• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Orang Tua dalam Menengah Perilaku Kenakalan Remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Komunikasi Orang Tua dalam Menengah Perilaku Kenakalan Remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI ORANG TUA DALAM MENCEGAH PERILAKU KENAKALAN REMAJA DI DESA TASSESE KECAMATAN

MANUJU KABUPATEN GOWA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Sosial (S.Sos ) Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam

pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Oleh:

RINA AGUSRINA SARI NIM: 50100114042

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2020

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

الله الرحمن الرحيم مسب

ملاسلاو ةلاصو ,هيدلاو ايودلا رومأ ىلع ُهْيِعَتْسَو ِهِب َو ,َهْيِمَلاَعلْا ِّب َر ِلله ُدْمَحْلَا دعب امأ .هيعمجأ هباحصأو هلآ ىلعو هيلسرملاو ءايبولأا فرشأ ىلع

Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas limphan dan taufik-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Salam dan salawat tak lupa penulis curahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw. Serta para keluarga, sahabat, dan orang yang mengikutinya hingga akhir nanti.

Tidak dapat dipungkiri bahwa selama penulisan skripsi ini terdapat berbagai kendala yang dihadapi penulis. Akan tetapi berkat izin dan pertolongan Allah SWT. kemudian bantuan dari berbagai pihak, maka semua kendala tersebut dapat dilalui dengan semangat, ketulusan dan kesabaran. Oleh karena itu, pada kesempatan berharga ini penulis sampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Drs. Hamdan Juhannis M.A, Ph.D selaku Rektor Uinversitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Wakil Rektor I Prof. Dr. Mardan, M.Ag, Wakil Rektor II Dr. Wahyuddin Naro, M.Pd, Wakil Rektor III Prof. Dr.

Darussalam Syamsuddin, M.Ag, dan Wakil Rektor IV Dr. H. Kamaluddin Abunawas, M.Ag. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di UIN Alauddin Makassar.

(5)

2. Dr. Firdaus Muhammad, MA selaku Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Bapak Dr. Irwan Misbach, SE, M.Si selaku Wakil Dekan I, Dr. Hj. Nurlelah Abbas. Lc, M.Ag selaku Wakil Dekan II dan Dr.

Irwanti Said, M.Pd selaku Wakil Dekan III yang telah memberkan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di Fakultas Dakwah &

Komunikasi.

3. Rahmawati Haruna, SS. M. Si dan Hamriani, S.Sos,I.,M.Sos.I selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan motivasi selama penulis menempuh kuliah berupa ilmu, nasehat, serta pelayanan sampai penulis dapat menyelesaikan kuliah.

4. Prof. Dr. Hj. Muliaty Amin, M.Ag. dan Dra. Asni Djamereng, M. Si. Selaku Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah meluangkan banyak waktu untuk mengarahkan serta membimbing penulis dalam perampungan penulisan skripsi ini.

5. Drs. Alamsyah, M.Hum dan Dr. Nur Syamsiah, M.Pd.I, selaku penguji 1 dan penguji II yang telah memberikan arahan, saran dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Drs. Alamsyah, M.Hum, Drs. Muh.Anwar, M.Hum dan Dra. Asni Djamereng, M.Si selaku penguji konfrehensif.

7. Seluruh Dosen, bagian Tata Usaha umum dan Akademik, bersama Staf Pegawai Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang telah memberikan bekal

(6)

ilmu, bimbingan, arahan, motivasi, dan nasehat selama penulis menempuh pendidikan di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

8. Kepada Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi beserta Staf Pegawai yang telah banyak membantu penulis dalam mengatasi kekurangan dalam penulisan skripsi.

9. Kedua orang tua penulis, ayahanda Zainudding dan Ibunda Hj. A. Megawati yang selalu memberikan dorongan dan doa kepada penulis serta telah mengasuh dan mendidik penulis dari kecil hingga saat ini. Walaupun penulis menyadari bahwa ucapan terima kasih penulis tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh mereka. Saudara Kakak Delvi Karmelia Sari bersama suami dan anaknya, juga adik saya Try Sakty beserta seluruh keluarga saya.

10. Terima kasih pula untuk Kepala Desa Muh. Azis Karaeng Ngunjung, S.Sos.

dan semua masyarakat Desa Tassese atas segala kerja sama selama penulis melakukan penelitian.

11. Teman-teman kuliah terutama Vira , Mujtahida, S.Sos, Nirwana Sari, S.Sos, Nirwana, Dewi Septiana, Aziz S.Ikom serta teman-teman seperjuangan Mahasiswa(i) angkatan 2014 Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang selalu memberikan dukungan dan motivasi selama penulis kuliah di UIN Alauddin Makassar.

(7)

Penulis menyadari sepenuhnya, karya ini merupakan sebuah karya sederhana yang sarat dengan kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan di masa mendatang.

Gowa, 5 Maret 2020 Penyusun,

Rina Agusrina Sari NIM: 50100114042

(8)

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... viii

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN ... x

ABSTRAK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1-8 A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 4

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Kajian Pustaka ... 6

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN TEORITIS... 9-41 A. Tinjaun Tentang Komunikasi ... 9

1. Pengertian Komunikasi dan Dakwah ... 9

2. Bentuk Komunikasi dan Konteks Dakwah ... 14

3. Metode Komunikasi ... 27

B. Tinjaun Tentang Orang Tua dan Remaja ... 28

1. Pengertian Orang tua dan Remaja ... 28

2. Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Remaj ... 32

3. Bentuk - bentuk Komunikasi antara Orang Tua dan Remaja ... 35

4. Penyebab Perilaku Kenakalan Remaja ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 42-48 A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 42

B. Pendekatan Penelitian ... 43

C. Sumber Data ... 44

D. Metode Pengumpulan Data ... 44

E. Instrumen Penelitian ... 46

F. Teknik Pengolahan Data ... 46

(9)

BAB IV KOMUNIKASI ORANG TUA DALAM MENCEGAH PERILAKU KENAKALAN REMAJA DI DESA TASSESE KECAMATAN MANUJU KABUPATEN

GOWA ... 49-65

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 49

B. Metode Komunikasi Orang Tua dalam Mencegah Kenakalan Remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa ... 52

C. Tantangan Komunikasi Orang Tua dalam Mencegah Perilaku Kenakalan Remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa ... 58

BAB V PENUTUP ... 66-67 A. Kesimpulan ... 66

B. Implikasi Penelitian ... 67

DAFTAR PUSTKA ... 68

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 70

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 77

(10)

PEDOMAN TRANSLITERASI

A. Transliterasi Arab-Latin

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf latin dapat dilihat pada tabel berikut:

1. Konsonan

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

ا Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan

ب Ba B Be

ت Ta T Te

ث Tsa ṡ es (dengan titik di atas)

ج Jim J Je

ح Ha H ha (dengan titik di bawah)

خ Kha Kh ka dan ha

د Dal D De

ذ Zal Ż zet (dengan titik di atas)

ر Ra R Er

ز Za Z Zet

س Sin S se

ش Syin Sy se nad ss

ص Shad Ṣ es (dengan titik di bawah)

ض Dhad Ḍ de (dengan titik di bawah)

ط Tha Ṭ te (dengan titik di bawah)

ظ Dza Ẓ zet (dengan titik di bawah)

ع „ain „ apostrof terbaik

غ Gain G se

ف Fa F Ef

ق Qaf Q Qi

ك kaf K Ka

ل Lam L Ei

م Mim M Em

ن nun N En

و Wawu W We

ه ha H Ha

أ Hamzah ‟ Apostrof

ي ya‟ Y Ye

(11)

Hamzah yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda ( ).

2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

Vokal tungggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:

Tanda Nama Huruf Latin Nama

َ Fathah A A

َ Kasrah i I

َ Dammah u U

Vokal rangkap bahasa Arabyang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu :

3. Maddah

Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu :

Harkat dan Huruf Nama Huruf dan Tanda Nama

ي / ا , ََ fathah dan alif atau ya

a a dan garis di atas

ي َِ kasrah dan ya i i dan garis di

atas

و َُ dammah dan wau u u dan garis di

atas

Tanda Nama Huruf Latin Nama

ي ََ fathah dan ya Ai a dan i و ََ fathah dan wau Au a dan u

(12)

4. Ta Marbut

Transliterasi untuk ta marbutah ada dua, yaitu: ta marbutah yang hidup atau mendapat harkat fathah, kasrah, dan dammah, yang transliterasinya adalah [t].

Sedangkanta marbutah yang mati atau mendapat harkat sukun transliterasinya adalah [h].

Kalau pada kata yang berakhir dengan ta marbutah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbutah itu transliterasinya dengan [h].

5. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atautasydidyang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid ( َّ), dalam transliterasinya ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.

Jika huruf يber-tasydiddi akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah( ِي), maka ia ditransliterasikan seperti huruf maddah(i).

6. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf لا (alif lam ma’arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-,

baik ketika ia di ikuti oleh huruf syamsiah Maupun huruf qamariah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).

7. Hamzah

Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrop (,) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.

(13)

8. Penulisan Kata Arab yang Lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata,istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sudah sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya kata Al-Qur’an (dari al-Qur‟an), sunnah, khususdanumum. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka mereka harus ditransliterasi secara utuh.

9. Lafz al-Jalalah (الله)

Kata “Allah” yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mudaf ilaih (frase nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.

Adapun ta marbutah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz a-ljalalah, ditransliterasi dengan huruf [t].

10. Huruf Kapital

Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama dari (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (AL-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK,DP, CDK, dan DR).

(14)

11. Daftar Singkatan

Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:

Swt. = subhanallahu wa ta’ala

Saw. = sallallahu ‘alaihi wa sallam

a.s. = ‘alaihi al-salam

H = Hijriah

M = Masehi

SM = Sebelum Masehi

I. = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja)

w. = Wafat tahun

QS …/…:4 = QS al-Baqarah/2:4 atau QS Ali „Imran/3:4

HR = Hadits Riwayat

(15)

ABSTRAK

Nama Peneliti : Rina Agusrina Sari NIM : 50100114042

Judul Skripsi : Komunikasi Orang Tua dalam Menegah Perilaku Kenakalan Remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa

Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana komunikasi orang tua dalam mencegah perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Pokok masalah tersebut dirumuskan ke dalam beberapa sub masalah, yaitu: 1) Bagaimana metode komunikasi orang tua dalam mencegah perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa? 2) Bagaimana tantangan komunikasi orang tua dalam mencegah perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa?

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan ilmu dakwah dan pendekatan komunikasi. Adapun sumber data primer dan sekunder adalah Orang tua, remaja, masyarakat, tokoh agama.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi, wawancara, dan dokumentasi. Lalu teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode Komunikasi Orang Tua dalam Mencegah Kenakalan Remaja yaitu Metode komunkasi Interpersonal dan Komunikasi Persuasif. Tantangan komunikasi orang tua yang dihadapi dalam mencegah perilaku kenakalan remaja yakni: Remaja susah mendengar dan cuek, memberikan pendidikan agama, memberikan contoh yang baik dan menanamkan kedisiplinan pada remaja.

Implikasi penelitian ini adalah 1) Kepada orang tua untuk meningkatkan kemampuan dalam menjalin komunikasi yang baik, memahami perannya dan serta memberikan perhatian dan memberikan pengawasan yang lebih kepada remaja agar dapat mencegah perilaku kenakalan remaja. 2) Diharapkan para orang tua memberikan pendidikan tentang keagamaan, serta berusaha membina remaja untuk berubah libih baik dan bisa mengajak remaja kepada hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban beribadah kepada Allah SWT. dalam hal ini yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh para remaja adalah salat berjamaah di mesjid.

(16)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Remaja adalah suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan. Dimana masa beralihnya dari anak-anak menuju masa remaja. Pada umur 11 hingga 21 tahun ia dikatakan remaja. Waktu usia ini biasanya dibedakan atas dua hal, yaitu:

Masa remaja awal pada usia 11-15 tahun, remaja akhir 15-20 tahun.1 Remaja adalah usia transisi, dimana seorang individu telah meningggalkan usia anak-anak yang lemah, penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun terhadap masyarakat.

Banyak masa transisi ini bergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana ia hidup. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja, karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya.

Remaja pada hakekatnya sedang berjuang untuk menemukan dirinya sendiri, jika di hadapkan pada ke adaan luar atau lingkungan yang kurang serasi penuh kontradiksi dan labil, maka akan mudah mereka jatuh pada kesensaraan batin, hidup penuh kecemasan, ke tidak pastian dan kebimbangan. Hal seperti ini telah menyebabkan remaja-remaja Indonesia jatuh pada kelainan-kelainan kelakuan yang membawa bahaya terhadap dirinya sendiri. Dan berdampak pada sifat atau tindakan yang bisa disebut kenakalan remaja.

1Sofyan S. Willis, Remaja dan Masalahnya (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 1.

(17)

Kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku, perbuatan dan tindakan remaja yang bersifat asosial cenderung tidak mempedulikan orang lain, kadang kasar bahkan antisosial yang melanggar norma-norma sosial, agama, serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.2 Dan fenomena perilaku kenakalan remaja banyak diketahui di lingkungan masyarakat melalui pemberitaan media massa dan hamper setiap saat memuat dan menayangkan kasus-kasus mengenai perilaku negatif yang menunjukkan semakin meningkatnya pelanggaran hukum yang di lakukan oleh remaja, antara lain beberapa bentuk kenakalan remaja seperti merokok, minum-minuman keras, tawuran, mencuri, narkoba, perkelahian, pemerkosaan, bolos sekolah dan masih banyak lagi bentuk perilaku kenakalan remaja lainya.

Pada tahap ini lah komunikasi orang tua berperan sangat besar dalam mencegah remaja agar tidak terjerumus ke dalam perilaku kenakalan. Karena, orang tua merupakan media pertama dan utama bagi remaja untuk mengenal dirinya dan memahami kehidupan bersosial serta bermasyarakat, secara sadar maupun tidak, orang tua selaku akan terjadi penanaman moral dan khalayak yang mendasar bagi sang remaja dalam proses bersosial dan bermasyarakat. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa proses sosial dan pembentukan masyarakat yang ideal dimulai dari orang tua. Sebagai mana firman Allah Swt dalam QS At- Tahrim/66:6:



2Sofyan S. Willis, Remaja dan Masalahnya, h. 89.

(18)

Terjamahanya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”3

Pada ayat ke 6 ini member tuntutan kepada kaum beriman bahwa: Hai orang-orang beriman, peliharalah diri kamu antara lain dengan meneladani Nabi Saw. dan peliharalah juga keluarga kamu yakni istri, anak-anak dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan membimbing dan mendidik mereka agar kamu semua terhindar api neraka.

Ayat di atas menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula dari rumah. Ayat tersebut tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayah ini tertuju kepada perempuan dan lelaki (ibu dan ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat memerintahkan berpuasa) yang juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua orang tua bertanggung jawab terhadap remaja dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggung jawab atas kelakuannya.

Adapun menurut Rogers bahwa orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan ke hidupan remaja. Orang tua merupakan tempat pertama kalinya remaja bersosialisasi dan mengembangkan dirinya sebelum terjun ke dalam masyarakat.4 Namun entah mengapa, dalam hubungannya dengan orang tua, bertantangan lebih dominan mewarnai mereka.

Pertantangan yang terjadi seperti kehidupan orang tua yang tidak harmonis. Hal

3Kementerian Agama RI.Al-Qur’an Terjamahan (Bandung: Jabal, 2010), h. 560

4Istianah A. Rahman, Perilaku Disiplin Remaja (Alauddin Universitas Press, 2012), h. 8.

(19)

tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan remaja dan banyak menciptakan perilaku kenakalan remaja yang tidak di duga. Demikian pula fenomena yang terjadi pada perilaku remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Dimana ke hiduapan dan perilaku remaja, memiliki perilaku kenakalan seperti, minum-minuman keras/ballo, merokok, bolos sekolah, perkelahian.

Kenakalan di sebabkan karena kurangnya komunikasi yang terjalin antara orang tua dan remaja, kurangnya pengawasan dari orang tua kepada remaja sehingga akhirnya remaja lebih nyaman bersama teman-tamannya ketimbang bersama orang tuanya. Sehingga perilaku kenakalan remaja tersebut meresahkan masyarakat, orang tua. Di sinilah komunikasi orang tua berperan penting untuk memberikan pengawasan dan mencegah agar remaja tidak terjerumus ke dalam perilaku kenakalan.

Melihat fenomena di atas terkait perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese, akhirnya peneliti memilih judul “Komunikasi Orang Tua dalam Mencegah Perilaku Kenakalan Remaja Di Desa Tassese, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa”.

B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus 1. Fokus penelitian

Penelitian ini berfokus pada komunikasi orang tua dalam mencegah perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.

2. Deskripsi Fokus Penelitian

Dari focus penelitian tersebut calon peneliti menetapkan lokasi penelitian di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.

(20)

Desa Tasssese adalah salah satu Desa dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Manuju yang terletak pada 55 km dari Kota Makasaar dan 45 km dari Ibu Kota Kabupaten Gowa yang memanjang ke timur. Desa Tassese memiliki empat Dusun di antaranya Dusun Je‟ne-je‟ne, Dusun Tassese, Dusun Bonto Te‟ne, dan Dusun Bonto Sunggu. Dan Desa Tassese terletak di bagian bukit dan gunung dengan ketinggian rata-rata 400-500 M dari permukaan laut.

Calon peneliti ingin mengetahui bagaimana orang tua di Desa Tassese mendidik remaja karena masih ada orang tua di Desa tersebut kurang memberikan pengawasan terhadap remaja bahkan ada orang tua di dapati tidak menjalin komunikasi dengan baik (Qaulan Ma’rufa), mengeluarkan kata-kata kasar.

Pengawasan yang calon peneliti maksud adalah dalam bidang ke agamaan pengawasan salat 5 waktu, puasa, pengawasan ke disiplinan belajar di rumah dan di sekolah, dan pengawasan dalam memilih teman pergaulan. Hal tersebut landasan bagi orang tua agar remaja tidak berperilaku kenakalan. Komunikasi orang tua terhadap pengawasan remaja seperti komunikasi pendidikan dalam Al- Qur‟an surat Lukman yaitu sosok Lukman sebagai orang tua yang selalu member nasehat-nasehat kepada anaknya dengan lemah lembut dan kasi sayang (ma’ruf) atau dalam komunikasi dakwah dengan perkataan mulia, contohnya “Haianakku”, seperti menggunakan komunikasi yang menyejukkan hati anak, ketika mendidik dalam masalah penanaman akidah berbuat baik ke pada orang tua mengajak melaksanakan salat, dan menasehati supaya tidak sombong. Dan komunikasi orang tua dalam bentuk komunikasi persuasif artinya orang tua berjiwa pemaaf kepada remaja untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Dalam komunikasi

(21)

persuasif yaitu membesarkan jiwa remaja untuk kembali ke pada perbuatan yang baik dan di yakinkan bahwa tuhan maha penyayang dan pemaaf. Pencegahan perilaku kenakalan remaja adalah supaya tidak terjerumus ke dalam perilaku yang buruk yakni mabuk-mabukan, pertengkaran antara remaja, bolos sekolah, balapan liar.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka calon peneliti merumuskan pokok masalah yaitu: “Bagaimana Komunikasi Orang Tua dalam Mencegah Perilaku Kenakalan Remajadi Desa Tassese, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa?”. Dari pokok masalah yang di rumuskan sub-sub masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana metode komunikasi orang tua dalam mencegah kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa?

2. Bagaimana tantangan komunikasi orang tua dalam mencegah kenakalan remaja di DesaTassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa?

D. Kajian Pustaka

Dari beberapa literatur yang relevan dengan penelitian ini, khususnya dalam hal Komunikasi Orang Tua Dalam Mencegah Perilaku Kenakalan Remaja Di Desa Tassese, Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa. Peneliti belum pernah menemukan penelitian yang sama sebelumnya. Namun, ada beberapa penelusuran peneliti melalui studi kepustakaan, ada beberapa peneliti yang mengangkat tema mengenai komunikasi pengawasan orang tua dalam mencegah perilaku kenakalan remaja sebagai objek, penelitian berikut:

(22)

1. Kenakalan remaja dan penanggulangannya di Kelurahan Melayu Kecamatan Asakota Kota Bima oleh Sugianto, Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Alauddin Makassar yang meneliti pada tahun 2015.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan komunikasi dan psikologis.

Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk-bentuk Kenakalan remaja di Kelurahan Melayu Kecamatan Asakota Kota Bima adalah perkelahian antara pelajar, pencurian, perkalahian dan minuman keras. Dan faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja adalah 1). Faktor keluarga yang kurang mengontrol dan pengawasan. 2). Faktor lingkungan sekitar tempat tinggal sangat terpengaruh dalam perkembangan remaja. 3). Faktor pengaruh internet. 4). Faktor ekonomi merupakan ke butuhan hidup yang harus dipenuhi.

Implikasi dari penelitian ini adalah: Diharapkan para keluarga, pendidik di sekolah, pemerintah dan kepolisian serta masyarakat untuk mendidik remaja dengan baik agar karya ilmiah ini dapat digunakan untuk menyikapi dampak negatif tentang kenakalan remaja agar mereka sadar dan segera menjauhi perilaku tersebut.5

2. Peranan komunikasi orang tua dalam mencegah kenakalan remaja di Desa Margodadi Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus oleh Nurrizki Ardiansyah, Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang meneliti pada Tahun 2017.

5Sugiyanto, “Kenakalan remaja dan penanggulangannya di Kelurahan Melayu Kecematan Asakota Kota Bima”, Skripsi (Makassar: Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, 2015)

(23)

Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan mengunakan pendekatan komunikasi dan psikologi.

Adapun hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh yang disignifikan antara peran komunikasi orang tua dalam mencegahkenakalan remaja. Dari hasil penelitian ini menunjukan peran komunikasi orang tua dalam mencegah kenakalan remaja dengan cara menjadi contoh yang baik kepada anak-anaknya, faktor pendukungnya yaitu a). Suasana hati anak, b). Kecerdasan anak, c).

Lingkungan tempat tinggal, d). Lembaga pendidikan, e). Teman atau sepermainan, f). Motivasi dan nasehat dari orang tua, faktor penghambat yaitu waktu luang atau kesempatan, pengawasan dan bimbingan masih kurang.6

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini:

a. Untuk mengetahui gambaran perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.

b. Untuk mengetahui komunikasi orang tua dalam mencegah perilaku kenakalan remaja di Desa Tassese Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Sebagai bahan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang komunikasi dan penyiaran islam dan diharapkan menjadi referensi yang berkaitan dengan media massa.

6Nurrizki Ardiansyah, “Peranan Komunikasi Orang Tua dalam Mencegah Kenakalan Remaja di Desa Margodadi Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus”, Skripsi (Lampung:

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Intan Lampung, 2017).

(24)

b. Manfaat Praktisi

Di harapkan penelitian ini sebagai bahan masukan, evaluasi, pemikiran dan pertimbangan bagi orang tua di Desa Tassese Kacamatan Manuju Kabupaten Gowa dalam memerangi perilaku kenakalan remaja, sehingga lebih banyak memberikan pengawasan serta menjalin komunikasi yang baik.

(25)

BAB II

TINJAUN TEORITIS

C. Tinjaun Tentang Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi dan Dakwah

Komunikasi dan dakwah sering dipandang sama. Pandangan umum berkaitan dengan makna dan persentuhan antara komunikasi dan dakwah, dakwah merupakan bagian dari komunikasi atau komunikasi merupakan bagian dari dakwah. Aktivitas dakwah dan komunikasi tampak sama atau berhimpitan satu sama lain karena keduanya memiliki objek yang sama, aktivitas manusia. Namun, dari sisi konsep, konteks ilmu, dan makna; keduanya berbeda. Walaupun demikian, kedua ilmu itu dapat saling memberikan kontribusi.7 Berikut ini mendefinisikan komunikasi dan dakwah, yaitu:

a. Pengertian Komunikasi

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan peristiwa komunikasi dimana-mana. Istilah komunikasi kian hari kian popular. Begitu populernya sampai muncul berbagai macam istilah komunikasi.8

Pengertian komunikasi secara umum yaitu kata komunikasi dalam bahasa inggris disebut Communication yang mempunyai makna hubungan, berita, pengumuman atau pemberitahuan. Dalam bahasa Latin komunikasi disebut Communication atau communis yamg berarti sama, sama maknanya, atau mempunyai kesamaan pandangan. Dalam pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam bekomunikasi, komunikasi dapat berlangsung dengan baik apabila

7 Asep Saeful Muhtadi, Komunikasi Dakwah (Simbiosa Rekatama Media, 2012), h.2

8Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (PT Raja Grafindo, Jakarta, 2012), h.15

(26)

ada kesamaan makna atau pandangan antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Untuk mencapai kesamaan makna dalam berbicara atau percakapan, maka keduanya harus sama-sama mengetahui bahasa yang dipakai dalam proses komunikasi.9

Adapun pengertian komunikasi menurut para ahli yaitu, secara terminology, komunikasi dapat di definisikan sebagai suatu mekanisme mengadakan hubungan antara sesama manusia dengan mengembangkan semua lambang-lambang dan pikiran bersama dengan arti yang menyertainya. Pengertian ini mengisyaratkan bahwa dalam komunikasi antara seseorang dengan yang lain terjadi hubungan secara bersama-sama mencurahkan seluruh pikirannya melalui lambang-lambang yang berarti.

Menurut Carel I. Hovland sebagaimana yang dikutip oleh Onong Oechjana Efendy mengemukakan bahwa, komunikasi adalah upaya sistematika untuk merumuskan secara tegas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap.10

Definisi di atas menunjukkan bahwa yang di jadikan objek studi komunikasi bukan saja penyampaian informasi, melainkan juga pembentukan pendapat umum dan pembentukan sikap yang dalam kehidupan sosial berperan sangat penting.

Adapun yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama

9 Arifuddin Tike, Dasar Dasar Komunikasi (Yogyakarta: Kota Kembang, Agustus 2009), h.1

10Arifuddin Tike, Dasar Dasar Komunikasi,h.2

(27)

lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Oleh karena itu, jika kita berada dalam suatu situasi berkomunikasi, kita memiliki beberapa kesamaan dengan orang lain, seperti kesamaan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi.11 Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk memengaruhi pengetahuan atau perilaku seseorang.

b. Pengertian Dakwah

Dakwah (da’wah) berarti ajakan, seruan dan panggilan. Siapa pun dapat melakukan ajakannya, setan pun mengajak golongannya pada kesesatan yang berakhir di neraka; sedangkan Allah swt. mengajak orang-orang beriman ke

„perkampungan damai‟ (Dar al-salam) yang penuh dengan kenikmatan abadi.

Allah menjadi suatu tujuan utama dalam aktivitas dakwah.

Secara terminologi, dakwah adalah upaya komunikator dakwah untuk mengajak orang lain kepada ajaran Islam, dengan terlebih dahulu membina diri sendiri. Pembinaan diri sendiri dalam upaya menyampaikan ajaran agama menjadi satu mutlak karena dakwah membutuhkan keteladanan. Penyampaian ajaran Islam kepada masyarakat dilakukan secara bijak sehingga ajaran Islam dipahami dan diamalkan oleh masyarakat.

Secara istilah, dakwah mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas. Ajaran Islam dan nilai-nilainya disajikan dengan menjelaskannya kepada masyarakat agar mereka dapat memahami dan menyetujui kandungan pesannya sehingga mereka dapat mengamalkannya. Dakwah berupaya untuk membawa masyarakat ke arah kebajikan yang dinamis dan seimbang dengan menegakkan

11 Hafied Cangare, Pengantar Ilmu Komunikasi, h. 22

(28)

dan menyempurnakan kepribadian yang ber-akhlakul karimah (akhlak yang baik atau terpuji). Dakwah merupakan suatu proses untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, selamat di dunia dan akhirat.12

Berikut ini, adalah beberapa definisi mengenai dakwah yang diungkapkan oleh para ahli:

Syekh Ali Mahfudh memberi pengertian dakwah:

Artinya:

Mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan petunjuk, menyeruh mereka berbuat yang makruf dan melarang mereka dari perbuatan yang mungkar, agar mereka mendapat kebahagiaan didunia dan di akhirat.13 Dakwah yang dimaksudkan oleh Ali Mahfudh adalah dalam rangkaian motivasi kepada mad’u agar senantiasa berbuat yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar demi mencapai kebahagiaan dunia dan keselamatan Abu Bakar Zakari memberi penjelasan bahwa dakwah adalah tugas dakwah tertuju kepada sekelompok orang yang memiliki kemampuan dalam bidang dakwah, sehingga dengan kemampuan yang dimilikinya dapat member pengajaran kepada masyarakat dalam urusan agama dan urusan keduniaan.

Abdullah Ba‟lawy al-Haddad mengemukakan bahwa, dakwah adalah mengajak, membimbing dan memimpin orang yang belum mengerti atau sesat jalannya dari agama yang benar, untuk dialihkan kejalan ketaatan kepada Allah,

12 Bambang Saiful Ma‟arif, Komunikasi Dakwah,(Simbiosa Rekatama Media, Bandung, Juli 2010), h. 33

13 Syekh Ali Mahfudh, Hidayatu al-Mursyidin (Mesir: Daar al-Kitab al_Arabi, 1952), h.17

(29)

beriman kepada-Nya serta mencegah dari apa yang menjadi lawan kedua hal tersebut, kemaksiatan dan kekufuran.14

Dari uraian tersebut, komunikasi dan dakwah adalah “suatu retorika (persuasif) yang dilakukan oleh komunikator dakwah (dai) untuk menyebarluaskan pesan-pesan bermuatan nilai agama, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, untuk memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat”. Dakwah menggunakan komunkasi sebagai sarananya. Penyampaian pesan-pesan keagamaan menggunakan simbol-simbol verbal dan nonverbal. Kedua jenis simbol yang paling banyak digunakan oleh para komunikator dakwah. Simbol- simbol verbal merupakan ucapan dan tulisan yang dimengerti, sedangkan simbol- simbol nonverbal dalam dunia dakwah mengacu pada gerak, raut wajah, pakeian, tindakan atau perilaku, dan situasi lingkungan.

2. Bentuk Komunikasi dan Konteks Dakwah 1. Berikut ini ada beberapa bentuk Komunikasi, yaitu:

a. Komunikasi dengan Diri Sendiri (Intrapersonal Communication)

Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu.

Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang mereka berbicara pada dirinya sendiri, berdialok dengan dirinya sendri, bertanya dengan dirinya sendiri, dan menjawab dirinya sendiri.

14 Muliaty Amin, Diktat Pengantar Ilmu Dakwah (Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, 2014), h. 4

(30)

Ronald L. Applbaum mendefinisikan komunikasi intrapersonal sebagai komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang, yang meliputi kegiatan mengamati dan memberikan makna (intelektual dan emosional) pada lingkungan.15

Aktivitas dari komunikasi intrapersonal yang dilakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah berdoa, bersyukur, intropeksi diri dengan meninjau perbuatan yang dilakukan dan reaksi hati nurani, dan berimajinasi secara kreatif.

Berikut ini komunikasi intrapersonal memiliki enam tujuan yaitu:

1) Mengenal diri sendiri dan orang lain; komunikasi intrapersonal memberi kita kesempatan untuk memperbincangkan diri kita sendiri, belajar cara bersikap terbuka kepada orang lain serta mengetahui nilai, sikap dan perilaku orang lain sehingga kita dapat menanggapi dan memprediksi tindakan orang lain.

2) Mengetahui dunia luar; memungkinkan kita untuk memahami lingkungan kita, baik objek, kejadian, maupun orang lain. Nilai, sikap keyakinan, dan perilaku kita banyak dipengaruhi oleh komunikasi intrapersonal.

3) Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna; komunikasi intrapersonal yang kita lakukan banyak bertujuan untuk menciptakan dan memelihara hubungan yang baik dengan orang lain. Hubungan tersebut membantu mengurangi kesepian dan ketegangan serta membuat kita lebih positif tentang diri kita sendiri.

15Muhibudin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi (Pustaka Setia, Bandung, 2010), Hal.

48

(31)

4) Mengubah sikap dan perilaku; banyak waktu yang di pergunakan untuk mengubah orang lain melalui komunikasi intrapersonal.

5) Bermain dan mencari hiburan; kejadian lucu merupakan kegiatan untuk memperoleh hiburan. Hal ini bisa memberikan suasana yang lepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan, dan sebagainya.

6) Membantu orang lain; psikiater, psikologi klinik, dan ahli terapi adalah contoh profesi yang menggunakan komunikasi intrapersonal untuk menolong orang lain. Memberikan nasehat dan sarana kepada teman juga merupakan contoh tujuan proses komunikasi intrapersonal untuk membantu orang lain.

Karakteristik dan Ciri-ciri komunikasi intrapersonal, yaitu:

a. Karakteristik Komunikasi Intrapersonal

Karakteristik sosial adalah sifat-sifat yang ditampilkan dalam hubungan dengan orang lain (ramah atau ketus, terbuka atau tertutup, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak peduli, dan sebagainya). Hal-hal ini memengaruhi peran sosial, yaitu segala sesuatu yang mencangkup hubungan dengan orang lain dan dalam masyarakat tertentu.

b. Ciri-ciri Komunikasi Intrapersonal

1) Anggota dalam proses komunikasi tatap muka.

2) Pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong karena peserta bebas berbicara disebabkan kedudukannya relatif sama (tidak ada yang mendominasi pembicaraan/pembicara tunggal).

(32)

3) Sumber dan penerima sulit dibedakan dan diidentifikasi, antaranggota saling memengaruhi satu sama lain.

Proses komunikasi intrapersonal yang terjadi pada diri seseorang akan berlangsung sebagai berikut:

1) Berbicara pada diri sendiri, terjadinya komunikasi dalam diri sendiri atau terjadi percakapan dengan diri sendiri.

2) Terjadi dialog, dialog merupakan suatu proses pertukaran pesan.

3) Jalannya proses tersebut berdasarkan perundingan manusia dengan lingkungannya atau terjadi adaptasi dengan lingkungan. Di sini terjadi proses menggunakan stimuli dari dan dalam diri kita.

b. Komunikasi Interpersional

Komunikasi interpersional, yaitu kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dan orang lainnya. Misalnya, percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon, dan sebagainya.

Joseph A. Devito mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik secara seketika.16 Dengan demikian, komunikasi interpersonal merupakan proses pemindahan informasi dan pengertian antara dua orang atau lebih, yang masing-masing berusaha untuk memberikan arti pada pesan-pesan simbolik yang dikirim melalui suatu media yang menimbulkan umpan balik.

16Muhibudin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi, Hal. 67.

(33)

Sifat-sifat komunikasi interpersonal, yaitu sebagai berikut:

1) Komunikasi bersifat simbolis. Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antarmanusia adalah bahasa verbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka, atau tanda lainnya.

2) Komunikasi bersifat transaksional. Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut perlu dilakukan secara seimbang.

3) Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu. Maksudnya, para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu dan tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi, seperti telepon, internet, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi.

c. Komunikasi Kelompok

Adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, dan sebagainya. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Oleh karena itu, pada umumnya teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.

Michael Burgoon mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, memecahkan masalah, yang anggota- anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunkasi kelompok ini mempunyai kesamaan, yaitu

(34)

adanya komunikasi tatap muka, peserta komunikasi lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.17

Ciri dan Sifat Komunikasi Kelompok, yaitu:

c. Ciri-ciri komunikasi kelompok 1) berlangsung tatap muka;

2) Terlaksana atas unsur bersama;

3) Proses berlangsungnya komunikasi dalam kelompok;

4) Bentuknya terstruktur, permanen, dan emosional;

5) Setiap anggota kelompok menyadari peranan, sasaran, ukuran, dan identitas kelompok;

d. Sifat-sifat Komunikasi Kelompok 1) Berkomunikasi melalui tatap muka;

2) Memiliki sedikit partisipan;

3) Bekerja di bawah arahan seorang pemimpin;

4) Membagi tujuan atau sasaran bersama;

5) Anggota kelompok memiliki pengaruh atas satu sama lain;18 d. Komunikasi Massa

Istilah komunikasi massa pada dasarnya merupakan penyerderhanaan dari komunikasi melalui media massa. Massa pada lingkup komunikasi massa adalah penerima pesan atau dikenal sebagai komunikan. Oleh karena itu, massa menunjuk pada khalayak, audiens, penonton, pemirsa, atau pembaca yang berkaitan dengan media massa.

17 Muhibudin Wijaya Laksana,Pisikologi Komunikasi, h. 90.

18 Muhibudin wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi, h. 96

(35)

Menurut Bittner, komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan pada sejumlah orang. Meletzke mendefinisikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar.

Ada empat tanda pokok dari komunikasi massa, yaitu sebagai berikut:

1) Bersifat Tidak Langsung

Bersifat tidak langsung, artinya melewati media teknis (teknologi media). Komunikasi massa mengharuskan adanya media massa dalam prosesnya. Hal ini disebabkan teknologi yang membuat komunikasi massa dapat terjadi.

2) Bersifat Tidak Satu Arah

Satu arah, artinya tidak ada interaksi antarpeserta komunikasi. Dalam istilah komunikasi, reaksi khalayak yang dijadikan masukan untuk proses komunikasi berikutnya disebut umpan balik (feedback). Akan tetapi, dalam sistem komunikasi massa, komunikator suka menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan (khalayak luas).

Dalam komunikasi massa, publik atau khalayak hanya menjadi penerima informasi. Pada saat komunikasi massa dilakukan, khalayak tidak dapat langsung memberikan umpan balik (feedback) untuk mempengaruhi pemberi informasi, dalam hal ini untuk aliran komunikasi sepenuhnya diatur oleh komunikator. Akan tetapi, dalam komunikasi massa terdapat kemungkinan adanya siaran ulang, yaitu memutar ulang tayangan yang sama dalam televise atau radio.

(36)

3) Bersifat Tidak Terbuka

Bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada publik yang tidak terbatas.

Komunikasi dengan media massa memungkinkan komunikator untuk menyampaikan pesan kepada publik yang tidak terbatas jumlahnya, siapa pun dan beberapa pun orangnya selama mereka memiliki alat penerima (media) siaran tersebut.

4) Mempunyai Publik

Komunikasi massa mempunyai publik yang secara geografis tersebut.

Seperti dikemukakan sebelumnya, komunikasi massa tidak hanya ditujukan bagi sekelompok orang di kawasan tertentu, tetapi lebih kepada khalayak luas di mana pun mereka berada. Oleh karena itu, melalui media massa seseorang atau sekelompok orang dapat melakukan persuasi kepada banyak orang di berbagai tempat.

Ciri-ciri komunikasi massa adalah sebagai berikut:

1) Melembaga

Komunikator dalam komunikasi massa bukanlah satu orang, melainkan kumpulan orang. Artinya, gabungan antara berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Dalam komunikasi massa, komunikator adalah lembaga media massa itu sendiri. Artinya, komunikatornya bukan orang per orang. Komunikator dalam komunikasi massa adalah organisasi sosial yang mampu memproduksi pesan dan mengirimkanna secara serentak kepada sejumlah khalayak yang banyak dan terpisah.

(37)

Komunikator dalam komunikasi massa biasanya adalah media massa (surat kabar, televise, stasium radio, majalah, dan penerbit buku). Media massa disebut sebagai organisasi sosial karena merupakan kumpulan beberapa individu yang dalam proses komunikasi massa tersebut.

2) Anonym dan Heterogen

Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen. Artinya, pengguna media itu beragam dalam hal pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, tingkat ekonomi, latar belakang budaya, dan agama. Selain itu, dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonym) karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka.

3) Pesan Bersifat Umum

Pesan dalam komunikasi massa itu tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Oleh karena itu, pesan yang dikemukakan tidak boleh bersifat khusus. Khusus di sini memiliki arti pesan itu tidak disengaja untuk golongan tertentu. Kita dapat melihat televisi misalnya, karena televisi itu ditujukan dan untuk dinikmati orang banyak, pesan harus bersifat umum. Misalnya, dalam pemilihan kata-katanya sebisa mungkin menggunakan kata-kata popular, bukan kata-kata ilmiah sebab kata-kata ilmiah hanya ditujukan untuk kelompok tertentu.

4) Komunikasi Berlangsung Satu Arah

Karena komunikasi massa itu melalui media massa, komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan dan komunikan pun aktif menerima pesan, tetapi di

(38)

antara keduanya tidak dapat melakukan dialok sebagaimana halnya terjadi dalam komunikasi antarpribadi. Dengan demikian, komunikasi massa bersifat satu arah.

2. Konteks (level) Dakwah

Beberapa konteks dakwah dengan kata lain disebut juga “level dakwah”, yaitu tingkatan-tingkatan dalam melaksanakan dakwah dilihat dari jumlah serta kondisi dan situasi mad‟unya. Hal ini dapat dikategorikan dalam beberapa level atau konteks yaitu:

a. Dakwah Nafsiyah;

Dakwah nafsiyah secara sederhana dapat diartikan dakwah kepada diri sendiri (intrapersonal), sebagai upaya untuk memperbaiki diri atau membangun kualitas dan kepribadian diri yang Islami. Menjaga diri sendiri merupakan sesuatu yang harus diprioritaskan sebagaimana petunjuk surat al-Tahrim/ 66: 6 yaitu:















































Terjamahan:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.19

Dan merupakan bentuk perwujudan tanggung jawab terhadap dirinya.

Dakwah nafsiyah dapat dilakukan dengan cara menuntut ilmu, membaca,

19 Kementrian Agama RI.Al-Qur’an Terjamahan, h.66

(39)

muhasabah al-nafs (introspeksi diri), Taqarub melalui dzikr al-Lah (mengingat Allah), berdo‟a, wiqayab ‘al-nafs (memelihara pencerahan jiwa), tazkiiyyah al- nafs (membersihkan jiwa), taubat, salat, dan meningkatkan ibadah, dan lain-lain.

Kepekaan seorang da‟i terhadap pemahaman ini dalam jiwa dan hatinya sebagai bentuk ibda binafsi (berawal dari diri sendiri) membuat selalu bersama manhaj Rabbani (jalan Tuhan). Dia terjauh dari perbuatan maksiat, selalu berangkat ke medan perbaikan dan perombakan kearah yang lebih baik dengan tekad semangat, dan ketegaran yang mantap. Term nafsiyah diantaranya diambil dari al-Quran surah al-Tahrim (66) ayat 6.

b. Dakwah Fardiyah

Dakwah fardiyah adalah proses ajakan atau seruan kepada jalan Allah yang dilakukan oleh seorang da‟I kepada perorangan (interpersonal), yang di lakukan secara langsung tatap muka, atau langsung tetapi tidak tatap muka (bermedia) yang bertujuan memindahkan mad‟u pada keadaan yang lebih baik.

Selain itu Shaqr mengemukakan definisi dakwah fardiyah ialah penyyampaian ajaran Islam yang ditujukan kepada seseorang secara berhadapan dan bisa terjadi dengan tidak dirancang terlebih dahulu (Al-da’watu al-fardiyatu hiya makana khotobu fiha maujuha ila syahshin wahidin wa ghalba ma taqa’u an ghairi tartibin masbuqin). Dengan definisi ini dakwah fardiyah berarti interaksi seorang da‟i dengan seorang mad‟u yang berlangsung secara tatap muka sehingga respon mad‟u terhadap pesan dan diri da‟i dapat diketahui seketika baik secara positif maupun negatif.

(40)

Tahapan dakwah fardiyah diantaranya; Pertama Mafhum fakwah: Usaha seorang da‟i mengenal dan menjaga hubungan baik dengan mad‟u untuk dituntun ke jalan Allah. Kedua Mafhum haraki (gerakan): Menjalin hubungan dengan masyarakat umum, kemudian memilih salah seorang dari mereka untuk membina hubungan lebih dekat, menampakan kecintaan dan perhatian. Ketiga Mafhum tanzimi meliputi: Pengarahan (tanzih) berupa bimbingan seorang da‟i kepada mad‟u dalam rangka berdakwah kepada Allah untuk membantu memahami keadaan dirinya, memahami persoalan-persoalan dan hambatan-hambatan yang dihadapinya, menunjukan dengan cara halus tentang kemampuan dan kelebihan yang ia miliki. Penegasan (tanzif); dalam hal ini da‟i membantu penerima dakwah untuk menentukan tempatnya dalam alam Islami serta menunjukan kepadanya kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi posisi ini. Penggolongan (tashzif);

pengelompokan sesuatu agar mudah membedakannya antara yang satu dengan yang lainnya.

Langkah-langkah penting juga dalam dakwah fardiyah adalah:

Membangkitkan iman yang mengendap dalam jiwanya, memberikan bimbingan tentang masalah yang dialaminya, dan penerima dakwah diarahkan untuk melakukan amalan yang sesuai serta tidak memberatkannya dilihat dari satu segi maupun segi yang lain dapat memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

c. Dakwah Fi‟ah Qalilah

Dakwah fi‟ah adalah dakwah yang dilakukan seorang da‟i terhadap kelompok kecil dalam suasana tatap muka, bisa berdialog serta respon mad‟u terhadap da‟i dan pesan dakwah yang disampaikan dapat diketahui seketika. Term

(41)

fi‟ah diambil dari QS. al-Baqarah (2) ayat 249. Termasuk dakwah fi‟ah diantaranya dakwah dalam lingkungan keluarga (usrah), sekolah (madrasah), majelis ta‟lim, pesantren (ma‟had), dan pertemuan atau majelis lainnya.

Dengan demikian terdapat beberapa ciri bagi dakwah fi‟ah diantaranya yatu: mad‟u berupa kelompok kecil, dapat berlangsung secara tatap muka dan dialogis, kelompok mad‟u akan bermacam-macam tegantung pada moment bentuk penelenggaraan kegiatan, media, metode, dan tujuan dakwah berdasarkan pertimbangan bentuk penyelenggaraan kegiatan.

e. Dakwah Hizbiyah (Jama‟ah)

Dakwah hizbiyah adalah proses dakwah yang dilakukan oleh da’i yang mengidentifikasikan dirinya dengan atribut suatu lembaga atau organisasi dakwah tertentu, kemudian mendakwahi anggotanya atau orang lain di luar anggota suatu organisasi tersebut. Term Hizbiyah diambil dari QS. al-Maidah (5) ayat 56.

Termasuk dakwah hizbiyah diantaranya dakwah yang berlangsung pada kalangan organisasi, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Dakwah hizbiyah dipahami juga sebagai upaya dakwah melalui organisasi atau lembaga keIslaman, dalam pemahaman ini dakwah hizbiyah merupakan upaya yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam upaya mengarahkan mad‟u pada perubahan kondisi yang lebih baik sesuai dengan syariat Islam.

f. Dakwah Ummah

Dakwah ummah adalah proses dakwah yang dilaksanakan pada mad‟u yang bersifat massa (masyarakat umum). Dakwah ini dapat berlangsung secara tatap muka, seperti ceramah umum (tabligh akbar), atau tidak tatap muka seperti

(42)

menggunakan media massa (baik cetak atau elektronik), contohberdakwah melalui tulisan atau penayangan di televise, berupa kaset, film, internet dan lain-lain.

g. Dakwah Syu‟ubiyah Qabailiyah (Dakwah Antar Suku, Budaya dan Bangsa) Dakwah syi‟ubiyah qabailiyah adalah proses dakwah yang berlangsung dalam konteks antar bangsa, suku atau antar budaya (da‟i dan mad‟u yang berbeda suku dan budaya dalam kesatuan bangsa atau berbeda bangsa). Dakwah ini dapat terjadi dalam konteks 2, 3, 4, dan 5.

3. Metode Komunikasi

Ada tiga metode dalam komunikasi, yaitu informasi komunikasi, komunikasi persuasif, dan komunikasi intruktif.

a. Informasi Komunikasi

Adalah metode yang dipakai untuk menyampaikan informasi secara umum. Dengan cara memberikan penerangan, keterangan, pemberitahuan tentang sesuatu yang keseluruhan maknanya menunjang amanat atau isi berita. Sifat informasi komunikasi adalah menerangkan dan penerangan ini harus bersifat edukatif stimulatif, persuasif. Keuntungan informatif adalah mencapai jumlah sasaran yang cukup besar. Kelemahanya adalah isi pesan tidak tajam dan kurang mengikat komunikan.20

b. Komunikasi Persuasif

Adalah metode komunikasi yang bersifat membujuk secara halus agar sasaran menjadi yakin. Komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat dan perilaku. Istilah persuasif bersumber pada perkataan Latin

20 Sp3cialcyber, https://id.scribd.com/doc/184815011/macam-macam-metode-komunikasi (20 Agustus 2019)

(43)

“persuasion” memiliki kata kerja “persuadere” yang berarti membujuk, mengajak, atau merayu.21

Teknik komunikasi persuasif merupakan sebuah usaha untuk mengubah dan membentuk sikap, pendapat atau perilaku seseorang dengan cara memengaruhi secara halus sehingga menimbulkan kesadaran dan kerelaan yang disertai dengan perasaan senang. Persuasif berarti mempengaruhi seseorang dengan bujukan.

c. Komunikasi Instruktif

Adalah metode komunikasi berupa arahan atau perintah untuk melakukan suatu tugas atau melaksanakan pekerjaan. Misalnya, memerintahkan pegawai untuk melakukan suatu pekerjaan. Keuntungan komunikasi instruktif adalah lebih menunjukkan keberhasilan sesuai dengan tujuan dalam jangka waktu yang lebih cepa.

D. Tinjaun Tentang Orang Tua

1. Pengertian Orang Tua dan Remaja a. Pengertian Orang Tua

Orang tua adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh, membimbing dan memberikan pengawasan terhadap remaja untuk mencapai tahapan tertentu untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat.22 Menurut zakiah Dradjat, orang tua harus dapat memberikan pengawasan dan memperhatikan pendidikan remaja karena dari orang tua yang akan menjadi dasar

21Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013), h. 125

22Umy Kusyairy, Konsep Diri Remaja dengan Orang Tua Berkebutuhan Khusus, (Alauddin University Press, 2012), h. 162.

(44)

dari pembinaan kepribadian remaja.23 Firman Abdullah menegaskan bahwa orang tua berkewajiban dalam memberikan bentuk pengawasan kepada remaja sebagai salah satu bentuk dari pertanggungjawabnya orang tua kepada Allah yang telah memberikan amanah kepadanya.

Orang tua adalah komponen yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan pernikahan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Selain telah melahirkan kita ke duna ini, orang tua juga yang mengasuh dan yang telah membimbing remaja dengan cara memberikan contoh yang baik dengan memberikan suatu pengawasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, selain itu orang tua juga telah memperkenalkan remaja kedalam hal- hal yang terdapat di dunia ini dan menjawab secara jelas tentang sesuatu yang tidak dimengerti oleh remaja.

Orang tua merupakan pembina pertama bagi perkembangan dan pembentukan pribadi remaja. Orang tua merupakan tempat penanaman utama dasar-dasar moral bagi remaja, yang biasanya tercermin dalam sikap dan perilaku orang tua sebagai teladan yang dapat dicontoh oleh remaja.24

Menurut Abu Ahmadi bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua terhadap remaja, yaitu:

Respek dan kebebasan pribadi, jadikan rumah tangga nyaman dan menarik, hargai kemandiriannya, diskusikan tentang berbagai masalah, berikan

23 Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam (Bandung: CV.

Diponegoro), h. 193

24 Musdalfa, Kestabilan Keluarga (Cat. I;Makassar:Alauddin University Press, 2013), h.50.

(45)

rasa aman, kasih sayang, dan perhatikan remaja dan anak-anak yang lain perlu dimengerti dan beri contoh perkawinan yang bahagia.25

Jadi, orang tua adalah pusat kehidupan rohani si remaja dan sebagai penyebab berkenalnya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi remaja dan pemikirannya dikemudian hari terpengaruh oleh sikapnya.

b. Pengertian Remaja

Istilah remaja berasal dari kata Latin adolescare (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang artinya “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence, mempunyai arti yang lebih luas, mencangkup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.

Masa remaja, yang berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual sampai usia 18 tahun (usia kematangan yang resmi) dibagi kedalam awal masa remaja, yang berlangsung kira-kira 13 tahun samapi 16 atau 17 tahun. Dan akhir masa remaja yang bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun yaitu usia kematangan yang resmi/usia matang secara hukum dengan demikian akhir masa remaja merupakan periode yang sangat singkat.26

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka,

25 Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h.44.

26 Istianah A.Rahman, Psikologi Remaja, h. 63

(46)

dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.27

Adapun ciri-ciri remaja tersebut adalah sebagai berikut:

a. Ciri-ciri remaja awal usia 10-15 tahun

Pertumbuhan fisik yang sangat cepat. Perkembangan seksual yang kadang- kadanng menimbulkan masalah sendiri bagi remaja, ketidakstabilan perasaan dan emosi, hal kecerdasan dan kemampuan mental. Kemampuan mental atau kemampuan berpikir remaja awal mulai sempurna. Penentangan pendapat sering terjadi dengan orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya, jika remaja mendapat pemaksaan menerima pendapat tampa alasan yang rasional. Tetapi dengan alasan yang masuk akal mereka juga cenderung mengikuti pemikiran orang dewasa, status remaja awal masih sulit ditentukan.

b. Ciri-ciri remaja akhir usia 15-20 tahun

Rentang usia, remaja akhir terjadi penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis yang telah dimuli pada sejak masa sebelumnya kearah kesempurnaan dan kematangan. Adapun ciri-ciri remaja akhir sebagai berikut.

Menghadapi masalahnya secara lebih matang, dan perasaan menjadi lebih tenang.

2. Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Remaja

Ada beberapa tanggung jawab orang tua terhadap remaja, yaitu:

a. Memelihara dan membesarkan remaja, hal ini merupakan bentuk yang paling sederhana dari tanggung jawab setiap orang tua dan bersifat alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.

27 Umy Kusyairy, Konsep Diri Remaja dengan Orangtua Berkebutuhan Khusus, h. 28

(47)

b. Melindungi dan menjamin kesehatan, baik jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan berdasarkan tujuan hidup yang sesuai dengan agama Islam.

c. Memberi pelajaran dalam arti yang luas, sehingga remaja memperoleh peluang memiliki pengetahuan seluas-luasnya dan setinggi-tingginya.

d. Membahagiakan remaja, baik dunia maupun akhirat, sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup.

Sehubungan dengan tanggung jawab orang tua terhadap remaja sebagai suatu kewajiban, di sisi lain remaja juga mempunyai hak atas pengasuhan, kasih sayang, bimbingan, perlindungan, dan lain-lain.28 Tanggung jawab orang tua akan dapat terlaksana dengan baik apabila orang tua mengetahui dan memahami dengan baik pula ajaran-ajaran agama. Pemahaman ajaaran agama yang baik itulah yang memungkinkan remaja tumbuh menjadi remaja yang saleh dan salehah.

Selain itu adapun tugas orang tua dalam pendidikan rumah tangga, melliputi:

a. Membantu remaja memahami posisi dan peranannya masing-masing sesuai dengan jenis kelaminnya, agar mampu saling menghormati dan saling tolong menolong dalam melaksanakan perbuatan baik dan diridhoi Allah swt.

b. Membantu remaja mengenal dan memahami nilai-nilai atau norma-norma yang mengatur kehidupan berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat dan mampu melaksanakannya untuk memperoleh ridho Allah swt.

28 Chaeruddin B, Pendidikan Agama Islam dalam Rumah Tangga (Cat, I; Makassar:

Alauddin University Press, 2011), h. 87.

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian hipotesis yang diajukan yaitu : hubungan negatif antara komunikasi interpersonal orang tua dengan perilaku bullying pada remaja.. Artinnya semakin tinggi

masalah tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi Masalah Kenakalan Remaja (Studi Kasus Pada Masyarakat

Di sisi lain, hasil metaanalisis ini juga menunjukkan bahwa komunikasi orang tua- remaja memiliki peran yang lebih kuat dalam menjelaskan perilaku seksual remaja

Skripsi berjudul “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kenakalan Remaja Di Desa Kedungrejo Kecamatan Rowokangkung Kabupaten Lumajang Tahun 2012” telah diuji

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif yang signifikan antara komunikasi ayah-remaja dengan kecenderungan kenakalan remaja

(2) faktor yang menyebabkan timbulnya kenakalan remaja di Desa Gintungan Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo adalah karena faktor diri sendiri karena remaja masih mempunyai

“Pengaruh Komunikasi Orangtua Terhadap Pola Perilaku Remaja Warga Rt/Rw 05/09 Penancangan Baru Kota Serang.” Skripsi, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2015.. “Public Service in

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Toyib, beliau mengatakan : Peran orang tua dalam mencegah terjadinya kenakalan remaja adalah yang pertama dengan cara orang tua harus