• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRIMINALITAS PROPERTI DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013-2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KRIMINALITAS PROPERTI DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013-2017"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH KEMISKINAN, DISPARITAS PENDAPATAN, PENDIDIKAN DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TERHADAP JUMLAH

KRIMINALITAS PROPERTI DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013-2017

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Rizkiana Fauziah 155020101111002

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2019

(2)
(3)

ANALISIS PENGARUH KEMISKINAN, DISPARITAS PENDAPATAN, PENDIDIKAN DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA TERHADAP

JUMLAH KRIMINALITAS PROPERTI DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013-2017

Rizkiana Fauziah

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya [email protected]

ABSTRAK

Kriminalitas properti adalah kriminalitas yang menjadikan barang orang lain sebagai objek kejahatan dengan tujuan untuk meningkatkan utilitas pelaku. Tindak kriminalitas sering dikaitkan dengan permasalahan ekonomi berupa kemiskinan, disparitas pendapatan, rendahnya tingkat pendidikan serta pengangguran. Berdasarkan data jumlah kriminalitas yang dilaporkan Polda Jawa Timur merupakan Polda dengan kriminalitas tertinggi nomor 3 setelah Polda Metrojaya dan Polda Sumatera Utara dimana 29.3% dari total kriminalitas adalah kriminalitas properti yang berupa pencurian kendaraan bermotor, pencurian dengan kekerasan dan pencurian berat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemiskinan, disparitas pendapatan, pendidikan dan tingkat pengangguran terbuka terhadap jumlah kriminalitas properti di Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2013-2017. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa Timur serta Laporan Statistik Keamanan dan Politik. Hasil dari penelitian ini adalah variabel kemiskinan berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kriminalitas properti, variabel disparitas pendapatan yang diukur dengan gini rasio tidak berpengaruh signifikan, variabel pendidikan yang diukur dengan rata-rata lama sekolah berpengaruh signifikan negatif dan variabel tingkat pengangguran terbuka berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kriminalitas properti.

Kata kunci: Kriminalitas properti, Kemiskinan, Disparitas pendapatan, Pendidikan dan Tingkat pengangguran terbuka

A. LATAR BELAKANG

Menurut Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan manusia (Maslow, 1943), rasa aman berada pada tingkatan yang ke dua dibawah kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Hal tersebut juga tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28G ayat 1 yang menyebutkan bahwa rasa aman merupakan Hak Asasi Manusia yang harus diperoleh setiap warga negara. Hal tersebut berarti bahwa keamanan juga menjadi tanggung jawab Pemerintah sebagai pemegang kebijakan, meskipun demikian di era globalisasi yang disertai dinamika pertumbuhan budaya dan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan persaingan dalam berbagai hal, baik itu ideologi, ekonomi, maupun kemasyarakatan, sehingga sedikit banyak menyebabkan masalah disparitas pendapatan, kemiskinan dan masalah pengangguran bagi orang-orang yang tidak dapat mengikuti globalisasi tersebut. Orang menganggur dan tidak punya pekerjaan berarti tidak memiliki ekspektasi penghasilan dari pekerjaan yang legal, karena itulah orang yang menganggur berpotensi lebih besar untuk melakukan kejahatan dibandingkan dengan orang yang bekerja, ketimpangan distribusi pendapatan dalam masyarakat, perbedaan tingkat pendidikan juga menjadi salah satu faktor pendorong tingginya tingkat kriminalitas (Freeman, 1996).

Berdasarkan data jumlah kriminalitas yang dilaporkan pada Tahun 2016 Provinsi Jawa Timur merupakan wilayah Polda dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Indonesia setelah Polda Metrojaya dan Polda Sumatera Utara dengan rata-rata mencapai 31.875 kasus per tahun dari 2013-2017 dan mencapai rata-rata nasional pada tahun 2016. Selanjutnya, 29.3% dari total kriminalitas di Jawa Timur

(4)

merupakan kriminalitas properti yang terdiri dari pencurian kendaraan bermotor, pencurian dengan kekerasan dan pencurian berat. Sebagaimana yang disebutkan oleh Freeman (1996) bahwa kemiskinan, disparitas pendapatan, pengangguran dan rendahnya tingkat pendidikan menjafaktor terjadinya kriminalitas terutama kriminalitas proproperti, data persentase kemiskinan di Jawa Timur menujukkan bahwa dari Tahun 2013-2017 mengalami penurunan kecuali di Tahun 2015, sedangkan data gini rasio mengalami peningkatan. Selanjutnya, data rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan meskipun angkanya cenderung masih rendah, untuk data tingkat pengangguran terbuka terus berfluktuasi dari tahun 2013-2017. Sedangkan untuk data kriminalitas properti juga terus mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan di Tahun 2016.

B. KAJIAN TEORI

Secara etimologis, istilah kriminologi berasal dari kata “crime” dan “logos”. Crime berarti kejahatan, sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan, jadi secara umum kriminologi dapat ditafsirkan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kejahatan atau lebih tegasnya dapat kita maknai sebagai sarana untuk mengetahui sebab dan akibat kejahatan (Abdulsyani, 1987:6). Kriminologi ialah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bagaimana kejahatan itu sendiri, objek yang dipelajari adalah pelaku kejahatan dengan maksud untuk mengetahui sebab-sebabnya sehingga pelaku kejahatan tersebut memang benar jahat ataukah disebabkan karena keadaan sosiologi maupun ekonomi (Noach, 1984). Menurut Sullivan (dalam Maulana, 2014) dalam pandangan Ilmu Ekonomi sendiri memandang kriminalitas sebagai sesuatu yang menyebabkan ketidak efisienan alokasi sumberdaya dan mendistorsi harga sehingga jumlahnya harus ditekan. Oleh karenanya, ilmu ekonomi menggunakan kerangka yang dimiliki dalam mengoptimalkan alokasi sumber daya untuk menekan angka kejahatan ke tingkat serendah-rendahnya. Analisa ekonomi dalam tindak kejahatan digunakan untuk menganalisis kejahatan properti, yaitu kejahatan dengan motif meningkatkan utilitas (pendapatan) bagi pelaku. Terdapat asumsi rasionalitas dalam ekonomi kejahatan yaitu pelaku kejahatan melakukan aksinya berdasarkan perhitungan cost benefit dan melakukan respon terhadap insentif. Oleh karenanya, kejahatan yang bisa dianalisa melalui pendekatan ekonomi adalah kejahatan property. Kejahatan properti adalah kejahatan yang ditujukan untuk mengambil harta benda milik korban. Pada umumnya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tidak menggunakan kekerasan, serta dilandasi dengan perhitungan rasional untung rugi. Termasuk dalam tindak kejahatan properti adalah penipuan, pencurian yang termasuk pencurian dengan kekerasan, pencurian berat serta pencurian kendaraan bermotor dan lain-lain.

Berikut ini adalah teori-teori yang menjelaskan hubungan antara variabel sosio ekonomi terhadap kriminalitas properti. Yang pertama adalah teori yang dikemukakan oleh Becker pada tahun 1968, menurut Becker (1968) pendekatan rasionalitas pada dasarnya digunakan dalam hal pengambilan suatu keputusan. Dengan pendekatan rasionalitas ini diharapkan mampu untuk meramalkan secara tepat akibat-akibat dari suatu pilihan atau keputusannya tersebut sehingga dapat diperhitungkan asas biaya maupun manfaatnya serta mempertimbangkan beberapa masalah yang saling berkaitan. Dalam hal kejahatan pendekatan rasionalitas juga digunakan untuk mempertimbangkan beberapa hal yang menyangkut untung rugi yang pelaku dapatkan dari pengambilan keputusan untuk masuk ke dalam aktivitas kriminal. Keputusan melakukan kejahatan adalah keputusan yang rasional karena didasarkan atas maksimalisasi utilitas. Seorang yang akan masuk ke dalam aktivitas illegal pasti akan melakukan beberapa pertimbangan seperti probabilitas untuk ketahuan dan tertangkap, hukuman yang mungkin akan didapatkan, nilai potensial dari jaringan kejahatan yang ada, dan kebutuhan jangka pendeknya terhadap hasil kejahatan tersebut. Dengan kata lain, pelaku kejahatan merespon insentif berupa net benefit dari tindak kejahatan, hal ini dilakukan untuk meningkatkan utilitasnya. Kejahatan bagi pelaku merupakan cara untuk meningkatkan utilitas dengan memperbesar pendapatan secara illegal. Kurva utilitas menunjukkan hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat utilitas, berbentuk concave karena menunjukkan asumsi diminishing marginal utility income yaitu naiknya utilitas akibat naiknya pendapatan pada tingkat yang berkurang.

(5)

Seperti teori keseimbangan pada umumnya , kriminalitas juga memiliki tingkat keseimbangan yang terbentuk dari sisi permintaan dan sisi penawaran. Dari sisi penawaran, kriminalitas ditentukan oleh pelaku kejahatan yang melakukan tindak kejahatan. Penawaran kriminalitas tersebut memunculkan permintaan masyarakat akan perlindungan keamanan dari tindak kriminalitas di wilayahnya. Pemerintah mempengaruhi keduanya, yaitu; sebagai pemberi jasa keamanan dan pemberi hukuman bagi para pelaku (Becsi, 1999). penawaran kejahatan terbentuk karena beberapa factor, antara lain; ekspektasi harta rampasan, biaya langsung dalam memperoleh harta rampasan, upah rata- rata di pasar kerja yang legal, peluang ditangkap, dan selera tiap individu dalam melakukan kejahatan.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bergesernya kurva penawaran adalah faktor demografi (perubahan proporsi pemuda), kesempatan pekerjaan yang sedikit dalam tingkat upah tertentu, dan perubahan kebijakan pemenjaraan. Pendidikan dan kesejahteraan mungkin juga dianggap dapat meningkatkan opportunity cost dalam melakukan tindak kejahatan terkait kenaikan pendapatan dari pekerjaan yang legal (Becsi, 1999). Permintaan kejahatan kejahatan merupakan permintaan untuk perlindungan dan asuransi dari individu atau masyarakat yang mempunyai hubungan negatif terhadap kejahatan, hubungan negatif timbul diakibatkan karena tindak kejahatan mendorong individu untuk meningkatkan usaha perlindungan diri sendiri, misalnya dengan mengunci pintu, merekrut anggota keamanan, dan sebagainya) yang dimana tindakan tersebut akan meningkatkan biaya langsung dari tindak kriminalitas dan menurunkan imbalan kejahatan. Maka dari itu, keseimbangan antara penawaran dan permintaan kejahatan digambarkan dalam sebuah kurva sebagai berikut:

Gambar 1: Kurva Supply and Demand of Crime Sumber: Becsi (1999)

Keseimbangan tingkat kejahatan ditentukan oleh perpotongan antara kurva permintaan dan penawaran yang ditunjukkan pada titik E dimana itu bergeser ke kiri dari titik L. Pengaruh eksogen akan menggeser keseimbangan, dimana kekuatan pengaruh tersebut ditentukan dari elastisitas kurva permintaan dan penawaran. Kurva total permintaan adalah penjumlahan dari permintaan privat/individu dan permintaan publik. Kurva permintaan total berada dibawah kurva permintaan privat dikarenakan kombinasi dari usaha publik dan privat dalam mencegah tindak kejahatan. Kurva cenderung lebih elastis atau datar karena lebih banyak kesempatan subtitusi terjadi. Peningkatan pada tingkat hukuman atau penangkapan pelaku kejahatan yang ditangkap akan digantikan oleh pelaku kejahatan yang baru, tergantung pada kekuatan efek pencegahan dari hukuman. Jika efek pencegahan itu lemah maka individu akan mudah bersubtitusi pada kegiatan kriminal dan mungkin kejahatan tidak bisa turun secara signifikan (Becsi, 1999).

Teori kejahatan dan kondisi ekonomi juga dijelaskan oleh Adler sekitar Tahun 1925 – 1940 dan masih populer hingga sekarang. Teori-teori ini memfokuskan pada pengaruh tekanan sosial dan ekonomi yang menyebabkan masyarakat melakukan tindakan kriminal. Di dalam sejarah

Supply

Private

Total Demand L

E

Net Payoff to Crime

Quantity of Crime

(6)

perkembangan sebab-sebab kejahatan, sejak era kuno kejahatan terutama disebabkan oleh kemiskinan.

Bergeser ke era renaissance, penyebab kejahatan adalah ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi telah menjadi issu lama penyebab kejahatan. Kondisi ekonomi baik mikro maupun makro menurut teori ini merupakan sebagai faktor penyebab dari kejahatan. Untuk menguraikan bagaimana perekonomian dapat menjadi penyebab tindakan kriminal, maka diciptakan teori Anomie dan Teori Strain sebagai berikut:

Teori Anomie.

Teori Anomie pertama kali dikemukakan oleh sarjana sosiologi Perancis Emil Durkheim, ide dasar yang menarik perhatian d tingkah laku yang disebabkan oleh kondisi ekonomi dalam masyarakat. Durkheim berpendapat bahwa keinginan atau hasrat manusi tak terbatas, sehingga manusia memiliki suatu standart yang realistis dalam perekonomian mereka. Durkheim ingin menyampaikan secara sederhana, bahwa faktor penyebab kejahatan adalah kondisi ekonomi makro suatu masyarakat bukan hanya perekonomian mikro saja.

Sebagai contoh, depresi hebat di Amerika menyebabkan kondisi ekonomi makro Amerika Serikat runtuh, pengangguran dimana-mana dan tentunya tingkat kejahatan semakin tinggi karena semua orang ingin memenuhi kebutuhan meskipun dengan cara yang illegal.

Bagaimana masyarakat akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya jika kondisi perkeonomian makro suatu negara juga tidak mampu menjamin kebutuhan hidup warga negaranya. Kondisi sebaliknya, apabila negara menuntut terlalu tinggi terhadap warga negaranya dengan pembangunan yang cepat dan memaksa padahal kondisi masyarakat belum siap untuk mengikuti perkembangan tersebut maka akan tercipta kondisi Anomie, seperti keadaan Inggris saat revolusi Industri dan Agraria (Effendi, 2017).

Teori Strain.

Konsep Anomie yang diemukakan oleh Durkheim dikembangkan secara brillian oleh Robert K. Merton pada Tahun 1938 terhadap penyimpangan tingkah laku pada masyarakat Amerika. Merton menjelaskan bahwa masyarakat Amerika telah melembaga mengejar kesuksesan semaksimal mungkin yang umumnya diukur dari harta kekayaan yang dimiliki oleh seseorang. Untuk mencapai tujuan tersebut masyarakat telah menetapkan cara-cara tertentu yang legal/diakui dan dibenarkan. Namun, dalam kenyataannyatidak semua orang mencapai tujuannya melalui cara yang dibenarkan/legal. Oleh karena itu terdapat beberapa individu yang berusaha mencapai tujuan dengan cara melanggar Undang-undang, pada umumnya pelanggaran itu dilakukan oleh masyarakat kelas bawah dan minoritas (Effendi, 2017).

Ketidaksetaraan kelas kondisi sosial dan ekonomi yang ada pada masyarakat Amerika disebabkan oleh struktur masyarakat yang anomistis. Strain teori berasumsi bahwa individu pada dasarnya taat hukum, tetapi berada di bawah tekanan besar membuat mereka melakukan kejahatan, disparitas antara tujuan dan sarana inilah yang memberikan sebuah tekanan. Anggota kelas bawah/minoritas menjadi sangat terbebani, karena ia harus benar- benar berbakat atau sangat beruntung untuk mencapai tujuan itu. Kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kenyataan menjadikan Amerika sebagian populasinya alam keadaan Strain. Merton juga menyadari bahwa kebanyakan orang meskipun memiliki akses yang terbatas tidak melakukan penyimpangan, akan tetapi melakukan adaptasi (Effendi, 2017).

Teori Psikogenesis.

Menurut teori ini Menurut teori ini, faktor-faktor penyebab dari tindakan kriminalitas adalah tingkat intelegensi seseorang, ciri kepribadian dan motivasi diri, dimana tingkat intelegensi seseorang dapat diukur dari tingkat pendidikan yang telah ditempuh. Seseorang yang telah menempuh pendidikan setinggi mungkin, dapat diasumsikan bahwa dia lebih bisa berpikir rasional (Effendi, 2017).

(7)

C.

METODE PENELITIAN

Secara spesifik, jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, yaitu menjelaskan hubungan antar variabel dengan menganalisis data numerik (angka) menggunakan metode statistik melalui pengujian hipotesa. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Timur yang mencakup wilayah 9 Kota dan 29 Kabupaten. Metode analisis yang penulis gunakan secara umum untuk menganalisis tentang pengaruh tingkat kemiskinan, gini rasio, tingkat pendidikan dan tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur adalah regresi data panel. Dengan model penelitian sebagai berikut:

= + + + (1) = + + + +

(2) Dimana:

KP = Kriminalitas Properti a = Konstanta

I = Cross section (9 Kota dan 29 Kabupaten) t = Time series

e = Error

Poverty = Persentase penduduk miskin Gr = Gini rasio

RLS = Rata-rata lama sekolah

TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka (%)

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan satu variabel terikat dan empat variabel bebas.

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kriminalitas properti yang diukur dari jumlah peristiwa kriminal atau tindak pidana yang terjadi dalam satu periode waktu yang telah ditentukan. Dalam penelitian ini penulis ingin meneliti tindak pidana yang berupa pencurian dengan kekerasan, pencurian berat dan pencurian kendaraan bermotor. Sedangkan variabel independen terdiri dari Kemiskinan yang diukur dengan persentase penduduk miskin atau persentase penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan (GK), variabel gini rasio dimana gini rasio adalah salah satu ukuran yang digunakan untuk melihat ketimpangan ekonomi dalam masyarakat (semakin mendekati angka 1 maka semakin timpang), variabel tingkat pengangguran terbuka yang merupakan persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja dan selanjutnya adalah variabel pendidikan yang diukur dengan rata- rata lama sekolah dimana rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jenjang pendidikan yang ditempuh/ditamatkan masyarakat, artinya masyarakat tersebut terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan baik di suatu jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar/sederajat dan SMP/sederajat, pendidikan menengah yaitu SMA/sederajat dan pendidikan tinggi taitu PT/sederajat) maupun non formal (Paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA) yang berada di bawah pengawasan Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Kementrian Agama (Kemenag), dan instansi lainnya negeri maupun swasta.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Ada 3 teknik yang biasanya digunakan dalam analisis data panel yaitu Common Effect Model, Fixed Effect Model dan Random Effect Model (Widarjono, 2007). Model terpilih atau model yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah Fixed Effect Model dengan pembobotan Weighted Cross Section untuk menghilangkan masalah asumsi klasik yaitu Heterokedastisitas. Berikut ini adalah hasil analisis regresi data panel, uji t, uji F dan R²:

(8)

Tabel 1: Hasil Analisis Regresi Data Panel, Uji t, Uji F, dan R²

Sumber: Data diolah (2019)

Berdasarkan hasil regresi diatas, uji t menyatakan bahwa variabel Kemiskinan (X1_Poverty) memiliki nilai Prob < (0.05), yang berarti bahwa variabel kemiskinan yang diukur dengan persentase kemiskinan berpengaruh signifikan positif terhadap jumlah kriminalitas properti. Variabel gini rasio (X2) memiliki nilai Prob > (0.05) yang berarti bahwa gini rasio tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kriminalitas propert. Variabel Tingkat pengangguran terbuka memiliki Prob <

(0.05) yang berarti bahwa tingkat pengangguran terbuka berpengaruh signifikan positif terhadap jumlah kriminalitas properti. Variabel Rata-rata lama sekolah (X4) memiliki nilai Prob < (0.05) dan memiliki nilai koefisien negatif yang berarti bahwa tingkat pengangguran terbuka berpengaruh signifikan negatif terhadap jumlah kriminalitas properti. Selanjutnya, hasil uji F menyatakan bahwa variabel independen (Variabel kemiskinan, gini rasio, tingkat pengangguran terbuka, dan rata-rata lama sekolah) berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen (kriminalitas properti) karena nilai Prob(F-statistic) bernilai 0.0000 < (0.05). Selanjutnya dapat dilihat bahwa nilai R-Square 0.956 yang artinya pada model regresi ini variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 95.6%, sedangkan sisanya 4.4% dijelaskan oleh variabel lain di luar model ini.

Berdasarkan hasil regresi tersebut diketahui bahwa variabel kemiskinan berpengaruh signifikan positif terhadap jumlah kriminalitas properti, artinya ketika persentase kemiskinan meningkat maka jumlah kriminalitas properti di Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2013-2017 akan meningkat, dan sebaliknya ketika persentase kemiskinan turun, maka jumlah kriminalitas akan ikut turun. Secara umum kemiskinan dapat diartikan sebuah keadaan dimana sekelompok orang atau individu tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kesejahteraan hidupnya, sehingga peluang-peluang yang datang melalui cara illegal akan mudah diterima semata- mata dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup.Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Anomie yang dikemukakan oleh Emil Durkheim yang menyebutkan bahwa buruknya kondisi ekonomi baik mikro maupun makro adalah penyebab dari adanya tindak kriminalitas khususnya kriminalitas properti yang berorientasi ekonomi. Perekonomian mikro diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar jelas memiliki korelasi langsung dengan tindak kriminalitas khususnya kriminalitas property (Effendi, 2017). Selanjutnya, variabel gini rasio tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kriminalitas properti di Provinsi Jawa Timur Tahun 2013-2017, hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh A.H Baharom yang berjudul “Crime and Income Inequality : The Case of Malaysia”. Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang berarti antara gini rasio dengan kriminalitas (total crime, burglary, violent crime, property crime, theft) di Malaysia, berdasarkan penjelasan penulis hal ini dikarenakan semua data melalui transformasi log sehingga estimasi akan kurang sensitif terhadap pencilan data dan bisa saja kriminalitas untuk studi

Variable Coefficient t-Statistic Prob.

X1_Poverty 1.371301 3.252073 0.0014

X2_Gini rasio -0.021473 -0.203433 0.8391

X3_TPT 0.127101 2.271379 0.0246

X4_RLS -1.278598 -3.025184 0.0029

C 4.010990 2.320001 0.0217

R-Square 0.956938

Prob(F-statistic) 0.000000 Durbin-Watson stat 2.205656 Sum sq resid weighted 18.35220 Sum sq resid unweighted 19.17388

(9)

kasus di Malaysia memang tidak ada hubungannya dengan ketimpangan pendapatan melainkan dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi lainnya tetapi tidak dijelaskan secara spesifik. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Ralph C. Allen berjudul “Socioeconomic Conditions and Property Crime” juga menyabutkan bahwa gini rasio atau ketimpangan pendapatan tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kriminalitas properti di Amerika Serikat dengan menyebutkan 2 alasan.

Pertama, memungkinkan ketimpangan di Amerika Serikat diartikan lebih ke arah kemampuan individu untuk berkembang, bukan dari ketidak adilan struktur sosial dan ekonomi sehingga dalam hal ini ketimpangan pendapatan tidak menjadi masalah serius dalam struktur sosial, dan yang ke dua dapat dijelaskan melalui pergeseran titik keseimbangan kurva supply and demand kejahatan karena adanya peningkatan keamanan dari individu dan pemerintah, dan kurva cenderung elastis karena tingginya efek subtitusi yang terjadi, penangkapan pelaku kejahatan akan digantikan oleh pelaku kejahatan yang baru tergantung pada kekuatan efek pencegahan dari hukuman. Jika efek pencegahan itu lemah maka individu akan mudah bersubtitusi pada kegiatan kriminal, sehingga pada akhirnya kriminalitas itu akan tetap ada.

Menurut teori Supply and Demand kejahatan, adanya penawaran kejahatan terbentuk karena beberapa faktor salah satunya adalah upah rata-rata dan ketersediaan lapangan pekerjaan. Sedangkan faktor yang dapat menggeser kurva penawaran kejahatan salah satunya adalah kesempatan pekerjaan yang sedikit dalam tingkat upah tertentu. Mengapa seorang penganggur dapat melakukan tindak pencurian? Karena pada dasarnya ketika seseorang menganggur maka tidak ada kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar baik bagi dirinya maupun bagi keluarganya, sehingga tidak sedikit seorang pengangguran yang memilih jalan pintas untuk memebuhi kebutuhan dengan cara yang illegal. Dari gambaran tersebut dapat dibayangkan bahwa ketika tingkat pengangguran terus bertambah, maka semakin bertambah pula angkatan kerja yang terdesak kebutuhannya sehingga menyebabkan jumlah kriminalitas ikut naik. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan teori yang telah dijelaskan bahwa tingkat pengangguran terbuka berpengaruh signifikan positif terhadap jumlah kriminalitas property di Provinsi Jawa Timur Tahun 2013-2017. Selanjutnya, berdasarkan hasil regresi variabel pendidikan yang diukur dengan rata-rata lama sekolah berpengaruh signifikan negatif terhadap jumlah kriminalitas property di Jawa Timur Tahun 2013-2017, hal ini sejalan dengan teori Psikogenesis yang menyebutkan bahwa salah satu faktor dalam diri individu yang dapat mencegahnya untuk melakukan tindak kriminalitas adalah tingkat intelegensi yang dapat diukur dari tingkat pendidikan. Diasumsikan bahwa, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka orang tersebut dapat berpikir secara rasional sehingga fungsi dari pendidikan disini adalah mereduksi tingkat kriminalitas.

Hasil dari penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lochner (2004) yang menyatakan bahwa ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan tingkat kriminalitas. Alasannya adalah pendidikan yang tinggi membuat seseorang memperolah pekerjaan yang legal/resmi sehingga memperoleh penghasilan yang lebih baik, selanjutnya seseorang yang berpendidikan tinggi akan cenderung berpikir secara rasional untuk tidak berbuat criminal khususnya kriminalitas properti karena manfaat yang terlalu kecil (Expected benefit < Expected cost).

E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan menunjukkan bahwa variabel kemiskinan (X1) yang menggunakan data persentase kemiskinan berpengaruh signifikan dan positif terhadap tingkat kriminalitas properti yang terjadi di Provinsi Jawa Timur (38 Kabupaten/Kota) Tahun 2013-2017, artinya ketika persentase penduduk miskin mengalami peningkatan, maka jumlah kriminalitas properti juga akan meningkat, dan sebaliknya. Penurunan pada persentase penduduk miskin akan direspon dengan penurunan jumlah kriminalitas properti yang terjadi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2013-2017.

(10)

Merujuk pada hasil pembahasan menunjukkan bahwa variabel gini rasio (X2) tidak berpengaruh signifikan dengan arah yang negatif terhadap kriminalitas properti pada studi kasus di Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 – 2017. Merujuk pada penelitian sebelumnya, semakin kaya seseorang maka akan dibebankan pajak yang semakin tinggi oleh Pemerintah yang nantinya akan dialokasikan untuk mereduksi kriminalitas properti, misalnya dengan menambah jumlah polisi per kapita, memperbaiki sistem penerangan jalan, jembatan, dan tempat-tempat sepi lainnya atau menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran. Adanya efek subtitusi pada kasus kriminalitas juga menjadi faktor mengapa kriminalitas ini sulit berkurang secara signifikan meskipun banyak pelaku yang tertangkap karena akan muncul pelaku kriminalitas yang baru.

Tingkat Pengangguran Terbuka (X3) berpengaruh signifikan dan positif terhadap kriminalitas properti di Provinsi Jawa Timur (38 Kab/Kota) Tahun 2013-2017. Artinya, ketika tingkat pengangguran terbuka meningkat, jumlah kriminalitas properti di Provinsi Jawa Timur juga akan meningkat atau sebaliknya, adanya penurunan pada tingkat pengangguran terbuka akan direspon dengan penurunan jumlah kriminalitas properti yang terjadi di Jawa Timur pada Tahun 2013 - 2017.

Rata-rata lama sekolah (X4) berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kriminalitas properti di Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 – 2017. Artinya, ketika angka rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan, maka jumlah kriminalitas properti akan turun dan sebaliknya, adanya penurunan angka rata-rata lama sekolah akan direspon dengan peningkatan jumlah kriminalitas properti di Jawa Timur Tahun 2013 – 2017.

Saran

Pemerintah harus terus melanjutkan dan mengembangkan berbagai program yang bertujuan untuk menanggulangi kemiskinan seperti memperbesar alokasi anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin dengan memberikan masyarakat miskin jaminan di bidang kesehatan, pendidikan dan ketersediaan pangan.

Mengetahui bahwa tingkat pengangguran terbuka berpengaruh terhadap jumlah kriminalitas properti, maka Pemerintah Kab/Kota khususnya diharapkan untuk memperluas kesempatan kerja guna menyeimbangkan peningkatan jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mempermudah syarat administratif seperti perizinan usaha, serta pemerintah dapat mengembangkan program dana usaha bagi UMKM dengan bunga yang kecil, lalu memperbanyak industri yang berbasis padat karya sehingga lebih banyak tenaga kerja manusia yang terserap, serta mengadakan pelatihan khusus untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja saat ini.

Selanjutnya, mengetahui bahwa tingkat rata-rata lama sekolah juga menjadi faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya jumlah kriminalitas properti, pemerintah juga perlu mengembangkan lagi fasilitas pendidikan yang memadai dan berkualitas khususnya sarana pendidikan di plosok-plosok desa agar fasilitas pendidikan dapat dirasakan secara merata baik itu di Kota maupun di desa dan pemberian beasiswa bagi siswa yang tidak mampu. Selain itu, penambahan pendidikan budi pekerti dalam kurikulum juga perlu dilakukan sejak dini di bangku sekolah, bukan hanya sebagai mata pelajaran yang berupa teori tetapi juga harus dipastikan diterapkan dalam kehidupan se hari-hari, dalam hal ini peran guru yang berkualitas sangat diperlukan.

Pemerintah perlu memperketat sistem keamanan dengan menambah jumlah polisi perkapita, serta menegakkan sanksi hukum yang tegas dan adil kepada para pelaku kriminal tanpa terkecuali. Dalam hal ini, pemerintah juga perlu memperbaiki kembali infrastruktur penerangan jalan dan tata ruang wilayah agar tidak menjadi tempat yang berpotensi untuk terjadinya tindak kriminalitas properti karena pelaku kriminalitas properti sering beraksi di tempat yang minim penerangan dan sepi.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Jawa Timur. 2017. Statistik Politik dan Keamanan Prov. Jawa Timur 2017.

https://www.google.com/search?client=firefox-b-

ab&q=Statistik+Politik+dan+Keamanan+Prov.+Jawa+Timur+2017. Diakses tanggal 16 November 2018.

Becker, Gary S. 1968. “Crime and Punishment: An Economic Approach.” TheJournal of Political

Economy, Vol 76, No.2.

https://www.researchgate.net/publication/303377010_Becker%27s_theory_on_crime_and_puni shment_a_useful_guide_for_law_enforcement_policy_in_The_Netherlands. Diakses 15 November 2018.

Becsi, Zscolt. 1999. “Economics and Crime in The States.” Atlanta: Federal Reserve Bank of Atlanta.

Effendi, Tolib. 2012. Dasar Dasar Kriminologi. (Malang: Setara Press).

Freeman, Richard B. 1996. “Why Do So Many Young American Men Commit Crimes And What Might We Do About It ?”. Journal of Economic Perspectives, Vol. 10, No. 1. Pp. 25-42.

https://www.nber.org/papers/w5451. Diakses 1 Oktober 2018.

Lochner, L., & Moretti, E. 2003. The Effect of Education on Crime : Evidence from Prison Inmates, Arrests and Self Reports.

Maslow, A.H (1943). “A Theory Of Human Motivation” psychological Review. 50 (4), 370-396.

Maulana, Tresna. 2014. Pengaruh Umur, Pendidikan, Pendapatan Dan Jumlah Tanggungan Keluarga Terhadap Tingkat Kejahatan Pencurian Dengan Pendekatan Ekonomi. Tidak diterbitkan.

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro : Semarang.

Noach; B, Simandjuntak; dan I.L, Pasaribu.1984. Kriminologi. Tarsito, Bandung Syani, Abdul. 1987. Sosiologi Kriminalitas. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Widarjono, Agus. 2007. Ekonometrika: Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi ke dua.

Yogyakarta: Ekonisia FE Universitas Islam Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dari estimasi pengaruh tingkat pendidikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur, diketahui bahwa koefisien regresi pada variabel tingkat pendidikan

The impact of a programme designed to improve literacy for Aboriginal and Torres Strait Islander students in remote schools’ published as a peer reviewed article in the Australian