• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kisah Monca dan Lain-lain

N/A
N/A
Ttacun

Academic year: 2025

Membagikan "Kisah Monca dan Lain-lain"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

“Kisah Monca dan Lain-lain”

(Monca saduran dari naskah larah 2 karya Dukut W.N)

Seekor Burung Kecil nan Indah Yang hidup di Tengah Kompleksnya Masalah Rumah Tangga Sebuah Sandiwara Komedi Karya ADE ARLIN.

Pemeran

1. Dae Hima 2. Juminten 3. Pak Lurah 4. Hansip 1 5. Asri 6. Lasmi 7. Karti 8. hayati 9. Rejo 10. Sarmi

Catatan dari bandarnaskah.blogspot.com

Naskah ini pertama kali dipentaskan pada pentas CANGKIR 2 (Calon Anggota Kreatif Teater Nglilir) dan disutradarai sendiri oleh Dukut W.N.

Dukut W.N. adalah seorang actor dan sutradara di Teater Nglilir Karanganyar Solo. Juga aktif di Kelompok Bandul Nusantara Karanganyar.

UNTUK MEMENTASKAN NASKAH INI SILAKAN MENGHUBUNGI 085642172083 (DUKUT W.N.)

Atau [email protected]

HANYA UNTUK SEKEDAR PEMBERITAHUAN

Naskah ini didedikasikan Untuk

Pentas CANGKIR (Calon Anggota Kreaatif Nglilir) Yang Ke-2

Serta seseorang yang lain

2010

(2)

Sinopsis

Pak Hima yang baru 2 tahun menikah dengan Juminten, ingin menghadiahkan seekor burung yang dibelinya dari seorang Tukang Bangunan. Pak Hima adalah orang yang pelit dan sombong, sehingga masyarakat disekitarnya sangat membencinya.

Pada suatu hari burung kesayangannya hilang, Pak Hima yang tidak ingin ketahuan dari istrinya bahwa burungnya sedang hilang segera bergegas melaporkan kepada Pak Lurah. Pak Lurah dan anak buahnya pun segera mengintrogasi para warganya yang diduga pak Hima mencuri burungnya. Asri, Lasmi, Karti, dan Hayati pun yang akhirnya diindikasi mencuri burung Pak Hima Dikarenakan mereka yang sering sliwar-sliwer depan rumah Pak Hima, serta dikuatkan dengan dugaan Pak Hima.

Pakanya mengungkap pencurian burung malah hal-hal lain yang tidak terduga terungkap. Lalu siapakah pencuri burungnya?

BABAK 1

Adegan 1

Tampak sebuah serambi rumah beserta kursinya. Ada juga kursi panjang di rumah itu. Didekat satu set kursi terdapat sebuah kandang burung beserta burungnya. Dan terihat dua pembantu sedang bercakap-cakap sambil membersihkan serambi rumah.

Sarmi : Nasib-nasib, main pertama di pentas saja, jadi pembantu. Koq nggak jadi nyonya besar apa Dae putri gitu. Kan lebih pantas!!! Hah nasib-nasib.

Rejo : de terima pra sarmi ee. Semua itu sudah takdir dari Tuhan yang Maha Sutradara. Kamu jadi pembantu dan saya juga jadi pembantu. Kalau kamu tidak mau terima nasib, alias tidak mau bersyukur. Kamu akan termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmati Allah. Mau dianggap orang kufur.

Sarmi : Bukannya begitu jo. Masalahnya sayang banget kalo bakat dan kemampuan saya di bidang keaktoran itu hanya dimanfaatkan sebagai seorang pembantu. Padahal jelas-jelas saya cocoknya jadi tokoh-tokoh yang elegan. Pakannya jadi pembantu.

Rejo : Ya ya saya akui, kamu memang sangat berbakat.

Sarmi : Nah kamu saja juga mengakui. Memang saya sangat berbakat.

Rejo : Ya berbakat jadi Pembantu. (tertawa meledek sarmi)

Sarmi : de lako eee !!! (sambil melempar sesuatu sehingga menimbulkan keributan, kemudian dari dalam rumah Hima menegur)

Hima : Rejo!! Sarmi!! Ada apa diluar, koq ribut-ribut.

Sarmi : Tidak apa-apa koq Dae.

Rejo : Iya Dae. Tidak ada apa-apa.

Hima : Awas ya, kalo barang-barang itu rusak. Barang mahal semua itu. Apalagi burungnya.

Awasi burungnya lho jo.

Rejo : Ya Dae. (kepada Sarmi) Eh mi, itu karena pebuatanmu. Jangan membuat berisik, nanti Dae Hima marah lho. Biasanya jam-jam segini Dae Hima lagi sibuk-sibuknya menghitung duit.

Sarmi : Ya saya juga tahu, lagi ngitung duit hutang kan?

Rejo : Ya jelas emang dari manalagi, de dou rentenir. Saya sedikit prihatin terhadap Istri Dae Hima yang cantik itu

Sarmi : ehm, ehm

(3)

Rejo : Kamu ada apa? Tersedak?

Sarmi : Saya tidak terlalu suka dengar kata cantik.

Rejo : Ya ya, kamu wanita paling cantik. Sedangkan istri Dae Hima hanya cantik saja.

Sarmi : Nah begitu dong, kan enak didengarnya.

Rejo : Kamu itu. Eh mi, Istri Dae Hima itu benar-benar baik, ramah dan suka menolong ya.

Coba bayangkan kalau nggak ada Nyonya Hima alias Nyonya Juminten, mungkin gaji kita bakal tidak naik-naik mi.

Sarmi : Betul jo, nyonya itu amat baik. (Hima masuk) Tapi sayang dapat istri koq Dae Hima yang sawai kapi itu. (melihat mata Rejo) Kenapa matamu jo, kedap-kedip kaya orang ayan.

Dasar Orang Pelit!!!

Adegan 2

Hima : Siapa yang pelit!?

Rejo : Alaehh!! (sambil menepuk jidat)

Sarmi : Tidak Dae, itu yang pelit si Rejo. Masak tidak mau berbagi rejeki dengan saya. Eh jo ati- ati kamu termasuk orang Kufur lho…

Hima : Apa betul jo kamu pelit??

Rejo : Ya Dae, saya Pelit, tapi si Sarmi lebih Sawai !!

Hima : Ah terserah kalian lah.. Eh jo ambilkan kandang burung itu. Dan kamu Sarmi, kesini saya mau memberiitahu sesuatu kepada kalian.

Sarmi : Ya Dae.

Hima : (menunjukan Burung) Nah, ini saya perkenalkan keluarga baru kita, namanya Monca.

Rejo : Owh.. Monca.

Sarmi : Burung mahal ya Dae.

Hima : Ya jelas, Monca ini adalah tipe burung yang mahal. Ya kebetulan saja, saya dapat harga murah dari seorang tukang bangunan. Baru saya tawar sedikit mahal saja, dia langsung menerimanya. Dasar orang miskin.

Sarmi : Eh lihat tho. Orang pelit dan kikir.

Rejo : Iya iya!!

Hima : Ada apa?

Rejo : Tidak apa-apa koq Dae. Dae kenapa harganya bisa mahal begitu, padahal kan Cuma seekor burung.

Hima : Monca ini jenis burung yang khusus, tidak hanya cantik dan indah bulunya, akan tetapi suaranya itu lho jo. Menentramkan hati. Makanya burung ini mahal jo, karena burung ini bisa bernyanyi.

Rejo : Burung koq nyanyi. Berkicau Dae.

Hima : Ini burungnya orang kaya!! Ya jelas bisa bernyanyi. Tidak seperti burung mu itu.

Jangankan bernyanyi berkicau saja tidak bisa.

Rejo : Oh.. Rupanya burungnya orang kaya pinter nyanyi tho?

Hima : Monca.. chek chek..

(4)

Sarmi : Eh Dae namanya koq Monca, tidak nama saya saja Sarmi, atau istri Dae Juminten atau malah Si Citra yang pinter nyanyi.

Hima : Begini mi, kamu dengarkan. Sewaktu saya membeli burung ini, pemilik burung ini berpesan supaya jangan mengganti nama burung ini. Soalnya nama Monca ini mempunyai filosofi tersendiri katanya.

Sarmi : filosofi Dae?

Hima : Ya filosofi, Nama Monca itu diambil sawaktu pemiliknya menonton pentas tari, dan di suku mbojo ada tarian khas yang Bernama “Tari Wura Bongi Monca”. Nah oleh karena itu di ambil nama Monca

Sarmi : Wah cukup tinggi ya Filosofinya Dae.

Hima : Makanya, sebagai orang yang kaya saya harus mempunyai filosofi tinggi pula. Oh ya jo, mi perlu kalian ketahui bahwa Monca ini saya beli tanpa sepengetahuan Istri Saya.

Rejo : Lho…

Hima : Soalnya saya mau memberi kejutan kepada Istri saya di hari ulang tahun pernikahan kami. Biar kelihatan Romantis

Rejo : Romantis koq ngasih burung.

Hima : Apa kamu bilang!?

Rejo : Tidak Dae, ya pokoknya Romantislah. Orang kaya pokoknya selalu benarlah.

Hima : Bagus,-bagus, saya mau melanjutkan pekerjaan saya menagih hutang dulu. Ingat!!!

Pokoknya istri saya jangan sampai tahu kalau burung ini milik saya. Katakan saja burung ini milik siapa, atau terserahlah.

Sarmi : Ya Dae, tapi Dae ada uang tutup mulutnya tidak?

Rejo : Iya Dae?

Hima : Owh.. tentu saja, ini.. Ini untuk Rejo, ini untuk Sarmi.. Nggak usah rebutan.

Rejo & Sarmi: Makasih Dae..

Rejo : Dae baik sekali.

Hima : Ya sama-sama. Tapi gaji bulan ini saya potong ya. (Hima keluar dengan diringi musik) Rejo : Dasar pelit.

Sarmi : Sabar-sabar, tadi kamu kan bilang kita harus terima apa adanya. Kalo tidak kita akan termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah.

Rejo : Sabar-sabar (Juminten masuk)

Adegan 3 Juminten Masuk

Juminten : Deh - deh ada apa ni, ada apa jo. Koq kelihatannya kamu sedih.

Sarmi : Nggak ada apa-apa kog nya. Biasa si Rejo Akting (masuk kedalam rumah) Juminten : Kamu ini aneh-aneh saja. Oh ya Dae Hima kelihatannya tadi pergi kemana jo?

Rejo : O. katanya tadi mau pergi kerumah orang untuk menagih hutang nya.

Juminten : Owh… (memanggil sarmi) Sarmi, Mi…

(5)

Sarmi : Ya nya, Ada apanya?(Menjawab dari dalam) Juminten : Buatkan aku teh manis ya, yang cepat ya.

Sarmi : Ya nya

Juminten : Itu jo, potnya ditata yang rapi. (Tiba-tiba matanya mengarah ke kandang burung) Lho..

aneh burung siapa ini, padahal kemarin belum ada. Masak Mas Hima pelihara burung.

Setahu saya mas Hima orangnya pelit. Ah kelihatnnya tidak mungkin kalo memelihara burung. (Sarmi masuk membawa minuman). Burung siapa ini jo?

Rejo : Burungnya Dae Hima nya. (Sarmi kaget) Sarmi : Hus…(matanya kedap-kedip)

Juminten : Masak sih, Mas Hima melihara burung. Wah bisa-bisa burung ini tidak terawat.

Rejo : (sedikit bingung kenapa matanya sarmi kedap-kedip, lalu tersadar) Juminten : Lho matamu kenapa to mi, matamu sakit?

Sarmi : Enggak og nya, tadi mata saya kena saos, jadi biar nggak pedas ya dikedap-kedipin, begitu nya.

Rejo : Owh.. Kebiasaanya si Sarmi emang begitu nya. Eh nya.. Ini Pakan burungnya Pak Hima.

Juminten : Lha lega aku, setidaknya burung ini tidak dirawat Dae Hima. Kalau dirawat Dae Hima bisa mati kelaparan burung ini. Lalu ini burungnya siapa?

Rejo : ………..e e..

Sarmi : Burungnya Rejo, nya Namanya Monca… Rencananya mau dijual, tapi berhubung yang nawar baru 100 ribu. Terpaksa di taruh disini dulu. Siapa tahu kalau ditaruh sini ada yang mau menawar lebih dari 100 ribu.

Rejo : Iya nya. Betul-betul. Kalo ada yang membayar lebih dari itu baru saya kasihkan.

Langsung.

Juminten : Owh… Monca ini burung kamu.

Rejo : Ya semoga di taruh sini membawa peruntungan.

Juminten : Ya sudah saya pergi dulu, kalo Dae Hima mencari saya katakan saya pergi ke rumah teman. Saya pergi dulu ya jo, mi. Jaga rumah baik-baik.

Rejo : Ya siap nya!! (Juminten keluar)

Sarmi : Untung tadi tidak ketahuan. Kalau ketahuan, bisa-bisa bulan ini kita tidak di gaji. (Hima masuk)

Adegan 4

Hima : Sial-sial apes sekali hari ini. Sudah tidak ada pemasukan, malah orang-orang yang punya hutang berencana untuk menghakimi saya (Sarmi masuk rumah). Dasar orang yang tidak tahu balas budi.

Rejo : Ada apa Dae.

Hima : Biasalah masalah tagihan hutang. Oh ya jo, tadi Juminten sudah keluar rumah?

Rejo : tadi nyonya keluar rumah dan .. (dipotong) Hima : Lho lha terus masalah burung.

(6)

Rejo : Aman Dae, pokoknya nyonya tidak tahu kalau ini burung Dae. Dan sekarang nyonya baru pergi ke rumah teman.

Hima : Bagus-bagus. Yang penting rencana saya memberi kejutan akan terlaksana. Ya sudah saya pergi ke dalam dulu untuk tidur sejenak. Jaga Monca baik-baik. (Musik masuk, dan Hima Masuk kamar)

Rejo : Ya Dae

BABAK 2

Adegan 1

Lampu mulai menyala perlahan. Lalu Hima keluar dengan keadaan seperti orang yang bangun tidur.

Seperti biasa Rejo menata tanaman, dan memberisihkan halaman

Hima : Juminten kok belum pulang juga ya. Padahal sudah jam segini lho. Aku jadi khawatir kalau terjadi sesuatu pada Juminten. Ah semoga tidak terjadi apa-apa, Soalnya saya mau memberikan kejutan untuk Juminten. (Melihat tempat kandang burung, ternayata burungnya tidak berada pada tempatnya) Lho dimana burung saya? Dimana Monca??

Jo!!! Rejo!!!!!!

Rejo : Ya Dae, ada apa? (menjawab dari dalam rumah) Hima : Mana burung saya? Mana??

Rejo : Burung Dae.

Hima : Iya burung saya. He cepat panggil Sarmi !

Rejo : Lho apa hubungannya burung Dae dengan si Sarmi??

Hima : Siapa tahu dia mengetahui keberadaan burung saya. Goblok

Rejo : Owh.. Sarmi cepat keluar. Di panggil Dae. Wah ternyata Sarmi suka sama burung Dae ya? (Sarmi masuk)

Sarmi : Ya Dae, ada apa kok memanggil saya?

Hima : Kamu tahu dimana burung saya?

Sarmi : he he he, burung yang mana Dae?

Hima : Ya burung yang tadi. Si Monca….

Sarmi : Owh… Monca to Dae.

Rejo : eh mi, emangnya Dae punya burung berapa Sarmi : Saya kira burung yang lain..

Rejo : Burung yang lain??. (Tersadar) Ngawur kamu!! Ini masalah serius, malah bercanda.

Hima : Sudah-sudah, sekarang Monca dimana??

Rejo : Wah saya tidak tahu Dae.

Sarmi : Saya juga tidak tahu Dae,

Hima : haduh, berarti Monca hilang ini, atau malah dicuri orang. Wah berarti rencana saya untuk memberikan kejutan terhadap istri saya gagal ini. Wah ini tidak bisa dibiarkan.

Rejo : Bisa gagal ya Dae ya.

(7)

Hima : Rejo, Sarmi kesini. Sarmi kamu panggil seluruh warga yang mempunyai hutang terhadap saya. Buat bagaimana carannya mereka datang kemari. Saya kira ini rencana buruk mereka.

Sarmi : Ya Dae..

Hima : Dan kamu jo, panggil Pak Lurah. Jangan lupa ceritakan semua kejadiannya pada Pak Lurah.

Rejo : Sekarang pak!!

Hima : Besuk.. Ya sekarang goblok (Musik) Rejo : Ya Dae, Ayo mi sekarang berangkat.

BABAK 3

Adegan 1

Lampu perlahan menyala terlihat Hima yang ketiduran. Rejo masuk bersama Pak Lurah dan anak buahnya yaitu seorang Hansip

Rejo : Dae. Dae (Membangunkan)

Hima : Mana burung saya. Mana Monca… Monca mana jo.

Rejo : Sabar Dae. Ini Pak Lurah telah datang, sesuai dengan perintah Dae, Pak Lurah sudah saya ceritakan semua tentang permasalahannya (Sarmi Masuk)

Sarmi : Sabar para warga.. Duduk yang rapi ya. Pokoknya jika kalian tenang dan menuruti semua perintah Dae Hima, semua Lancar dan Beres.

Warga 1. : Alhamdulillah ya bu ibu, MasyaAllah urusan kita dimudahkan Warga 2 : benar Pak, ga salah setiap hari pak Hima saya sholawatin Warga 1 2 3 : heheh iya Pak

Warga 3 : saya tidak pernah merasa sebahagia ini

Warga 2 : iya Pak, hari ini akan saya jadikan hari yang bersejarah dalam hidup saya Warga 1 2 3 : hahaha iya Pak ( bahagia dan lanjut merumpi)

Sarmi : Ah ini Dae semua telah sesuai perintah Dae, seluruh warga yang punya utang telah dikumpulkan disini tanpa terkecuali.

Hima : Bagus-bagus. Sekarang langsung saja kita mulai pemeriksaannya. Pak lurah tolong di pimpin untuk melaksanakan Interogasi kepada para warga ini. Sebelum istri saya pulang.

Warga 1 : ha? Interogasi?

Warga : (ribut)

Pak Lurah : Baik-baik saya akan memulai introgasi kepada para warga ini. Di karenakan para warga ini bapak curigai mencuri burung pak Hima kan?

Warga semua : ha? Mencuri?

Hima : Benar Pak!

Pak Lurah : Oh ya pak, Sebelum saya melakukan interograsi setidaknya ada sesuatu nya terlebih dahulu. Sebagai ancang-ancang.

Hima : Uang maksud Pak Lurah?

(8)

Pak Lurah : ya begitu lah..

Hima : Yang penting rencana saya berhasil. Ini Pak.

Pak Lurah : Bagus. Bagus. Baiklah selamat siang menjelang sore para warga yang saya cintai.

Pertama-pertama marilah kita panjatkan rasa puji syukur kita kepada Tuhan yang maha kuasa. Karena pada hari ini kita masih diberikan kenikmatan berupa sehat dan kelonggaran waktu. Sehingga kita bisa berkumpul dsini… (dipotong Hima)

Hima : Jangan berbelit - belit Pak, langsung to the point saja.

Pak Lurah : Jadi bapak mau langsung, ya tambah dulu ongkosnya.

Hima : Ini – ini yang penting Monca ketemu.

Pak Lurah : Nah cukup, Baiklah para warga sekaliyan. Siang hari ini saya akan memberiitahukan bahwa burung Pak Hima hilang (sedikit ribut). Nah sekarang saya tanya dulu, dari para warga disini siapa yang punya burung??

Hansip : (Hansip memeriksa penonton) deh deh kok yang berdiri malah bapak-bapak..

Pak Lurah : Ah begini maksud saya.. siapa yang pernah lihat burung.

Hansip : (Hansip memeriksa penonton) Wah Pak yang berdiri malah semuanya…

Pak Lurah : E e e… maksud saya begini, siapa yang pernah lihat burungnya Pak Hima?? Nah begitu jelas?.

Hansip : (Hansip memeriksa penonton) Wah semakin aneh Pak, yang berdiri hanya sebagian ibu-ibu.

Pak Lurah : Lho.. begini ibu-ibu Pakan burung yang itu. Tapi burung peliharaanya pak Hima.

Bagaimana, siapa yang pernah lihat??

Hansip : Wah tidak ada yang berdiri malahan Pak.

Pak Lurah : Nah sudah jelas sekarang, berarti para warga ini tidak ada yang melihat apa lagi mencuri burung bapak.

Hima : Lalu dimana Monca,?

Pak Lurah : Begini, kira-kira Pak Hima, apakah tidak ada seseorang yang mencurigakan yang mondar-mandir lewat sini.

Hima : Saya tidak tahu Pak, soalnya saya tidur di dalam rumah tadi.

Rejo : Oh ya Dae, tadi ada yang lewat dan mondar-mandir disini, Kalo tidak salah Bu Lasmini Pak.

Pak Lurah : Yang benar lho jo? Jangan-jangan kamu salah lihat.

Rejo : Saya yakin tadi Ibu Lasmi yang kesini. Soalnya saya sempat lihat dengan jelas, waktu saya keluar rumah. Dia langsung pergi begitu saja.

Pak Lurah : Wah patut di curigai ini pak Hima!!

Hima : Kelihatannya si Lasmini lah yang mencuri Monca Pak. Sekarang seluruh warga suruh pulang saja. Mi suruh mereka pulang.

Sarmi : Nah bapak-bapak ibu-ibu sekarang boleh kembali kerumah masing-masing. Makasih bapak-bapak, ibu-ibu.

Warga semua : huh alhamdulillah aman ( keluar dengan buru")

Pak Lurah : Apa pak Hima yakin, bahwa Lasmini yang cantik itu adalah pelakunya?

(9)

Hima : Saya yakin pak. Rejo ambilkan Haju mori saya di belakang lemari!! Biar tahu rasa si Lasmini itu.

Pak Lurah : Sabar Pak Hima, Baiklah.. Hansip!!

Hansip : Siap Pak!!

Pak Lurah : Sekarang suruh si Lasmini kesini. Cepat.

Hansip : Siap. Laksanakan (Hansip keluar)

Pak Lurah : Pak Hima mengapa anda begitu yakin kalau pencurinya adalah Lasmini.

Hima : Begini Pak, saya ceritakan. Lasmini adalah mantan istri saya, yang saya ceraikan dulu.

Pasti Lasmini masih menyimpan dendam kepada saya. Dan lagi sewaktu di perjalanan, saya mengatakan bahwa saya akan menghadiahkan seekor burung untuk Istri saya. Nah mungkin itu yang membakar api Cemburunya Pak.

Pak Lurah : Nah Itu patut di curigai.

Hima : Betul Pak, Dasar Lasmini. (Hansip masuk bersama Lasmini) Adegan 2

Hansip : Lapor Pak, ini si Lasmini telah saya bawa. Laporan selesai.

Pak Lurah : Bagus hansip. Lasmini. Walau kamu cantik tapi saya tidak menyangka, kamu melakukan perbuatan tercela.

Lasmini : Apa maksud Pak Lurah??

Pak Lurah : Janganlah berpura-pura kamu Las, kamu tadi mondar-mandir disini kan?

Lasmini : Benar Pak Lurah.. saya tadi mondar-mandir disini, tapi…(dipotong) Hima : Nah sudah jelas kan Pak!! Dia pencuri burung saya.(Rejo Masuk) Rejo : Ini pak tongkatnya.

Pak Lurah : Sabar pak Hima. Sabar..

Lasmini : Lho.. lho ada apa ini. Kok saya mau dipukuli, emangnya saya salah apa??

Pak Lurah : Begini las, mengakulah, kamu yang telah mencuri burungnya Pak Hima kan?

Lasmini : Burungnya Hima?? Idih sudah bosan kali Pak, buat apa saya mencuri burung orang pelit dan kikir ini.

Pak Lurah : Malah bercanda.

Hima : Sudah lah Pak, biar saya yang bertanya. He las, kamu mencuri burung saya karena kamu cemburu kan. Kamu tidak suka melihat saya menghadiahkan Burung itu kepada Istri saya.

Lasmini : Cemburu???

Hima : Ya Cemburu, karena kau telah ku cerai 2 tahun yang lalu. Dan sekarang saya menikah dengan si Juminten.

Lasmini : Owh.. Eh Hima, dengar saya ini Pakan wanita yang sok usil dengan urusan orang lain ya. Dan lagi aku ini cukup laris bahkan sangat laris. Untuk itu aku sangat senang ketika kau ceraikan. Apa enaknya jadi istri mu. Hima yang terkenal pelit, medit. Mengambil beras untuk masak saja ditunggui. Cuih.. Sekarang malah banyak pria-pria yang jauh lebih tampan mengejar-ngejar saya.

Pak Lurah : ehem ehem. Sebentar-sebentar kenapa kamu malah berbicara seperti to Las?

(10)

Lasmini : Biar-biar semua orang tahu Bahwa Hima adalah orang yang pelit, dan amat kikir.

Pak Lurah : Oh Sudah.. Berarti kamu tidak mencuri burung pak Hima?

Lasmini : Tidak Pak, tadi saya mondar-mandir di Sini dikarenakan saya ingin mengambil Tas dan pakain saya yang dua tahun lalu tertinggal di rumah ini, tapi tidak jadi Pak lurah.

Pak Lurah : O o o Begitu ya. Pak Hima dapat disimpulkan bahwa Lasmini Pakan pencuri Monca.

Hima : Apa benar kamu tidak mencuri??

Lasmini : Sumpah, walau disamber geledek.. Saya tidak mencuri. Lagian buat apa mencuri burungnya orang pelit.

Pak Lurah : Sudah-sudah. Oh ya Las, apakah kamu tidak melihat orang-orang yang mencurigakan sebelum kamu?

Lasmini : Oh ya Pak Lurah, kalau tidak salah sebelum saya datang kesini, tadi saya melihat si Asri mondar-mandir. Seperti orang ketakutan Pak.

Hima : Lalu bagaimana dengan burung yang ada disini?

Lasmini : Semenjak saya datang kesini memang sudah tidak ada burung.

Pak Lurah : Apa kamu tidak salah lihat las?

Lasmini : Saya yakin bahwa yang saya lihat disini tadi, adalah Asri Pak!!

Pak Lurah : Asri ya, Hansip!!!

Hansip : Siap Pak!!

Pak Lurah : Tolong panggilkan si Asri kesini!!

Hansip : Laksanakan!!!!!

Rejo : Aduh…

Hima : Kenapa kamu jo? Kok kamu seperti orang kejatuhan meteor saja.

Rejo : Tidak ada apa-apa mi!! Perasaan saya tidak enak.

Hima : Nah Sudah jelas.. Rejo ambilkan pisau di Dapur!

Rejo : Ya Dae.

Pak Lurah : Lho lho mau apa kamu Hima, dengan pisau?

Hima : Saya sudah yakin Pak, bahwa Asri adalah pencuri Monca.

Pak Lurah : Kenapa kamu bisa seyakin itu Pak Hima?

Hima : Yang pertama, dia juga telah saya beritahu tentang rencana saya memberii kejutan kepada istri saya. Dan kelihatannya dia tidak begitu senang terhadap rencana saya.

Pak Lurah : Terus..

Hima : Alasan yang kedua adalah menurut si Lasmini dia mondar-mandir disini. Itu semakin menguatkan dugaan saya

Pak Lurah : O ya yaTerus

Hima : Dan alasan yang paling kuat adalah. Dia adalah mantan pacar saya. Saya tidak jadi menikahinya dikarenakan saya lebih tertarik kepada Juminten. Dan mungkin itulah yang menyebabkan dia begitu ingin mengagalkan rencana saya itu Pak. Karena dia masih sakit hati terhadap saya.

(11)

Lasmini : Dasar lelaki mata jelalatan…

Pak Lurah : Sudah to Bu Lasmini

Lasmini : Biar semua orang tahu, tidak hanya pelit dan kikir. Hima juga seorang yang matanya jelalatan.

Pak Lurah : Lasmini janganlah kamu memperkeruh suasana. Pak Hima apakah bapak yakin bahwa Asrilah pencurinya.

Hima : Saya tidak pernah seyakin ini. (Hansip dan Asri masuk)

Adegan 3

Asri : Assalamu’alaikum.

Pak Lurah : Walaikumsalam

Asri : Ada apa Pak, kok memanggil saya disini. Padahal saya lagi berdagang lho Pak.

Pak Lurah : Kalau begitu Langsung saja, Sri apakah kamu tadi siang mondar-mandir disini?

Asri : Iya Pak Lurah..

Pak Lurah : Nah sekarang sudah ada gambaran yang jelas.

Hansip : Wah tampaknya kasus akan segera selesai.

Pak Lurah : Ha ha ha betul-betul. tadi sampai mana ? Asri : Sampai mondar-madir

Pak Lurah : Ya ya Sri katakan semuanya dengan jujur dan bertanggung jawab. Dan kalau kamu ketahuan berbohong kamu akan mendapatkan masalah besar. Mengerti kamu!!

Asri : Ya Pak lurah.

Pak Lurah : Begini, setelah mondar-mandir dari sini, apa yang kamu lakukan..

Asri : Saya membakarnya (dipotong Hima) Hima : Apa!!! Membakarnya.. (Rejo masuk) Pak Lurah : Betul kamu membakarnya??

Asri : Betul Pak, malah saya injak-injak setelah saya bakar.

Rejo : Ini Dae pisaunya..

Hima : mana pisaunya. Ini tidak bisa dibiarkan.

Pak Lurah : Sabar-sabar to Pak Hima!! Hansip bantu ini.

Hansip : Siap Pak!!

Asri : Ada apa tho ini!!! kok tiba-tiba Mas Hima ingin menusuk saya.

Pak Lurah : Begini Sri, katakan dengan jujur kamu yang telah mencuri burung Monca kan?. Dan kamu tadi telah membakarnya kan?

Asri : Mencuri burung??

Hima : halah jangan sok tidak tahu. Kamu mencuri dan membakar Monca karena menyimpan dendam kepada saya kan? Karena dulu saya tidak jadi menikahimu gara-gara saya lebih memilih Juminten.

(12)

Asri : Mas Hima apa-apaan ini? Saya tidak pernah mencuri burung.

Hima : Halah jangan mengelak. Katakan kau yang telah mencuri dan membakar burung saya kan?

Pak Lurah : Sabar-sabar. Hentikan Pak Hima. Sri apakah kamu membakar Monca, burung peliharaannya Pak Hima?

Asri : Tidak Pak. Saya tidak membakar Monca. tapi…

Pak Lurah : Tapi apa, ayo cepat katakan..

Asri : Saya takut mengatakannya Pak.

Pak Lurah : Halah tidak usah takut, ada saya. Pak Lurah.

Asri : Yang saya bakar itu adalah surat cinta Pak. Surat cinta dari Rejo. Soalnya Rejo tadi pagi menembak saya. Saya takut kalau Sarmi melihatnya makanya tadi saya tampak takut, lalu membakar Surat Cintanya.

Sarmi : Rejo!!!!!!!!!!!!!!!

Rejo : Ada apa?? Emangnya kenapa, saya masih single kok.

Hansip : he hehe sudah, ini masalah serius.

Asri : Pak lurah sedikit meralat perkataan Mas Hima, bahwa saya tidak mempunyai rasa dendam terhadap Mas Hima. Karena dulu saya lah yang telah memutus hubungan itu sendiri. Jadi buat apa saya dendam.

Lasmi : Owh rahasia Hima terbongkar, jadi tidak Hima yang memutus hubungan. Kasihan Hima.

Pak Lurah : Emangnya ada alasan apa kamu memutuskan hubungan dengan Hima? Apakah karena Pak Hima pelit!!

Asri : Pakan itu Pak. Tapi… tapi…. Saya malu mengatakannya Pak!!

Pak Lurah : Ada apa lagi tadi takut, sekarang malu. Ayo cepat katakan sebelum saya mati penasaran!!

Asri : e e e segini panjangnya Pak!!

Pak Lurah : Apanya??

Asri : Itunya

Hansip : Bicara yang jelas..

Rejo : Iya. Apanya yang panjang segitu???

Asri : anu….

Pak Lurah : Ayo cepat..

Asri : Ekor Pak.

Pak Lurah : Ha???? Ekor

Asri : Iya ekor Dae Hima!! (semua tertawa) Hima : Apa maksud perkataanmu itu sri??

Pak Lurah : Tenang pak tenang. Ayo dilanjutkan.

Asri : Kata orang-orang setiap malam jum’at kliwon ekornya tambah panjang. Itulah yang membuat saya memutuskan hubungan dengan Dae Hima. Saya tidak suka ekor

(13)

Lasmini : Terbongkar lagi. Sudah pelit, kikir, matanya jelalatan dan punya ekor lagi.

Hima : Apa maksud perkataanmu Lasmi.

Lasmini : Tidak apa-apa.

Hima : Pak lurah!! Seharusnya tugas Pak lurah disini adalah mencari burung saya. Kenapa malah bongkar-bongkar rahasia orang. He Sri katakan saja kau lah yang mencuri burung saya. Karena hanya kau yang mondar-mandir di sini sebelum Lasmini.

Asri : Jangan-jangan menuduh begitu Dae. Perlu diketahui Dae, saya itu orang yang amat geli jika melihat burung. Memang tadi saya mondar-mandir disini, tapi sebelum saya ada juga yang lewat sini.

Pak Lurah : Siapa sri?

Asri : Hayati Pak. Ditambah lagi hayati juga menawarkan sate burung kepada saya.

Rejo : Oh ya Pak lurah, saya baru ingat si hayati pernah juga menawarkannya kepada saya Pak Lurah : Wah patut di curigai itu.

Hima : Nah ini dia!! Ini dia!! Pasti dia,,, dasar Komplotan Pak Lurah : Komplotan??

Hima : Benar Pak Lurah. Pelakunya pasti dia si hayati dan Karti!!

Pak Lurah : Apa kamu yakin Pak Hima??

Hima : Saya tidak pernah seyakin ini Pak. Dan keyakinan saya lebih kuat dari pada tadi. Sudah jelas. Semua sudah jelas Pak Lurah.

Pak Lurah : Apa alasanmu menuduh mereka berdua.

Hima : Begini. Dulu tanah mereka saya ambil karena terlampau besar bunga dari hutangnya.

Dan Kelihatannya mereka masih menyimpan dendam kepada saya. Dan juga mereka merupakan orang yang saya beritahu rencana kejutan untuk istri saya. Ketika saya ceritakan tentang rencananya saya, malah mereka mengatakan ingin memakan burung saya. Sudah jelaskan Pak!!

Pak Lurah : Ya ya Saya kira alasanmu cukup kuat untuk memanggil mereka. Hansip!!!!

Hansip : Siap Pak Lurah..

Pak Lurah : Kita selesaikan sekarang, Panggil hayati dan Karti kesini. Segera!!

Hansip : Siap Pak!!

Hima : Rejo!!!!!!

Rejo : Siap Dae. Suruh ambil senjata apa lagi Dae,

Hima : Sekarang saatnya mengambil senjata pamungkas. Ambilkan Cila Mboko saya.

Rejo : Cila Mboko???

Hima : Iya Cila Mboko,Cepat ambilkan.!!

Rejo : Siap Dae!

Pak Lurah : Sabar-sabar.. Pak. Jangan bertindak bodoh.

Hima : Sudah lah Pak.. Ini sudah puncak kemarahan saya..ibu jangan menghentikan saya lagi.

(hayati dan Karti Masuk)

(14)

Adegan 4

Hayati : Assalamu’alaikum

Pak Lurah : Walaikumsalam (Rejo Masuk) Rejo : Ini Gobangnya Dae.

Hima : Bagus.. He hayati mana burungnya??

Hayati : Lho koq Dae Hima sudah tahu kalo saya bawa sate burung?

Hima : Sate burung??

Hayati : Iya sate burung. Nah ini sate burung khusus Dae Hima, ya soalnya ini juga burung khusus. Dan karti memasaknya khusus untuk Dae Hima.

Karti : Iya dae, burung ini katanya burung tipe mahal, makanya sayang kalo saya makan sendiri, Nah lalu saya kepikiran untuk membagikannya kepada warga termasuk dae Hima.

Hima : Monca.. Monca.. Sekarang engkau jadi sate. Malang nian nasib dikau Monca. Hayati sekarang kau harus bertanggung jawab terhadap perbuatanmu!!

Hayati : Tanggung jawab??

Pak Lurah : Sabar-sabar… he Hansip tolong ini lho..

Hima : Sudahlah jangan menghentikan saya Pak.. Dia telah membunuh Monca burung saya.

Hayati : Tunggu dulu, saya membunuh burung dae Hima!!

Hima : ya burung peliharaanya saya.

Hayati : Saya tidak membunuh burung dae Hima!!

Hima : Ah jangan mengelak kau hayati..

Pak Lurah : Sabar-sabar… Kita perlu mendengar penjelasan dari hayati dulu. Jangan main hakim sendiri. Hima, kamu bisa dipenjara gara-gara ini.

Hima : Baiklah..

Pak Lurah : hayati, sekarang langsung saja.. Apakah kamu membunuh burung Dae Hima dan menyatenya???

Hayati : Ah tidak Pak Lurah, semua burung yang saya sate saya dapat dari pasar beras.

Pak Lurah : benar kamu tidak bohon?

Hayati : Benar Pak, masak sih kami tega melakukan itu terhadap Dae Hima.

Pak Lurah : Lho seharusnya kalian tega. Karena Hima telah merebut tanah dan rumah kaian.

Karti : owh masalah itu ya Pak. Kami sudah melupakannya. Sejujurnya kami sudah ikhlas dan melupakannya sejak dulu.

Hayati : betul Pak lurah.

Lasmini : Berarti sudah jelas,

Asri : Apanya yang sudah jelaas..

Lasmini : Terbongkar lagi kan Hima. Ternyata seorang Hima itu Pelit, kikir, matanya jelalatan, punya ekor, Licik dan serakah karena merebut tanah dan rumah sembarangan.….

Hima : Awas jaga mulutmu itu Las…

(15)

Lasmini : Biar saja, lagi pula saya sudah Pakan istrimu lagi.

Sarmi : Sabar bu Lasmini… Sabar..

Pak Lurah : Sekarang malah terbongkar semua. Jadi selama ini kamu Pelit, kikir dan licik ya.

Hima : Sudah, sudah.. Pak Lurah itu saya bayar untuk mencari burung saya, sekarang Pakannya malah bongkar-bongkar rahasia saya.

Pak Lurah : Lha ternyata malah terbongkar semua ha ha ha

Hima : Sudah –sudah semuanya diam, sekarang dimana burung saya. (Juminten Masuk)

Adegan 5

Juminten : Ada apa ini koq rame-rame, tumben mas Hima ngundang banyak tamu. E e Pak lurah juga ada tho?? hayati, Karti, mbak Lasmini, dan Asri… Sarmi kok tamunya tidak di berikan minum??

Sarmi : Kata Dae tidak usah nyonya.

Hima : Juminten, dari mana saja kamu…

Juminten : Dari Rumah teman mas, Oh ya jo. Ini uang untukmu. Monca sudah terjual dengan harga 5 Juta. 50 kali lipat dari tawaran sebelumya, lumayan lah..

Rejo : Waduh!!!!

Hima : Kamu menjual Monca????

Juminten : Iya mas, kasihan kan si Rejo. Masak katanya burungnya itu di tawar seharga 100 ribu.

Padahal ternyata laku sampai 5 juta, Sini. Ini lima jutanya

Hima : Haduh.. haduh… Mana jo uangnya.. Ini uang saya. itukan burung saya.

Juminten : Lah burungnya Dae Hima ya.

Hima : Wah gagal memberikan kejutan, ah setidaknya saya dapat uang. Tak apalah Lasmini : ehm ehem, saya mau meminta bagian

Hima : bagian???

Lasmini : Iya. Soalnya dulu ketika saya bercerai baju-baju saya masih tertinggal dirumah ini dan tidak boleh diambil. Sekarang saya tidak mau bajunya . tapi saya mau mentahnya saja. 1 Juta. Mana!!!!

Juminten : Baju???

Hima : Sudahlah kau tidak perlu tahu, Ini..

Asri : Dae Hima, sebelumnya maaf. Karena tadi saya di panggil kesini padahal sebenarnya saya harus berdagang. Karena meninggalkan perkerjaan saya jadi rugi hari ini. Untuk itu saya minta ganti rugi.

Hima : Berapa???

Asri : Cuma 1 juta mas.

Pak Lurah : Kasihkan saja.. Apa nggak malu dilihat istrimu.

Hima : Ini!!!

(16)

Hayati : Ehem. Ehem, begini mas. Sebenarnya saya tidak terima atas tindakan dae kepada kami berdua, yaitu melakukan kebohongan. Oleh karena itu setidaknya ada uang, untuk mengikhlaskan masalah tersebut. Begitu juga dengan masalah tanahnya.

Hima : Berapa??

Hayati : Masing-masing satu juta mas.

Pak Lurah : sudah kasihkan saja, apa tidak malu dilihat istrimu.

Hima : Ini.!!! 2 juta.

Pak Lurah : Dan terakhir, sebenarnya ini diluar jam kerja saya, saya bela-belain untuk melaksanakan tugas ini. Untuk itu setidaknya ada uang lembur untuk saya dan Anak buah saya.

Hima : ini 1 juta..!!

Pak Lurah : Ikhlas???

Hima : (menghela napas panjang) Ikhlas Pak Lurah : Alhamdulillah..

Juminten : Alhamdulillah.. Dae Hima sudah Berubah

Hima : apes apes.. dari pagi belum dapat setoran, dan sekarang kehilangan 5 juta. Setidaknya masih ada hutang-hutang dari masyarakat.

Sarmi : E e beginii Dae, mengenai utang warga.

Hima : Ada pa dengan hutang warga??

Sarmi : Karena Dae menyuruh agar mendatangkan warga. Walau pakai cara apa saja, akhirnya saya menjanjikan hutangnya Lunas jika mereka datang Dae. Akhirnya semua warga yang punya hutang terhadap Dae, semua datang.

Hima : Aduh… aduh.. apes apes..

Lasmini : sudah.. setidaknya Mas Hima telah membuat banyak orang senang, ya tidak? Insya Allah akan mendapatkan pahala dari yang kuasa.

Juminten : Sebenarnya saya tidak tahu permasalahannya, tapi saya amat bangga Dae Hima sudah jadi orang yang Dermawan. Saya kira itu karena Monca.. Burung pembawa berkah.

Hima : Ini gara-gara Monca.. ya gara Burung itu. Juminten dimana burung itu sekarang, saya akan membelinya walau dengan harga berapapun (sambil memegang cila mboko).

Juminten : Ya paling sekarang sudah sampai di Jakarta. Soalnya tadi naik pesawat bersama yang orang membelinya.

Hima : apa??? MONCA………iraeh ku made raeee

BLACK OUT

Referensi

Dokumen terkait

Sasandewini dan Suntre berjalan sambil mengamati loncatan burung- burung dari pohon yang satu ke pohon yang lain..

A. Mendengarkan Dengarkanlah dengan seksama cerita rakyat yang dibacakan oleh Bapak/Ibu gurumu ini! Kesombongan Burung Nuri Deo seekor burung nuri. Tinggal di hutan luas bersama binatang

Aktivitas meninggalkan sarang dilakukan secara cepat jika gangguan yang datang mengagetkan burung gosong seperti yang terjadi pada saat seekor anak komodo yang menyerang

Seekor burung sedang melayang terbang pada ketinggian 10 m di atas tanah dengan kecepatan konstan sebesar 10 m/s. Jika massa burung adalah 2 kg, tentukan:.. a) Energi kinetik

Kehidupan di Sekitar Kolam Di tepi kolam tinggal seekor katak Katak suka berenang di kolam Katak bisa hidup di .... Di dalam kolam hidup

Bukan hanya karena ketulusan Nabi Dawud yang menjadi penyebab bertasbihnya gunung-gunung atau burung- burung bersama beliau dan ini adalah mukjizat dari Allah

meninggal dunia. Ia kemudian mendapat mimpi melihat dua ekor burung gagak bertengkar merebut makanan. Salah seekor burung gagak tersebut kemudian mati, dan gagak yang

Bersama-sama dengan mereka masuk pula setiap jenis burung dan binatang lainnya, baik yang jinak maupun yang liar, yang besar maupun yang kecil.. Seekor jantan dan seekor betina