UNIVERSITAS INDONESIA
KERJA SAMA PERTAHANAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN ARAB SAUDI SEBAGAI
UPAYA MENINGKATKAN KAPABILITAS PRAJURIT TNI AD
STUDI KASUS
MUHAMMAD ALI NPM : 2006564400
SEKOLAH KAJIAN STRATEJIK DAN GLOBAL
PROGRAM STUDI KAJIAN WILAYAH TIMUR TENGAH DAN ISLAM
JAKARTA, DESEMBER 2021
HALAMAN PENGESAHAN
Tugas Akhir ini diajukan Oleh :
Nama : Muhammad Ali
NPM : 2006564400
Program Studi : Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam
Judul Tugas Akhir : Kerja sama Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi Sebagai Upaya Meningkatkan Kapabilitas Prajurit TNI AD Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI
Ketua Sidang : Yon Machmudi, Ph.D. ( )
Pembimbing : Muhammad Syaroni Rofii, M.A., Ph.D. ( ) Penguji : Dr. Mulawarman Hannase LC., MA.Hum. ( ) Penguji : Abdul Muta'ali, Ph.D. ( )
Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 30 Desember 2021
i
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muhammad Ali
NPM : 2006564400
Program Studi : Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam Fakultas : Sekolah Kajian Stratejik dan Global Jenis Karya : Studi Kasus
demi mengembangkan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Non-ekslusif (Exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Kerja sama Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi Sebagai Upaya Meningkatkan Kapabilitas Prajurit TNI AD
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non-ekslusif ini, Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pengkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Jakarta
Pada tanggal : 30 Desember 2021 Yang menyatakan
(Muhammad Ali)
ii
Kerja sama Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi Sebagai Upaya Meningkatkan
Kapabilitas Prajurit TNI AD
Muhammad Ali dan Muhammad Syaroni Rofii
Program Studi Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, Jakarta, 10430, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Sebagai upaya meningkatkan kapabilitas prajurit TNI AD agar dapat melaksanakan tugas operasi khusus dan Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB di Timur Tengah dan Afrika secara optimal, TNI AD dapat memanfaatkan Perjanjian Kerja sama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang telah ditandatangani di Jakarta pada tanggal 23 Januari 2014 berupa Defense Coorporation Agreement (DCA). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran arti pentingnya sebuah kerja sama pertahanan bagi Indonesia dan Arab Saudi. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriftif analitis, di mana penulis membuat suatu gambaran dan situasi untuk dijadikan bagian dari permasalahan yang akan diteliti.
Sumber data diperoleh dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2018 tentang Kerja sama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan data primer berupa wawancara dengan beberapa narasumber. Sedangkan landasan teori yang digunakan adalah menggunakan teori diplomasi pertahanan. Dengan kerja sama pertahanan ini merupakan momentum yang sangat tepat bagi TNI AD untuk merealisasikan bidang-bidang yang telah disepakati untuk meningkatkan kapabilitas prajurit TNI AD. Bidang kerja sama yang sudah dilaksanakan yaitu bidang pendidikan berupa pertukaran Perwira Siswa Seskoad.
Komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama ini setiap tahun diadakan berupa pertemuan atau Joint Military Committee (JMC).
Kata kunci: Kerja sama, pertahanan, kapabilitas, Indonesia, Arab Saudi.
The Defense Cooperation between the Government of the Republic of Indonesia and the Kingdom of Saudi Arabia as an Effort to Enhance the Indonesian Army Capabilities
Abstract
As an effort to increase the capability of Indonesian Army soldiers in order to optimally carry out special operations tasks and the UN Peacekeeping Mission in the Middle East and Africa, the Indonesian Army can take advantage of the Defense Cooperation Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Kingdom of Saudi Arabia which was signed in Jakarta on January 23, 2014 in the form of a Defense Corporation Agreement (DCA). This study aims to provide an overview of the importance of a defense cooperation for Indonesia and Saudi Arabia. In this research, the writer uses descriptive analytical qualitative method, in which the writer makes a picture and situation to be part of the problem to be studied. Sources of data were obtained from Law Number 10 of 2018 concerning Defense Cooperation between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Kingdom of Saudi Arabia and primary data in the form of interviews with several sources. While the theoretical basis used is using the theory of defense diplomacy. With this defense cooperation, it is the right momentum for the Indonesian Army to realize the agreed areas to increase the capabilities of Indonesian Army soldiers. The field of cooperation that has been carried out is in the field of education in the form of the exchange of Seskoad Student Officers. The commitment of the two countries to enhance this cooperation is held annually in the form of a meeting or the Joint Military Committee (JMC).
Keywords: Cooperation, defense, capability, Indonesia, Saudi Arabia.
Pendahuluan
Dalam pengembangan dan peningkatan kemampuan pertahanan, unsur penting di dalamnya adalah alutsista modern dan prajurit profesional. Prajurit profesional sesuai undang- undang nomor 34 tahun 2004 adalah prajurit TNI yang terlatih, terdidik dan diperlengkapi dengan baik (kemhan.go.id: 2019). Selain itu prajurit profesional dituntut untuk secepatnya dapat menguasai alutsista modern yang berteknologi tinggi dan memiliki ilmu dan kemampuan bertempur dengan baik serta dapat beradaptasi dengan medan operasi atau daerah tempur agar dapat memenangkan setiap pertempuran. Pada bidang pertempuran, prajurit TNI AD diharuskan dapat mengetahui dan memahami secara mendetail serta menguasai titik kelemahan hingga cara mengatasi sampai pada tingkat mampu, mahir serta terwujudnya peningkatan kapabilitas prajurit. Pengembangan dan peningkatan kapabilitas prajurit harus juga diikuti dengan pengalaman tugas di daerah operasi tempur. Penugasan prajurit TNI AD tidak hanya berada di dalam negeri, akan tetapi prajurit TNI AD sering mengemban tugas operasi atau misi ke luar negeri. Penugasan luar negeri seperti Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB (MPP PBB) di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Peran TNI AD dalam MPP PBB seperti; UNIFIL di Lebanon, MONUSCO di Republik Demokratik Kongo, MINUSCA di Republik Afrika Tengah, UNAMID di Darfur Sudan, MINUSMA di Mali, UNMISS di Sudan Selatan, UNISFA di Abyei Sudan/Sudan Selatan, dan MINURSO di Sahara Barat (setgab.go.id, 2021). Selain MPP PBB TNI AD juga terlibat dalam operasi militer khusus seperti misi pembebasan tawanan dari perompak di wilayah Somalia.
Selain melaksanakan MPP PBB di Timur Tengah dan Afrika, bagi pemerintah juga perlu diperhatikan berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI) bahwa terdapat 1,3 juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Timur Tengah dan paling banyak ada di Arab Saudi yaitu sebanyak 1,01 juta orang (finance.detik.com: 2015). Dilihat dari kepentingan dan kewajiban Pemerintah Indonesia untuk melindungi Warga Negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah khususnya di Arab Saudi, yang mencapai 1,01 juta orang. Kerja sama pertahanan ini juga dapat dimanfaatkan oleh TNI atas nama Pemerintah Republik Indonesia sebagai pendukung atau diperbantukan tugas bagi Kerajaan Arab Saudi, apabila diminta dan mendapat izin dari Kerajaan Arab Saudi sebagai negara yang berdaulat dengan tetap menjaga dan menghormati kedaulatan Kerajaan Arab Saudi. Apabila ada WNI yang membutuhkan misi penyelamatan seperti penculikan kelompok teroris, sandera dengan tebusan, atau kejadian luar biasa lain yang dipersamakan, maka TNI dapat melaksanakan misi tersebut. Dari sini dapat terlihat
1
2
3
bahwa antara Indonesia dan Arab Saudi memiliki banyak kepentingan seperti sosial, politik, budaya, ekonomi dan pertahanan.
Dari latar belakang kepentingan kedua negara antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, Kementerian Pertahanan selaku pemangku kebijakan pusat melakukan Perjanjian Kerja sama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang ditandatangani di Jakarta pada tanggal 23 Januari 2014 berupa Defense Coorporation Agreement (DCA) dalam bentuk Persetujuan Kerja sama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (Defense Cooperation Agreement Between The Government of The Republic of Indonesia And The Government of The Kingdom of Saudi Arabia) (kemhan.go.id: 2014). Selanjutnya persetujuan kerja sama tersebut memerlukan aspek legalitas dan implikasi hukum berupa pembentukan Undang-Undang tentang Persetujuan Kerja sama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang mendapat persetujuan dari DPR. Dengan dasar tersebut pada tanggal 30 Oktober 2018 disahkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2018 dan diundangkan pada tanggal 31 Oktober 2018 dalam Lembaran Negara Tahun 2018 Nomor 188 (jdih.bssn.go.id, 2018). Selain aspek legalitas menurut ketentuan Undang-Undang Pasal 10 Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, penetapan setiap pengesahan perjanjian internasional harus ditetapkan berupa sebuah Undang-Undang (dpr.go.id, 2018).
Kerja sama pertahanan ini selanjutnya diserahkan kepada Kementerian pertahanan dan Mabes TNI untuk mengelola bidang-bidang sesuai kesepakatan, termasuk di dalamnya sebagai unsur pelaksana yaitu TNI AD. Dengan demikian TNI AD sebagai unsur pelaksana dapat memanfaatkan kerja sama di bidang pertahanan ini, TNI AD atas nama Pemerintah Republik Indonesia dan Angkatan Darat Kerajaan Arab Saudi (Royal Saudi Land Forces/RSLF) atas nama Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Kerja sama pertahanan yang sudah disahkan berupa Undang-Undang adalah sebuah komitmen bersama untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kedua negara, khususnya meningkatkan kapabilitas prajurit TNI AD guna mencapai tujuan dan keberhasilan tugas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan demikian, penulis mengajukan penelitian Studi Kasus yang berjudul
“KERJA SAMA PERTAHANAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN ARAB SAUDI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KAPABILITAS PRAJURIT TNI AD”.
Landasan Teori
Untuk mendukung dan memperkuat penelitian ini diperlukan sebuah landasan teori, sehingga dapat lebih mendalam memaknai data-data yang ada. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Diplomasi Pertahanan. Teori diplomasi pertahanan dalam penelitian ini digunakan karena sangat berkaitan dengan bidang-bidang yang disepakati dalam kerja sama pertahanan antara Inonesia dan Arab Saudi. Diplomasi pertahanan menurut Winger dalam bukunya The Theory of Defense Doplomacy, ia menjelaskan kekuatan militer sebuah negara digunakan tidak untuk perang dengan tujuan untuk mencapai kepentingan sebuah negara dengan cara latihan militer bersama, kunjungan kapal perang dan pertukaran pendidikan/pelatihan perwira. Selain itu menurut Winger diplomasi pertahanan pada masa damai, penggunaan militer merupakan sebuah cara untuk kebijakan keamanan dan hubungan luar negeri (Winger G, 2014). Dalam diplomasi pertahanan, keberhasilan sebuah diplomasi dapat ditentukan oleh penggabungan dari semua komponen diplomasi seperti; diplomasi pertahanan dan pembangunan. Diplomasi pertahanan suatu negara secara parsial terdapat karakter utama, yaitu; pertama, diplomasi pertahanan untuk membangun kepercayaan, diplomasi pertahanan untuk kemampuan pertahanan, dan diplomasi pertahanan untuk industri pertahanan (Syafawi I, 2009).
Teori diplomasi pertahanan ini dapat digunakan pada Defence Cooperation Agreement (DCA) antara Indonesia dan Arab Saudi. Kerja sama pertahanan ini menyetujui kesepakatan pada bidang yang dapat membangun dan meningkatkan pertahanan kedua negara. Bila dilihat dari bentuk kerja sama pertahanan ini, yang dilakukan oleh Indonesia dan Arab Saudi berupa kerja sama formal (formal cooperation). Dalam kerja sama ini kedua negara mengadakan treaty yang tidak mengikat (non-binding) dalam bentuk kerja sama pertahanan atau DCA (Supriyanto, 2014). Dengan demikian, kerja sama hanya berbentuk teknis untuk meningkatkan pertahanan dan untuk kepentingan kedua negara.
Metodelogi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif deskriftif analitis, di mana penulis menganalisis, menggambarkan, dan meringkas berbagai situasi dan kondisi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil pengamatan atau wawancara mengenai masalah yang diteliti dan yang terjadi di lapangan. (Winartha, 2006) Menurut Creswell metode 4
5
kualitatif analitis adalah membuat suatu gambaran dan situasi untuk dijadikan bagian dari permasalahan yang akan diteliti (Creswell. J. W ; 1994).
Penelitian kualitatif menggunakan empat cara dalam melakukan penelitian yaitu:
observasi, wawancara, dokumen, dan gambar visual di mana masing-masing cara mempunyai fungsi dan keterbatasan yang berbeda. (Creswell. J. W, 1994) dari keempat cara penelitian kualitatif ini, penulis menggunakan dokumen atau arsip dari Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagai obyek penelitian yaitu UU RI Nomor 10 tahun 2018 tentang Pengesahan Persetujuan Kerja sama Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, diundangkan di Jakarta pada tanggal 31 Oktober 2018. Selain menggunakan dokumen penulis juga menggunakan cara wawancara untuk mendapatkan data dalam penelitian ini, sumber wawancara.
1. Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan melakukan pengumpulan data dalam bentuk data primer dan data sekunder, yaitu;
a. Data primer merupakan data yang akan diperoleh dari wawancara mendalam, terkait topik pembahasan pada penelitian ini, untuk mendapatkan informasi yang mendalam dan secara konkrit agar dapat berkontribusi terhadap penelitian ini. Data wawancara tersebut bersumber dari; Kolonel Inf Hendy Antariksa, Jabatan: Paban VI/Kermalat Non ASEAN, Staf Latihan TNI AD, Jakarta, Mayor Inf Pamungkas Army Saputro, S.Sos. (Akmil 2004), Jabatan: Kabag Binlat Ancab Kermil, Pussenif Kodiklatad, Bandung Jawa Barat dan mantan Siswa Seskoad Arab Saudi tahun 2019, dan, Letkol Czi Donny Pramudya Mahardi (Akmil 2003), Jabatan: Komandan Batalyon Zipur 20/PPA, Sorong Papua Barat, mantan Siswa Seskoad Arab Saudi tahun 2018.
b. Data sekunder merupakan data yang akan diperoleh dari, studi kepustakaan (buku, jurnal, dan laporan penelitian) dan juga data yang diperoleh dari dokumen resmi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagai obyek penelitian yaitu UU RI Nomor 10 tahun 2018 tentang Pengesahan Persetujuan Kerja sama Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, di Jakarta pada tanggal 31 Oktober 2018.
2. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang sebelumnya didapat pada bagian rumusan masalah, ialah dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif. Di mana peneliti hanya akan menggali data dan informasi yang berasal dari sumber data mengenai faktor-faktor yang memiliki kaitan dan mempengaruhi efektivitas diplomasi pertahanan yang ada pada hubungan kerja sama 6
pertahanan antara Indonesia dengan Arab Saudi. Proses dan tahapan menurut Miles dan Huberman (Matthew B. M, 1994) adalah:
a. Mereduksi Data (Data Reduction)
Mereduksi data adalah dengan cara merangkum semua data yang didapat lalu memilih data-data yang dianggap penting dan perlu untuk diteliti dilanjutkan mencari pola dan tema dari data tersebut. Setelah direduksi data tersebut dapat memberikan gambaran untuk mempermudah dalam melakukan penelitian lanjutan bila diperlukan.
b. Menyajikan Data (Data Display)
Menyajikan data dilakukan sesudah data direduksi selanjutnya dilakukan dalam bentuk teks yang bersifat naratif, bagan dan matriks. Dengan menyajikan data yang lengkap dapat mempermudah untuk memahami kejadian yang terdapat pada data tersebut, sehingga tahap selanjutnya dapat merencanakan hal apa yang akan dilakukan berdasarkan data-data yang sudah dipahami.
c. Menarik Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)
Pada tahapan berikutnya adalah menarik kesimpulan awal dan verifikasi, pada tahap ini kesimpulan masih bersifat sementara dalam artian dapat berubah sesuai dengan temuan atau tidak ditemukannya data atau bukti pendukung yang cukup pada tahap pengumpulan data lanjutan.
Implimentasi Bentuk-bentuk Kerja sama Pertahanan antara Indonesia dan Arab Saudi serta Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Kapabilitas Prajurit TNI AD
Kerja sama Pertahanan antara Indonesia dan Arab Saudi yang sudah di sahkan berupa Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2018. Dengan demikian Kementerian Pertahanan kedua negara terus berkomitmen untuk terus melanjutkan dan meningkatkan kerja sama ini agar lebih erat, produktif dan konstuktif. Sebagai implementasi atas kerja sama pertahanan ini secara rutin diadakan Joint Military Committee (JMC), sebuah forum pertemuan bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi dengan pembahasan update review pertemuan sebelimnya dan potensi kerja sama baru. Keterlibatan TNI AD dan AD Arab Saudi dalam kerja sama pertahanan ini merupakan kesempatan dan momentum yang sangat tepat bagi keduanya untuk terus memelihara dan meningkatkan serta mengimlementasikan bidang-bidang kerja sama pertahanan ini. Dengan kerja sama antara TNI AD dan AD Arab Saudi tentu akan menambah pengalaman dan meningkatkan kapabilitas bagi prajurit kedua Angkatan Darat. Selain itu, 7
kerja sama ini dapat menambah erat hubungn kedua negara khususnya bagi TNI AD dan AD Arab Saudi. Bidang kerja sama pertahanan tersebut adalah:
1. Dialog strategis pertahanan; bertujuan untuk mengembangkan pertukaran pandangan dalam hal-hal yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan.
Diawali dari kunjungan pertama Wakil Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi Pangeran Salman bin Sultan bin Abdul Aziz, di Kantor Kementerian Pertahanan RI di Jakarta pada tanggal 23 Januari 2014, dan diterima oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro. Keduanya menyepakati perjanjian kerja sama berupa Defense Coorporation Agreement (DCA) antara Indonesia dan Arab saudi. Hal-hal strategis dalam kerja sama ini meliputi bidang pendidikan dan latihan militer, pertukaran siswa atau instruktur militer dan kerja sama industri pertahanan yang mencakup penelitian dan produksi bersama, transfer teknologi, serta kerja sama di bidang bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Semua bentuk kerja sama yang disepakati antara Indonesia dan Arab Saudi ini sangat mendukung guna meningkatkan kemampuan personel militer kedua negara.
Selain dialog strategis juga dilakukan Joint Military Committee (JMC) antara Republik Indonesia dan Arab Saudi. JMC merupakan forum pertemuan bilateral pertahanan Indonesia dan Arab Saudi sebagai implementasi dari kesepakatan Defense Cooperation Agreement Between The Republic of Indonesia and The Kingdom of Saudi Arabia yang ditandatangani tanggal 23 Januari 2014 di Jakarta. JMC bertujuan mengevaluasi dan mengkaji kembali kegiatan kerja sama yang sudah, sedang dijalankan.
Selain itu pertemuan JMC juga mempertimbangkan dan menelusuri inisiatif-inisiatif baru yang relevan dalam kerja sama pertahanan kedua negara di masa mendatang (kemenhan.go.id, 2021).
2. Pertukaran informasi intelijen pertahanan; meliputi pertukaran informasi, pelatihan intelijen, simposium tentang intelijen dan kunjungan belajar.
Pertukaran informasi intelijen (sharing intelijen) pertahanan antara Indonesia dan Arab saudi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mencegah serangan yang lebih besar dan terjadinya konflik. Sebagai negara dengan letak geografis yang strategis dan memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah serta dinamika perkembangan geopolitik antara Indonesia dan Arab Saudi, menjadikan kedua negara mendapat ancaman multidimensional (militer dan non militer) yang perlu diwaspadai setiap saat oleh lembaga intelijen negara. Dinamika keamanan lingkungan strategis di kawasan Asia Pasifik merupakan ancaman yang nyata bagi Indonesia sedangkan dinamika keamanan lingkungan 8
strategis di kawasan Timur Tengah merupakan ancaman yang nyata bagi Arab Saudi.
Selain itu sel-sel jaringan dari kelompok ISIS dan Al-Qaeda masih menjadi ancaman berupa serangan teror secara sporadis di kedua negara.
3. Pendidikan dan pelatihan militer, meliputi pelatihan, kunjungan belajar, pengembangan program pendidikan dan pelatihan, pertukaran personel dan tenaga ahli pertahanan untuk pendidikan penyelenggaraan lokakarya, seminar dan pelatihan profesional antara para peserta atas dasar timbal balik.
Bidang pendidikan adalah salah satu bidang yang telah dijalankan antara TNI AD dan AD Arab Saudi. Sejak ditandatanganinya perjanjian pertahanan Indonesia dan Arab Saudi, bidang pendidikan merupakan bidang yang paling sering dijalankan berupa pertukaran Perwira Militer kedua negara dan pertukaran Perwira Siswa dalam pendidikan militer.
Pada bidang pendidikan, kerja sama yang dilakukan berupa pertukaran Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) antara TNI AD dan Angkatan Darat Arab Saudi. Setiap tahun pertukaran Pasis kedua negara selalu dilaksanakan sebagai komitmen perjanjian kerja sama pertahanan di bidang pendidikan. Dengan pertukaran Perwira Siswa ini mempunyai nilai positif bagi Perwira tersebut dan bagi institusi TNI AD dan AD Arab Saudi. Dengan seringnya Prajurit TNI AD ditugaskan pada misi pemeliharaan perdamaian PBB di daerah Timur Tengah dan Afrika, dibutuhkan Perwira-Perwira yang memahami dan berpengalaman terhadap daerah operasi yang akan dihadapi. Bagi Perwira yang pernah pendidikan Seskoad di Arab Saudi, dapat diminta ilmu dan pengalamannya selama berada di Arab Saudi, hal ini akan sangat membantu dalam melaksanakan tugas. Kendala-kendala seperti bahasa, budaya, agama (mazhab), nasionalisme dan lainnya, dapat di dapat dari Perwira Seskoad yang sudah berpengalaman sekolah dan bertugas di daerah Timur Tengah.
4. Pelatihan Militer
Diawali dari kunjungan Wamenhan Arab Saudi Pangeran Salman bin Sultan bin Abdul Aziz pada tahun 2014 ke Jakarta, dan bertemu dengan Wamenhan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin. Dalam pertemuan kedua Wamenhan tersebut membicarakan bahwa dalam penanggulangan terorisme Indonesia membuka peluang kerja sama bagi Arab Saudi. Kerja sama penanggualangan terorisme tersebut dapat berupa pelatihan bersama bagi prajurit kedua Angkatan Bersenjata, melakukan operasi gabungan dan pertukaran operasi.
(kemenhan.go.id; 2014).
Realisasi dalam bidang pelatihan ini berupa kunjungan Delegasi TNI AD ke Basis Koalisi Anti-Terorisme Militer Islam atau Islamic Military Counter Terrorism Coalition 9
(IMCTC) di Riyadh, Arab Saudi. Sekretaris Jenderal IMCTC Mayor Jenderal Mohammed bin Saeed Al-Moghedi menghadiri acara tersebut dan memberikan arahan tentang keberadaan IMCTC dan tugas-tugas yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan.
Delegasi militer Indonesia tersebut mendapat pemaparan perihal upaya memerangi teroris dan ekstremis sesuai dengan hukum, peraturan, dan bea cukai internasional (wartaekonomi.co.id: 2019).
5. Latihan Besama
Dari kerja sama pertahanan/militer ini diharapkan agar TNI AD dapat belajar banyak dari AD Arab Saudi yang sudah berpengalaman dalam operasi-operasi tempur di kawasan Timur Tengah seperti di Yordania, Iraq, Suriah, Yaman, Bahrain, Libya dan negara-negara Timur Tengah dan Afrika lainnya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa Arab Saudi adalah salah satu negara yang kuat di bidang militer di Kawasan Timur Tengah. Arab Saudi juga hampir selalu terlibat dalam konflik-konflik di kawasan tersebut, baik terlibat langsung maupun sebagai proksi. Dari beberapa konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Arab Saudi tersebut, dapat dijadikan pengalaman dan pelajaran dalam menentukan taktik dan strategi tempur untuk operasi-operasi tempur berikutnya atau operasi tempur masa depan.
Wilayah Timur Tengah dan Afrika sangat berbeda dengan di Indonesia, yaitu suatu wilayah yang di dominasi gurun pasir dan suhu yang ekstrem, sedangkan di Indonesia hutan hujan tropis. Bagi prajurit TNI AD, operasi tempur wilayah hutan sudah biasa dilakukan seperti perang hutan (junggle warfare), akan tetapi bila wilayah operasi tersebut berbeda dengan alam dan cuaca di Indonesia maka hal ini membuat tantangan dan hambatan tersendiri untuk mengatasinya. Dengan adanya perbedaan tipe wilayah antara hutan dan gurun tersebut, perlu kiranya prajurit TNI AD untuk dapat menimba ilmu bidang militer wilayah gurun atau perang gurun (desert warfare) dan pengalaman latihan militer bersama dari negara yang berada di Timur Tengah atau Afrika. Diharapkan dengan ilmu dan pengalaman tersebut TNI AD dapat mengenal, memahami, dan menguasai medan gurun untuk keberhasilan tugas atau misi yang dihadapi bila dihadapkan pada wilayah operasi di Timur Tengah dan Afrika.
6. Industri Pertahanan; mengembangkan kerja sama di bidang teknologi pertahanan, termasuk penelitian bersama, produksi, pemasaran dan alih teknologi (dpr.go.id, 2018).
Untuk memenuhi kebutuhan alutsista pertahanan dalam negeri, Indonesia telah membentuk Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) sebagai center of exellence sebagai pusat keunggulan transformasi teknologi strategis nasional. Dalam merealisasi BPIS 10
tersebut, Kemenhan membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan dan Program Revitalisasi Indhan Nasional. Dengan dibentuknya Komite Indhan tersebut maka telah disiapkan masterplan Indhan dari jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang sampai tahun 2025 mendatang. Untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan, Kemhan membentuk Holding BUMN Industri Pertahanan untuk transformasi teknologi di bidang pertahanan telah ditunjuk oleh Kemhan adalah PT PINDAD, PT DI, PT LEN, PT PAL, dan PT Dahana (kemenhan.go.id, 2021).
Industri Militer Arab Saudi (SAMI) didirikan pada tahun 2017 untuk memangkas ketergantungannya pada senjata impor dan sistem teknologi militer. Arab Saudi telah membangun industri pertahanan dengan menginvestasikan dana sebesar US$ 20 miliar (Rp. 281 triliun) agar tidak tergantung dengan pihak luar dan memproduksi senapan serbu, amunisi, bahan peledak militer, peralatan militer, peralatan militer individu, dan elektronik militer. Dengan kebijakan memproduksi alat pertahanan di dalam negeri termasuk suku cadang dan industri militer lainnya Arab Saudi dapat menghemat anggaran sampai 50%
atau sekitar Rp. 120 triliun (kabar24.bisnis.com, 2021).
Dari kemampuan membangun industri militer, Indonesia dan Arab Saudi dapat mengembangkan kerja sama dalam industri ini. Dengan kemampuan yang ada, kedua negara dapat mengadakan program penelitian dan pengembangan teknologi yang tinggi dan berkelanjutan untuk kepentingan pertahanan kedua negara. Kedua negara juga bisa mengembangkan Transfer of Technology (ToT) sesuai kemampuan yang ada.
7. Bantuan kemanusiaan, penanggulangan bencana, pemeliharaan perdamaian dan pelayanan logistik, meliputi pengembangan dan peningkatan kerja sama di bidang bantuan kemanusiaan penanggulangan bencana, pemeliharaan perdamaian, dukungan logistik militer dan pelayanan medis (dpr.go.id, 2018).
Pelibatan TNI AD dan AD Arab Saudi dalam penanganan pemberian bantuan untuk kemanusiaan, penanggulangan bencana alam, misi pemeliharaan perdamaian dan pelayanan logistik seharusnya sangat tepat direalisasikan melihat seringnya terjadi bencana di Indonesia. AD Arab Saudi dapat bergabung dengan TNI AD dalam Satgas PRC PB.
Kerja sama pada bidang ini sangat bermanfaat untuk mempererat persahabatan antar negara terutama bagi TNI AD dan AD Arab Saudi.
8. Perlindungan hak kekayaan intelektual yang timbul dari pelaksanaan Persetujuan.
(dpr.go.id, 2018)
a) Kekayaan intelektual yang ditimbulkan dari pelaksanaan persetujuan ini akan menjadi milik bersama dan disetujui Para Pihak.
b) Dalam hal salah satu Pihak berkeinginan untuk mengungkapkan informasi mengenai hak kekayaan intelektual yang timbul dari kerja sama berdasarkan Persetujuan ini kepada Pihak ketiga manapun, wajib memperoleh persetujuan sebelumnya dari Pihak lain.
c) Setiap Pihak memperoleh bagian yang sama dari pendapatan komersil, bilamana kekayaan intelektual dipergunakan untuk tujuan komersil.
9. Perlindungan terhadap informasi rahasia yang diperoleh dalam pelaksanaan Persetujuan.
(dpr.go.id)
a) Kerahasiaan informasi yang didapat dari Persetujuan ini Para Pihak wajib melindungi sesuai dengan UU dan peratuaran nasional dari kedua Pihak.
b) Dari masing-masing Pihak menyepakati informasi dan perlengkapan rahasia yang diberikan melalui saluran resmi pada Komisi Bersama. Klasifikasi dari informasi dan perlengkapan rahasia tersebut berupa; Sangat Rahasia, Rahasia, Terbatas dan Biasa.
c) Dalam persetujuan ini informasi atau perlengkapan yang diterima tidak diperkenankan untuk mentransfer, mengungkap atau mengeluarkan kepada pihak ketiga, baik itu perorangan atau lembaga baik secara langsung maupun tidak langsung, sementara atau secara permanen.
10. Pembiayaan yang terkait dengan pelaksanaan Persetujuan ditanggung masing-masing Pihak.
11. Para Pihak akan menyelesaikan perselisihan dilakukan secara damai melalui konsultasi.
Upaya yang Dilaukan Untuk Meningkatkan Kerja sama Pertahanan Indonesia – Arab Saudi
Dialog strategis pertahanan antara Indonesia dan Arab Saudi, harus selalu dilakukan agar kerja sama yang telah disepakati dan dijalankan terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Selain dialog strategis juga dilakukan Joint Military Committee (JMC) antara Republik Indonesia dan Arab Saudi. JMC merupakan forum pertemuan bilateral pertahanan Indonesia dan Arab Saudi sebagai implementasi dari kesepakatan kerja sama pertahanan Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi (Defense Cooperation Agreement Between The Republic of Indonesia and The Kingdom of Saudi Arabia) yang ditandatangani tanggal 23 Januari 2014 dan disahkan berupa Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2018 di Jakarta. JMC 11
bertujuan mengkaji kembali kegiatan kerja sama yang telah dan sedang dilaksanakan serta menjajagi inisiatif-inisiatif baru kerja sama pertahanan kedua negara di masa mendatang.
Melihat kemampuan militer Indonesia dan Arab Saudi yang sejajar menurut Global Firepower (GFP) pada tahun 2021 menempatkan kekuatan militer Indonesia diperingkat 16 dengan power indeks 0.2684 dan Arab Saudi diperingkat 17 dengan power indeks 0.3231 (global firepower.com, 2021). Dilihat dari kemampuan pertahanan Indonesia dan Arab Saudi ini, menandakan bahwa potensi kekuatan kedua negara sangat seimbang dan dapat bekerja sama dengan baik, dengan menghormati kedaulatan negara masing-masing.
Kerja sama ini dapat dilaksanaan dengan syarat-syarat, yaitu: pertama, kedua belah pihak mendapatkan manfaat yang signifikan bagi kepentingan strategis dan tidak merugikan apalagi menguntungkan bagi salah satu pihak saja dalam kata lain kerja sama ini menguntungkan dari semua aspek bagi kedua negara; kedua, landasan dan dasar dari kerja sama ini adalah sebuah semangat sebagai mitra yang sejajar, tidak beranggapan bahwa satu pihak lebih unggul dan pihak lain lebih rendah, atau satu pihak lebih superior pihak lain inferior; ketiga, kerja samai ini bukan “politik bermuka dua”, atau menjatuhkan salah satu pihak dengan segala cara, tetapi hendaknya kerja sama ini bersikap proaktif dan saling terbuka sehingga terjalin saling percaya dan komitmen yang positif untuk kepentingan bersama.
Dari kerja sama pertahanan/militer ini diharapkan agar TNI AD dapat belajar banyak dari AD Arab Saudi yang sudah berpengalaman dalam operasi-operasi tempur modern di kawasan Timur Tengah seperti di Yordania, Iraq, Suriah, Yaman, Bahrain, Libya dan negara- negara Timur Tengah dan Afrika lainnya. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa Arab Saudi adalah salah satu negara yang kuat dan besar di bidang militer di Kawasan Timur Tengah dan hampir selalu terlibat dalam konflik-konflik di kawasan tersebut, baik terlibat langsung maupun sebagai proksi. Dari beberapa konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Arab Saudi tersebut sudah barang tentu AD Arab Saudi sudah banyak pengalaman operasi tempur di wilayah Timur Tengah dan Afrika.
Melihat peluang yang ada berupa terbukanya kesempatan bagi TNI AD untuk dapat meningkatkan kerja sama ini dalam bidang yang sudah disepakati, kiranya sangat relevan untuk merealisasikan lebih jauh lagi bentuk kerja sama pertahanan antara TNI AD dan AD Arab Saudi. Salah satu dari bidang kerja sama tersebut dapat berupa Latihan Bersama antar Angkatan Darat kedua negara agar bisa meningkatkan kemampuan prajurit. Dari kerja sama prtahanan ini juga bisa menambah pengalaman bagi prajurit TNI AD agar bisa berlatih di negara Arab Saudi yang mana zona latihannya berupa padang pasir atau gurun guna 12
13
menunjang penugasan parajurit TNI AD dalam MPP PBB, seperti UNIFIL di Lebanon, MONUSCO di Republik Demokratik Kongo, MINUSCA di Republik Afrika Tengah, UNAMID di Darfur Sudan, MINUSMA di Mali, UNMISS di Sudan Selatan, UNISFA di Abyei Sudan/Sudan Selatan, dan MINURSO di Sahara Barat (setgab.go.id, 2021). Selain MPP PBB TNI AD juga terlibat dalam operasi militer khusus seperti misi pembebasan tawanan dari perompak di wilayah Somalia.
Dari hasil wawancara dari para responden, semuanya menyatakan bahwa kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi memiliki nilai positif bagi perkembangan dan kemajuan institusi TNI AD. Dialog-dialog strategis antara kedua negara agar selalu dipertahankan, dipelihara, dan ditingkatkan untuk merealisasikan bidang-bidang kerja sama yang belum dilaksanakan. Selain itu kunjungan oleh Perwira senior atau pejabat-pejabat terkait dapat membuka jalan lebih lebar untuk meyakinkan kedua belah pihak bahwa kerja sama ini sangat penting untuk pengembangan dan kemajuan pertahanan Indonesia dan Arab saudi serta meningkatkan kapabilitas prajurit kedua negara, bagi Indonesia khususnya untuk meningkatkan kapabilitas prajurit TNI AD.
Menurut Kolonel Inf Hendy Antariksa dalam rangka menindaklanjuti kerja sama pertahanan yang telah disepakati oleh pemerintah pada level strategis, maka selanjutnya TNI AD akan melaksanakan diskusi dan rapat pada level operasional. Agenda pembahasan pada level strategis yang diawaki oleh Mabes TNI dan Kementrian Pertahanan yang diperkuat oleh Kementrian Luar Negeri mewakili pemerintah Republik Indonesia akan dititikberatkan pada pertimbangan-pertimbangan yang koheren dengan kebijakan politik Luar Negeri dan agenda strategis pertahanan negara. Hal inilah yg kemudian dituangkan dalam bentuk Defense Cooperation Agreement (DCA) sebagai payung hukum bagi pembahasan kerja sama pada tingkat operasional dan taktis oleh masing-masing Pelaksana. Sebagai langkah diplomasi, lazimnya eksekusi dari program kerja sama pertahanan akan diawali dengan pertukaran kunjungan oleh Perwira Senior dalam bentuk kegiatan Senior Leader Executive Meeting (SLEM) untuk menelusuri lebih jauh peluang kerja sama yang dapat dieksploitasi.
Hasil wawancara dari narasmber dapat disimpulakan bahwa kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Arab Saudi walaupun selama ini hanya sebatas di bidang pendidikan namun manfaat yang didapat sudah dapat dirasakan oleh Angkatan Darat kedua negara. Dari pertukaran Perwira Siswa (Pasis) Seskoad kedua negara, tentu telah mendapatkan ilmu dan pengalaman yang dapat dikembangkan di satuan-satuan khususnya di satuan jajaran TNI AD.
Para Perwira yang sekolah di Arab saudi mendapatkan ilmu kemiliteran yang berbeda sesuai tipe wilayah dan ancaman yang dihadapi di kawasan Timur Tengah. Konsep baru tentang 14
perang modern yaitu pergeseran peran pasukan infanteri digantikan oleh peran senjata kavaleri dan artileri serta serangan pesawat Angkatan Udara dalam suatu serangan. Serangan udara dan rudal artileri bertujuan untuk pendadakan dan menghancurkan kedudukkan dan kekuatan musuh. Hal tersebut dapat menambah dan memperkaya wawasan dalam pengembangan pertahanan dalam perspektif ancaman global saat ini. Dari pengalaman ini, dapat dijadikan bahan diskusi strategis bagi TNI AD untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang pertempuran.
Sedangkan kendala yang dihadapi dalam kerja sama pertahanan ini adalah pertama, perbedaan letak wilayah yang cukup jauh, berpengaruh pada waktu dan biaya yang cukup besar bila mengadakan latihan militer bersama. Kendala kedua adalah situasi pandemi Covid- 19 yang melanda dunia termasuk di Indonesia dan Arab Saudi, menyebabkan banyak tertundanya beberapa program-program yang semestinya dapat dilaksanakan. Contohnya pertemuan Joint Military Committee (JMC) yang seharusnya dilakukan setiap tahun tertunda sekitar dua tahun dan akhirnya dapat dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2021 yaitu pertemuan Pre-The 4th Joint Military Committee melalui aplikasi zoom meeting. Sejak ditandatanganinya persetujuan kerja sama pertahanan ini hampir tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan implementasi kerja sama ini, walaupun ada beberapa bidang yang belum terealisasi ini disebabkan baru disahkannya Undang-Undang Kerja sama Pertahanan ini yaitu pada tanggal 31 Otober 2018, jadi bisa dibilang kerja sama ini sangat muda sekali.
Perjanjian kerja sama pertahanan ini juga menjadi fondasi bagi implementasi kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Arab Saudi, agar lebih erat, produktif dan konstruktif sebagai tindakan peningkatan kapasitas bagi pertahanan Indonesia dan Arab Saudi kearah yang lebih kongkrit. Bidang-bidang kerja sama yang sudah disepakati harus dijadikan prioritas untuk diimplementasikan dalam bentuk dialog-dialog strategis berkelanjutan untuk kemajuan kerja sama ini di masa mendatang. Forum pertemuan bilateral Indonesia dan Arab Saudi Joint Military Committee (JMC) harus selalu dijalankan agar kerja sama ini terus mengalami perkembangan ke arah yang lebih maju sehingga implementasi bidang-bidang kerja sama yang telah disepakati bisa segera direalisasikan.
Kesimpulan
Dengan disahkannya undang-undang Kerja sama Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (Defense Cooperation Agreement 15
Between The Government of The Republic of Indonesia And The Government of The Kingdom of Saudi Arabia) maka dari aspek legalitas dan implikasi hukumnya telah berlaku sejak disahkannya Undang-Undang tersebut. Undang-undang ini merupakan payung hukum dan momentum serta peluang yang sangat tepat bagi TNI AD dan Angkatan Darat Arab Saudi (RSLF) untuk menindaklanjuti lebih jauh atas Undang-Undang kerja sama pertahanan tersebut terutama bidang-bidang yang belum dilaksanakan guna meningkatkan kapabilitas prajurit TNI AD.
Implementasi dari Kerja sama Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sudah dilaksanakan dari tingkat Kementrian Pertahanan, Mabes TNI sampai TNI AD. Kerja sama yang telah dilaksanakan baru sebatas kerja sama di bidang pendidikan berupa pertukaran Perwira Siswa Seskoad. Kesimpulan penulis dari hasil wawancara Perwira Siswa Seskoad di Arab Saudi bahwa kerja sama pertahanan ini sangat bermanfaat bagi kepentingan peningkatan kapabilitas prajurit kedua negara. Bagi Perwira yang telah melaksanakan Seskoad di Arab Saudi banyak mendapatkan ilmu kemiliteran tentang perang gurun (desert warfare) seperti taktik dan strategi pasukan Arab Saudi pada perang di Yaman.
Kerja sama pertahanan ini sangat penting untuk terus dipertahankan dan ditingkatkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan Indonesia dan Arab Saudi, khususnya peningkatan kapabilitas prajurit TNI AD. Kerja sama yang lain seperti Latihan atau pelatihan Militer Bersama akan sangat bermanfaat bagi TNI AD untuk lebih mengenal medan, suhu, cuaca gurun, tradisi Arab (Timur Tengah), dan taktik pertempuran di gurun.
Ilmu dan pengalaman ini sangat bermanfaat untuk TNI AD dalam menghadapi tugas operasi khusus atau misi pemeliharaan perdamaain PBB di Timur Tengah dan Afrika.
Masa depan kerja sama ini sangat menjanjikan untuk berkembang dan lebih meningkat lagi, dilihat dari komitmen kedua Kementrian Pertahanan dengan digendakannya pertemuan atau dialog-dialog strategis antar kementrian Pertahanan Indonesia dan Arab Saudi. Sebagai implementasi atas kerja sama pertahanan ini secara rutin diadakan Joint Military Committee (JMC), sebuah forum pertemuan bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi dengan pembahasan update review pertemuan sebelimnya dan potensi kerja sama baru. Ditambahkan lagi seperti pernyataan dari Kolonel Inf Hendy Antariksa, pejabat Paban VI/Kermalat Non ASEAN, Staf Latihan TNI AD, bahwa dialog-dialog strategis antara TNI AD dan AD Arab Saudi akan dilakukan secara intens, selanjutnya kunjungan Perwira Senior akan dilakukan agar hubungan kerja sama ini akan terus meningkat di bidang-bidang lain yang belum dilaksanakan.
Rekomendasi Bagi TNI AD
1. Bidang dan lingkup Persetujuan Kerja sama Pertahanan Antara Indonesia dan Arab Saudi sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak khususnya bagi TNI AD terutama untuk meningkatkan kapabilitas prajurit TNI AD dalam menghadapi penugasan Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB atau misi operasi lainnya di wilayah Timur Tengah dan Afrika.
2. Kerja sama Pertahanan ini dapat menjalin hubungan yang lebih erat bagi kedua institusi TNI AD dan AD Arab Saudi sebagai wahana kerja sama militer dan pertukaran informasi militer atau intelijen yang menyangkut pertahanan kedua negara.
3. Persetujuan Kerja sama Pertahanan antara Indonesia dan Arab Saudi harus direalisasikan kearah yang lebih maju jangan sampai hanya sebuah perjanjian di atas kertas berupa Undang- Undang, walaupun sudah ada bidang kerja sama yang telah dijalankan berupa bidang pendidikan, namun bidang yang lain masih belum dijalankan.
Daftar Referensi
Buku:
Armawi, A. (2019). Eksistensi TNI dalam Menghadapi Ancaman Militer dan Nir Militer Multidimensional di Era Milineal. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada (UGM).
Kemenhan, R. (2008). Buku Putih Pertahanan Indonesia. Jakarta: Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
L, C. A., & Mahrita. (2012). Defining National Interest. Jakarta.
Mustafa, Z. A. (2021). Analisis Kerja sama Indonesia – Arab Saudi dalam Penanggulangan Kejahatan Terorisme. Jurnal PIR Vol. 5 No. 2.
Papp, S. D. (1988). Contemporary International Relation: A Framework for Understanding, Second Edition. New York: Mac Millan Publishing Company.
16
Pedrason, R. (2015). Asean Defence Diplomacy: The Road To Southeast Asian Defence Community. Heidelberg. Heidelberg: University Heidelberg.
Saputra, M. M., Subekti, H. M., Nugraha, V. S., & dkk. (2013). Kajian Kebijakan Alutsista Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
Soekanto, S. (2002). Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi 4. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.