• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lanjut Usia 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Lanjut Usia 1"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Menurut Rogers (dalam Aryanti, 2003), penerimaan diri adalah seseorang yang selalu terbuka terhadap pengalaman apa pun dan mampu menerima masukan dan kritik apa pun dari orang lain. Menurut Helmi (1998) penerimaan diri adalah sejauh mana seseorang dapat memahami dan menerima karakteristik pribadi serta menggunakannya dalam menjalani kehidupan. Menurut Chaplin (1999), penerimaan diri adalah suatu sikap yang merupakan cerminan perasaan puas terhadap diri sendiri, terhadap kualitas dan bakat yang dimiliki, serta pengakuan terhadap keterbatasan diri.

Sedangkan menurut Maslow (dalam Helmi, 1998), penerimaan diri adalah kemampuan individu untuk hidup dengan segala keunikan dirinya, yang dicapai melalui pengenalan secara utuh. Sartain (dalam Andromeda, 2006) mengartikan penerimaan diri sebagai kesadaran seseorang dalam menerima dirinya apa adanya dan memahami dirinya apa adanya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri merupakan sikap positif individu yang ditunjukkan dengan perasaan bahagia dan puas terhadap diri sendiri, menerima keadaan, fakta, kenyataan baik fisik maupun psikis dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada. dengan sendirinya tanpa ada rasa kecewa dan berusaha, kembangkanlah diri seoptimal mungkin.

Secara umum individu yang memiliki penerimaan diri yang baik akan menunjukkan ciri-ciri tertentu dalam berpikir dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Tingkat penerimaan diri secara fisik, tingkat kepuasan individu terhadap bagian tubuh dan penampilan fisik secara keseluruhan, menggambarkan penerimaan fisik sebagai evaluasi dan penilaian diri terhadap tubuh seseorang, apakah tubuh dan penampilannya menyenangkan atau memuaskan untuk diterima atau tidak. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek penerimaan diri menurut Cronbach (1963) antara lain: perasaan kesetaraan, keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri, tanggung jawab, orientasi eksternal, pendapat, kesadaran.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Self Acceptance

Hal ini menciptakan kepuasan bagi individu dan penting untuk penerimaan diri. Sekalipun seseorang telah mempunyai harapan yang realistis, namun jika lingkungannya tidak mendukung individu tersebut dan tidak memberikan atau bahkan menghambat peluang, maka harapan individu tersebut akan sulit tercapai. Sikap anggota masyarakat yang menyenangkan tidak akan menimbulkan prasangka dan ketakutan, karena ada rasa hormat terhadap kemampuan sosial orang lain dan kesediaan individu untuk mengikuti adat istiadat lingkungan.

Ketika tidak ada emosi yang berat, maka akan muncul individu yang dapat bekerja dengan baik dan merasa senang dengan apa yang dilakukannya. Identifikasi orang-orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, Individu yang mengidentifikasi diri dengan individu lain yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, maka individu tersebut juga dapat berperilaku sesuai dengan keteladanannya. Anak dengan pola asuh demokratis akan berkembang menjadi individu yang mampu menghargai dirinya sendiri.

Individu yang tidak memiliki citra diri yang stabil akan sulit menunjukkan kepada orang lain siapa dirinya yang sebenarnya karena ia ambivalen terhadap dirinya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi penerimaan diri seseorang, sehingga individu dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.

Karakteristik Individu yang Memiliki Penerimaan Diri

Jersild (dalam Martha, 2012) mengemukakan beberapa ciri-ciri individu yang menerima keadaannya atau yang telah mengembangkan sikap menerima keadaannya dan menghormati diri sendiri, percaya diri pada norma dan pengakuan terhadap diri sendiri tanpa terpaku pada pendapat orang lain dan pertimbangan. dari keterbatasan mereka sendiri. Orang yang menerima dirinya sadar akan harta pribadi yang dimilikinya dan merasa bebas untuk menarik diri atau bertindak sesuai keinginannya. Hjelle (dalam Martha, 2012) mengemukakan bahwa penerimaan diri ditandai dengan individu memiliki pandangan positif terhadap dirinya dan mampu bertahan dari kegagalan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri penerimaan diri dari beberapa tokoh di atas adalah seseorang yang mau menerima dirinya sendiri, mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya dalam menghadapi kehidupan, menganggap dirinya berharga sebagai manusia, yang Setara dengan orang lain, bersedia bertanggung jawab atas perilakunya dan dapat menerima pujian serta kritik yang obyektif. Dan dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa bersikap bermusuhan terhadapnya, jika orang lain mengkritiknya, dapat mengatur keadaan emosinya (depresi, marah).

Dampak Adanya Self Acceptance

Dengan demikian, orang yang memiliki penerimaan diri dapat menyesuaikan diri secara sosial dengan lebih baik dibandingkan dengan orang yang merasa rendah diri atau merasa tidak mampu, sehingga cenderung berorientasi pada diri sendiri. Penerimaan diri erat kaitannya dengan konsep diri, karena penerimaan diri memegang peranan penting dalam membentuk konsep diri dan kepribadian yang positif. Orang yang memiliki penerimaan diri yang baik juga dapat dikatakan memiliki konsep diri yang baik karena selalu mengacu pada citra diri yang ideal sehingga dapat menerima gambaran dirinya yang sesuai dengan kenyataan.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan mengenai pengaruh penerimaan diri, diantaranya adalah adaptasi internal terhadap diri sendiri, yaitu seseorang mampu membedakan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, kemudian adaptasi sosial, dimana orang lain dapat menerima tempat, dimana hidupmu.

Cara Penerimaan Diri

Jika orang lain menyukai kita, kita juga akan cenderung menyukai diri kita sendiri. Rasa percaya diri bahwa dirinya tetap dicintai dan diakui oleh orang lain meskipun ia tidak memenuhi standar yang diciptakan orang lain untuknya. Penerimaan diri didasarkan pada seberapa baik seseorang memenuhi tuntutan dan harapan orang lain terhadap dirinya.

Sebuah survei pribadi tentang seberapa positif berbagai kualitas pada orang lain yang seumuran dengan seseorang, membandingkan posisinya dengan posisi orang lain seusianya. Derajat kesesuaian antara pandangan seseorang terhadap diri sebenarnya dengan diri ciptaan yang membentuk rasa harga diri. Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa aspek penerimaan diri meliputi penerimaan diri yang tercermin, jika dengan menyukai orang lain kita akan menyukai diri kita sendiri, penerimaan diri yang mendasar, keyakinan bahwa orang lain menyukai kita, diri yang kondisional. - penerimaan yang baik di hadapan orang lain, evaluasi diri, ide dan perbandingan yang tepat, pandangan berharga seseorang terhadap dirinya sendiri.

Kecerdasan Emosi

  • Pengertian Kecerdasan Emosi
  • Aspek – Aspek Kecerdasan Emosi
  • Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi
  • Karakteristik Individu yang Memiliki Kecerdasan Emosi yang Baik dan yang Kurang Baik

Kecerdasan emosional dapat digambarkan sebagai kemampuan menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan. Menurut Beuven Baron (dalam Ariyaningsih, 2009), kecerdasan emosional adalah kemampuan mengatur perasaan dengan baik, memotivasi diri sendiri, dan berempati ketika terjadi keresahan emosi pada diri sendiri dan orang lain. Orang dengan kecerdasan emosional yang baik seharusnya mampu memecahkan masalah dan fleksibel dalam situasi dan keadaan yang sering berubah.

Efektifnya penggunaan kecerdasan emosional dalam mencapai tujuan dan kemampuan mengelola perasaan dengan baik juga didukung oleh pendapat Gardner (1998) yang mengungkapkan kecerdasan emosional dalam istilah kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Dalam rumusan lain, kecerdasan interpersonal dikatakan mencakup kemampuan untuk membedakan dan merespons secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain. Kecerdasan emosional selain dapat mengelola emosi diri sendiri dan mengenali emosi orang lain, juga merupakan kemampuan merasakan (melihat), memahami dan secara efektif menerapkan kekuatan dan ketajaman emosi sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh (Cooper dan Sawaf , 2003). ).

Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan memantau emosi diri sendiri atau orang lain untuk mengendalikan emosi diri sendiri dalam aktivitas manusia, meliputi kesadaran diri, pengendalian impuls, ketekunan, semangat motivasi dan empati agar menjadi lebih baik. digunakan secara efektif. untuk mencapai tujuan pembangunan yang produktif dan mencapai keberhasilan. Empati adalah kemampuan mengenali emosi orang lain dengan merasakan apa yang dialami orang lain. Individu yang mempunyai kemampuan berempati lebih mampu mempersepsikan isyarat-isyarat sosial yang tersembunyi dan menunjukkan apa yang dibutuhkan orang lain, sehingga lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain, dan lebih mampu mendengarkan. orang lain.

Berdasarkan hasil uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosional mempunyai kemampuan dalam mengenali emosinya sendiri, mampu mengendalikan emosi yang dirasakan, tidak terjebak dalam emosi negatif, mengetahui cara memotivasi. diri. dengan mengubah emosi negatif menjadi positif, mereka mampu mengenali emosi orang lain dan memiliki empati yang tinggi serta mampu membangun hubungan dengan orang lain. Bagian yang paling menentukan dan mempengaruhi kecerdasan emosional seseorang adalah anatomi saraf emosionalnya, dengan kata lain otaknya. Faktor kecerdasan emosional lainnya yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosional juga dijelaskan oleh Goleman (1999) bahwa kecerdasan emosional dipengaruhi oleh dua faktor yaitu.

Individu yang kompeten secara emosional akan memiliki hubungan yang baik, lebih hangat, dan lebih sedikit konflik dengan orang lain. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor kecerdasan emosional meliputi perkembangan kelenjar endokrin yang penting bagi pematangan perilaku emosional, dan kelenjar adrenal berperan penting dalam emosi, mendukung pola perkembangan emosi, kehidupan emosional individu. kehidupan dan interaksi selanjutnya. dengan lingkungan sekitar. Kehidupan emosional mereka kaya, namun alami, mereka mempunyai rasa nyaman terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungannya (Goleman, 2000).

Terampil mengembangkan emosi Terampil mengenali kesadaran emosi diri dan mengekspresikan emosi serta kesadaran emosi terhadap orang lain.

Hubungan Antara Kecerdasan Emosi Dengan Self Acceptance Pada Para Lansia di Panti Sosial

Memang tidak mudah untuk menerima diri sendiri, apalagi para lansia yang harus tinggal di panti sosial, namun hidup terus berjalan, para lansia harus bisa menerima dirinya sendiri, mau tidak mau. Menurut Chaplin (1999), penerimaan diri adalah suatu sikap yang merupakan cerminan perasaan puas terhadap diri sendiri, terhadap kualitas dan bakat yang dimiliki, serta pengakuan terhadap keterbatasan diri. Menurut Hurlock (1999) tekanan emosional yang parah adalah tekanan yang terus-menerus, baik di rumah maupun di lingkungan kerja, yang akan mengganggu seseorang dan menyebabkan ketidakseimbangan fisik dan psikologis.

Jika tidak ada tekanan yang berarti pada individu, maka akan memungkinkan individu untuk rileks ketika tegang. Dengan kecerdasan emosional yang baik maka lansia di panti sosial dapat menjaga keharmonisan emosi, mengelola diri dengan lebih baik, memotivasi diri dan berempati terhadap sesama sesepuh di panti sosial. Namun selain kecerdasan emosional yang baik, lansia juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang perubahan-perubahan yang terjadi ketika memasuki usia lanjut (Goleman, 2004).

Kecerdasan emosional yang baik akan membantu lansia untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, khususnya perubahan sosial yang dialami oleh lansia yang harus tinggal di panti sosial.

Kerangka Konseptual

Hipotesis

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya kecerdasan emosional, selain dapat memotivasi dirinya sendiri mereka dapat juga mengelola emosi merek4 berempati yang baik dengan oftulg lairu mampu berkomunikasi dengan