MAKALAH
KESEHATAN KELUARGA
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Oleh : Ayu Dania
17003
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GRIYA HUSADA SUMBAWA
TAHUN AJARAN 2017 / 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Kesehatan Keluarga. Penulisan makalah merupakan persyaratan untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia.
Dalam Penulisan makalah ini penulis menyadari masih terdapat kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Mengingat akan kemampuan yang dimiliki, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya, khususnya para pembaca makalah ini. Amin.
Sumbawa, 9 November 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 2
C. Tujuan... 2
BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kesehatan Keluarga... 3
B. Faktor yang Memengaruhi Keshatan Keluarga... 5
C. Interaksi Keluarga dalam Rentang Sehat Sakit... 7
D. Keluarga sebagai Unit yang Dirawat... 8
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan... 10
B. Saran... 10 DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini perkembangan di bidang kesehatan sudah begitu pesat, serta sudah menjadi sebuah hal yang sangat diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan lainnya. Melihat kondisi yang demikian, sudah seharusnya bukan hanya tenaga kesehatan saja yang menjadi penanggung jawab kesehatan, tetapi kesehatan merupakan tanggung jawab semua masyarakat. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Ini berarti keluarga merupakan kelompok yang secara langsung berhadapan dengan anggota keluarga selama 24 jam penuh. Menurut Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. (2007) peran keluarga adalah mampu mengenal masalah kesehatan, mampu membuat keputusan tindakan, mampu melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mampu memodifikasi lingkungan rumah, dan mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti dan karena kesehatanlah seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis.
Orang tua perlu mengenal keadaan sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggita keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung akan menjadi perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan dalam keluarga (suprajitno, 2004). Menurut Notoadmojo (2003) diartikan sebagai pengingat sesuatu yang sudah dipelajari atau diketahui sebelumnya. Sesuatu tersebut adalah sesuatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Dalam mengenal masalah kesehatan keluarga haruslah mampu mengetahui tentang sakit yang dialami pasien.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud kesehatan keluarga?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesehatan keluarga?
3. Bagaimana interaksi keluarga dalam rentang sehat sakit?
4. Bagaimana keluarga sebagai unit pelayanan yang dirawat?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian kesehatan keluarga.
2. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan keluarga.
3. Memahami interaksi keluarga dalam rentang sehat sakit.
4. Memahami keluarga sebagai unit pelayanan yang dirawat.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kesehatan Keluarga
Pengertian kesehatan keluarga adalah pengetahuan tentang keadaan sehat fisik, jasmani dan sosial dari individu-individu yang terdapat dalam satu keluarga. Antara individu yang satu dengan lainnya saling mempengaruhi dalam lingkaran siklus keluarga untuk mencapai derajat kesehatan keluarga yang optimal.
Keluarga yang sehat adalah salah satu kekayaan yang tak terhingga. Tapi tak sedikit dari kita yang masih mencari formulasi yang tepat untuk mengajak seluruh anggota keluarga memiliki kebiasaan hidup sehat. Mehmet C Oz, MD, dokter yang dibesarkan oleh Oprah Winfrey, memberikan tip praktisnya untuk kita. “Jadikan trik ini seperti waktu bersenang-senang untuk seluruh keluarga!”
1. Jangan keluar rumah dalam keadaan lapar. Ini adalah salah satu cara agar seluruh anggota keluarga bebas dari risiko obesitas. Jika kita keluar rumah dalam keadaan perut terisi, kita tidak akan kelaparan saat di perjalanan menuju tempat aktivitas. Terutama jika jarak rumah dan tempat tujuan cukup jauh, atau harus berhadapan dengan kemacetan. Rasa lapar akan memicu hormon ghrelin sehingga kita akan makan berlebihan setibanya di tempat tujuan.
“Plus tubuh membutuhkan 30 menit untuk mengembalikan ghrelin kembali ke level normal. Selama menunggu 30 menit itu, kita akan memakan apa saja untuk memenuhi panggilan rasa lapar. Jadi sebaiknya pergilah dengan keadaan perut terisi,” Oz memaparkan.
Tapi jika terpaksa, sediakan sekantong kacang almon sebagai camilan sehat di perjalanan.
2. Olahraga bersama setiap hari, minimal 20 menit buat apa olahraga di tempat lain jika kita sekeluarga bisa melakukannya di rumah.
Terlebih jika kita kesulitan untuk menemukan jadwal untuk berolahraga bersama. Oz menyarankan, sebelum sarapan bersama, bangunkan seluruh anggota keluarga untuk sekadar jalan pagi atau berolahraga dengan musik kesukaan bersama. “Tahu apa yang terjadi ketika kita mencobanya hanya 20 menit? Setelah itu semua anggota akan ketagihan karena sebenarnya 20 menit adalah waktu yang singkat,” ucap Oz sambil mengingatkan kita agar membuatnya menjadi seperti waktu bersenang-senang bagi seluruh anggota keluarga.
3. Jadilah “food decider” untuk keluarga kita “Jangan langsung membayangkan kita akan berperan seperti pemimpin yang otoriter, tapi buatlah seluruh anggota keluarga menyukai pilihan makanan yang kita berikan,” Oz mengingatkan. Caranya? “Jadilah koki untuk keluarga kita.” Ini adalah trik merayu sebenarnya. Sebab tanpa sadar, anggota keluarga akan lebih memilih menikmati makanan yang kita buat ketimbang makan di luar. Ketika mereka menyukai makanan rumah, itu artinya segala bahan yang kita pilih benar-benar lulus sensor untuk memenuhi standar kebersihan serta kesehatan. “Bagi yang punya anak-anak kecil, kita bisa menjadikan ini cara agar mereka suka buah dan sayur”.
4. Makan malamlah bersama. Sebenarnya duduk dan menikmati makan malam bersama bukanlah sekadar menghabiskan makanan yang disajikan. Lebih dari itu, ujar Oz, makan malam bersama akan menciptakan ikatan emosi kepada seluruh anggota keluarga. Ini adalah modal kesehatan emosi dan membentuk rasa percaya diri pada anggota keluarga, khususnya anak-anak. Ciptakan suasana yang hangat dan terbuka sehingga ritual makan malam bersama menjadi salah satu cara untuk memiliki waktu berkualitas bersama.
5. Cerita sebelum tidur. Bagi kita yang memiliki anak-anak yang masih kecil, membacakan dongeng adalah salah satu cara untuk membuat anak rileks menjelang tidur. Hal ini akan menjadi modal anak untuk mendapatkan kualitas tidur terbaik. Biasakan anak memiliki jam dan kualitas tidur yang baik karena jam dan kualitas tidur bisa sangat berpengaruh untuk kesehatan tubuh. “Bahkan ketika kita tidak dapat tidur dengan nyenyak, risiko serangan jantung dan stroke akan membayangi kita,” ujar Oz.
6. Jadikan anak sebagai “polisi” makan sehat. Ketika kita mengajak anak untuk menerapkan pola makan sehat, kita harus melibatkan mereka. Caranya, jadikan mereka “polisi” makanan. Jika salah satu anggota keluarga, termasuk orang tua, kedapatan menikmati junk food, maka anak-anak sebagai polisi makanan berhak memberikan sanksi kepada kita. Menurut Oz, ini tak hanya membuat anak bagian dari proses kebiasaan sehat, tetapi secara langsung bisa memilih makanan-makanan apa saja yang masuk kategori makanan sehat dan tidak. Dengan demikan, secara sadar mereka akan menerapkan pola makan sehat tanpa merasa dipaksa.
7. Eratkan asmara di atas tempat tidur bersama suami. Memiliki jadwal teratur untuk bercinta bersama suami adalah cara menyenangkan untuk membuat usia kita 3 tahun lebih panjang.
“Lakukan minimal dua kali seminggu,” Oz menyarankan.
B. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kesehatan Keluarga 1. Faktor Fisik
Ross, Mirowsaky, dan Goldstein tahun 1990 (dikutip dalam Setiawati. 2013: 21) memberikan gambaran bahwa ada hubungan positif antara perkawinan dengan kesehatan fisik. Contoh dari hubungan tersebut antara lain : seorang suami sebelum menikah terlihat kurus maka beberapa bulan kemudian setelah menikah akan terlihat
lebih gemuk, beberapa alasan dikemukakan bahwa dengan menikah suami ada yang memperhatikan dan pola makan lebih teratur begitu sebaliknya dengan istri (Setiawati, 2008 : 21).
2. Faktor Psikis
Terbentuknya keluarga akan menimbulkan dampak psikologis yang besar, perasaan nyaman karena saling memperhatikan, saling memberikan penguatan atau dukungan. Suami akan merasa tentram dan terarah setelah beristri, begitupun sebaliknya (Setiawati, 2008 : 22).
Berdasarkan riset ternyata tingkat kecemaasan istri lebih tinggi dibanding dengan suami, hal ini dimungkinkan karena bertambahnya beban yang dialami istri setelah bersuami.
3. Faktor Sosial
Status sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap fungsi kesehatan sebuah keluarga. Dalam sebuah keluarga ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendapatan yang diterima semakin baik taraf kehidupannya. Tingginya pendapatan yang diterima akan berdampak pada pemahaman tentang pentingnya kesehatan, jenis pelayanan kesehatan yang dipilih, dan bagaimana berespon terhadap masalah kesehatan yang ditemukan dalam keluarga (Setiawati, 2008 : 22).
Status sosial ekonomi yang rendah memaksa keluarga untuk memarginalkan fungsi kesehatan keluarganya, dengan alasan keluarganya akan mendahulukan kebutuhan dasarnya.
4. Faktor budaya
Faktor budaya terdiri dari (Setiawati, 2008 : 22-23) : a) Keyakinan dan praktek kesehatan
b) Nilai-nilai keluarga
c) Peran dan pola komunikasi keluarga d) Koping keluarga
C. Interaksi Keluarga dalam Rentang Sehat Sakit
Status sehat/sakit pada anggota keluarga dan keluarga saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Menurut Gilliss dkk. (1989) keluarga cenderung menjadi reaktor terhadap masalah kesehatan dan menjadi faktor dalam menentukan masalah kesehatan anggota keluarga.
Menurut Suchulan tahun 1965 dan Doberty & Canphell tahun 1988 (dikutip dalam Ali, Z. 2010) yang disederhanakan oleh Marilyn M.
Friedman, ada 6 tahap interaksi antara sehat/sakit dan keluarga : 1. Tahap pencegahan sakit dan penurunan resiko
Keluarga dapat memainkan peran vital dalam upaya peningkatan kesehatan dan penurunan resiko, misalnya mengubah gaya hidup dari kurang sehat ke arah lebih sehat (berhenti merokok, latihan yang teratur, mengatur pola makan yang sehat), perawatan pra dan pasca- partum, iunisasi, dan lain-lain.
2. Tahap gejala penyakit yang dialami oleh keluarga
Setelah gejala diketahui, diinterpretasikan keparahannya, penyebabnya, dan urgensinya, beberapa masalah dapat ditentukan.
Dalam berbagai studi Litman tahun 1974 (dikutip dalam Ali, Z. 2010) disimpulkan bahwa keputusan tentang kesehatan keluarga dan tindakan penanggulanangannya banyak ditentukan oleh ibu, yaitu 67%, sedangkan ayah hanya 15,7%. Tidak sedikit masalah kesehatan yang ditemukan pada keluarga yang kacau/tertekan.
3. Tahap mencari perawatan
Apabila keluarga telah menyatakan anggota keluarganya sakit dan membutuhkan pertolongan, setiap orang mulai mencari informasi tentang penyembuhan, kesehatan, dan validasi profesional lainnya.
Setelah informasi terkumpul keluarga melakukan perundingan untuk mencari penyembuhan/perawatan di klinik, rumah sakit, di rumah, dan lain-lain.
4. Tahap kontak keluarga dengan institusi kesehatan
Setelah ada keputusan untuk mencari perawatan, dilakukan kontak dengan institusi kesehatan baik profesional atau nonprofesional sesuai dengan tingkat kemampuan, misalnya kontak langsung dengan peskesmas, rumah sakit, praktik dokter swasta, paranormal/dukun, dan lain-lain.
5. Tahap respons sakit terhadap keluarga dan pasien
Setelah pasien menerima perawatan kesehatan dari praktisi, sudah tentu ia menyerahkan beberapa hak istimewanya dan keputusannya kepada orang lain dan menerima peran baru sebagai pasien ia harus mengikuti aturan atau nasehat dari tenaga profesional yang merawatnya dengan harapan agar cepat sembuh. Oleh karena itu terjadi respons dari pihak keluarga dan pasien terhadap perubahan tersebut
6. Tahap adaptasi terhadap penyakit dan pemulihan
Adanya suatu penyakit yang serius dan kronis pada diri seorang anggota keluarga biasanya memiliki pengaruh yang mendalam pada sistem keluarga, khususnya pada sektor perannya dan pelaksana fungsi keluarga. Untuk mengatsi hal tersebut, pasien/ keluarga harus mengadakan penyesuaian atau adaptasi. Besarnya daya adaptasi yang diperlukan dipengaruhi oleh keseriusan penyakitnya dan sentralitas pasien dalam unit keluarga. Apabila keadaan serius (sangat tidak mampu/semakin buruk) atau pasien tersebut orang penting dalam keluarga, pengaruh kondisinya pada keluarga semakin besar. (Ali Zaidin, 2010)
D. Keluarga Sebagai Unit Pelayanan yang Dirawat
Alasan keluarga sebagai unit pelayanan (Rust B Freeman, 1981):
1. Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lambaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.
2. Keluarga sebagai suatu kelompok yang dapat menimbulkan, mencegah, mengambil atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya.
3. Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga memang saling berkaitan, apabila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
4. Dalam memelihara kesehatan setiap anggota keluarga sebagai individu (pasien), keluarga tetap berperan sebagai pengambilan keputusan dalam memelihara kesehatan para anggotanya
5. Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagi upaya kesehatan masyarakat
Dalam melihat keluarga sebagai pasien ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan oleh perawat, diantara, diantarany adalah :
1. Setiap keluarga mempunyai cara yang unik dalam menghadapi masalah kesehatan para anggotanya.
2. Memperhatikan perbedaan dari tiap-tiap keluarga, dari berbagai segi : a) Pola komunikasi
b) Pengambilan keputusan
c) Sikap dan nalai-nilai dalam keluarga d) Kebudayaan
e) Gaya hidup
3. Keluarga daerah perkotaan akan sangat berbeda dengan keluarga daerah pedesaan.
4. Kemandirian dari tiap-tiap keluarga.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesehatan keluarga itu adalah pengetahuan tentang keadaan sehat fisik, jasmani dan sosial dari individu-individu yang terdapat dalam satu keluarga. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan keluarga, yaitu: fakor fisik, psikis, sosial, dan buaya.
Tahap interaksi antara sehat/sakit dan keluaga, yaitu: tahap pencegahan sakit dan penurunan risiko, tahap gejala penyakit yang dialami keluarga, tahap mencari perawatan, tahap kontak keluarga dengan institusi kesehatan, tahap respon sakit dari keluarga dan pasien, dan tahap adaptasi terhadap penyakit dan pemulihan.
Alasan keluarga sebagai unit pelayanan, yaitu: keluarga merupakan lembaga masyarakat, keluarga dapat menimbulkan dan mencegah masalah kesehatan dalam kelompoknya, masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, keluarga berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan anggotanya, keluarga merupakan peantara untuk berbagi upaya kesehatan masyarakat.
B. Saran
Semoga makalah ini memberikan informasi terkait kesehatan keluarga. Dan diharapkan kepada pembaca agar mengambil referensi lain sebagai bahan perbandingan. Saran dan kritikannya sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Z. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. EGC: Jakarta.
Freeman, R. B. 1981. Community Health Nursing Practice. Philadelphia: W.B.
Saunders
Friedman, M.M. 1998. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek. EGC: Jakarta.
Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses Belajar Mangajar dalam Pendidikan. Graha Ilmu: Yogyakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta:
Jakarta
Setiawati, S. 2008. Proses Pembelajaran Dalam Pendidikan Kesehatan. Trans Info Media: Jakarta
Suprajitno. 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga : Aplikasi dalam Praktik. EGC:
Jakarta.