• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESEIMBANGAN SUHU TUBUH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KESEIMBANGAN SUHU TUBUH"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta 2021

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DEMAM TYPOID DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN FISIOLOGIS

KESEIMBANGAN SUHU TUBUH

Ahmat Lukman1, Titis Senssusiana2

1Mahasiswa Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Universitas Kusuma Husada Surakarta,

[email protected]

2Dosen Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Universitas Kusuma Husada Surakarta,

[email protected]

ABSTRAK

Typoid adalah penyakit infeksi akut dan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran. hipertermi dapat mengganggu kebutuhan keseimbangan suhu tubuh seseorang.

Penatalaksaan terhadap hipertermi berupa tindakan non-farmakologis salah satunya Pemberian WTS yaitu dengan memberikan terapi WTS.

bermanfaat untuk menurunkan suhu tubuh, memberikan rasa nyaman, menurangi nyeri dan ansietas. Tujuan studi kasus ini untuk melaksanakan asuhan keperawatan pasien Typoid dalam pemenuhan kebutuhan keseimbangan suhu tubuh di ruang anggrek RSUD kota salatiga. Subjek yang digunakan yaitu satu pasien anak dengan typoid. Data dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi, dan pemeriksaan. Hasil studi kasus menunjukkan ada penurunan suhu pada pasien typoid setelah dilakukan tindakan kompres WTS. Teknik ini menggunakan kompres blok tidak hanya di satu tempat saja, melainkan langsung dibeberapa tempat yang memiliki pembuluh darah besar, dilakukan selama 2x dalam sehari sebelum di berikan antipiretik.didapatkan data bahwa pasien mengalami penurunan suhu, Penurunan suhu tubuh pada hari ke pertama dari 39°C menjadi 37,6

°C setelah di berikan kompres WTS dan di berikan antipiretik suhu menjadi 35°C atau dalam batas normal. Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh terapi Water Tepid Sponge terhadap penurunan suhu tubuh yang dirasakan pada pasien typoid.

Kata kunci : hipertermi, kompres, typoid, Water Tepid Sponge

(2)

Diploma Three of Nursing Study Program Faculty of Health Sciences University of Kusuma Husada Surakarta 2021 NURSING OF CHILDREN WITH TYPOID FEVER IN THE

FULFILLMENT OF BODY TEMPERATURE BALANCE PHYSIOLOGICAL NEEDS

Ahmat Lukman1, Titis Senssusiana2

1Student of Diploma Three Nursing Study Program University of Kusuma Husada Surakarta,

[email protected]

2Lecturer of Diploma Three Nursing Study Program, University of Kusuma Husada Surakarta,

[email protected]

ABSTRACT

Typhoid is an acute infectious disease and symptoms of fever that are more than 1 week, digestive disorders and impaired consciousness. Hyperthermia can disrupt a person's body temperature balance needs. Management of hyperthermia is in the form of non-pharmacological measures, one of which is WTS administration, namely by providing WTS therapy. It is useful for lowering body temperature, providing a sense of comfort, reducing pain and anxiety. The purpose of this case study is to carry out nursing for Typhoid patients in meeting the needs of body temperature balance in Anggrek room of Salatiga City Hospital. The subject used was one pediatric patient with typhoid. Data were collected from the results of interviews, observations, and examinations. The results of the case study showed that there is a decrease in temperature in typhoid patients after the WTS compress action was carried out. This technique used block compresses not only in one place, but directly in several places with large blood vessels, carried out twice a day before given antipyretics. Then obtained data that the patient experienced a decrease of temperature. The decrease of body temperature occurred on the first day from 39oC to 37.6 °C after given a WTS compress and given an antipyretic, the temperature was 35°C or within normal limits. The conclusion is that there is an effect of Water Tepid Sponge therapy on the decrease of body temperature felt in typhoid patients.

Key words: Hyperthermia, Compress, Typhoid, Water Tepid Sponge

(3)

PENDAHULUAN

Typoid abdominalis adalah suatu penyakit infeksi yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman Salmonella typhoid, penyakit tipoid abdominalis biasanya menyerang saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari seminggu (Puji, 2018).

Typoid abdominalis adalah penyakit endemik di Indonesia dan penyakit akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica khususnya turunan Salmonella typhi (Andayani, 2018). Typoid abdominalis ditandai dengan demam insidious yang berlangsung lama, sakit kepala yang berat, badan lemah, anoreksia ,bradikardi, relative, splenomegali, Pada penderita kulit putih 25% di antaranya menunjukan adanya “rose spot” pada tubuhnya ,batuk tidak produktif pada awal penyakit (Masriadi, 2017).

Typoid abdominalisdi dunia mencapai 11 – 20 juta kasus per tahun yang mengakibatkan sekitar 128.000 – 161.000 kematian setiap tahunnya (WHO, 2018). Kasus demam typoid di Indonesia dilaporkan dalam surveilans tifoid dan paratifoid Nasional. Demam

tifoid masih umum terjadi di negara berkembang, hal ini mempengaruhi sekitar 21,5 juta orang setiap tahun.

(Kobayashi, 2016). Berdasarkan data Sistem kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kementerian Kesehatan tahun 2016, kasus demam tifoid di Jawa Tengah cenderung fluktuatif.

Pada tahun 2014 terdapat 17.606 kasus, turun pada tahun 2015 terdapat 13.397 kasus, dan naik kembali pada tahun 2016 menjadi 244.071 kasus (Kemenkes, 2016).

Tanda dan gejala typoid abdominalis akan muncul setelah terinfeksi dan menyebabkan masalah bagi penderitanya. Pada umumnya gejala klinis timbul 8-14 hari dengan rentang 3-30 hari, setelah infeksi yang ditandai dengan demam tinggi atau suhu tubuh tidak normal mencapai 40°C yang tidak turun selama lebih dari 1 minggu, demam tinggi muncul terutama pada sore hari. Gejala lain yang mungkin dialami ialah sakit kepala hebat, nyeri otot, kehilangan selera makan, mual, muntah, sering sukar buang air besar (konstipasi) dan sebaliknya dapat terjadi diare, tergantung jumlah bakteri yang masuk (Thomas dan Sucipto, 2015).

(4)

Salah satu masalah suhu tubuh jika tidak ditangani dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan erektrolit dan biasa menyebabkan kejang. Jika terjadi kejang yang berulang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada otak yang menyebabkan ganguan tingkah laku, serta pada dehidrasi yang berat dapat menyebabkan syok dan bisa berakibat fatal yaitu berujung kematian (Wijayahadi, 2011).

Biasanya pada suhu tubuh yang tinggi akan melakukan pendinginan melalui pengeluaran keringat. Namun, dalam kondisi tertentu (suhu udara diatas 35oC dan dengan kelembaban yang tinggi), mekanisme pendinginan ini menjadi kurang efektif ketika kelembaban udara yang tinggi, keringat tidak akan menguap dengan cepat (Puji, 2018).

Penatalaksanaan demam Typoid yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan obat penurun panas untuk mempercepat penurunan suhu. Sedangkan pemberian terapi non farmakologis sering dikesampingkan.

Tindakan non farmakologis yang dapat dilakukan adalah yaitu kompres hangat, kompres dingin, gunakan

pakaian tipis dan nyaman, banyak minum agar tidak dehidrasi, seka dan Water Tepid Sponge (WTS) (Puji, 2018).

Berdasarkan penelitian Memed 2014 tentang efektifitas penurunan suhu tubuh antara kompres hangat dan WTS pada anak usia 6 bulan-3 tahun dengan demam di Puskesmas Kartasura Sukoharjo menyimpulkan bahwa lebih efektif kompres WTS dalam menurunkan suhu tubuh anak demam, dibandingkan dengan metode kompres hangat. Kompres hangat mengalami penurunan suhu mulai dari 0.1oC – 0.3oC dan untuk WTS penurunan suhu berkisar antara 0.3oC - 0.6oC.WTS merupakan kombinasi teknik blok dengan seka. Teknik ini menggunakan kompres blok tidak hanya di satu tempat saja, melainkan langsung dibeberapa tempat yang memiliki pembuluh darah besar. Pemberian Water Tepid Sponge juga akan mempercepat pelebaran pembuluh darah perifer memfasilitasi perpindahan panas dari tubuh kelingkungan sekitar sehingga mempercepat penurunan suhu tubuh (Reiga, 2015).

(5)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan pemberian tindakan berupa Water Tiped Sponge terhadap peningkatan keseimbangan suhu tubuhpada anak di RSUD Kota Salatiga.

METODE STUDI KASUS

Desain penelitian yang digunakan pada karya tulis ilmiah ini adalah studi kasus, yaitu studi yang mengeksplorasi masalah atau kejadian dengan pengambilan data yang mendalam dan menyertakan berbagai sumber informasi yang jelas dan dibatasi oleh waktu, tempat, serta kasus berupa peristiwa, aktivitas atau individu. Pengumpulan data dalam studi kasus dapat diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi (Surjaweni, 2014).

Studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada anak demam typoid dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis keseimbangan suhu tubuh di RSUD kota Salatiga dengan di lakukan Intervensi yang akan dilakukan yaitu pemberian kompres Tepid Water Sponge guna menurunkan suhu tubuh dengan

menggunakan teknik kompres yang mengabungkan teknik blok dan seka, pemberian kompres dilakukan dengan lima titik (leher, 2 aksila, dan 2 pangkal paha), kemudian dilakukan dengan menyeka bagian perut dan dada, atau seluruh tubuh dengan air hangat menggunakan kain (Puji, 2018). yang dilakukan pada tanggal 19 Februari 2021 - 21 Februari 2021.

HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam studi kasus ini didapatkan hasil pengkajian pada Hari, Jumat 19 Februari 2020 pukul 12:00 WIB. Di dapatkan data subjektif ibu pasien mengatakan 7 hari yang lalu An.M mengalami demam naik turun di sore dan malam hari dan badan teraba panas, data obyektif yaitu tekanan darah 90/80 mmHg, Nadi 90x/menit, respirasi 20x/menit, suhu tubuh 39ºC, pasien tampak lemas, kulit teraba panas, kulit tampak memerah, BAB cair, lidah kotor, dan lidah pucat putih, anak tidak mampu mandi, minat untuk keperawatan diri kurang.

Diagnosis keperawatan utama yang ditegakkan penulis adalah Hipertermia (D. 0130) berhubungan dengan proses penyakit. Diagnosis tersebut sesuai dengan batasan

(6)

karakteristik yaitu ibu pasien mengatakan 7 hari yang lalu An.M mengalami demam naik turun di sore dan malam hari dan badan teraba panas, tekanan darah 90/80 mmHg, Nadi 90x/menit, respirasi 20x/menit, suhu tubuh 39ºC, pasien tampak lemas, kulit teraba panas, kulit tampak memerah, BAB cair, lidah kotor, dan lidah pucat putih, anak tidak mampu mandi, minat untuk keperawatan diri kurang (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016).

Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk An.M selama 3x24 yaitu observasi monitor suhu tubuh, berikan terapi Water Tepid Sponge, berikan cairan oral, ganti linen setiap hari jika basah, anjurkan keluarga melakukan kompres water tepid sponge, kolaborasi pemberian antipiretik 3x200 mg.

Implementasi yang dilakukan selama 3x24 pada An.M didasarkan pada rencana atau intervensi yang telah dibuat oleh penulis yaitu pemberian terapi water tepid sponge untuk menurunkan suhu tubuh anak dilakukan selama 3 hari yaitu pada tanggal 19 Februari 2021 - 21 Februari 2021..

Implementasi hari pertama jumat, 19 Februari 2021 pukul 14.50 WIB, yaitu memonitor suhu tubuh dan sebelum memberi terapi water tepid sponge. Pukul 15.00 WIB melakukan tindakan water tepid sponge kemudian melakukan evaluasi setelah tindakan Water Tepid Sponge. Kemudian pada pukul 17.40 WIB yaitu memonitor suhu tubuh sebelum tindakan water tepid sponge.

Implementasi hari kedua, Sabtu 20 Februari 2021 pukul 07.30 WIB yaitu memonitor suhu tubuh. Pukul 07.35 WIB menganjurkan keluarga melakukan terapi WTS jika pasien demam tinggi. Kemudian pada pukul 07.45 melakukan kolaborasi antipiretik 3x200 Mg di hari ke-1.

Implementasi hari ketiga, Minggu 21 Februari 2021 pukul 08.00 WIB yaitu memonitor suhu tubuh. Kemudian pada pukul 08.10 WIB memberikan cairan oral.

Teknik pemberian kompres Water Tepid Sponge ini sangat efektif untuk menurunkan suhu tubuh.

Pemberian kompres Water Tepid Sponge pada leher, 2 aksila, 2 pangkal paha sebagai daerah dengan letak pembuluh darah untuk mempercepat

(7)

pelebaran pembuluh darah perifer memfasilitasi perpindahan panas dari tubuh kelingkungan sekitar sehingga mempercepat penurunan suhu tubuh (Puji, 2018).

Setelah dilakukan intervensi keperawatan dan implementasi keperawatan menggunakan water tepid sponge, selanjutnya dilakukan evaluasi selama 3 hari untuk mengetahui perubahan tingkat keseimbangan suhu tubuh pada An.

M.

Evaluasi yang diperoleh pada hari pertama, jumat 19 Februari 2021 jam 18.30 WIB, didapatkan data subyektif : ibu pasien mengatakan setelah dilakukan tindakan keperawatan kondisi anak yang semula demam tinggi setelah di kompres menjadi tidak terlalu panas, data obyektif yaitu : kulit masih hangat, pasien tidak terlalu panas, suhu 37,6ºC. Assesment : masalah Hipertermi belum teratasi. Planning : lanjutkan intervensi : monitor suhu tubuh, anjurkan keluarga melakukan terapi Water Tepid Sponge jika pasien demam tinggi, kolaborasi pemberian antipiretik dihari kedua.

Evaluasi yang diperoleh pada hari kedua, Sabtu 20 Februari 2021 jam 07.30 WIB, didapatkan data subyektif : ibu pasien mengatkan malam sempat demam dan ibu pasien akan mengulang teknik Water Tepid Sponge jika anaknya mengalami demam lagi, data obyektif : kulit tidak teraba hangat, kulit tidak kemerahaan, suhu 36ºC. Assesment : masalah Hipertermi belum teratasi. Planning : lanjutkan intervensi, monitor suhu tubuh, berikan cairan oral.

Evaluasi yang diperoleh pada hari ketiga, Minggu 21 Februari 2021 jam 08.15 WIB, didapatkan data subyektif : ibu pasien mengatakan anak sudah tidak mengalami demam, data obyektif : suhu tubuh pasien tampak membaik, kulit tidak merah, suhu kulit membaik, suhu 36,6ºC Assesment : masalah Hipertermi teratasi. Planning : hentikan intervensi.

4.1 Evaluasi perubahan suhu tubuh pada anak yang sudah dilakukan intervensi mengunakan Water Tepid Sponge

(8)

Berdasarkan hasil studi, dapat diketahui bahwa sesudah dilakukan intervensi keperawatan water tepid sponge terjadi perubahan keseimbangan suhu tubuh yaitu sebelum water tepid spongedengan suhu 39ºC termasuk kategori Hipertemi atau tidak seimbangnya suhu tubuh, kemudian setelah dilakukan water tepid sponge menurun dengan suhu 37,6ºC termasuk kategori hampir garis normal dan setelah di berikan terapi dimalam hari dengan kolaborasi pemberian antipiretik suhu tubuh pada An. M menurun dengan suhu 36ºC.

KESIMPULAN

Pengelolaan Asuhan Keperawatan pada pasien demam thyoid mengalami penurunan suhu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam

didapatkan hasil adanya penurunan suhu tubuh dari suhu 39°C menjadi 37,6°C. Kemudian setelah di berikan kompres Water Tepid Spongedan di berikan antipiretik suhu menjadi 35°C atau dalam batas normal.

Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian Water Tepid Sponge terhadap penurunan suhu tubuh pada anak . SARAN

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien anak demamthypoid, dalam hal ini penulis memberikan beberapa saran setelah langsungmengamati lebih dekat dalam perkembangan status kesehatan pasien.

1. Bagi rumah sakit khususnya

RSUD kota Salatiga

meningkatkan

pemberianpelayanan kesehatan dan mempertahankan kerjasama baik antara tim kesehatan ataupun pasien, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang optimal.

2. Bagi Perawat memiliki tanggung jawab dan senantiasa meningkatkan pelayanan kepada

39 38.6

37.9 37.6

36.5 37 37.5 38 38.5 39 39.5

tindakan 1 tindakan 2

Suhu

Diagram Penurunan Suhu Tubuh

pre post

(9)

pasien, memberikan asuhan keperawatan khuusnya pada pasien anak demam typoid.

3. Bagi institusi pendidikan memberikan bahan referensi

khususnya perawatan

kegawatdaruratan dalam penanganan kasus anak demam Thyroid sehingga dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai pemberian kompres Water Tepid Sponge.

4. Bagi pasien dan keluarga tetap menjaga kesehatannya dengan melakukan kompres Water TepidSponge secara mandiri dalam menurunkan suhu apabila mengalami demam.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani dan Arulita. (2018).

Kejadian Tipoid Di Wilayah Kerja

PuskesmasKarangmalang.Htt p;//Jurnal.Unnes.Ac.Id/Sju/In dex.Php/Higeria

Masriadi. (2017). Epidemiologi Penyakit Menular.

Makassar:Rajawali Pers.

Padila. (2013). Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta:

Nuha Medika.

Potter & Perry. (2012). Fundamental of Nursing. Jakarta: EGC Puji Astuti. (2018). Penerawan Water

Tepid Sponge Untuk Mengatasi Demam Typoid Pada An.Z. Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Volume 4, Nomor 2, Juli 2018. 20-29

Puji Astuti. (2018). Penerawan Water Tepid Sponge Untuk Mengatasi Demam Typoid Pada An.Z. Jurnal Keperawatan Karya Bhakti Volume 4, Nomor 2, Juli 2018. 20-29

Purwanti, S. (2017). (Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Perubahan Suhu Tubuh Pada Pasien Anak Hipertermia Di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.

Moewardi Surakarta. Jurnal Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol. 1. No.

2., 81-86

Reiga, Celso Garcia De La. 2010.

Espanol. Kessinger Publising.

Riasmini, N. M., Permatasari, H., Chairani, R., Astuti, N. P., Ria, R. T. T. M., &Handayani, T. W. (2017). Panduan Asuhan Keperawatan Individu, Keluarga, Kelompok, dan Komunitas dengan Modifikasi NANDA, ICNP, NOC dan NIC di Puskesmas dan Masyarakat.

(J. Sahar, Riyanto, & W.

Wiarsih, Eds.). Jakarta:

Penerbit Universitas Indonesia.

(10)

Riyanto, A. (2017). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika

Sudoyo, Aru W, dkk. (2018). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.

Jilid I Edisi VI. Jakarta:

Interna Publishing;.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Swarjana, I Ketut. (2015).

Metodologi Penelitian

Kesehatan, Edisi

Revisi.Yogyakarta: Andi Offset.

Thomas & sucipto. (2015). Buku

Emas Pemeriksaan

Laboratorium Demam Typoid Pada Anak. Jurnal skala husada. Vol 12 No 22-26 Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017).

Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI

Word Health Organization (WHO).

(2018). Risiko Penyakit Berdasarkan Klasifiksi Umur Menurut WHO. Sehatq.Com

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada ibu postpartum normal dengan gangguan pemenuhan kebutuhan fisiologis : nyeri dan kenyamanan

Hasil studi menunjukkan bahwa di ruang flamboyan 3 RSUD Salatiga, pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman dengan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada ibu postpartum normal dengan gangguan pemenuhan kebutuhan fisiologis : nyeri dan kenyamanan masalah keperawatan nyeri

Prodi Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta 2022 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID DALAM PEMENUHAN

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien stroke hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis dengan masalah keperawatan resiko perfusi serebral

Hasil studi pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien ibu post partum dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis produksi ASI dengan masalah keperawatan menyusui tidak efektif yang dilakukan

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pasien hipertensi dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis: gangguan sirkulasi dengan masalah keperawatan risiko perfusi

Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada satu orang pasien hipertensi emergency dengan gangguan pemenuhan kebutuhan fisiologis dengan masalah keperawatan