• Tidak ada hasil yang ditemukan

KISI-KISI USP AKHLAK KLS 9

N/A
N/A
Muhasib Ibaad

Academic year: 2024

Membagikan " KISI-KISI USP AKHLAK KLS 9"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KISI-KISI USP (UJIAN SATUAN PENDIDIKAN) MEPEL AKHLAK

KELAS 9

A. Referensi Buku : Bidâyat al-Hidâyah Karya al-Ghazâlî

Lingkup Materi :

a. Akhlak Mahmudah Mencakup:

1. Sifat ikhlas, taat, khauf, dan tobat

 Niat :

Hakikat Niat Perlu diketahui bawha niat dan kehendak serta tujuan merupakan kata-kata yang digunakan untuk satu pengertian, yaitu menggambarkan keadaan dan sifat kalbu yang diiringi dengan ilmu

kemudian pengamalannya, ilmu merupahak pendahuluan, sedang syarat dan pengamalan mengiringinya.

Niat adalah ungkapan tentang kehendak yang menghubungkan antara ilmu yang terdahulu dan

pengamalan yang kemudian menyusul. Bilamana sesuatu diketahui maka tergeraklah kehendak untuk melakukan apa yang sesuai dengan ilmu itu. Dan mengenai sabda Nabi ShallAllahu alaihi wa sallam,

"Niat orang mukmin lebih baik daripada amalnya, dan niat orang fasik lebih buruk dari amalnya."

Jika amal tanpa niat dihadapkan dengan niat tanpa amal, maka tidak diragukan lagi niat tanpa amal adalah lebih baik daripada amal tanpa niat.

Dan jika dibandingkan amal yang didahului oleh niat dengan niat yang tadi (yakni tanpa amal), maka niatlah yang tetap lebih baik, karena niat merupakan kehendak yang timbul dari asal amal, dan niat lebih dekat kepada hati. Secara garis besarnya niat orang mukmin itu lebih baik dari amalnya, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits.

Adapun mengenai amal perbuatan, ia terbagi menjadi amal kedurhakaan, amal ketaatan dan amal yang diperbolehkan, dan apapun dari amal perbuatan yang pada asalnya merupakan perbuatan durhaka, amal itu tidak menjadi ibadah karena niat.

Keabsahan ketaatan sudah dipastikan harus diiringi dengan niat, karena pada dasarnya amal ini tidaklah menjadi amal ketaatan kecuali dengan niat. Kemudian dengan terus-menerusnya niat dan niat yang baik derajat ketaatan dilipatgandakan. Dan berapa banyak dari suatu amal bila ditinjau dari segi bilangannya yang hanya satu buah, namun ia bisa menjadi beberapa pahala ibadah berkat kebaikan niat pelakunya.

Sama halnya seandainya seseorang duduk di dalam masjid, lalu dia berniat untuk mengunjungi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 Ikhlas :

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman, yang artinya, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama, '(QS. Al- Bayyinah, 5)

(2)

Dan Allah Subhanahu wa Th'ala telah berfirman,

) ُصِلاَخلا ُنيّدلا ِل َلَأ 5

(

"lngatlah, hanya milik Allahlah agama yang bersih." (QS. Az-Zumar, 3l)

Rasulullah ShallAllahu alaihi wa sallam telah bersabda, yang artinya, "Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman, "Ikhlas adalah rahasia-Ku yang Aku simpan di dalam kalbu orang yang Aku sukai di antara hamba-hamba-Ku."

Disebutkan bahwa dahulu di kalangan kaum Bani Israil terdapat seorang lelaki ahli ibadah, dia beribadah kepada Allah selama bertahun-tahun. Kemudian di suatu hari datang kepadanya suatu kaum memberikan laporan bahwa sesungguhnya di sana ada suatu kaum yang menyembah pohon selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, lalu lelaki ahli ibadah ini marah mendengar laporan tersebut, lalu ia mengambil kapaknya dan menggendongnya di pundaknya lalu berjalan menuju ke tempat pohon tersebut berada dengan niat akan menebangnya.

Hakikat Ikhlas

Perlu diketahui bahwa segala sesuatu itu adakalanya dicemari oleh yang lain, apabila sesuatu itu bersih dan bebas dari apa yang mencemarinya dinamakan murni (ikhlas), dan upaya untuk memurnikan itu dinamakan ikhlas atau pemurnian, sedang pelakunya dinamakan mukhlis.

Apabila suatu perbuatan terbebas atau bersih dari riya dan dilakukan karena Allah, maka perbuatan itu dinamakan perbuatan yang ikhlas.

Berbagai Pendapat dari Para Syekh tentang Ikhlas

As-Suusi telah mengatakan bahwa ikhlas adalah kehilangan penglihatan ikhlas. Dikatakan demikian karena orang yang menyaksikan keikhlasannya ikhlas yang sebenarnya maka keikhlasannya memerlukan adanya ikhlas.

Pernah dikatakan kepada Sahl, apakah hal yang paling berat bagi jiwa? Sahl menjawab, "lkhlas,"

karena diri tidak mendapatkan bagian darinya. Dan ia mengatakan bahwa ikhlas ialah diam dan gerakan seseorang hamba diniatkan hanya khusus karena Allah Subhanahu wa Th'ala.

Al-Junaid telah mengatakan bahwa ikhlas ialah menyeleksi amal perbuatan dari pencemaran yang mengotorinya.

Al-Fudhail telah mengatakan bahwa meninggalkan amal kebaikan karena manusia merupakan perbuatan riya atau pamer, sedang amal kebaikan yang dilakukan karena manusia adalah kemusyrikan, dan ikhlas itu ialah bila Allah membebaskan amal dari kedua hal tersebut.

Menurut pendapat yang lain menyebutkan bahwa ikhlas ialah menjadikan diri merasa selalu berada di dalam pengawasan Allah terus-menerus dan melupakan semua bagian.

Hakikat Ketaatan Kepada Allah

1. Orang yang berbaiat kepada Rasulullah sama saja dia harus berbaiat dan mentaati Allahﷻ.

Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi mengatakan di dalam pembahasan tentang perintah Allah untuk taat kepada Rasul-Nya, Al-Baihaqi berkata : ” Bahwa keterangan tentang ketaatan kepada Allah adalah dengan mentaati utusan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

اًميِظَع اًر ْجَأ ِهيِت ْؤُيَسَف َ اا ُهْيَلَع َدَهاَع اَمِب ٰىَفْوَأ ْنَمَو ۖ ِهِسْفَن ٰىَلَع ُثُكْنَي اَمانِإَف َثَكَن ْنَمَف ۚ ْمِهيِدْيَأ َقْوَف ِ اا ُدَي َ اا َنوُعِياَبُي اَمانِإ َكَنوُعِياَبُي َنيِذالا انِإ

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia

(3)

melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menetapi janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar“. [Al-Fath/48 : 10]

Dan firman-Nya: َ اا َعاَطَأ ْدَقَف َلوُسارلا ِعِطُي ْنَم

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah“. [An-Nisaa/4 : 80]

Imam Syafi’i berkata : ” Dalam ayat ini Allah mengajarkan kepada mereka bahwa membai’at

Rasulullah berarti sama dengan membai’at Allah dan taat kepada Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam adalah taat kepada Allah, maka Allah berfirman.

اًميِلْسَت اوُمّلَسُيَو َتْيَضَق اامِم اًجَرَح ْمِهِسُفْنَأ يِف اوُدِجَي َل امُث ْمُهَنْيَب َرَجَش اَميِف َكوُمّكَحُي ٰىاتَح َنوُنِمْؤُي َل َكّبَرَو َلَف

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. [An-Nisa/4 : 65].

2. Orang yang mentaati Rasulullah akan masuk surga.

Dan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah RadhiyAllahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ىَبَأ ْدَقَف يِناَصَع ْنَمَو َةانَجْلا َلَخَد يِنَعاَطَأ ْنَم َلاَق ىَبْأَي ْنَمَو ِ اا َلوُسَر اَي اوُلاَق ىَبَأ ْنَم الِإ َةانَجْلا َنوُلُخْدَي يِتامُأ ّلُك

“‘Setiap umatku akan masuk Surga kecuali yang tidak mau.?’. Para sahabat bertanya : ‘Wahai

Rasulullah siapakah yang tidak mau ?’. Beliau bersabda : ‘Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia masuk Surga dan barangsiapa yang tidak taat padaku maka dialah yang tidak mau (masuk Surga)“.

Berkata Imam Syafi’i : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

ْوَأ ٌةَنْتِف ْمُهَبيِصُت ْنَأ ِهِرْمَأ ْنَع َنوُفِلاَخُي َنيِذالا ِرَذْحَيْلَف ۚ اًذاَوِل ْمُكْنِم َنوُلالَسَتَي َنيِذالا ُ اا ُمَلْعَي ْدَق ۚ اًضْعَب ْمُكِضْعَب ِءاَعُدَك ْمُكَنْيَب ِلوُسارلا َءاَعُد اوُلَعْجَت َل

ٌميِلَأ ٌباَذَع ْمُهَبيِصُي

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih“. [An-Nur/24: 63]

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Sufyan tentang firman Allah : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan”. Ia (Sufyan) berkata : Maksudnya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup hati mereka untuk menerima segala sesuatu yang diberikan Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang

3. Apa saja yang diperintahkan rasul maka kerjakanlah dan apa saja yang dilarang oleh Rasul maka tinggalkanlah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud RadhiyAllahu ‘anhu, bahwa ia berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita yang mentato tubuhnya, wanita yang meminta di tato tubuhnya, wanita yang mencabut bulu (alis dan bulu mata) dan wanita yang membuat cela diantara giginya untuk memperindah (dirinya) dengan merubah bentuk ciptaan Allah”, kemudian ucapan Ibnu Mas’ud ini sampai kepada seorang wanita yang dikenal dengan panggilan Ummu Yaq’ub, maka Ummu Yaq’ub datang kepada Ibnu Mas’ud dan berkata : “Sesungguhnya telah sampai berita kepadaku bahwa engkau mengucapkan begin dan begitu”, maka Ibnu Mas’ud berkata : “Apa tidak boleh saya melaknat orang yang dilaknat Rasulullah, dan hal itu telah disebutkan dalam Kitabullah”, lalu Ummu Yaq’ub berkata : “Sesungguhnya saya telah membaca seluruh Al-Qur’an dan saya tidak mendapatkan tentang hal itu”, Ibnu Mas’ud berkata : “Jika engkau telah membaca Al-Qur’an maka engkau telah mendapatkan tentang itu, apakah engkau membaca firman Allah.

اوُهَتْناَف ُهْنَع ْمُكاَهَن اَمَو ُهوُذُخَف ُلوُسارلا ُمُكاَتآ اَمَو

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan“. [Al-Hasyr/59 : 7]

Wanita itu menjawab : “Ya”, Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam telah melarang hal itu”.

Berkata Imam Syafi’i : “Al-Qur’an juga telah menerangkan bahwa sesungguhnya Nabi ShallAllahu

‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk pada jalan yang lurus, Allah berfirman.

(4)

“Tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Yaitu) jalan Allah”. [Asy-Syura : 52-53]

Berkata Imam Syafi’i : “Kewajiban bagi manusia yang hidup di zaman Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam dan bagi manusia yang hidup setelah beliau adalah kewajiban yang sama, yaitu diwajibkan bagi tiap-tiap manusia untuk taat kepada Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam.

4. Kembli kepada Allah dan Rasul jika berselisih terhadap sesuatu dari urusan Agama.

Kemudian Al-Baihaqi mengeluarkan suatu riwayat dengan sanadnya dari Maimun bin Marhan tentang firman Allah.

ِلوُسارلاَو ِ اا ىَلِإ ُهوّدُرَف ٍء ْيَش يِف ْمُتْعَزاَنَت ْنِإَف

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al- Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah)”. [An-Nisa’/4 : 59]

Maksud “mengembalikan kepada Allah” dalam ayat ini adalah mengembalikan kepada kitab-Nya yaitu Al-Qur’an, sedangkan mengembalikan kepada Rasul ShallAllahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau telah wafat

“adalah kembali kepada Sunnah beliau”. Selanjutnya Al-Baihaqi menyebutkan suatu hadits riwayat Abu Daud dari Abu Rafi’i, ia berkata : Bersabda Rasulullah ShallAllahu ‘laihi wa sallam.

“Sungguh aku akan dapatkan seseorang di antara kalian yang tengah bersandar di atas dipannya kemudian datang kepadanya suatu perkara dariku yang aku perintahkan kepadanya atau aku larang baginya, lalu ia berkata: “Saya tidak tahu, apa yang kami temukan di dalam Kitabullah maka kami mengikutinya”.

Imam Syafi’i berkata : “Dalam hadits ini terkandung berita dari Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memberitahukan kepada umatnya bahwa mereka diharuskan mengikuti Sunnah Rasulullah walaupun tidak ada nashnya di dalam Al-Qur’an”.

[Disalin dari buku Miftahul Jannah fii-Ihtijaj bi As-Sunnah, edisi Indonesia KUNCI SURGA

Menjadikan Sunnah Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Hujjah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi, hal. 36-46 Terbitan Darul Haq, penerjemah Amir Hamzah Fachruddin]

5. Orang yang taat kepada Allah juga harus taat kepada pemerintah.

Taat atau patuh terhadap perintah Allah SWT sudah semestinya dilakukan muslim. Orang yang taat kepada Allah SWT akan senantiasa mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Perintah untuk taat kepada Allah SWT termaktub dalam Al Quran surat An Nisa ayat 59:

ِم ْوَيْلاَو ِ ٰللاِب َنْوُنِمْؤُت ْمُتْنُك ْنِا ِلْوُسارلاَو ِ ٰلا ىَلِا ُهْوّدُرَف ٍءْيَش ْيِف ْمُتْعَزاَنَت ْنِاَف ْۚمُكْنِم ِرْمَ ْلا ىِلوُاَو َلْوُسارلا اوُعْيِطَاَو َ ٰلا اوُعْيِطَا آْوُنَمٰا َنْيِذالا اَهّيَآٰي - ࣖ ًلْيِوْأَت ُنَسْحَااو ٌرْيَخ َكِل ٰذ ِۗرِخٰ ْلا ٥٩

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Berdasarkan terjemahan di atas, Kementerian Agama (Kemenag) menafsirkan ayat ini berisi soal ketaatan dalam ketetapan hukum yang adil. Artinya ayat ini memerintahkan umat muslim agar menaati putusan hukum secara hirarkis agar tercipta kemaslahatan umum.

Secara hierarkis, penetapan hukum yang perlu ditaati oleh umat muslim menurut Surah An Nisa ayat 59 di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Perintah Allah dengan mengamalkan isi Al Quran, melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan- Nya. Bahkan sekalipun ketetapan itu dirasa berat dan tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Sebenarnya segala yang diperintahkan Allah itu mengandung maslahat dan apa yang dilarang-Nya mengandung mudarat;

2. Ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ pembawa amanat dari Allah untuk dilaksanakan oleh segenap hamba-Nya. Sebab, Rasul ditugaskan Allah untuk menjelaskan isi Al Quran kepada manusia;

(5)

3. Ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan ulil amri. Ulil amri artinya orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka. Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka umat muslim

berkewajiban melaksanakannya.Tentunya dengan catatan bahwa keputusan mereka tidak bertentangan dengan Al Quran dan hadist.

4. Bila terjadi perbedaan pendapat dan tidak tercapai kata sepakat, maka wajib dikembalikan kepada Al Quran dan hadis. Bila masih belum menemukan titik temu, sebaiknya disesuaikan dengan (dikiaskan kepada) hal-hal yang memiliki kemiripan dengan Al Quran dan sunah Rasulullah ﷺ.

Takut Kepada Allâh dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan Seorang Muslim Oleh Syaikh Dr. Ali al-Hudzaifi Hafizhahullah

Amalan hati, merupakan perkara besar dan agung. Pahala dan dosanya lebih besar bila dibandingkan dengan amalan anggota badan, karena gerakan anggota badan hanya mengikuti hati. Oleh karena itu dikatakan, “Hati adalah penguasa anggota badan dan anggota badan lainnya adalah pasukannya.”

Diantara amalan hati yang mendorong melakukan amal shalih dan yang bisa menumbuhkan rasa cinta kepada hari akhir, yang dapat menjauhkan dari perbuatan buruk dan bisa menimbulkan sikap zuhud terhadap dunia serta dapat mengekang hawa nafsu adalah khauf (rasa takut) dan raja’ (berharap) kepada Allâh Azza wa Jalla .

Khauf (rasa takut) kepada Allâh Azza wa Jalla akan memandu hati kepada semua kebaikan dan menghalanginya dari segala keburukan, sedangkan raja’ mengantarkannya meraih ridha dan ganjaran Allâh Azza wa Jalla , meniupkan semangat untuk melakukan amalan besar.

Rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla merupakan salah satu cabang tauhid yang harus diperuntukkan hanya kepada Allâh Azza wa Jalla. Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia agar takut kepada-Nya dan melarang takut kepada selain-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

َنيِنِم ْؤُم ْمُتْنُك ْنِإ ِنوُفاَخَو ْمُهوُفاَخَت َلَف ُهَءاَيِلْوَأ ُفّوَخُي ُناَطْياشلا ُمُكِل َٰذ اَمانِإ Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan- kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman [Ali Imrân/3:175]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

ًليِلَق اًنَمَث يِتاَيآِب اوُرَتْشَت َلَو ِنْوَشْخاَو َساانلا اُوَشْخَت َلَف Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. [al-Mâidah/5:44]

Yang dimaksud dengan rasa takut adalah: rasa cemas, gundah, dan khawatir terkena adzab Allâh Azza wa Jalla akibat melakukan perbuatan haram atau meninggalkan kewajiban, juga khawatir jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima amalan shalihnya. Dengan rasa takut ini, jiwa akan terhalau dari hal-hal yang diharamkan dan bergegas melakukan kebaikan.

Orang yang memiliki rasa takut seperti yang disebutkan di atas, dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla ganjaran yang besar dalam banyak ayat. Diantaranya firman Allâh Azza wa Jalla :

﴿ ِناَتانَج ِهّبَر َماَقَم َفاَخ ْنَمِلَو

﴿ ِناَبّذَكُت اَمُكّبَر ِء َلآ ّيَأِبَف ﴾٤٦

ٍناَنْفَأ اَتاَوَذ ﴾٤٧

Orang yang takut pada Allâh akan mendapatkan dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan [ar-Rahmân/55:46- 48]

Allâh Azza wa Jalla mengabarkan bahwa orang yang takut kepada-Nya, akan diselamatkan dari hal-hal yang tidak dia sukai, diberi kecukupan dan diberi akhir yang bagus.

Kalau kita mempelajari kehidupan para Ulama salaf, kita dapati rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla telah mendominasi hati mereka. Ini mendorong mereka untuk terus memperbaiki amalan dan

mengharapkan rahmat Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, keadaan kehidupan mereka selalu baik, akhir kehidupan mereka juga bagus serta amalan mereka penuh berkah.

Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mendorong kepada amal shalih, menghalangi dari perbuatan haram. Apabila rasa takut itu telah melebihi batasan itu, maka akan menimbulkan sifat putus asa dari rahmat Allâh Azza wa Jalla.

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Kadar rasa takut yang wajib dimiliki seorang hamba adalah seukuran rasa takut yang bisa mendorongnya melakukan hal-hal yang fardhu dan menjauhi yang diharamkan. Apabila lebih dari kadar di atas sehingga bisa membangkitkan jiwa untuk bersemangat

(6)

mengerjakan nafilah (amalan sunat) dan ketaatan, menjauhi yang makrûh, dan tidak berlebihan dalam hal- hal yang mubah, maka itu semua merupakan keutamaan yang terpuji. Namun apabila rasa takut itu melebihi hal di atas sehingga bisa menyebabkan sakit, mati atau kecemasan permanen yang memutus semua jenis usaha, maka rasa takut seperti ini tidak terpuji.”

Itulah rasa takut yang harus dimiliki oleh seorang Muslim saat menjalani kehidupannya di dunia ini.

Lalu bagaimana dengan raja’ (rasa harap)?

Rasa Harap Kepada Allâh dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan Seorang Muslim

Adapun raja’ adalah ambisi untuk meraih ganjaran dari Allâh sebagai balasan dari amal shalih yang telah dilakukannya. Jadi syarat raja’ adalah melakukan amal shalih, meninggalkan perkara yang diharamkan atau bertaubat darinya. Adapun meninggalkan kewajiban, menuruti syahwat lalu berharap kepada Allâh Azza wa Jalla , maka itu bukanlah raja’ namun hanya merasa aman dari makar Allâh Azza wa Jalla , padahal Allâh Azza wa Jalla berfirman :

َنوُرِساَخْلا ُم ْوَقْلا الِإ ِ اا َرْكَم ُنَمْأَي َلَف ۚ ِ اا َرْكَم اوُنِمَأَفَأ Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allâh (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah merasa aman dari makar Allâh kecuali orang-oranag yang merugi [al- A’raf/7:99]

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa raja’ itu ada setelah melakukan amal shalih, tanpa amal shalih, raja’ tidak ada. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

َروُبَت ْنَل ًةَراَجِت َنوُج ْرَي ًةَيِن َلَعَو اًلرِس ْمُهاَنْقَزَر اامِم اوُقَفْنَأَو َة َلاصلا اوُماَقَأَو ِ اا َباَتِك َنوُلْتَي َنيِذالا انِإ Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allâh, mendirikan shalat, dan menginfakkan apa yang Kami berikan kepada meraka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, merekalah orang-orang yang mengharapkan perniagaan yang tidak pernah usang. [Fathir/35: 29]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman

ٌميِحَر ٌروُفَغ ُ ااَو ۚ ِ اا َتَم ْحَر َنوُج ْرَي َكِئَٰلوُأ ِ اا ِليِبَس يِف اوُدَهاَجَو اوُرَجاَه َنيِذالاَو اوُنَمآ َنيِذالا انِإ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjihad di jalan Allâh, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allâh, dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [al- Baqarah/2:218]

Raja’ sebagaimana juga al-khauf adalah ibadah hati yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . jika ada yang memalingkannya kepada selain Allâh Azza wa Jalla , berarti dia telah terjerembab dalam kubangan syirik.

Dan raja’ merupakan sarana terdekat untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ْيــِنَرَكَذ اَذِإ ُهَعَم اَنَأَو ْيـِب ْيِدْبَع ّنَظ َدْنِع اَنَأ Aku sebagaimana dugaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya tatkala dia mengingat-ku

Yang wajib dilakukan oleh seorang Muslim adalah menggabungkan antar khauf dan raja’. Keduanya harus berimbang. Itulah kondisi para Nabi dan Rasul serta kaum Muslimin. Allâh Azza wa Jalla

berfirman:

َنوُقِفْنُي ْمُهاَنْقَزَر اامِمَو اًعَمَطَو اًفْوَخ ْمُهابَر َنوُعْدَي ِعِجاَضَمْلا ِنَع ْمُهُبوُنُج ٰىَفاَجَتَت Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezki yang Kami berikan. [as-Sajadah/32:16]

Tatkala seorang Muslim mengetahui cakupan rahmat Allâh Azza wa Jalla , kedermawanan-Nya, kemudahan-Nya dalam memberikan ampunan pada dosa-dosa yang besar, keluasan surga-Nya serta besarnya ganjaran dari amal shalihnya, maka jiwanya akan menjadi lega, tenang serta dia akan terus menerus optimis dan berambisi meraih apa yang ada disisi Allâh Azza wa Jalla . Sebaliknya, saat dia mengetahui betapa berat hukuman Allâh, siksa-Nya yang teramat keras, perhitungan-Nya yang begitu jeli, hari Kiamat dan neraka yang begitu mengerikan, serta beraneka adzab di akhirat, maka jiwanya akan tercegah, terkekang, selalu waspada serta takut untuk melakukan pelanggaran.

Oleh karna itu, dalam hadits dari Abu Hurairah RadhiyAllahu anhu, Rasûlullâh ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ٌدَحأ ِهِتانَج ْنِم َطَنَق اَم ، ِةَمْحارلا َنِم ا َدْنِع اَم ُرِفاَكلا ُمَلْعَي ْوَلَو ، ٌدَحَأ ِهِتانَجِب َعِمَط اَم ، ِةَبوُقُعلا َنِم ا َدْنِع اَم ُنِمؤُمْلا ُمَلْعَي ْوَل Seandainya seorang Mukmin mengetahui adzab yang ada di sisi Allâh, niscaya tidak ada seorang pun yang akan terlalu berambisi untuk meraih surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih saying Allâh, niscaya tidak ada seorang pun yang akan berputus asa dari meraih surga-Nya

(7)

[HR. Muslim]

2. Sifat ananiah, putus asa, gadab, dan tamak:

1. Ananiah merupakan sikap dimana seseorang melakukan sesuatu berdasarkan kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan bersama yang biasa disebut dengan egois.

2. Putus asa merupakan dimana seseorang merasa bahwa harapannya telah hilang atau tidak ada harapan lagi. Orang yang memiliki sifat ini adalah orang yang lemah dan tidak punya pendirian.

3. Gadab merupakan sikap dimana orang memiliki rasa emosional yang tinggi, orang ini pemarahan atau suka marah yang berlebihan.

4. Tamak merupakan sikap dimana seseorang selalu merasa tidak cukup atas nikmat yang diberikan Sang Pencipta atau dapat disebut serakah.

Keempat sikap tersebut merupakan hal tercela yang sangat dibenci Allah SWT. yang mana mereka akan mendapatkan azab dari Allah SWT.

Ananiyah adalah Sifat sangat tercela, dan membahayakan di dalam pergaulan di masyarakat. Ananiyah termasuk penyakit hati, apabila dibiarkan akan berkembang menjadi sombong, kikir, takabur yang diiringi sifat iri dan dengki. Firman Allah Swt :

ٍروُخَف ٍلاَتْخُم ّلُك ّبِحُيَل َهللا ّنِإ اًحَرَم ِضْرَلْا يِف ِشْمَتَلَو ِساّنلِل َكّدَخ ْرّعَصُتَلَو Artinya : "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman : 18)

Semua penyakit, pasti mendatangkan bahaya. Sifat ananiyah akan mendatangkan bahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Adapun bahaya yang ditimbulkan dari perilaku ananiyah adalah, 1. Menimbulkan kekecewaan orang lain,

2. Merusak hubungan persaudaraan, 3. Memutuskan hubungan silaturahim,

4. Dijauhi dalam pergaulan dan dikucilkan oleh orang lain,

5. Kaku dalam pergaulan, sehingga sulit mencapai ketenteraman hidup bersama, 6. Menimbulkan kebencian, pertengkaran, dan permusuhan,

7. Sulit menerima petunjuk kebenaran, karena merasa dirinya adalah yang paling benar, 8. Berdosa kepada Allah Swt. karena Islam melarang sifat ananiyah.

Putus Asa.

Putus asa adalah sikap/ perilaku yang merasa bahwa dirinya telah gagal atau tidak akan mampu dalam meraih suatu harapan atau cita-cita, dan ia tidak mau berusaha untuk melanjutkan apa yang diinginkan. Putus asa berarti habis harapan, tidak ada harapan lagi. Seseorang di katakana putus asa apabila tidak lagi mempunyai harapan tentang sesuatu yang semula hendak di capai.

Penyebab seseorang putus asa biasanya karena terjadinya kegagalan yang berulang kali dalam mencapai cita-cita atau pengharapan sesuatu. Sebenarnya penyebab seseorang putus asa bukanlah persoalan yang di hadapi semata-mata, melainkan cara menyikapi persoalan tersebut.

Dampak Negatif Putus Asa.

Putus asa termasuk akhlak mazmumah, maka dampaknya amat negatif bagi diri sendiri dan keluarga.

Adapaun dampak negatif putus asa antara lain:

1. Merugikan diri sendiri karena membuang waktu, energy dan potensi yang dimiliki.

2. Susah untuk mencapai kemajuan karena tidak berani berbuat, khawatir menanggung kegagalan lagi.

(8)

Orang putus asa berarti kehilangan gairah dan semangat untuk mencapai sesuatu yang semula di harapkan. Putus asa biasanya diikuti dengan sikap masa bodoh, tidak mau lagi berusaha. Islam mendidik umatnya agar tidak putus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut.

َنوُرِفاَكْلا ُمْوُقْلا ّلِإ ِهللا ِحْوّر نِم ُسَئْيَيَل ُهّنِإ ِهللا ِحْوّر نِم اوُسَئْيَتَلَو

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir." (QS. Yusuf :87)

Ciri-Ciri Orang Yang Putus Asa.

a. Bermalas-malasan setelah mengalami kegagalan dalam suatu usaha b. Tidak bersemangat untuk meneruskan usahanya yang gagal.

c. Tampak murung dan tidak memiliki gairah untuk berusaha lagi.

d. Mudah terpancing emosinya sehingga cepat marah walaupun dengan sebab yang kecil saja.

Setiap muslimin dan muslimat harus menghindarkan diri dari sifat putus asa. Cara untuk menghindarkan diri dari putus asa antara lain.

1. Merenungi kegagalan yang di alami orang lain sehingga dapat memperoleh perbandingan dari pengalaman pahit orang lain.

2. Selalu yakin bahwa Allah akan memberi jalan keluar atas persoalan yang di hadapi apabila diririnya dekat dengan Allah SWT.

Ghadhab.

Pengertian Ghadhab. Ghadhab berarti marah atau pemarah.Ghadhab termasuk sifat tercela, karena marah itu bersumber dari setan. Rasulullah ﷺ. bersabda:

ْأّضَوَتَيْلَف ْمُكُدَحَأ َبَضَغ اَذِإَف ِءاـملْاِب ُأَفْطُت اَمّنِإَو ِراّنلا َنِم َقِلُخ َناَطْيّشلا ّنِإَو ِناَطْيّشلا َنِم َبَضَغلْا ّنِإ Artinya: "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan sungguh, setan itu dijadikan dari api, dan sungguh, api itu dapat padam dengan air. Jika seseorang kamu marah, segeralah berwudu." (HR. Abu Dawud)

Seseorang yang sedang marah memiliki kecenderungan tidak dapat mengontrol dirinya. Untuk itulah sebagai orang Islam harus pandai-pandai mengendalikan diri agar tidak sampai mudah marah. Orang yang dapat menahan amarah merupakan salah satu ciri orang muttaqin. Allah Swt. berfirman:

َنيِنِسْحُمْلا ّبِحُي ُهللاَو ِساّنلا ِنَع َنيِفاَعْلاَو َظْيَغْلا َنيِمِظاَكْلاَو ِءآّرّضلاَو ِءآّرّسلا يِف َنوُقِفنُي َنيِذّلا

"Orang-orang yang menafkahkan , baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS.

Ali Imran:134)

Akibat Buruk dari Sikap Marah, antara lain,

1. Tidak dapat berfikir tenang dalam menghadapi permasalahan

2. Tidak dapat menyelesaikan permasalahan secara baik berdasarkan pertimbangan pikiran sehat, 3. Jika sering terjadi, dapat menimbulkan tekanan darah tinggi yang membahayakan kesehatan jasmani

dan rohani

4. Sikap ghadhab dapat menimbulkan kekecewaan atau sakit hati orang lain.

5. Dapat menimbulkan kerugian materi, jika disertai dengan perbuatan anarkis.

Oleh karena sifat ghadhab merupakan sifat tercela maka, kita harus berusaha menghindarkan diri dari sifat tersebut. Sebagai orang yang beriman dan bertakwa, harus menghindari rasa marah. Meredam kemarahan dengan kesabaran. Hati yang sabar akan membawa seseorang untuk berpikir secara cermat dalam menghadapi suatu permasalahan.

Tamak.

Pengertian Tamak. Secara bahasa tamak berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar.

(9)

Tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang ber Sifat rakus terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan oleh beliau seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak. sifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram.

Perilaku Orang Yang Tamak.

Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu bebanan hidup.

Selanjutnya, kehidupannya hanya disibukkan untuk terus mendapat apa yang diinginkannya, karena orang tamak lupa tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka tidak peduli hal lain, melainkan mengisi segenap ruang untuk memuaskan nafsu tamaknya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba-Nya. Seperti dalam firman-Nya:

نْوُدُبْعَيِل ّلِإ َسْنِ ْلاَو ّنِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Sifat tamak ini akan menjerumuskannya ke dalam bahaya riya’ serta kan mencabut kemanisan beribadah kepada Allah. Akhirnya ia akan menjadi hamba abdi kepada makhluq setelah Allah membebaskannya daripada perhambaan sesama makhluq. Firman Allah dalam al-Qur’an:

َنوُرِساَخْلا ُمُه َكِئَلْوُأَف َكِلَذ ْلَعْفَي نَمَو ِهللا ِرْكِذ نَع ْمُكُدَلْوَألَو ْمُكُلاَوْمَأ ْمُكِهْلُتَل اوُنَماَء َنيِذّلا اَهّيَأاَي

“Wahai orang beriman, janganlah kamu dilalaikan oleh (urusan) harta benda kamu dan anak-pinak kamu daripada mengingati Allah (dengan menjalankan perintah-Nya) dan (ingatlah), sesiapa yang melakukan demikian, maka mereka itulah orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun : 9)

3. Sifat husnuzzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun 1. Husnuzhan

Nabi ﷺ. bersabda:

Artinya: “Sangat beruntung orang yang sibuk dengan aib/kekurangan diri sendiri dari pada mengurusi aib orang lain”.

Menurut bahasa, husnuzhan adalah berbaik sangka. Sedangkan menurut istilah adalah berbaik sangka terhadap apa yang terjadi atau dilakukan orang lain.

Orang yang mempunyai sifat husnuzhan selalu memandang orang lain dengan kacamata kebaikan.

Maka orang yang selalu ber-husnuzhan akan lebih tenang dalam menjalani hidup. Jika seseorang berbuat kepadanya maka ia akan sangat berterima kasih atas kebaikannya dan berusaha membalas kebaikannya. Namun jika ada orang yang berbuat tidak baik kepadanya maka ia tidak akan

membalasnya dengan hal-hal yang tidak baik pula. Akan tetapi, dia akan mencari sisi baiknya dan selalu mengintropeksi dirinya sendiri.

Secara umum husnuzhan ada dua macam:

a) Husnuzhan kepada Allah

Kita harus yakin bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah juga Maha Memelihara semua makhluk-Nya, terutama manusia. Maka apapun yang Allah berikan dalam kehidupan kita, patut kita syukuri dan kita ambil hikmhnya dengan ber-husnuzhan kepada Allah. Dengan begitu kita akan semakin ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan.

Ketika Allah memberikan kita musibah seperti sakit, maka kita harus ber-husnuzhan kepada Allah.

Bahwa Allah sayang kepada kita dengan merontokkan dosa-dosa kita ketika sakit dan bersabar.

b) Husnuzhan kepada sesama manusia

Manusia adalah makhluk sosial. Manusia saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain.

Islam mengajarkan berbagai cara untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang damai dengan ber-husnuzhan kepada masyarakat atau tetangga sekitar. Seperti halnya Rasulullah yang selalu ber- husnuzhan kepada orang-orang yang menyakitinya. Ketika Rasulullah menyiarkan dakwah pada periode pertama, beliau pernah ditolak, dihujat dan disakiti oleh penduduk Thaif. Namun

(10)

Rasulullah selalu ber-husnuzhan bahwa mereka belum memahami tentang kerasulannya kemudian mendoakannya agar mendapat petunjuk dari Allah Swt.

Kita patut mencontoh perbuatan baik Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari baik di masyrakat atau di lingkungan sekolah kita.

2. Tawadhu’

Pengertian tawadhu’ adalah rendah hati dan tidak sombong. Orang yang tawadhu’ adalah orang yang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah Swt. Dengan

kenyakinannya tersebut maka tidak pernah terbesit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan meresa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah hati dan selalu menjaga hati serta niat segala amal kebaikannya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.

Tawadhu’ merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia jadi sudah selayaknya kita sebagai muslim bersikap tawadhu’, karena tawadhu’ merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Perhatikan sabda Nabi ﷺ. berikut ini:

Rasulullah ﷺ. bersabda yang artinya: “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).

Tanda orang yang tawadhu’ adalah di saat seorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sika tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakinbertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan

kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka. Ini karena orang yang tawadhu’ menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah Swt. untuk mengujinya apakah ia bersyukur atau kufur.

Allah berfirman dalam surah al-Isra ayat 37

للوُط َلاَبِجۡلٱ َغُل ۡبَت نَل َو َض ۡرَ ۡلٱ َق ِر ۡخَت نَل َكّنِإ ۖاًحَرَم ِض ۡرَ ۡلٱ يِف ِش ۡمَت َل َو ٣٧

Artinya: “Dan janganlah kallian berjalan di atas bumi ini dengan menymbongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung”. (QS. Al-Isra:37)

3. Tasamuh

Menurut bahasa tasamuh berarti toleransi. Sedangkan menurut istilah, tasamuh berarti sama- sama/saling berlaku baik, lemah lembut, dan saling memaafkan. Dalam pengertian istilah umum, tasamuh adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang di gariskan oleh ajaran Islam. Sikap tasamuh perlu dibangun dalam diri setiap individu agar tidak terjadi benturan antara keinginan dan kepentingan antar sesama manusia. Dengan tasamuh dapat menjauhkan diri dari sifat kesombongan dan keangkuhan.

4. Ta’awun

Ta’awun adalah tolong-menolong antar sesama umat manusia dalam hal kebaikan, supaya saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan pribadi maupun kebutuhan bersama.

Dalam firman Allah menyerukan:

ِباَقِع ۡلٱ ُديِدَش َ ّلٱ ّنِإ َّۖلٱ ْاوُقّتٱ َو ِۚن َٰو ۡدُعۡلٱ َو ِم ۡثِ ۡلٱ ىَلَع ْاوُن َواَعَت َل َو ٰۖى َوۡقّتلٱ َو ّرِبۡلٱ ىَلَع ْاوُن َواَعَت َو ٢

Artinya: “...dan tolong menolonglah kamudalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya”. (QS. al-Maidah:2)

4. Sifat hasad, dendam, gibah, fitnah, dan namimah:

A. HASAD

(11)

Hasad atau dengki adalah perasaan tidak senang , terhadap orang yang mendapatkan nikmat dari Allah. Orang yang memiliki sifat hasad selalu iri hati jika melihat orang lain hidup senang..

Hasad atau dengki adalah sifat tercela. Allah SWT. Dan rasul-Nya melarang kita berbuat hasad atau dengki

Sabda Rasulullah SAW. bersabda Artinya :

“Janganlah kamu dengki mendengki, jangan putus-memutus hubungan persaudaraan, jangan benci membenci, jangan pula belakang-membelakangi dan jadilah kamu semua hamba Allah seperti saudara, sebagai mana yang diperintahkan Alla kepadamu. (HR. Bukhori dan Muslim )

Hasad atau dengki adalah sifat iblis dan setan. Mahluk Allah yang pertama kali memiliki sifat hasad/dengki adalah Iblis. Iblis dengki kepada Nabi Adam as. Karena Nabi Adam diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang terhormat, Iblis iri hati melihat Malaikat bersujud menghormati Nabi Adam . Karena sifat dengki yang sudah melekat pada dirinya, Iblis tidak mau menghormati Nabi Adam, walaupun itu perintah Allah. Oleh sebab itu Iblis di kutuk oleh Allah.

Orang yang memiliki sifat dengki merasa iri hati melihat orang lain hidup senang atau beruntung , ia menginginkan keberuntung itu pindah kepadanya, Karena hatinya selalu kotor. Orang yang dengki itu akan sia-sia amal ibadahnya terhapus oleh sifat dengkinya.

Sabda Rasulullah ﷺ yang artinya :

Jauhkanlan dirimu dari sifat dengki, karena dengki itu memakan semjua kebaikan, sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. (HR. Abu Dawud )

Orang yang bersifat dengki hanya akan memperoleh celaan, kehinaan dan kesusahan bahkan para Malaikat melaknat orang yang memiliki sifat dengki.

Sifat hasad dan dengki dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab :

a. Tidak bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah, merasa kurang dan tidak puas terhadap nikmat yang dia terima.

b. Adanya perasaan tidak senang kepada orang lain,

c. Adanya perasaan tinggi hati, tidak senang jika ada orang yang melebihi/ lebih baik darinya.

Berikut cara menghilangkan rasa hasad:

a. Senantiasa bersyukur terhadap nikmat Allah b. Berusaha menyenangkan orang lain

B. DENDAM

Dendam artinya Berkeinginan untuk membalas. Allah SWT sangat membenci orang yang pendendam, karena sifat pendendam sangat membahayakan dan merugikan orang lain.

Sabda Rasulullah ﷺ Artinya :

“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling pendendam.” ( HR. Bukhori dan Muslim )

C. GHIBAH

Ghibah artinya mengumpat atau menggunjing yaitu perbuatan atau tindakan yang membicarakan aib orang lain. Allah berfirman dalam Qur’an Surah Al Hujurat ayat 12

اًتْيَم ِهيِخَأ َم ْحَل َلُكْأَي نَأ ْمُكُدَحَأ ّبِحُيَأ ۚ اًضْعَب مُكُضْعاب بَتْغَي َلَو ۟اوُساسَجَت َلَو ۖ ٌمْثِإ ّناظلٱ َضْعَب انِإ ّناظلٱ َنّم اًريِثَك ۟اوُبِنَتْجٱ ۟اوُنَماَء َنيِذالٱ اَهّيَأَٰٓي

ٌميِحار ٌبااوَت َ الٱ انِإ ۚ َ الٱ ۟اوُقاتٱَو ۚ ُهوُمُتْهِرَكَف yang artinya:

“ Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang

(12)

menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah maha penerima taubat, Maha penyayang.”

Dalam Hadis Rasulullah ﷺ bersabda: “Ghibah ialah apabila engkau menyebutkan perihal saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya. (HR. Muslim )

Sebab-sebab timbulnya ghibah:

a. Ingin menghilangkan perasaan marah. Jika telah terlampiaskan marahnya ia merasa puas.

b. Kemegahan diri, seseorang yang ingin dikatakan hebat, dan mewah atau megah.

c. Menganggap orang lain lemah, rendah dan hina.

D. FITNAH

Fitnah artinya: Perkataan yang bermaksud menjelekkan orang seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang lain. Firman Allah QS Al-Baqoroh 217

ٱَو َنِم ُرَبْكَأ ُةَنْتِفْل

ِلْتَقْلٱ Artinya: “Sedangkan fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan”

Orang yang suka memfitnah biasanya orang yang pengecut, dia tidak senang melihat orang lain hidup senang atau bahagia, ia berupaya agar orang lain jatuh ke dalam kebinasaan.

Sebab-sebab yang menimbulkan fitnah:

a. Berupa tekanan orang atau pihak lain b. Berupa hukuman

c. Berupa pemberian Allah baik dan buruk d. Kalah dan menang Senang dan susah dan e. Berupa anak dan harta .

Firman Allah dalam QS. Al- Anfal : 28

ٌميِظَع ٌر ْجَأ ٓۥُهَدنِع َ الٱ انَأَو ٌةَنْتِف ْمُكُدَٰل ْوَأَو ْمُكُل َٰوْمَأ آَمانَأ ۟آوُمَلْعٱَو

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan/ fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” ( QS. Al- Anfal : 28 )

E. NAMIMAH

Pengertian Namimah: Menurut bahasa namimah berasal dari bahasa arab yang artinya adu domba.

Adapun yang dimaksudkan dengan namimah menurut istilah adalah menyampaikan sesuatu yang tidak disenangi, baik yang tidak senang itu orang yang diceritakan ataupun orang yang mendengarnya. Cara menyampaikan sesuatu itu biasanya dengan ucapan atau perkataan, tetapi adakalanya dengan tulisan, isyarat atau dengan sindiran.

Namimah pada hakekatnya adalah menyampaikan atau menceritakan rahasia orang lain sehingga merusak nama baik orang lain tersebut, tentu saja orang yang diceritakan itu merasa tidak senang dan dapat menimbulkan permusuhan.

Seringkali terjadi namimah dilakukan oleh orang yang sengaja ingin menimbulkan permusuhan antara seseorang dengan orang lain atau bahkan sifat seseorang yang ingin mencari popularitas diri sendiri diatas penderitaan orang lain. Misalnya Abduh dan Asmat adalah dua orang yang bersahabat.

Darwin adalah orang yang banyak omong dan akhlaknya kurang baik. Melihat persahabatan Abduh dan Asmat sangat akrab, Darwin kemudian mencari-cari peluang untuk mengadu domba antara Abduh dan Asmat dengan berbagai cara Darwin lakukan, sehingga persahabatannya bercerai berai bahkan terjadi perkelahian atau permusuhan antara Abduh dan Asmat.

Dalil yang berhubungan dengan Namimah sesuai denga firman Allah ﷻ sebagai berikut :

ٍف الَح الُك ْعِطُت َلَو

ٍميِمَنِب ٍۭءآاشام ٍزاامَه ٍنيِهام

“janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,” (QS. Al Qalam ayat 10-11)

(13)

وَي لَُلِكُلََُُِزَةٍَلمَزٍَةٍََ

kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, (QS. Al Humazah ayat 1) 3. Penyebab timbulnya sifar namimah

Perbuatan namimah atau adu domba disebabkan antara lain : a. Ada perasaan tidak senang terhadap orang yang diceritakan. b. Adanya sifat dengki pada diri seseorang yang

menyebabkan ketidak senangan kepada orang lain yang mendapatkan kebahagiaan maupun kesuksesan.

c. Mencari muka agar orang lain bersimpati kepada dirinya.

d. Gemar berbicara berlebihan, omong kosong atau berbicara tentang hal-hal yang tidak benar.

e. Ada beberapa cara untuk menghindari sifat namimah antara lain :

f. Apabila melihat atau mendengar sesuatu yang disampaikan orang lain itu akan menimbulkan keburukan sebaiknya didiamkan saja.

g. Jangan melayani omongan orang yang suka berkata bohong.

h. Apabila ada berita yang meragukan dari seseorang, agar diselidiki dulu kebenarannya.

5. Berilmu, kerja keras, kreatif, dan produktif dalam fenomena kehidupan

6. Akhlak terpuji dalam pergaulan remaja dan dampak negatif pergaulan remaja yang tidak sesuai dengan akhlak Islam :

 Berikut penjelasan dan sejarah ulama terdahulu tentang Budi Pekerti : Ruwaim berkata:

اقيقد كبدأو احلم كملع لعجا ّينباي

“Wahai anakku! Jadikanlah ilmumu ibarat garam (yang tersebar di lautan) dan jadikanlah budi pekertimu ibarat (tepung yang berterbangan didaratan)”.

Imam Syafi’i suatu ketika pernah ditanya: “Bagaimana pengakuanmu terhadap budi pekerti?. Beliau menjawab: “Aku mendengarkan perhuruf darinya, sehingga semua anggota tubuhku menjadi senang, sesungguhnya seluruh anggota tubuhku mempunyai pendengaran yang bisa menikmatinya. Kemudian beliau ditanya lagi, bagaimana cara engkau mencari budi pekerti itu?”. Beliau menjawab: ”Aku mencarinya ibarat orang perempuan yang kehilangan anaknya, kemudian ia mencarinya. Sementara ia tidak mempunyai orang lain selain anak itu.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tauhid itu mengharuskan adanya suatu keimanan. Barangsiapa yang tidak beriman, maka berarti ia tidak bertauhid. Iman juga mengharuskan adanya syari’at. Barang

(14)

siapa yang tidak bersyari’at, maka berarti ia tidak beriman dan juga tidak bertauhid. Syari’at juga mengharuskan adanya budi pekerti budi pekerti. Barang siapa yang tidak mempunyai budi pekerti, maka ia tidak bersyari’at, tidak beriman dan tidak bertauhid (kepada Allah ﷻ).

Keutamaan Ilmu Dan Ulama’ Serta Keutamaan Proses Belajar Dan Mengajar :

1.

Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu

Allah ta’ala berfirman: تاجرد ملعلا اوتوأ نيذلاو مكنم اونمأ نيذلا ا عفري

“ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara engkau dan orang –orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat “ (Q.S. Al-Mujadalah : 10).

Artinya Allah akan mengangkat derajat para ‘ulama (orang yang ahli dalam bidang keilmuan), sebab mereka sanggup memadukan antara ilmu pengetahuan dan pengamalannya.

Ibnu Abbas telah berkata ra.: “Derajat ulama’ itu jauh diatas orang mukmin dengan selisih tujuh ratus derajat, sedangkan jarak antara dua derajat kira-kira perjalanan lima ratus tahun”.

2.

Allah menyebut orang-orang yang berilmu setelah Malaikat

Allah هللج لج berfirman: ةيلاا... ملعلا ولوأو ةكئللما و وه لاإ هلإ لا هنأ لله دهش

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah memulai firmannya dengan menyebut Dzatnya sendiri, kedua kalinya menyebut malaikat dan ketiga kalinya menyebut orang-orang yang memiliki ilmu

pengetahuan.

Cukuplah bagimu berpegang teguh pada ketiga hal ini untuk memperoleh untuk memperoleh kemulyaan, keutamaan dan keagungan.

3.

Orang yang berilmu trmsuk sebaik-baik kehendak Allah dan pewaris para Nabi Rasulullah ملسو هيلع ا ىلص bersabda: نيدلا في ههقفي ايرخ هب ا دري نم “

Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah , maka Allah akan memberikan kefahaman terhadap ilmu fiqh” .

Rasulullah ملسو هيلع ا ىلص juga bersabda:

قوف فرش لاف ةوبنلا قوف ةبتر لا ناك اذإو ،اركذو افرش ةبترلا هذبهو ارخفو ادمج تاجردلا هذبه كبسحو ، ءايبنلأا ةثرو ءاملعلا ”ةبترلا كلتل ةثارولا فرش

Ulama’ adalah pewaris para Nabi, cukuplah bagimu dengan derajat ini untuk memperoleh sebuah keagungan dan kebanggaan diri. Dan (cukuplah bagimu) dengan tingkatan ini untuk memperoleh kemuliaan dan panggilan yang agung. Ketika sudah tidak ada lagi 10 tingkatan di atas tingkat kenabian, maka tidak ada satupun kemuliaan yang melebihi kemuliaan warisan tingkatan tersebut.”

4.

Para Malaikat senang tiasa mendo’akan orang yang keluar rumah denga tujuan mencari ilmu Rasulullah ملسو هيلع ا ىلص bersabda: هتشيعم في هل كروبو ةكئللما هيلع تلص ملعلا بلطل ادغ نم “

Barang siapa berangkat pergi di pagi hari dengan tujuan mencari ilmu, maka para malaikat akan mendo’akannya dan diberkahi kehidupannya“

(15)

Ibnu Al Zubair pernah berkata: “Bahwasanya Abu Bakar pernah mengirimkan surat kepadaku, ketika itu aku sedang berada di Iraq. Isi dari surat tersebut adalah sebagai berikut: “Wahai anakku bergegang teguhlah pada ilmu pengetahuan, karena ketika engkau menjadi orang miskin maka ilmu itu akan menjadi harta, dan ketika engkau menjadi orang kaya, maka ilmu itu akan menjadi

perhiasan”.

Wahab bin Munabbah berkata: “Sesuatu yang diperoleh dari ilmu itu bermacam-macam;

1.

Kemuliaan, walaupun orang yang memilikinya itu orang yang rendahan.

2.

Keluhuran derajat, walaupun ia diremehkan.

3.

Dekat (di hati ummat), walaupun ia berada di daerah jauh.

4.

Kekayaan, walaupun ia miskin harta.

5.

Kewibawaan, walaupun ia orang yang rendah diri.”

Akhlaq Pelajar (Santri) Pada Dirinya Sendiri

1.

Harus mensucikan hatinya dari setiap sesuatu yang mempunyai unsur menipu, kotor, penuh rasa dendam, hasud, keyakinan yang tidak baik, dan budi pekerti yang tidak baik, hal itu

dilakukan supaya ia pantas untuk menerima ilmu, menghafalkannya, meninjau kedalaman maknanya dan memahami makna yang tersirat”.

2.

Harus memperbaiki niat dalam mencari ilmu, dengan tujuan untuk mencari ridha Allah ta’ala, serta mampu mengamalkannya, menghidupkan syari’at, untuk menerangi hati, menghiasi batin dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Tidak bertujuan untuk memperoleh tujuan- tujuan duniawi, misalnya menjadi pimpinan, jabatan, harta benda, mengalahkan teman saingan, biar dihormati masyarakat dan sebagainya.

3.

Harus berusaha sesegera mungkin memperoleh ilmu diwaktu masih belia dan

memanfaatkan sisa umurnya. Jangan sampai tertipu dengan menunda-nunda belajar dan terlalu banyak berangan-angan, karena setiap jam akan melewati umurnya yang tidak mungkin diganti ataupun ditukar”. Seorang pelajar harus memutuskan urusan-urusan yang merepotkan yang mampu ia lakukan, juga perkara-perkara yang bisa menghalangi kesempurnaan mencari ilmu, serta mengerahkan segenap kemampuan dan bersungguh-sungguh dalam menggapai

keberhasilan. Maka sesungguhnya hal itu akanmenjadi pemutus jalan proses belajar.

4.

Harus menerima apa adanya (qana’ah) berupa segala sesuatu yang mudah ia dapat, baik itu berupa makanan atau pakaian dan sabar atas kehidupan yang berada dibawah garis kemiskinan yang ia alami ketika dalam tahap proses mencari ilmu, serta mengumpulkan morat-maritnya hati akibat terlalu banyaknya angan-angan dan keinginan, sehingga sumber-sumber hikmah akan mengalir kedalam hati. Imam Al Syafi’i telah berkata: “Orang yang mencari ilmu tidak akan bisa merasa bahagia, apabila ketika mencari ilmu disertai dengan hati yang luhur dan kehidupan yang serba cukup, akan tetapi orang-orang yang mencari ilmu dengan perasaan hina, rendah hati, kehidupan yang serba sulit dan menjadi pelayan para ulama’, dialah orang yang bisa merasakan kebahagiaan.”

5.

Harus bisa membagi seluruh waktu dan menggunakannya setiap kesempatan dari umurnya, sebab umur yang tersisa itu tidak ada nilainya. Waktu yang paling ideal dan baik digunakan oleh para pelajar: Waktu sahur digunakan untuk menghafalkan. Waktu pagi digunakan untuk

membahas pelajaran. Waktu tengah hari digunakan untuk menulis. Waktu malam digunakan untuk meninjau ulang dan mengingat pelajaran. Sedangkan tempat yang paling baik digunakan

(16)

untuk menghafalkan adalah di dalam kamar dan setiap tempat yang jauh dari perkara yang bisa membuat lupa. Tidak baik menghafalkan pelajaran di depan tumbuh-tumbuhan, tanaman- tanaman yang hijau, di tepi sungai dan ditempat-tempat yang ramai.

6.

Harus mempersedikit makan dan minum, karena apabila perut dalam keadaan kenyang maka akan menghalangi semangat ibadah dan badan menjadi berat. Salah satu faedah

“mempersedikit makan menyebabkan badan menjadi sehat dan mencegah penyakit tubuh”.

Karena penyebab hinggapnya penyakit adalah terlalu banyak makan dan minum, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: بارشلاو ماعطلا نم نوكي # هارت ام رثكأ ءادلا نإف

Sesungguhnya penyakit yang kau saksikan itu kebanyakan # Timbul dari makanan dan minuman Sedangkan sehatnya hati itu terhindar dari perbuatan lacur, melampaui batas dan sombong, dan tidak tampak seorangpun dari para kekasih Allah, para pemimpin ummat dan para ulama’ yang terpilih yang bersifat atau mempunyai ciri seperti itu; banyak makan dan tidak akan terpuji karenanya. Banyak makan akan menjadihanya pada binatang yang tidak berakal dan dipersiapkan untuk bekerja.

7.

Harus mengambil tindakan terhadap dirinya sendiri dengan sifat wira’i (menjaga diri dari perbuatan yang bisa merusak harga diri) serta berhati-hati dalam setiap keadaan, memperhatikan kehalalan makanannya, baik itu berupa makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal dan setiap sesuatu yang ia butuhkan, agar hatinya terang dan pantas untuk menerima ilmu, cahaya ilmu dan mengambil kemanfaatan ilmu. Seyogyanya pencari ilmu juga menggunakan

kemudahan kemudahan pada tempatnya ketika dibutuhkan dan adanya sebab–sebabnya, karena Allah menyukai kemurahan–kemurahannya dilaksanakan sebagaimana Dia menyukai ketetapan- ketetapanNya dilaksanakan.

8.

Harus mempersedikit makan yang merupakan salah satu sebab tumpulnya otak (dedel:

Jawa), lemahnya panca indra, seperti buah apel yang masam, kacang sayur, minum cuka’, begitu juga makanan yang menimbulkan banyak dahak, yang dapat mempertumpul akal fikiran dan memperberat badan, seperti terlalu banyak minum susu, makan ikan dan yang lain sebagainya.

Seyogianya juga ia menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan lupa secara khusus seperti memakan makanan yang telah dimakan tikus, membaca tulisan di maesan (pathok pekuburan), masuk di antara dua ekor unta yang ditarik dan menjatuhkan kutu dalam keadaan hidup.

9.

Harus berusaha untuk mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya pada tubuh dan akal pikirannya. Jam tidur tidak boleh melebihi dari delapan jam dalam sehari semalam. Dan itu sepertiga dari waktu satu hari (dua puluh empat jam). Jika keadaannya memungkinkan untuk beristirahat kurang dari sepertiganya waktu dalam sehari semalam maka ia dipersilahkan untuk melakukannya. Apabila ia merasa terlalu lelah, maka tidak ada masalah untuk memberikan kesempatan beristirahat terhadap dirinya, hatinya dan penglihatannya dengan cara mencari hiburan, bersantai ke tempat-tempat hiburan sekiranya pulih kembali dan tidak menyia-nyiakan waktu.

10.

Harus meninggalkan pergaulan, karena meninggalkannya itu lebih penting dilakukan bagi pencari ilmu, apalagi bergaul dengan lawan jenis khususnya jika terlalu banyak bermain dan sedikit menggunakan akal fikiran, karena watak dari manusia adalah banyak mencuri

kesempatan (nyolongan). Bahaya dari pergaulan adalah menyia-nyiakan umur tanpa guna dan berakibat hilangnya agama, apabila bergaul bersama orang yang tidak beragama. Jika ia

membutuhkan orang yang bisa menemaninya, maka orang itu harus shaleh, kuat agamanya, takut kepada Allah, wira’i, bersih hatinya, banyak berbuat kebaikan, sedikit berbuat kejelekan,

memilki harga diri yang baik, sedikit perselisihannya (tidak ngeyelan). Jika ia lupa, maka temannya mengingatkan, dan bila ia ingat, maka berarti temannya telah menolongnya.

Akhlaq orang yang menuntut ilmu ketika bersama–sama dengan gurunya diantaranya, yaitu :

(17)

1.

Hendaklah memilih guru yang sesuai dalam bidangnya, ia juga mempunyai sifat kasih sayang, menjaga muru’ah (etika), menjaga diri dari perbuatan yang merendahkan martabat seorang guru. Ia juga seorang yang bagus metode pengajaran dan pemahamannya. Diriwayatkan dari sebagian ulama’ salaf: “Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil atau belajar agama kalian”.

2.

Bersungguh-sungguh dalam mencari seorang guru, Imam kita Al-Syafi’i berkata: “Barang siapa yang mempelajari ilmu fiqh hanya memahami makna–makna yang tersurat saja, maka ia telah menyia-nyiakan beberapa hukum”.

3.

Menurut terhadap gurunya dalam segala hal dan tidak keluar dari nasehat-nasehat dan aturan- aturannya. Bahkan, hendaknya hubungan antara guru dan muridnya itu ibarat pasien dengan dokter spesialis. Hendaknya seorang pelajar tahu bahwa merendahkan diri di hadapan gurunya merupakan kemulyaan, ketundukannya kepada gurunya merupakan kebanggaan dan tawadlu’ di hadapannya merupakan keterangkatan derajatnya.

4.

Memandang guru dengan pandangan bahwa dia adalah sosok yang harus dimuliakan dan dihormati dan berkeyakinan bahwa guru itu mempunyai derajat yang sempurna. Karena pandangan seperti itu paling dekat kepada kemanfaatan ilmunya. Abu Yusuf berkata: “Aku mendengar para ulama’ salaf berkata: “Barang siapa yang tidak mempunyai sebuah (I’tiqad) keyakinan tentang kemulyaan gurunya, maka ia tidak akan bahagia. Maka bagi pelajar jangan memanggil guru dengan menggunakan ta’ khitab (baca: kamu) dan kaf khitab (mu), ia juga jangan memanggil dengan namanya. Bahkan ia harus memanggil dengan: “ yaa sayyidi” (wahai tuanku) atau “yaa ustadzi” (wahai guruku). Juga ketika seorang guru tidak berada ditempat, maka pelajar tidak diperkenankan memanggil dengan sebutan namanya kecuali apabila nama tersebut disertai dengan sebutan yang memberikan pengertian tentang keagungan seorang guru, seperti apa yang di ucapkan pelajar: “Al Syekh Al Ustadz berkata begini begini” atau “guru kami berkata” dan lain sebagainya.

5.

Hendaknya pelajar mengetahui kewajibannya kepada gurunya dan tidak pernah melupakan jasa- jasanya, keagungannya dan kemulyaannya, serta selalu mendoakan kepada gurunya baik ketika beliau masih hidup atau setelah meninggal dunia. Selalu menjaga keturunannya, para

kerabatnya dan orang-orang yang beliau kasihi, dan selalu menekankan terhadap dirinya sendiri untuk selalu berziarah ke makam beliau untuk memintakan ampun, memberikan shadaqah atas nama beliau, selalu menampakkan budi pekerti yang bagus dan memberikan petunjuk kepada orang lain yang membutuhkannya, disamping itu pelajar harus selalu menjaga adat istiadat, tradisi dan kebiasaan yang telah dilakukan oleh gurunya baik dalam masalah agama atau dalam masalah keilmuan, dan menggunakan budi pekerti sebagaimana yang telah dilakukan oleh gurunya, selalu setia, tunduk dan patuh kepadanya dalam keadaan apapun dan dimanapun ia berada.

6.

Pelajar harus mengekang diri , untuk berusaha sabar tatkala hati seorang guru sedang gundah gulana, marah, murka atau budi pekerti, prilaku beliau yang kurang diterima oleh santrinya.

Apabila seorang guru berbuat kasar kepada santrinya, maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah dengan cara meminta ampunan kepada guru dan menampakkan rasa penyesalan diri dan mencari kerelaan, ridha dari gurunya, karena hal itu akan lebih mendekatkan diri pelajar untuk mendapatkan kasih sayang guru.

7.

Pelajar sebaiknya meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki tempat non-umum (ruangan pribadi, pent.) yang di dalamnya ada pendidik, baik pendidik itu sendirian maupun bersama orang lain. Jika pelajar meminta izin dan pendidik mengetahui hal itu, namun tidak memberinya izin, maka hendaklah pelajar meninggalkan tempat dan tidak mengulangi permintaan izinnya.

Jika pelajar ragu-ragu apakah pendidik mengetahui dirinya, maka pelajar tidak boleh meminta izin lebih dari tiga kali atau tiga kali ketukan pintu.

8.

Apabila pelajar duduk di hadapan kyai, maka hendaklah ia duduk di hadapannya dengan budi pekerti yang baik, seperti duduk bersimpuh diatas kedua lututnya (seperti duduk pada tahiyat awal) atau duduk seperti duduknya orang yang melakukan tahiyat akhir, dengan rasa tawadlu’ , rendah diri, thumakninah (tenang) dan khusyu’.

(18)

9. Pelajar hendaknya berbicara dengan baik kepada pendidik semaksimal mungkin. Pelajar tidak boleh berkata: "Mengapa demikian?, "Kami tidak setuju", "Siapa yang menukil ini?", "Di mana sumber rujukannya (referensinya)?", dan lain-lain. Jika pelajar ingin mengetahui semua itu, maka sebaiknya pelajar bersikap pelan-pelan untuk melakukannya; dan yang lebih utama adalah menanyakan semua itu di majlis-majlis lain.

Etika Pergaulan :

1.

Mengingatkan dan Takut kepada Allah

Seorang hamba hendaknya selalu mengingatkan akan Allah kepada saudara-saudaranya dalam setiap pergaulan dengan mereka: dalam jual beli, dalam majlis ilmu, dalam bercengkerama, dalam rumah tangga dan lain-lain. Mengingatkan akan Allah akan membuat Allah ridha dan cinta kepada Anda.

Selanjutnya Allah akan membuat orang lain mencintai Anda. Ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memanggil Jibril dan berkata kepadanya,

"Aku mencintai seseorang, maka cintailah dia. Jibril pun mencintainya dan meletakan kemudahan kepadanya di dunia." (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah telah berfirman, " Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menjadikan kasih sayang untuk mereka." (QS. Maryam: 96) Yaitu dengan menanamkan kasih sayang di hati orang lain untuk orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan.

Jadi, mengingatkan akan Allah sangat berguna bagi orang-orang beriman. Orang yang hendak berbuat curang atau menipu, jika diingatkan akan Allah, sangat mungkin ia akan membatalkan niatnya itu, jika dia masih beriman kepada Allah. Allah berfirman, "Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan memberi manfaat." (QS. Adz-Dzariyatz 55)

2. Orang yang akan Berbuat Jahat Diingatkan kepada Allah

Perhatikanlah ucapan putra Adam kepada saudaranya, "Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu untuk rnembunuhku, aku sama sekali tidak akan menggerakkan tanganku untuk

membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan seru sekalian alarn." (QS. Al-Ma'idah:

28)

Begitu juga dengan ucapan Maryam kepada orang yang diduga akan menganiaya dirinya, "Maryam berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, jika engkau orang yang bertakwa'." (QS. Maryam: 18)

Ucapan Musa a.s. kepada para tukang sihir, "Musa berkata kepada mereka, 'Celakalah kalian. Jangan membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Dia akan membinasakan kalian dengan siksa.

Sesungguhnya orang yang mengada-ada kedustaan akan merugi. " (QS. ThAh6:61)

Dari Qabus ibn Mukhariq, dari ayahnya, "Seseorang datang kepada Nabi ﷺ seIalu dia berkata, 'Ada orang datang kepadaku dan menginginkan hartaku.' Beliau berkata, 'Ingatkanlah akan Allah.' Dia berkata, 'Jika dia tidak mengingat ...'." (HR. Nasai dan Ahmad)

3. Ketika Terjadi Permusuhan Ingatkan kepada Mereka Allah

Dari Ummu Salamah r.a., "Rasulullah s.a.w. berkata, 'Jika terjadi konflik di antara kalian dan kalian melaporkannya kepadaku, mungkin sebagian kalian lebih baik dalam beralasan dan berbicara. Dan aku akan rnemutuskan sesuai dengan apa yang aku dengar darinya. Jika dengan pengakuannya itu aku memutuskan suatu hak untuknya dari saudaranya, maha janganlah dia mengarnbil hak itu (jika dia ternyata berbohong dengan ucapannya). Sesungguhnya (itu berarti) aku memutuskan untuknya potongan api neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Selalu Menyebut Allah

(19)

Siapa yang membutuhkan kalimat di mana Anda akan mendapatkan kebaikan dengan kalimat itu, maka berikanlah kalimat "Allah" kepadanya.

Siapa yang membutuhkan kalimat di mana Allah akan memaafkan anda karena kalimat itu, maka sampaikan kepadanya kalimat "Allah."

Siapa yang membutuhkan untuk ingat kepada Allah, maka ingatkanlah dia.

Siapa yang membutuhkan kalimat di mana Allah akan memberkati Anda dengan kalimat itu, maka katakanlah kalimat "Allah" untuknya.

Jika Anda marah, maka katakan, "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."

Jika Anda masuk rumah, maka sebutlah Allah dan ucapkanlah salam kepada keluarga Anda.

Jika Anda makan atau minum, sebutlah nama Allah.

Jika Anda selesai dari makan dan minum, baca, "Alhamdulillah"

Jika Anda melihat nikmat Allah pada diri, baca, "Masya Allah la quwwata illa billihi."

Ingatkanlah masyarakat dengan hadis-hadis berikut ini:

ِهيِخَأ ِنوع يِف ُدْبَعلا ناَكاَم ِدْبَعلا ِنوَع يِف اَو

"Allah akan selalu menolong hamba selama ia menolong saudaranya." (HR.Muslim)

ا ُهَعَفَر الِا ِ ل ِل ٌدَحَأ َعَضاَوَت اَمَو

"Orang yang merendahkan diri terhadap Allah, maka Allah akan mengangkatnya." (HR. Muslim) "

ا همحرَي ل َساانلا مَحرَي ل ْنم

"Siapa yang tidak menyayangi sesamanya, niscaya Allah tidak menyayanginya. " (HR. Muslim) Dan hadis-hadis lainnya yang berisi tentang ingat Allah. Katakanlah kepada seseorang:

Bersedekahlah dari apa yang Allah berikan kepada Anda!

Berbuat baiklah, niscaya Allah akan berbuat baik kepada Anda!

Kasihilah, niscaya Allah akan mengasihi Anda!

Ajarkanlah ilmu kepadaku, sebagaimana Allah mengajarkannya kepada Anda!

Permudahlah, maka Allah akan memudahkan Anda!

Allah akan mengampuni Anda. Allah akan memaafkan Anda. Tutuplah aib orang lain, maka Allah akan menutupi aib Anda!

5. Ingatlah Akhirat

Mengingatkan akan akhirat akan membuat seseorang menjadi sabar dalam menghadapi masyarakat, sabar menghadapi gangguan mereka dan sabar menghadapi kebodohan mereka.

Mengingatkan akan akhirat akan membuat seseorang banyak melakukan kebaikan untuk

dipersembahkan ke hadirat Allah. Di sisi lain dia akan menghindarkan dirinya dari mengharap apa yang ada di tangan orang lain.

Mengingatkan akan akhirat juga akan mendorong seseorang untuk memaafkan orang lain, bersikap toleran, berkata baik dan berakhlak baik. Semua itu merupakan buah dari mengingat akhirat.

Keyakinan yang benar akan mendorong kepada perbuatan baik dan keyakinan yang salah akan mendorong kepada perbuatan salah. Jika Anda yakin bahwa di sana ada surga dan neraka, maka Anda akan melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat Anda masuk surga dan menghindarkan

(20)

Anda dari neraka. Perbanyaklah mengingatkan akhirat dengan segala bentuk kedahsyatannya. Allah mengkhususkan para nabi untuk lebih banyak mengingatkan akan akhirat. Allah berfirman tentang beberapa nabi, "sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka akhlak yang tinggi, yaitu) selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat." (QS. Shad:

46)

Referensi

Dokumen terkait

ِ ِ ‫اُلْحم ُد‬ ِ ‫لم ْر َسلِْي َن‬ َّ ‫العا ل َِمْي َن َو‬ ِّ ‫هلل َر‬ َّ ‫الصالَ ةُ َو‬ َ ‫ب‬ َْ ُ ْ‫السالَ ُم َعلَى اَ ْش َر ف اْالَ نْبيَاء َو ا‬ ِِ .‫اص

شرو دقع تم كراملجا يبوسنلم تاردقلا ءانب راطإ يفو ةصالخاو ةيموكلحا تاهلجا ضعب اهيف كراشت لمع يراجتلا ش��غ��لا ة��ح��فا��ك��م عو��ضو��بم ة��قلا��ع م��ه��ل ن��مم ماهمو فده حيضوت يف ريبكلا

ة���ي���بتر���لا ة��ي��ل��ك��ب ير���ت���س�������جا���لما ج����مار����ب – ًا���ي���نا���ث م مس�قلا ص�س�ختلا جمانبرلا تاظحلام 1 ص�يردتلا قرطو جهانلما ةماعلا ص�يردتلا قرطو جهانلما

8 ة��ي��نوتر��ك��للا ة��ي��يمدا��كألا تا���كر���لحا دا��م��ت��عا ل��ي��لد 8 :ةيلكلا ديمعب قلعتي ام :اًيناث .اهدامتعا هيلع نأاو ،ةلخدلما ةكرحلل مش�قلا س�يئر دامتعاب ديفت ،ةيلكلا ديمع

ةكرشلا نوؤش بدت م ءاسإ نع أش ي يذلا ررضلا ن مأتلا تا رش ةبقارم ماظن ما حأ م فلاخم وأ ل و ،ماظنلا اذ و ةقﻼعلا تاذ ىرخﻷا تاميلعتلاو حئاوللاو ةمظنﻷاو ةيذيفنتلا هتحئﻻو ي واعتلا أش اذإ

اوقلا عول ثم عيي إ مزف يز إ ص ي لم هيوكيا ن طق :اهم اذه يريي نةئيربي بين ن يواا يز اهميز رصقي لم هنإ امف ناهماوا يمج ير ل لم يزاجلحا عي سانأ اإ ام كسن ب ققلمحا اضيأ م فيي زميا

أ يق ـــــــــــــ ماعلا ةرادلإا يف م ـــــــــــ ي ناكسلإاو قفا رملل ة ــــــــــ بسلا مو ـــــــــ لما ت ــــــــــــــــــ فا و ق 19 / 2 / 1443 ه تايلاعفلا نم ددع مويلا

ةئيبلا رود نم ومني يذلا عفادلا كلذكو ، تاذلا لخراد نم تيأي يذلا عفادلا ةيلآا ةلدالمجا ةروس في لاثلما ليبس ىلع .ةيعامتجلاا 00 : ي ر ف هللها ع لا ذ ي ن مآ م ا و ه ن ن هك م