Barangsiapa tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta, melanggar hak kebendaan pencipta sebagaimana dimaksud dalam huruf c, huruf d, huruf f dan/atau huruf h Pasal 9 ayat (1). ). untuk penggunaan komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling banyak lima ratus juta rupiah). Barangsiapa tanpa hak dan/atau izin pencipta atau pemegang hak cipta, melanggar hak kebendaan pencipta sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g Pasal 9(1). ). Penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah).
PENDAHULUAN
Pendahuluan
Ketika individu mampu mengutarakan pendapatnya kepada individu lain, maka selain bersifat ikhlas dan jujur, maka dapat dikatakan bahwa ia mempunyai kemampuan asertif. Sedangkan individu dengan sikap tidak asertif dalam hal ini disebut pasif apabila individu tersebut tidak mampu mengungkapkan emosi atau pandangannya atau mengungkapkan suatu sikap yang pada akhirnya mendorong orang lain untuk memberikan tanggapan yang tidak tepat.
Pengertian Keterampilan Asertif
Keterampilan asertif adalah perilaku kompleks yang melibatkan berbagai situasi sosial yang sulit diprediksi dan seringkali memiliki banyak makna. Keterampilan Aman untuk Remaja │7 berbeda-beda dalam menanggapi situasi yang berbeda, namun pada dasarnya hanya satu tanggapan yang dominan.
Perbedaan Perilaku yang Asertif, Agresif, dan Pasif
Perilaku ini ditandai dengan: kemampuan mengekspresikan haknya, namun tidak memperhatikan hak individu lain, mengekspresikan emosi, namun hanya pribadi dan orang lain yang dapat dirugikan. Dari penjelasan di atas, perilaku asertif adalah kemampuan menyampaikan apa yang dibutuhkan, dirasakan, dan dipikirkan orang lain, dengan tetap mendukung dan menghormati hak dan perasaan orang lain.
Mengapa Perlu Memiliki Keterampilan Asertif ?
Keterampilan asertif pada remaja │11 mengungkapkan dan menerima umpan balik positif dan (9) mengetahui apa yang diperlukan. Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa Anda harus memiliki keterampilan percaya diri, karena ini akan membantu Anda menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain.
Bagaimana Berperilaku Asertif
Penting untuk diingat bahwa keterampilan asertif hendaknya tidak hanya dijadikan sebagai pengetahuan saja, namun harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa takut dikucilkan oleh orang lain. Keterampilan Asertif Remaja │13 menjaga sikap terbuka dan santai saat melakukan kontak mata dan berkomunikasi dengan orang lain.
Komponen-komponen Keterampilan Asertif
Misalnya, amati gerakan mata saat berbicara dengan orang lain dan secara bertahap coba optimalkan perhatian mata selama percakapan. Menekankan pesan dengan pedoman yang tepat dalam berkomunikasi dengan orang lain dapat meningkatkan penegasan diri, keterbukaan, dan kehangatan.
Perkembangan Perilaku Asertif
Keterampilan asertif pada remaja │23 yang terbentuk pada fase perkembangan individu akan berperan dalam terbentuknya perilaku pasif, agresif atau asertif (Stoykov, 2020). Dengan ciri-ciri seperti itu, sulit bagi individu untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan emosinya secara langsung dan jujur (Kelly, 2018).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Asertif
- Manfaat Perilaku Asertif
24│ Dr.Farida Aryani, M.Pd bahwa perilaku asertif banyak dipengaruhi oleh latar belakang budaya (sopan santun) seseorang sebagai faktor pertama (McKenney & Reeves, 2021). Menurut Harris (Sarah & Indriana, 2019), kualitas perilaku asertif seseorang sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya (misalnya larangan) (Heni Mulyati, 2017). Sedangkan faktor keenam berkaitan dengan gender, budaya dan stereotip serta tingkat pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap asertif (Alberti & Emmons, 2017; Nevid, 2018).
Keterampilan asertif pada remaja │25 yang meliputi latar belakang budaya, jenis pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, kecerdasan, tingkat pendidikan dan jenis kelamin seseorang.
Pembentukan Perilaku Asertif
Mereka yang tampil asertif lebih menunjukkan inisiatif dalam arti tindakannya langsung, jujur dan terbuka, menghormati hak orang lain dan bergantung pada keinginannya, serta menghemat energi. Dia tidak sibuk memikirkan cara untuk menyinggung perasaan orang lain, dan dia tidak sibuk memikirkan cara untuk mengendalikan dirinya sendiri. Individu perlu melatih keterampilan mendengarkannya dan cara merespons teman. Dengan mendengarkan mereka dan kemudian mengulangi informasi, mereka akan memberikan umpan balik kepada orang yang terlibat, seperti mengoreksi maksudnya secara tatap muka (Chugh, 2018).
Dengan melatih individu untuk mengatakan apa yang diinginkan dan tindakan apa yang ingin dilakukan akan membantu individu menjadi percaya diri dan berkomunikasi lebih efektif dengan orang lain (Puspita, 2018).
MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN
Membangun Harga Diri
32│ Dr.Farida Aryani, M.Pd Dengan mengembangkan kemampuan membela diri dan melakukan sesuatu berdasarkan inisiatif pribadi, Anda dapat mengurangi tekanan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri Anda sebagai manusia. Untuk membangun keterampilan asertif, landasan pertama yang harus dikembangkan adalah citra diri yang positif. Seseorang yang tampil dengan perilaku pasif adalah orang yang memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang rendah.
Selain itu, hambatan dalam mencapai citra diri yang positif juga dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang, apakah wajar (rasional) atau tidak.
Mengekspresikan Perasaan
Maaf, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan, tapi saya tidak yakin” (non-asertif/pasif).
Mengatakan “Tidak”
Karena dengan memiliki keberanian dan kemampuan untuk mengatakan tidak, seseorang mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya dan baik terhadap dirinya dan orang lain. Karena 'tidak' adalah kata yang sangat kuat dan seperti sesuatu yang penuh kekuatan, dapat membantu atau menyakiti kita. Misalnya, "Aku tidak bisa meminjamkanmu buku biologi saat ini, tapi aku bisa meminjamkanmu buku ini besok sepulang sekolah."
Atau pernyataan: “Saya tidak bisa pergi ke bioskop bersamamu malam ini karena besok saya ada ujian umum, bagaimana kalau Sabtu malam?”.
Jenis-jenis dan langkah-langkah Pelatihan Keterampilan
Secara umum pelatihan asertivitas dikembangkan berdasarkan prosedur pelatihan keterampilan sosial yang dikenal dengan pendekatan SLA (structured learning approach) (Cardenas, 2020). Dalam mengembangkan keterampilan asertivitas, pemodelan digunakan untuk meningkatkan keterampilan asertivitas dengan menggunakan evaluasi pengamatan terhadap perilaku orang lain yang berhasil dalam kondisi tertentu, disertai dengan pemberian informasi tentang bagaimana keberhasilan itu dicapai, yang akan mendorong penguatan dan memotivasi seseorang untuk melakukan hal tersebut. sama (Eggen & Kauchak, 2020). Pemindahan dan pemeliharaan hasil pelatihan Tujuan dari program pelatihan ketegasan bukan hanya untuk melihat bagaimana kinerja peserta dalam pelatihan, tetapi juga untuk melihat seberapa baik kinerja peserta dalam kehidupan nyata; dalam hal ini pekerjaan rumah merupakan suatu kegiatan yang biasanya digunakan untuk mentransfer keterampilan yang baru dipelajari (Turner, Cuijpers, Gaag, Karyotaki, & MacBeth, 2018).
Efektivitas prosedur pelatihan keterampilan asertif telah dibuktikan dengan hasil penelitian Gallasi & Gallasi (dalam Speed et al., 2018) yang menyatakan bahwa program pelatihan asertif mencakup aspek-aspek yang sangat penting dalam meningkatkan perilaku asertif: pemodelan, pengulangan perilaku dan umpan balik.
Faktor Budaya Dalam Pengembangan Pelatihan
Subjek diajarkan untuk mengidentifikasi keyakinan irasional tentang kemampuan dan haknya, kemudian didorong untuk mempertimbangkan kelebihan dan haknya secara lebih objektif. Keterampilan Aman bagi Remaja │51 Salah satu alasan mengapa perlunya memperhatikan kajian lintas budaya adalah untuk memudahkan pelatih (konselor) dalam memberikan pendekatan konseling yang tepat kepada klien (siswa) dengan mempertimbangkan latar belakang budayanya. siswa, menggunakan konstruksi psikologis yang umum atau khusus pada sejumlah kecil kelompok budaya tertentu (Hidayati, 2019; (Pedersen, Lonner, Draguns, Trimble, & Scharron, 2015). Hal ini sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh (Wood et al., 2017) mengenai pendekatan etik (universal) dan pendekatan emik (khusus budaya).
Pendekatan etis digunakan apabila peneliti memandang peristiwa yang diteliti sebagai sesuatu “luar”, sesuatu yang terpisah dari pikiran peneliti.
Peranan Bimbingan dan Konseling Di Sekolah
52│ Dr.Farida Aryani, M.Pd Layanan bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah di Indonesia telah dirintis sejak tahun 1960-an. Arah kegiatan bimbingan dan konseling adalah membantu siswa dalam menjalankan kehidupan sehari-hari secara mandiri dan berkembang secara optimal. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan melalui jenis layanan tertentu yang didukung oleh sejumlah kegiatan pendukung (Syafaruddin, Syarqawi, & Siahaan, 2019).
Objektif, berkesinambungan dan terprogram dilakukan oleh guru bimbingan dan penasehat atau konselor untuk memudahkan perkembangan peserta didik dalam mencapai kemandirian.
Peranan Guru Bimbingan dan Konseling Dalam Melatih
Berdasarkan penjelasan di atas, hendaknya guru bimbingan dan konseling atau konselor di sekolah mampu memfasilitasi siswa agar dapat mengoptimalkan secara optimal aspek-aspek bidang layanan di atas, termasuk kaitannya dengan pembangunan. Selain itu, konselor juga hendaknya mengajarkan keterampilan asertif kepada siswa berdasarkan pedoman yang dikembangkan. Sedangkan keterampilan asertif sangat penting bagi siswa untuk membantunya mengatasi masalah-masalah sosial yang sering dialami siswa SMP yang mengganggu proses belajarnya serta membantu mempersiapkan siswa memasuki masa remaja dimana ia akan menghadapi masalah-masalah sosial yang lebih kompleks. mengatasi kendala – kendala dalam proses pembelajaran, serta mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk memasuki era pasar bebas ini.
Sehingga alangkah baiknya jika keterampilan tersebut dilatih baik kepada siswa di sekolah maupun kepada masyarakat luas.
PROSEDUR PELATIHAN KETERAMPILAN
Instruksi
Pemberian Model
Dalam hal ini siswa akan belajar bagaimana memastikan bahwa siswa mempunyai kemampuan asertif dan bagaimana berperilaku asertif terhadap orang lain (Fahmi & Aswirna, 2020). Saat memberikan instruksi, contoh kehidupan nyata juga harus disajikan dengan bahasa yang sederhana sehingga siswa dapat memahami materi pembelajaran yang ditawarkan. Konselor/fasilitator harus menyadari bahwa siswa dapat memperoleh pengetahuan tentang perilaku asertif, namun bagaimana memotivasi siswa untuk melakukan hal tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan nyata, baik di dalam maupun di luar sekolah, sulit dilakukan.
Perlu dijelaskan kepada siswa bahwa contoh/model perilaku yang diberikan adalah perilaku persuasif dalam situasi tertentu dan masih banyak alternatif perilaku atau respon persuasif lain yang dapat dilakukan.
Bermain Peran
Dengan demikian, peserta pelatihan tidak menafsirkan bahwa perilaku afirmatif yang diilustrasikan adalah satu-satunya perilaku afirmatif yang tepat. Konselor pada tahap ini memainkan peran yang nantinya akan dimainkan oleh siswa dalam kelompok. Kemudian siswa tersebut harus diberitahu berulang kali bahwa ia berhak meminta apa yang diinginkannya dan berhak menolak.
Materi yang akan dimainkan siswa adalah sebagai berikut: (1) Menghadapi sosok yang berkuasa di kelas yaitu guru, (2) Pengendalian diri saat emosi, dan (3) penolakan.
Pemberian Balikan
Fokuskan umpan balik pada tindakan yang terjadi “di sini dan saat ini” daripada tindakan di masa lalu dan masa depan. Berikan umpan balik tentang perilaku yang bisa diubah dan bukan tentang hal-hal fisik yang tidak bisa diubah. Jika konselor meminta siswa untuk memberikan feedback kepada temannya dalam pelatihan, hendaknya siswa diajarkan cara memberikan feedback seperti di atas.
Pekerjaan Rumah
Memberikan penguatan ketika siswa dapat menunjukkan perilaku seseorang yang memiliki harga diri positif. Siswa harus bergiliran berlatih dengan pasangannya bagaimana mengekspresikan emosi dalam situasi yang berbeda. Memberikan penguatan ketika siswa mampu mengungkapkan emosinya dalam berbagai situasi dengan penuh kejujuran dan tanpa menyakiti orang lain.
Memberikan umpan balik kepada siswa yang dapat mengungkapkan perasaannya dalam berbagai situasi dengan penuh kejujuran dan tanpa menyakiti orang lain. Mintalah siswa untuk berlatih bersama pasangannya bagaimana mereka dapat bergantian mengungkapkan perasaan dalam situasi yang berbeda dengan penuh kejujuran dan tanpa menyakiti orang lain. Mintalah siswa untuk berlatih bergiliran dengan pasangannya tentang bagaimana memberikan respons yang tegas terhadap penolakan.