KURVA PARABOLA
Selesai kelulusan SMA, Nala bersama Kiran dan Arsa berencana akan berlibur sejenak.
Sejak lama mereka bertiga memiliki wacana liburan bersama, mengingat pertemanan mereka sejak kelas 10. Tetapi banyak hal yang membuat wacana mereka gagal, salah satunya karena tidak diizinkan orang tua.
“Mau main kemana nih kita?” Tawar Arsa kepada teman-temannya.
“Ke puncak aja nggak sih? Nanti kita booking villa di sana.” Tawar Kiran.
“Wah! Boleh banget, lagian deket dari rumah,” balas Nala antusias.
“By the way, gue boleh ajak Dewa nggak?” Nala bertanya ragu.
“Boleh dong Nal, biar gue nanti ada temennya. Masa gue cowo sendiri.” Arsa bersemangat.
“Eh Nal, lo sama Dewa ada hubungan apa?”
“Hah? Nggak ada hubungan apa-apa kok, kita temenan aja.” Nala terlihat gugup.
Karena jawaban Nala terasa meragukan Arsa mengangguk mengerti. Seakan paham situasi, Kiran mengubah arah pembicaraan canggung antara Arsa dan Nala.
“Nah karena tujuan liburan kita udah jelas, sekarang mau kapan?”
“Lusa aja gimana? Jangan ambil weekend rame.” Tawar Nala.
“Iya, jangan pas weekend. Pasti macet ke arah puncak.” Arsa menimpali.
Setelah banyak pertimbangan, akhirnya mereka memilih untuk pergi ke Puncak Bogor.
Mereka memutuskan untuk berangkat lusa, dengan kendaraan pribadi. Nala merasa senang sekali karena akhirnya bisa liburan dengan orang-orang terdekatnya.
Saking antusiasnya, Nala dan Kiran sudah berbelanja keperluan untuk barbeque pagi- pagi sekali. Sejak pagi, mereka berdua sudah berangkat ke supermarket. Seperti wanita pada umumnya mereka kalap, semuanya makanan mereka beli, mulai dari snack ringan, hingga olahan daging.
“Ini beli daging nggak kebanyakan Rin?” Nala bertanya sambil mendorong trolley
“Nggak lah, kita di sana pasti makan banyak. Itu si Arsa kan makannya banyak.”