• Tidak ada hasil yang ditemukan

knowledge of society about the causes occurrence of

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "knowledge of society about the causes occurrence of"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KNOWLEDGE OF SOCIETY ABOUT THE CAUSES OCCURRENCE OF FLOODS IN KAMPUNG BARU VILLAGE BATAHAN DISTRICT OF

RANAH BATAHAN WEST PASAMAN REGION

By :

ErmitaSusanti1YeniErita2Yuherman3

1.geography education student of STKIP PGRI Sumatera Barat.

2,3 lecturer at geography department of STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

The research aims to obtain data or information and analyze in depth knowledge about the cause of the flood in KampungBaru village Batahan District of RanahBatahan West Pasaman Region, in terms of: 1) landfills, 2) mining activities, and 3) deforestation. This type of research is qualitative. The study was conducted in KampungBaru village Batahan District of RanahBatahan. Informants were taken by purposive sampling, the researchers who determine their own informant researchers based on objective research. Criteria for the determination of informants communities affected by the floods in KampungBaru village Batahan District of RanahBatahan. Data analysis was carried out by reduction, presentation and conclusion.The results showed: 1) Public awareness of waste disposal into the river is low because people still use the river landfills and cause streams clogged, 2) Community knowledge about sand mining activities so low that sand mining activities cause flooding, because the body section of the river eroded so that the water that comes not can be intercepted and overflowing onto the outside of the body of the river and 3) public awareness of deforestation is low, seen from the logging is done by people in the upper reaches of the river through KampungBaru village.

Key Words:flood, landfils, mining, deforestation

1

(3)

PENDAHULUAN

Bencana alam merupakan peristiwa alam yang diakibatkan oleh proses alam baik yang terjadi oleh alam itu sendiri maupun diawali oleh tindakan manusia yang menimbulkan resiko dan bahaya terhadap kehidupan manusia, manusia baik harta benda maupun jiwa. Karakteristik bencana alam ditentukan oleh keadaan lingkungan fisik seperti: iklim, topografi, geologi tanah dan tata air. Penggunaan lahan dan aktifitas manusia, secara geologis, geomorfologi dan klimatologis Indonesia selalu menghadapi bencana alam yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu baik jenis maupun frekuensinya (Hermon, 2012).

Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia terutama wilayah yang berada pada daerah aliran sungai. Sebagian besar manusia memang lebih cendrung hidup di daerah sekitar sungai. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor pendorong, diantaranya kondisi tanah yang subur, pasokan air yang mudah, transportasi mudah, dan kemampuan daerah sekitar untuk menopang perekonomian. Dalam hal ini banjir merupakan aspek interaksi antara manusia dalam mencoba memanfaatkan alam yang berguna dan menghindari alam yang dapat merugikan manusia itu sendiri (Asdak, 2005).

Banjir adalah bencana alam yang terjadi secara alami, maupun oleh manusia. Pada saat sekarang ini banjir sering terjadi disebabkan karena ulah manusia yang mulai tidak menghiraukan keseimbangan alam, mulai dari membuang sampah disungai yang menyebabkan tersumbatnya aliran, penambangan pasir dan penebangan hutan. Kegiatan manusia itu antara lain membuang sampah sembarangan ke sungai dengan harapan sampah tersebut terbawa ke laut, penambangan pasir di sungai dengan alasan ekonomi, penebangan hutan liar yang tidak mempertimbangkan kondisi lingkungan, kurangnya pemeliharaan lingkungan sehingga saluran sungai menjadi rusak (Paimin, 2009).

Hujan lebat merupakan salah satu faktor aktif menyebabkan banjir. Akibat hujan lebat tersebut dapat menyebabkan air sungai naik dan kemungkinan untuk terjadinya banjir. Oleh karena itu, dengan terjadinya hujan tersebut air hujan akan langsung segera menjadi aliran permukaan. Hal inilah yang di sebabkan karena tidak adanya air hujan yang meresap ke dalam tanah. Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan, karena volume air yang meningkat banjir dapat terjadi karena peluapan

air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar (Maryono, 2005).

Sebagai contoh nyata pada tanggal 28 Desember 2013 terjadi banjir di Jorong Kampung Baru Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat. Sekitar 120 rumah warga terendam air, 2 jembatan amblas, 2 orang tewas, 50 kepala keluarga terpaksa mengungsi akibat meluapnya air sungai tersebut dengan ketinggian 2,5 meter. Sekitar 5 hektar perkebunan masyarakat rusak contoh perkebunannya yaitu jagung, kacang tanah, kopi coklat masyarakat yang dekat dengan aliran sungai Jorong Kampung Baru rumahnya rusak parah.

Kemudian terjadi lagi banjir pada tanggal 30 Desember 2014 di tempat yang sama sungai Jorong Kampung Baru meluap yang menghanyutkan 1 warga, merusak 60 rumah, 30 kepala keluarga mengungsi, separo jalan raya rusak parah, jalan yang biasa digunakan masyarakat menuju ke sungai juga rusak terbawa arus air, kemudian terjadi erosi tebing dengan ketinggian banjir 2 meter. Sebelum terjadi banjir, sungai Kampung Baru tidak begitu dekat dari permukiman warga, yaitu ± 50 m dan setelah terjadi banjir sungai semakin dekat ke permukiman warga dan sungai menjadi lebih luas. Pada umumnya masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari hasil alam yaitu penambangan pasir, pengambilan kayu di hulu.

Menurut Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat, (Asgiarman) bahwa banjir terjadi karena meluapnya sungai Batahan dan Kampung Baru.

Perlu disadari bahwa keseimbangan alam sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia dibumi ini. Hutan sebagai daerah resapan air. Dengan demikian perlunya masyarakat menjaga lingkungan atau menyelamatkan kehidupan manusia dan ekosistem lain di dalamnya.

Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang, “Pengetahuan Masyarakat tentang Penyebab Terjadinya Banjir di Jorong Kampung Baru Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat

Tujuan penelitian adalahmenganalisis secara mendalam pengetahuan masyarakat tentang:Pembuangan sampah ke sungai, aktivitas penambangan pasir sungai danpenebangan hutan di Jorong Kampung Baru Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat.

(4)

METODOLOGI PENELITIAN

Jenispenelitianiniadalahkualitatif.yaitupene litian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah- masalah manusia dan sosial, bukan mendeskripsikan bagian permukaan dari suatu realitas sebagaimana dilakukan penelitian kuantitatif dengan positivismenya.penelitian dilakukan di jorong Kampung Baru Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat.

Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat, wali nagari dan pemuka masyarakat yang bermukim di Kampung Baru Batahan, metode yang digunakan adalah metode purposive sampling yaitu peneliti yang menentukan sendiri informan peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria penentuan informan yaitu masyarakat yang terkena dampak banjir di Jorong Kampung Baru, wali jorong dan wali nagari

Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil temuan dilapangan dan sesuai dengan tujuan penelitian maka didapatkan hasil Pengetahuan masyarakat tentang penyebab terjadinya banjir di Jorong Kampung Baru Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat sebagai berikut:

Pertama, pengetahuan masyarakat tentang pembuangan sampah ke sungai termasukrendahsehingga menjadi penyebab terjadinya banjir. Adanya sampah yang dibuang ke sungai menyebabkan alur sungai tersumbat dan air tidak lancar. Ketika musim hujan, air yang datang debitnya besar sehingga terjadi banjir karena air tidak dapat mengalir.

Hal

inisesuaidenganhasilpenelitianSusmarkanto (200:15)

bahwakonsepsisungaisebagaitempatpembuangan sampahdanlimbahtelahmenjadiadatkebiasaandan sistemnilaibudayamasyarakat di

perdesaanmaupun di

perkotaan.Perilakumenyimpanginimempunyaian dilterhadapterjadinyabanjir yang setiapsaatmengancameksistensimanusia.

Hal ini juga sesuaidenganpendapatBudiman (2000)

bahwasampahdariberbagaisumberdapatmencema rilingkungan, baiklingkungandarat, udaramaupunperairan.Pencemarandarat yang

dapatditimbulkanolehsampahadalahmisalnyaditi njaudarisegikesehatansebagaitempatsaranadarim enyebarnyabibitpenyakitsepertipenyakitkulit/gat al-gatal,

diaredantipus.Sedangkanditinjaudarisegikeindah antentusajamenurunnyaestetika.Pencemaranuda raditimbulkanpengeluaranbau yang tidaksedap,

debu, gas-gas beracun,

pembakaransampahdapatmenimbulkankarbonm onoksida, karbondioksida, nitrogen monoksida, gas belerang, amoniakdanasap di udara.

Kedua, pengetahuan masyarakat tentang akvitas penambangan pasir di Jorong Kampung Baru Nagari Batahan Kecamatan Ranah Batahan Kabupaten Pasaman, merupakan penyebab utama terjadinya banjir di jorong Kamung Baru, karena bagian badang sungai tergerus sehingga air yang datang tidak dapat dihadang lagi.

Hal

inisesuaidenganhasilpeneiltianYudhistira (2011) bahwa rusaknya struktur tanah oleh erosi di daerah lokasi penambangan pasir di desa Keningar, akan menyebabkan mengecilnya pori-pori tanah, sehingga kapasitas infiltrasi menurun, dan aliran permukaan menjadi lancar.

Hal ini dapat menyebabkan banjir dan longsor.

SelanjutnyaSusilo (2008: 151) bahwapertambangandapatmenciptakankerusaka

nlingkungan yang

seriusdalamsuatukawasan/wilayah.Potensikerus akantergantungpadaberbagaifaktorkegiatanperta mbangandanfaktorkeadaanlingkungan.Penamba nganpasir liar muncul demi memenuhikebutuhanmanusia.Selainmenghasilk anmaksimalisasicaraberpikir, penambanganpasir

liar juga

mendatangkankeuntunganmateriilbagisiapa pun yang

berhasilmengerakkandanmemanfaatkannya.

Tetapi, sesuatu yang

tidakbisadihindarikalaupenambanganpasirterseb ut juga menghasilkandampak yang merugikanbagialam, lingkungan, dantentunya juga manusiaitusendiri.Terdapatnyaspesies - spesiestersebutmenjadipunahdanmenghilang.

Ketiga, pengetahuan masyarakat tentang penebangan hutan menyebabkan terjadinya banjir. Hutan dengan tanaman yang rapat dapat menahan air sehingga air tidak langsung menuju tempat yang rendah, tetapi meresap dulu ke tanah. Terjadinya penebangan hutan menyebabkan air tidak bertahan sehingga ketika hari hujan dan air yang terkumpul banyak, maka air tidak dapat dibendung dan menyebabkan terjadi banjir di bagian hilir sungai.

HasilpenelitianinisesuaidenganpendapatAs dak (2002) bahwameningkatnyafrekuensibanjir,

(5)

bahkanketikaintensitascurahhujan yang kecilhinggasedang,

berkemungkinanbesarkarenatelahmakintergangg unyadaerahtangkapan air yang beradadekatdenganlokasibanjir.

Meningkatnyagangguantegakanhutan, carabercocoktanamtidakkonservatif,

meningkatnyalajuperubahanpemanfaatanlahan yang tidakkondusifterhadapperesapan air hujankedalamtanahdanperilakumasyarakat yang tidakramahlingkungan, terutama yang berkaitandengantidaklancarnyaaliran air di selokandansungai.

Hal ini juga sesuaidenganpendapat CIFOR (2005:4) bhawa hutan adalah pengguna air yang sangat besar. Sejumlah besar air hujan (sampai 35%) biasanya terhalang oleh kanopi pada hutan tropis dan menguap kembali ke dalam atmosfir tanpa memberikan sumbangan apa–apa terhadap cadangan air tanah. Sebagian besar lainnya yang menyerap ke dalam tanah digunakan oleh pepohonan itu sendiri. Hal ini tentunya mematahkan pendapat bahwa reboisasi atau penanaman kembali hutan akan meningkatkan aliran air di musim kemarau (Hamilton dan Pearce dalam CIFOR, 2005:). Dengan demikian, mengganti tutupan lahan hutan dengan pemanfaatan lahan lain hampir selalu meningkatkan kecepatan aliran dan jumlah aliran sungai. Kecepatan aliran dan pola aliran sungai perlahan-lahan akan kembali kepada kondisi awalnya bila suatu wilayah dibiarkan kembali menjadi hutan. Namun demikian, mengalihgunakan hutan menjadi padang rumput biasanya secara permanen akan meningkatkan kecepatan aliran air secara total.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Pengetahuan masyarakat tentang pembuangan sampah ke sungai rendah karena masyarakat masih memanfaatkan sungai tempat pembuangan sampah dan menyebabkan aliran sungai tersumbat 2. Pengetahuan masyarakat tentang aktivitas

penambangan pasir rendah sehingga aktivitas penambangan pasir penyebab terjadinya banjir, karena bagian badan sungai tergerus sehingga air yang datang tidak dapat dihadang dan meluap ke luar badan sungai.

3. Pengetahuan masyarakat tentang penebangan hutan rendah, terlihat dari adanya penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu sungai yang melalui jorong Kampung Baru.

Sedangkan saran yang dapat penulis kemukakan:

1. Disarankan pada pemerintah untuk lebih sering melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana sehingga bencana dapat dihindari, termasuk sosialisasi penyebab terjadinya banjir yaitu membuang sampah pada tempat yang ditentukan, mengurangi aktivitas penambangan pasir dan mengurangi penebangan hutan.

2. Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian tentang pengetahuan masyarakat tentang penyebab banjir.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Asdak, Chay, 2005. Hidrologi dan Pengelolaan

Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: UGM Press.

Asdak, Chay. 2002. Hutan dan Perilaku Aliran Air: Klarifikasi Keberadaan Hutan dan Pengaruhnya terhadap panjir dan kekurangan air. Manusia dan lingkungan, Vol XI, No. 1 Maret 2002. Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada Yogyakarta

Bafdal, Nurpilihan, Amaru, Kharistya dan Edi Suryadi. 2011. Buku Ajar Teknik Pengawetan Tanah. Bandung: Jurusan Teknik dan Manajemen Industri Pertanian Fakultas Teknologi Industri Pertanian Univ Padjajaran.

Budiarto, Tri. dkk. 2003. Investigasi Aktivitas Illegal Logging di Propinsi Kalimantan Barat, WWF dan Tempo

Dewita, Ratna. 2014. “Studi Pemahaman Masyarakat Tentang Mitigasi Bencana Banjir Bandang di Nagari Unggan Kecamatan Sumpur Kudus” Skripsi Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat.

Engla. 2013. “Tingkat Pengetahuan Masyarakat dalam Upaya Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Kota Pariaman“. Skripsi Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

(6)

Jalaludin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan.

Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Maryono, A. 2005. Menangani Banjir, Kekeringan dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Moleong. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.

Muri, Yusuf. 2005. Metodologi Penelitian.

Padang: UNP.

Nurdin, A., Wiriosudarmo,R., Gautama, R.S., Arif, I., 2000, Agenda 21 Sektoral Agenda Pertambangan untuk Pengembangan Kualitas Hidup Secara Berkelanjutan, Proyek Agenda 21 Sektoral Kerjasama Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan UNDIP, Jakarta.

Paimin. 2009. Teknik Mitigasi Bencana Banjir dan Tanah Longsor. Bogor: Tropenbos International Indonesia Progamme.

Rahim, S.E. 2000. Pengendalian Erosi Tanah Dalam Rangka Pengendaliaan Hidup.

Palembang

Reny, Afrilla. 2013. “Upaya Masyarakat dalam Mengatasi Bencana Banjir Bandang di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang “. Skripsi Program Studi Pendidikan Geografi STKIP PGRI Sumatera Barat

Susmarkanto. 2002. Pendemaran Lingkungan Perairan Salah Satu Penyebab Banjir di Jakarta. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol.

3 No. 1 Januari 2002: 13-16

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Susilo, Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi

Lingkungan. Malang: PT. Raja Grafindo Supriadi. 2011. Hukum Kehutanan dan Hukum

Perkebunan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika

Suyadi. 2003. Mesin dan Peralatan Tambang.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Yudhistira, Wahyu Krisna HidayatdanAgus Hadiyarto 2011. “Kajian Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan pasir di desa Keningar daerah kawasan

Gunung Merapi.Jurnal Ilmu Lingkungan.

Volume 9, Issue 2: 76-84(2011)ISSN 1829- 8907

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan tabel 4.9, dapat diketahui bahwa ibu yang berusia 40-55 tahun di Dusun Dabag 13 orang (37.2%) memiliki tingkat pengetahuan baik tentang penyebab yang

The socialization method or lecture is by conducting the main socialization regarding Lampung Governor Regulation Number 45 of 2020 concerning Guidelines for Adaptation of New Habits