DAFTAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Nausea (D.0076)
2. Hipertermia (D.0130)
3. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001) 4. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
5. Risiko Hipovolemia (D.0034) 6. Diare (D.0020)
7. Risiko Syok (D.0039) 8. Risiko Hipotermia (D.0140) 9. Hipotermia (D.0131)
10.Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)
11. Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037) 12.Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129) 13.Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)
14.Risiko Ikterik Neonatus (D.0035) 15.Ikterik Neonatus (D.0024)
16.Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0038) 17.Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
18.Nyeri Akut (D.0077) 19.Konstipasi (D.0049)
20.Intoleransi Aktivitas (D.0056)
KUMPULAN ASUHAN KEPERAWAT
AN
RAWAT INAP ANAK (MERANTI)
RSUD DAYAKU
RAJA
1
Nausea (D.0076)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan tingkat nausea me nurun (L.08065), dengan kriteria hasil:
1. Perasaan ingin muntah menurun
Manajemen Mual (I.03117) Observasi
Identifikasi pengalaman mual
Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis: bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif)
Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup (mis: nafsu diharapkann, aktivita s, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur)
Identifikasi faktor penyebab mual (mis: pengobatan dan prosedur)
Identifikasi antiemetik untuk mencegah mual (kecuali mual pada kehamilan)
Monitor mual (mis: frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan) Terapeutik
Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual (mis: bau tidak sedap, suara, dan ran gsangan visual yang tidak menyenangkan)
Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis: kecemasan, ketakutan, kele lahan)
Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik
Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau, dan tidak berwarna, jika perl u
Edukasi
Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang mual
Anjurkan makanan tinggi karbohidrat, dan rendah lemak
Ajarkan penggunaan teknik non farmakologis untuk mengatasi mual (mis: biofeedb ack, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiemetik, jika perlu Manajemen Muntah (I.03118)
Observasi
Identifikasi pengalaman muntah
Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan (mis: bayi, anak-anak, dan mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif)
Identifikasi dampak muntah terhadap kualitas hidup (mis: nafsu diharapkann, aktivi tas, kinerja, tanggung jawab peran, dan tidur)
Identifikasi faktor penyebab muntah (mis: pengobatan dan prosedur)
Identifikasi antiemetik untuk mencegah muntah (kecuali muntah pada kehamilan)
Monitor muntah (mis: frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan) Terapeutik
Kontrol lingkungan penyebab muntah (mis: bau tidak sedap, suara, dan stimulasi v isual yang tidak menyenangkan)
Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab muntah (mis: kecemasan, ketakutan)
Atur posisi untuk mencegah aspirasi
Pertahankan kepatenan jalan napas
Bersihkan mulut dan hidung
Berikan dukungan fisik saat muntah (mis: membantu membungkuk atau menundu kkan kepala)
Berikan kenyamanan selama muntah (mis: kompres dingin di dahi, atau sediakan pakaian kering dan bersih)
Berikan cairan yang tidak mengandung karbonasi minimal 30 menit setelah munta h
Edukasi
Anjurkan membawa kantong plastik untuk menampung muntah
Anjurkan memperbanyak istirahat
Ajarkan penggunaan Teknik non farmakologis untuk mengelola muntah (mis: biofe edback, hipnosis, relaksasi, terapi musik, akupresur)
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiemetik, jika perlu
2
Hipertermia (D.0130)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan termoregulasi me mbaik (L.14134), dengan kriteria hasil:
1. Suhu tubuh membaik
Manajemen Hipertermia (I.15506) Observasi
Identifikasi penyebab hipertermia (mis: dehidrasi, terpapar lingkungan panas, pen ggunaan inkubator)
Monitor suhu tubuh
Monitor kadar elektrolit
Monitor haluaran urin
Monitor komplikasi akibat hipertermia Terapeutik
Sediakan lingkungan yang dingin
Longgarkan atau lepaskan pakaian
Basahi dan kipasi permukaan tubuh
Berikan cairan oral
Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami hyperhidrosis (keringat berl ebih)
Lakukan pendinginan eksternal (mis: selimut hipotermia atau kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)
Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
Berikan oksigen, jika perlu Edukasi
Anjurkan tirah baring Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu
3
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x6jam diharapkan termoregulasi membaik de ngan kriteria hasil (L.14134)
1. Menggigil menurun 2. Suhu tubuh membaik 3. Suhu kulit membaik
Manajemen Hipertermia (I.15506)
1.1 identifikasi penyebab hipertermia (mis: dehidrasi, terpapar lingkungan panas, penggunaan i nkubator)
1.2 Monitor suhu tubuh
1.3 Sediakan lingkungan yang dingin 1.4 Longgarkan atau lepaskan pakaian 1.5 Basahi dan kipasi permukaan tubuh 1.6 Berikan cairan oral
1.7 Anjurkan tirah baring
1.8 Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0001)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan bersihan jalan naf as meningkat (L.01002), dengan kriteria hasil:
1. Batuk efektif meningkat 2. Produksi sputum menurun 3. Mengi menurun
4. Wheezing menurun
5. Mekonium (pada neonatus) menurun
Manajemen Jalan Napas (I.01011) Observasi
Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
Monitor bunyi napas tambahan (misalnya: gurgling, mengi, wheezing, ronchi kerin g)
Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) Terapeutik
Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw thrust jika c uriga trauma fraktur servikal)
Posisikan semi-fowler atau fowler
Berikan minum hangat
Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal
Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
Berikan oksigen, jika perlu Edukasi
Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi
Ajarkan Teknik batuk efektif Kolaborasi
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
4
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan pola napas memb aik (L.01004), dengan kriteria hasil:
1. Dispnea menurun
2. Penggunaan otot bantu napas menurun 3. Pemanjangan fase ekspirasi menurun 4. Frekuensi napas membaik
5. Kedalaman napas membaik
Manajemen Jalan Napas (I.01011) Observasi
Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
Monitor bunyi napas tambahan (misalnya: gurgling, mengi, wheezing, ronchi kerin g)
Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) Terapeutik
Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw thrust jika c uriga trauma fraktur servikal)
Posisikan semi-fowler atau fowler
Berikan minum hangat
Lakukan fisioterapi dada , jika perlu
Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan endotrakeal
Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
Berikan oksigen , jika perlu Edukasi
Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi
Ajarkan Teknik batuk efektif Kolaborasi
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
5
Risiko Hipovolemia (D.0034)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan status cairan mem baik (L.03028), dengan kriteria hasil:
1. Output urin meningkat
2. Membran mukosa lembab meningkat 3. Tekanan darah membaik
4. Frekuensi nadi membaik 5. Turgor kulit membaik
Manajemen hipovolemia (I.03116) Observasi
Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba l emah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, me mbran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah)
Monitor intake dan output cairan Terapeutik
Hitung kebutuhan cairan
Berikan posisi modified Trendelenburg
Berikan asupan cairan oral Edukasi
Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis: NaCL, RL)
Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis: glukosa 2,5%, NaCl 0,4%)
Kolaborasi pemberian cairan koloid (albumin, plasmanate)
Kolaborasi pemberian produk darah
6
Diare (D.0020)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan eliminasi fekal me mbaik (L.04033), dengan kriteria hasil:
1. Kontrol pengeluaran feses meningkat 2. Keluhan defekasi lama dan sulit menurun 3. Mengejan saat defekasi menurun
4. Kontrol pengeluaran feses meningkat Peristaltik usus membaik
Manajemen Diare (I.03101) Observasi
Identifikasi penyebab diare (mis: inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, pro ses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stres, obat-obatan, pemberian botol susu)
Identifikasi Riwayat pemberian makanan
Identifikasi gejala invaginasi (mis: tangisan keras, kepucatan pada bayi)
Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses
Monitor tanda dan gejala hypovolemia (mis: takikardia, nadi teraba lemah, tekanan d arah turun, turgor kulit turun, mukosa kulit kering, CRT melambat, BB menurun)
Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianal
Monitor jumlah dan pengeluaran diare
Monitor keamanan penyiapan makanan Terapeutik
Berikan asupan cairan oral (mis: larutan garam gula, oralit, Pedialyte, renalyte)
Pasang jalur intravena
Berikan cairan intravena (mis: ringer asetat, ringer laktat), jika perlu
Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit
Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu Edukasi
Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap
Anjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas, dan mengandung laktosa
Anjurkan melanjutkan pemberian ASI Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (mis: loperamide, difenoksilat)
Kolaborasi pemberian antispasmodik/spasmolitik (mis: papaverine, ekstrak belladon na, mebeverine)
Kolaborasi pemberian obat pengeras feses (mis: atapugit, smektit, kaolin-pektin) Pemantauan Cairan (I.03101)
Observasi
Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
Monitor frekuensi napas
Monitor tekanan darah
Monitor berat badan
Monitor waktu pengisian kapiler
Monitor elastisitas atau turgor kulit
Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
Monitor kadar albumin dan protein total
Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kal ium, dan BUN)
Monitor intake dan output cairan
Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba l emah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, me mbran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, hasil, lemah, k onsentrasi urin meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)
Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis: dispnea, edema perifer, edema anasar ca, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojugular positif, berat badan men urun dalam waktu singkat)
Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis: prosedur pembedahan ma yor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan p ancreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)
Terapeutik
Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Dokumentasikan hasil pemantauan
7
Risiko Syok (D.0039)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan tingkat syok menu run (L.03032), dengan kriteria hasil:
1. Tekanan arteri rata-rata membaik (LIHAT: Kalkulator MAP) 2. Tekanan darah sistolik membaik
3. Tekanan darah diastolik membaik 4. Tekanan dari membaik
5. Pengisian kapiler membaik 6. Frekuensi nadi membaik 7. Frekuensi napas membaik
Pencegahan Syok (I.02068) Observasi
Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi napas, TD, MAP)
Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD)
Monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit, CRT)
Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
Periksa Riwayat alergi Terapeutik
Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 94%
Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu
Pasang jalur IV, jika perlu
Pasang kateter urin untuk menilai produksi urin, jika perlu
Lakukan skin test untuk mencegah reaksi alergi Edukasi
Jelaskan penyebab/faktor risiko syok
Jelaskan tanda dan gejala awal syok
Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda dan gejala awal syok
Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
Anjurkan menghindari alergen Kolaborasi
Kolaborasi pemberian IV, jika perlu
Kolaborasi pemberian transfusi darah, jika perlu
Kolaborasi pemberian antiinflamasi, jika perlu
8
Risiko Hipotermia (D.0140) :Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan termoregulasi me mbaik (L.14134), dengan kriteria hasil:
1. Suhu tubuh membaik 2. Menggigil menurun 3. Suhu kulit membaik
Manajemen Hipotermia (I.14507) Observasi
Monitor suhu tubuh
Identifikasi penyebab hipotermia (mis: terpapar suhu lingkungan rendah, pakaian ti pis, kerusakan hipotalamus, penurunan laju metabolisme, kekurangan lemak subk utan)
Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia (mis: hipotermia ringan: takipnea, disart ria, menggigil, hipertensi, diuresis; hipotermia sedang: aritmia, hipotensi, apatis, k oagulopati, refleks menurun; hipotermia berat: oliguria, refleks menghilang, edema paru, asam-basa abnormal)
Terapeutik
Sediakan lingkungan yang hangat (mis: atur suhu ruangan, inkubator)
Ganti pakaian dan/atau linen yang basah
Lakukan penghangatan pasif (mis: selimut, menutup kepala, pakaian tebal)
Lakukan penghangatan aktif eksternal (mis: kompres hangat, botol hangat, selimut hangat, perawatan metode kangguru)
Lakukan penghangatan aktif internal (mis: infus cairan hangat, oksigen hangat, lav ase peritoneal dengan cairan hangat)
Edukasi
Anjurkan diharapkann/minum hangat
9
Hipotermia (D.0131)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan termoregulasi me mbaik (L.14134), dengan kriteria hasil:
1. Menggigil menurun 2. Suhu tubuh membaik 3. Suhu kulit membaik
Manajemen Hipotermia (I.14507) Observasi
Monitor suhu tubuh
Identifikasi penyebab hipotermia (mis: terpapar suhu lingkungan rendah, pakaian ti pis, kerusakan hipotalamus, penurunan laju metabolisme, kekurangan lemak subk utan)
Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia (mis: hipotermia ringan: takipnea, disart ria, menggigil, hipertensi, diuresis; hipotermia sedang: aritmia, hipotensi, apatis, k oagulopati, refleks menurun; hipotermia berat: oliguria, refleks menghilang, edema paru, asam-basa abnormal)
Terapeutik
Sediakan lingkungan yang hangat (mis: atur suhu ruangan, inkubator)
Ganti pakaian dan/atau linen yang basah
Lakukan penghangatan pasif (mis: selimut, menutup kepala, pakaian tebal)
Lakukan penghangatan aktif eksternal (mis: kompres hangat, botol hangat, selimut hangat, perawatan metode kangguru)
Lakukan penghangatan aktif internal (mis: infus cairan hangat, oksigen hangat, lav ase peritoneal dengan cairan hangat)
Edukasi
Anjurkan diharapkann/minum hangat
10
Gangguan Mobilitas Fisik (D.0054)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan mobilitas fisik men ingkat (L.05042), dengan kriteria hasil:
1. Pergerakan ekstremitas meningkat 2. Kekuatan otot meningkat
3. Rentang gerak (ROM) meningkat
1. Dukungan Ambulasi (I.06171)
Dukungan ambulasi adalah asuhan yang dilakukan oleh perawat dalam memfas ilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas berpindah.
Tindakan yang dilakukan pada asuhan dukungan ambulasi berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai ambulasi
Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi Terapeutik
Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu (mis: tongkat, kruk)
Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik, jika perlu
Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan ambulasi Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
Anjurkan melakukan ambulasi dini
Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan (mis: berjalan dari tempat ti dur ke kursi roda, berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi, berjalan sesuai tol eransi)
2. Dukungan Mobilisasi (I.05173)
Dukungan mobilisasi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat dalam memfasilitasi pasien untuk meningkatkan aktivitas pergerakan fisik.
Tindakan yang dilakukan pada intervensi dukungan mobilisasi berdasarkan SIKI, antara lain:
Observasi
Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai mobilisasi
Monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi Terapeutik
Fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (mis: pagar tempat tidur)
Fasilitasi melakukan pergerakan, jika perlu
Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi
Anjurkan melakukan mobilisasi dini
Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (mis: duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi)
11
12
Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (D.0037)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan keseimbangan ele ktrolit meningkat (L.03021), dengan kriteria hasil:
1. Serum natrium membaik 2. Serum kalium membaik 3. Serum klorida membaik
Pemantauan Elektrolit (I.03122) Observasi
Monitor kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit
Monitor kadar elektrolit serum
Monitor mual, muntah, diare
Monitor kehilangan cairan, jika perlu
Monitor tanda dan gejala hipokalemia (mis: kelemahan otot, interval QT memanjan g, gelombang T datar atau terbalik, depresi segmen ST, gelombang U, kelelahan, parestesia, penurunan refleks, anoreksia, konstipasi, motilitas usus menurun, pusi ng, depresi pernapasan)
Monitor tanda dan gejala hiperkalemia (mis: peka rangsang, gelisah, mual, muntah takikardia mengarah ke bradikardia, fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang T ting gi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah asistol)
Monitor tanda dan gejala hiponatremia (mis: disorientasi, otot berkedut, sakit kepal a, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, penurunan kesada ran)
Monitor tanda dan gejala hipernatremia (mis: haus, demam, mual, muntah, gelisah peka rangsang, membrane mukosa kering, takikardia, hipotensi, letargi, konfusi, k ejang)
Monitor tanda dan gejala hipokalsemia (mis: peka rangsang, tanda Chvostek (spas me otot wajah) dan tanda Trousseau (spasme karpal), kram otot, interval QT mem anjang)
Monitor tanda dan gejala hiperkalsemia (mis: nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi, kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, komplek QRS lebar, i nterval PR memanjang)
Monitor tanda dan gejala hypomagnesemia (mis: depresi pernapasan, apatis, tand a Chvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia)
Monitor tanda gan gejala hypermagnesemia (mis: kelemahan otot, hiporefleks, bra dikardia, depresi SSP, letargi, koma, depresi)
Terapeutik
Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
Dokumentasikan hasil pemantauan Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (D.0129)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan integritas kulit/me ningkat (L.14125), dengan kriteria hasil:
1. Kerusakan lapisan kulit menurun 2. Perawatan Integritas Kulit (I.11353)
Observasi
Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit (mis: perubahan sirkulasi, perubah an status nutrisi, penurunan kelembaban, suhu lingkungan ekstrim, penurunan mo bilitas)
Terapeutik
Ubah posisi setiap 2 jam jika tirah baring
Lakukan pemijatan pada area penonjolan tulang, jika perlu
Bersihkan perineal dengan air hangat, terutama selama periode diare
Gunakan produk berbahan petroleum atau minyak pada kulit kering
Gunakan produk berbahan ringan/alami dan hipoalergik pada kulit sensitive
Hindari produk berbahan dasar alkohol pada kulit kering Edukasi
Anjurkan menggunakan pelembab (mis: lotion, serum)
Anjurkan minum air yang cukup
Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
Anjurkan meningkatkan asupan buah dan sayur
Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrim
Anjurkan menggunakan tabir surya SPF minimal 30 saat berada diluar rumah
Anjurkan mandi dan menggunakan sabun secukupnya
13
Gangguan Rasa Nyaman (D.0074)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan status kenyamana n meningkat (L.08064), dengan kriteria hasil:
1. Keluhan tidak nyaman menurun 2. Gelisah menurun
Terapi relaksasi (I.09326) Observasi
Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain yang mengganggu kemampuan kognitif
Identifikasi Teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan
Identifikasi kesediaan, kemampuan, dan penggunaan Teknik sebelumnya
Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan se sudah Latihan
Monitor respons terhadap terapi relaksasi Terapeutik
Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman, jika memungkinkan
Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur teknik relaksasi
Gunakan pakaian longgar
Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama
Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan analgetik atau Tindakan m edis lain, jika sesuai
Edukasi
Jelaskan tujuan, manfaat, Batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis: musik, meditasi, napas dalam, relaksasi otot progresif)
Jelaskan secara rinci asuhan relaksasi yang dipilih
Anjurkan mengambil posisi nyaman
Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
Anjurkan sering mengulangi atau melatih Teknik yang dipilih
Demonstrasikan dan latih Teknik relaksasi (mis: napas dalam, peregangan, atau i majinasi terbimbing)
14
Risiko Ikterik Neonatus (D.0035)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan adaptasi neonatus meningkat (L.14125), dengan kriteria hasil:
1. Berat badan meningkat
2. Memberan mukosa kuning menurun 3. Kulit kuning menurun
4. Sklera kuning menurun 5. Prematuritas menurun
Perawatan Bayi (I.10338) Observasi
Monitor tanda-tanda vital bayi (terutama suhu 36°C – 37°C) Terapeutik
Mandikan bayi dengan suhu ruangan 21 – 24°C
Mandikan bayi dalam waktu 5 – 10 menit dan 2 kali dalam sehari
Rawat tali pusat secara terbuka (tali pusat tidak dibungkus apapun)
Bersihkan pangkal tali pusat dengan lidi kapas yang telah diberi air matang
Kenakan popok bayi di bawah umbilicus jika tali pusat belum terlepas
Lakukan pemijatan bayi
Ganti popok bayi jika basah
Kenakan pakaian bayi dari bahan katun Edukasi
Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan bayi
Ajarkan ibu cara merawat bayi di rumah
Ajarkan cara pemberian makanan pendamping ASI pada bayi > 6 bulan
15
Ikterik Neonatus (D.0024)Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan adaptasi neonatus meningkat (L.10098), dengan kriteria hasil:
1. Berat badan meningkat
2. Memberan mukosa kuning menurun 3. Kulit kuning menurun
4. Sklera kuning menurun
Fototerapi Neonatus (I.03091) Observasi
Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi
Identifikasi kebutuhan cairan sesuai dengan usia gestasi dan berat badan
Monitor suhu dan tanda vital setiap 4 jam sekali
Monitor efek samping fototerapi (mis: hipertermi, diare, rush pada kulit, penurunan berat badan lebih dari 8 – 10%
Terapeutik
Siapkan lampu fototerapi dan incubator atau kotak bayi
Lepaskan pakaian bayi kecuali popok
Berikan penutup mata (eye protector/biliband) pada bayi
Ukur jarak antara lampu dan permukaan kulit bayi (30 cm atau tergantung spesifika si lampu fototerapi)
Biarkan tubuh bayi terpapar sinar fototerapi secara berkelanjutan
Ganti segera alas dan popok bayi jika BAB/BAK
Gunakan linen berwarna putih agar memantulkan cahaya sebanyak mungkin Edukasi
Anjurkan ibu menyusui sekitar 20 – 30 menit
Anjurkan ibu menyusui sesering mungkin Kolaborasi
Kolaborasi pemberian darah vena bilirubin direk dan indirek
16
17
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah (D.0038)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan kestabilan kadar g lukosa darah meningkat (L.03022), dengan kriteria hasil:
1. Mengantuk menurun 2. Pusing menurun
3. Kadar glukosa darah membaik
Manajemen Hipoglikemia (I.03115) Observasi
Identifikasi tanda dan gejala hipoglikemia
Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia Terapeutik
Berikan karbohidrat sederhana, jika perlu
Berikan glucagon, jika perlu
Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuai diet
Pertahankan kepatenan jalan napas
Pertahankan akses IV, jika perlu
Hubungi layanan medis darurat, jika perlu Edukasi
Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiap saat
Anjurkan mediharapkani identitas darurat yang tepat
Anjurkan monitor kadar glukosa darah
Anjurkan berdiskusi dengan tim perawatan diabetes tentang penyesuaian program pengobatan
Jelaskan interaksi antara diet, insulin/agen oral, dan olahraga
Ajarkan pengelolaan hipoglikemia (mis: tanda dan gejala, faktor risiko, dan pengob atan hipoglikemia)
Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis: mengurangi insulin /agen oral dan/atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga)
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian dekstrose, jika perlu
Kolaborasi pemberian glukagon, jika perlu
Perfusi Perifer Tidak Efektif (D.0009)
18
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan perfusi perifer me ningkat (L.02011), dengan kriteria hasil:
1. Kekuatan nadi perifer meningkat 2. Warna kulit pucat menurun 3. Pengisian kapiler membaik 4. Akral membaik
5. Turgor kulit membaik
Manajemen Hipovolemia (I.03116) Observasi
Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah)
Monitor intake dan output cairan Terapeutik
Hitung kebutuhan cairan
Berikan posisi modified Trendelenburg
Berikan asupan cairan oral Edukasi
Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis: NaCL, RL)
Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis: glukosa 2,5%, NaCl 0,4%)
Kolaborasi pemberian cairan koloid (albumin, plasmanate)
Kolaborasi pemberian produk darah
Nyeri Akut (SDKI D.0077)
19
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan tingkat nyeri me nurun (L.08066), dengan kriteria hasil:
1. Keluhan nyeri menurun 2. Meringis menurun 3. Sikap protektif menurun 4. Gelisah menurun
5. Kesulitan tidur menurun 6. Frekuensi nadi membaik
Manajemen Nyeri (I.08238) Observasi
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
Identifikasi skala nyeri
Idenfitikasi respon nyeri non verbal
Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
Monitor efek samping penggunaan analgetik Terapeutik
Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
Fasilitasi istirahat dan tidur
Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri Edukasi
Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
Jelaskan strategi meredakan nyeri
Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri Kolaborasi
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
Konstipasi (D.0049)
20
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam, diharapkan eliminasi fekal membaik (L.04033), dengan kriteria hasil:
1. Kontrol pengeluaran feses meningkat 2. Keluhan defekasi lama dan sulit menurun 3. Mengejan saat defekasi menurun
4. Konsistensi feses membaik 5. Frekuensi BAB membaik 6. Peristaltik usus membaik
Manajemen Konstipasi (I.04155) Observasi
Periksa tanda dan gejala konstipasi
Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk, volume, dan warna)
Identifikasi faktor risiko konstipasi (mis: obat-obatan, tirah baring, dan diet rendah serat
Monitor tanda dan gejala rupture usus dan/atau peritonitis Terapeutik
Anjurkan diet tinggi serat
Lakukan masase abdomen, jika perlu
Lakukan evaluasi feses secara manual, jika perlu
Berikan enema atau irigasi, jika perlu Edukasi
Jelaskan etiologi masalah dan alasan Tindakan
Anjurkan peningkatan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi
Latih buang air besar secara teratur
Ajarkan cara mengatasi konstipasi/impaksi Kolaborasi
Konsultasi dengan tim medis tentang penurunan/peningkatan frekuensi suara usus
Kolaborasi penggunaan obat pencahar, jika perlu
Intoleransi Aktivitas (D.0056)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan toleransi aktivitas meningkat (L.05047), dengan kriteria hasil:
1. Keluhan Lelah menurun
2. Dispnea saat aktivitas menurun 3. Dispnea setelah aktivitas menurun 4. Frekuensi nadi membaik
Manajemen Energi (I.05178) Observasi
Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
Monitor kelelahan fisik dan emosional
Monitor pola dan jam tidur
Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik
Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis: cahaya, suara, kunjunga n)
Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif
Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan Edukasi
Anjurkan tirah baring
Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang
Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan Terapi Aktivitas (I.01026)
Observasi
Identifikasi defisit tingkat aktivitas
Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang diinginkan
Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi dalam aktivitas
Identifikasi makna aktivitas rutin (mis: bekerja) dan waktu luang
Monitor respons emosional, fisik, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas Terapeutik
Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit yang dialami
Sepakati komitmen untuk meningkatkan frekuensi dan rentang aktivitas
Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan aktivitas yang konsisten sesuai kem ampuan fisik, psikologis, dan sosial
Koordinasikan pemilhan aktivitas sesuai usia
Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
Fasilitasi transportasi untuk menghadiri aktivitas, jika sesuai
Fasilitasi pasien dan keluarga dalam menyesuaikan lingkungan untuk mengakomo dasi aktivitas yang dipilih
Fasilitasi aktivitas rutin (mis: ambulasi, mobilisasi, dan perawatan diri), sesuai kebu tuhan
Fasilitasi aktivitas pengganti saat mengalami keterbatasan waktu, energi, atau ger ak
Fasilitasi aktivitas motorik kasar untuk pasien hiperaktif
Tingkatkan aktivitas fisik untuk memelihara berat badan, jika sesuai
Fasilitasi aktivitas motorik untuk merelaksasi otot
Fasilitasi aktivitas aktivitas dengan komponen memori implisit dan emosional (mis:
kegiatan keagamaan khusus) untuk pasien demensia, jika sesuai
Libatkan dalam permainan kelompok yang tidak kompetitif, terstruktur, dan aktif
Tingkatkan keterlibatan dalam aktivitas rekreasi dan diversifikasi untuk menurunka n kecemasan (mis: vocal group, bola voli, tenis meja, jogging, berenang, tugas sed erhana, permainan sederhana, tugas rutin, tugas rumah tangga, perawatan diri, da n teka-teki dan kartu)
Libatkan keluarga dalam aktivitas, jika perlu
Fasilitasi mengembangkan motivasi dan penguatan diri
Fasilitasi pasien dan keluarga memantau kemajuannya sendiri untuk mencapai tuj uan
Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari
Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas Edukasi
Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu
Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial, spiritual, dan kognitif dalam menjaga fun gsi dan Kesehatan
Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok atau terapi, jika sesuai
Anjurkan keluarga untuk memberi penguatan positif atas partisipasi dalam aktivitas Kolaborasi
Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam merencanakan dan memonitor program aktivitas, jika sesuai
Rujuk pada pusat atau program aktivitas komunitas, jika perlu