LAPORAN AKHIR
KAJIAN ALOKASI BEBAN PENCEMARAN AIR SUNGAI DI SUNGAI CIKARANGGELAM KABUPATEN KARAWANG
BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN KARAWANG
PROVINSI JAWA BARAT
2016
LAPORAN AKHIR
KAJIAN ALOKASI BEBAN PENCEMARAN AIR SUNGAI DI SUNGAI CIKARANGGELAM KABUPATEN KARAWANG
BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN KARAWANG
PROVINSI JAWA BARAT
2016
KATA PENGANTAR
Tim Penyusun memanjatkan Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya sehingga telah menyelesaikan Laporan Akhir dari pekerjaan Kajian Alokasi Beban Pencemaran Air di Sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang. Muatan laporan akhir ini mendiskripsikan tentang latar belakang, metode terkait tujuan kajian antara lain potensi beban pencemaran secara umum yang masuk ke sungai yang berasal dari beberapa sektor, daya tampung beban pencemaran, serta alokasi beban pencemaran setiap sektor dan khusus untuk kegiatan industri di setiap cluster industri.
Sungai merupakan satu kesatuan antara wadah air dan air yang mengalir, oleh karena itu kesatuan sungai dan lingkungan merupakan suatu persekutuan mendasar yang tidak terpisahkan. Persoalan khas yang terjadi di sungai atau badan air adalah pencemaran. Prilaku (praktek) membuang limbah atau sampah badan air sungai semakin memperparah kondisi kualitas kelas dan mutu air sungai.
Kajian alokasi beban pencemaran air di Sungai Cikaranggelam diawali dengan upaya identifikasi dan inventarisasi sumber-sumber pencemar baik yang bersifat point source maupun non point source yang implikasinya untuk menjadi pedoman bagi pemerintah daerah khususnya dalam penentuan alokasi beban pencemaran untuk sektor industri yang dapat diacu dalam penentuan perizinan pembuangan air limbah baik dalam hal debit air limbah maupun baku mutu air limbah yang diperbolehkan untuk dibuang ke badan air oleh setiap masing masing sektor.Kajian ini disusun sebagai langkah awal implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, yang penyusunannya mengacu sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1 Tahun 2010 tentang tata laksana (NSPK) Pengendalian Pencemaran Air dan Keputusan MenteriLH Nomor 110 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penenatapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air.
Pada akhirnya Laporan Akhir ini diharapkan dapat menjadi landasan dan kerangka ilmiah dalam rangka menyusun alokasi beban pencemaran air di Sungai Cikaranggelam. Tim Penyusun dalam kesempatan ini juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi secara konstruktif dalam memberikan pandangan, data dan informasi dalam rangka penyusunan dokumen ini hingga dapat selesai dengan baik.
Karawang, November 2016
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Hal.
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ...ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 LATAR BELAKANG ... 1
1.2 LANDASAN HUKUM ... 2
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN ... 2
1.4 RUANG LINGKUP KEGIATAN ... 3
1.5 HASIL YANG DIHARAPKAN ... 3
BAB II PENDEKATAN DAN METODE KAJIAN. ... 4
2.1. WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN ... 4
2.2. JENIS DAN SUMBER DATA KAJIAN ... 5
2.3. METODE DAN PENDEKATAN KAJIAN ... 6
2.4. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN ... 6
2.4.1. Tahap Perencanaan Kajian ... 7
2.4.2. Tahap Pelaksanaan Kajian ... 7
2.4.3. Pelaporan dan dokumentasi Kajian ... 7
2.5. TEKNIK ANALISIS DATA ... 7
2.5.1. Metode Inventarisasi dan Identifikasi sumber Pencemaran Air. ... 7
2.5.2. Tahapan Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar ... 8
2.5.3. Perhitungan Beban Pencemaran ... 11
2.5.4. Penentuan status mutu air dengan Indeks Pencemaran (IP) ... 15
2.5.5. Perhitungan Total Maximum Daily Loads (DTBPs) ... 16
2.5.6. Penentuan Alokasi Beban Pencemaran air ... 16
2.6. Pemodelan Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) AIR ... 16
2.6.1 Tahapan Penggunaan dalam Model ... 16
2.6.2. Teknik Simulasi ... 17
2.6.3. Pembagian Segmentasi sungai ... 17
2.6.4. Pengambilan Sampel Air ... 18
2.6.5. Input Data... 18
2.6.6. Running Program ... 18
2.6.7. Uji Model ... 18
2.6.8. Simulasi Model ... 19
BAB III KARAKTERISITIK WILAYAH KAJIAN ... 21
3.1. GAMBARAN UMUM WILAYAH SUNGAI CIKARANGGELAM ... 21
3.1.1. Kondisi biofisik lingkungan sungai ... 21
3.1.2. Iklim dan Curah hujan ... 23
3.2. Penggunaan lahan ... 24
3.3. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ... 25
3.3.1. Sektor industri dan Rumah Sakit ... 25
3.3.2. Kependudukan ... 27
3.3.3. Pertanian ... 28
3.3.4. Peternakan ... 29
3.4. Perhitungan Potensi dan Kebutuhan Air sebagai Gambaran Model Neraca Air ... 29
3.5. Penggunaan dan Pemanfaatan Air yang Sudah Ada ... 32
BAB IV POTENSI BEBAN PENCEMARAN ... 34
4.1. Potensi Beban Pencemar Industri dan Rumah Sakit ... 41
4.2. Potensi Beban Pencemar Rumah Tangga ... 43
4.3. Potensi Beban Pencemar Sampah ... 44
4.4. Potensi Beban Pencemar Pertanian ... 45
4.5. Potensi Beban Pencemar Lahan Terbangun ... 46
4.6. Potensi Beban Pencemar Peternakan ... 47
BAB V STATUS MUTU AIR ... 48
5.1. Lokasi Pengambilan sampel ... 48
5.2. Status Mutu Air ... 49
BAB VI DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN ... 50
BAB VII PENETAPAN ALOKASI BEBAN PENCEMARAN ... 55
BAB VIII PENUTUP ... 61
8.1. KESIMPULAN ... 61
8.2 SARAN ... 62
REFERENSI ... 63
LAMPIRAN ... 64
DAFTAR TABEL
Hal.
Tabel 2.1. Jenis dan sumber data kajian alokasi beban pencemaran sungai Cikaranggelam .... 5
Tabel 2.2. Faktor Emisi (generation load) Domestik Rumah Tangga ... 12
Tabel 2.3. Faktor Emisi Ternak (generation load) ... 13
Tabel 2.4. Faktor Emisi Pertanian... 13
Tabel 2.5. Faktor Emisi Non Point source dari penggunaan lahan ... 14
Tabel 2.6. Faktor Emisi Hotel dan Rumah Sakit... 14
Tabel 2.7. Metodologi kajian Alokasi Beban Pencemaran Airdi sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang. ... 20
Tabel 3.1. Luas dan wilayah administrasi lintasan aliran sungai Cikaranggelam ... 22
Tabel 3.2. Karakteristik sungai dan lingkungan Sungai Cikaranggelam ... 23
Tabel 3.3. Keadaan curah hujan tiap bulan menurut kecamatan (mm) ... 23
Tabel 3.4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan utama... 25
Tabel 3.5. Luas penggunaan lahan sawah per kecamatan di Kabupaten Karawang. ... 25
Tabel 3.6. Daftar sumber pencemar air di sungai cikaranggelam... 26
Tabel 3.7. Jumlah penduduk sekitar sungai Cikaranggelam 2015 ... 28
Tabel 3.8. Distrbusi produksi lahan... 29
Tabel 3.9. Distribusi peternakan pada DAS Cikaranggelam ... 29
Tabel 3.10. Potensi ketersediaan air di Kabupaten karawang ... 30
Tabel 3.11. Perhitungan neraca air untuk perhitungan daya dukung sumberdaya air Kabupaten Karawang. ... 31
Tabel 3.12. Analisis penggunaan air di sungai cikaranggelam... 32
Tabel 4.1. Sub daerah aliran sungai Cikaranggelam ... 35
Tabel 4.2. Total potensi beban pencemaar DAS Cikaranggelam ... 35
Tabel 4.3. Potensi beban pencemar di daerah aliran sungai Cikaranggelam ... 36
Tabel 4.4. Karakteristik segmentasi sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang ... 39
Tabel 4.5. Total potensi beban pencemar di segmen sungai Cikaranggelam ... 40
Tabel 4.6. Potensi beban pencemaran sektor industri dan rumah sakit per segmen ... 42
Tabel 4.7. Potensi beban pencemaran sektor rumah tangga ... 43
Tabel 4.8. Potensi beban pencemaran per segmen sektor Sampah ... 44
Tabel 4.9. Potensi beban pencemaran pertanian per segmen di sungai Cikaranggelam ... 45
Tabel 4.10. Potensi Beban pencemaran per Segmen Lahan Terbangun ... 46
Tabel 4.11. Potensi Beban pencemaran per segmen di sungai Cikaranggelam ... 47
Tabel 5.1. Lokasi dan koordinat sampel air sungai cikaranggelam ... 48
Tabel 5.2 . Hasil perhitungan status mutu air sungai Cikaranggelam ... 49
Tabel 6.1. Skenario model perhitungan daya tampung beban pencemaran ... 50
Tabel 6.2. Daya tampung beban pencemaran air sungai Cikaranggelam ... 51
Tabel 6.3. Daya tampung beban pencemar BOD di segmen sungai Cikaranggelam ... 52
Tabel 6.4. Daya tampung beban pencemar COD di segmen sungai Cikaranggelam... 53
Tabel 6.5. Daya tampung beban pencemar TSS di segmen sungai Cikaranggelam ... 54
Tabel 7.1. Rekapitulasi penurunan beban pencemaran BOD sungai Cikaranggelam ... 56
Tabel 7.2. Distribusi daya tampung beban pencemaran BOD di sungai Cikaranggelam ... 56
Tabel 7.3. Penurunan beban pencemaran BOD air sungai Cikaranggelam... 57
Tabel 7.4. Rekapitulasi penurunan beban pencemaran COD sungai Cikaranggelam ... 57
Tabel 7.5. Distribusi daya tampung beban pencemaran COD di sungai Cikaranggelam ... 58
Tabel 7.6. Penurunan beban pencemaran COD air sungai Cikaranggelam ... 58
Tabel 7.7. Rekapitulasi penurunan beban pencemaran TSS ... 59 Tabel 7.8. Distribusi beban pencemaran TSS air di sungai Cikaranggelam ... 59 Tabel 7.9. Penurunan beban pencemaran TSS di sungai Cikaranggelam ... 60
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 2.1. Lokasi kajian alokasi beban pencemaran di sungai Cikaranggelam, Kabupaten
Karawang, ... 4
Gambar 2.2. Alur kerja model dan komponen data kajian alokasi beban pencemaran air sungai Ckaranggelam. ... 6
Gambar 2.3. Tahapan penetapan DTBP dan alokasi beban pencemar ... 8
Gambar 2.4. Diagram alir gabungan metode inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar dengan perhitungan DTBP (Kurniawan, 2010) ... 9
Gambar 2.5. Konsep inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air ... 10
Gambar 2.6. Tahapan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air ... 10
Gambar 3.1. Peta aliran sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang ... 21
Gambar 3.2. Peta tutupan lahan di wilayah aliran sungai Cikaranggelam ... 24
Gambar 3.3. Peta wilayah administrasi (Kecamatan) di sekitar sungai Cikaranggelam ... 27
Gambar 3.4. Surplus dan defisit neraca sumber daya air bulanan di kabupaten Karawang 30 Gambar 3.5. Peta rencana pola ruang wilayah sungai Cikaranggelam yang dianalisis berdasarkan peta RTRW Kabupaten Karawang 2011-2031 ... 32
Gambar 3.6. Peta rencana pola ruang RTRW Kabupaten Karawang 2011-2031 ... 33
Gambar 4.1. Peta daerah aliran sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang ... 34
Gambar 4.2. Potensi beban pencemar BOD di daerah aliran sungai Cikaranggelam ... 36
Gambar 4.3. Potensi beban pencemar COD di daerah aliran sungai Cikaranggelam ... 37
Gambar 4.4. Potensi beban pencemar TSS di daerah aliran sungai Cikaranggelam ... 37
Gambar 4.5. Peta segmen sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang ... 38
Gambar 4.6. Sketsa segmen sungai dan sebaran point source ... 39
Gambar 4.7. Rekapitulasi potensi beban pencemar di sungai Cikaranggelam ... 41
Gambar 5.1. Peta survey lokasi pengambilan sampel air di sungai Cikarnggelam ... 48
Gambar 6.1. Grafik model BOD ... 51
Gambar 6.2. Grafik model COD ... 52
Gambar 6.3. Grafik Model TSS ... 53
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Perhitungan Indeks Pencemaran pada Titik Pantau 1 ... 64
Lampiran 2. Hasil Perhitungan Indeks Pencemaran pada Titik Pantau 2 ... 65
Lampiran 3. Hasil Perhitungan Indeks Pencemaran pada Titik Pantau 3 ... 66
Lampiran 4. Hasil Perhitungan Indeks Pencemaran pada Titik Pantau 4 ... 67
Lampiran 5. Hasil Perhitungan Indeks Pencemaran pada Titik Pantau 5 ... 68
Lampiran 6. Reach Qual2Kw ... 69
Lampiran 7. Headwater Qual2Kw ... 69
Lampiran 8. Qual2Kw Cikaranggelam ... 70
Lampiran 9. Point Source ... 70
Lampiran 10. Non-Point Source... 71
Lampiran 11. Simulasi BOD ... 71
Lampiran 12. Simulasi COD ... 72
Lampiran 13. Simulasi TSS ... 72
Lampiran 14. Penurunan beban pencemaran BOD oleh masing-masing institusi berdasarkan scenario model kualitas air di sungai Cikaranggelam ... 73
Lampiran 15. Kebutuhan instalasi pengolahan limbah bersumber dari rumah tangga ... 73
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sungai Cikaranggelam merupakan sungai potensial yang terdapat di Kabupaten Karawang. Keberadaannya menunjang kegiatan masyarakat di wilayah yang dilintasi sungai Cikaranggelam tersebut. Berdasarkan data inventarisasi sungai dalam Buku Data SLH Kabupaten Karawang Tahun 2013 terdapat 13 sungai. (seperti Sungai Cilamaya, Cikaranggelam, Cibeet dan Sungai Induk Tarum Barat dan sungai yang lain). Disisi lain keberadaanya juga tidak luput dari ancaman sebagai pembuangan limbah baik domestik maupun pertanian dan peternakan. Pemerintah telah meregulasi dan melakukan standarisasi air limbah, sehingga air limbah yang belum memenuhi standar tidak boleh dibuang ke badan air maupun sungai. Sebagai konsekuensinya adalah pelaku industri dituntut untuk membangun Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL). Dalam kenyataanya hal tersebut masih jauh dari harapan.Kondisi ini masih ditambah dengan prilaku (praktek Antrophogenic) membuang limbah atau sampah badan air sungai semakin memperparah kondisi kualitas kelas dan mutu air sungai.
Saat ini sungai Cikaranggelam telah mengalami penurunan kualitas air, data-data kajian sebelumnya (BPLHD, 2016) menunjukkan bahwa kondisi kualitas air sungai Cikaranggelam dari arah hulu kehilir (terutama sekali pada segmentasi cikampek dan dawuan) sudah tidak dapat dimanfaatkan sesuai denganperuntukan air baik untuk kelas II. hasil kajian pemantauan kualitas air di wilayahkerja Perum Jasa Tirta II Periode Januari – Desember 2014 sebagaimanadijelaskan dalam Laporan Tahunan PJT II (2014), diperoleh hasil evaluasikondisi kualitas air sungai Cikaranggelam berdasarkan metode STORET denganBaku mutu yang diberlakukan untuk Sungai Cikaranggelam adalah PP No 82Tahun 2001 Kelas II peruntukan sebagai sumber air baku kualitas air sungai teridentifikasi status mutu SungaiCikaranggelam berada dalam status tercemar berat.Sehingga diperlukan pengendalian pencemaran air sungaiCikaranggelam agar dapat dimanfaatkan dan menjaga agar kualitas air sungaiagar sesuai dengan kriteria mutu air kelas II.
Dengan demikian, meninjau kembali Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;menjadi urgen dan mendesak dalam rangka pengendalian pencemaran air (sungai) yang merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air (sungai) serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air (sungai).Di samping itu, alokasi beban pencemaran air sungai Cikaranggelam dikaji sebagai bahan pertimbangan dan kebijakan dalam pengelolaannya dimana dalampenyusunannya merujuk sesuai dengan KepMen LH no 110 tahun 2003Tentang Pedoman Penenatapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Pada Sumber Air.Implementasi dari hasil daya tampung beban pencemaran serta alokasi beban pencemar secara sektoral, spasial dan temporal. Informasi terakhir tersebut dapat digunakan untuk: 1)
Penetapan beban pencemaran (debit dan konsentrasi) dalam izin pembuangan air limbah, 2) Penyusunan program dan rencana aksi PPA, 3) Pelaksanaan perdagangan alokasi beban pencemaran (tradeable permit), 4) Pelaksanaan imbal jasa lingkungan (payment of environmental services). Selanjutnya, upaya pengelolaan kualitas lingkungan hidup dapat dilakukan secara berkesinambungan baik terkait perencanaan tata ruang, pemberian ijin membuang limbah, ijin kegiatan di sekitar DAS maupun penetapan mutu air sasaran serta kebijakan pengendalian pencemaran air.
Penetapan Alokasi beban Pencemaran air sungai Cikaranggelam bertujuan untuk mewujudkan kualitas air Sungai Cikaranggelam, sesuai dengan mutu air sasaran yang diinginkan dalam program pengendalian pencemaran air sungai. Maka, untuk membantu dan mendukung kegiatan tersebut, kajian Alokasi beban Pencemaran air sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang dilakukan untuk mendapatkan landasan ilmiahyang selanjutnya dapat menjadi landasan menyusun program pengendalian pencemaran air sungai.
1.2 LANDASAN HUKUM
Dalam rangka melaksanakan kajian alokasi beban pencemaran di sungai Cikaranggelam.Beberapa Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dalam melakukan kajian alokasi beban pencemaran air adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Pasal 8 ayat 1, ini telah menetapkan klasifikasi mutu air menjadi empat kelas, yaitu: Kelas satu, Kelas Dua, Kelas Tiga dan Kelas Empat.
3. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Kajian Penetapan Kelas Air.
4. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air;
5. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 110 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penenatapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air Pada Sumber Air.
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk mendapatkan angka alokasi beban pencemar sebagai bahan pertimbangan dalam kebijakan pengelolaan pengendalian pencemaran air di Kabupaten Karawang.
Tujuan dari pekerjaan kajian alokasi beban pencemaran air di Sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang, adalah :
1. Melaksanakan perhitungan daya tampung beban pencemaran air di Sungai Cikaranggelam.
2. Melaksanakan perhitungan alokasi beban pencemar berdasarkan bektor pengguna.
1.4 RUANG LINGKUP KEGIATAN
Ruang lingkup pelaksanaan kajian alokasi beban pencemaran di sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang, meliputi:
1. Melakukan review data dan informasi inventarisasi dan identiffikasi sumber pencemar di Sungai Cikaranggelam
2. Melakukan review data dan informasi penetapan kelas air sungai Cikaranggelam 3. Validasi skenario mmodel penetapan alokasi beban pencemar melalui pengamatan
lapangan di sungai Cikaranggelam
4. Menghitung dan menetapan alokasi beban pencemar yang mencakup lingkup pekerjaan sebagai berikut :
a. Melakukan pembangunan model komputer untuk aplikasi alokasi beban pencemaran di Sungai Cikaranggelam.
b. Melakukan input data sekunder hasil kajian sebelumnya ke dalam model untuk mendapatkan angka beban pencemaran eksisting yang masuk ke sungai Cikaranggelam.
c. Melakukan perhitungan alokasi beban pencemaran secara sektoral, spasial dan temporal untuk sungai Cikaranggelam.
1.5 HASIL YANG DIHARAPKAN
Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kegiatan kajian alokasi beban pencemaran di sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang, adalah:
1. Diperolehnya model komputer untuk aplikasi alokasi beban pencemaran di Sungai Cikaranggelam.
2. Diperolehnya alokasi beban pencemar secara sektoral, spasial dan temporal di Sungai Cikaranggelam.
3. Laporan hasil pekerjaan
BAB II.
PENDEKATAN DAN METODE KAJIAN
2.1. WAKTU DAN LOKASI KEGIATAN
Waktu kegiatan adalah tahun anggaran 2016. Lokasi kegiatan dilaksanakan berdasarkan tujuan kegiatan, yaitu di sungai Cikaranggelam dengan panjang sungan ± 15.77 Km2 yang melintasi 4 kecamatan di Kabupaten Karawang. Gambar 1 di bawah ini merupakan peta menjelaskan secara tematik situasi sungai Cikaranggelam sebagai lokasi kajian mulai dari situ Komojing sebagai hulu sungai sampai ke bagian wilayah hilir yang secara wilayah administrasi terletak di kecamatan Tirtamulya.
Gambar 2. 1. Lokasi kajian kajian alokasi beban pencemaran di sungai Cikaranggelam, Kabupaten Karawang
Berdasarkan telaah awal secara rencana pola tata ruang wilayah Kabupaten Karawang, wilayah kajian dibagian hulu merupakan sebagai merupakan daerah resapan air, kondisi dibawahnya merupakan wilayah pengembangan kawasan industri dan zona industri termasuk terdapat pengembangan wilayah pemukiman perkotaan, dan dibawahnya (bagian hilir) wilayah lokasi pengembangan lahan pertanian pangan berkelanjutan, serta sebagai kawasan pertanian pangan, kawasan pertanian Hortikultura.
2.2. JENIS DAN SUMBER DATA KAJIAN
Jenis dalam kajian perhitungan alokasi beban pencemaran air sungai Cikaranggelam adalah data primer dan data sekunder yang bersumber dari studi lapang dan berbagai instansi terkait maupun data literatur yang terkait atau mendukung tujuan analisis data. Untuk lebih rinci, jenis data dan instansi yang terkait yang digunakan dalam kajian tersebut, disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2. 1Jenis dan sumber data dalam kajian alokasi beban pencemaran air sungai Cikaranggelam
No Jenis Data Penjelasan Instansi
1 Biofisik Lingkungan Sungai, DAS Utama, Anak Sungai, Draenase, Topofrafi wilayah, Head water dan data terkait lainnya.
BBWS Citarum, BPLH Kabupaten Karawang.
2 Hidroklimatologi Curah hujan, suhu, kecepatan/
arah angin, tutupan awan,
kelembapan, kualaitas air hulu dan hilir dan data terkait lainnya.
BMKG setempat BPLH Kabupaten Karawang.
3 Sumber Pencemar Data demografi kependudukan, (jumlah rumah tangga,
ketersediaan fasilitas pengeloaan limbah domestik dan data terkait lainnya)
BPS, BPLH Kabupaten Karawang, Dinas Kesehatan.
Data industri/pabrik (jumlah dan jenis produk, lokasi, volume dari pembuangan limbah cair, kualitas air limbah effluent, debit limbah dan konsentrasi dan data terkait lainnya).
BPLH Kabupaten Karawang. Dinas perindustrian. BPS Kecamatan dalam angka.
Data peternakan (lokasi
peternakan, jumlah ternak, fasilitas pengelolaan air limbah dan data terkait lainnya)
BPLH Kabupaten Karawang. Dinas Peternakan. BPS Kecamatan dalam angka.
Data sektor pertanian (luas, lokasi, jumlah dan jenis produk jumlah dan jenis penggunaan bahan
kimia/pupuk dan data terkait lainnya)
BPLH Kabupaten Karawang. Dinas Pertanian, dan perkebunan. BPS Kecamatan dalam angka.
Data sampah (data TPA, Lokasi volume, dan jenis pengolahan akhir sampah dan data terkait lainnya)
BPLH Kabupaten Karawang. Dinas Kebersihan, dan perkebunan. BPS Kecamatan dalam angka.
2.3. METODE DAN PENDEKATAN KAJIAN
Kajian ini dilaksanakan mengunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan model spasial (SIG) dan numeric (Qual2Kw). Metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dalam kajian ini digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas air sungai Cikaranggelam yang berasal dari aktivitas permukiman, pertanian dan industrI termasuk juga peternakan. Berikut adalah alur kerja dan komponen data yang digunakan kajian alokasi beban pencemar yang digunakan dalam model analisis DTBPA disajikan pada Gambar 2.2.
Gambar 2. 2. Alur kerja model dan komponen data kajian alokasi beban pencemaran air di sungai Cikaranggelam
2.4. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan kajian penetapan alokasi beban pencemaran air sungai Cikaranggelam di Kabupaten Karawang,secara manajemen operasional meliputi 3 tahapan, yaitu:
perencanaan, pelaksanaan kajian dan dokumentasi pelaporan.
2.4.1. Tahap Perencanaan Kajian
Pada tahapan ini disusun rencana kerja yang matang termasuk durasi yang diperlukan masing-masing subtahap, sumber daya manusia sesuai dengan keahliannya dan stakeholders yang terlibat, dan peralatan yang digunakan untuk mendukung koordinasi penyelesaian pekerjaan.
2.4.2. Tahap Pelaksanaan Kajian
Dalam tahapan ini, kegiatan kajian dikaitkan dengan ruang lingkup kegiatan yang tertuang dalam KAK, seluruh kegiatan yang dimaksud pada tahap ini termasuk pada Tahap Pelaksanaan, yang meliputi:
1. Melakukan review data dan informasi inventarisasi dan identiffikasi sumber pencemar di Sungai Cikaranggelam
2. Melakukan review data dan informasi penetapan kelas air sungai Cikaranggelam 3. Validasi skenario mmodel penetapan alokasi beban pencemar melalui pengamatan
lapangan di sungai Cikaranggelam
4. Menghitung dan menetapan alokasi beban pencemar yang mencakup lingkup pekerjaan sebagai berikut :
a. Melakukan pembangunan model komputer untuk aplikasi alokasi beban pencemaran di Sungai Cikaranggelam.
b. Melakukan input data sekunder hasil kajian sebelumnya ke dalam model untuk mendapatkan angka beban pencemaran eksisting yang masuk ke sungai Cikaranggelam.
c. Melakukan perhitungan alokasi beban pencemaran secara sektoral, spasial dan temporal untuk sungai Cikaranggelam.
2.4.3. Pelaporan
Laporan yang dihasilkan dari pekerjaan kajian penetapan alokasi beban pencemaran air sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang yaitu berupa Laporan Pendahuluan dan Laporan Akhir.
2.5. TEKNIK ANALISIS DATA
2.5.1. Metode Inventarisasi dan Identifikasi sumber Pencemaran Air
Metode Inventarisasi dan Identifikasi sumber pencemar air dilakukan berdasarkan Pedoman Inventarisasi dan Identifikasi sumber pencemar air padaL ampiran I Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010. Dokumentasi data kondisi hidrologi danbentang alam terutama batas daerah aliran sungai, jalur pembuangan air limbah terutama untuk sistem saluran, arah aliran air permukaan dan air tanah), segmentasi dan pengukuran kualitas air dengan sampling.
Dalam teori dan pendekatan untuk Perhitungan DTBP sungai merupakan proses sangat komplek dan rumit karena merupakan dampak dari interaksi antara zat pencemar dengan hidro-morfologi sungai yang keduanya memiliki karakteristik dan perilaku yang belum dipahami sepenuhnya. DTBP ditentukan oleh hubungan antara beban pencemar
dengan kondisi kualitas air untuk memprediksi DTBP tersebut diperlukan model yang merupakan alat (tool) yang mampu menirukan proses tersebut walaupun tentunya dengan menggunakan penyederhaan dan asumsi-asumsi
Alur berfikir dalam perhitungan dan penetapan dan alokasi beban pencemaran air seperti pada Gambar 2.3.
Pemantauan Kualitas Air (Manual dan Online)
Kondisi Fisik dan Sosekbud
Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar Berbasis
DAS
Lokasi, Jumlah, Jenis Kontribusi Sumber
Pencemar Data Kualitas Air
Sungai
Kelas Air dan Baku Mutu Air
Daya Tampung Beban Pencemaran
(DTBP) Status Mutu Air
Indeks Kualitas Air (IKA)
Alokasi Beban Pencemaran
Kegiatan Pengendalian Pencemaran Air
(PPA) Kondisi Hidrologi
dan Morfologi DAS
Spasial
Sektoral
Temporal
Off Stream
In Stream
Gambar 2. 3. Tahapan Penetapan DTBP dan Alokasi Beban Pencemar
2.5.2. Tahapan Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar
Tahapan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar untuk kajian alokasi beban pencemaran sungai Cikaranggelam (Gambar 4), meliputi:
A. Pengidentifikasian Batas Wilayah
Skala kegiatan inventarisasi berhubungan erat dengan batas wilayah inventarisasi. cakupan batas wilayah inventarisasi menentukan tingkat akurasi estimasi tingkat pencemar. Semakin kecil wilayah geografis (tingkat resolusi geografis yang tinggi) maka besar yang diperkirakan akan semakin akurat. Batas wilayah geografis diidentifikasi dalam kegiatan inventarisasi ini adalah:
a) Wilayah ekologi (catchment area), meliputi daerah aliran sungai Cikaranggelam di Kabupaten Karawang.
b) Wilayah administrasi, meliputi batas administratif wilayah inventarisasi, yaitu batas wilayah kecamatan dan desa-desa di lingkup wilayah ekologi.
Tentukan Sumber Air Yang akan ditetapkan DTBPnya
Target Kelas Air
Peta Rupa Bumi
Data Meteorologi, Klimatologi, Hidrologi
da baku Mutu Sumber Air
Inventarisasi dan Identifikasi sumber pencemar point/ non
point source, institusi / non
institusi Jumlah dari kontribusi beban
pencemaran air berbasis DAS dan Administrasi
Daya Tampung Beban Pencemaran Air
Alokasi Beban Pencemar (Sektoral, Spasial, Temporal)
Kebijakan PPA, Strategi, Program dan rencana aksi,
perizinan, pembinaan, pengawasan, mutu air sasaran,
tata ruang, insentif dan disinsentif Model Kualitas Air
Gambar 2. 4. Diagram Alir Gabungan Metode Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar dengan Perhitungan DTBP (Kurniawan, 2010)
B. Identifikasi sumber pencemar
Semua sumber pencemar yang berada dalam wilayah inventarisasi kemudian diidentifikasi berdasarkan jenis pencemar dan sumbernya, yaitu Jenis kelompok pencemar dari limbah domestik dan limbah non domestik (Gambar 2.5).
Gambar 2. 5. Konsep Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar Air
C. Penentuan Beban Pencemar
Tahapan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar dalam rangka penetapan alokasi beban pencemaran air Cikaranggelam di Kabupaten Karawang, dapat dilihat pada Gambar 2.6.
Gambar 2. 6. Tahapan Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar Air
Dalam rangka penetapan alokasi beban pencemaran air air sungai Cikaranggelam di Kabupaten Karawang. Beban pencemar merupakan besaran satuan berat zat pencemar dalam satuan waktu, misal 1 kg BOD/hari. Metode perhitungan beban pencemaran dilakukan menggunakan dua pendekatan sebagai berikut:
1. Metode perhitungan langsung menggunakan data kadar dan debit ait limbah hasil pengukuran di lapangan. Beban pencemar yang dapat dihitung dengan metode langsung ini adalah beban pencemar yang bersumber industri, hotel, rumah sakit serta domestik yang memiliki IPAL (Point Source).
2. Metode perhitungan tidak langsung dengan menggunakan faktor emisi atau faktor effluent, digunakan untuk memperkirakan beban pencemar dari sumber pencemaran yang sulit diukur kualitas dan kuantitasnya secara langsung. Umumnya digunakan untuk memperkirakan besarnya beban pencemar dari industri, hotel, rumah sakit serta domestik yang tidak memiliki IPAL. Disamping itu metode tidak langsung ini juga sering digunakan untuk memperkirakan besarnya beban pencemar dari kegiatan peternakan, perikanan, sampah serta non point source dari penggunaan lahan misalnya pertanian (sawah dan perkebunan), hutan dan lahan terbangun (built- up area) di perkotaan.
Faktor emisi/effluent merupakan rerata statistik dari jumlah massa pencemar yang diemisikan untuk setiap satuan aktivitas kegiatan. FE sering juga disebut dengan pollutan load unit (PLU). Berikut ini diuraikan metode perhitungan beban pencemar langsung dan tidak langsung untuk berbagai jenis sumber pencemar.
2.5.3. Perhitungan Beban Pencemaran
2.5.3.1. Metode Identifikasi Beban Industri dan Sumber Tertentu
Berdasarkan pedoman inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air pada Lampiran I Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010, besar emisi pencemar yang berasal dari sumber tertentu (point sources) ditentukan berdasarkan data primer yang diperoleh di lapangan atau data sekunder hasil pemantauan pelaku usaha/kegiatan/ instansi yang berwenang sebagai inspektor.
Beban pencemar yang dihasilkan dari industri maupun sumber tertentu (point source) lainnya dengan basis perkiraan emisi untuk 1 tahun /periode pelaporan dihitung dengan persamaan berikut:
I,i = Ci x V x OpHrs /1 000 000 Dimana :
I,i = besar beban/ emisi pencemar i, kg/tahun
Ci = konsentrasi jenis pencemar i dalam buangan air limbah,mg/L (data pemantauan di lapangan)
V = laju alir buangan air limbah, L/jam
OpHrs = jumlah jam operasional per tahun, jam/tahun 1.00.0 = faktor konversi, mg/kg
2.5.3.2. Metode Penentuan Beban Pencemaran Air Tidak Tentu a. Metode Perhitungan Potensi Beban Pencemaran dari domestik
Air limbah domestik rumah tangga secara umum juga dapat dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu; (1) Sumber titik (point source) yang dihitung dengan metode langsung, jika telah diolah kedalam instalasi pengolahan air limbah terpusat skala
perkotaan (off-site sistem) dan IPAL komunal (on-site sistem) (2) Beban pencemar domestik yang dihitung dengan metode tidak langsung menggunakan faktor emisi, jika tidak melalui pengolahan di IPAL, bisa menggunakan septic tank atau langsung dibuang ke badan air.
Rumus yang digunakan untuk menghitung potensi beban pencemaran dari sumber rumah tangga Balai Lingkungan Keairan Puslitbang SDA (BLK,PSDA), Kementerian Pekerjaan Umum (2004) adalah sebagai berikut:
PBP = Jumlah Penduduk x Faktor emisi X rasio ek x alpha Keterangan, dalam hal ini :PBP = Potensi beban pencemaran Rasio ekivalen kota (discharge load):
1) Kota = 1
2) Pinggiran Kota = 0,8125 3) Pedalaman = 0,625
Faktor Emisi (generation load) dalam menghitung potensi beban pencemaran dari sumber rumah tangga (Tabel 2.2).
Tabel 2.2. Faktor Emisi (generation load) Domestik Rumah Tangga No Parameter Pencemar Faktor Emisi (gr/hr)
1 TSS 38
2 BOD 40
3 COD 55
4 Minyak&lemak 1,22
5 Detergen 0,189
6 NH4-N 1,8
7 NO2-N 0,002
8 NO3-N 0,01
9 Organik-N 0,11
10 Total-N 1,95
11 PO4-P 0,17
12 Total-P 0,21
13 S 1,3
14 Phenol 0,001
15 E-coli 3E+14
Sumber : Puslitbang SDA, Irianto dan Iskandar, 2007 Alpha () : Koefesien transfer beban (delivery load)
Nilai = 1, digunakan untuk daerah yang lokasinya berjarak antara 0 sampai 100 meter dari sungai,
Nilai = 0.85, untuk lokasi yang berjarak diantara 100 – 500 meter dari sungai Nilai = 0.3, untuk lokasi yang berjarak lebih besar dari 500 meter dari sungai.
b. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran dari Peternakan
Beban pencemaran dari peternakan dalam kajian ini dihitung dengan menggunakan faktor emisi. Data yang diperlukan dalam perhitungan ini adalah jenis dan
jumlah ternak. Faktor emisi (generation load) yang digunakan merupakan hasil Balai Lingkungan Keairan, Pulitbang SDA, Kementerian Pekerjaan Umum (2013), (Tabel 2.3).
Berdasarkan formulasi dan dari hasil penelitian BLK-PSDA (2004), di Indonesia rata-rata beban pencemar yang masuk ke badan air (delivery load) dari kegiatan peternakan sekitar 20%. Rumus yang digunakan untuk menghitung potensi beban pencemaran dari sumber peternakan adalah:
PBT= Jumlah Ternak x Faktor emisi X 20%
Tabel 2. 3. Faktor Emisi Ternak (generation load) Para
meter
Jenis Ternak
Sapi Kerbau Kuda Babi Domba kambing Ayam Angsa Bebek
BOD 292 207 226 128 55.7 34.1 2.36 2.46 0.88
COD 717 530 558 362 136 92.9 5.59 6.67 2.22
Total N 0.933 2.6 38.083 4.622 0.278 1.624 0.002 0.061 0.001 Total P 0.153 0.39 0.306 0.276 0.063 0.115 0.003 0.006 0.005 Sumber : BLK-PSDA, 2013.
c. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran dari Non Point Source (NPS) Penggunaan Lahan
Perhitungan potensi beban pencemaran air yang bersumber dari aktifitas pertanian diperoleh berdasarkan data luas lahan pertanian. Sementara itu faktor emisi (generation load) parameter pencemaran untuk pertanian diperoleh dari Balai Lingkungan Keairan, Pulitbang SDA, Kementerian Pekerjaan Umum (2004) seperti pada Tabel 2.4.
Rata-rata beban pencemar pertanian yang masuk ke badan air (delivery load) di Indonesia sekitar 10% dari sawah dan 1% dari palawija dan perkebunan lainnya.
a) COD diperoleh dengan mengkalikan BOD dengan 1,5.
b) PBTN (sawah) per Musim Tanam= Luas Lahan x Faktor emisi X 10%
c) PBTN (palawija dan perkebunan lain) per Musim Tanam= Luas LahanxFaktor Emisix 1%
d) PBTN(kg/hari) = PBTN Per Musim Tanam / Jumlah hari musim tanam e) PNPS dari hutan dan lahan terbangun= Luas Lahan x Faktor emisi X 1%
Tabel 2. 4. Faktor Emisi Pertanian Parameter
kg/ha/musim tanam
Sawah Palawija Perkebunan Lain/Tegalan/Kebun campuran
BOD 225 125 32,5
TN 20 10 3
TP 10 5 1,5
TSS 0,46 2,4 1,6
Pestisida 0,16 0,08 0,025
Sumber : BLK-PSDA, 2004
Sementara itu, faktor emisi non point source dari penggunaan lahan seperti hutan dan lahan terbangun di perkotaan menurut kajian ICWRMIP (2015) seperti yang diperlihatkan pada tabel berikut.
Tabel 2. 5. Faktor Emisi Non Point source dari penggunaan lahan
Parameter Hutan (kg/ha/hr) Lahan terbangun (kg/ha/hr)
BOD 9,32 15,34
TN 21,92 18,90
TP 1,37 0,55
Sumber: ICWRMIP (2015)
d. Perhitungan Potensi Beban Pencemar dari Hotel dan Rumah sakit
Potensi beban pencemar dari hotel dan rumah sakit yang tidak memiliki IPAL dilakukan menggunakan faktor emisi yang dikembangkan oleh BLK Pulitbang SDA, Kementerian Pekerjaan Umum (2013) seperti pada Tabel 6. Sedangkan beban pencemar dari hotel dan rumah sakit yang memiliki IPAL dihitung dengan metode langsung. IPAL.
Tabel 2. 6. Faktor Emisi Hotel dan Rumah Sakit
Sumber Pencemar Faktor Emisi (gr/hari)
BOD COD TSS
Rumah Sakit (per tempat tidur) 123 169,125 116,85
Hotel (per kamar) 55 75,625 52,25
Sumber: (BSD-PSDA, 2013)
e. Perhitungan Potensi Beban Pencemaran sampah
Memperhitungkanpotensi beban pencemaran air yang berasal dari sampah, besarnya sampah yang masuk ke sungai diperkirakan dengan menggunakan asumsi bahwa kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam menangani sampah tersebut terbatas. Rumus yang digunakan dalam perhitungan potensi beban pencemaran air yang bersumber dari sampah adalah:
1. Jumlah Sampah
Beban sampah total wilayah administrasi dihitung dengan menggunakan rumus:
Beban sampah (kg/hr) = Berat sampah/orang/hari x jumlah penduduk
Jika data dalam satuan volume, maka berat sampah dihitung:
Berat sampah (kg) = Berat jenis sampah (kg/l) x volume sampah
Berat jenis sampah organic = 0,61 kg/l (Kastaman, 2006). Perhitungan sampah menggunakan asumsi per orang menghasilkan sampah 1 kg/orang/hari.
2. Sampah yang tidak tertangani
Berat sampah yang tidak tertangani dihitung dengan rumus sebagai berikut : Berat sampah tidak
tertangani (kg/hr)
= % sampah yang tidak tertangani X beban sampah
3. Beban BOD Sampah
Penelitian yang dilakukan oleh INEGI dan SEMARNAP pada sungai di Mexico tahun 1998 dalam Nila Aliefia Fadly (2008) menyatakan bahwa 1 kg sampah
organik memiliki nilai BOD sebesar 2,82 gr. Nilai inilah yang menyatakan beban BOD sampah (W sampah) tersebut. Perhitungan potensi beban sampah:
Beban BOD sampah (kg/hr)
= Berat sampah tidak tertangani (kg/hr)x(2,82/1000).
Untuk nilai COD dihitung dengan menggunakan asumsi COD = 1,375 x BOD, sedangkan TSS=0,95 x BOD
2.5.3.3. Perhitungan Total Beban Pencemaran Air
Total beban pencemaran air berbasis DAS dan administrasi merupakan hasil penjumlahan beban pencemaran industri, domestik, prasarana dan jasa, peternakan, perikanan dan non point source. Selanjutnya, Rekapitulasi total beban pencemaran diformulasikan dilakukan dengan cara:
Total Beban Pencemaran Air : Industri + Prasarana dan jasa + Domestik + Peternakan + Pertanian + Non Point Sourcel 2.5.4. Penentuan status mutu air dengan Indeks Pencemaran (IP)
Dalam menentukan status mutu air sungai Cikaranggelam, dalam kajian ini mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 115 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air Pasal 2 ayat (1) Penentuan status mutu air dapat menggunakan Metoda STORET dan Metoda Indeks Pencemaran.Penentuan status mutu air dengan nilai INDEKS PENCEMARAN ditung dengan rumus.
Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana tingkat ketercemaran dengan dapat atau tidaknya suatu sungai dipakai untuk penggunaan tertentu dan dengan nilai parameter-parameter tertentu, maka dilakukan evaluasi terhadap nilai hasil perhitungan Nilai PI, selanjutnya evaluasi terhadap nilai PI adalah:
0 ≤ Pij ≤ 1 : Memenuhi baku mutu (kondisi baik)
1,0 < Pij ≤ 5 : Cemar ringan
5,0 ≤ Pij ≤ 10 : Cemar sedang
Pij> 10 : Cemar berat
Metode dan proses evaluasi dilakukan dengan mengidentifikasi parameter pencemar air sungai Cikaranggelam dengan membandingkan data kualitas air Cikaranggelam dengan baku mutu badan air kelas mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 berdasarkan peruntukan kelas II.
2.5.5. Perhitungan Total Maximum Daily Loads (DTBPs)
KonsepTotal Maximum Daily Loads (DTBPs) yaitu jumlah maksimum beban pencemar yang diperbolehkan dibuang ke sumber air tanpa menyebabkan sumber air tersebut tercemar.
Faktor-faktor yang menentukan daya tampung beban pencemar sungai secara umum adalah sebagai berikut:
1. Kondisi hidrologi, hidrolika dan morfologi sungai termasuk kualitas air sumber air yang ditetapkan DTBP-nya
2. Kondisi klimatologi dan meteorologi sungai seperti curah hujan, suhu udara, kecepatan angin dan kelembaban udara
3. Baku mutu air atau kelas air sungai
4. Beban pencemar sumber tertentu/point source 5. Beban pencemar sumber tak tentu/non-point source
6. Karakteristik dan perilaku zat pencemar yang dihasilkan sumber pencemar 7. Pemanfaatan atau penggunaan sungai
8. Faktor pengaman (margin of safety) yang merupakan nilai ketidakpastian dalam perhitungan. Ketidakpastian tersebut bersumber dari tidak memadainya data dan informasi tentang hidrolika dan morfologi sungai, juga kurangnya pengetahuan mengenai karakteristik dan perilaku zat pencemar.
Skematis perhitungan DTBP sebagai dasar pengalokasian beban (waste load allocation) disajikan pada gambar berikut (lihat Gambar 2.7). Dalam hal ini perlu disampaikan bahwa hasil perhitungan DTBP digunakan sebagai dasar pengalokasian beban (waste load allocation)yang diperbolehkan masuk ke sumber air dari berbagai sumber pencemar. Implikasinya dalam hal pengendalian pencemaran air adalah, hal ini derkaitan dengan pemberian izin, perhitungan DTBP dapat dipergunakan untuk menetapkan Mutu Air Limbah dan lokasi kegiatan/usaha sebagai salah satu persyaratan pemberian izin.
Secara teori dalam konsep Total Maximum Daily Loads (DTBPs), Rumus yang digunakan untuk menghitung DTBP:
DTBP = Sumber Tertentu+Sumber Tak tentu+Kualitas air+Faktor Pengaman 2.5.6. Penentuan Alokasi Beban Pencemaran air
Untuk menentukan besarnya alokasi beban pencemaran maka formulasi yang digunakan adalah dengan persentase potensi beban pencemaran menerut sumber pencemar dikali dengan kapasitas daya tampungnya.
2.6. Pemodelan Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) AIR 2.6.1 Tahapan Penggunaan dalam Model
Dalam rangka merancangbangun model daya tampung beban pencemaran air.
berikut adalah tahapan penggunaan dalam model tersebut:
1) Tahap Identifikasi Model : Tujuannya untuk mengidentifikasi konsep pemodelan sederhana yang merepresentasikan seluruh fenomena penting yang berpengaruh terhadap
persebaran dan transformasi zat pencemar di sungai.dengan melakukan seleksi model sesuai dengan karakteristik limbah.
2) Tahap Desain Model : Pada tahap desain model ini akan ditetapkan luasan dan batas wilayah yang akan dimodelkan serta durasi waktu pemodelan.
3) Tahap Simulasi Model : Pada tahap Simulasi ini, dilakukan dengan menggunakan berbagai skenario manajemen yang relevan. Karakteristik fisik badan air yang dimodelkan selalu memiliki ketidakpastian (uncertainty), sifat dan perilaku pencemar juga banyak yang belum dikenali. Simulasi dilakukan dengan mempertimbangkan seberapa akurat hasil yang diinginkan, juga melihat keterbatasan dan kelebihan model.
4) Kalibrasi Model. : Kalibrasi dilakukan dengan mencocokan nilai variable agar supaya hasil pemodelan sesuai atau mendekati data yang dikumpulkan dilapangan.
5) Validasi/verifikasi. : Pada tahap ini hasil simulasi dibandingkan dengan satu set data lapangan yang berbeda dengan data lapangan yang digunakan pada tahap kalibrasi.
Pada validasi dapat diuji apakah kesesuaian parameter yang digunakan pada tahap kalibrasi.
6) Analisis Sensitivitas. : Tahapan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh relatif dari parameter atau variable yang digunakan dalam pemodelan terhadap konsenterasi zat pencemar,
7) Analisis Hasil Pemodelan. : Hasil pemodelan disajikan dalam bentuk grafik, table, peta maupun paparan deskripsi. Hasil pemodelan menyajikan analisis permasalahan, potensi dan rekomendasi yang berbentuk kuantitatif dan kualitatif.
2.6.2. Teknik Simulasi
Simulasi dilakukan dengan menggunakan alternatif skenario pilihan yang berbeda yang dirancang sebagai bagian dari tahapan pemodelan DTBP air.
2.6.3. Pembagian Segmentasi sungai
Pemodelan kualitas air sungai memerlukan pembagian segmen sungai.
Pertimbangan dasar dalam menentukan pembagian segmen sungai adalah: 1) Batas administrasi; 2)Batas hidrologi; 3) Penggunaan Lahan dan kondisi daerah aliran sungai;
4) Keberadaan anak sungai dan lokasi serta kondisi tata air dan atau aliran drainase; 5) Lokasi pemantauan atau titik sampling kualitas air; 6) Keberadaan dan persebaran potensi Sumber pencemar. Selanjutnya berdasarkan pertimbangan tersebut di atas selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penyusunan skematik model Qual2Kw.
2.6.4. Pengambilan Sampel Air
Metode pengambilan sampel air adalah secara purposive sampling. Sampling dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kondisi sungai Cikaranggelam.
Dimana samplingair pada badan sungai memenuhi keterwakilan antara hulu sampai hilir tiap segmen sungai. Berdasarkan skematik permodelan segmentasi sungai Cikaranggelam, Selanjutnya data kualitas air sampel dan koordinat sebagai identitas data segmentasi sungai digunakan sebagai dasar penyusunan skematik model Qual2Kw.
2.6.5. Input Data
Proses input data dilakukan pada perangkat lunak Qual2Kw yang digunakan dalam kajian ini untuk simulasi BOD, COD dan TSS masing-masing secara terpisah. Data yang dimasukkan adalah sebagai berikut :
1) pembagian penggalan sungai (segmen), jarak, serta batas atas dan batas bawah setiap penggal
2) Letak geografis dan ketinggian SPT, Withdrawal,
3) Klimatologis (temperatur udara, dew point, kecepatan angin, tutupan awan) 4) Hidrologis (koefisienkekasaranManning, side slope 1, side slope 2, lebar
dasar sungai, debit di headwater dan debit SPT).
5) Konsentrasi BOD, COD dan TSS pada tiap titik sampling.
2.6.6. Running Program
Setelah tahap input data, perangkat lunak Qual2Kw dijalankan (run). Perangkat lunak Qual2Kw selalu membuat file output dan input secara otomatis.
2.6.7. Uji Model
Pengujian kesesuaian model perhitungan DTBP Air dilakukan dengan membandingkan antara nilai konsentrasi hasil analisa laboratorium (K) dengan konsentrasi model (Km). Data yang digunakan untuk pengujian kesesuaian model adalah pasangan data konsentrasi parameter BOD, COD dan TSS dari hasil analisa laboratorium dengan nilai konsentrasi parameter BOD, COD dan TSS dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak Qual2Kw. Pengujian kesesuaian model menggunakan nilai koefisien determinasi (R2) yang dirumuskan dengan:
Dimana:
Ki :Konsentrasi hasil analisa laboratorium ke-i,Kmi : Konsentrasi hasil model ke-i, dan Kmr : Konsentrasi rata-rata model (Modifikasi Indarto, 2010).
Selain itu, pengujian kesesuaian model dilakukan dengan menghitung indikator kesalahan yaitu Root Mean Square Error (RMSE) (IOH-DPMA 1983 dalam Soewarno 1996) dengan persamaan:
2.6.8. Simulasi Model
Setelah model dinyatakan diterima atau sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dilakukan simulasi untuk melihat kadar parameter pencemar di sepanjang sungai. Kadar parameter bahan pencemar diamati pada setiap segmen dan digunakan sebagai dasar untuk menghitung beban pencemaran sungai. Selanjutnya dilakukan simulasi jika kondisi kadar parameter pencemar di sepanjang sungai memenuhi baku mutu untuk mengukur daya tampung beban pencemaran sungai dengan Qual2Kw.
Penggunaan analisis spasial untuk mengambarkan kondisi sungai dalam skala ruang dan sektor. Analisis ini merupakan bagian penting dari program pencegahan dan penendalian pencemaran air wilayah kajian. Analisis spasial dalam kajian ini dilakukan untuk unit analisis pada unsur batas administrasi kelurahan, Sub DAS dan Penggunaan Lahan, Delineasi batas Wilayah Pengaliran Drainasenya (WPD) dan delineasi batas segmen. Peta WPD merupakan peta yang menggambarkan unit satuan analisis spasial yang mengandung unsur-unsur batas Administrasi (Kelurahan, Kecamatan), batas Sub DAS, penggunaan lahan serta satuan panjang segmen (Km). Dalam analisis selanjutnya Peta WPD diperoleh skematik segmentasi sungai untuk input dan proses perhitungan DTBPA yang diintegrasikan menggunakan model numerik dengan perangkat lunak Qual2Kw.
Tabel 2. 7. Metodologi kajian Alokasi Beban Pencemaran Airdi sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang.
No. Topik Data Tujuan
Pengumpulan Data Data yang Dikumpulkan Teknik
Pengumpulan Data Sumber Data Teknik Analisis Data 1. Identifikasi
dan inventarisasi sumber pencemaran
Mengetahui sektor apa saja yang berpotensi menjadi sumber pencemar di sungai Cikaranggelam
PETA: Administrasi, Jaringan sungai dan Drainase, Penggunaan Lahan, RTRWK, dan peta tematik lainnya.
Data hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar
Data pemantauan air sungan Cikaranggelam
Data swa pantau industri IPLC dan Data SLHD
Data BPS
Desk study
Laporan dan dokementasi kajian
Data dari instansi terkait Pendekatan ekosistem sungai
Pendekatan administrasi
Deskriptif kuantitatif 2. Mutu Kualitas
Air Mengetahui sejauhmana kondisi kulaitas air yang diukur atau diuji berdasarkan parameter dalam peraturan perundangan yang berlaku
Data hasil pengukuran kualitas air
Data hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar
Data pemantauan air sungai Cikaranggelam
Data SLHD
Desk study
Observasi
Data analisis topik 1
Observasi lapangan
Data dari laboratorium linkungan terkait
Laboratorium
Iindeks Pencemaran
3. Daya Tampung Beban Pencemaran
Mengetahui sejauh mana kemampuan air sungai pada suatu sumber air, untuk menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi cemar
Data hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar
Data hasil pengukuran kualitas air
Data pemantauan air sungan Cikaranggelam
Data SLHD dan data BPS
Standar Baku Mutu Ai
Data Hidroklimatologi
Desk study
Observasi dan studi analisis dokumentasi
Data analisis topik 1 dan 2
Data Observasi lapangan
Data dari instansi terkait
Modeling dengan aplikasi Qual2Kw
4. Alokasi Beban Pencemaran
untuk mengetahui berapa besaran jumlah
maksimum beban pencemar yang
diperbolehkan dibuang ke sumber air tanpa menyebabkan sumber air tersebut tercemar
Mekanisme sistem pengendalian pencemaran air sungai,
Data DTBP Sungai Cikaranggelam
Data SLHD dan BPS
Desk study
Observasi dan literature
Data analisis topik 1dan 3
Data Observasi lapangan
Data dari instansi terkait
Modeling dengan aplikasi Qual2Kw
BAB III.
KARAKTERISTIK WILAYAH KAJIAN
3.1. GAMBARAN UMUM WILAYAH SUNGAI CIKARANGGELAM 3.1.1. Kondisi biofisik lingkungan sungai
Secara administrasi keberadaan Sungai Cikaranggelam (wilayah kajian) berada di dalam Kabupaten Karawang. Terdapat 4 (empat) buah sungai besar yaitu: Sungai Citarum, Sungai Cilamaya, Sungai Cikaranggelam dan Sungai Cibeet.Kecenderungan badan air Sungai Cikaranggelam tersebut digunakan sebagai penerima buangan limbah oleh beberapa perusahaan/industri yang berada di sekitarnya. Wilayah sungai Cikaranggelam dapat dilihat Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Peta aliran sungai Cikaranggelam Kabupaten Karawang
Wilayah aliran sungai cikaranggelam meliputi 3 kecamatan yang berada di Kabupaten Karawang yaitu Kecamatan Cikampek, Tirtamulya, Purwasari. Pada kajian ini pengamatan lokasi dimulai dari situ Kamojing bagian hulu sungai Cikaranggelam sebagai sebagai titik awal pengamatan. Situ Kamojing masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Cikampek sampai di bagaian hilir di desa karangsinom perbatasan antara kecamatan Tirtamulya dengan Purwasari. Sumber air sungai Cikaranggelam merupakan
pembuangan air yang berasal dari outlet situ Kamojing dan sebagian dari aliran drainase.
Sungai Cikaranggelam sebagai salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Karawang, sehingga penetapan kelas dan mutu air merupakan bagian dari kewenangan Pemerintah Kabupaten Karawang. Teridentifikasi panjang sungai tersebut berdasarkan hasil analisis spasial sekitar 15.77 Km dan berdasarkan luas administrasi pada aliran sungai Cikaranggelam sekitar 9,431.61 Ha (Tabel 3.1). Sumber lain telah menyebutkan bahwa panjang sungai ini kurang lebih 8,93 Km mulai dari Situ Kamojing dan berujung di Tarum Barat. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan sebelumnya, sungai tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan termasuk sebagai badan penerima air limbah dari kegiatan rumah tangga, pertanian, peternakan, industri maupun limbah padat berupa sampah. Sehingga kualitas air sungai tersebut cenderung semakin memburuk.
Tabel 3.1. Luas dan wilayah administrasi lintasan aliran sungai Cikaranggelam Kecamatan Desa/Kelurahan Sungai/Anak Sungai/Irigasi Luas (Ha)
Cikampek Cikampek Kota 60.87
Cikampek Selatan 60.47
Cikampek Barat 215.96
Dawuan Barat K.Pegadungan 302.94
Cikampekpusaka 136.46
Cikampek Timur 57.47
Dawuan Tengah 290.62
Kamojing Cigelam 651.56
Kalihurip 686.12
Dawuan Timur 290.42
Kotabaru Cikampek Utara 216.56
Wancimekar 114.69
Jomin Barat 123.88
Sarimulya 222.54
Pucung K.Parakan 283.00
Purwasari Cengkong Ciwaluh, K.Cengkong 356.60
Darawolong Ci Waringin, K.Cengkong, CiWaluh
509.01 Karangsari K.Bawah, K.Pegadungan,
K.Waringin, Cengkong
272.04
Mekarjaya Ci Waluh 304.45
Purwasari K.Pegadungan, K.Cengkong 333.74 Sukasari K.Pegadungan, K.Cengkong 391.77
Tamelang 188.53
Tegalsari K.Pegadungan, K.Waringin 257.82 Tirtamulya Cipondoh K.Sasakpanjang, K.Rawacabe 348.27
Citarik K.Bawah, K.Parakan 396.84
Karangjaya K.Parakan 450.85
Karangsinom K.Bawah, K.Waringin 482.37
Kertamulya K.Rawacabe 436.85
Parakan K.Bawah, K.Parakan, K.Sasakpanjang
348.05
Parakanmulya K.Parakan,K.Bawah 21.48
Tirtasari K.Bawah, K.Pegadungan, 619.38
Kecamatan Desa/Kelurahan Sungai/Anak Sungai/Irigasi Luas (Ha) K.Sasak panjang
Luas Total 9,431.61
Sumber: Analisis Konsultan
Jika dilihat berdasarkan sifat alirannya, sungai cikaranggelam termasuk kategori sungai Intermitten /Periodik dimana aliran air sungai tergantung kepada musim. Pada musim penghujan aliran air cukup besar dan pada musim kemarau aliran air sungai kecil.
Berikut Karakteristik sungai dan lingkungan sungai Sungai Cikaranggelam selengkapnya disajikan dalam Tabel 3.2.
Tabel 3. 2. Karakteristik sungai dan lingkungan Sungai Cikaranggelam
Parameter Satuan Nilai
Kemiringan Saluran (Channel Slope) -- 0,0000034
Koefisien Manning -- 0,03
Lebar Dasar Sungai m 6,5
Kemiringan sisi sungai (side slope) -- 0,25
Suhu Udara oC 27
Suhu Titik Embun oC 15
Kecepatan angin m/detik 16,46
Tutupan Awan % 66
Tutupan Bayangan % 45
3.1.2. Iklim dan Curah hujan
Curah hujan di suatu tempat dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografi dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu, jumlah curah hujan sangat beragam menurut bulan.
Menurut data BMKG (dalam BPS Kabupaten Karawang, 2016), jumlah curah hujan pada Stasiun Darmaga Bogor tahun 2015 adalah 6.397 mm, dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 1.253 mm dan terendah bulan Juni yaitu 9 mm. Selama tahun 2015 terjadi curah hujan yang bervariasi di setiap bulannya.
Dibandingkan pada tahun 2014, curah hujan di DAS Cikaranggelam tergolong tinggi dengan total curah hujan 11.769 mm/tahun dan pada bulan Januari masih jadi bulan dengan curah hujan tertinggi yaitu 3.272 mm dan terendah di bulan September (11 mm). Data curah hujan disajikan pada Tabel 3.3.
Tabel 3. 3. Keadaan Curah Hujan Tiap Bulan menurut Kecamatan (mm)
Januari Februari Maret April Maret Mei Juni Juli Agustus September Oktober Desember
2013 405 329 359 388 114 139 196 73 190 147 77 2417
2014 727 498 278 367 93 106 136 3 46 124 625 3003
2015 307 221 215 225 95 3 46 202 387 1701
Bulan
Jumlah Tahun
Sumber: Publikasi Karawang Dalam Angka 2014, 2015 dan 2016
3.2. Penggunaan lahan
Berbagai aktivitas penggunaan lahan di wilayah sungai Cikaranggelam seperti adanya aktivitas permukiman, pertanian dan industri dan penggunaan lahan untuk lain diperkirakan telah mempengaruhi kualitas air Sungai Cikaranggelam. Kondisi perubahan penggunaan lahan di wilayah sungai Cikaranggelam yang ditandai dengan meningkatnya aktivitas domestik, pertanian dan industri yang tentunya akan berdampak pada perubahan kondisi kualitas air sungai. Gambar dibawah ini menggambarkan daerah tutupan lahan di sekitar aliran sungai Cikaranggelam yang digunakan sebagai area pemukiman, pertanian lahan kering dan pertanian sawah. (Gambar 3.2).
Gambar 3. 2. Peta tutupan lahan di wilayah aliran sungai Cikaranggelam
Berdasarkan data yang diperoleh BPS (2015) lahan di kecamatan-kecamatan sebagai wilayah administrasi yang dilintasi oleh aliran sungai Cikaranggelam menunjukkan dibedakan menjadi area non pertanian, lahan sawah, lahan kering dimana lahan sawah dibagi menjadi lahan berpengairan teknis, setengah teknis dan berpengairan sederhana. Sedangkan, lahan kering terdiri dari lahan untuk bangunan dan halaman sekitarnya, tegal/kebun/ladang/huma, padang rumput, tambak, kolam/tebet/empang, lahan yang sementara tidak diusahakan, lahan untuk tanaman kayu-kayuan dan perkebunan negara/swasta. Diperoleh luas seluruh Lahan di beberapa kecamatan tersebut adalah 16.422 Ha dengan perincian sebagai berikut: area non pertanian seluas 6,530 Ha, Lahan Sawah seluas 8.624 Ha dan Lahan Kering seluas 1.006 Ha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Tabel 3.4.
Tabel 3. 4. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama No
Kecamatan
Luas Lahan (Ha)
Total Non
Pertanian Sawah Lahan
Kering Perkebu
nan Hutan Lain
1 Cikampek 3,291 725 582 26 88 48 4,760
2 Purwasari 1,253 1,311 244 0 - 40 2,848
3 Tirtamulya 865 2521 98 0 - 22 3,506
4 Kotabaru 1,121 4,067 82 0 - 35 5,328
Total 6,530 8,624 1.006 26 88 145 16,442
Sumber: Karawang dalam Angka, 2015
Kondisi penggunaan lahan sebagai sawah terkait dengan irigasi dan pengairan, di wilayah kecamatan yang dilintasi aliran sungai terdapat luas lahan sawah yang menggantungkan musim tanam dengan irigasi. Kebutuhan air untuk kegiatan yang menunjang pertanian tentu sebagian besar akan dipenuhi dengan sumberdaya air sungai yang melintasi wilayah ini. Di empat wilayah kecamatan ini terdapat jumlah luasan sekitar 6.104 Ha sawah irigasi dengan jadwal musim tanam dua kali setahun, (Lihat Tabel 3.5) dan luas lahan sawah terluas berada di Kecamatan Tirta Mulya yaitu 2.521 Ha yang merupakan bagian hilir dari aliran sungai Cikaranggelam, dimana apabila sungai Cikaranggelam meluap hektaran sawah akan tergenang banjir dari air sungai Cikaranggelam yang notabene teridentifikasi mempunyai kecenderungan tercemar berat.
Tabel 3. 5 Luas penggunaan lahan sawah per kecamatan di Kabupaten Karawang.
No.
Kecamatan
Irigasi Sawah tadah hujan Dua kali Lainnya Jumlah Dua kali Lainnya Jumlah
1 Cikampek 725 - 725 - - -
2 Purwasari 1.611 - 1.611 - - -
3 Tirtamulya 2.521 - 2.521 - - -
4 Kotabaru 1.247 - 1.247 - - -
Total 6.104 - 6.104 - - -
Sumber: Karawang Dalam Angka, 2015.
3.3. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat 3.3.1. Sektor industri dan Rumah Sakit
Perkembangan industri merupakan konsekuensi logis dari pembagunan daerah.
Sektor industri menempati posisi dalam meningkatkan tingkat perekonomian suatu daerah.
Industri merupakan suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan.Terdapat satu kawasan industri yang dinamakan dengan Kawasan Industri Kujang Cikampek yang didalamnya terdapat 15 industri.Industri tersebut membuang air limbahnya ke Sungai Cikaranggelam. keberadaan Industri-industri tersebut dalam perkembangannya telah menjadi sumber pencemar air sungai Cikaranggelam, berikut adalah tabel identifikasi sumber pencemar air yang berasal dari industri dan rumah sakit.
Tabel 3. 6. Daftar sumber pencemar air di sungai cikaranggelam
No Nama Industri (Point Source)
1 Kawasan Industri Indotaisei , Kecamatan Cikampek 2 Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Kecamatan Cikampek 3 PT. Asri Panca Warna, Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek 4 PT. Pulau Intan Lestari, Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek
5 PT. Asietex Sinar Indopratama, Desa Cikampek Selatan, Kec. Cikampek 6 RS. Saraswati, Desa Cikampek Selatan, Kec. Cikampek
7 RS. Karya Husada Desa Cikampek Selatan, Kec. Cikampek
8 Kawasan Industri Kujang Cikampek (KIKC), Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek 9 PT. Pupuk Kujang Cikampek, Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek
10 PT. Knauf Gypsum Indonesia, Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek 11 PT. Changshin Indonesia, Desa Jomin Barat, Kec. Kotabaru
12 PT. Mega Karya Perkasa, Desa Cikampek Selatan, Kec. Cikampek 13 PT. Selim Textile, KIKC, Desa Kalihurip, Kec. Cikampek
14 PT. Multi Nitrotama Kimia, KIKC, Desa Kalihurip, Kec. Cikampek
15 PT. Graha Cemerlang Paper Utama, KIKC, Desa Kalihurip, Kec. Cikampek 16 RS. Pupuk Kujang, Desa Kalihurip, Kec. Cikampek
17 PT. Peroksida Indonesia Pratama, Desa Kalihurip Kec. Cikampek 18 PT. Indoraya Kimia, KIKC, Desa Kalihurip, Kec. Cikampek 19 RS. Titian Bunda, Desa Cikampek Utara, Kec. Cikampek
20 PT. Clariant Kujang Catalyst, KIKC, Desa Dawuan Tengah, Kec. Cikampek Sumber BPLH Kabupaten Karawang, 2016.
Keberadaan sejumlah indundtri dan badan usaha berhukum tersebut secara lokasi tersentral di Kecamatan Cikampek, apabila tidak mempunyai standar operasional yang baik, maka sangat dimungkinkan akan berpotensi menurunkan kuantitas dan kualitas lingkungan sungai Cikaranggelam yang juga akan berdampak meluas ke lingkungan lain sebagai dampak turunannya yang bersifat negatif.
3.3.2. Kependudukan
Gambar peta dibawah ini merupakan wilayah administrasi (Kecamatan) di sekitar daerah pengaliran sungai Cikaranggelam.
Gambar 3.3. Peta wilayah administrasi (Kecamatan) di sekitar sungai Cikaranggelam Penduduk merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam pengaruhnya terhadap perubahan kualitas lingkungan hidup. Dalam hal ini, dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat dapat berdampak kepada meningkatnya kepadatan penduduk, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh. Menurut Soemarwoto (1991), bahwa secara rinci dampak kepadatan penduduk sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian lingkungan, salah satunya adalah meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik. Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang persatuan luas bertambah.Karena itu jumlah produksi limbah persatuan luas juga bertambah.Dapat juga dikatakan di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah
Kondisi umum daerah sekitar aliran sungai Cikaranggelam penggunaan dan pemanfatan lahannya sebagai kawasan pemukiman, kawasan indutri, pertanian sawah dan lahan kering, lahan kosong, juga terdapat perdagangan dan jasa. Terkait dengan kondisi pemukiman yang berhubungan erat dengan tingkat jumlah penduduk, secara umum data menunjukkan bahwa pada tahun 2014 jumlah penduduk Kabupaten Karawang adalah berjumlah 2.250.120 jiwa, terdiri dari 1.154.982 jiwa penduduk laki – laki dan 1.095.138 jiwa penduduk perempuan dengan sex ratio penduduk adalah 105,4 yang artinya setiap 100 orang perempuan berbanding dengan 105 orang laki-laki.
Selama 5 (lima) tahun terakhir jumlah penduduk Kabupaten Karawang bertambah sebesar 197.534 jiwa dari sebesar 2.009.647 jiwa penduduk pada Tahun 2008.Dengan