• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORUPSI dan PENINDAKANNYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "KORUPSI dan PENINDAKANNYA"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

Di sisi lain, upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan selama ini belum membuahkan hasil yang optimal. Dari segi terminologi kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitucorruptio, sedangkan menurut Webster Student Dictionary adalahcorruptus.

MENGENAL ISTILAH KORUPSI

Chalmer menjelaskan pentingnya korupsi di berbagai bidang, termasuk isu suap, yang berkaitan dengan manipulasi di bidang ekonomi dan menyangkut bidang kepentingan umum. Chalmers menjelaskan konsep korupsi dalam berbagai bidang yaitu yang melibatkan suap, yang berkaitan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang melibatkan bidang kepentingan umum.

CIRI, TIPOLOGI, DAN BENTUK KORUPSI

CIRI, TIPOLOGI, DAN BENTUK KORUPSI

CIRI-CIRI KORUPSI

Mereka yang melakukan praktik korupsi biasanya berusaha menutupi perbuatannya dengan bersembunyi di balik pembenaran hukum; Segala bentuk korupsi melibatkan banyak fungsi yang saling bertentangan dari pihak yang melakukan tindakan tersebut;

TIPOLOGI KORUPSI

Korupsi transaksional, yaitu korupsi yang terjadi karena adanya kesepakatan antara pemberi dan penerima untuk kepentingan kedua belah pihak. Korupsi investasi, yaitu korupsi yang diawali dengan penawaran yang merupakan penanaman modal untuk mengantisipasi keuntungan di masa depan.

BENTUK-BENTUK KORUPSI

Bagi Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Negeri Sipil yang menerima hadiah atau janji, meskipun diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji itu diberikan untuk mendorongnya melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; Untuk pejabat pemerintah atau penyelenggara pemerintahan yang menerima hadiah atau janji, meskipun diketahui atau pantas.

FAKTOR PENYEBAB KORUPSI

FAKTOR SECARA TEORITIS

FAKTOR PENYEBAB KORUPSI

FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL

  • Faktor internal a. Aspek Perilaku
  • Faktor eksternal

Dari uraian di atas terlihat bahwa tindakan korupsi pada prinsipnya bukanlah suatu peristiwa yang berdiri sendiri. Faktor penyebabnya bisa berasal dari internal pelaku korupsi, namun bisa juga berasal dari situasi lingkungan yang menguntungkan bagi seseorang untuk melakukan korupsi. Pada umumnya pihak manajemen selalu menutup-nutupi tindakan korupsi yang dilakukan segelintir oknum di dalam organisasi.

Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi dapat dicegah dan diberantas jika masyarakat berperan aktif dalam agenda pencegahan dan pemberantasan. Semakin longgar/lemah pengendalian manajemen suatu organisasi, maka semakin terbuka pula terhadap tindakan korupsi yang dilakukan oleh anggota atau pegawainya.

DAMPAK KORUPSI DALAM BERBAGAI ASPEK

  • ASPEK EKONOMI
    • Lesunya Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi
    • Penurunan Produktifitas
    • Menurunnya Pendapatan Negara dari Sektor Pajak Pajak berfungsi sebagai stabilisasi harga sehingga dapat di-
  • ASPEK SOSIAL
    • Mahalnya Jasa dan Pelayanan Publik
    • Pengentasan Kemiskinan Berjalan Lambat
    • Meningkatnya Angka Kriminalitas
  • ASPEK LINGKUNGAN
    • Menurunnya Kualitas Lingkungan
    • Menurunnya Kualitas Hidup
  • ASPEK POLITIK
    • Munculnya Kepemimpinan Korup
    • Hilangnya Kepercayaan Publik pada Demokrasi
    • Hancurnya Kedaulatan Rakyat

Berbagai organisasi ekonomi dan pengusaha asing di seluruh dunia menyadari bahwa merebaknya korupsi di dalam negeri merupakan ancaman serius terhadap investasi mereka. Hal ini terjadi ketika sektor industri dan manufaktur terhambat dalam pengembangan atau peningkatan kapasitas yang lebih baik. Hubungan transaksional dilakukan dari atas, yang pada akhirnya berujung pada pemimpin yang korup karena proses yang diterapkan juga bersifat transaksional.

Hal ini disebabkan maraknya tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat tinggi pemerintah, anggota legislatif, atau pejabat partai politik. Namun yang terjadi saat ini kedaulatan ada di tangan partai politik, karena adanya anggapan bahwa partai adalah salah satu bentuk keterwakilan rakyat.

NILAI-NILAI ANTI KORUPSI

  • KEJUJURAN
  • KEPEDULIAN
  • KEMANDIRIAN
  • KEDISIPLINAN
  • TANGGUNG JAWAB
  • KERJA KERAS
  • SEDERHANA
  • KEBERANIAN
    • KEADILAN

Jika seseorang terbukti melakukan perbuatan tidak jujur, maka orang lain akan selalu ragu untuk mempercayainya. Hal ini juga akan menimbulkan ketidaknyamanan pada orang lain karena selalu merasa curiga terhadapnya. Selain itu, jika ada yang berbuat curang atau berbohong, maka akan sulit mendapatkan kembali kepercayaan orang lain.

Karena tidak mungkin orang yang tidak bisa mandiri (mengendalikan diri) mengatur kehidupan orang lain. Dan seseorang yang mempunyai rasa tanggung jawab akan menyelesaikan tugas tersebut dengan sepenuh hati, karena menurutnya jika tugas tersebut tidak diselesaikan dengan baik maka dapat merugikan citra namanya dihadapan orang lain.

PRINSIP-PRINSIP ANTI KORUPSI

  • AKUNTABILITAS
  • TRANSPARANSI
  • KEWAJARAN
  • KEBIJAKAN
  • PENGAWASAN

Setelah memahami nilai-nilai antikorupsi yang penting untuk mencegah faktor internal penyebab korupsi, selanjutnya kita akan membahas tentang prinsip-prinsip antikorupsi yang meliputi akuntabilitas, transparansi, keadilan, kebijakan dan pengendalian kebijakan, untuk mencegah faktor eksternal penyebab korupsi. Kebijakan antikorupsi ini tidak selalu identik dengan undang-undang antikorupsi, namun dapat berupa undang-undang kebebasan akses informasi, undang-undang desentralisasi, undang-undang anti monopoli atau lainnya yang dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat. Suatu kebijakan antikorupsi akan efektif apabila memuat unsur-unsur yang terkait dengan permasalahan korupsi, dan mutu isi kebijakan tersebut bergantung pada kualitas dan integritas penciptanya.

Keberadaan kebijakan berkaitan dengan nilai, pemahaman, sikap, persepsi dan kesadaran masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan antikorupsi. Sedangkan pengendalian kebijakan berbentuk revolusi, yaitu pengendalian dengan mengganti kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak tepat.

KORUPSI SEBAGAI KEJAHATAN LUAR BIASA

KORUPSI SEBAGAI KEJAHATAN LUAR BIASA

TINDAK PIDANA KORUPSI

Fakta ini tentu cukup meresahkan mengingat berbagai upaya pemberantasan korupsi, baik upaya menggunakan cara pidana/hukum pidana maupun cara non-pidana. Memang pembahasan hukum pidana dengan segala aspeknya (aspek sifat ilegalitas, perbuatan salah dan kriminalitas), akan selalu menarik perhatian, karena sifat dan fungsinya yang khusus. Hukum pidana sering dikatakan memotong dagingnya dan mempunyai fungsi ganda, yaitu primer sebagai alat pencegahan kejahatan yang rasional (sebagai bagian dari kebijakan kriminal) dan sekunder sebagai alat pemidanaan.

Sifat hukum pidana yang paradoks ini sering digambarkan dengan ungkapan yang sangat terkenal: “Rechts guterschutz durch Rechtsguterverletzung” (“perlindungan objek hukum melalui penyerangan terhadap objek hukum”). Oleh karena hukum pidana mengandung sifat yang kontradiktif, dualistik, dan paradoks, maka pendekatan humanistik harus diperhatikan jika hukum pidana hendak digunakan sebagai sarana penanggulangan kejahatan.

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA KORUPSI Adapun penegakan/fungsionalisasi hukum tindak pidana ko-

Pendekatan di atas penting dilakukan karena upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi juga merupakan bagian dari suatu langkah kebijakan (yakni bagian dari politik hukum, politik peradilan pidana, politik peradilan pidana, dan politik sosial) dan setiap kebijakan juga mengandung pertimbangan nilai. Dengan tujuan pemidanaan tersebut di atas, berarti sistem pidana dalam hukum pidana nasional harus memperhatikan tidak hanya aspek perlindungan masyarakat saja, namun juga aspek perlindungan individu atau yang sering disebut dengan keseimbangan mono-dual. Pandangan ini dalam hukum pidana dikenal dengan istilah ‘Hukum Pidana Pelaku’, yaitu hukum pidana yang memperhatikan aspek obyektif dari ‘akta’ (akta) dan juga aspek subyektif dari orang/pencipta (pelaku).

Sebagaimana diketahui, penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana korupsi dibangun berorientasi pada asas keseimbangan antara strafrecht sebagai ciri mazhab modern yang mengharuskan penerapan asas keseimbangan dalam sistem peradilan pidananya agar tidak terjadi pelanggaran hukum pidana. hanya kepastian hukum. namun keadilan bagi masyarakat juga akan tercapai. Tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa, melainkan sudah menjadi kejahatan luar biasa. kejahatan luar biasa), maka upaya pemberantasannya tidak dapat lagi dilakukan secara normal, melainkan harus menggunakan cara-cara yang luar biasa (extraordinary Measures).

LANDASAN KEBIJAKAN PEMBERANTASAN KORUPSI

LANDASAKAN KEBIJAKAN PEMBERANTASAN KORUPSI

Delik-delik korupsi dalam KUHP

KUHP sebagai kodifikasi dan unifikasi berlaku bagi semua golongan di Indonesia sesuai dengan asas konkordansi (diselaraskan dengan WvS 1881 di Belanda), diundangkan dalam Stbl 1915 Nomor 752, berdasarkan KB 15 Oktober 1915. Walaupun 1915 KUHP (KUHP) diubah, ditambah dan disempurnakan dengan berbagai undang-undang nasional, dimulai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1946 Nomor 1 (Berita RI Tahun II Nomor 9, 15 Maret 1946), Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1946 Nomor 20 (Berita RI Tahun II Nomor 9, 15 Maret 1946), Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 (RI ) Berita Tahun II Nomor 24, 1 dan 15 November 1946), ketika Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958 yang membawa penyeragaman, dan banyak undang-undang lainnya, maka tindak pidana korupsi yang terkandung di dalamnya tetap apa adanya hingga dimasukkan ke dalam Undang-Undang PTPK (UU No. 3 Tahun 1971 dan UU No. Bahkan redaksi pasal-pasal tersebut tetap seperti aslinya, kecuali sanksinya otomatis mengikuti sanksi yang ditentukan dalam undang-undang PTPK.

20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, 13 pasal tersebut dinyatakan tidak berlaku dalam penerapan KUHP sebagai tindak pidana umum, karena diatur dalam undang-undang no. 31/.

Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat Peraturan pemberantasan korupsi yang pertama ialah Pera-

Kata-kata dalam Undang-Undang Nomor 24 (Prp) Tahun 1960 harus dikaji, tidak hanya sebagai sejarah, tetapi juga disandingkan dengan ketentuan peralihan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, agar hukum tersebut berlaku pada saat kejahatan itu dilakukan. . Jika diperhatikan pada rumusan tindak pidana korupsi pada pasal-pasal UU Nomor 3 Tahun 1971, terlihat bahwa rumusan tersebut masuk dalam kategori tindak pidana atau tindak pidana formil. Dengan rumusan tersebut maka para pelaku tindak pidana korupsi tetap diadili dan dihukum, meskipun hasil korupsinya telah dikembalikan kepada negara.

Setelah melakukan beberapa kali perubahan terhadap UU Tipikor dan yang terakhir UU No. 20 Tahun 2001 mengatur bagaimana seharusnya penerapan UU Tipikor sebagai berikut: No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan ketentuan pidana penjara paling lama menguntungkan terdakwa, berlaku ketentuan pasal-pasal berikutnya: Pasal Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak berlaku bagi tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

STRATEGI & UPAYA PEMBERANTASAN

STRATEGI & UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI

STRATEGI NASIONAL

Dalam Perpres tersebut disebutkan bahwa tata cara perizinan dan perdagangan menjadi fokus karena kedua hal tersebut bersentuhan langsung dengan masyarakat dan pelaku usaha. Sedangkan korupsi di bidang perdagangan berdampak pada tingginya biaya ekonomi pada bahan pokok sehingga menjadi beban terutama bagi masyarakat dari kelompok ekonomi lemah. Dalam Perpres tersebut disebutkan bahwa pengelolaan keuangan negara pada prinsipnya menyangkut dua aspek utama, yaitu pendapatan dan pengeluaran.

Tantangan terhadap fokus ini mencakup masih adanya penipuan dan kriminalisasi terhadap pejabat di sektor pajak dan non-pajak; belum optimalnya kerjasama pertukaran data keuangan dan perpajakan; kurang terintegrasinya kebijakan, proses perencanaan, penganggaran, dan realisasi belanja negara; pengadaan barang dan jasa belum mandiri dan didukung sumber daya manusia yang profesional; serta terbatasnya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan keuangan negara di pusat dan daerah. Sedangkan fokus ketiga adalah penegakan hukum dan reformasi birokrasi, karena keduanya sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap negara.

STRATEGI TEKNIS LAINNYA

  • Pembentukan Lembaga Anti-Korupsi
  • Penguatan Sektor Publik
  • Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Salah satu upaya memberantas korupsi adalah memberi hak
  • Pembuatan berbagai Instrumen Hukum
  • Monitoring dan Evaluasi
  • Kerjasama Internasional

Salah satu cara untuk memberantas korupsi adalah dengan membentuk lembaga independen yang khusus menangani korupsi. Salah satu cara untuk mencegah korupsi adalah dengan mewajibkan pejabat publik untuk melaporkan dan menyatakan jumlah kekayaan yang dimilikinya sebelum dan sesudah menjabat. Buku saku yang dikeluarkan KPK hanyalah salah satu contoh bagaimana melakukan kampanye pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Spanduk dan poster berisi seruan menolak segala bentuk korupsi 'wajib' dipasang di kantor-kantor pemerintah sebagai media kampanye bahaya korupsi. Salah satu peraturan perundang-undangan yang harus ada untuk mendukung pemberantasan korupsi adalah Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang.

DAFTAR PUSTAKA

Tindak Pidana Korupsi: Tinjauan Khusus Penyidikan, Penuntutan, Proses Peradilan dan Upaya Hukum Berdasarkan UU No. Pemberantasan Korupsi di Peradilan dari Pengadilan”, Makalah pada Konferensi Anti Korupsi yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta, 11- 12. Agustus 2005. Tipikor dan Pertanggungjawaban Pidana Korupsi Studi Kasus, Bandung: Citra Aditya Bakti Wahyuningsih, Sri Endah dan Martitah.

Referensi

Dokumen terkait

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk

pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan

Padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya

(16) Pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan

pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan

2) Tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga menurut pikiran

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan