• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESEHATAN IBU HAMIL dan anak

N/A
N/A
Mieta Hammalah

Academic year: 2024

Membagikan "KESEHATAN IBU HAMIL dan anak"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Hak atas kesehatan merupakan bagian dari hak sosial dalam rumpun hak ekonomi, sosial, dan budaya, namun beririsan dengan hak-hak sipil dan politik. Kesehatan sebagai HAM merupakan isu yang sangat luas. Berbagai pendapat ahli menyatakan keterkaitannya.

Kesehatan dan HAM merupakan pendekatan yang saling terhubung untuk melengkapi konsep kesejahteraan manusia. Pendapat Jonathan M Mann, dalam artikelnya yang berjudul Health and Human Rights,memperkuat rujukan kesehatan sebagai hak asasi manusia. Tujuan menghubungkan kesehatan dan hak asasi manusia adalah memberikan kontribusi untuk memajukan kesejahteraan manusia melebihi apa yang dapat dicapai melalui pendekatan kesehatan dengan mendasarkan pada tinjauan hak asasi manusia.

Hak atas kesehatan merupakan bagian dari hak dasar setiap manusia, dan menjadi kebutuhan dasar setiap manusia yang tidak bisa dikurangi dalam kondisi apapun.

DASAR HUKUM

Setiap orang berhak mendapatakan hak atas kesehatan yang tinggi, sudah merupakan kewajiban pemerintah untuk menjamin hal tersebut. Begitupun dengan kelompok rentan seperti Ibu dan Anak. Untuk mengeimplementasikan pemenuhan hak atas kesehatan diperlukannya dasar hukum yang menjadi pendoman pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap ha katas kesehatan yang tinggi. Adapun dasar hukum yang terkait hak atas kesehatan sebagai berikut:

I. Internasional

 Kovenan Internasional Ekonomi, Sosial, dan Budaya (ICESCR) 1966, Article 12

“Negara yang menghadiri kovenan mengakui hak semua orang untuk menikmati standar kesehatan fisik dan kesehatan mental yang paling baik”.

 General Comment No. 14 (2000)

“Setiap orang berhak menikmati standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai, untuk menjalani kehidupan yang bermartabat. Realisasi hak atas kesehatan dapat tercipta melalui rumusan kebijakan kesehatan, implementasi program kesehatan yang sudah dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ataupun mengadopsi instrument hukum tertentu”.

 Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination againts Women (CEDAW) 1979, Article 12

“Negara harus mengambil langkah yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia dalam bidang pelayanan kesehatan untuk memastikan berbasis pada kesetaraan lakilai dan perempuan, akses pelayanan kesehatan, termasuk juga yang berhubungan dengan keluarga berecana”.

(2)

“Negara harus memastikan layanan perempuan yang sesuai dengan kehamilan, Haid/Menstruasi, dan periode pasca-melahirkan dengan memberikan pelayanan gratis sesuai keperluan, serta mendapatkan nutrisi yang memadai selama kehamilan dan menyusui”.

 International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (ICERD) 1965, Article 5

“Setiap orang berhak mendapat Hak atas kesehatan publik, perawatan medis, jaminan sosial dan layanan sosial”.

 Convention on the Right of the Child (CRC) 1989, Article 24

“Negara mengakui hak atas anak untuk menikmati standar kesehatan terbaik dalam kesehatan dan pelayanan dalam perawatan penyakit & rehabilitasi kesehatan. Negara memastikan tidak ada hak yang dirampas khususnya atas akses ke layanan kesehatan tersebut”.

II. Nasional

Peraturan hukum Indonesia yang mengatur tentang kesehatan telah tertuang dalam Konstitusi dasar negara UUD 1945, UU dan Peraturan Pemerintah, yakni :

 Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 28H :

“Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh layanan kesehatan”.

 Undang-Undang Dasar RI 1945, Pasal 34 ayat 3 :

“Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”.

 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999, Pasal 42 :

“Setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atas biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, miningkatkan rasa percaya diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”.

 Undang-Undang (UU) No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Pasal 4 & 5) :

“Setiap orang berhak atas kesehatan” & “Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan, serta memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau dan juga setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya”.

(3)

 Undang-Undang (UU) No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Pasal 126 & 131) :

“Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu.”

“Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak.”

Pemenuhan Hak Ibu dan Anak

Data Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia terbilang masih cukup tinggi, yakni sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup. Sebagai perbandingan, Singapura pada 2015 memiliki angka kematian ibu melahirkan 7 per 100.000, dan Malaysia di angka 24 per 100.000.

Meskipun penurunan AKI dan dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, akan tetapi perlu dilihat juga realisasi progresif yang selama ini dicapai.

Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2024 Tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak Pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan (UU KIA) merupakan payung hukum yang secara khusus mengatur tentang hak-hak dan perlindungan bagi ibu dan anak di Indonesia.

Undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup ibu dan anak, serta memberikan jaminan atas pemenuhan hak-hak mereka.

Adapun tujuan diberlakukannya Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2024 Tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak Pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan diatur dalam pasal 3, yakni :

Penyelenggaraan Kesejahteraan Ibu dan Anak bertujuan untuk:

a. memenuhi kebutuhan dasar;

b. mewujudkan sumber daya manusia dan generasi penerus bangsa yang unggul;

c. mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin;

d. melindungi dari tindak kekerasan, diskriminasi, penelantaran, eksploitasi, perlakuan merendahkan derajat dan martabat manusia, pelanggaran hak asasi manusia, serta perlakuan melanggar hukum lainnya; dan

e. mewujudkan rasa aman dan nyaman.

Hak Ibu dan Anak

(4)

Hak Ibu dan Anak diatur secara khusus di dalam Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2024 Tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak Pada Fase Seribu Hari Pertama yakni pada BAB II, Sebagai Berikut :

Bagian Kesatu Hak Ibu

Pasal 4 (1) Setiap Ibu berhak mendapatkan:

a. pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar, aman, bermutu, dan terjangkau pada masa sebelum hamil, masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan yang disertai pemenuhan jaminan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan di bidang kesehatan;

b. jaminan gizi pada masa kehamilan, persalinan, pascapersalinan sampai dengan Anak berusia 6 (enam) bulan;

c. pelayanan keluarga berencana;

d. pemenuhan kesejahteraan sosial;

e. pendampingan dari suami, Keluarga, pendamping profesional, dan/atau pendamping lainnya pada masa kehamilan, keguguran, persalinan, dan pascapersalinan;

f. rasa aman dan nyaman serta pelindungan dari segala bentuk kekerasan, diskriminasi, penelantaran, eksploitasi, perlakuan merendahkan derajat dan martabat manusia, pelanggaran hak asasi manusia, serta perlakuan melanggar hukum lainnya;

g. pelayanan konsultasi, layanan psikologi, danf atau bimbingan keagamaan;

h. edukasi, pengembangan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan tentang perawatan, pengasuhan, pemberian makan, dan tumbuh kembang Anak;

i. perlakuan dan fasilitas khusus pada sarana dan prasarana umum; dan

j. kesempatan menjadi pendonor air susu ibu bagi Anak yang tidak memungkinkan mendapatkan air susu ibu dari lbu kandungnya karena kondisi tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan.

(2) Selain hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap Ibu berhak memberikan air susu ibu eksklusif sejak Anak dilahirkan sampai dengan Anak berusia 6 (enam) bulan dan pemberian air susu ibu dilanjutkan hingga Anak berusia 2 (dua) tahun disertai pemberian makanan pendamping.

(3) Selain hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (21, setiap Ibu yang bekerja berhak mendapatkan:

a. cuti melahirkan dengan ketentuan:

(5)

1. paling singkat 3 (tiga) bulan pertama; dan

2. paling lama 3 (tiga) bulan berikutnya jika terdapat kondisi khusus yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter.

b. waktu istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter, dokter kebidanan dan kandungan, atau bidan jika mengalami keguguran;

c. kesempatan dan fasilitas yang layak untuk pelayanan kesehatan dan gizi serta melakukan laktasi selama waktu kerja;

d. waktu yang cukup dalam hal diperlukan untuk kepentingan terbaik bagi Anak;

dan/atau

e. akses penitipan anak yang terjangkau secara jarak dan biaya.

(4) Cuti melahirkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a wajib diberikan oleh pemberi kerja.

(5) Kondisi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hur-uf a angka 2 meliputi:

a. Ibu yang mengalami masalah kesehatan, gangguan kesehatan, dan/atau komplikasi pascapersalinan atau keguguran; dan/ atau

b. Anak yang dilahirkan mengalami masalah kesehatan, gangguan kesehatan, danf atau komplikasi.

Pasal 5

(1) Setiap Ibu yang melaksanakan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b tidak dapat diberhentikan dari pekerjaannya dan tetap memperoleh haknya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.

(2) Setiap Ibu yang melaksanakan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a berhak mendapatkan upah:

a. secara penuh untuk 3 (tiga) bulan pertama;

b. secara penuh untuk bulan keempat; dan

c. 75% (tujuh puluh lima persen) dari upah untuk bulan kelima dan bulan keenam.

(3) Dalam hal Ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (21 diberhentikan dari pekerjaannya dan/atau tidak memperoleh haknya, Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah memberikan bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 6

(1) Untuk menjamin pemenuhan hak Ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf e, suami dan/atau Keluarga wajib mendampingi.

(6)

(2) Suami sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak mendapatkan hak cuti pendampingan istri pada:

a. masa persalinan, selama 2 (dua) hari dan dapat diberikan paling lama 3 (tiga) hari berikutnya atau sesuai dengan kesepakatan; atau

b. saat mengalami keguguran, selama 2 (dua) hari.

(3) Selain cuti sebagaimana dimaksud pada ayat (2), suami diberikan waktu yang cukup untuk mendampingi istri dan/atau Anak dengan alasan:

a. istri yang mengalami masalah kesehatan, gangguan kesehatan, dan/atau komplikasi pascapersalinan atau keguguran;

b. Anak yang dilahirkan mengalami masalah kesehatan, gangguan kesehatan, danf atau komplikasi;

c. istri yang melahirkan meninggal dunia; dan/atau d. Anak yang dilahirkan meninggal dunia.

(4) Selama melaksanakan hak cuti pendampingan istri sebagaimana dimaksud pada ayat (2), suami berkewajiban:

a. menjaga kesehatan istri dan Anak;

b. memberikan gizi yang cukup dan seimbang bagi istri dan Anak;

c. mendukung istri dalam memberikan air susu ibu eksklusif sejak Anak dilahirkan sampai dengan Anak berusia 6 (enam) bulan; dan

d. mendampingi istri dan Anak dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan gizi sesuai dengan standar.

Pasal 7

Selain mendapatkan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5, Ibu penyandang disabilitas memperoleh hak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

mengenai penyandang disabilitas.

Pasal 8

Selain mendapatkan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5, Ibu dengan kerentanan khusus memperoleh hak terkait dengan kerentanannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 9

Hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) dan Pasal 5 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hak pekerja yang berlaku dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakedaan.

Pasal 10

(7)

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3), Pasal 5, dan Pasal 6 bagi aparatur sipil negara, anggota Tentara Nasional Indonesia, dan anggota Kepolisian Negara Republik lndonesia diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang aparatur sipil negara, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Bagian Kedua Hak Anak

Pasal 11 (1) Setiap Anak berhak:

a. hidup, tumbuh, dan berkembang secara optimal;

b. atas identitas diri dan status kewarganegaraan;

c. mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan Anak berusia 6 (enam) bulan dan pemberian air susu ibu dilanjutkan hingga Anak berusia 2 (dua) tahun, kecuali ada indikasi medis, Ibu tidak ada, atau lbu terpisah dari Anak;

d. mendapatkan makanan pendamping air susu ibu sesuai dengan standar mulai usia 6 (enam) bulan sampai dengan 2 (dua) tahun;

e. mendapatkan jaminan gizi sejak lahir sampai dengan usia 2 (dua) tahun;

f. memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi sesuai dengan perkembangan usia dan/atau kebutuhan fisik dan mental;

g. memperoleh pemenuhan kesejahteraan sosial;

h. mendapatkan pengasuhan dan perawatan yang terbaik dan berkelanjutan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal;

i. berekspresi, bermain, dan berinteraksi dengan Anak yang sebaya; dan j. mendapatkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang.

(2) Dalam hal terdapat indikasi medis, Ibu tidak ada, atau Ibu terpisah dari Anak

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, Anak berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif dari pendonor air susu ibu.

(3) Pemberian air susu ibu oleh pendonor air susu ibu dicatat dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan.

(4) Setiap Anak yang lahir berhak menjadi peserta jaminan kesehatan nasional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(5) Selain mendapatkan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Anak yang memerlukan perlindungan khusus memperoleh hak-haknya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan anak.

(8)

(6) Anak yang tidak mempunyai orang tua, pemenuhan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dibebankan kepada keluarga pengganti atau negara melalui lembaga asuhan anak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

(7) Anak yang mengalami gangguan perilaku diberi pelayanan dan asuhan yang bertujuan mengatasi hambatan dan memenuhi hak Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(8) Selain mendapatkan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Anak berhak mendapatkan hak lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai anak.

Program Pemerintah Dalam Memenuhi Hak Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak

Kunjungan Antenatal Care (ANC)

Program ini bertujuan untuk memantau kesehatan ibu hamil secara rutin, sehingga dapat mendeteksi dini adanya komplikasi dan memberikan penanganan yang tepat.

Imunisasi

Pemerintah memberikan imunisasi lengkap untuk bayi dan anak-anak guna melindungi mereka dari berbagai penyakit berbahaya. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD)

Program ini diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah anemia.

Kader Posyandu

Kader Posyandu dibentuk agar dapat berperan aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan, pemantauan pertumbuhan anak, dan deteksi dini masalah kesehatan pada ibu dan anak.

Program Keluarga Berencana (KB)

Program ini bertujuan untuk mengatur jarak dan jumlah kelahiran, sehingga ibu memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan kondisi tubuh dan memberikan perhatian yang optimal pada anak-anaknya.

(9)

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Program ini memberikan akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, termasuk ibu hamil dan anak.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk Ibu Hamil

Program ini memberikan bantuan keuangan kepada ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan selama kehamilan.

Upaya peningkatan akses air bersih dan sanitasi

Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik sangat penting untuk mencegah penyakit menular.

Referensi

Dokumen terkait

Anak tunarungu adalah seseorang anak yang mengalami hambatan dalam kemampuan mendengar karena rusaknya organ pendengaran sehingga mengalami gangguan dalam kemampuan berbahasa

perkembangannya ada di antara mereka yang mengalami hambatan, gangguan, dan kelambatan.. Bagi anak yang mengalami hal-hal seperti ini tentu

Ibu hamil adalah salah satu kelompok yang rentan mengalami masalah gangguan mental seperti depresi(Fauzy & Fourianalistyawati, 2017).Gangguan mental yang dialami

(5) Dalam hal terjadi penutupan atas keberadaan Panti Asuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), terhadap anak asuh yang ada di Panti Asuhan hak asuhnya diambil

dapat disimpulkan bahwa anak tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan dalam dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam

Solusi dalam mengatasi hambatan- hambatan yang terjadi dalam Implementasi Pendidikan Karakter di panti asuhan Nurul Hidayah adalah: 1pengarahan dan efaluasi seluruh pengurus panti

Definisi kehamilan dan gangguan psikologis pada ibu

Werry 1997 menyatakan bahwa seorang anak dan remaja yang mengalami gangguan perilaku akan menghabiskan dana sosial yang besar, ini disebabkan karena orang- orang yang mengalami gangguan