• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMPIRAN-LAMPIRAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "LAMPIRAN-LAMPIRAN "

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

PERAN KOMUNIKASI GURU DALAM MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V MI AL-IKHLASHIYAH PERAMPUAN KABUPATEN LOMBOK BARAT

TAHUN PELAJARAN 2016/2017

HADIJATUL QUBRO NIM. 15.1.13.9.299

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2017

(2)

ii

PERAN KOMUNIKASI GURU DALAM MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V MI AL-IKHLASHIYAH PERAMPUAN KABUPATEN LOMBOK BARAT

TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram

Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan

HADIJATUL QUBRO NIM. 15.1.13.9.299

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2017

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii

MOTTO

ْْ ْيلإىح ُن اَاجر اَإك ْبقْنمانْ س ْر م , ( ْن ْ م ْعتَْمتْنكْنإرْك ذلَْه آ ئْسف )

Artinya: dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pe getahua jika ka u tidak e getahui”

(QS. An-Nahl [16]:43)

(7)

viii

PERSEMBAHAN

Rasa syukur selalu ku panjatkan kepada Allah SWT pemberi nikmat tanpa batas dan Rasulullah SAW guru semua ummat yang terbaik di setiap waktu.

Skripsi ini aku persembahkan untuk:

1 Kedua orang tuaku, Ayahandaku tercinta (Mahjub) dan Ibundaku tersayang (Mataksiah) yang telah memberikan kasih sayang, cinta, doa, dorongan, semangat dan pengorbanan tiada hingga. Terima kasih semoga Allah SWT membalas semua pengorbanan Ayahanda dan Ibunda.

2 Kakakku (Deddi Santoni) , dan seluruh keluarga besarku.

Terimakasih atas doa dan senyum semangat dari kalian.

3 Kepada teman-teman seperjuangan Khususnya PGMI (kelas H) terima kasih atas dukungan kalian semua.

4 Almamaterku Tercinta dan Kampus UIN Mataram Yang aku banggakan, terima kasih.

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah AWT atas hidayah dan inayahnya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Solawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Beserta seluruh keluarga dan para sahabat-sahabatnya yang telah membimbing dan menunjukkan jalan yang di ridoinya.

Dalam menyusun skripsi ini, peneliti sangat menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat peneliti mengharapkan untuk jadi bahan evaluasi selanjutnya.

Selesainya penulisan skripsi ini adalah berkat keterlibatan banyak pihak. Dalam hal ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Ahmad Sulhan, M.Pd.I selaku pembimbing ke-I dan bapak Mawardi Saleh, M.Pd selaku pembimbing ke-II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan serta memberikan saran dalam menyusun skripsi ini

2. Dra. Rabiatul Adawiyah, MA selaku ketua jurusan PGMI, Dr. Hj. Nurul Yakin, M.Pd selaku dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan beserta Bapak/Ibu dosen UIN Mataram yang telah memberikan dukungan kepada peneliti.

3. Dr. H. Mutawalli, M.Ag selaku rektor UIN Mataram yang telah memberikan motivasi kepada semua mahasiswa selama pelaksanaan studi.

(9)

x

4. Ibunda, ayahanda, keluargaku tercinta dan sahabat PGMI tercinta yang telah memberikan bantuan moril maupun materil, serta pengorbanan yang tidak ternilai harganya.

Dengan rendah hati peneliti menyadari atas kurangnya kesempurnaan skripsi ini, maka kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat peneliti harapkan untuk menjadikan skripsi ini lebih baik ke depannya dan semoga skripsi ini berguna bagi kita semua, amin.

Mataram, Juli 2017

Peneliti

(10)

xi DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Judul ... ii

Halaman Persetujuan ... iii

Halaman Nota Dinas ... iv

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi ... v

Halaman Pengesahan ... vi

Halaman Persembahan ... viii

Kata Pengantar ... ix

Daftar Isi ... xi

Abstrak ... xiii

Daftar Tabel ... xiv

Daftar Gambar ... xv

Daftar Lampiran-Lampiran ... .. xvi

BAB 1 PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ………. 1

B. Fokus Penelitian……….…. 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……….…. 5

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian………... 7

E. Telaah Pustaka……… 8

F. Kajian Pustaka……… 9

1. Komunikasi Guru………. 9

(11)

xii

2. Tinjauan Tentang Belajar……….… 15

3. Motivasi Belajar………... 18

4. Peran Komunikasi Guru Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar.… 25 5. Pelajaran IPA……… 26

G. Kerangka Pikir……… 29

H. Metode Penelitian………... 30

1. Pendekatan Penelitian……….. 30

2. Kehadiran Peneliti………... 32

3. Sumber Data……… 33

4. Teknik Pengumpulan Data……….. 34

5. Analisis Data………... 38

6. Pengecekan Keabsahan Data……….. 40

I. Sistematika ………... 42

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Deskripsi Lokasi penelitian………..……… 44

1. Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya Madrasah………..……… 44

2. Letak Geografis………. 45

3. Visi dan Misi………. 45

4. Keadaan Sarana dan Prasarana ……… 45

5. Keadaan Guru dan Pegawai………..…………... 47

(12)

xiii

5. Keadaan Siswa………. 48

5. Struktur Organisasi……….. 50 5. Kurikulum Pembelajaran………. 51 B. Peran Komunikasi Guru Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa

Pada Mata Pelajaran IPA……… 51 C. Bentuk-Bentuk Komunikasi Guru Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar

Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V……… 54 BAB III PEMBAHASAN

A. Peran Komunikasi Guru Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA……… 58 B. Bentuk-Bentuk Komunikasi Guru Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar

Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V……… 60

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan……….. 63

B. Saran-Saran……….. 63

DAFTAR PUSTAKA………

LAMPIRAN-LAMPIRAN………. 66

(13)

xiv

DAFTAR TABEL Tabel 1 Data Jumlah Ruangan

Tabel 2 Data Jumlah Guru Tabel 3 Data Siswa

(14)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Observasi Lampiran 2 Pedoman Dokumentasi Lampiran 3 Pedoman wawancara

(15)

xvi

PERAN KOMUNIKASI GURU DALAM MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS V MI AL- IKHLASHIYAH PERAMPUAN KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN

PELAJARAN 2016/2017

Oleh:

HADIJATUL QUBRO NIM: 151.139.299

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran komunikasi guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V MI Al- Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat tahun pelajaran 2016/2017.

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif jenis Deskriptif . Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan yang berjumlah 22 orang.

Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru sangat berperan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa dengan adanya komunikasi guru yang efektif pada mata pelajaran IPA kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017.

Kata Kunci: Komunikasi Guru, Motivasi Belajar Siswa

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.Konteks Penelitian

Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengikuti arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah mengupayakan menyelenggarakan pendidikan dalam satu sistem pengajaran nasional yang diatur oleh undang-undang. Tujuan pendidikan nasional dapat terwujud dengan adanya sumber daya manusia yang berkualitas, sedangkan sumber daya manusia yang berkualitas dapat dicapai melalui pendidikan. Dalam Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 Bab I pasal 1 disebutkan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”.1

Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, pemerintah terus menerus berupaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan. Di dalam meningkatkan mutu dan pencapaian tujuan pendidikan nasional tentunya tidak terlepas dengan proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi antara guru dengan siswa, maka baik siswa maupun guru perlu

1Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Surabaya : Wacana Intelektual, 2009), h. 339.

(17)

2

memiliki sikap, kemampuan, kemauan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar.

Kegiatan belajar memiliki peran yang sangat penting agar pendidikan dapat berjalan dengan baik. Belajar dan mengajar adalah dua konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar mengacu kepada kegiatan siswa dan mengajar mengacu kepada kegiatan guru. Dalam belajar mengajar terdapat tujuh komponen utama yaitu: tujuan, bahan, siswa, guru, metode dan situasi yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan alat penilaian. Keberhasilan siswa dalam belajar dilihat dari hasil belajar siswa.

Hasil belajar siswa akan memberikan dorongan dan semangat siswa sehingga meningkatkan motivasi terhadap mata pelajaran karena motivasi merupakan sesuatu yang sangat penting untuk melakukan suatu kegiatan.

Motivasi merupakan suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain seseorang mencapai tujuan tertentu dari segala aktivitasnya. Motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Munculnya motivasi intrinsik tidak memerlukan rangsangan dari luar karena telah ada dalam diri seseorang, yakni sesuai atau sejalan dengan kebutuhannya. Sedangkan motivasi ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan dari luar individu, minsalnya semangat seseorang untuk belajar karena mengetahui kebutuhan sesuatu yang diplajarinya.2 Ada banyak faktor yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa salah satunya komunikasi guru.

2Lukman Hakim, Manajemen Pendidikan (Yogyakarta: Genta Press, 2008), h. 120-121.

(18)

3

Komunikasi mempunyai peran yang sangat penting didalam interaksi antara peserta dengan fasilitator karena interaksi ini berarti penyampaian atau penerima pesan dari satu orang kepada orang lain, baik langsung maupun tidak langsung, secara tertulis, lisan maupun bahasa isyarat.

Guru melaksanakan perannya sebagai sumber informasi dan harus mampu mengomunikasikan ide, gagasan, nasihat dan sebagainya.

Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan motivasi belajar.3

Pada umumnya mata pembelajaran IPA di Madrasah Ibtidaiyah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitar. IPA merupakan interaksi antara komponen-komponen pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang berbentuk kompetensi yang telah ditetapkan sehingga komunikasi guru dengan siswa perlu dikembangkan dalam kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik. Peran guru untuk menciptakan suatu pelajaran IPA yang menarik sehingga siswa terangsang untuk melibatkan diri secara aktif.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di MI Al-Ikhlashiyah Perampuan, pada realitanya keadaan guru dan kualitas pelajaran tergolong baik. Bila ditinjau dari cara guru mengajar di dalam kelas, bahwa secara keseluruhan kemampuan guru dalam mengajar termasuk dalam kategori baik.

Guru sudah cukup jelas dalam penguasaan dan penyampaian materi, tetapi beberapa hal mengenai komunikasi dan interaksi guru dengan siswa masih kurang. Hal ini membuat proses belajar mengajar menjadi kurang efektif dan efesien.

Pada dasarnya komunikasi guru sangat berpengaruh untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Seorang guru yang jarang melakukan komunikasi

3Ibid., h. 40.

(19)

4

dengan siswanya akan atau bisa mengalami kegagalan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan seorang guru yang sering kali berkomunikasi dengan siswa atau anak didiknya dalam proses belajar bisa dikatakan guru itu berhasil.

Komunikasi yang baik dengan siswa dapat membangun suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang menyenangkan berdampak pada kondisi psikologis siswa. Siswa lebih berkonsentrasi dan aktif dalam proses belajar mengajar di kelas ketika secara psikologis siswa merasa nyaman dan senang.

Berarti seorang guru harus memiliki komunikasi yang baik dan dalam hal ini komunikasi perlu dimiliki oleh seorang guru karena ini adalah faktor utama yang berdampak pada keaktifan belajar siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sehingga komunikasi bisa meningkatkan motivasi belajar.4

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis tertarik untuk mengambil penelitian dengan judul ‘‘Peran Komunikasi Guru Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017”.

B. Fokus Penelitian

Adapun yang menjadi fokus penelitan adalah:

4 Observasi Awal, MI Al-Ikhlashiyah Perampuan, 08 februari 2017

(20)

5

1. Bagaimanakah peran komunikasi guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017?

2. Bagaimanakah bentuk-bentuk atau cara untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui bagaimana peran komunikasi guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017.

b. Untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk atau cara menumbuhkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V MI AL- Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini dapat dilihat dari dua sisi yaitu manfaat secara praktis dan manfaat teoritis.

a. Manfaat Praktis

(21)

6 1) Bagi sekolah

Berdasarkan hasil penelitian, pengelola diharapkan lebih dapat memahami bagaimana komunikasi guru sehinggga dapat meningkatkan sumber daya guru secara keseluruhan.

2) Bagi siswa

Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran sehingga pada gilirannya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya dalam mata pelajaran IPA.

3) Bagi guru

Dapat dijadijadikan pedoman untuk meningkatkan kemampuan komunikasi guru sehingga diharapkan motivasi siswa dapat lebih meningkat.

4) Bagi peneliti

Sebagai bahan kajian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan identifikasi faktor-fakor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa terutama kemampuan berkomunikasi guru.

b. Manfaat Teoritis

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengkaji masalah komunikasi guru, motivasi belajar siswa khususnya pada bidang ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan informasi bagi peneliti lain.

(22)

7

2) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya khususnya yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa dan komunikasi guru.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Mengingat terbatasnya kemampuan dan fasilitas yang dimiliki oleh peneliti maka pada penelitian ini terbatas pada keinginan peneliti untuk mengetahui peran komunikasi guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa. Dalam hal ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Al-Ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat. MI Al-Ikhlashiyah Perampuan adalah salah satu Madrasah yang ada di Labu Api. Adapun batas-batas MI Al-Ikhlashiyah Perampuan yaitu:

Sebelah Timur : Jl.TGH.Muh.Ra’is Sebelah Selatan : Jl.Gg.Pensong

Sebelah Utara : Perumahan Penduduk Sebelah Barat : Persawahan

Alasan peneliti melakukan penelitian di Madrasah Ibtidaiyah Al- Ikhlashiyah Perampuan adalah karena kurangnya motivasi untuk belajar yang disebabkan oleh komunikasi guru yang kurang efektif. Selanjutnya dalam penelitian ini peneliti mengangkat judul “Peran Komunikasi Guru Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V MI AL-ikhlashiyah Perampuan Kabupaten Lombok Barat Tahun Pelajaran 2016/2017”.

(23)

8 E. Telaah Pustaka

Berdasarkan kajian-kajian yang ada relevansinya dengan tema penelitian ini, ada beberapa kajian yang penelitian yang peneliti anggap relevan.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Sumayani pada tahun 2015/2016 yang mengkaji tentang “Komunikasi Yang Efektif Antara Guru Dan Siswa Dalam Membelajarkan Matematika Kelas X Di MA Darun Najahal-Falah Telaga Waru Tahun Pelajaran 2015/2016” dengan menggunakan metode kualitatif dan pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun fokus penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana komunikasi yang efektif antara guru dengan siswa pada mata pelajaran matematika.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Solihin pada tahun 2015/2016 yang mengkaji tentang “Pengaruh Kemampuan Guru Melaksanakan Komunikasi Yang Efektif Dalam Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Mts Ar-Raisiyah Tahun Pelajaran 2015/2016” dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan pengumpulan datanya menggunakan angket, observasi, dan dokumentasi. Adapun fokus penelitiannya ini adalah apakah ada pengaruh kemampuan guru melaksanakan komunikasi yang efektif dalam pembelajaran terhadap hasil belajar mata pelajaran IPS.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Erviana Mantilina pada tahun 2015/2016 yang mengkaji tentang “Pola Komunikasi Tuan Guru Dalam Melestarikan

(24)

9

Lingkungan Hidup (Studi Terhadap Kiprah TGH. Hasanain Djuaini, Lc.MH) dari hasil analisis diketahui bahwa peneliti menggunakan penelitian kualitatif dan menggunakan jenis metode studi tokoh, karena akan meneliti tentang TGH. Hasanain Djuaini, Lc.MH dan teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara.

Dari beberapa judul penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan yaitu sama-sama mengkaji tentang komunikasi guru, sedangkan yang menjadi pembeda antara penelitian-penelitian tersebut salah satunya mata pelajaran serta lokasi penelitian.

F. Kajian Pustaka 1. Komunikasi Guru

a. Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama maknanya. Menurut Carl I. Hovland komunikasi adalah proses mengubah prilaku orang lain (communication is the process to modify the behavior of other individuals).5

Komunikasi adalah proses penyampaian atau penerima pesan dari satu orang kepada orang lain, baik langsung maupun tidak langsung, secara tertulis, lisan maupun bahasa nonverbal. Orang yang melakukan komunikasi disebut komunikator. Orang yang diajak berkomunikasi disebut komunikan. Orang yang mampu berkomunikasi

5Uchjana Effendy, Teori Komunikasi dan Praktek (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007) h. 9.

(25)

10

secara efektif disebut komunikatif. Orang yang komunikatif adalah orang yang mampu menyampaikan informasi atau pesan kepada orang lain, baik langsung maupun tidak langsung, secara tertulis, lisan, maupun bahasa nonverbal sehingga orang lain dapat menerima informasi (pesan) sesuai dengan harapan si pemberi informasi (pesan).6

Dari pengertian diatas peneliti dapat mengomentari bahwa komunikasi itu adalah proses timbal balik antara si pengirim kepada si penerima dan didalamnya terdapat informasi, pesan, ide dan sebagainya.

b. Unsur-Unsur Komunikasi

Arni Muhammad (2000: 17) menyatakan unsur-unsur komunikasi ada 5 yaitu:

1) Pengirim Pesan

Pengirim pesan adalah individu atau orang yang mengirim pesan- pesan atau informasi yang akan dikirimkan berasal dari otak si pengirim pesan.

2) Pesan

Pesan adalah informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima pesan.

3) Saluran

Saluran adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si penerima.

4) Penerima pesan

Penerima pesan adalah yang menganalisis dan menginterprestasikan isi pesan yang diterimanya.

5) Balikan

Balikan adalah respons terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan.

c. Bentuk Komunikasi

6 Ibid., h.9.

(26)

11

Rini Darmastuti (2006: 3) menyatakan bahwa komunikasi yang terjadi dalam kehidupan manusia terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu:

1) Komunikasi Personal (Personal Communication)

Komunikasi persoanal merupakan komunikasi yang terjadi dalam diri individu maupun antar individu. Komunikasi personal terdiri dari:

a) Komunikasi Intrapersonal merupakan komunikasi yang terjadi dalam diri individu itu sendiri.

b) Komunikasi Antarpersonal merupakan komunikasi yang terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya.

2) Komunikasi Kelompok (Group Communication)

a) Komunikasi kelompok kecil minsalnya ceramah, diskusi panel, forum, seminar, dan lain-lain.

b) Komunikasi kelompok besar minsalnya pidato lapangan, kampanye dilapangan, dsb.

3) Komunikasi Massa (Mass Communication)

Merupakan komunikasi yang ditujukan kepada khalayak besar, dengan khalayak yang heterogen dan tersebar dalam lokasi geografis yang tidak dapat ditentukan. Komunikasi massa ini biasanya menggunakan media, baik media cetak maupun media elektronik. Bentuk-bentuk komunikasi massa ini adalah radio, televisi, filem.

(27)

12

4) Komunikasi Media ( Media Communication)

Merupakan media komunikasi yang terjadi dengan menggunakan media seperti : surat, telepon, poster, sepanduk, dll.

d. Pendidikan Sebagai Proses Komunikasi

Onong uchjana menyatakan proses komunikasi menurut terbagi menjadi dua tahap, yaitu :

1) Proses Komunikasi Secara Primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (syimbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna yang secara langsung mampu

‘‘menerjemahkan’’ pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Bahwa bahasa yang paling banyak dipergunakan dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu ‘‘menerjemahkan’’ pikiran seseorang kepada orng lain baik berupa ide, informasi dan opini. Sedangkan isyarat, gambar dan warna digunakan dalam keadaan tertentu untuk mendukung media bahasa dalam penyampaian pesan atau pikiran.

2) Proses Komunikasi Sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah

(28)

13

memakai lambang sebagai media pertama. Seseorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar, majalah radio, televisi, filem dan lain-lain.

Dari penjelasan di atas tentang proses komunikasi yang terdiri dari proses komunikasi secara primer dan proses komunikasi secara sekunder, maka dalam komunikasi pendidikan yaitu komunikasi yang terjadi antara guru dengan siswanya menggunakan proses komunikasi secara primer, karena jelas antara guru dan siswa komunikasi yang terjadi adalah komunikasi dalam situasi tatap muka, dimana tanggapan komunikan akan dapat segera diketahui dan umpan balik yang terjadi secara langsung sehingga komunikasi primer lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan proses komunikasi sekunder. Dalam proses komunikasi sekunder seperti yang telah dijelaskan diatas terjadi dalam situasi antara komunikator dan komunikan relatif jauh dan tidak selalu terjadi dalam situasi tatap muka.7

3) Keterampilan Komunikasi Guru

Keterampilan berkomunikasi guru dalam kegiatan pembelajaran menurut Joni dan Soeharto (1995: 25-29) mencakup 4 kemampuan pokok, yaitu :

7 Uchjana Effendy, Teori Komunikasi, h. 11-16.

(29)

14

a) Kemampuan guru mengembangkan sikap positif dalam kegiatan pembelajaran. Kemampuan ini terdiri dari :

1) Mengenali kelebihan dan kekurangan diri siswa dalam kegiatan pembelajaran.

2) Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri dalam kegiatan pembelajaran.

3) Membantu memperjelas pikiran dan perasaan sehingga dapat dipahami orang lain dan dapat bertukar pikiran dalam kegiatan pembelajaran.

b) Kemampuan guru untuk bersikap luwes dan terbuka dalam kegiatan pembelajaran. Kemampuan ini terdiri dari :

1) Menunjukkan sikap terbuka terhadap pendapat siswa 2) Menunjukkan sikap luwes dalam menyesuaikan diri 3) Menerima siswa sebagaimana adanya

4) Menunjukkan sikap sensitif 2. Tinjauan Tentang Belajar

a. Pengertian Belajar

Dalam proses pembelajaran, berhasil tidaknya pencapaian tujuan banyak dipengaruhi oleh bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswanya. Oleh sebab itu, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi

(30)

15

kebutuhan hidupnya.8 Skinner (1973) mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Sedangkan Morgan (1962) mengartikan belajar sebagai suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang mengganggu.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi tersebut, menunjukkan bahwa hasil dari belajar adalah ditandai dengan adanya

‘‘perubahan”, yaitu perubahan yang terjadi didalam diri seseorang.

b. Unsur-Unsur Belajar

Cronbach (1954) dalam Nana Syaodih Sukmandinata (2007) mengemukakan beberapa unsur utama dalam proses belajar, yaitu:

1) Tujuan. Belajar di mulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai.

2) Kesiapan. Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik anak atau individu perlu memiliki kesiapan fisik dan fsikis.

3) Situasi. Kegiatan berlangsung dalam suatu situasi belajar.

8 Daryanto, Belajar dan Mengajar, (Bandung: CV. Yrama Widya, 2013), h. 2.

(31)

16

4) Respons. Berpegang kepada hasil dari interprestasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan.9

c. Teori-Teori Belajar 1) Teori Behaviorisme

Menurut teori ini manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungan yang akan memberikan pengalaman-pengalaman belajar. Teori ini menekankan pada apa yang dapat di lihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang akan terjadi di dalam pikiran manusia.

2) Teori Belajar Kognitif

Menurut teori kognitif, belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman.

Dalam model ini, tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan dan perubahan tingkah laku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.

3) Teori Beajar Humanisme

Teori humanisme proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia, yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, dan realisasi diri peserta didik yang belajar secara optimal. Proses belajar dianggap berhasil

9 Sobry Sutikno, Belajar dan Pembelajaran, (Lombok: Holistica,2013), h.5.

(32)

17

apabila peserta didik telah memahamni lingkungannya dan dirinya sendiri. Oleh karena itu, peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha untuk mampu aktualisasi diri secara optimal.

d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar a. Faktor Internal

Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri yakni faktor jasmaniah, psikologi dan kelelahan.

b. Faktor Eksternal

Merupakan Faktor yang berasal dari luar diri individu yakni faktor keluarga, sekolah, lingkungan sekitar dan masyarakat.10

3. Motivasi Belajar a. Pengertian

Motivasi belajar berasal dari kata latin “movere” yang berarti

“dorongan atau menggerakkan”.11

“Motivasi adalah sesuatu yang mendorong individu untuk berprilaku yang langsung menyebabkan munculnya prilaku. Seseorang akan melakukan perbuatan betapapun beratnya jika ia mempunyai

10Daryanto, Belajar dan Mengajar, h. 36.

11 Husaini Usman, Manajemen, h. 275.

(33)

18

motivasi tinggi. Demikian pula dalam belajar motivasi memegang peranan cukup besar terhadap pencapaian hasil”.12

“Pendapat lain mengemukakan bahwa motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dorongan dalam dirinya”.13

Dari dua penjelasan diatas dapat dideskripsikan bahwa motivasi juga dapat dikatakan sebagai perbedaan antara dapat melaksanakan dan mau melaksanakan. Motivasi adalah kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang lebih ditetapkan sebelumnya.

Atau dengan kata lain, motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat.14

Sedangkan menurut Mc. Donald, “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan”.15

Jadi peneliti bisa mengomentari motivasi itu adalah dorongan yang menyebabkan perubahan tingkah laku. Dalam proses belajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

b. Macam-Macam Motivasi

12 Lukman Hakim, Perencanaan Pembelajaran (Bandung: CV. Wacana Prima.S,2008), h.

35.

13 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis Bidang Pendidikan,(Jakarta:

PT.Bumi Aksara,2007), h. 1.

14 Ibid, h. 2.

15 Djamrah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru,(Surabaya: Usaha Nasional, 2012), h.

34.

(34)

19 1) Motivasi Intrinsik

“Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar,karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan melakukan sesuatu”.16

Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan sesuatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri.

Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus menerus. Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus-menerus. Sedangkan seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dalam belajar

Motivasi itu muncul karena ia membutuhkan sesuatu dari apa yang dipelajarinya. Motivasi memang berhubungan dengan kebutuhan seseorang yang memunculkan kesadaran untuk melakukan aktivitas belajar.

2) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar karena besok pagi akan ada ujian dengan harapan mendapatkan nilai yang baik, sehingga akan dipuji oleh temannya. Jadi yang penting bukan belajar karena ingin

16 Ibid., h. 35.

(35)

20

mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah.17

Jadi motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar siswa mau belajar. Berbagai macam cara yang bisa dilakukan agar siswa termotivasi untuk belajar. Guru harus bisa memanfaatkan minat siwa dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuknya.

c. Bentuk-Bentuk Motivasi

Di dalam kegiatan belajar mengajar, peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.

1) Memberi Angka

Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar,yaang utama justru untuk mencapai angka/nilai yang baik, sehingga siswa biasanya yang di kejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada rapot angkanya yang baik.

Angka-angka yang baik, bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya naik kelas saja. Ini

17 Ibid., h .37.

(36)

21

menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka baik.

Namun demikian, semua itu harus diingat baik oleh guru bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah yang harus ditempuh oleh guru adalah bagaimana cara memberikan angka-angka dapat dikaitkan dengan vlue yang terkandung didalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif saja tetapi juga keterampilan dan efeksinya.

2) Hadiah

Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi karena dengan adanya hadiah maka seseorang akan berusaha untuk belajar atau bekerja dan menguasai suatu pekerjaan atau bidang tertentu.

Hadiah merupakan suatu alat pendidikan yang positif yang juga merupakan alat motivasi, sebab hadiah yang diberikan kepada siswa secara tepat dapat mendorong siswa untuk belajar lebih baik dan lebih giat lagi.

Pemberian hadiah berupa barang harus dilaksanakan pada saat yang tepat, sebab pemberian hadiah yang dilaksanakan sembarangan dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi siswa.

(37)

22

Sebagai contoh; Anak yang selalu diberikan hadiah setiap saat akan melakukan kegiatan. Maka lama-lama mereka melakukan suatu kegiatan hanya semata-mata ingin mendapatkan hadiah. Apabila hadiah yang diharapkan tidak terpenuhi maka anak yang bersangkutan akan timbul rasa kecewa yang artinya mereka akan malas melakukan kegiatan-kegiatan lagi sebagai akibat dari apa yang diharapkan tidak dapat terpenuhi.

3) Saingan/Kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Saingan atau kompetisi ini menilai siswanya tentang keinginannya untuk maju dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, baik melalui persaingan individual mupun persaingan kelompok. Dalam dunia pendidikan persaingan individual maupun persaingan kelompok terjadi dalam diri siswa dimana siswa selalu menginginkan seseuatu yang terbaik bagi dirinya maupun kelompoknya dibandingkan dengan lainnya.

4) Memberi Ulangan

Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Tetapi harus diingat oleh guru, jangan terlalu sering karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini, guru juga harus terbuka maksudnya kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya. Sehingga siswa bisa mempersiapkan dirinya untuk menghadapi ulangan yang akan diberikan oleh guru.

(38)

23 5) Mengetahui Hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.

Sedangkan bagi siswa yang hasilnya menurun atau mendapatkan nilai yang kurang baik akan termotivasi untuk lebih giat lagi untuk belajar, sehingga timbul di dalam dirinya untuk mengejar teman-temannya yang mendapat nilai bagus yang akhirnya, hasil belajarnya menjadi jauh lebih baik.

6) Pujian

Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

Pujian dapat dijadikan alat untuk meningkatkan motivasi, karena siswa apabila mendapat pujian akan merasa sangat senang dan percaya diri untuk melakukan sesuatu. Agar pujian tersebut dapat dijadikan motivasi maka pemberiannya harus tepat. Pujian akan menjadi motivasi apabila diberikan pada saat yang tepat dan sebaliknya akan berakibat buruk apabila pujian itu diberikan secara sembarangan.

(39)

24 7) Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapikalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.

Hukuman yang diberikan kepada siswa, bisa dilakukan dengan menyuruh siswa berdiri di depan kelas dengan satu kaki atau bisa juga dengan menyuruh siswa berlari keliling lapangan sekolah beberapa kali. Dengan demikian, siswa yang mendapat hukuman tersebut akan termotivasi untuk belajar dan berusaha untuk tidak mendapatkan hukuman lagi.18

4. Peran Komunikasi Guru Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam proses belajar mengajar kesatuan antara belajar siswa dengan guru, yang keduanya terjalin hubungan saling menunjang. Proses belajar mengajar guru tidak akan berarti tanpa diikuti dengan motivasi belajar siswa, begitu pula sebaliknya motivasi belajar siswa sulit mengarah kepada tujuan jika tanpa ada bimbingan dan komunikasi yang jelas dari guru.

Aktivitas belajar yang disertai dengan motivasi, akan menghasilkan prestasi yang baik, karena semakin kuat motivasi yang diberikan, semakin berhasil pengajaran itu. Motivasi menentukan intensitas usaha anak belajar. Demikian sebalaiknya, bila motivasi belajar rendah, dengan

18 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007) h. 92.

(40)

25

sendirinya hasil belajar kurang memuaskan. Dengan demikian semakin kuat motivasi belajar, maka semakin baik pula prestasi belajar yang akan dicapai siswa.

Komunikasi sangat berperan karena dalam proses belajar terdapat unsur yang saling mempengaruhi komunikasiyang dilangsungkan dengan sadar dengan keinginan untuk mengetahui dan mempengaruhi, yang mempengaruhi disini makna edukatif dengan komunikasi. Proses perubahan tingkah laku akan terjadi dan dari tahu menjadi tahu, dan tidak paham menjadi paham. Dengan demikian komunikasi dapat menimbulkan efek sesuai dengan tujuan yang diharapkan, yaitu menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga prestasi siswa akan menjadi baik. Untuk mengembangkan kemandirian, siswa diperlukan sustu kondisi yang memungkinkan siswa belajar secara efektif semakin banyak siswa melakukan komunikasi maka semakin dalam pengetahuannya semakin banyak siswa melakukan komunikasi, maka kecakapan dan pengetahuan yang dimilikinya dapat semakin dikuasai dan semakinmendalam, karena komunikasi yang telah dilakukan akan membawa ketingkat yang lebih baik. Nana Sudjana mengatakan bahwa faktor kemampuan atau kecakapan siswalah yang saling berpengaruh terhadap prestasi dan hasil belajar.

Berdasarkan pemikiran diatas jelaslah bahwa motivasi belajar mempunyai hubungan yang erat dengan komunikasi yang dilakukan oleh guru. Dengan demikian secara kronologi dapat dikatakan bahwa kreativitas komunikasi yang diberikan guru terhadap muridnya. Maka

(41)

26

semangat siswa dalam belajar juga tinggi sehingga akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar yang baik pula.

5. Pelajaran IPA a. Pengertian IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau sains yang semula berasal dari bahasa inggris

science”. Kata “science” sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Latin

scientia” yang berarti saya tahu. “Science” terdiri dari socaial sciences (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan natural science (Ilmu Penetahuan Alam). Namun, dalam perkembangannya science sering diterjemahkan sebagai sains yang berarti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Menurut H.W Fowler (dalam Laksmi Prihantoro, 1986:1.3), IPA adalah penetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. IPA mempelajari alam semesta, benda benda yang ada dipermukaan bumi, didalam perut bumi dan di luar angkasa, baik yang dapat diamati inddra maupun yang tidak dapat diamati oleh indra. IPA atau ilmu kealaman adalah ilmu tentang dunia zat, baik mahluk hidup maupun benda mati yang diamati (Kardi dan Nur, 1994:1).

Adapun wahyana (1986) mengatakan bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam.

(42)

27

Perkembangannya tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan fakta, tetapi oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah.19

Dalam kamus fowler (1951), natural scienc (IPA) didefinisikan sebagai pengetahuan sistematis dan disusun dengan menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifaat kebendaan dan didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi. Sedangkan Purnel’s mendefinisikan IPA adalah pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematis serta dijelaskan dengan bantuan aturan, hukum, prinsip, teori, dan hipotesa.

Dari penjelasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa IPA adalah ilmu pengetahuan yang berbicara tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip, hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dan metode ilmiah.

b. Unsur-Unsur IPA

Carind dan Sund mengatakan IPA memiliki empat unsur, yaitu:

1) IPA sebagai produk adalah kumpulan hasil kegiatan dari para ahli saintis sejak berabad-abad,yang menghasilkan berupa fakta, data, konsep, prinsip, teori.

a) Fakta dalam IPA adalah pertanyaan tentang benda-benda yang benar-benar ada atau pristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah dikonfirmasikan secara objektif/sesuatu yang dapat dibuktikan

19 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), h. 136.

(43)

28

kebenarannya. Minsallnya: air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah.

b) Konsep IPA adalah penggabungan ide antara fakta-fakta yang ada hubungannya satu dengan yanglainnya. Minsalnya: makhluk hidup di pengaruhi oleh lingkungannya.

c) Prinsip IPA adalah generalisasi (kesimpulan) tentang hubungan diantara konsep-konsep IPA. Prinsip bersifat analitik dan dapat berubah bila observasi baru dilakukan, sebab prinsip bersifat tentatif (belum pasti). Minsalnya: udara yang dipanaskan memuai,adalah prinsip menghubungkan konsep udara, panas, pemuaian. Artinya udara akan memuai jika udara tersebut dipanaskan.

8) IPA sebagai proses adalah strategi/cara yang dilakukan para ahli saintis dalam menemukan berbagai hal tersebut sebagaiimplikasi adanya temuan tentang kejadian/peristiwa-peristiwa alam.

9) IPA sebagai sikap ilmiah, dalam proses IPA mengandung cara kerja, sikap dan cara berfikir.20

G. Kerangka Fikir

Keberhasilan suatu pendidikan sangat bergantung pada guru. Seorang guru dikatakan berhasil apabila membawa siswa kearah kedewasaan berfikirnya. Sebaliknya, seorang siswa akan mencapai kesuksesan belajar bila memiliki motivasi yang baik. Motivasi sangat penting untuk mendorong siswa

20 Widi wisudawati, Metodologi Pembelajaran IPA, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), h. 24.

(44)

29

dalam belajar, baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik. Komunikasi guru merupakan motivasi ekstrinsik. Karena komunikasi sebagai salah satu bentuk intraksi yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran yaitu antara guru dengan siswa.

Komunikasi guru dalam kegiatan pembelajaran akan menciptakan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa, sehingga proses belajar mengajar efektif dan mampu memberikan suasana belajar yang kondusif, sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk belajar.

H. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif. “Metode pendekatan kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, tehnik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif

Guru

Komunikasi

Siswa

Motivasi Belajar Meningkat

(45)

30

dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi”.21

Menurut Sudarwan Danim penelitian kualitatif adalah:

”Penelitian kualitatif bermaksud untuk memberikan makna atas penomena secara holistik dan harus disamping itu penelitian kualitatif bersifat deskriptif yaitu yang terkumpul berbentuk kata-kata, gambar bukan angka- angka. Kalaupun ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang.”22 Sedangkan menurut Sugiyono penelitian kualitatif adalah:

Sugiyono mengatakan: “Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekannkan makna dari pada generalisasi”.23

Pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektif-konstruktif (minsalnya makna-makna yang bersumber pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah,dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertentu).

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang dilakukan dengan mengumpulkan informasi dalam bentuk kata-kata atau keterangan-keterangan yang tidak memerlukan perhitungan atau analisis statistik. Pendekatan penelitian ini

21Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung:

Alfabeta, 2010), h. 9.

22Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002, h.

57.

23 Sugiyono, Metode Penelitian, h. 9.

(46)

31

merupakan strategi penulis untuk memperoleh data yang valid sesuai dengan karaktristik variabelnya.

Jadi penelitian kualitatif yang dimaksud adalah bersifat deskriptif, dimana gejala dan penomena yang diteliti adalah peran komunikasi guru dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V MI Al-Ikhlashiyah Perampuan tahun Pelajaran 2016/2017.

2. Kehadiran Peneliti

Tujuan utama kehadiran peneliti dilapangan adalah untuk mendapatkan data yang dibutuhkan. Peneliti sebagai instrumen yang sangat penting karena peneliti sebagai pengumupulan data-data atau instrumen-instrumen dari objek yang diteliti secara terus menerus dan terjadwal atau terencanakan, serta menambah pengetahuan dan wawasan penelitian dalam penulisan.

Lexy J. Moleong mengatakan, “Kehadiran peneliti dilokasi penelitian sesuai dengan ciri penelitian kualitatif dimana peneliti adalah instrumen kunci, dengan demikaian kehadiran peneliti dilapangan untuk dibutuhkan”.24

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang peneliti lakukan sebagai instrumen kunci, antara lain: mendesain dan mengatur berlangsungnya proses penelitian sebelum terjun kelapangan dengan mempersiapkan alat- alat yang dibutuhkan selama penelitian. Kemudian mengurutkan dan mengelompokkan data-data hasil penelitian untuk kemudian diambil

24 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitan Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakya, 2000), h. 121.

(47)

32

kesimpulan dengan hadir dilokasi penelitian dan bertemu langsung dengan para responden. Adapun kehadiran peneliti dilapangan bukan untuk mempengaruhi subyek penelitian atau manipulasi data dan informasi tapi semata-mata untuk mendapatkan data-data yang akurat dan sewajarnya.

Adapun hal yang peneliti lakukan dalam penelitian ini antara lain:

melakukan observasi, melakukan wawancara langsung dan melakukan pencatatan yang berkaitan dengan gambaran umum lokasi penelitian.

3. Sumber Data

Sumber data merupakan subjek dari mana data diperoleh.25 Subjek dalam penelitian disebut informasi yaitu orang yang merespon, memberikan informasi, atau yang menjawab pertanyaan peneliti baik secara lisan atau tulisan. Jadi yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data tersebut diperoleh. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu:

a. Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau secara kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan dan hasil pengujian.

Metode yang digunakan untuk mendapatkan data primer yaitu:

1) Metode Survei

25Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian “Suatu Pendekatan Praktek”, (Jakarta, PT.

Rineka Cipta, 2002), h. 129.

(48)

33

Metode survei merupakan metode pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan lisan dan tertulis. Metode ini memerlukan adanya kontak antu hubungan antara peneliti dengan subjek (responden) penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan. Data yang diperoleh sebagian besar data deskriptif, akan tetapi pengumpulan data dapat dirancang untuk menjelaskan sebab akibat atau mengungkapkan ide.

2) Metode Observasi

Metode observasi merupakan proses pencatatan pola prilaku subjek (orang), objek (benda) atau kejadian yang sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti.

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip.

Jadi peneliti dapat mengomentari untuk memperoleh data yang valid, maka proses pengumpulan data yang peneliti lakukan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi yang sesuai dengan penelitian yang penulis lakukan, yakni dengan menggunakan penelitian kualitatif.

4. Teknik Pengumpulan Data

(49)

34

Prosedur pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian ini adalah mendapatkan data. Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Dilihat dari cara atau tehnik pengumpulan data, maka pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan observasi, interview (wawancara), dan dokumentasi.

a. Metode Observasi

Metode observasi adalah tehnik pengumpulan data yang paling utama dalam penelitian kualitatif. Sedangkan menurut Syaodin N mengatakan bahwa observasi atau pengamatan adalah “suatu tehnik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung”.26

Dari pendapat diatas, peneliti dapat mengomentari bahwa observasi adalah suatu cara atau tehnik untuk mencari data dengan jalan pengamatan tentang apa yang didapatkan dilokasi penelitian tersebut secara sistimatis.

Adapun macam-macam metode dalam observasi ada dua, yaitu observasi partisipatif dan observasi non partisipatif.

1) Observasi partisipatif merupakan seperangkat strategi penelitian yang tujuannya adalah untuk mendapatkan satu keakraban yang dekat dan mendalam dengan satu kelompok individu dan perilaku mereka melalui satu keterlibatan intensif dengan orang di lingkungan alamiah mereka. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan sejumlah tujuan dan menetapkan dirinya sebagai bagian objek yang sedang ia teliti.27

26Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung :Alfabeta, 2013), h. 105.

27Ibid., h. 117.

(50)

35

2) Obsevasi non partisipatif adalah observasi yang dilakukan dimana si peneliti mengamati perilaku dari jauh tanpa ada interaksi dengan subjek yang sedang diteliti. Observasi non partisipatif sama sama dengan istilah pengamatan biasa. Parsudi Suparlan menyatakan bahwa dalam pengamatan biasa peneliti tidak diperbolehkan terlibatdalam hubungan emosi pelaku yang menjadi sasran penelitian.28

Berdasarkan jenis observasi yang sudah di sebutkan di atas dalam observasi ini peneliti hanya menggunakan observasi non partisipatif, karena peneliti hanya mengamati prilaku dari jauh tanpa ada interaksi dengan subjek yang akan diteliti . Adapun yang diobservasi yaitu:

1) Persiapan guru sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

2) Proses komunikasi guru didalam kelas.

3) Bentuk-bentuk komunikasi yang dilakukan guru di kelas V (lima).

b. Metode Wawancara (Interview)

Menurut Esterbeng yang dikutip Sugiyono wawancara adalah

“pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam satu topik tertentu”.29 Sedangkan menurut Nazir wawancara adalah “proses memperoleh keterangan untuk tujuan peneliti dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interviewbuide”.30

28Ibid., h. 119.

29 Sugiyono, Metode Penelitian, h. 231.

30 Nazir, Metode Penelitian, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 136.

(51)

36

Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa, metode wawancara adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya jawab yakni peneliti mengajukan pertanyaan kepada informan untuk dijawab agar mendapatkan informasi yang diinginkan dan sesuai dengan fokus penelitian.

Lebih lanjut Esterberg dalam Sugiyono mengemukakan bahwa wawancara terdiri dari beberapa macam yaitu:

1) Wawancara Terstruktur (Structured Interview)

Yakni teknik pengumpulan data yang dimana peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh dan peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabanya telah disimpan.

2) Wawancara Semiterstruktur (Semistructured Interview)

Wawancara ini dikenal dengan sebutan indept interview atau wawancara mendalam, ini digunakan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dimana informan diminta pendapat dan ide-idenya.

3) Wawancara Tak Berstruktur (Unstructured Interview)

Ini adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengambilan data.31

Dari ketiga macam wawancara tersebut, maka peneliti menggunakan metode wawancara yang tidak berstruktur. Hal ini dimaksudkan agar peneliti dapat secara bebas dan leluasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan serta proses wawancara dilakukan secara mendalam sehingga informasi yang diperoleh lebih banyak dan terinci.

Untuk memperoleh data, peneliti akan mewawancarai:

31 Ibid., h. 233.

(52)

37

a) Kepala Madrasah MI AL-Ikhlashiyah Perampuan tentang apakah sudah baik cara berkomunikasi guru ketika mengajar dikelas.

b) Guru kelas yang bersngkutan tentang bagaimana cara komunikasi guru agar motivasi belajar siswa menjadi meningkat.

c) Siswa MI AL-Ikhlashiyah Perampuan tentang bagaimana hasil yang diperoleh oleh siswa setelah guru melaksanakan komunikasi yang baik dengan siswa.

c. Metode Dokumentasi

“Dokumentasi merupakan mengumpulkan data dengan penyelidikan benda tertulis, seperti buku-buku, majalah dan catatan harian”.32

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan minsalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan. Sedangkan yang berbentuk karya minsalnya, karya seni berupa foto, dan filem. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.33

5. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang akan diwawancarai, jika setelah dianalisiss terasa belum memuaskan,makapeneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu sehingga memperoleh data yang dianggap kredibel.

32Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka cipta, 2010), hlm. 158.

33 Sugiyono, Metode Penelitia, h. 220.

(53)

38

Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai analisis data yaitu:

Menurut Sugiyono analisis data adalah:

“proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dalam cara unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain”.34

Sedangkan menurut Milles and Huberman adalah:

“aktifitas dalam analisis kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.

Aktivitas dalam analisis data yaitu data reduksi, penyajian data dan verifikasi”.35

Jadi analisis data dapat diartikan sebagai proses mencari dan menyusun secara sistematis data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.

Miles dan Huberman mengatakan ada tiga tahapan dalam kegiatan analisis data yaitu:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

34 Ibid., h. 244.

35 Ibid., h. 245.

(54)

39 b. Mendisplay Data (Penyajian Data)

Mendisplay data adalah menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagian hubungan antara kategori dan sejenisnya.

c. Conclution Drawing (Mengambil Kesimpulan dan Verifikasi)

Setelah mendapatkan data yang direduksi dan didisplay maka yang dikemukakan bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Dalam hal mengambil kesimpulan peneliti akan menyimpulkan sesuai dengan data sementara yang peneliti peroleh dari sumber. Setelah peneliti melaksanakan kegiatan penelitian dilapangan barulah peneliti akan mengambil keputusan final berdasarkan data temuan dengan pelaksanaan yang nyata dilapangan.36

Dengan demikian maka dalam menganalisis data yang akan diperoleh dilokasi penelitian, maka peneliti akan menggunakan teknik analisis induktif, yaitu pengolahan data yang dibangun berdasarkan hal-hal khusus dan bermuara pada kesimpulan umum.

6. Pengecekan Keabsahan Data

Keabsahan data dalam sebuah penelitian bertujuan untuk membuktikan apakah data yang diperoleh benar-benar valid atau tidak.

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.37

Untuk mendapatkan validitas data atau keabsahan data, ada beberapa teknik yang digunakan yaitu:

a) Perpanjangan penelitian

36Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 92.

37 Ibid., h. 244.

(55)

40

Perpanjangan penelitian ini dilakukan agar data yang diperoleh dilapangan benar-benar valid. Hal ini dilakukan dengan mencari kredibilitas data yang bernilai tinggi dari orang-orang yang dianggap mempunyai nilai informasi yang akurat. Perpanjangan disini maksudnya adalah Perpanjang waktu penelitian ini peneliti lakukan apabila data yang diperoleh kurang valid.

b) Ketekunan pengamatan

Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.

c) Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu yang lain. Jadi, triangulasi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi sejenis dari sumber data yang berbeda.

Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1) Tringulasi sumber dilakukan dengan cara pengecekan data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber.

2) Tringulasi waktu dilakukan dengan cara mengecek data dengan wawancara, observasi dalam waktu yang berbeda.

Gambar

Tabel 2 Data Jumlah Guru  Tabel 3 Data Siswa

Referensi

Dokumen terkait

The function produces the resulting plot where the bar chart represents each groups' average rating of work hours sorted from highest to lowest, and the line represents a