DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM PENDAMPINGAN BANK INDONESIA TERHADAP PENGEMBANGAN UMKM
DI KOTA MALANG (STUDI KASUS PROGRAM PENDAMPINGAN ON BOARDING 2020 BANK INDONESIA KOTA
MALANG PADA UMKM KOPI)
JURNAL ILMIAH
Disusun Oleh:
Aditya Ramadhan 175020101111033
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2021
DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM PENDAMPINGAN BANK INDONESIA TERHADAP PENGEMBANGAN UMKM DI KOTA MALANG (STUDI KASUS
PROGRAM PENDAMPINGAN ON BOARDING 2020 BANK INDONESIA KOTA MALANG PADA UMKM KOPI)
Aditya Ramadhan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan Program Pendampingan On Boarding Bank Indonesia 2020 pada UMKM kopi di Kota Malang dan mengetahui dampak dari Program Pendampingan On Boarding Bank Indonesia 2020 pada UMKM kopi di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Model pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil pada penelitian ini ditemukan bahwa program telah terlaksana sesuai dengan tujuan awal program yaitu meningkatkan kapasitas ekonomi dan pengendalian inflasi namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan. Namun secara keseluruhan kegiatan Program On Boarding Bank Indonesia ini memiliki dampak yang nyata dan dirasakan oleh mitra binaan khususnya UMKM Kopi di Kota Malang baik dari segi kuantitas perkembangan usaha maupun kualitas diri pengusaha.
Kata kunci: umkm, pendampingan, bank indonesia, kota malang, kopi.
ABSTRACT
This study aims to determine the implementation of the 2020 Bank Indonesia On-Boarding Assistance Program for coffee MSMEs in Malang City and determine the impact of the 2020 Bank Indonesia On-Boarding Assistance Program on coffee MSMEs in Malang City.
This research is qualitative research using a case study approach. The data collection model used is in-depth interviews, observation, and documentation. The results of this study found that the program has been implemented in accordance with the initial objectives of the program, namely increasing economic capacity and controlling inflation, but in its implementation, there are still shortcomings. However, overall, the Bank Indonesia On- Boarding Program activities have a real impact and are felt by the fostered partners, especially the Coffee MSMEs in Malang City, both in terms of the quantity of business development and the quality of the entrepreneurs themselves.
Keywords: MSMEs, mentoring, Bank Indonesia, Malang City, coffee.
A. PENDAHULUAN
Peran masyarakat dalam pembangunan nasional terletak pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM memiliki peran yang sangat strategis, karena mempunyai tingkat ketahanan yang lebih tinggi terlepas dari rendahnya produktivitas yang dihasilkan.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Berdasarkan data yang ditampilkan, jumlah tenaga kerja saat terjadinya krisis ekonomi 1998 pada UMKM sebesar 64,31 juta, setahun setelah krisis ekonomi terjadi, tenaga kerja yang diserap kembali meningkat menjadi 67,16 juta orang. Pada tahun 2008, Indonesia juga mengalami krisis keuangan global akibat subprime mortgage yang terjadi mulai di Amerika Serikat, namun UMKM kembali memiliki peranan besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi, dapat dilihat pada gambar di bawah ini, jumlah penyerapan tenaga kerja oleh UMKM justru mengalami peningkatan sebesar 3,9% menjadi 90,49 juta dibandingkan tahun sebelumnya
Gambar 1.2 Jumlah Tenaga Kerja UMKM (2007 - 2010)
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)
Hal ini disebabkan oleh susunan dari organisasi dan sumber daya manusia yang ada pada UMKM memiliki fleksibilitas dalam penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi di pasar. Sehingga, UMKM menjadi salah satu sumber perubahan yang terjadi di pasar. Sehingga, UMKM menjadi salah satu sumber penghidupan utama bagi masyarakat Indonesia. Ditambah dengan eksistensi Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja UMKM (1997-2000)
UMKM pada perekonomian di Indonesia cukup dominan. Selain itu, variasi industri yang dihasilkan oleh UMKM pada sektor ekonomi, membuat besarnya penyerapan tenaga kerja, dan berujung pada sumbangsih UMKM dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (Kementrian Koperasi dan UMKM, 2015).
Menurut Fatimah (2011:52) UMKM dianggap sebagai aset nasional dan memiliki potensi bagi daerah yang mengembangkannya. Dimana, UMKM dianggap sebagai usaha dalam pemerataan pembangunan di Indonesia. Tidak hanya menargetkan pembangunan di pusat, namun menargetkan pembangunan daerah dan hendaknya harus masuk ke dalam perencanaan pembangunan di daerah. Hal tersebut didukung oleh keunggulan UMKM yang terletak pada pemanfaatan padat karya dan sumber daya alam, utamanya pada sektor rumah makan/restoran, peternakan, perikanan, perkebunan dan rumah perdagangan. Usaha skala menengah mempunyai kelebihan dalam penciptaan nilai tambah pada sektor persewaan, penginapan, keuangan dan lain sebagainya. Sedangkan, usaha-usaha besar unggul pada sektor industri pengolahan diantaranya, gas, listrik, pertambangan, dan lain-lain. Ketika terjadinya krisis yang sangat berdampak pada usaha skala besar, peran UMKM sangat diakui oleh masyarakat.
Menurut Pratomo dan Soedjono (2002:14) alasan UMKM mampu bertahan dan cenderung mengalami peningkatan jumlah pada saat krisis yaitu:
Modal dari UMKM sendiri merupakan modal milik pribadi dan tidak mendapat modal dari bank yang menyebabkan pada saat krisis dan sektor perbankan menaikan suku bunga tidak mempengaruhi UMKM. Ketika terjadinya krisis ekonomi yang berkelanjutan, sektor formal melakukan pemberhentian terhadap pekerjanya, sehingga pengangguran tersebut masuk ke dalam sektor informal dengan melakukan kegiatan berskala kecil yang mengakibatkan meningkatnya jumlah UMKM.
Akan tetapi, menurut LPPI dan BI (2015) walaupun UMKM memiliki peranan penting dalam perekonomian negara, namun masih banyak permasalahan-permasalahan UMKM yang perlu dibenahi yaitu sebagai berikut: Internal: Modal, SDM, Hukum , dan Akuntabilitas. Eksternal: Iklim usaha yang belum kondusif, Infrastruktur, dan Akses Sedangkan permasalahan yang dihadapi oleh UMKM di Indonesia menurut beberapa sumber lain Rendahnya tingkat akses pada sumber daya produktif. UMKM yang memiliki orientasi ekspor hanya sebesar 0,13%. (BPS,2005) Sumber daya manusia yang ada di UMKM masi tergolong rendah, tamatan SD sebanyak 64% (BPS, 2005Tingkat produktivitas yang masih rendah. UMKM hanya menghasilkan 0,014% dari produktivitas besar, dan 56% dari produktivitas secara nasional (BPS, 2005 – 2007).
Berdasarkan peran dan permasalahan yang di hadapi, UMKM menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Dalam undang-undang tersebut diatur mengenai upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan UMKM. Diantaranya dengan melakukan pemberdayaan terhadap UMKM, agar dapat menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan usaha. Peningkatan dan pengembangan potensi UMKM di Indonesia juga didukung sektor perbankan melalui penyaluran kredit kepada pelaku UMKM. Menurut data dari Bank Indonesia, setiap tahunnya kredit yang diberikan kepada UMKM meningkat. Walaupun pada 2015, sekitar 60%-70% dari seluruh sektor ini belum mempunyai akses pembiayaan melalui perbankan. Bank Indonesia telah menetapkan ketentuan yang mewajibkan kepada perbankan untuk memberikan kredit/pembiayaan kepada UMKM. Sehingga, dimulai pada tahun 2015 sebesar 5%, tahun 2016 sebesar 10%, tahun 2017 sebesar 15%, dan pada akhir tahun 2018 sebesar 20%.
Meskipun, pendampingan terhadap UMKM bukan tugas pokok Bank Indonesia.
Akan tetapi, keterlibatan Bank Indonesia diperlukan dalam mengatasi
permasalahan yang dihadapi oleh UMKM. Sebagaimana di dalam Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1999, BI ikut melakukan kegiatan pendampingan untuk menghadapi permasalahan dalam UMKM, Terlebih Bank Indonesia yang bersifat independen dan tidak memiliki campur tangan dari pihak manapun, yang memiliki tujuan yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Pendampingan terhadap UMKM ini juga dilakukan demi mewujudkan tugas utama Bank Indonesia yaitu menjaga stabilitas moneter.
Selama ini UMKM masih menghadapi berbagai kendala, salah satunya dari sisi akses keuangan. Hal ini disebabkan keterbatasan UMKM dalam menghasilkan laporan keuangan, yang menjadi salah satu tolak ukur lembaga keuangan dalam menilai kelayakan penerima kredit. Sisi penawaran pengembangan UMKM adalah usaha yang dilakukan BI dalam memperkuat fasilitas keuangan. Karena potensi yang dimiliki inilah perlu adanya pembinaan yang dilakukan terhadap UMKM khususnya kopi. Mitra binaan yang dipilih oleh Bank Indonesia bersifat kelompok dan harus mempunyai nilai tambah pada kepentingannya serta menitikberatkan pada pengembangan ekonomi lokal. Dimulai dari Kantor Perwakilan Malang Bank Indonesia mencari informasi mengenai UMKM yang perlu dikembangkan.
A. KAJIAN PUSTAKA Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Terdapat banyak pengertian mengenai Usaha Mikro Kecil dan Menengah baik yang dikemukakan oleh instansi, lembaga maupun Undang- Undang. UU RI No 20 tahun 2008 mengemukakan tentang pengertian dan kriteria dari UMKM. Usaha mikro atau kecil merupakan usaha perorangan atau badan usaha perorangan dan memenuhi syarat dan kriteria yang telah diatur dalam undang- undang, usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dan dilakukan perorangan atau badan usaha dan bukan bagian dari anak perusahaan atau bukan anak dari cabang perusahaan yang dikuasai, dimiliki, atau menjadi bagian baik secara langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau besar yang memenuhi syarat menjadi usaha kecil. Usaha menengah merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dan dilakukan secara perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bagian langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil dan usaha besar yang memiliki jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana yang telah diatur dalam undang-undang ini pada pasal 6.
Peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
Berdasarkan Undang-Undang No 20 Tahun 2008 Bab II pasal 3 menyatakan bahwa: “Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memiliki tujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan”.
UMKM mempunyai peran yang penting bagi perekonomian Indonesia.
Menurut Kemenkop UMKM (2020) ada tiga peran UMKM yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat kecil diantaranya:
1. Sebagai sarana pengentasan masyarakat dari jurang kemiskinan alasan paling utama adalah tingginya angka penyerapan tenaga kerja oleh UMKM. Hal ini dibuktikan dengan data yang dimiliki oleh Kementrian Koperasi dan UMKM. Dikatakan bahwa lebih dari 55,2 juta unit UMKM dapat menyerap sekitar 101,7 juta orang.
2. Sebagai sarana untuk meratakan tingkat perekonomian rakyat kecil.
UMKM juga memiliki peran yang penting dalam pemerataan ekonomi masyarakat. Berbeda halnya dengan perusahaan besar, UMKM mempunyai lokasi di berbagai wilayah, termasuk di daerah yang jauh
Keunggulan dan Permasalahan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Firmansyah (2018:31-32) Mengemukakan keunggulan UMKM adalah sebagai berikut: “UMKM mempunyai beberapa kekuatan potensial yang merupakan andalan yang menjadi basis pengembangan pada masa yang akan datang diantaranya:
1. Penyediaan lapangan kerja
Peran industri kecil dalam penyerapan tenaga kerja patut diperhitungkan, diperkirakan mampu menyerap sampai dengan 50% tenaga kerja yang tersedia.
2. Sumber wirausaha baru
Keberadaan UMKM selama ini terbukti dapat menyokong tumbuh kembangnya wirausaha baru.
3. Mempunyai segmen usaha pasar yang unik, melaksanakan manajemen sederhana dan fleksibel terhadap perubahan yang terjadi di pasar.
4. Memanfaatkan sumber daya alam sekitar
Industri kecil sebagian besar memanfaatkan limbah atau hasil sampah dari industry besar atau industry lainnya.
5. Mempunyai potensi untuk berkembang
Berbagai upaya pembinaan dan pelatihan yang dilaksanakan menunjukkan hasil yang menggambarkan bahwa industry kecil mampu untuk dikembangkan lebih lanjut dan mampu untuk mengembangkan sector lain yang terkait.
Pelatihan dan Pengembangan
Hamalik (2007) menyatakan pelatihan adalah suatu fungsi manajemen yang perlu dilakukan secara terus menerus dengan tujuan pembinaan ketenagakerjaan suatu organisasi. Pelatihan merupakan suatu proses pendidikan jangkan pendek yang menggunakan prosedur yang sistematis dan terstruktur dimana pegawai non manajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis dalam tujuan terbatas (Mangkunegara, Anwar Prabu, 2011).
Pengembangan secara umum yaitu pola peningkatan, perubahan secara perlahan atau evolusi dan perubahan secara bertahap. Pengembangan berarti proses mengartikan atau menjabarkan spesifikasi rancangan keadaan kedalam bentuk fitur fisik. (Seels & Richey dalam Alim Sumarno, 2010). Sedangkan menurut Alim Sumarno (2012) pengembangan tidak hanya mentikberatkan pada analisis kebutuhan, akan tetapi juga isu-isu yang luas mengenai analisis awal-akhir, seperti analisis kontekstual. Menurut UU RI No 18 tahun 2002 pengembangan merupakan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki tujuan untuk memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya dalam rangka untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru.
Prinsip dan Tujuan Pelatihan dan Pengembangan
Prinsip dan tujuan pelatihan serta pengembangan UMKM sesuai dengan UU No 20 tahun 2008 tentang UMKM yaitu:
Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan UMKM untuk berkarya dengan inisiatif sendiri.
1. Perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan.
2. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi UMKM.
3. Peningkatan daya saing UMKM.
4. Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.
Sedangkan tujuan pelatihan dan pengembangan UMKM diantaranya:
1. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan.
2. Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.
3. Meningkatkan peran UMKM dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
Manfaat Pelatihan dan Pengembangan
Manfaat dari memberikan pelatihan dan pengembangan kepada pelaku UMKM menurut Global Leaderhip Center (2016) adalah:
1. Meningkatkan produktivitas
2. Mengurangi biaya dan jumlah kecelakaan kerja 3. Meminimalkan masa belajar
4. Pengaturan keuangan yang optimal 5. Sadar akan teknologi baru
Strategi Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Strategi merupakan tindakan yang memiliki potensi yang memerlukan keputusan dari top management dan sumber daya suatu perusahaan atau organisasi dalam jumlah yang banyak. (David, 2006:17) mengatakan bahwa strategi secara umum adalah pendekatan yang dilakukan secara menyeluruh yang berhubungan dengan pelaksanaan ide dan perencanaan suatu kegiatan dalam waktu tertentu.
Pengembangan dapat diartikan sebagai suatu bentuk usaha yang diperbuat dengan tujuan untuk memajukan, melakukan perbaikan dan melakukan peningkatan pada sesuatu yang sudah ada yang dilakukan secara sistematis dan bertahap agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Adapun strategi pengembangan UMKM menurut Kartasasmita (1996:5) hendaknya meliputi beberapa aspek, diantaranya:
1. Peningkatan akses kepada aset produktif, terutama modal, disamping teknologi, manajemen, dan aspek lainnya.
2. Peningkatan pada akses pasar
3. Pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan atau skill
4. Dalam arti luas kelembagaan ekonomi berarti pasar, maka dengan memperkuat pasar merupakan sesuatu yang penting
5. Kemitraan usaha.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menekankan pada penggambaran kejadian yang telah ada atau berlandaskan pada kondisi objek yang alamiah,
yang dimana peneliti memiliki peran sebagai instrument utama. Pendekatan studi kasus merupakan penelitian yang meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada dalam masyarakat yang dilakukan secara mendalam untuk mempelajari latar belakang, keadaan, dan interaksi yang terjadi, Studi kasus dilakukan pada suatu kesatuan sistem yang dapat berupa suatu program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang ada pada keadaan atau kondisi tertentu. Dalam konteks penelitian ini, akan memberikan gambaran dan meneliti secara mendalam latar belakang program, proses pelaksanaan pendampingan terhadap UMKM serta dampak yang diterima oleh UMKM yang mengikuti program pendampingan oleh Bank Indonesia.
Unit Analisis dan Penentuan Informan
Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan kriteria tertentu. Adapun kriteria sampel ialah:
1. UMKM Binaan Bank Indonesia pada tahun 2020 2. UMKM Kopi Binaan Bank Indonesia pada tahun 2020
Informan dibutuhkan dalam penelitian kualitatif karena berperan sebagai sumber penggalian informasi. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa informan haruslah benar-benar memahami serta memiliki latar belakang yang berkaitan dengan kejadian yang diteliti sehingga dapat memberikan gambaran yang sebenarnya. Maka informan yang dipilih pada penelitian ini ialah:
1. Pihak Bank Indonesia Kota Malang selaku yang mengadakan Program pendampingan
2. Peserta yang mengikuti program pendampingan UMKM yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam hal ini UMKM Kopi.
Model Pengumpulan Data
Pada penelitian ini peneliti melakukan pengamatan secara langsung terhadap obyek guna mendapatkan data yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data yang dipakai peneliti diantaranya:
1. Interview / wawancara mendalam 2. Observasi
3. Dokumentasi
C. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembinaan UMKM dalam Program Workshop On Boarding Bank Indonesia
Program pelatihan pengembangan UMKM sebenarnya sudah lama berjalan, tetapi dilakukan secara offline yaitu dengan mengadakan pertemuan pelatihan, bazar, studi banding dan Bank Indonesia juga mempertemukan pengusaha UMKM kepada jaringan pasarnya. Namun dimasa pandemi ini pelatihan dialihkan menjadi online melalui aplikasi Zoom, bertujuan untuk mengenalkan kepada pengusaha UMKM agar lebih mengenal teknologi dan cara-cara pengelolaan usaha yang baik, yang notabennya pengusaha UMKM rata-rata lemah dalam hal ini. Pemilihan anggota pelatihan On Boarding Bank Indonesia tidak serta merta dilakukan dengan pendaftaran separti pada kebanyakan, melainkan dengan melakukan riset yang dibantu dengan dinas-dinas terkait yang berada di daerah, UMKM yang terpilih biasanya berdasarkan keunikan dan prestasinya.
Tabel 3 Pembinaan Kegiatan UMKM dalam Program Workshop On Boarding Bank Indonesia
No. Materi Pelatihan Kegiatan Keterangan
1. Marketing Cara memasarkan produk Memberikan pengenalan yang mendalam mengenai produk dan analisa konsep pemasaran agar produk tepat sasaran 2. Marketplace Cara menjual produk di
Tokopedia
Mengimplementasikan pemasaranproduk
menggunakan akun marketplace Tokopedia 3. Pengelolaan
Pembukuan
Cara menyusun laporan usaha Menambah wawasan dan mengajarkan cara mengelola laporan usaha yang benar dan
terperinci 4. Fotografi Trik foto produk, membuat
konten pemasaran
Memberikan pengarahan dan praktek cara pengambilan gambar produk sesuai angle yang tepat, agar lebih indah dan menarik.
Sumber: Diolah oleh peneliti, 2021
Dampak Pembinaan UMKM dalam Program Workshop On Boarding Bank Indonesia
Dampak terhadap Kuantitas Perkembangan Usaha
Keuntungan yang didapatkan oleh UMKM binaan Bank Indonesia cukup banyak dirasakan oleh UMKM binaan. Dalam penelitian ini, UMKM binaan mendapatkan beberapa peningkatan dalam usahanya yaitu peningkatan omset, asset, jangkauan usaha dan juga pengetahuan baru mengenai trik pemasaran online marketplace.
Tabel 4 Pengembangan Usaha UMKM Binaan Bank Indonesia Secara Kuantitas
N o.
UMKM Binaan
Omzet Asset Jangkauan Usaha
1.
Marliadi (Kopi Margading)
Ada sedikit peningkatan
Ada penambaha n mesin pulper dan mesin roasting bantuan dari Bank Indonesia
Ada peningkatan dalam jangkauan usaha, mulai dikenal secara nasional
2. Hariono (Kopi Amadanom )
Ada kenaikan sedikit, terutama dalam penjualan produk green bean
Ada penambahan mesin roasting, greading dan transportasi alat
mengangkut kopi (viar) yang
Ada peningkatan jangkauan pemasaran yang lebih luas lagi, terutama di café-café area Malang, Batu, Surabaya,dan Jakarta.
didapatkan dari bantuan BankIndone sia
3. Heryanto (Kopi Sridonoretn o)
Ada kenaikan sedikit
tetapi kurang signifikan
Ada penambaha n beberapa mesin yang didapatkan dari bantuan Bank Indonesia yaitu, mesin roasting, mesin rotary, mesin bundar dan siller.
Jangkauan usaha semakin bertambah setelah mengikuti pelatihan, penjualan sudah merambah sampai
Jakarta, Medan, Subang dan Bandung
4. Duwianto (Kopi Kawi)
Belum ada peningkatan
omzet yang signifikan
Belum ada peingkatan aset
Jangkauan usaha
bertambah dengan
mendapatkan order dari supermarket Basmalah
dari Pasuruan dan mulai dilirik oleh jaringan pemasaran kenamaan di kota Malang 5.
Widi (Kopi Ledug)
Ada peningkatan omset
yang cukup signifikan
Ada penambahan asset dari bantuan Bank Indonesia berupa alat produksi.
Jangkauan usaha semakin bertambah setelah mengikuti pelatihan, mulai terkenal di lingkup café- café se-Jawa timur dan beberapa café di Jepang, Korea, Italia, Belanda dan Taiwan
6.
Hidayat (Kopi Sumadi)
Ada peningkatan sejak menjadi binaan
Bank Indonesia
Ada penambaha n mesin yang didapatkan dari bantuan Bank Indonesia berupa
Jangkauan usaha semakin luas setelah mengikuti pelatihan, mermbah sampai Jepang, Perancis dan Jerman
mesin Pulper dan Roasting
Sumber : Diolah oleh peneliti, 2021 Dampak terhadap Kualitas Diri Pengusaha
Diluar adanya perubahan kuantitas usaha, para pelaku UMKM juga merasakan adanya perubahan dari segi kualitas diri setelah mengikuti pelatihan On Boarding binaan Bank Indonesia. Bagi para pelaku UMKM yang paling berpengaruh selama mengikuti pelatihan On Boarding dimasa pandemi Covid-19 ini justru lebih mengarah ke rasa percaya diri, ambisi untuk sukses, kemampuan pembukuan juga peningkatan kreativitas dan inovasi serta siap mengambil dan menghadapi resiko.
Tabel 5 Perkembangan Kualitas Diri Pengusaha
UMKM Binaan
Rasa Percaya Diri Ambisi Untuk Sukses Pengelolaan Pembukuan
Kreatif dan Inovatif
Keberanian Mengambil Resiko Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Marliadi (Kopi Margading)
Kuran g percay
a diri
Lebih percaya diri
dalam berwirausaha
Pasif dan terima
apa adanya
Lebih berani dalam mengelola
usaha (menerima
jasa pengolahan
kopi saat penjualan sepi)
Pembukua n dikelola seadanya
Pembukua n lebih rinci
Masih tradision al
Mulai bervariasi
produk yang ditawarkan
Pemasaran dilakukan dengan menunggu
pembeli datang
Mulai berani merambah pemasaran online
Hariono (Kopi Amadanom )
Percaya diri sudah ada
Lebih percaya diri
dan kuat secara mental
Melayan i penjuala
n disekitar
Malang saja
Berani untuk membuka distributor di
Jakarta
Dikelola apa adanya
Pengelolaa n pembukuan
lebih baik dari sebelumnya
Memasarka n produk
secara konvensiona
l
Meningkat dan fokus pada penjualan
online
Produks i seadanya
Meningkatka n kapasitas
produksi
Siadi (Sridonoretno
)
Belum ada rasa percaya diri
Semakin percaya diri
Menjalank a nusaha dengan pemikiran apa adanya
Mulai perhatian
dengan kualitas produk
dan segmen pasar yang dituju
Belum ada pembukua n
Mulai ada pengelolaa n pembukuan
Kemasa n biasa saja
Pengemasan produk lebih variatif sesuai segmen
pasar
Menjual produk awuran saja
Berani memproduksi
kopi dari berbagai segmen dengan dua pilihan jenis produk, bubuk dan green bean
Heryanto (Kopi Kawi)
Sedikit percay
a diri
Lebih mantap dan percaya
diri
Hany a menju al kopi
Menjual kopi mulai dari kopi mentah,
kopi bubuk hingga terima
jada sangrai kopi.
Sudah ada tapi apa adanya
Lebih baik dan matang pengelolaan pembukuann
ya
Foto dan pemasaran produk biasa saja
Lebih berani dalam membuat
konten pemasaran
produk
Pemasaran dilakukan
secara offline
Meramba h pemasara
n online
Widi (Kopi Ledug)
Ada percay a diri tapi kaku
Lebih percaya diri dan fleksibel
Pemasaran hanya sekitar daerah asal
Sudahmulai menguasai pasar lokal dan sedang branding di kalangan supplier café-
café besar baik lokal maupun internasional
Sudah ada Pengelolaan pembukuan lebih rapi dan tertata
Menjual kopi bubuk saja
Lebih berani menjual produk yang mirip dengan kopi- kopi brand besar
Melakukan penjualan grosir saja
Melayani penjualan retail hingga grosir
Sumber: Diolah oleh peneliti, 2021
Tabel 6 Manfaat Program Pelatihan Workshop On Boarding No. Manfaat Bentuk Pembinaan Keterangan 1. Aspek
Ekonomi
Melalui bantuan Asset Meningkatkan pendapatan dengan meningkatnya kuantitas produksi 2. Aspek
Teknologi
Melalui pelatihan pemasaran dengan marketplace Tokopedia
Meningkatkan pengetahuan UMKM binaan dalam pengelolaan pemasaran secara online dengan pemanfaatan teknologi yang uptodate
3. Aspek Manajemen
Melalui pelatihan pengelolaan pembukuan
Meningkatkan pengetahuan UMKM binaan mengenai tata kelola pembukuan yang baik meskipun belum dilakukan secara maksimal Sumber : Diolah oleh peneliti, 2021
Evaluasi Program On Boarding Bank Indonesia Evaluasi Pra – Pelaksanaan
Pada proses pra-pelaksanaan dimulai dari tahap perekrutan pendamping UMKM hingga pendamping siap dalam menjalankan perannya dalam mendampingi UMKM binaan Bank Indonesia. Pada proses ini, peneliti menemukan bahwasanya pendamping UMKM tidak diberikan pelatihan terkait pendampingan UMKM sehingga dalam menjalankan tugasnya, pendamping UMKM masih kelabakan saat UMKM binaan melakukan konsultasi terhadap pendamping UMKM.
Evaluasi Pelaksanaan
Dalam proses pelaksanaan, evaluasi mencakup pemberian materi kepada UMKM binaan.
Permasalahan yang dijumpai saat Program On Boarding Bank Indonesia ialah jadwal workshop yang kerap bertabrakan dengan kegiatan peserta UMKM sehingga dirasa perlu adanya transfer ilmu yang dilakukan peserta UMKM kepada anggota usaha lainnya, sehingga disaat jadwal workshop berbenturan dengan kegiatan usaha, peserta tetap dapat mengikuti materi yang digantikan oleh anggota usaha lainnya.
Evaluasi Pasca Pelaksanaan
Proses pasca pelaksanaan merupakan proses yang terjadi setelah Program Workshop On Boarding terlaksana, dimana peneliti menemukan adanya masukan dari UMKM binaan bahwa terdapat juga materi yang belum mampu dia terapkan, hal ini dikarenakan keterbatasan SDM dalam menyerap materi yang diberikan serta materi yang diberikan belum sesuai dengan yang terjadi dilapangan.
D. KESIMPULAN DAN SARAN
Hidayat (Kopi Sumadi)
Sudah ada Lebih percaya diri dan tangguh
Dipasarka n di area terdekat saja
Mulai melirik peluang pasar internasional
Sudah ada Lebih tertata dan rapi
Konten pemasaran konvension
al
Konten pemasaran lebih kreatif
Menjual kopi saja
Menjual kopi yang lebih
variatif segmentasiny
a
Kesimpulan
Penelitian ini memiliki 2 tujuan yaitu mengetahui pelaksanaan Program Pendampingan On Boarding Bank Indonesia 2020 pada UMKM kopi di Kota Malang. Tujuan kedua adalah mengetahui dampak dari Program Pendampingan On Boarding Bank Indonesia 2020 pada UMKM kopi terhadap pengembangan UMKM kopi di Kota Malang.
Berdasarkan hasil temuan lapangan serta analisa yang telah dilaksanakan, ditemukan bahwa program telah terlaksana sesuai dengan tujuan awal program yaitu meningkatkan kapasitas ekonomi dan pengendalian inflasi namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kekurangan seperti:
1.
Tidak adanya pembekalan materi terhadap pendamping UMKM2.
Materi pembukuan yang diberikan terlalu detail dan belum sesuai dengan realita yang terjadi dilapangan.3.
Membuka perekrutan binaan UMKM secara umum kepada masyarakat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.Namun secara keseluruhan kegiatan Program On Boarding Bank Indonesia ini memiliki dampak yang nyata dan dirasakan oleh mitra binaan khususnya UMKM Kopi. Dampak ini bermanfaat bagi Perkembangan usaha maupun dari kualitas diri pengusaha yang menjalankan, Dari segi perkembangan usaha misalnya :
1.
Lima dari enam UMKM binaan mengalami peningkatan omzet namun tidak signifikan, tetapi terdapat satu UMKM yang mengalami kenaikan cukup signifikan.2.
Lima dari enam UMKM binaan mengalami penambahan aset sekitar dua hingga tiga alat produksi dan terdapat satu UMKM yang belum mengalami peningkatan aset.3.
Sedangkan dari segi jangkauan usaha enam UMKM Kopi hasil binaan Bank Indonesia mengalami perluasan jangkauan daerah usaha, dimulai dari skala domestik hingga internasional.Sedangkan dari aspek kualitas diri pengusaha:
1.
Enam UMKM yang diteliti mengalami peningkatan rasa percaya diri dalam menjalankan usaha.2.
Enam umkm mengalami peningkatan ambisi untuk sukses dalam menjalankan usahanya.3.
Enam UMKM yang diteliti sebelumnya menggunakan metode konvensional dalam pembukuan namun setelah dilakukannya pembinaan terhadap UMKM, pembukuan menjadi lebih rapi dan rinci.4.
Enam UMKM yang dibina Bank Indonesia mulai melakukan penjualan secara online.Saran
Berdasarkan hasil temuan dilapangan, berikut ini merupakan beberapa rekomendasi peneliti, yang diharapkan rekomendasi ini dapat membangun khususnya divisi Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM (FPPU) Bank Indonesia dalam melaksanakan Program On Boarding Bank Indonesia sehingga program-program yang dijalankan menjadi lebih baik.
Rekomendasi ini diharapkan pula dapat memberikan masukan bagi UMKM Binaan Bank Indonesia khususnya UMKM Kopi sehingga Usaha nya menjadi lebih berkembang, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Saran untuk divisi Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM (FPPU) Bank Indonesia
1. Memberikan materi terlebih dahulu terhadap Pendamping UMKM yang akan mendampingi UMKM. Hal ini dilatarbelakangi oleh masih
minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh Pendamping UMKM terkait penanganan UMKM yang didampingi.
2. Diharapkan dapat memberikan pelatihan terkait pengoperasian komputer. Hal ini dilatarbelakangi oleh masih terdapatnya UMKM yang belum paham terkait pengoperasian komputer sehingga kesulitan dalam mengaplikasikan materi yang diberikan.
3. Membuka perekrutan binaan UMKM secara umum kepada masyarakat yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Hal ini dilatarbelakangi oleh perekrutan UMKM Binaan yang masih dilakukan secara tertutup.
Saran untuk Para Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kopi Bank Indonesia
1. Mitra Binaan Bank Indonesia diharapkan lebih terbuka terhadap permasalahan yang dihadapi kepada Pendamping UMKM sehingga permasalahan yang masih dijumpai saat Program On Boarding berlangsung maupun permasalahan dalam usaha selama ini, sehingga pendamping dapat mengadakan sharing dengan pihak Bank Indonesia dan menghadirkan solusi.
2. Mitra Binaan diharapkan melakukan transfer tanggung jawab kepada rekan ataupun keluarga yang menjalankan usaha, sehingga saat penyampaian materi pada Program On Boarding berlangsung, tidak ada lagi UMKM yang tidak menghadiri karena acara lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Anwar Prabu Mangkunegara, 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Abdurrahman, dkk. (2011). Memahami penelitian: bidang sosial- administrasi- pendidikan). Bandung: CV Pustaka Setia
Abipraja, Soedjono, 2002. Perencanaan pembangunan di Indonesia : konsep, model, kebijaksanaan, instrumen serta strategi, Airlangga University Press, Surabaya.
Ananda , Amin Dwi, dkk, Pengembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (Umkm) Berbasis Industri Kreatif Di Kota Malang, Jurnal Ilmu Ekonomi Vol X Jilid X/Tahun Hal. 120 – 142
A Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2004), hlm. 54. Universitas Muhammadiyah Malang Ade Syafitri, 2012, Pelaksanaan Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, Dan
Menengah (UMKM) Dalam Program Kemitraan Sebagai Wujud Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility), Universitas Indonesia
Alim Sumarno. (2012). Perbedaan Penelitian dan Pengembangan.
Alyas, Rakib Muhammad. 2017. Strategi Pengembangan Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Dalam Penguatanekonomi Kerakyatan (Studi Kasus pada Usaha Roti Maros di Kabupaten Maros. Jurnal ekonomi Universitas Negeri Makassar)
Barney, Jay. B. 2007. Gaining and Sustaining Competitive Advantage.
NewJersey: Pearson Prentice-Hall. Kartasasmita, G., 1996.
Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Cides. Jakarta
David, Fred R. 2006. Manajemen Strategis : Konsep. Edisi Sepuluh. Jakarta : Salemba Empat
Dinas Koperasi Dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Pada Tahun 2016 (diakses pada 6 Desember 2020)
Fatimah dan Darna. (2011). Peranan Koperasi dalam Mendukung Permodalan Usaha Kecil dan Mikro. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol.. 10, No. 2:
127-138
Global Leaderhip Center 2016 (diakses pada 5 Desember 2020)
Hamalik, Oemar, 2000, Manajemen Pendidikan dan Pelatihan, Bandung: Y.P Permindo
https://glcworld.co.id/pelatihan-usaha-kecil-mengengah/ (2016) diakses pada 17 November 2020 http://www.bi.go.id/id/publikasi/serikebanksentralan (5 Desember 2020) https://www.bi.go.id/id/tentang-bi/profil/organisasi/Default.aspx (diakses pada
22 April 2021)
https://malangkota.go.id/tag/bi-malang/ (diakses pada 22 April 2021) http://www.kemenkopukm.go.id/read/teten-target-lima-tahun-ke-depan- sebanyak-
48-000-usaha-kecil-naik-kelas (diakses pada 22 September).
Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, 2010-2018 Kemenkop UMKM 2020
LPPI & BI (2015). Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM).
Jakarta, Bank Indonesia.
M. Anang Firmansyah dan Andrianto, Didin Fatihuddin,. 2019. Manajemen Bank.
Surabaya: CV. Penerbit Qiara Media-32
Manurung, Adler Haymans. 2008. Modal Untuk Bisnis UKM. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP.
Moekijat. 1991. Motivasi dan Pengembangan Management. Bandung:
Alumni 1981.
Moleong, L.J. (2007). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moleong, Lexy J. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif, Penerbit PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung (Abdurrahman, 2011:85) Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta:
Rineka Cipta.
Pertiwi, Gani dan Abdullah Said. 2012. Peranan Dinas Koperasi dan Ukm dalam Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Kota Malang. Jurnal Administrasi Publik, Vol.1, No.2.
Pratomo, Tiktik Sartika dan Abd. Ranchman Soedjono. 2002. Ekonomi Skala Kecil/Menengah & Koperasi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Putra, Hermon Adhy dan Kurniawati, Elisabeth Penti. (2012). Penyusunan Laporan Keuangan Untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Berbasis Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik (SAK-ETAP). Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas
Kristen Satya Wacana. Salatiga. Hal-547-549.
Simamora, Henry. 2006. Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta:
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Soeprihanto.2001. Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan.
Yogyakarta: BPFE
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Penerbit CV. Alfabeta:
Bandung. Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung : Alfabeta.
Suharto, Edi. membangun masyarakat memberdayakan rakyat, bandung:Refika Aditama, 2005.
Tri Hendro dan Conny Tjandra Rahardja, Bank dan Institusi Keuangan Non Bank di Indonesia, Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014, h. 64-67.
(Said, Pertiwi dan Gani, 2012).
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, Bab I pasal 1