• Tidak ada hasil yang ditemukan

KTi Mahasiswa Bimbingan Sharon

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KTi Mahasiswa Bimbingan Sharon"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

Permaida, M.Kep., Sp.Kep.A selaku pembimbing 1 yang selalu membantu saya, menyemangati dan membimbing saya dalam penyusunan makalah ini sehingga saya dapat menyelesaikannya dengan baik. Malianti Silalahi, M.Kep., Sp.Kep.J selaku Pembimbing 2 yang selalu memimpin dalam hal penulisan memberikan motivasi dan semangat dalam penyusunan makalah ini. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan observasi, pemeriksaan fisik, wawancara dan hasil rekam medis pasien.

Hasil: Dari hasil tulisan ilmiah ini, penulis melakukan pengkajian keperawatan dengan mengumpulkan data subjektif dan objektif. Artikel ilmiah ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan mengenai asuhan keperawatan pada pasien vertigo untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada pasien.

  • Latar Belakang
  • Tujuan
    • Tujuan Umum
    • Tujuan Khusus
  • Manfaat
  • Bagi Rumah Sakit
  • Bagi Perawat
  • Bagi Mahasiswa Keperawatan

Perawat diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian pasien secara lengkap dan sistematis dengan menggunakan berbagai teknik seperti observasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Tahap akhir asuhan keperawatan dikenal dengan evaluasi keperawatan dengan cara mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yang dilakukan, apakah masalah sudah terpecahkan, terpecahkan sebagian, atau belum terselesaikan. Berdasarkan permasalahan yang ditimbulkan oleh vertigo inilah yang mendasari penulis untuk membahas kasus vertigo sebagai bahan keperawatan dalam penulisan ilmiah yang dilakukan di RS X pada tanggal 27 Februari sampai dengan 3 Maret 2023.

Kami berharap artikel ilmiah ini dapat menjadi referensi bagi perawat dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada pasien vertigo. Kami berharap artikel ilmiah ini dapat menjadi sumber bacaan bagi asuhan keperawatan pasien vertigo, sehingga dapat diterapkan pada pasien selanjutnya.

Konsep Dasar Vertigo

  • Pengertian
  • Etiologi
  • Manifestasi Klinis
  • Patofisiologi
  • Komplikasi
  • Penatalaksanaan

BPPV dapat terjadi tanpa adanya penyebab yang dapat menyebabkannya, namun dapat disebabkan oleh faktor usia penderita (MayoClinic, 2022). Neuritis vestibular atau labirinitis adalah suatu kondisi akibat infeksi yang menyebabkan peradangan pada telinga bagian dalam dan saraf yang mengatur keseimbangan tubuh (National Health Service UK, 2023). Secara umum gejala yang mungkin terjadi pada penderita vertigo antara lain pusing, pusing hebat, pusing saat bangun dari posisi tidur, mual, muntah, kulit pucat, keringat dingin (Tim Promkes RSST, 2022).

Secara umum gejala yang dapat timbul pada penderita vertigo adalah pusing, mual, muntah, kulit pucat, dan keringat dingin. Komplikasi lain yang dapat terjadi pada penderita vertigo adalah stroke yang dapat menyebabkan terganggunya hubungan antara otak besar (otak besar) dengan otak kecil/otak kecil (Han & Cornejo, 2022).

Asuhan Keperawatan

  • Pengkajian Keperawatan
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

Rasional: untuk memudahkan diagnosis masalah dan memulai terapi yang tepat serta berguna dalam mengevaluasi efektivitas terapi (Doenges et al., 2018). Rasional: pernafasan dapat meningkat karena nyeri, pelepasan katekolamin yang diinduksi nyeri meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah (Doenges et al., 2018). Rasional: nyeri dapat disebabkan atau diperburuk oleh berbagai faktor, seperti kecemasan, stres, suhu luar yang ekstrim (Doenges et al., 2018).

Memberikan motivasi kepada pasien untuk melakukan aktivitas Rasional: memberikan dukungan berkelanjutan dan meningkatkan partisipasi dalam proses pemulihan (Doenges et al., 2018). Rasional: menetapkan garis dasar, membantu memantau efektivitas rejimen terapeutik dan memberi tahu perawat tentang tren buruk (Doenges et al., 2018).

Pengkajian Keperawatan

Wajah pasien terlihat simetris, ekspresi wajah terlihat lesu, tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan. Tidak ada edema pada kedua mata dan nyeri tekan pada kelopak mata, kornea tampak bening, sklera anikterik, konjungtiva anemia, tekanan intraokular normal, tidak ada sensasi cairan, pupil isokhorik, refleks cahaya tidak ada. normal. Bentuk dada simetris kiri dan kanan, tidak terdengar stridor, frekuensi pernafasan 20x/menit dengan irama teratur, sputum tidak ada, pola pernafasan euforia, tidak terlihat sianosis atau tidak gada. .

Payudara normal, tidak ada massa/benjolan, tidak terlihat keluar cairan, tidak ada pembengkakan pada kelenjar getah bening aksila. Kekuatan otot 5/5 pada ekstremitas atas dan bawah, lengan dan tungkai pasien tidak mengalami edema, rentang gerak bebas dengan kekuatan otot yang mampu menahan gravitasi dan tahanan.

Pemeriksaan Penunjang

Terapi

Analisa Data

Diagnosa Keperawatan

Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi Keperawatan

Kata pasien “Kalau saya bergerak langsung pusing, kalau pusing saya berbaring supaya pusingnya reda.” Belum ditemukan penyebab nyerinya, pasien mengatakan "rasanya seperti terpelintir, bergoyang, vertigo dan melayang di sekitar kepala". Subjektif : Pasien mengatakan “Kalau saya bergerak saya langsung merasa pusing, jika pusing saya berbaring agar pusingnya mereda.

Data subyektif : Pasien mengatakan “Saya masih pusing, saya sulit tidur sejak tadi malam karena terus bermain”. Data subyektif: Pasien mengatakan “rasa pahit di mulut sudah membaik, namun masih tidak nafsu makan”. Data subyektif: Pasien mengatakan “Saya bisa makan susu lebih banyak, tapi saya masih tidak bisa duduk lama.”

Pasien mengatakan: “Ibu masih pusing saat duduk, sehingga anaknya menyusu dengan posisi tersebut. Subjektif: Pasien mengatakan tidak bisa ke toilet sendirian dan harus dibimbing oleh anaknya “Saat saya ke toilet mau berangkat saya pusing, jadi harus dibimbing oleh anak saya. Subjektif : Pasien mengatakan masih merasa pusing jika duduk atau berdiri terlalu tegak, “Jika duduk atau berdiri terlalu tegak masih merasa pusing sehingga duduk sedikit lagi.

Pasien mengatakan “saat saya duduk atau berdiri, ibu saya pusing, sehingga dibimbing oleh anaknya saat ingin ke toilet”. Pasien berkata, “Tidak apa-apa, saya punya anak, saya masih bisa melakukannya,” “Iya, kalau butuh bantuan, saya akan menelepon Anda.” Subyektif : Pasien mengatakan “Kalau saya duduk atau berdiri, ibu saya pusing sehingga dibimbing oleh anaknya jika ingin ke toilet.

  • Pengkajian Keperawatan
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

Menurut Kuo dkk (2008) pemeriksaan penunjang yang sebaiknya dilakukan pada pasien vertigo adalah tes impuls kepala, tes Romberg, tes Fukuda-Unterberger, manuver Dix-Hallpike dan saraf kranial terhadap fungsi vestibular dan disfungsi yang terjadi pada pasien vertigo, pemeriksaan penunjang harus dilakukan. berupa MRI (Magnetic Resonance Imaging) juga dilakukan untuk mengetahui kondisi patologi sentral dan apakah terdapat kondisi abnormal pada otak yang dapat menyebabkan vertigo (Kuo et al., 2008). Selain penyebab utama yang dapat menyebabkan vertigo, ada faktor lain yang dapat menyebabkan vertigo, salah satunya adalah hipertensi. Tanda dan gejala yang mungkin terjadi pada penderita vertigo antara lain pusing, pusing hebat, pusing saat bangun dari posisi tidur, mual, muntah, kulit pucat, keringat dingin, penurunan pendengaran, dan gangguan keseimbangan (Lui et al., 2022; RSST Health Promotion Tim, 2022).

Menurut teori, ada lima diagnosa yang dapat terjadi pada pasien vertigo, yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologis, risiko jatuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan, intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri akut, risiko defisiensi nutrisi yang dibuktikan dengan masukan makanan yang tidak mencukupi, dan gangguan persepsi sensorik pendengaran berhubungan dengan tinnitus (Jusuf & Wahidji, 2014 dalam Prasetya, 2021). Penderita vertigo mengalami gangguan keseimbangan sehingga meningkatkan risiko terjatuh, sehingga perlu dilakukan diagnosis risiko jatuh untuk meminimalisir jatuh yang mungkin terjadi pada pasien. Dalam buku Kelompok Kerja SIKI DPP PPNI (2018) belum ada tindakan edukasi berupa latihan manuver Brandt-Daroff atau manuver lainnya sebagai pengetahuan baru yang dapat digunakan pasien untuk mengurangi terjadinya vertigo di kemudian hari.

Untuk mendiagnosis risiko jatuh, penulis mengembangkan intervensi keperawatan berupa mengidentifikasi faktor risiko yang dapat menyebabkan pasien terjatuh, menskalakan jatuh menggunakan Morse Fall Scale, memasang rel tempat tidur, menempatkan bel dalam jangkauan pasien, dan merekomendasikan memanggil perawat jika perawat membutuhkan bantuan untuk bergerak. Hal ini mungkin terjadi karena penulis melakukan pendidikan kesehatan berupa senam Brandt-Daroff yang dapat membantu mengurangi rasa pusing. Hal ini juga dapat mengurangi perubahan posisi mendadak yang terjadi pada pasien sehingga mengurangi rasa pusing yang dapat terjadi akibat perubahan posisi.

Penulis dapat menjawab sebagian diagnosa risiko jatuh karena penulis selalu menyelidiki dan mengurangi faktor risiko yang dapat menyebabkan pasien terjatuh. Selain itu, pasien memiliki anggota keluarga yang memberikan perawatan 24 jam sehingga dapat meminimalkan mobilisasi yang dapat meningkatkan risiko terjatuh. Masa pengobatan yang relatif singkat menyebabkan tidak seluruh implementasi keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien dapat tercapai sehingga diagnosis tidak dapat ditegakkan.

Kesimpulan

  • Pengkajian Keperawatan
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

Penulis menemukan prioritas diagnosa keperawatan yang dialami pasien vertigo berupa nyeri akut, risiko defisiensi nutrisi, dan risiko terjatuh. Ditemukan bahwa tidak semua diagnosa keperawatan yang terjadi secara teori dapat ditemukan pada pasien vertigo. Kondisi pasien bisa bermacam-macam dan berujung pada munculnya diagnosa keperawatan lain yang menurut teori bahkan tidak ada.

Diagnosa keperawatan yang pasti muncul pada pasien pusing adalah nyeri akut dan risiko terjatuh. Oleh karena itu analisis data harus dilakukan dengan baik agar dapat mengetahui masalah keperawatan yang timbul pada pasien. Tidak semua intervensi keperawatan untuk satu diagnosis dapat diterapkan pada semua pasien yang mempunyai diagnosis keperawatan yang sama.

Intervensi keperawatan pada pasien vertigo yang perlu dilakukan adalah dengan mengidentifikasi penyebab vertigo dan keluhan yang dirasakan. Pada penderita vertigo yang disebabkan oleh BPPV (Benign Paroxymal Positional Vertigo), diperlukan tindakan berupa pelatihan manuver Brandt-Daroff untuk membantu mengatasi gerakan kepala tiba-tiba yang dapat menyebabkan vertigo. Kerja sama dengan tenaga kesehatan lain juga diperlukan untuk mengatasi permasalahan utama pasien, sehingga diperlukan komunikasi yang baik antar petugas kesehatan.

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien vertigo, terdapat banyak faktor yang dapat mendukung asuhan keperawatan secara keseluruhan. Berdasarkan hasil evaluasi keperawatan diperoleh bahwa tidak semua diagnosa keperawatan dapat teratasi hanya dalam waktu 3 hari pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan pemutakhiran yang secara spesifik menjelaskan waktu perawatan untuk setiap diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan kondisi medis individu pasien.

Saran

  • Rumah sakit
  • Perawat
  • Mahasiswa

Tidak hanya dukungan emosional saja yang harus diberikan kepada pasien, tindakan keperawatan seperti pengkajian komprehensif berupa pemeriksaan saraf kranial seringkali tidak dilakukan hingga pendidikan tentang manuver Brandt-Daroff atau teknik lainnya diterima. dari pasien. Prevalensi dan faktor risiko vertigo posisi paroksismal jinak pada pasien vertigo di Basrah, Irak. Faktor Risiko Vertigo Posisi dan Dampak Vertigo pada Kehidupan Sehari-hari: Kesehatan Nasional Korea dan.

Asuhan keperawatan Ny. K dengan pusing di ruang Baitul Izzah 2 RS Islam Sultan Agung Semarang. Omeprazole 1x40 mg 06.00 WIB Mengobati keluhan asam lambung berlebih, tukak lambung atau duodenum akibat konsumsi obat anti inflamasi non steroid (NSAID), penyakit refluks (GERD) dan gangguan hipersekresi seperti penyakit Zollinger-Ellison. Untuk menurunkan asam lambung dengan cara menghambat pompa proton yang berperan penting dalam produksi asam lambung.

Lampiran 1: Tabel Indikasi, Fungsi, dan Efek Samping Obat
Lampiran 1: Tabel Indikasi, Fungsi, dan Efek Samping Obat

Gambar

Tabel 3.2 Terapi Obat Ny. M
Tabel 3.3 Analisa Data dan Keperawatan Ny. M
Tabel 3.4 Diagnosa Keperawatan Ny. M
Lampiran 1: Tabel Indikasi, Fungsi, dan Efek Samping Obat

Referensi

Dokumen terkait

Summary of single-event transients on sub-10 nm node III-V MOSFETs is this dissertation Device FinFET Planar MOSFET Channel In0.53Ga0.47As In0.53Ga0.47As In0.3Ga0.7As Buffer