KONDISI EMOSI KELUARGA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT DALAM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD)
PARIAMAN TAHUN 2014 Oleh:
Fitri Loli
Bimbingan dan Konseling, STKIP PGRI Sumatera Barat ABSTRACT
This research is motivated because of the families of patients who have unstable emotions. Angry with the patient's family health services provided by medical personnel, the patient's family to see the state of excessive sadness the family or the patient being treated, the fear experienced by the patient because of the patient's family has long cared for but does not go well, too concerned with the patient's family health state of the patient. The purpose of this study describe: 1) The condition of negative emotions family medicine inpatients. 2) The condition of a family of positive emotions in internal medicine inpatients. This type of research is descriptive quantitative research. The population numbered 28 people. Sampling using total sampling the number 28. The technique used to analyze the data is the percentage techniques. These results indicate that the negative emotional state family medicine inpatients in the category quite emotional with the percentage 60.71%. While a positive emotional state inpatient family medicine is in the category of emotion with the percentage of 75.00%. Based on the findings of this study recommended to the hospital in order to improve medical services and hospitals to the counselor to be able to create a program of services that can help families cope emotionally unstable patients.
Keywords: Emotions, Family Patient.
PENDAHULUAN
Pasien di rumah sakit terutama pasien rawat inap bukan hanya menderita berbagai penyakit fisik akan tetapi mereka juga mengalami berbagai tekanan, gangguan mental dan emosi yang ringan sampai berat akibat penyakit yang dideritanya.
Emosi adalah keadaan teransang (arosed state) pada situasi atau kejadian dan berusaha menyelamatkan diri dari bahaya, Crow dan Crow (Sobur, 2009:401).
Gangguan emosi tersebut misalnya ketakutan, kecemasan, keputusasaan dan berbagai bentuk gangguan-gangguan lain yang sekiranya kondisi tersebut memerlukan pendampingan, layanan dan bimbingan dari tenaga konselor, tenaga medis dan pegawai kesehatan.
Emosi merupakan dalam arti luas emosi tampak karena rasa yang bergejolak sehingga yang bersangkutan mengalami perubahan dalam situasi tertentu mengenai perasaan, tetapi keluarga pasien merasakan yang terjadi dilingkungan tersebut.
Menurut Djamarah (2004:3) “keluarga adalah sebuah persekutuan antara ibu bapak dengan anak-anaknya yang hidup bersama dalam sebuah institusi yang terbentuk dalam ikatan perkawinan yang sah menurut hukum, dimana terdapat didalamnya interaksi (saling
berhubungan dan mempengaruhi) antara satu dengan yang lainnya”
Walton (Safari dan Saputra, 2013:8), mengatakan individu yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi tentunya dapat mengendalikan emosinya dengan efektif.
Tingginya kecerdasan emosi seseorang akan diikuti oleh semakin baiknya strategi mengelola konflik interpersonal, apabila individu dengan kecerdasan emosi yang tinggi akan cenderung berada dalam kondisi bahagia, lebih percaya diri dan lebih sukses begitu juga sebaliknya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1. Kondisi emosi negatif keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman dan 2. Kondisi emosi positif keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Pelitian dilakukan pada tanggal 13-15 September 2014 di RSUD Pariaman. Populasi dan sampel penelitian yaitu keluarga pasien rawat inap penyakit dalam sebanyak 28 orang.
Instrumen penelitian yang digunakan adalah
i
angket dan teknik analisis data yang digunakan teknik persentase.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kondisi Emosi Negatif Keluarga Pasien Rawat Inap Penyakit Dalam di RSUD Pariaman.
Hasil penelitian ini menunjukkan mengenai kondisi emosi negatif keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman, berada pada kategori sangat emosi, 1 orang dengan persentase 3,57%, berada kategori emosi, 8 orang dengan persentase 28,57%, berada pada kategori cukup emosi, 17 orang dengan persentase 60,71%, berada pada kategori kurang emosi, 2 orang dengan persentase 7,00% dan pada kategori tidak emosi tidak ada.
Berdasarkan hasil penelitian dimana keluarga pasien berada pada kategori cukup emosi dengan rata-rata 57,56%. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Safaria dan Saputra, 2012: 1) bahwa
“Kondisi diartikan sebagai suatu keadaan (dialami) seseorang yang berubah-ubah”.
Kondisi emosi yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan keadaan emosi yang dialami oleh keluarga pasien, selama pasien menjalankan perawatan inap. Pembahasan ditekankan pada indikator yaitu sedih, takut, marah dan cemas. Berikut uraian pembahasan berdasarkan indikator:
a. Sedih
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi emosi sedih keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman.
Dirasakan pada kategori sangat sedih, 10 orang atau 35,71% berada pada kategori sedih, 16 orang atau 57,14% berada pada kategori cukup sedih, 2 orang atau 7,00% berada pada kategori kurang sedih, pada kategori tidak sedih tidak ada dengan rata-rata 59,00% pada kategori cukup sedih.
Mulyatiningsih (2005:14)
“mengatakan setiap orang yang mengalami musibah pasti merasakan kesedihan”. Kesedihan seseorang bisa menangis, menangis adalah salah satu luapan atau ekpresi perasaan sedih.
Keluarga pasien rawat inap penyakit dalam merasakan kesedihan diluapkan dengan cara menangis
dikarenakan pasien yang dirawat tidak kunjung sehat, penyakit pasien bertambah parah, menggingat biaya atau dana perawatan yang tidak ada.
Semakin lama pasien menjalankan perawatan maka, keluarga pasien yang menggu akan mengalami kesedihan.
b. Takut
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi emosi takut keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman.
Dirasakan oleh 3 orang atau 10,71%
berada pada kategori sangat takut, 10 orang atau 35,71% berada pada kategori takut, 10 orang atau 35,71%
berada pada kategori cukup takut, 5 orang atau 18% berada pada kategori kurang takut dan pada kategori tidak takut tidak ada dengan rata-rata 59,00% dengan kategori cukup takut.
Mulyatiningsih (2005:15)
“mengatakan takut perasaan yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghidari kontak dengan hal itu”.
Rasa takut yang dialami keluarga pasien rawat inap penyakit dalam adalah takut kehilangan pasien pergi untuk meninggalkan kelurga untuk selamanya, takut melihat perubahan pada anggota tubuh pasien semakin lama semakin kurus, keadaan pasien semakin lama semakin mengalami ganguan pada pada tubuh pasien.
c. Marah
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi emosi keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman. Dirasakan oleh 3 orang atau 10,71% berada pada kategori sangat marah, 5 orang atau 17,86% berada pada kategori marah, 17 orang atau 60,71% berada pada kategori cukup marah, 3 orang atau 10,71% berada pada kategori kurang marah dan pada kategori tidak marah tidak ada dengan rata-rata 57,00% berada pada kategori cukup marah.
Chaplin (Safari dan Saputra, 2012:74), menyatakan marah reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang meransang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pegekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustrasi.
Berdasarkan hasil penelitian dan pendapat para ahli diatas yang menyebabkan kelurga pasien marah dikarenakan oleh situasi saat keluarga pasein menunggu perawatan pasien seperti, kehilangan organ tubuh pasien atau diamputasi, tidak bisa menerima keadaan pasien pada saat kejadian, suasana rumah sakit, melampiaskan kemarahan pada benda lain (menyipak tong sampah, memukul dinding, melemparkan barang) dan adanya penyesalan pada diri sendiri.
Akibat marah oleh keluarga pasien merugikan diri sendiri, menyelakai diri sendiri dan bertambah sedih pasien apabila keluarga pasein memarahi saat menjalankan perawatan di rumah sakit. Disini maka terlihat tidak bisa seseorang dalam menggelola emosinya atau tidak bisa menyeimbangkan antara emosi negatif dan emosi positif.
d. Cemas
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi emosi keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman. Dirasakan oleh 1 orang atau 3,57% berada pada kategori sangat cemas, 12 orang atau 42,86% berada pada kategori cemas, 10 orang atau 35,71% berada pada kategori cukup marah, 5 orang atau 18% berada pada kategori kurang marah dan pada kategori tidak marah tidak ada dengan rata-rata 57,00%
berada pada kategori cukup cemas.
Priest (Safari dan Saputra, 2012:49), menyatakan bahwa kecemasan atau perasaan cemas adalah suatu keadaan yang dialami ketika berfikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi.
Kecemasan adalah perasaan ketakutan baik secara nyata maupun tidak nyata yang disertai dengan keadaan peningkatan reaksi kejiwaan.
Kecemasan yang dialami keluarga pasien rawat inap penyakit dalam disebabkan oleh sosial ekonomi keluarga pasien, biaya perawatan pasien, lamanya pasien dirawat, semakin memburuk keadaan pasien dan usia pasien. Akibat kecemasan yang dirasakan oleh keluarga pasien
berdampak negatif pada diri sendiri dan diri pasien.
2. Kondisi Emosi Positif Keluarga Pasien Rawat Inap Penyakit Dalam di RSUD Pariaman.
Hasil penelitian ini menunjukkan mengenai kondisi emosi positif keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman. berada pada kategori sangat emosi, 3 orang dengan persentase 10,71%, berada kategori emosi, 21 orang dengan persentase 57,00%, berada pada kategori cukup emosi, 3 orang dengan persentase 10,71%, berada pada kategori kurang emosi, 1 orang dengan persentase 4,00% dan pada kategori tidak emosi tidak ada.
Berdasarkan hasil penelitian dimana keluarga pasien berada pada kategori cukup emosi dengan rata-rata 68,66%. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Safaria dan Saputra, 2012: 1) bahwa
“Kondisi emosi positif diartikan sebagai suatu keadaan (dialami) seseorang yang berubah-ubah”. Kondisi emosi yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan keadaan emosi yang dialami oleh keluarga pasien, selama pasien menjalankan perawatan inap, baik perasaan sayang maupun perasaan gembira.
Pembahasan ditekankan pada indikator yaitu gembira dan sayang.
Berikut uraian pembahasan berdasarkan indikator:
a. Gembira
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi emosi gembira keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman.
Dirasakan oleh 5 orang atau 17,86%
berada pada kategori sangat gembira, 17 orang atau 60,71% berada pada kategori gembira, 4 orang atau 14,29% berada pada kategori cukup gembira, 1 orang atau 4,00% berada pada kategori kurang gembira dan 1 orang atau 4,00% berada pada kategori tidak gembira dengan rata- rata 71,00% berada pada kategori gembira.
Sarwono (2007:56), menjelaskan
“gembira adalah ekspresi dari kelegaan, perasaan bebas dari ketegangan”. Biasanya kegembiraan disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba dan kegembiraan biasa bersifat sosial, yaitu melibatkan
orang lain di sekitar orang yang sedang gembira tersebut. Perasaan gembira muncul apabila segala sesuatu berjalan dengan baik dan menyenangkan. Saat seseorang merasakan kurang sehat, datang keluarga memberikan motivasi dan menghibur dengan kegembiraan.
Perasaan gembira dirasakan oleh kelurga pasien apabila pasien sudah mulai membaik atau pasien sudah merasa lega dengan apa yang dialaminya. Mendorong mereka lebih giat dan bersemangat dalam kehidupannya. Ciri-ciri perasaan gembira yang dimiliki oleh kelurga pasien seperti raut wajah cerah, berbicara tidak terbata-bata, tubuh tidak kaku, tertawa, selalu ingin bersama, berteriak, bercerita dan mengusap kepala seseorang.
b. Sayang
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi emosi keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman. Dirasakan oleh 4 orang atau 14,28% berada pada kategori sangat sayang, 15 orang atau 53,57% berada pada kategori sayang, 7 orang atau 25,00%
berada pada kategori sayang, 2 orang atau 7,14% berada pada kategori kurang sayang dan pada kategori tidak sayang tidak ada dengan rata- rata 67,00% berada pada kategori gembira.
Menurut Djaali (2012: 43) afeksi atau kasih sayang diibaratkan sebagai rasa perhatian dengan penuh kasih sayang terhadap individu, karena apabila individu menerima kasih sayang (afeksi) yang murni dari orang lain, bisa menjadikan salah satu faktor penting dalam perkembangan untuk selanjutnya.
Kasih sayang yang dirasakan oleh keluarga pasien adalah reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang atau suatu benda. Kasih sayang orangtua terhadap orang keluarganya atau orang lain yang terjadi secara spontan dapat ditimbulkan oleh suatu stimulasi sosial yang minim sekalipun.
Kasih sayang yang diberikan oleh keluarga pasien kepada pasien yang menjalankan perawatan seperti, takut kehilangan, memberikan perhatian,
memberikan motivasi kepada pasien agar pasien tabah dan sabar dalam menjalankan perawatan dalam mencapai kesehatan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang kondisi emosi keluarga pasien rawat inap penyakit dalam di RSUD Pariaman, dilihat secara keseluruhan berada pada ketegori emosi, dapat diambil kesimpulan sesuai dengan batasan masalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan kondisi emosi negatif (sedih, takut, marah dan cemas) keluarga pasien rawat inap penyakit dalam, pada emosi sedih berada pada kategori cukup sedih, emosi takut berada pada kategori cukup takut, emosi marah berada pada kategori cukup marah dan emosi cemas berada pada kategori cemas, jadi dapat disimpulkan kondisi emosi negatif keluarga pasien berada pada kategori cukup emosi.
2. Mendeskripsikan kondisi emosi positif (gembira, sayang) keluarga pasien rawat inap penyakit dalam, pada emosi gembira berada pada kategori gembira sedangkan emosi sayang berada pada kategori sayang, jadi dapat disimpulkan kondisi emosi positif keluarga pasien berada pada kategori emosi.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran kepada pembaca, yaitu sebagai berikut:
1. Keluarga Pasien
Saat menunggu pasien dalam menjalankan perawatan memperolah respon yang tidak tepat baik dari lingkungan maupun dari diri sendiri untuk memecahkan masalah yang sedang kita hadapi. Meskipun pihak rumah sakit telah memberikan yang terbaik untuk pasien. Kita sebagai keluarga pasien harus bisa menggelola emosi secara baik sesuai dengan kaadaan pasien saat menjalankan perawatan. Apabila seseorang bisa menggelola emosi secara baik maka emosi yang ditampilkan sesuai dengan kadaan apa yang kita lihat.
2. Pegawai Kesehatan
Saat pasien menjalankan perwatan, maka yang paling berhak memberikan layanan kesehatan adalah pegawai kesehatan yang bisa mengatasi rasa sakit yang dialami pasien. Untuk itu berikanlah layanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien agar pasien dan
keluarga pasien tidak mengeluh saat melihat keadaan pasien atau tidak kecewa atas tindakan yang dilakukan.
3. Konselor Rumah Sakit
Berdasarkan hasil analisis konselor rumah sakit diharapkan dapat mencegah, memelihara, mengembangkan, memberikan layanan kepada keluarga pasein agar dapat mengembangkan emosi negatif dan emosi positif serta bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma dan peraturan di RSUD Pariaman. Oleh karena itu konselor rumah sakit diharapkan dapat memberikan arahan dan bimbingan kepada keluarga pasien melalui pelaksanaan berbagai layanan bimbingan dan konseling.
4. Kepala Rumah Sakit
Kepala rumah sakit bersama personil rumah sakit lainnya diharapkan dapat lebih meningkatkan perhatian kepada pasien dan bekerja sama dengan seluruh personil rumah sakit, serta keluarga pasien demi meningkatkan kualitas rumah sakit dan pengelolaan kondisi emosi keluarga pasien di RSUD Pariaman.
5. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling.
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu lulusan dalam mengaplikasikan ilmu di lapangan dan dan dapat mempersiapkan lulusan yang memiliki wawasan yang luas dan pengalaman yang matang.
6. Peneliti Selanjutnya
untuk peneliti selanjutnya mahasiswa program studi bimbingan dan konseling agar dapat dilanjutkan tentang pengaruh lain dari konsep diri yang belum diteliti.
KEPUSTAKAAN
Djaali. (2012). Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Djamarah, Bahri Syaiful. (2004). Pola Komunikasi OrangTua dan Anak dalam Keluarga. Jakarta:
Rineka Cipta.
Safaria, Triantoro & Saputra, Eka Nofrans.
(2012). Manajemen Emosi Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Emosi Positif dan
Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara
Mulyatiningsih, Rudi. (2005). Bimbingan Pribadi, Sosial, Belajar dan Karir. Jakarta. PT Grasindo.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (2007).
Pengantar Umum Psikologi.
Jakarta: PT Bulan Bintang.
Yusuf, Amuri. (2005). Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.