tetapi di sisi lain tidak menginginkan terjadinya resesi.
Pengaruh dari kebijakan 'anti-inflasi' pada dasarnya menjadi salah satu topik kontroversi di kalangan ekonomi. Pandangan tradisional menyatakan bahwa penurunan inflasi akan menyebabkan resesi, seperti yang telah disinggung di atas. Berlawanan dengan pandangan tersebut, ekonom neo- klasik percaya bahwa biaya yang ditimbulkan dapat saja kecil dan bahkan tidak ada. Menurut Sargent (1983), biaya inflasi dapat ditiadakan apabila hal tersebut dapat diantisipasi. Misalnya, bank sentral mengumumkan niatnya untuk mengurangi pertumbuhan suplai uang beredar dalam rangka menekan inflasi. Apabila informasi tersebut diantisipasi oleh pelaku ekonomi, maka respons yang dilakukan adalah penurunan laju perubahan harga dalam waktu yang sama, sehingga uang beredar riil tidak mengalami perubahan dan resesi dapat dihindari. Kalaupun penurunan pertumbuhan uang beradar tidak diantisipasi, maka apabila perusahaan-perusahaan dapat mengadakan penyesuaian atas perubahan harga secara cepat, pengaruh pada perkembangan output relatif kecil dan akan segera hilang.
2.3 Penerapan di Beberapa Negara Sasaran Akhir Kebijakan Moneter
A. Pergeseran prioritas dari dekade 1970-an ke 1980-an
Kebijakan moneter merupakan bagian terintegrasi dari kebijakan ekonomi makro, karena kebijakan moneter dapat memerankan peran strategis dalam pencapaian sasaran akhir kebijakan ekonomi makro pada umumnya, misalnya pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, pengurangan pengangguran, dan peningkatan kinerja neraca pembayaran/transaksi berjalan. Secara umum, otoritas moneter dapat menetapkan salah satu atau beberapa variabel tersebut sebagai sasaran akhir kebijakan moneter. Dalam perkembangannya, fokus penetapan prioritas sasaran akhir kebijakan moneter mengalami perubahan sesuai dengan kondisi ekonomi yang berlangsung dan permasalahan yang dihadapi oleh otoritas moneter suatu negara. Sebagai contoh, walaupun dalam landasan hukum atau kelembagaan (undang-undang) mengenai keberadaan otoritas moneter menekankan adanya beberapa sasaran akhir kebijakan
moneter yang ingin dicapai, otoritas moneter banyak negara di dunia pada tahun 1970- an lebih memprioritaskan pencapaian pertumbuhan ekonomi atau kesempatan kerja, dibandingkan dengan pengendalian inflasi dan peningkatan kinerja neraca pembayaran.
Hal ini juga ditunjang oleh adanya pemahaman mengenai adanya pola hubungan dalam Kurva Phillips, sehingga suatu rezim kebijakan dapat menentukan trade-off yang diinginkan, apakah pertumbuhan ekonomi atau inflasi, khususnya pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.
Sementara itu, pada tahun 1980-an telah terjadi perubahan fundamental dalam pendekatan yang digunakan oleh pengambil kebijakan di negara-negara maju, di mana terjadi pemrioritasan kembali sasaran akhir kebijakan secara radikal. Hal ini terlebih didorong oleh terjadinya stagflasi di negara-negara industri pada tahun 1973-1974 serta tingginya inflasi pada tahun 1979-1980 sebagai akibat respons terhadap pelonjakan harga minyak dunia. Dengan latar belakang tersebut, otoritas moneter mulai memberikan prioritas atau bobot relatif pengendalian inflasi lebih besar. Pergeseran prioritas tersebut antara lain tercermin pada perhatian lebih pada inflasi aktual maupun potensial, sementara langkah yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan pengangguran yang moderat (10% atau lebih) relatif terbatas.
Pemrioritasan kembali sasaran akhir kebijakan, dengan memberikan bobot relatif pada upaya pengendalian inlfasi, secara tegas dilakukan oleh Inggris (UK).
Dengan menerapkan strategi kebijakan jangka menengah, pada awal 1980-an kebijakan moneter ditetapkan dengan prioritas kebijakan pengendalian inflasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang berkelanjutan. Berkaitan dengan itu, diterapkanlah secara ekstrem kebijakan moneter ketat pada tahun 1980, yang pada akhirnya menyebabkan apresiasi poundsterling yang tajam dan resesi ekonomi.
Penerapan kebijakan ketat tersebut antara oleh telah terciptanya kredibilitas dari kebijakan pemerintah pada sektor keuangan selama ini, namun tidak pada pasar tenaga kerja dengan adanya fenomena inflasi akibat dorongan peningkatan upah (wage-push inflation) yang tidak terkendalikan. Pengalaman resesi pada awal 1980. an tersebut pada akhirnya turut menciptakan kredibilitas kebijakan anti inflasi di Inggris. Perlu dicatat bahwa kredibilitas tersebut tercipta bukan karena keberhasilan dalam pencapaian target moneter (yang dalam faktanya melebihi target), tetapi lebih dikarenakan oleh pertimbangan untuk menghindari konsekuensi yang berat dari terjadinya resesi, apabila diterapkan kebijakan ketat secara tiba-tiba.
Sejak periode tahun 1990-an hingga saat ini, hampir semua bank sentral di dunia telah mengadopsi secara tegas kestabilan harga sebagai salah satu sasaran akhir utama dari kebijakan moneter. Bahkan, secara legal, mayoritas bank sentral tersebut telah menetapkan pengendalian inflasi, sebagai sasaran akhir kebijakan moneter yang utama.
Fenomena ini tidak terlepas dari semakin besarnya kecenderungan bagi bank sentral di dunia untuk menerapkan kerangka kerja kebijakan moneter yang relatif baru, yaitu Inflation Targeting, pada awal tahun 1990-an. Pada dasarnya, kerangka kerja Inflation Targeting diyakini dapat mengatasi permasalahan tingginya laju inflasi yang dialami oleh banyak negara dalam jangka panjang, serta sekaligus meletakkan landasan yang kuat bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
Dalam penerapannya, beberapa negara memfokuskan kestabilan pada harga domestik, sementara yang lain lebih memilih cakupan yang lebih luas, yaitu kestabilan nilai mata uang yang dapat diinterpretasikan baik pada perkembangan harga domestik maupun pada nilai tukar. Di Indonesia, yang terjadi tidak hanya pada pergeseran prioritas, namun juga pemfokusan sasaran dari "multiple objectives", yaitu pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, dan peningkatan kesempatan kerja, ke
"single objective", yaitu stabilitas nilai mata uang rupiah.
Secara umum, variasi penetapan sasaran akhir kebijakan moneter di beberapa negara yang diamanahkan secara legal dapat dirangkum dalam tabel berikut.
2.4 Rezim Kebijakan Moneter di Indonesia
Kebijakan moneter di Indonesia dikelola oleh Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, dengan tujuan utama mencapai dan memelihara stabilitas moneter. Rezim kebijakan ini telah mengalami beberapa perubahan signifikan. Rezim kebijakan moneter mengacu pada seperangkat aturan, pedoman, atau strategi yang diikuti oleh bank sentral atau otoritas moneter suatu negara dalam mengelola pasokan uang dan suku bunga untuk
mencapai tujuan ekonomi tertentu. Tujuan utama kebijakan moneter biasanya mencakup pengendalian inflasi, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
2.4.1 Inflation Targeting
Inflation Targeting Framework (ITF) adalah suatu kerangka kebijakan moneter yang dirancang untuk mengendalikan inflasi dengan menetapkan target inflasi yang jelas dan transparan. Sistem ini pertama kali diterapkan oleh Selandia Baru pada tahun 1991 dan sejak itu diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan stabilitas ekonomi. Komponen Utama ITF:
Target Inflasi:
ITF menetapkan target inflasi yang diumumkan kepada publik, sehingga memberikan panduan bagi ekspektasi inflasi masyarakat dan pelaku ekonomi. Target ini biasanya ditentukan dalam bentuk rentang, misalnya 3-5% per tahun.
Transparansi dan Akuntabilitas:
Dengan menetapkan target inflasi yang jelas, bank sentral (dalam hal ini Bank Indonesia) dapat meningkatkan akuntabilitasnya kepada publik. Hal ini juga membantu membangun kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan moneter yang diterapkan.
Independensi Bank Sentral:
Keberhasilan ITF sangat bergantung pada independensi bank sentral dari tekanan politik. Bank Indonesia harus mampu mengambil keputusan berdasarkan analisis ekonomi tanpa campur tangan dari pemerintah.
Mekanisme Kerja ITF
Pengendalian Inflasi: Bank Indonesia menggunakan instrumen kebijakan moneter seperti suku bunga dan intervensi pasar untuk mencapai target inflasi. Kenaikan suku bunga biasanya digunakan untuk menahan inflasi, sedangkan penurunan suku bunga dapat merangsang pertumbuhan ekonomi.
Pengaruh Faktor Eksternal: Selain kebijakan moneter, faktor eksternal seperti nilai tukar dan harga komoditas juga mempengaruhi inflasi. Oleh karena itu, BI harus mempertimbangkan variabel-variabel ini dalam pengambilan Keputusan.
2.4.2 Efektivitas ITF di Indonesia
Efektivitas Inflation Targeting Framework (ITF) di Indonesia dapat dievaluasi dari beberapa aspek penting, seperti pengendalian inflasi, respons terhadap guncangan eksternal, transparansi, dampak pada pertumbuhan ekonomi, dan tantangan yang dihadapi. Dalam hal pengendalian inflasi, penerapan ITF sejak 2005 telah membantu mengendalikan inflasi secara lebih stabil. Sebelum diterapkan, inflasi di Indonesia seringkali tinggi dan tidak stabil. Sejak adanya ITF, inflasi bergerak lebih terkendali, biasanya dalam kisaran target 2-5%, yang lebih baik dibandingkan masa sebelumnya.
Mekanisme penyesuaian suku bunga acuan menjadi alat utama yang efektif dalam menjaga inflasi sesuai target.
Dalam menghadapi guncangan eksternal, ITF memberikan fleksibilitas bagi Bank Indonesia untuk merespons perubahan kondisi ekonomi global, seperti saat krisis keuangan 2008 dan pandemi COVID-19. Dengan menurunkan suku bunga acuan dan melonggarkan kebijakan moneter, Bank Indonesia berhasil meredam dampak negatif pada perekonomian, sekaligus menjaga stabilitas inflasi.
Namun, ITF di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama karena ketergantungan pada harga komoditas global, yang dapat memengaruhi inflasi domestik.
Selain itu, struktur pasar tenaga kerja yang besar di sektor informal membuat transmisi kebijakan moneter ke sektor riil sering kali lambat. Ketidakstabilan nilai tukar rupiah juga kadang mempersulit pencapaian target inflasi.
2.5 Kurs Nilai Tukar Yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate )
Kurs Nilai Tukar yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate) adalah sistem nilai tukar di mana mata uang suatu negara dibiarkan bergerak sesuai dengan mekanisme pasar, yaitu penawaran dan permintaan, namun dengan intervensi dari bank sentral bila diperlukan untuk mencegah fluktuasi yang terlalu ekstrem atau menjaga stabilitas ekonomi.
2.5.1 Karakteristik Utama Dari Sistem ini
1. Pasar menentukan nilai tukar: Pada dasarnya, kurs mata uang bergerak sesuai dengan interaksi pasar, baik itu permintaan dan penawaran di pasar valuta asing (foreign exchange market). Kurs mata uang bisa naik (apresiasi) atau turun
(depresiasi) tergantung pada aliran modal, neraca perdagangan, kebijakan ekonomi, dan faktor eksternal lainnya.
2. Intervensi oleh bank sentral: Meskipun kurs ditentukan oleh pasar, bank sentral (seperti Bank Indonesia) tetap dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan kurs jika terjadi volatilitas yang berlebihan. Intervensi ini bisa dilakukan melalui pembelian atau penjualan cadangan devisa atau dengan cara lain, seperti kebijakan moneter untuk mempengaruhi nilai tukar.
3. Tujuan stabilitas ekonomi: Intervensi dilakukan untuk mencegah dampak negatif dari perubahan tajam nilai tukar yang bisa mempengaruhi inflasi, sektor perdagangan, atau kestabilan ekonomi secara keseluruhan. Misalnya, depresiasi yang terlalu cepat dan dalam bisa menyebabkan harga impor melonjak dan inflasi naik, sementara apresiasi yang tiba-tiba bisa mengurangi daya saing ekspor.
4. Fleksibilitas dan kestabilan: Sistem ini memberikan fleksibilitas lebih dibandingkan dengan kurs tetap (fixed exchange rate), di mana kurs mata uang dipatok pada mata uang lain atau sekelompok mata uang. Namun, kurs mengambang terkendali juga memberikan lebih banyak stabilitas dibandingkan dengan kurs mengambang bebas (free floating exchange rate), di mana tidak ada intervensi sama sekali dari bank sentral.
2.5.2 Keuntungan dari Managed Floating Exchange Rate
1. Stabilitas ekonomi: Dengan intervensi yang terukur, bank sentral dapat menjaga stabilitas kurs yang penting bagi ekonomi domestik, menghindari dampak buruk dari fluktuasi yang terlalu besar.
2. Fleksibilitas dalam kebijakan moneter: Sistem ini memungkinkan bank sentral untuk memiliki kebijakan moneter yang lebih fleksibel, karena kurs tidak harus dipertahankan pada tingkat tetap, seperti dalam sistem fixed exchange rate.
3. Kemampuan untuk menyerap guncangan eksternal: Dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sistem ini memungkinkan nilai tukar untuk beradaptasi dengan kondisi pasar, sementara intervensi dapat digunakan untuk menghindari fluktuasi yang tidak diinginkan.
2.5.3 Tantangan Kurs Nilai Tukar yang Mengambang Terkendali (Managed Floating Exchange Rate)
1. Kebutuhan cadangan devisa yang cukup: Untuk dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing, bank sentral memerlukan cadangan devisa yang cukup, agar dapat membeli atau menjual mata uang asing ketika diperlukan.
2. Fluktuasi kurs yang tetap terjadi: Meskipun ada intervensi, kurs masih bisa mengalami volatilitas, terutama jika terjadi perubahan besar dalam kondisi ekonomi global atau domestik.
3. Risiko intervensi yang berlebihan: Jika intervensi terlalu sering atau besar, hal ini bisa menyebabkan distorsi di pasar valuta asing dan mengurangi efektivitas mekanisme pasar dalam menentukan nilai tukar yang sebenarnya.
Contoh di Indonesia:
Indonesia menganut sistem kurs mengambang terkendali sejak krisis ekonomi 1997-1 998, setelah sebelumnya menggunakan sistem kurs tetap. Dalam sistem ini, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau mata uang lainnya, terutama saat terjadi volatilitas yang tinggi akibat guncangan eksternal, seperti perubahan harga komoditas global atau pergerakan modal internasional.
Sistem ini memungkinkan nilai tukar rupiah berfluktuasi sesuai mekanisme pasar, tetapi Bank Indonesia tetap memantau dan campur tangan bila fluktuasi tersebut dinilai terlalu ekstrem atau membahayakan stabilitas ekonomi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pasar keuangan berperan penting dalam meningkatkan efisiensi perekonomian melalui channeling funds dari pihak yang tidak memiliki kapasitas untuk memanfaatkan dana untuk kepentingan produktif kepada pihak yang mampu memanfaatkan dana untuk aktivitas produksi. Lebih lanjut, lembaga perantara keuangan mampu menurunkan biaya secara signifikan serta mampu menurunkan risiko secara substansial melalui skala ekonomi yang dimilikinya. Dalam pasar keuangan juga terdapat biaya transaksi dimana biaya transaksi timbul akibat pelaksanaan transaksi keuangan yaitu dapat berupa biaya berbentuk moneter dan waktu. Biaya transaksi dapat berkurang dengan adanya lembaga perantara keuangan .
Namun, mengingat pemahaman pelaku ekonomi lebih didasarkan pada sinyal kebijakan moneter yang ditetapkan, maka strategi terbaik dalam merumuskan kebijakan moneter adalah dengan menonjolkan fakta bahwa kebijakan moneter dapat memengaruhi output. Namun, perlu dipahami pula bahwa tujuan tersebut akan dapat dilaksanakan sebaik- baiknya apabila bank sentral dapat secara konsisten memelihara laju inflasi yang rendah serta mendorong proses penyehatan sistem keuangan. Yang menjadi fokus perhatian adalah fakta bahwa sampai saat ini belum terdapat konsensus mengenai pola hubungan antara kedua variabel tersebut.
Tujuan utama kebijakan moneter pada umumnya adalah pencapaian inflasi yang rendah dan stabil, dengan keyakinan bahwa hal tersebut akan memberikan kontribusi positif pada pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa langkah tersebut dapat menimbulkan pengorbanan atau biaya yang tinggi bagi kelangsungan perekonomian secara keseluruhan. Misalnya, upaya untuk mengekang laju inflasi, yang dilakukan dengan memperlambat laju pertumbuhan uang beredar secara signifikan, akan mendorong kenaikan suku bunga yang memicu resesi. Pandangan tradisional menyatakan bahwa penurunan inflasi akan menyebabkan resesi, seperti yang telah disinggung di atas.
DAFTAR PUSTAKA
Ayu Angelina Pasaribu, W. A. (2024). Analisis Inflation Targeting Framework (ITF) dan Perubahan Respon Kebijakan Moneter. Jurnal Samudera Ekonomi dan Bisnis, 609- 618.
Fauzi, A. (2021). Modul kebanksentralan (Tesis). https://eprints.uad.ac.id/38558/1/Modul
%20Kebanksentralan.pdf
Hidayatullah Syamsuyar, I. (2017). DAMPAK SISTEM NILAI TUKAR TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA. Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM), 1-9 Warjiyo, P., & Juhro, S. (2016). Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik., Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada Jakarta