KESESUAIAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN WAKAF UNTUK PENDIDIKAN TINGGI DENGAN PBWI NO. 01 TAHUN 2020
DAN FATWA MUI NO. 2 TAHUN 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR)
Tesis
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Hukum (M.H) Dalam Bidang Hukum Ekonomi Syariah
Oleh:
Nur Ruwaida NIM. 220420384
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA 1445 H/2023 M
KESESUAIAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN WAKAF UNTUK PENDIDIKAN TINGGI DENGAN PBWI NO. 01 TAHUN 2020
DAN FATWA MUI NO. 2 TAHUN 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR)
Tesis
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Hukum (M.H) Dalam Bidang Hukum Ekonomi Syariah
Oleh:
Nur Ruwaida NIM. 220420384
Pembimbing:
Dr. M. Dawud Arif Khan, S.E., Ak., M.Si., CPA Dr. Hendra Kholid, M.A
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA 1445 H/2023 M
i
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Tesis dengan judul Kesesuaian Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf untuk Pendidikan Tinggi dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR) yang disusun oleh Nur Ruwaida dengan Nomor Induk Mahasiswa 220420384 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan dinilai oleh pembimbing telah memenuhi syarat ilmiah untuk diajukan di siding munaqasyah.
ii
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Tesis dengan judul “Kesesuaian Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf untuk Pendidikan Tinggi dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR)” oleh Nur Ruwaida dengan NIM 220420384 telah diujikan di sidang Munaqasyah Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada tanggal 31 Agustus 2023. Tesis tersebut telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Hukum (M.H) dalam bidang Hukum Ekonomi Syariah.
iv
v
PERNYATAAN PENULIS
Saya bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Nur Ruwaida
NIM : 220420384
Tempat/Tgl Lahir : Sungai Pasir, 23-11-1997 Program Studi : Hukum Ekonomi Syariah
menyatakan bahwa tesis dengan judul “Kesesuaian Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf untuk Pendidikan Tinggi dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR)” adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.
Jakarta, 11-08-2023
Yang membuat pernyataan,
Nur Ruwaida
vi
vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Nur Ruwaida
NIM : 220420384
Program Studi : Hukum Ekonomi Syariah
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan Tesis saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Jakarta Pada tanggal : 11-08-2023
viii
ix ABSTRAK
Kesesuaian Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf untuk Pendidikan Tinggi dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR).
Nur Ruwaida, 220420384.
Biaya sekolah menjadi salah satu isu pendidikan di Indonesia. Persoalan ini dapat ditanggulangi melalui wakaf. Namun, dalam penerapannya terjadi beberapa penyelewengan, yaitu tidak melaporkan penggantian nazir ke BWI, LKS-PWU tidak menerbitkan sertifikat wakaf uang, dan penyelewengan dana wakaf. Oleh karena itu, dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan wakaf dalam PBWI No.
01 Tahun 2020 terhadap Fatwa MUI N0. 2 Tahun 2002, mekanisme pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir UNAIR, dan kesesuaian penerapan wakaf pendidikan pada Nazir UNAIR dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI N0. 2 Tahun 2002.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa studi kasus dengan menggunakan pendekatan yuridis empiris. Adapun sumber data primer diperoleh melalui wawancara, dan data sekunder berupa peraturan perundang- undangan, fatwa, buku, jurnal, dan artikel. Data diolah melalui empat tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, kesimpulan, dan verifikasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan: Pertama, mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan hasil wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 telah sesuai dan memperhatikan ketentuan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 mengenai kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah, yaitu menjaga kelestarian nilai pokok wakaf dan penyaluran hasil wakaf harus sesuai dengan prinsip syariah. Kedua, Adapun mekanisme pemanfaatan hasil wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi disalurkan untuk biaya pendidikan Mahasiswa UNAIR baik akademik maupun non akademik. Ketiga, penerapan wakaf pendidikan pada Nazir UNAIR telah sesuai dengan panduan dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002, karena tidak terdapat hal-hal yang dilarang dalam PBWI dan Fatwa MUI, yaitu dilarang menjual/menghibahkan/mewariskan harta benda wakaf, dilarang merubah peruntukkan harta benda wakaf, dan dilarang menyalurkan hasil wakaf pada hal-hal yang dilarang dalam syariah.
Kata Kunci: Kesesuaian, Wakaf Pendidikan, PBWI, Fatwa MUI
x
xi
لما ل صخ
عم لياعلا ميلعتلل فقولا مادختساو ةرادإ ةمءلام
PBWI
مقر
01
ماعل
2020
ءاملعلا سلمج ىوتفو
يسينودنلإا
(MUI)
مقر
ماعل
2ةسارد(
2002ةيلاح : ن ةموظنم رظ
UNAIR )
.
،اديور رون
220420384
.
،كلذ عمو .فقولا للاخ نم ةلكشلما هذه ةلجاعم نكيمو ،ايسينودنإ في ةيميلعت ةيضق يه ةيسردلما موسرلا لىإ رظانلا لئادب نع غلابلإا مدع يهو ،تافلاخلما نم ديدعلا كانه تناك هذيفنت في رادصإ مدعو ،
BWILKS-PWU
ةيناكملإ ليلتح هيف ثبح كانه ،ةيادب.فقولا لاومأ سلاتخاو ،يدقنلا فقولا تاداهشل
فقولا في ةرادلإا هذه مادختسا
PBWIمقر 01 ةنسل ىوتفلا نأشب
2020مقر
MUI2 ةنسل ،
2002لياعلا ميلعتلا ليومتل فقولا مادختسا ةيلآ
يرظنا في
UNAIR
فقولا ذيفنت نازيمو ، يميلعتلا
في يرظنا
UNAIR
عم مقر
PBWI01 ةنسل ىوتفلا في
2020مقر
MUIةنسل
2.
2002ثحبلا اذه مدختسي تم .بييرتج نيوناق جهنم مادختسبا ةيلاح ةسارد لكش في يعونلا جهنلما
ىوتفو ةمظنأو ينناوق لكش في ةيوناثلا تناايبلاو تلاباقلما للاخ نم ةيلولاا تناايبلا رداصم ىلع لوصلحا ناايبلا ضرعو ،تناايبلا ليلقت يهو ،لحارم عبرأ للاخ نم تناايبلا ةلجاعم متت .تلااقمو تلامجو بتكو ،ت
.ققحتلاو ،جاتنتسلااو :لىإ ةساردلا هذه جئاتن يرشت ،ًلاوأ
في لياعلا ميلعتلا ليومتل فقولا تادئاع مادختساو ةرادإ ةيلآ
PBWIمقر ةنسل
01ىوتفلا ماكحأ يعاريو عم قفاوتي
2020مقر يسنودنلإا ءاملعلا 2
ةنسل مازتللاا نأشب
2002ئدابلم ًاقفو نوكي نأ بيج فقولا تادئاع عيزوتو فقولل ةيساسلأا ةميقلا ىلع ظفلحا يهو ،ةعيرشلا ئداببم ةعيرشلا اينثا .
، بلاط ميلعت فيلاكت لىإ لياعلا ميلعتلا ليومتل فقولا تادئاع مادختسا ةيلآ هيجوت متي
UNAIR
.ةييمداكلأا يرغو ةييمداكلأا ناك ءاوس ، اثلثا
، نا في يميلعتلا فقولا ذيفنت متي يرظ
UNAIR
اًقفو
في ةدراولا ةيهيجوتلا ئدابملل
PBWIمقر
01ةنسل
2020ىوتفلاو
MUIمقر
2ةنسل لا هنلأ ،
2002في روظمح ءيش يأ دجوي
PBWI،فقولا لاومأ ةثارو/ةبلها/عيب عنم وهو ،يسنودنلإا ءاملعلا سلمج ىوتفو
اعرش مريح ام وه فقولا اههيجوت عنمو ،فقولا لاومأ ةيمست يريغت عنمو .
ةيحاتفلما ةملكلا ,يميلعتلا فقو , ةقفاولما :
ىوتف ,
PBWI MUIxii
xiii ABSTRACT
The Suitability of The Waqf Management and Utilization for Higher Education Sector between The PBWI No. 01 of 2020 and Fatwa MUI No.
2 of 2002 (A Case Study: Nazir UNAIR Organization).
Nur Ruwaida, 220420384.
The cost of education became one of the issues of education in Indonesia.
The issue can be counteracted by waqf. However, a number of lapses in the application were not to report on nazir's return to BWI, LKS-PWU did not issue the money waqf certificate, and the waqf's misappropriation. Therefore, in this study aims to analyze the suitability of the management mechanism and utilization of waqf in PBWI No. 01 of 2020 against the Fatwa MUI No. 2 of 2002, mechanism utilization of waqf for higher education funding in the Nazir UNAIR, and the suitability of application of education waqf at Nazir UNAIR with PBWI No. 01 of 2020 and Fatwa MUI No. 2 of 2002.
This qualitative case study employed an empirical jurisdiction approach.
As for primary data sources to be obtained through interviews, and secondary data of legislation, fatwa, books, journals, and articles. Data is processed through four phases, which is data reduction, data presentation, conclusion, and verification.
The result of this study showed that: Firstly, the mechanism of management and utilization of waqf results for higher education funding in PBWI No. 01 of 2020 has been appropriate and paid attention to the provisions of the Fatwa MUI No. 2 of 2002 concerning compliance with Islamic principles, are preserving basic value of waqf and distributing waqf results in accord with the Islamic principle. Secondly, the mechanism of utilization waqf results for higher education funding are distributed as educational aids to support UNAIR students academic and non-academic activities. Thirdly, the application of the waqf education on Nazir UNAIR is in accordance with the guide in PBWI No. 01 of 2020 and Fatwa MUI No. 2 of 2002, because there were no things prohibited in PBWI and the Fatwa MUI, which is forbidden to sell/donate/bequeath an waqf's property, forbidden to change the allocation of waqf objects, and is prohibited from channeling waqf results in sharia matters.
Keywords: Suitability, Education Waqf, PBWI, Fatwa MUI
xiv
xv
PERSEMBAHAN
Tesis ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua penulis, Bapak Syaroni dan Ibu Romlah, yang telah memberikan dukungan moril dan materil serta doa yang selalu dipanjatkan, semoga Allah muliakan dan mengangkat derajat beliau. Amῑn
xvi
xvii
KATA PENGANTAR
Pada kesempatan ini yang penuh syukur ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang mempunyai peran besar atas selesainya tesis ini, di antaranya:
1. Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Ibu Dr. Hj. Nadjematul Faizah, S.H., M.Hum.
2. Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Bapak Dr. H. Muhammad Azizan Fitriana, M.A.
3. Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Bapak Dr. Hidayat, M.A.
4. Dosen Pembimbing I, Bapak Dr. M. Dawud Arif Khan, S.E., Ak., M.Si., CPA, dan Dosen Pembimbing II, Bapak Dr. Hendra Kholid, M.A, yang telah memberikan waktu, gagasan, kemudahan, dan kepercayaan kepada penulis selama proses penyelesaian tesis ini.
5. Segenap Dosen Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang telah berkenan membagikan ilmu-ilmunya.
6. Seluruh civitas akademik Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.
7. Nazir Organisasi Universitas Airlangga dan Pusat Pengelolaan Dana Sosial, khususnya yang menjadi narasumber/responden dalam penelitian ini, yaitu Bapak Muhammad Nur Kholiq, S.H., M.Si., Ibu Celine Ilyassin, S.E., M.A., Ibu Shofiya Khaeroni, S.E., Ak., MM, dan segenap staf yang telah memberikan peluang dan kemudahan dalam mendapatkan data-data dalam penelitian ini.
8. Kedua orang tua penulis, semoga Allah muliakan dan diangkat derajatnya.
xviii
Akhir kata, kepada semua pihak yang telah mendukung terwujudnya tesis ini, semoga Allah membalasnya dengan berlimpah kebaikan. Âmῑn.
Penulis.
xix DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN PENULIS ... v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ....……….ix
PERSEMBAHAN ... xv
KATA PENGANTAR ... xvii
DAFTAR ISI ... xix
DAFTAR TABEL ... xxiii
DAFTAR GAMBAR ... xxv
PEDOMAN TRANSLITERASI... xxvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan ... 15
C. Tujuan Penelitian ... 16
D. Kegunaan Penelitian ... 17
E. Kajian Pustaka ... 17
F. Metode Penelitian ... 29
G. Sistematika Penulisan ... 31
xx
BAB II WAKAF PENDIDIKAN, PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA, DAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA ... 35 A. Wakaf Pendidikan ... 35 1. Pengertian Wakaf Pendidikan ... 35 2. Dasar Hukum Wakaf ... 46 3. Rukun dan Syarat Wakaf... 51 4. Macam-Macam Wakaf ... 62 5. Sejarah Perkembangan Wakaf Pendidikan... 64 6. Pemanfaatan Wakaf untuk Pendidikan ... 80 B. Pendidikan Tinggi ... 81 1. Pengertian Pendidikan Tinggi... 81 2. Manfaat Pendidikan Tinggi ... 83 3. Sumber Dana Pendidikan Tinggi ... 84 4. Pendanaan Pendidikan Tinggi Melalui Wakaf ... 85 5. Model Badan Wakaf Kampus ... 88 C. Peraturan Badan Wakaf Indonesia (PBWI) No. 01 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Harta Benda Wakaf ... 92 1. Sejarah Badan Wakaf Indonesia ... 92 2. Tugas dan Wewenang Badan Wakaf Indonesia ... 93 3. Manfaat Peraturan Badan Wakaf Indonesia ... 97 4. Status Hukum Peraturan Badan Wakaf Indonesia ... 98
xxi
5. Mekanisme Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 ... 100 D. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 2 Tahun 2002 Tentang Wakaf Uang ... 109 1. Sejarah Majelis Ulama Indonesia ... 109 2. Manfaat Fatwa Majelis Ulama Indonesia ... 110 3. Status Hukum Fatwa Majelis Ulama Indonesia... 112 4. Wakaf Uang dalam Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 . 116 BAB III PENERAPAN WAKAF PENDIDIKAN PADA NAZIR ORGANISASI UNIVERSITAS AIRLANGGA ... 119 A. Gambaran Umum Nazir Organisasi Universitas Airlangga
……….…119
B. Struktur Organisasi ... 120 C. Visi dan Misi ... 121 D. Penghimpunan Wakaf Pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga ... 122 E. Pengelolaan Wakaf Pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga ... 126 F. Pemanfaatan Hasil Wakaf Pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga ... 132 G. Model Badan Wakaf Nazir Organisasi Universitas Airlangga ... 141 BAB IV ANALISIS PERATURAN BADAN WAKAF INDONESIA (PBWI), FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI),
xxii
DAN PENERAPAN WAKAF UNTUK PENDANAAN PENDIDIKAN TINGGI ... 147 A. Analisis Mekanisme Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf untuk Pendanaan Pendidikan Tinggi dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 Terhadap Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 Tentang Wakaf Uang ... 147 B. Analisis Mekanisme Pemanfaatan Wakaf untuk Pendanaan Pendidikan Tinggi Pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga ... 154 C. Analisis Kesesuaian Penerapan Wakaf Pendidikan Pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 Tentang Wakaf Uang ... 171 BAB V PENUTUP ... 175 A. Kesimpulan ... 175 B. Saran ………..175 DAFTAR PUSTAKA ... 177 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 189 CURRICULUM VITAE ……….. 202
xxiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Struktur Nazir Organisasi Universitas Airlangga ... 121 Tabel 2 Bagi Hasil Deposito ... 127 Tabel 3 Pendapatan dan Pendanaan Asrama Griya Khadijah ... 129 Tabel 4 Pendapatan Griya Triase ... 131 Tabel 5 Jadwal Pembelajaran dan Pengajar Semester I ... 134 Tabel 6 Jadwal Pembelajaran dan Pengajar Semester II ... 135 Tabel 7 Peringkat Semester I ... 137 Tabel 8 Peringkat Semester II ... 139 Tabel 9 Kegiatan Keagamaan ... 140 Tabel 10 Jadwal Pembelajaran dan Pengajar Semester I ... 164 Tabel 11 Jadwal Pembelajaran dan Pengajar Semester II ... 165 Tabel 12 Peringkat Semester I ... 166 Tabel 13 Peringkat Semester II ... 168 Tabel 14 Kegiatan Keagamaan ... 170
xxiv
xxv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan ... 2 Gambar 2 Rata-Rata Lama Sekolah ... 2 Gambar 3 Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Karakteristik ... 3 Gambar 4 Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Ekonomi Rumah Tangga . 4
xxvi
xxvii
PEDOMAN TRANSLITERASI
Transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam penulisan tesis dan disertasi pada Program Pascasarjana IIQ mengacu pada berikut ini:
1. Konsonan Tunggal
Huruf Arab
Nama Huruf Latin Keterangan
أ Alif Tidak
dilambangkan
Tidak dilambangkan
ب Bā’ b -
ت Tā’ t -
ث Śā’ ś s (dengan titik
di atas)
ج Jim j -
ح Hā’ ḥa’ h (dengan titik
di bawah)
خ Khā’ kh -
د Dal d -
ذ Źal ź z (dengan titik
di atas)
ر Rā’ r -
ز Zai z -
xxviii Huruf
Arab
Nama Huruf Latin Keterangan
س sῑn s -
ش syῑn sy -
ص Şād ş s (dengan titik
di bawah)
ض dād ḍ d (dengan titik
di bawah)
ط Tā’ ţ t (dengan titik
di bawah)
ظ Zā’ ẓ z (dengan titik
di bawah)
ع ‘Ayn ‘ Koma terbalik
ke atas
غ Gain g -
ف Fā’ f -
ق Qāf q -
ك Kāf k -
ل Lām l -
م Mῑm m -
ن Nūn n -
xxix Huruf
Arab
Nama Huruf Latin Keterangan
و Waw w -
ه Hā’ h -
ء Hamzah , Apostrof
ي Yā y -
2. Konsonan Rangkap Karena Tasydῑd Ditulis Rangkap
ةدّدعتم Ditulis Muta’addidah
ةّدع Ditulis ‘iddah
3. Tā’ Marbūtah Di Akhir Kata a. Bila dimatikan, ditulis h:
ةمكح Ditulis Hikmah
ةيزج Ditulis Jizyah
(ketentuan ini tidak diperlukan terhadap kata-kata Arab yang sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia seperti zakat, shalat, dan sebagainya, kecuali dikehendaki lafal aslinya).
b. Bila Tā’ Marbūtah diikuti dengan kata sandang “al” serta bacaan kedua itu terpisah, maka ditulis dengan h:
ءايلولأا ةمارك Ditulis Karāmah al-auliyā’
xxx
c. Bila Tā’ Marbūtah hidup atau dengan harakat, fathah, kasrah dan dammah ditulis t:
يرطفلا ةاكز Ditulis Zakat al-fitr
4. Vokal Pendek
َ Fathah Ditulis A
َ Kasrah Ditulis I
َ Dammah Ditulis U
5. Vokal Panjang
1 Fatḥah + alif Ditulis Ā
ةيلهاج Ditulis Jāhiliyyah
2 Fatḥah + ya’ mati Ditulis Ā
يسنت Ditulis Tansā
3 Kasrah + ya’ mati Ditulis Ῑ
ميرك Ditulis Karῑm
4 Ḍammah + wawu mati Ditulis Ū
ضورف Ditulis Furūd
6. Vokal Rangkap
1 Fatḥah + ya’ mati Ditulis Ai
xxxi
مكنيب Ditulis Bainakum
2 Fatḥah + wawu mati Ditulis Au
لوق Ditulis Qaul
7. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata, Dipisahkan dengan Apostrof
متناا Ditulis a’antun
تدعا Ditulis u’iddat
متركش نئل Ditulis la’in syakartum
8. Kata Sandang Alif + Lam a. Bila diikuti huruf Qamariyyah
نأرقلا Ditulis Al-Qur’ān
سايقلا Ditulis al-Qiyās
b. Bila diikuti huruf Syamsiyyah, ditulis dengan huruf Syamsiyyah yang mengikutinya serta menghilangkan huruf l (el)-nya:
ءامسلا Ditulis as-samā’
سمشلا Ditulis asy-syams
xxxii 9. Penulisan Kata-Kata dalam Rangkaian
Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya:
ىوذ
ضورفلا Ditulis Zawi al-furūd
ةنسلا لها Ditulis Ahl al-sunnah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah salah satu aspek yang penting untuk meningkatkan serta memajukan suatu negara, karena pendidikan dapat melahirkan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, tidak heran jika suatu negara memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Selain itu, pendidikan dapat mengembangkan potensi diri manusia untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, kepribadian yang baik, serta keterampilan lainnya yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.1 Namun, keterbatasan biaya sering kali menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam pendidikan, di mana banyak masyarakat mengalami putus sekolah.2
Berdasarkan data statistik pendidikan oleh Badan Pusat Statistik, pada tahun 2021 tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk usia 15 tahun ke atas adalah tamat SD/Sederajat 25,10%, tamat SMP/Sederajat 22,15%, tamat SM/Sederajat 29,21%, dan tamat Perguruan Tinggi 9,67%.
1 Andi Muhammad Ikhsan, dkk., “Formal Child Education in The Fisherman Perspective of The Bajo Tribe In Bajo Village”, Jurnal LA Geografia, Vol. 18 No. 3 Juni 2020, h. 270.
2 Adi Marsono, “Wakaf Tunai untuk Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Studi Lapangan Lembaga Manajemen Infaq Nganjuk)”, Jurnal Dinamika Ekonomi Syariah, Vol. 6 No. 1 Januari 2019, h. 17.
2
Sedangkan yang tidak tamat SD sebesar 10,56%, dan tidak pernah sekolah 3,31%.
Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas, Tahun 20211
Gambar 1 Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dari tahun 2018-2021 terus mengalami peningkatan. Peningkatan setiap tahunnya berkisar antara 0,07 sampai 0,17 tahun. Sementara pada tahun 2021 sebesar 8,97 tahun (setara kelas 3 SMP/Sederajat). Berikut data statistik RLS penduduk usia 15 tahun ke atas, 2018-2021:
Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas, 2018-20212
Gambar 2 Rata-Rata Lama Sekolah
1 Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, Statistik Pendidikan 2021, (Jakarta:
Badan Pusat Statistik, 2021), h. 204.
2 Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, Statistik Pendidikan 2021, h. 207.
3
Berdasarkan jenis kelamin, rata-rata lama sekolah laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan (9,23 tahun dibanding 8,70 tahun).
Dilihat dari tipe daerah, RLS perkotaan cukup jauh lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Di perkotaan, rata-rata penduduknya telah menempuh pendidikan sampai kelas 10 SM/Sederajat, sedangkan di perdesaan hanya sampai kelas 8 SMP/Sederajat. Selain itu, ketimpangan yang cukup besar juga terlihat pada rata-rata lama sekolah antara penduduk yang mengalami disabilitas dan tidak mengalami disabilitas, di mana selisihnya sekitar 4 tahun. Penduduk yang tidak mengalami disabilitas mampu bersekolah sampai kelas 9 SMP/Sederajat, sedangkan penyandang disabilitas hanya mampu bersekolah sampai kelas 5 SD/Sederajat. Berikut data terlampir:
Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Karakteristik, 20213
Gambar 3 Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Karakteristik
Selanjutnya, rata-rata lama sekolah jika indikatornya berdasarkan status ekonomi rumah tangga, maka semakin tinggi status ekonomi rumah tangga, semakin tinggi pula nilai RLS. RLS penduduk yang tinggal di rumah tangga dengan status ekonomi terbawah (kuintil 1) hanya sebesar
3 Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, Statistik Pendidikan 2021, h. 208.
4
7,16 tahun (setara kelas 7 SMP/Sederajat). Capaian ini jauh lebih rendah dibandingkan RLS penduduk yang tinggal di rumah tangga dengan status ekonomi teratas (kuintil 5) yang mencapai 11,36 tahun (setara kelas 11 SM/Sederajat). Berikut terlampir:
Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Status Ekonomi Rumah Tangga, 20214
Gambar 4 Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Ekonomi Rumah Tangga
Jika melihat statistik pendidikan tinggi pada tahun 2020, jumlah mahasiswa terdaftar yang tersebar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia tercatat 8.483.213 (juta), yang terdiri dari tingkat sarjana sebanyak 7.094.081 (95,16%), tingkat magister sebanyak 316.615 (4,25%), tingkat doktor sebanyak 43.883 (0,59%). Jumlah tingkat sarjana tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tingkat populasi usia 19-23 tahun sebanyak 22.120.400 (36,16%).
Kemudian melihat angka putus kuliah pada tahun 2020 tercatat 602.263 orang. Mahasiswa putus kuliah terdiri dari mahasiswa dengan jenis dikeluarkan, putus sekolah, dan mengundurkan diri. Persentase angka putus kuliah sebesar 7% dari total mahasiswa terdaftar. Angka
4 Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, Statistik Pendidikan 2021, h. 209.
5
tersebut menunjukkan jumlah yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 8%.5
Berdasarakan regulasi, sumber pendanaan pendidikan tinggi berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara, anggaran pendapatan dan belanja daerah, masyarakat (hibah, zakat, dan wakaf), biaya pendidikan (UKT), pengelolaan dana abadi, usaha PTN, kerja sama tridharma perguruan tinggi, pinjaman, dan lainnya.6
Hasil dari data kuantitatif tersebut menunjukkan bahwa salah satu permasalahan utama pendidikan di Indonesia bermuara pada aspek material menyangkut ketersediaan pendanaan, baik pendanaan dari penyedia fasilitas seperti kampus, ataupun keterbatasan biaya dari pihak masyarakat untuk menjangkau fasilitas pendidikan yang ada. Persoalan ini tidak cukup hanya menopang pada beasiswa pemerintah ataupun swasta. Jika dibiarkan, tentu akan berdampak negatif terhadap suatu negara, karena kemajuan suatu negara berawal dari kesejahteraan pendidikan masyarakatnya.
Menurut Pritana yang dikutip oleh Suci Rahmalia dkk., salah satu implikasi dari rendahnya tingkat pendidikan adalah sempitnya lapangan pekerjaan yang dimiliki, sehingga sulit bagi mereka yang berpendidikan rendah untuk memenuhi kebutuhan yang layak. Hal tersebut dapat mendorong seseorang bertindak dengan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi di tengah globalisasi yang dipenuhi oleh gaya
5 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Statistik Pendidikan Tinggi 2020, (Jakarta:
Setditjen Dikti, Kemendikbud, 2020), h. 312.
6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 83 ayat (1 & 2), 84 ayat (1 & 2), 85 ayat (1 & 2). Lihat juga Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2015 Tentang Bentuk dan Mekanisme Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, Pasal 2, 11 ayat (1), 12 ayat (1), 15 ayat (1).
6
hidup materialistis, maka bukan tidak mungkin bagi seseorang akan melakukan tindakan ilegal untuk mendapatkan uang.7
Hasil penelitian Suci Rahmalia dkk. menyatakan bahwa kemiskinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kriminalitas di Indonesia. Melalui tingkat pendidikanlah salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan tersebut.8
Islam telah menawarkan konsep kesejahteraan dalam berbagai aspek melalui instrumen keuangan sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dari ke empat instrumen tersebut, wakaf bisa menjadi solusi bagi pendidikan di Indonesia, karena wakaf mempunyai sifat yang sustainable atau berkelanjutan sehingga relevan apabila dijadikan sebagai pendukung pendanaan pendidikan.
Salah satu dasar hukum pensyariatan wakaf sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an surah Ali-‘Imrān [3] ayat 92, yaitu:
ٌمْي ِلَع ٖهِب َ ّٰ
للّٰا َّ
نِا َ ف ٍء ْي َ
ش ْن ِم ا ْو ُ
ق ِفْن ُت اَمَوۗ َنْوُّبِح ُت اَِّمِ اْوُقِفْنُت ىّٰت َح َّرِبْلا او ُ لاَن َ ت ْن َ
ل ﴿ ﴾
/نارمع ل ٰ
ا ( : 3
) 92
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya”. (QS. Ali-‘Imrān [3]:92)
Wakaf secara etimologis bermakna menahan, seperti contoh تْفَق َو ِد ِجْسَمْلا ىَلَع َراَّدلا “saya tahan rumah ini agar hasilnya digunakan untuk kemaslahatan masjid”. Sedangkan dalam terminologi syariah, wakaf
7 Suci Rahmalia, dkk., “Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengangguran, dan Kemiskinan Terhadap Kriminalitas di Indonesia”, Jurnal Kajian Ekonomi dan Pembangunan, Vol. 1 No.1 Februari 2019, h. 24.
8 Suci Rahmalia, dkk., “Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengangguran, dan
Kemiskinan Terhadap Kriminalitas di Indonesia”, Jurnal Kajian Ekonomi dan Pembangunan, Vol. 1 No.1 Februari 2019, h. 35.
7
berarti penahanan harta baik berupa rumah, tanah pekarangan dan sejenisnya guna diperuntukkan di jalan Allah, dengan tujuan agar dari hasil pengelolaan dan atau buahnya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan, atau orang yang memperjuangkan agama, anak-anak yatim, wanita-wanita janda, dan orang lain yang membutuhkan.9
Menurut Supani, definisi wakaf sebagaimana dalam buku Pembaharuan Hukum Wakaf di Indonesia adalah menahan harta untuk diwakafkan, tidak dipindahmilikkan. Wakaf diartikan penahanan hak milik atas wakaf untuk menyedekahkan manfaatnya.10 Wakaf dalam buku Fikih Zakat, Sedekah, dan Wakaf, adalah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya untuk kebaikan dan kemajuan Islam melalui manfaatnya.
Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual, tidak diberikan serta tidak diwariskan, hanya disedekahkan dari hasil harta benda wakafnya.11
Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004, wakaf adalah perbuatan hukum wāqif untuk menyerahkan sebagian harta benda miliknya guna dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu.12 Prinsip dasarnya setiap wakaf itu tidak terbatas dengan waktu (mu’abbad), tetapi dalam fikih diperkenankan berwakaf dengan batasan waktu, jika pewakaf menyebutkan waktu tersebut sebagai syarat, biasa disebut wakaf temporer (mu’aqqat).13
9 Muhammad Bakar Ismail, al-Fiqh al-Waḍh min al-Kitāb wa as-Sunnah ‘ala al- Madzāhib al-Arba’ah, (al-Qāhirah: Dār al-Manār, 1997 M/1417 H), h. 128.
10 Supani, Pembaharuan Hukum Wakaf di Indonesia, (Yogyakarta: CV. Hikam
Media Utama, 2019), Cet. ke-1, h. 2.
11 Qodariah Barkah, dkk., Fikih Zakat, Sedekah, dan Wakaf, (Jakarta: Kencana, 2020), Cet. Ke-1, h. 205.
12 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal
1 ayat (1).
13 Oni Sahroni, Fikih Muamalah Kontemporer, jilid 4, (Jakarta: Republika, 2020), Cet. ke-1, h. 114.
8
Wakaf sebagai salah satu filantropi Islam yang mampu memberikan solusi terhadap kesejahteraan kehidupan manusia jika aset wakaf tersebut dikelola dengan tepat sasaran. Sejatinya, hal ini sesuai dengan fungsi wakaf sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf, yakni “wakaf berfungsi mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum”.14
Jika mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 pasal 15, jenis wakaf tidak hanya terbatas pada benda tidak bergerak, namun juga benda bergerak berupa uang dan benda bergerak selain uang.15 Wakaf uang adalah wakaf berupa uang yang dikelola secara produktif, sedangkan wakaf melalui uang, yaitu wakaf dengan memberikan uang untuk membeli aset wakaf yang dikehendaki wāqif.16 Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.17
Wakaf telah menyokong berbagai inisiatif keadilan sosial, pendidikan, kesehatan, keagamaan, ekonomi makro, dan tujuan lainnya yang sejalan dengan paradigma kemaslahatan. Dalam bidang pendidikan, kita dapat melihat universitas-universitas besar dunia yang salah satu sumber pendanaannya berasal dari dana wakaf atau dana abadi, seperti Universitas Harvard, Institut Teknologi Massachusetts, Universitas Cambridge, Universitas Stanford, Institut Teknologi California,
14 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal
5.
15 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal 15.
16 Peraturan Badan Wakaf Indonesia Nomor 01 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Harta Benda Wakaf, Pasal 1 ayat (1&4).
17 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Wakaf Uang.
9
Universitas Oxford, Universitas College London, Universitas Imperial College London, Institut Teknologi Federal Swiss Zurich, Universitas Chicago, Universitas Princeton, Universitas Cordova, Universitas al- Azhar, Universitas Abant Izzet Baysal, International Islamic University of Malaysia (IIUM), Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), Universitas Putra Malaysia (UPM), dan University Sains Islam Malaysia (USIM). Jika melihat di Indonesia, beberapa institusi pendidikan yang pengelolaannya berasal dari dana wakaf di antaranya, Pondok Modern Gontor Darussalam, Universitas Islam Indonesia, dan Pesantren Darunnajah.18
Hal ini sejalan dengan pendapat Mehmet Bulut, “waqf contributed to the provision of a series of public services such as the financing of libraries, madrasahs, schools, scholarships, educational services:
building of bridges, fountains, roads, sidewalks, and waterways, as infrastructural services”.19 Maksud dari kalimat tersebut, wakaf telah menghidupi berbagai layanan publik, seperti pembiayaan perpustakaan, madrasah, sekolah, beasiswa, fasilitas pendidikan, juga pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jembatan, air mancur, jalan, trotoar, dan jalur air.
Sebagai contoh, salah satu negara yang telah berhasil mengoptimalkan perwakafan, yaitu Mesir. Pemanfaatan hasil wakaf produktif yang paling banyak pengaruhnya adalah pemberdayaan wakaf produktif untuk pendanaan pendidikan. Adapun lembaga pendidikan di Mesir yang telah menerapkan perwakafan sebagai sumber pendanaan
18 Rodame Monitorir, dkk., “Potensi Wakaf Uang dan Model Pengembangannya:
Studi Kasus di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri”, Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 7 (03), 2021, h. 1-2.
19 Mehmet Bulut, “Civilization, Economy, and Waqf in Ottoman Europe”, Journal of Nusantara Studies, Vol. 5 No. 2 2020, h. 49-50.
10
pendidikan adalah al-Azhar. Al-Azhar merupakan lembaga pendidikan yang mampu membiayai operasional pendidikannya melalui hasil pengelolaan aset wakaf, dan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa dari berbagai penjuru dunia selama berabad-abad.20
Selain itu, Turki juga menjadi salah satu negara yang tercatat dalam sejarah mengenai kesuksesannya dalam mengelola perwakafan yang salah satu targetnya pada bidang pendidikan. Pada tahun 1987, wakaf yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Wakaf yaitu masjid (4.400), asrama mahasiswa (500), rumah untuk usaha (453), hotel dan caravan (150), toko-toko (5.348), apartemen (2.254), properti (24.809), dan lainnya.21 Sejak tahun 2003, Direktorat Jendral Wakaf mencatatkan di antara aset-aset wakaf produktif yang dimiliki meliputi rumah, toko, kantor, vila, apartemen, sekolah swasta, asrama mahasiswa, rumah sakit, dan masih banyak lainnya.22
Kemudian, jika melihat kondisi di Indonesia, data tanah wakaf sebagaimana yang terlansir di situs Sistem Informasi Wakaf (siwak) Kementerian Agama, tanah di Indonesia mencapai jumlah 440.512 lokasi dengan luas 57.263,69 Ha dan 52,42 % telah bersertifikat. Sedangkan penggunaan tanah wakaf nasional sebesar 10,77% untuk sekolah, 4,10%
untuk pesantren, dan persentase terbanyak digunakan untuk masjid dan musholla yakni 43,51% (masjid) dan 27,90% (musala).23
20 Abdurrahman Kasdi, “Peran Wakaf Produktif dalam Pengembangan Pendidikan”, Jurnal Quality, Vol. 3 No. 2 Desember 2015, h. 435.
21 Yusi Septa Prasetia dan Miftahul Huda, “Relevansi Tata Kelola Wakaf Turki Terhadap Pengembangan Wakaf Produktif di Indonesia”, Jurnal Justicia Islamica, Vol. 14 No. 2 Tahun 2017, h. 179-180.
22Directorate General of Foundations, “Our Activities”, https://www.vgm.gov.tr/our-activities/investments/flat-for-land-based,
diakses tanggal 13 Juni 2023 pukul 07.13 WIB.
23SIWAK Kementerian Agama RI, “Data Tanah Wakaf”, https://siwak.kemenag.go.id/siwak/index.php, diakses tanggal 18 Juni 2023 pukul 22.21 WIB.
11
Selanjutnya, beberapa lembaga filantropi Islam di Indonesia telah menaruh perhatian terhadap pendidikan, walaupun persentasenya masih relatif rendah dibandingkan dengan pengalokasian untuk kebutuhan sosial seperti pangan. Salah satu lembaga Filantropi Islam yang cukup besar valuasinya, yaitu Dompet Dhuafa. Menurut hasil laporan oleh Dompet Dhuafa, pada tahun 2021 total penghimpunan berjumlah 370,00 miliar rupiah termasuk di dalamnya dari wakaf berjumlah 5%. kemudian disalurkan dengan total 330,42 miliar rupiah dengan persentase pendidikan 10,04%. Adapun persentase tertinggi dalam penyalurannya terdapat pada program sosial, yakni sebesar 19,29%.24
Disamping itu, Nazir Organisasi Universitas Airlangga (UNAIR) juga ikut serta mengembangkan perwakafan guna mendukung pemenuhan kebutuhan pendidikan di Universitas Airlangga. Nazir UNAIR merupakan salah satu unit kerja khusus yang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Rektor Nomor 32 Tahun 2020 tanggal 7 September 2020 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nazir Organisasi UNAIR. Nazir UNAIR termasuk universitas pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat nazir oleh BWI berdasarkan SK BWI Nomor 3.3.00199 Nomor seri 0329 tanggal 27 September 2018 sebagai nazir wakaf uang, dan SK perwakilan BWI Provinsi Jawa Timur Nomor 09/BWIJTM/NZ/III/2021 tentang penetapan nazir badan hukum harta benda wakaf tidak bergerak Universitas Airlangga.25 Selain itu,
24 Dompet Dhuafa, “Public Expose 2021”,
https://publikasi.dompetdhuafa.org/download/public-expose-2020-laporan-kinerja-dompet- dhuafa-tahun-2019/, diakses tanggal 7 September 2023 pukul 10.16 WIB, h. 6.
25 Nazir UNAIR, “Laporan Kinerja Nazir Universitas Airlangga Tahun 2021”, h. 2.
12
berdasarkan laporan keuangan, aset wakaf Nazir UNAIR mengalami peningkatan tiap tahunnya.26
Fungsi pembentukan Nazir Organisasi adalah menghimpun, mengelola, dan menyalurkan manfaat aset wakaf guna mendukung keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang tidak mampu, kegiatan kesehatan, kegiatan rumah ibadah, fakir miskin, anak yatim, dan lainnya.
Bentuk pengelolaan dan pengembangan wakaf oleh Nazir UNAIR berupa bagi hasil deposito dan Griya Khadijah. Sepanjang tahun 2021, dana wakaf yang dapat dikumpulkan sebesar Rp. 922,106,720, bagi hasil deposito dari pengelolaan dana wakaf sebesar Rp. 7,460,967, pendapatan Griya Khadijah sebesar Rp. 426,096,774.27
Berdasarkan aspek hukum, perkembangan perwakafan di Indonesia dari beberapa kajian terdahulu, seperti hasil penelitian Nurul Azizah, menyatakan bahwa pengelolaan aset wakaf di Yayasan Pendidikan al-Falah, Masjid Nurul Huda, dan Yayasan an-Nafsiah belum optimal disebabkan kurangnya pemahaman nazir terkait perwakafan dan regulasi-regulasi pemerintah tentang wakaf, selain itu secara legalitas juga melanggar regulasi pemerintah, yakni tidak melaporkan kepada BWI terkait pergantian nazir baru.28
Dilanjut dengan hasil penelitian oleh Taufiq Ramadhan, menyatakan bahwa pengelolaan wakaf di Aceh belum maksimal disebabkan kurangnya pemahaman nazir tentang wakaf, terkendala dana,
26 Nazir UNAIR, “Laporan Keuangan Nazir Organisasi Universitas Airlangga Tahun 2018-2021”, https://puspas.unair.ac.id/home/laporan, diakses tanggal 16 Mei 2023 pukul 14.43 WIB.
27 Nazir UNAIR, “Laporan Kinerja Nazir Universitas Airlangga Tahun 2021”, h. 2.
28 Nurul Azizah, “Implementasi Peraturan Badan Wakaf Indonesia Nomor 03 Tahun 2008 dan Nomor 4 Tahun 2010 Terhadap Yayasan Pendidikan Islam al-Falah, Masjid Nurul Huda, dan Yayasan an-Nafsiah”, Tesis, (Ciputat: Pascasarjana IIQ Jakarta, 2018), h. 211-213.
13
juga kurang mendapatkan dukungan dari masyarakat.29 Pelanggaran lainnya, sebagaimana dalam penelitian Amrullah Haytudin dkk. bahwa pelaksanaan pengelolaan wakaf uang di Yayasan Tevis belum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf pada pasal 29 ayat 3 dan pasal 30, yakni Bank BNI Syariah sebagai LKS-PWU tidak mengeluarkan sertifikat wakaf uang kepada nazir dan wāqif, serta Bank BNI Syariah tidak mendaftarkan harta benda wakaf berupa uang kepada Menteri. Selain itu, pengelolaan wakaf uang yang dilakukan oleh Yayasan Tevis tidak digunakan kepada produk-produk Perbankan Syariah sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 pasal 48 ayat 2 yang berbunyi bahwa pengelolaan dan pengembangan wakaf uang hanya dapat dilakukan pada produk-produk Perbankan Syariah.30
Contoh kasus lainnya, yaitu pada tahun 1984 mendiang Raiman mewakafkan tanah kepada pengurus madrasah bernama Burohim yang diperuntukkan sebagai Sekolah Madrasah di Kota Serang. Pada tahun 1993 dibuat akta pengganti ikrar wakaf dan diterbitkan sertifikat wakaf atas pengurus madrasah pada tahun 1994. Kemudian pada tahun 2015, pelaku yang berinisial SW, NW, dan SN menjual tanah wakaf tersebut seharga Rp 90,000,000 (sembilan puluh juta rupiah) yang luasnya 1.137 m2.31
Dikuatkan dengan hasil penelitian Aam S. Rusydiana dan Abrista Devi bahwa permasalahan wakaf ada 4, yaitu: 1. masalah kepercayaan
29 Taufid Ramadhan, “Pengelolaan Wakaf Produktif dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat di Kota Banda Aceh”, Tesis, (Ciputat: Pascasarjana IIQ Jakarta, 2020), h. 193-194.
30 Amrullah Hayatudin, dkk., “Tinjauan Fikih Wakaf dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2006 Tentang Wakaf Terhadap Pengelolaan Wakaf Uang Oleh Yayasan Tenda Visi Indonesia”, Tahkim Jurnal Peradaban dan Hukum Islam, Vol. 3 No. 2 Oktober 2020, h. 111- 112.
31 Bahtiar Rifa’i, “Jual Tanah Wakaf, 3 Warga Serang Jadi Tersangka”, https://news.detik.com/berita/d-4637546/jual-tanah-wakaf-3-warga-serang-jadi-tersangka, diakses tanggal 27 September 2023 pukul 17.47 WIB.
14
yakni lemahnya kepercayaan donatur, 2. masalah syariah yakni tidak terpenuhinya akad wakaf, 3. masalah sumber daya yakni penyelewengan dana wakaf, 4. masalah sistem yakni lemahnya sistem tata kelola.32
Padahal, jika melihat beberapa penelitian, potensi wakaf sangat besar, termasuk wakaf uang. Salah satunya sebagaimana yang terlansir di situs Badan Wakaf Indonesia (BWI), yang menyebutkan potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp. 180 Triliun per tahun.33 Di samping itu, juga sudah mendapat dukungan dari pemerintah melalui regulasi-regulasi terkait perwakafan, diantaranya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, Peraturan Badan Wakaf Indonesia (PBWI) Nomor 01 Tahun 2020 tentang pedoman pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf.34 Selain itu, juga hadirnya Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang.35
Berdasarkan hal tersebut, Airlangga yang menjadi universitas pertama memperoleh sertifikat nazir oleh BWI dan aset yang dimiliki Nazir UNAIR mengalami peningkatan tiap tahunnya menjadi alasan penulis untuk mengkaji kesesuaian pelaksanaan wakaf pendidikan Nazir UNAIR dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang.36 Oleh karena itu, penulis memilih judul
32 Aam S. Rusydiana dan Abrista Devi, “Analisis Pengelolaan Dana Wakaf Uang di Indonesia: Pendekatan Metode Analytic Network Process (Anp)”, Vol. 10 No. 2 Desember 2017, h. 131.
33 Badan Wakaf Indonesia, “Indeks Wakaf Nasional 2022”, https://www.bwi.go.id/8706/2023/04/16/indeks-wakaf-nasional-2022/, diakses tanggal 17 Maret 2022 pukul 17.53 WIB.
34 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Peraturan Badan Wakaf Indonesia Nomor 01 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Harta Benda Wakaf.
35 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Wakaf Uang.
36 Nazir UNAIR, “Laporan Kinerja Nazir Universitas Airlangga Tahun 2021”, h. 2.
Lihat juga Nazir UNAIR, “Laporan Keuangan Nazir Organisasi Universitas Airlangga Tahun
15
kesesuaian pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendidikan tinggi dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2002 (Studi Kasus: Nazir Organisasi UNAIR).
B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan beberapa permasalahan yang diuraikan pada latar belakang masalah, penulis mengidentifikasi permasalahan- permasalahan sebagai berikut:
a. Pengaruh rendahnya tingkat penghasilan ekonomi rumah tangga terhadap angka putus kuliah;
b. Implikasi rendahnya tingkat pendidikan terhadap tindak kriminalitas;
c. Kesesuaian mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 terhadap Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang;
d. Mekanisme pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga;
e. Kesesuaian penerapan wakaf pendidikan pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang.
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu:
a. Kesesuaian mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi dalam PBWI No. 01 Tahun
2018-2021”, https://puspas.unair.ac.id/home/laporan, diakses tanggal 16 Mei 2023 pukul 14.43 WIB.
16
2020 terhadap Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang;
b. Mekanisme pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga;
c. Kesesuaian penerapan wakaf pendidikan pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimana kesesuaian mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 terhadap Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang?
b. Bagaimana mekanisme pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga?
c. Bagaimana kesesuaian penerapan wakaf pendidikan pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang?
C. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Menganalisis kesesuaian mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi dalam PBWI No. 01 Tahun 2020 terhadap Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang;
2. Menganalisis mekanisme pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga;
17
3. Menganalisis kesesuaian penerapan wakaf pendidikan pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga dengan PBWI No. 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih keilmuan Hukum Ekonomi Syariah dan infromasi secara praktisnya di lapangan, yaitu:
1. Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada khalayak umum, khususnya bagi para penggiat keilmuan Hukum Ekonomi Syariah mengenai informasi yang terjadi di lapangan terkait implementasi pengelolaan dan pemanfaatan hasil pengelolaan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi dan kesesuaian penerapannya dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang, serta sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.
2. Praktis
Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam pengelolaan dan pemanfaatan wakaf oleh filantropi Islam di Indonesia serta sebagai motivasi bagi perguruan tinggi agar mandiri secara finansial.
E. Kajian Pustaka
1. Isa Anshori, peran dan manfaat wakaf dalam pengembangan pendidikan Islam (studi kasus di Madrasah Tsanawiyah, Pesantren al-Andalusia Caringin Sukabumi Jawa Barat Indonesia), jurnal, Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2018.
18
Suksesnya Universitas al-Azhar Cairo dalam mengembangkan wakaf produktif mendapat perhatian dunia. Hal ini telah mengilhami dunia pendidikan di berbagai dunia termasuk Indonesia. Salah satunya ialah Pesantren al-Andalusia Caringin Sukabumi Jawa Barat. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian Isa Anshori. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa biaya pendidikan Madrasah Tsanawiyah di Pesantren al-Andalusia baik kebutuhan sarana dan prasarana belajar, honor guru, pimpinan madrasah, dan pimpinan unit diperoleh dari hasil pengembangan wakaf produktif. Wakaf produktif tersebut berupa tanah 2 hektar yang ditanami jambu Jamaika yang hasil bersih dari panennya dalam setahun mencapai Rp. 2.517.472.000 (miliar).37
Persamaannya dengan penelitian Isa Anshori ialah manfaat wakaf untuk lembaga pendidikan. Letak perbedaannya, Isa Anshori membahas manfaat wakaf produktif sebagai sumber dana pendidikan Madrasah Tsanawiyah Pesantren al-Andalusia, sedangkan penulis menganalisis pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga, kemudian mengkaji kesesuaian penerapannya dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang.
2. Hendi Suhendi, optimalisasi aset wakaf sebagai sumber dana pesantren melalui pelembagaan wakaf (studi kasus pelembagaan wakaf Pesantren Baitul Hidayah), jurnal, Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung, 2018.
37 Isa Anshori, “Peran dan Manfaat Wakaf dalam Pengembangan Pendidikan Islam”,
Jurnal Tahdzibi Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 3 No. 1 Mei 2018, h. 35.
19
Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang diminati masyarakat muslim termasuk pesantren Baitul Hikmah.
Dalam pengelolaannya, pesantren Baitul Hikmah memungut biaya melalui biaya makan bulanan santri dengan nominal Rp. 300.000 rupiah, itu pun hanya 40% yang mampu membayar dari total santri yang ada. Oleh karena itu, pesantren Baitul Hikmah menerapkan beberapa strategi pengembangan ekonomi supaya menjadi lembaga pesantren yang mandiri, salah satunya melalui zakat, infak, dan sedekah. Namun, kurangnya sumber daya yang memahami dalam bidang perwakafan menjadi kendala dalam pengelolaannya. Inilah yang melatarbelakangi Hendi melakukan penelitian dengan tujuan mencoba memberikan khazanah pemikiran dalam rangka optimalisasi aset wakaf sebagai sumber dana pesantren Baitul Hikmah. Hasil penelitiannya, optimalisasi aset wakaf sebagai sumber pendanaan pesantren Baitul Hikmah menjadi langkah konkrit yang harus dilakukan. Upaya pelembagaan berhubungan erat dengan fundraising dana wakaf yang akan digunakan sebagai penyediaan modal untuk memproduktifkan lahan wakaf seluas 2 hektar dan 6 hektar lahan hak guna pakai, baik untuk peternakan, pertanian, ataupun lainnya sehingga dari hasil tersebut dapat memenuhi kebutuhan operasional pesantren.38
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penulis, yaitu wakaf sebagai sumber pendanaan lembaga pendidikan. Letak perbedaannya, penulis membahas pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas
38 Hendi Suhendi, “Optimalisasi Aset Wakaf Sebagai Sumber Dana Pesantren
Melalui Pelembagaan Wakaf”, Tahkim Jurnal Peradaban dan Hukum Islam, Vol. 1 No. 1 Maret 2018, h. 18.
20
Airlangga, kemudian mengkaji kesesuaian penerapannya dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang, sedangkan Hendi menganalisis optimalisasi pengelolaan dan pengembangan aset wakaf sebagai sumber dana Pesantren Baitul Hidayah.
3. Purnama Putra dkk., optimalisasi wakaf dalam sektor pendidikan (sebuah tinjauan pengelolaan wakaf pendidikan di Indonesia dan Malaysia), jurnal, Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Agama Islam UNISMA Bekasi, dan Program Studi Agribisnis Universitas Terbuka, 2018.
Pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter suatu negara. Wakaf merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan sebagai sumber pendanaan lembaga pendidikan.
Berdasarkan jumlah penduduk muslim di Indonesia maupun Malaysia, potensi wakaf sangatlah besar. Berdasarkan hal tersebut, Purnama, dkk. meneliti perbandingan optimalisasi perwakafan untuk pendidikan di Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitiannya, (1) nazir sebagai pengelola wakaf yang pemanfaatannya untuk pendidikan harus melakukan manajemen secara profesional dan terukur agar menjaga keberlanjutan dan tercapainya tujuan negara yang menjadi salah satu ukuran maqāşid asy-syarῑ’ah yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, (2) mengoptimalkan pengelolaan aset wakaf melalui kerja sama dengan para stakeholder terkait agar mampu menumbuhkembangkan sektor pendidikan, (3) membutuhkan peran
21
pemerintah dalam upaya mendorong optimalisasi pengumpulan, pengelolaan, dan pemanfaatan hasil pengelolaan aset wakaf.39
Persamaannya dengan penulis ialah wakaf pendidikan, letak perbedaannya pada objek penelitian. Penulis membahas pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi melalui Nazir Organisasi Universitas Airlangga, kemudian mengkaji kesesuaian penerapannya dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang. Sedangkan Purnama dkk. menganalisis optimalisasi pengelolaan dan pengembangan aset wakaf dalam sektor pendidikan di Indonesia dan Malaysia.
4. Baterah Alias dkk., wakaf pendidikan tinggi sumber pendanaan dana dalam kerangka Ekonomi Islam di Malaysia, jurnal, Akademi Pengajian Islam Kontemporari (ACIS) Teknologi MARA, 2018.
Wakaf sebagai sumber pendanaan pendidikan tinggi memberikan kesempatan dan fasilitas bagi masyarakat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Wakaf juga mampu meningkatkan pembangunan ekonomi Umat Islam. Baterah dkk. menganalisis Universitas Islam Malaysia (UIM) yang menggunakan wakaf sebagai salah satu pendanaan untuk menjalankan operasionalnya. Hasil penelitiannya, aset wakaf yang dimiliki UIM berupa tanah, properti, dan wakaf uang. Tanah dan properti diproduktifkan dalam bentuk sewa. Hasil akumulasi pendapatan tetap dari sewa atas aset tersebut sekitar RM 89.126.750 atau setara Rp. 295.424.912.638 miliar. Hasil akumulasi tersebut belum termasuk pendapatan melalui wakaf uang.
39 Purnama Putra, dkk., “Optimalisasi Wakaf dalam Sektor Pendidikan (Sebuah
Tinjauan Pengelolaan Wakaf Pendidikan di Indonesia dan Malaysia)”, Jurnal Maslahah, Vol.
9 No. 1 Mei 2018, h. 111.
22
Kemudian pemanfaatannya di peruntukkan untuk operasional lembaga 20%, penelitian 50%, akademik (berupa beasiswa pendidikan) 15%, projek khusus 15%.40
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan kajian penulis, yakni wakaf sebagai sumber pendanaan pendidikan tinggi. Letak perbedaannya, penulis mengkaji kesesuaian pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi pada Nazir Organisasi Universitas Airlangga dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang, sedangkan Baterah Alias dkk. menganalisis wakaf sebagai sumber pendanaan pendidikan tinggi di Malaysia (studi kasus di UIM), tanpa mengkaji kesesuaian penerapannya dengan regulasi pemerintah terkait pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf.
5. Adi Marsono, wakaf tunai untuk pengembangan lembaga pendidikan Islam (studi lapangan Lembaga Manajemen Infaq Nganjuk), jurnal, Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk, 2019.
Suatu negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun, sering kali keterbatasan biaya menjadi salah satu penyebab kegagalan dalam dunia pendidikan, sehingga mengakibatkan putus sekolah. Lembaga- lembaga sosial mulai banyak memperhatikan persoalan ini dan memberikan solusi melalui perwakafan, salah satunya Lembaga Manajemen Infaq (LMI) Nganjuk. Inilah yang melatarbelakangi dalam penelitian Adi Marsono. Hasil penelitian menyatakan bahwa
40 Baterah Alias, dkk., “Model Pengembangan dan Pemanfaatan Wakaf Tunai untuk Pendidikan Tinggi”, Jurnal JCIS, Vol 4 Issue1 2018, h. 22-25.
23
dalam pendistribusian dan pendayagunaan di LMI, wakai tunai difokuskan untuk pengembangan lembaga pendidikan Islam sekolah Tahfiẓ Ibnu Batutah di Dusun Kluwung kelurahan Cabean kecamatan Sawahan kabupaten Madiun.41
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penulis, yaitu wakaf untuk lembaga pendidikan. Letak perbedaannya, penulis membahas pengelolaan dan pemanfaatan wakaf untuk pendanaan pendidikan tinggi melalui Nazir Organisasi Universitas Airlangga, kemudian mengkaji kesesuaian penerapannya dengan PBWI Nomor 01 Tahun 2020 dan Fatwa MUI No. 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang, sedangkan Adi fokus pada pemanfaatan wakaf uang.
6. Eddy Saputra, pemberdayaan wakaf uang dalam upaya mewujudkan lembaga pendidikan di Desa Wargabinangun Kabupaten Cirebon, jurnal, Fakultas FTIK program studi Informatika Universitas Indraprasta PGRI, 2019.
Penelitian ini dilatarbelakangi fakta di lapangan bahwa kurangnya fasilitas pendidikan di Pedesaan dikarenakan biaya yang minim. Anggaran biaya yang diberikan oleh negara untuk pendidikan masih belum mencukupi untuk menghasilkan perangkat pendidikan yang berkualitas di seluruh wilayah Indonesia. Desa Wargabinangun salah satu pedesaan yang belum mendapatkan fasilitas pendidikan, kurang lebih harus menempuh jarak 50 km untuk menempuh pendidikan di perkotaan. Dengan demikian, banyak masyarakat yang putus sekolah karena jaraknya yang sangat jauh. Atas dasar kebutuhan terhadap lembaga pendidikan lanjutan, kepala desa dan
41 Adi Marsono, “Wakaf Tunai untuk Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam
(Studi Lapangan Lembaga Manajemen Infaq Nganjuk)”, Jurnal Dinamika Ekonomi Syariah, Vol. 6 No. 1 Januari 2019, h. 27.