KONSEP DASAR PEMBELAJARAN FIKIH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran Fikih
Dosen Pengampu:
1. Dr. Andewi Suhartini, M.Ag.
2. Dr. Iis Salsabila, M.Ag.
Oleh:
Kelompok 2 PAI– 5 C
Fitri Nurkhoiriyah 1212020092 Herna Lisdiwati 1212020107 Ihsan Nur Faiz 1212020117
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
2023
i
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kami haturkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah memberikan nikmat iman, Islam, serta sehat kepada kita semua. Atas rahmat dan taufiq-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Penulisan makalah yang berjudul “Konsep Dasar Pembelajaran Fikih” ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah pembelajaran fikih.
Penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Kami menyadari bahwa banyak kekurangan dan kelemahan pada penyusunan dan penulisan kami memohon maaf apabila ada kesalahan penulisan. Kritik yang terbuka dan membangun sangat penulis nantikan demi kesempurnaan makalah. Demikian kata pengantar ini penulis sampaikan. Terima kasih atas semua pihak yang membantu penyusunan dan membaca makalah ini.
Bandung, 16 September 2023
Penulis Kelompok 2
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
A. Pengertian Pembelajaran Fikih ... 2
1. Pengertian Pembelajaran ... 2
2. Pengertian Fikih ... 4
3. Pengertian Pembelajaran Fikih ... 5
B. Hakikat Pembelajaran Fikih ... 6
C. Komponen Pembelajaran Fikih ... 7
1. Tujuan Pembelajaran Fikih ... 7
2. Materi Pembelajaran Fikih ... 8
3. Metode Pembelajaran Fikih ... 9
4. Media Pembelajaran Fikih ... 13
5. Evaluasi Pembelajaran Fikih ... 15
BAB III PENUTUP ... 18
A. Kesimpulan ... 18
DAFTAR PUSTAKA ... 19
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata belajar, mengajar, dan pembelajaran. Tetapi apakah kalian tahu apa definisi lengkap dari pembelajaran? Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar, yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi.
Sedangkan fikih adalah cabang ilmu pendidikan Islam yang mempelajari tentang tata cara peribadatan kepada Allah dan tata cara menjalani kehidupan dengan sesame manusia dan lainnya. Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan lebih rinci terkait konsep dasar pembelajaran fikih, apa saja komponen-komponen dalam pembelajaran fikih, apa pengertian pembelajaran fikih, apa hakikat dari adanya pembelajaran fikih, semua itu akan dibahas dengan jelas didalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari dari pembelajaran fikih?
2. Apa hakikat pembelajaran fikih?
3. Apa saja komponen-komponen dalam pembelajaran fikih?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran fikih 2. Untuk mengetahui hakikat dari pembelajaran fikih.
3. Untuk mengetahui komponen-komponen dalam pembelajaran fikih.
2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran dan Fikih 1. Pengertian Pembelajaran
Pengertian pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar, yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Definisi pembelajaran juga bisa diartikan sebagai suatu proses oleh guru atau tenaga didik untuk membantu murid atau peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Arti pembelajaran yang lain adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu tertentu dan karena adanya usaha.
Menurut Hernawan (2013: 9), pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan peserta didik, maupun antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran.
Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Hernawan bahwa pembelajaran ialah proses komunikasi yang bertujuan untuk mencapai apa yang telah ditetapkan dan disepakati dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik. (Asyar, 2011). Belajar menurut pengertian psikologis merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam menentukan kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Secara umum,
3
Aunurrahman (2010) menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. Sedangkan secara khusus pembelajaran dapat diartikan melalui beberapa teori sebagai berikut:
1. Teori Behavioristik, mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus). Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan) perlu latihan dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah atau reinforcement (penguatan).
2. Teori kognitif, menjelaskan pengertian pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.
3. Teori Gestalt, menguraikan bahwa pembelajaran merupakan usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa lebih muda mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt (pola bermakna).
4. Teori humanistik, menjelaskan bahwa pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Pengertian Pembelajaran Menurut Para Ahli:
a. Menurut Gagne dan Briggs
Pengertian pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
b. Menurut G.A Kimbleg
Pengertian pembelajaran menurut Kimbleg adalah sebuah perubahan kekal secara relatif dalam keupayaan kelakukan akibat latihan yang diperkukuh.
4 c. Menurut Syaiful Sagala
Pengertian pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar oleh peserta didik.
d. Menurut Sudjana
Setiap upaya yang sistematik dan sengaja untuk menciptakan agar terjadi kegiatan interaksi edukatif antara dua pihak yaitu antara peserta didik sebagai warga belajar dan pendidik sebagai sumber belajar yang melakukan kegiatan membelajarkan.
e. Menurut Oemar Hamalik
Pembelajaran merupakan kombinasi yang tertata meliputi segala unsur manusiawi, perlengkapan, fasilitas, prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan dari pembelajaran. Terdapat tiga rumusan yang dianggap penting tentang pembelajaran yaitu:
1) Pembelajaran merupakan upaya dalam mengorganisasikan lingkungan pendidikan untuk menciptakan situasi dan kondisi belajar bagi siswa.
2) Pembelajaran merupakan upaya penting dalam mempersiapkan siswa untuk menjadi warga masyarakat yang baik dan diharapkan.
3) Pembelajaran merupakan proses dalam membantu siswa untuk menghadapi kehidupan atau terjun di lingkungan masyarakat.
4. Pengertian Fikih
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fikih diartikan sebagai ilmu tentang hukum Islam. Secara etimologi, Fiqih berasal dari kata faqiha yafqahu fiqhan yang berarti pemahaman. Secara istilah, Fiqih merupakan ilmu yang mempelajari tentang tata cara beribadah kepada Allah SWT. Pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berkaitan dengan perbuatan dan perkataan mukallaf, dengan tujuan untuk mengetahui hukum-hukum suatu perbuatan. Apakah itu wajib, sunnah, haram, makruh, mubah, dilihat dari dalil-dalil yang ada. Baik itu dalil qath’i ataupun dalil dzanni. Secara umum,
5
para ulama mendefinisikan fiqih sebagai Ilmu yang membahas hukum- hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil- dalil secara rinci.
Fiqih secara umum adalah suatu ilmu yang mempelajari bermacaam- macam aturan hidup bagi manusia, baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat sosial. Sedangkan menurut Prof. Dr. TM. Habsyi Ash Shiddieqy yang dikutip oleh Drs. Nazar Bakry ilmu fiqih merupakan suatu kumpulan ilmu yang sangat besar gelanggang pembahasannya, yang mengumpulkan berbagai ragam jenis hukum islam dan bermacam rupa aturan hidup, untuk keperluan seseorang, segolongan, dan semasyarakat, dan seumum manusia.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa jangkauan fiqih itu sangat luas sekali. Yaitu membahas masalah-masalah hukum islam dan peraturan- peraturan yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Sumber perumusan fiqih ialah apa-apa yang dijadikan bahan rujukan bagi ulama dalam merumuskan fiqihnya. Yang menjadi sumber fiqih itu yang disepakati oleh para ulama adalah empat yaitu: (1) Al-Qur’an, (2) As-sunnah, (3) Ijma’
Ulama, dan (4) Qiyas.
5. Pengertian pembelajaran fiqih
Pembelajaran Fiqih, tidak hanya terjadi proses interaksi antara guru dan anak didik di dalam kelas. Namun pembelajaran dilakukan juga dengan berbagai interaksi, baik di lingkungan kelas maupun musholla sebagai tempat praktek-praktek yang menyangkut ibadah. VCD, film, atau lainnya yang mendukung dalam pembelajaran Fiqih bisa dijadikan dalam proses pembelajaran itu sendiri. Termasuk pula kejadian-kejadian sosial baik yang terjadi dimasa sekarang maupun masa lampau, yang bisa dijadikan cerminan dalam perbandingan dan penerapan hukum Islam oleh peserta didik.
Pembelajaran fiqih merupakan suatu cara yang ditempuh oleh pendidik dalam menyampaikan hukum-hukum islam yang berhubungan dengan kehidupan manusia baik yang hubungan dengan Allah maupun yang berhunbungan dengan manusia. Dalam pembelajaran tersebut dibutuhkan
6
suatu cara untuk menyampaikan pesan-pesan kepada siswa yang nantinya akan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pengertian diatas maka pembelajaran Fiqih adalah jalan yang dilakukan secara sadar, terarah dan terancang mengenai hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf baik bersifat ibadah maupun muamalah yang bertujuan agar anak didik mengetahui, memahami serta melaksanakan ibadah sehari-hari.
B. Hakikat Pembelajaran Fiqih
Hakikat pembelajaran fiqih merupakan suatu usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta pengembangan fitrah kemampuan dasar anak didik atau generasi penerus melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Proses perkembangan kemampuan dasar dalam diri manusia mengandung empat esensi potensi dinamis yaitu terletak pada keyakinan atau keimanan, ilmu pengetahuan, dan pengalaman.
Mata pelajaran Fiqih adalah mata pelajaran bermuatan pendidikan agama Islam yang didalamnya memberikan pengetahuan tentang ajaran Islam dari segi hukum Syara‟ dan mengarahkan peserta didik supaya mempunyai keyakinan serta mengerti akan hukum-hukum dalam Islam dengan betul dan membangun kebiasaan untuk melakukannya dalam kehidupan. Pembelajaran fiqih merupakan proses belajar mengajar mengenai pelajaran Islam dari sisi hukum Syara‟ yang dilakukan di dalam kelas antara guru serta peserta didik melalui materi serta program pembelajaran yang telah dirancang.
Oleh karena mata pelajaran Fiqih adalah bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) maka yang diarahkan dalam pembelajaran fikih ialah menyiapkan peserta didik dalam mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, pelatihan, penggunaan pengalaman, pembiasaan dan keteladanan.
7
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas dapat dipahami bahwa pembelajaran Fiqih dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara antara lain melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran yang dilakukan melalui pengamalan, yakni memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan merasakan hasil-hasil pengalaman ibadah dalam menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan. Sedangkan melalui pembiasaan, yaitu dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan ajaran Islam dan budaya bangsa dalam menghadapi persoalan kehidupan
C. Komponen-Komponen Pembelajaran Fikih
Komponen pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang saling berhubungan satu sama lain yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar.
Didalam pembelajaran, terdapat komponen yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu: tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi. Berikut penjelasan tentang komponen-komponen pembelajaran fikih:
1. Tujuan Pembelajaran Fikih
Tujuan memiliki arti sesuatu yang dituju, yaitu sesuatu yang ingin dicapai dengan suatu kegiatan atau usaha. Dalam pendidikan, tujuan pendidikan dan pembelajaran adalah faktor yang pertama dan utama. Dengan adanya tujuan maka akan mengarahkan arah pendidikan dan pengajaran kearah yang hendak dituju (Umi, 2017). Fikih adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang harus diketahui dan dimiliki oleh seluruh masyarakat muslim. Dalam fikih terdapat banyak sekali tata cara dan aturan dalam beribadah, salah satunya didalam fikih ibadah dan fikih muamalah. Peserta didik sudah seharusnya diajarkan dan dikenalkan sejak dini tentang ilmu fikih, terutama fikih ibadah dan fikih muamalah. Karena dalam fikih ibadah peserta didik akan diajarkan pengenalan dan pemahaman tentang cara-cara pelaksanaan rukun Islam dan pembiasaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian dalam fikih muamalah menyangkut tentang pengenalan dan pemahaman sederhana mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan
8
haram, kemudian tentang khitan, kurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam (Madrasah, 2014).
Tujuan pembelajaran fikih disetiap tingkatan jenjang pendidikan memiliki tujuan yang sama, yaitu:
1. Mencetak generasi muda yang sholeh dan sholehah.
2. Peserta didik mengetahui hukum-hukum dalam Islam dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari hari (Lutfi & Usamah, 2019).
3. Agar peserta didik dapat mengetahui dan memahami cara-cara pelaksanaan hukum Islam, baik yang berkaitan dengan aspek ibadah dan juga aspek muamalah, serta untuk dijadikan pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
4. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum islam dengan baik dan benar, sebagai bentuk perwujudan dari ketaatan dalam menjalankan ajaran Islam, baik hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan makhluk hidup lainnya ataupun dengan lingkungannya.
2. Materi Pembelajaran Fikih
Materi pembelajaran pada dasarnya adalah isi dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topic atau sub topic dan rinciannya.
Berikut materi-materi fikih yang disajikan disetiap jenjang pendidikan:
a) Materi pembelajaran fikih pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah: Pada jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah secara garis besar mempelajari tentang fikih ibadah dan muamalah. Dalam fikih ibadah mencakup tentang pengenalan dan pemahaman tentang cara pelaksanaan rukun Islam yang baik dan benar, seperti:
tata cara thaharah, shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Kemudian pada materi fikih muamalahnya mencakup pengenalan dan pemahaman mengenai ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, kurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam meminjam.
b) Materi pembelajaran fikih pada jenjang Madrasah Tsanawiyah: Jenjang madrasah tsanawiyah materi yang disajikan masih seputar fikih ibadah, tetapi dikaji dengan lebih luas. Seperti alat-alat untuk bersuci, tayamum, shalat fardhu dan hikmah pelaksanaan shalat fardhu, shalat jum’at, shalat fardhu jama’ qashar, shalat fardhu
9
dalam kondisi tertentu, shalat sunnah muakkadah dan ghoiru mu’akkadah, puasa fardhu dan sunnah, I’tikaf, sedekah, hibah, umrah, dan haji beserta ketentuan- ketentuannya (Kemenag, 2014).
c) Materi pembelajaran pada jenjang Madrasaha Aliyah: Pada jenjang madrasah aliyah materi fikih yang disajikan sudah masuk kepada kajian fikih mawaris, fikih jinayah, dan fikih munakahat, seperti hukum waris dalam Islam, pernikahan dalam Islam, jinayah dan hikmahnya, zakat beserta hikmahnya, pengurusan jenazah dan hikmahnya, serta kepemilikan dan akad. Selain itu, kelas 12 sudah disajikan dengan materi ushul fiqh, diantaranya ‘am dan khas, mujmal dan mubayyan, serta amar dan nahi (Rofiudin, 2017).
3. Metode Pembelajaran Fikih 1. Pengertian metode
Metode berasal dari bahasa Yunani methodos yang berarti “cara atau jalan”.
Secara istilah metode adalah cara yang digunakan untuk memberikan pelajaran kepada peserta didik. Metode mengajar berarti cara mencapai tujuan mengajar, yaitu tujuan-tujuan yang diharapkan tercapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajar.
Tujuan belajar yang dimaksud ialah dalam bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi pada diri peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar.
Sedangkan pembelajaran merupakan usaha untuk terciptanya situasi belajar sehingga yang belajar memperoleh atau meningkatkan kemampuannya. Maka metode pembelajaran adalah cara yang digunakan pendidik untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa pada saat berlangsungnya suatu pengajaran. Pembelajaran yang efektif dan efisien adalah pembelajaran yang mudah dipahami oleh peserta didik dalam waktu yang cepat. Oleh sebab itu diperlukan metode atau cara tertentu bagi seorang pendidik agar ia mampu memberikan pengajaran yang tepat bagi peserta didiknya.
Fikih merupakan ilmu yang mempelajari syariat islam berdasarkan dalil al- Qur’an dan hadits. Bagi seorang muslim mempelajari fikih dan mengimplementasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Oleh karena itu di sekolah negeri para siswa diajarkan fikih lewat mata pelajaran pendidikan agama islam (PAI). Berbeda dengan sekolah yang berbasis islam seperti
10
SDIT, MTs dan MA maupun pondok pesantren, pembelajaran fikih dipisah menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Pembelajaran fikih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat memahami pokok-pokok hukum islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi muslim yang selalu taat menjalankan syariat islam secara sempurna.
Dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, metode pembelajaran fiqih adalah suatu cara yang digunakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan materi atau yang berkenaan dengan pembelajaran fiqh islam kepada peserta didik sehingga tujuan dari pendidikan tersebut dapat tercapai secara efektif dan efesien.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemilihan Metode
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode sebagai berikut:
a) Faktor manusia
Faktor manusia terdiri dari pendidik dan peserta didik. Penting bagi seorang pendidik mengetahui secara pasti kemampuan yang dimilikinya. Seorang pendidik juga haruslah paham mengenai penggunaan metode yang akan digunakannya dalam proses pembelajaran. Sehingga ia dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik dan tujuan pembelajaran yang ada dapat tercapai. Selain itu memperhatikan kondisi peserta didik sebelum metode yang dipilih diterapkan di kelas juga sangatlah penting. Pemilihan metode mengajar harus menyesuaikan tingkatan jenjang pendidikan peserta didik. Sebagai contoh, pemilihan metode pembelajaran untuk anak kelas satu SD biasanya dengan metode belajar yang sederhana dan menyenangkan, karena tingkatan berpikirnya masih kongkret. Misalnya saat membahas mengenai ‘saling berbagi’, guru harus menunjukkan dan mengajak peserta didiknya untuk saling berbagi, dengan cara membagi makanan maupun saling berbagi mainan dengan cara mempraktekannya. Berbeda pada metode pembelajaran yang diterapkan pada anak pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, misalnya SMP dan SMA. Saat membahas mengenai ‘saling berbagi’ cukup dengan melakukan diskusi, karena pada
11
tahap ini mereka sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak dan analitis.
b) Sasaran Pengajaran dan Latihan
Seorang tokoh taksonomi yang bernama Bloom menegaskan bahwa sasaran pengajaran meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam menerapkan suatu metode pembelajaran seorang guru harus mengarahkan pencapaian siswanya baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotornya. Misalnya saja dalam pembelajaran fiqih seorang guru dapat menggunakan metode ceramah, dan diskusi dengan tujuan siswanya dapat memahami dengan mudah sehingga paham tentang materi yang diberikan pada saat itu. Dengan diskusi siswa mengeksplor pemahamannya dalam menganalisis suatau persoalan yang sedang dibicarakan. Untuk afektifnya siswa dapat mengubah perilakunya menadi lebih baik ketika Ia mengetahui manfaat dari melakukan sholat, dan bahaya yang dapat dirasakan apabila ia meninggalkan sholat. Dengan menggunakan metode simulasi maka akan memberikan ketrampilan bagi siswanya supaya dapat terjun langsung dalam masyarakat minimal ketika ada sanak saudaranya yang meninggal dunia.
c) Bidang mata pelajaran
Tiap-tiap mata pelajaran mempunyai karakteristik tersendiri.
Misal saja mengenai aspek-aspek perilaku, komunikasi, kepemimpinan, motivasi dan lain sebagainya dapat menggunakan metode diskusi, role playing dan lain sebagainya. Pada bagian ini, hal yang perlu diperhatikan dalam materi pembelajaran adalah apa materinya (what), seberapa banyak (how much), dan bagaimana tingkat kesulitan (how hard) materi yang hendak dipelajari.
d) Faktor waktu dan sarana fisik
Tiap-tiap metode pembelajaran mempunyai waktu persiapan yang berbeda satu sama lain. Dalam pemilihan metode, strategi dan media pembelajaran fiqih harus memperhatikan dari faktor waktu apakah
12
dalam menerapkan metode, strategi dan media memerlukan waktu yang terlalu lama sehingga akan memperlambat proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebagai seorang guru harus bisa memanfaatkan waktu yang telah diberikan dalam menerapkan metode, strategi dan media yang dapat digunakan dalam pembelajaran fiqih. Selain itu harus memperhatikan dari faktor sarana fisik, apakah sekolahan menyediakan fasilitas yang diperlukan ketika menggunakan metode, strategi dan media. Jika sekolahan tidak menyediakan maka tugas dari seorang guru adalah berpikir sekreatif mungkin untuk menciptakan kondisi belajar yang nyaman dan tujuan dari pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Pemilihan metode pembelajaran pada kenyataannya dapat menciptakan suasana belajar yang dinamis dan praktis dalam penggunaan waktu. Dalam gambaran yang sederhana, suatu materi pembelajaran yang banyak dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif lebih cepat dengan penggunaan metode cooperatif learning dengan berbagai variasi dan pengembangannya.
3. Macam – Macam Metode Pembelajaran Fikih
Beberapa metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran fiqih, diantaranya:
a) Metode Ceramah adalah cara penyampaian materi pelajaran yang dilakukan secara lisan kepada peserta didiknya. Menurut Zuhairini, metode ceramah adalah suatu metode di dalam pendidikan di mana cara penyampaian materi pelajaran kepada siswanya dengan cara penuturan secara lisan. Peran dari seorang murid di sini adalah sebagai pendengar, menerima pesan, memperhatikan dan mencatat keterangan atau informasi yang diucapkan oleh gurunya.
b) Metode Diskusi. Metode adalah suatu proses yang melibatkan dua orang atau lebih untuk saling bertukar informasi dan memecahkan masalah secara bersama-sama. Cara seperti itu dapat dimaksudkan untuk merangsang pola pikir siswa supaya bisa berpikir secara kritis dan mengeluarkan pendapatnya secara rasional dan objektif dalam pemecahan masalah.
13
c) Metode Demonstrasi. Metode demonstrasi adalah sebuah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada peserta didik.
Dalam hal ini seorang guru harus memberikan contoh terlebih dahulu setelah itu baru diikuti oleh muridnya. Metode ini dapat digunakan pada materi thaharah, shalat, mengurus jenazah, dan lain sebagainya.
d) Metode Simulasi. Metode simulasi adalah perbuatan yang hanya berpura- pura saja atau seolah-olah melakukannya. Tujuan dari metode simulasi ini adalah untuk melatih ketrampilan tertentu, untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip dan untuk memecahkan masalah. Metode ini dapat digunakan misalnya saja ketika sedang mempelajari materi haji dan umroh. Siswa melakukan rukun-rukun yang ada ketika sedang melakukan haji dengan cara membuat miniatur ka’bah, bukit shafa marwah, dan lain sebagainya.
e) Metode Tanya Jawab. Metode adalah penyampaian pesan pengajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan siswa memberikan jawaban atau sebaliknya siswa diberi kesempatan untuk bertanya. Dalam kegiatan melalui tanya jawab, guru dapat memberikan memberikan kesempatan-kesempatan tersebut ketika sedang memulai pelajaran, ditengah-tengah pelajaran dan diakhir pelajaran.
4. Media Pembelajaran Fikih
Secara umum media merupakan kata jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar, secara lebih rinci beberapa pendapat ahli tentang media pembelajaran diantaranya Rossi dan Breidle (1966: 3) yang mengemukakan bahwa media pengajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan seperti, radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya. Sedangkan menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
14
Selain pengertian di atas ada juga yang berpendapat bahwa media pengajaran meliputi perangkat keras (Hardware) dan perangkat lunak (Software).
Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti overhead projector, radio, televisi dan sebagainya; atau bahan belajar seperti film, bahan cetakan, transparansi dan sebagainya. Dengan demikian media pembelajaran adalah alat dan bahan yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil belajar.
Dalam proses pembelajaran fiqih, media memiliki peranan yang cukup penting dalam kegiatan proses belajar mengajar. Apabila dalam proses pembelajaran tersebut terdapat suatu materi yang kurang jelas maka dapat dibantu dengan media pembelajaran sebagai perantara. Media tersebut juga mempermudah siswa dalam mencerna materi tersebut.
Pada dasarnya semua jenis media bisa digunakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran fiqih. Hanya saja guru harus menyesuaikan media apa yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Seorang guru juga harus memperhatikan media tersebut dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.
Media belajar merupakan alat bantu belajar yang harus guru kembangkan.
Proses pembelajaran yang melibatkan media akan menarik perhatian siswa. Selain itu, media juga membantu guru agar tidak monoton di kelas dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Media pembelajaran membantu siswa untuk lebih mudah memahami materi dan mempermudah guru untuk menyampaikan sebuah materi.
Siswa akan lebih tertarik dengan pembelajaran yang tidak monoton. Untuk itu, guru dituntut harus bisa membawa suasana dan kreatif dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam menggunakan media pembelejaran guru juga perlu mempertimbangkan terkait biaya yang diperlukan dalam mempersiapkannya. Lebih baik jika pihak lembaga pendidikan menyediakannya. Tetapi jika tidak, guru dapat menyediakan media yang tahan lama sehingga media tersebut dapat digunakan berkali-kali sehingga meminimalisir pengeluaran biaya yang berlebih.
15 5. Evaluasi Pembelajaran Fikih
Evaluasi adalah cara atau langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan hasil belajar. Sedangkan hasil belajar adalah suatu pencapaian peserta didik setelah melewati rangkaian proses belajar mengajar. Evaluasi belajar mengajar juga merupakan satu komponen penting dalam tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari proses evaluasi adalah umpan balik (feedback) bagi guru untuk memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran. Kemudian evaluasi pembelajaran fikih pada siswa ditinjau dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik:
f) Evaluasi kognitif dalam pembelajaran fikih.
Evaluasi kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir siswa, termasuk didalamnya kemampuan memahami, menghafal, menganalisis, mengaplikasikan dan mengevaluasi. Melalui kegiatan evaluasi kognitif guru dapat mengetahui progresifitas dan perkembangan peserta didik berdasarkan perolehan nilai atas kegiatan pembelajaran yang telah dialaminya selama jangka waktu tertentu. Adapun pelaksanaan evaluasi kognitif dalam pembelajaran fikih dapat dilakukann dengan beberapa macam:
1. Evaluasi subjektif. Bentuk evaluasi ini umumnya berbentuk esai (uraian), evaluasi bentuk esai adalah sejenis evaluasi kemajuan belajar yang memerlukan jawaban bersifat pembahasan atau uraian kata-kata panjang.
Ciri-ciri pertanyaan subjektif biasanya diawali dengan kalimat uraikan, jelaskan, bagaimana, dan mengapa.
2. Evaluasi objektif. Evaluasi objektif ini biasa dikenal dengan pilihan ganda.
Evaluasi objektif ini benar-benar mempresentasikan penguasaan materi peserta didik terhadap mata pelajaran tersebut, karena skor yang diberikan pun dijamin sepenuhnya, sebab item-item yang ada dalam evaluasi objektif mengandung satu jawaban yang benar.
3. Evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya sebuah program yang lebih besar. Evaluasi formatif dapat dikatakan dengan
16
ulangan umum yang biasanya dapat dilaksanakan pada setiap akhir semester.
g) Evaluasi afektif dalam pembelajaran fikih.
Evaluasi pada aspek afektif dalam pembelajaran fikih diarahkan pada aspek sikap dan nilai. Sikap afektif mencakup kepribadian, budi pekerti, norma, etika, dan nilai-nilai luhur dalam masyarakat. Evaluasi afektif tentang obyek diperoleh melalui interaksi antara komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif dengan suatu obyek. Ciri-ciri hasil belajar afektif ini akan tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku. Contohnya seperti perhatian yang peserta didik berikan pada mata pelajaran fikih, kedisiplinannya dalam mengikuti pelajaran agama di sekolah, motivasi dan keingin tahuannya yang besar mengenai mata pelajaran fikih yang ia terima, penghargaan atau rasa hormatnya kepada guru dan kasih sayangnya kepada sesama temannya.
Pelaksanaan evaluasi afektif dapat dikelompokkan kedalam empat tahap:
1. Menerima dan memperhatikan. Peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima pelajaran dan nilai-nilai yang diajarkan oleh Guru fikih, dan peserta didik mau menggabungkan diri kedalam nilai luhur tersebut, dan memperhatikan pelajaran yang diberikan dengan baik.
2. Menanggapi. Menanggapi mengandung arti bahwa peserta didik ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki sesoerang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam suatu fenomena tertentu. Jenjang ini lebih tinggi dibanding dengan memperhatikan.
3. Menilai. Menilai artinya peserta didik dapat memberikan nilai atau memberikan suatu penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek.
Contohnya: peserta didik dapat menilai apakah kegiatan shalat berjamaah di masjid baik atau tidak? Dengan siswa bisa menilai secara benar, maka artinya siswa telah menjalani proses penilaian.
4. Karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai. Pada tahap ini siswa telah mempelajari seluruh materi pada mata pelajaran fikih. Tahap ini
17
peserta didik telah mengontrol tingkah lakunya dan membiasakan dirinya untuk waktu yang lama, sehingga menjadi tingkah laku yang menetap dan konsisten. Contoh: siswa telah memiliki kebulatan sikap taat terhadap perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dengan mengharap ridha Allah SWT.
Teknis penilaian afektif dapat dilakukan melalui dua hal, yaitu: (1) Laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket tertutup. (2) Pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa.
h) Evaluasi Psikomotor dalam Pembelajaran Fikih.
Aspek psikomotor dalam pembelajaran fiqih berkaitan dengan keterampilan atau kemampuan bertindak peserta didik setelah menerima pengalaman belajar tertentu.
Adapun Pelaksanaan evaluasi pada aspek psikomotorik pada pembelajaran fikih dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1. Pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku siswa selama proses pembelajaran praktik ibadah berlangsung. Seperti praktik shalat, praktik berwudhu, mengurus jenazah dan lain sebagainya.
2. Sesudah mengikuti praktek ibadah, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada siswa untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Efendi, 2015).
18
BAB III PENUTUP
Pembelajaran fiqih merupakan suatu cara yang ditempuh oleh pendidik dalam menyampaikan hukum-hukum islam yang berhubungan dengan kehidupan manusia baik yang hubungan dengan Allah maupun yang berhunbungan dengan manusia.
Kemudian hakikat pembelajaran fikih adalah suatu usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta pengembangan fitrah kemampuan dasar anak didik atau generasi penerus melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.
Kemudian hal hal yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran adalah komponen-komponen pembelajaran fikih. Komponen pembelajaran fikih mencakup tujuan pembelajaran fikih, materi ajar pwmbelajaran fikih, metode dan media pembelajaran dan evaluasi pembelajaran fikih.
Tujuan dari pembelajaran fikih adalah eserta didik mengetahui hukum- hukum dalam Islam dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari hari.
Beberapa materi ajar dalam pembelajaran fikih mencakup fikih ibadah dan muamalah, diantaranya thaharah, shalat, puasa, dan zakat. Kemudian metode yang dapat digunakan selama pembelajaran fikih bisa berupa metode ceramah, Tanya jawab, atau diskusi kelompok, serta media yang digunakan pada pembelajaran fikih bisa berupa alat apa saja, seperti televisi, radio, laptop, dan power point. Kemudian evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan tiga aspek, yaitu: evaluasi kognitif, afektif dan psikomotorik.
19
DAFTAR PUSTAKA
Abd al-Wahab al-Khallaf, “Ilm Ushul al-Fiqh”, Jakarta: Maktabah al-Da’wah al- Islamiyah Syabab al-Azhar, 1410/1990
Ahmad Rofi‟i, Pembelajaran Fiqih (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2009)
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, hlm 136
Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, TP, Jakarta: 1985
Efendi, M. Y. (2015). Evaluasi Pembelajaran Fiqih di MTs Al Hidayah Twelagiri Pagedongan Banjarnegara Tahun Pelajaran 2014-2015. 111.
http://repository.uinsaizu.ac.id/id/eprint/1485%0Ahttp://repository.uinsai zu.ac.id/1485/1/Muhamad Yusuf Efendi_Evaluasi Pembelajaran Fiqih di MTs Al Hidayah.pdf
Elisa, edi. 2016. “Pengertian Pembelajaran”,
https://educhannel.id/blog/artikel/pengertian-pembelajaran.html, diakses pada 13 September 2023 pukul 22.30
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, CV. Pustaka Setia, Bandung: 2011
Jamaluddin dkk, Pembelajaran Perspektif Islam, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung: 2015
Kemenag, R. I. (2014). FIKIH Untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII.
Lutfi, A. F., & Usamah, A. (2019). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Adobe Flash Untuk Mata Pelajaran Fikih Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 8(02), 219.
https://doi.org/10.30868/ei.v8i2.490
Madrasah, A. (2014). Tujuan dan Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih Madrasah
Ibtidaiyah. Abdi Madrasah.
20
https://www.abdimadrasah.com/2014/04/tujuan-dan-ruang-lingkup-mata- pelajaran-fiqih.html
Masykur, Mohammad Rizqillah. (2019). Metodologi Pembelajaran Fiqih. Jurnal Al-Makrifat, 4(2), 34-37.
M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2001, hlm 34
Rofiudin, M. (2017). Kumpulan Materi Fiqih Kelas 10, 11, 12 Kurikulum 13 SMA/MA/SMK Se-Derajat. Mrofiudin29.Blogspot.Com.
https://mrofiudin29.blogspot.com/2017/09/kumpulan-materi-fiqih-kelas- 10-11-12.html
Umi, Y. (2017). Konsep Dasar Pembelajaran Fiqih di Madrasah.
Umiyohana.Blogspot.Com.
http://umiyohana.blogspot.com/2017/05/konsep-dasar-pembelajaran- fiqih-di_87.html
Zakky. 2020. “Pembelajaran Menurut Para Ahli”,
https://www.zonareferensi.com/pengertian-pembelajaran/, diakses pada 12 September 2023 pukul 20.15