UTS ERGONOMIKA
LAPORAN INDIVIDU PENGANGKATAN GALON
DISUSUN OLEH :
KEVIN JONATHAN (2211089)
DOSEN PENGAMPU
DINDA OKTA DWIYANTI RIDWAN GUCCI. ST .,MT
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOFI BATAM 2024
Pendahuluan
Perkembangan industri yang semakin pesat saat ini memunculkan berbagai jenis usaha. Semua kegiatan perindustrian tersebut tidak terlepas dari peran manusia, mesin dan peralatan. Agar semua kegiatan tersebut berjalan dengan baik tentunya semua aspek didalamnya harus saling melengkapi. Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah penggunaan peralatan-peralatan dalam dunia industri. Manusia memerlukan peralatan yang tepat agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, oleh sebab itu dibutuhkan perancangan-perancangan peralatan yang baik dari waktu ke waktu. Tujuan pokok manusia untuk selalu mengadakan perubahan rancangan peralatan-peralatan yang dipakai adalah untuk memudahkan dan menggunakan operasi yang sesuai dengan kegunaannya (Wignjosoebroto, 2008).
Perancangan ini antara lain dapat meliputi perangkat keras (tool), pegangan alat kerja (workholder), sistem kendali, dan tata letak (lay out) mesin. Agar suatu rancangan memiliki tingkat ergonomis yang tinggi, salah satu bidang kajian ergonomi adalah anthropometri yang mempelajari tentang dimensi ukuran tubuh meliputi ukuran- ukuran alamiah dari tubuh manusia di dalam melakukan aktivitas, baik secara statis (ukuran sebenarnya) maupun secara dinamis (disesuaikan dengan pekerjaan). Studi ergonomi biasanya dilakukan berkaitan dengan aktivitas yang berlangsung dalam waktu yang lama dan mempunyai intensitas pengulangan yang tinggi (Rochman, 2010).
Aktivitas yang tidak ergonomis diatas terjadi pada proses pemindahan galon air mineral.
Saat ini pemakaian galon air mineral dapat ditemukan diberbagai tempat seperti gedung perkantoran, ruangan-ruangan pertemuan dan juga pada kebutuhan rumah tangga. Hal tersebut menyebabkan terjadinya proses material handling sehingga membutuhkan cara yang tepat agar proses tersebut dapat berjalan dengan lancar.
Membawa galon air mineral dengan beban yang berat pada lantai yang datar maupun melewati anak tangga tanpa menggunakan alat bantu akan menyebabkan postur kerja yang tidak ergonomis, sehingga dapat menimbulkan rasa sakit, kelelahan, terjadi cedera dan juga dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja yang dimaksud diantaranya terpeleset atau galon terjatuh. Selain permasalahan tersebut
juga terdapat permasalahan yang lain yaitu pada proses peletakan galon air mineral pada dispenser.
Metode
Dalam penilaian postur kerja pekerja pengangkatan galon menggunakan 1 responden yang bekerja sebagai jasa angkut air mineral galon. Penelitian dilakukan di Depo Air Mineral XYZ Yogyakarta. Pada penelitian ini melakukan penilaian postur kerja menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA).
Metode REBA dikenal sebagai penilaian postur kerja seorang pekerja untuk menilai beberapa bagian postur tubuh diantaranya leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, dan kaki pengaruh dari faktor coupling, beban yang dibawa, dan jenis aktivitas pekerja. Untuk pengambilan data metode REBA, dibutuhkan perekaman video untuk memperoleh proses pengangkatan pekerja pengangkat galon dan mengambil cuplikan layer dengan posisi terburuk pekerja.
Setelah memperoleh gambar posisi terburuk pekerja, penentuan sudut-sudut bagian tubuh pekerja dengan software Corel Draw meliputi sudut punggung, leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan kaki.
Setelah penentuan besar sudut tubuh pekerja dalam bentuk cuplikan layar, penilaian skor REBA dilakukan dengan software ErgoFellow. Klasifikasi dalam skor akhir REBA yaitu:
Action Level Skor REBA Level Resiko Tindakan Perbaikan
0 1 Bisa diabaikan Tidak perlu
1 2 – 3 Rendah Mungkin perlu
2 4 – 7 Sedang Perlu
3 8 - 10 Tinggi Perlu segera
4 11 - 15 Sangat Tinggi Perlu saat ini juga
Metode selanjutnya untuk mendukung hasil postur kerja yaitu pengukuran gaya tekan pada di L5/S1 yang bisa disebut biomekanika. Biomekanika juga dapat didefenisikan sebagai hubungan antara pekerja secara fisik dengan mesin yang digunakan, material dari benda, dan peralatan yang bertujuan untuk meminimalkan keluhan-keluhan pada rangka otot pekerja.
Kegiatan pengangkatan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai aman, hati-hati, atau berbahaya di titik L5/S1. Model pengangkatan biomekanika meliputi sistem yang disambungkan antara pinggul dan segmen tulang belakang lebih tepatnya pada disc L5/S1 atau ruas tulang belakang lumbar ke 5 dan sakrum ke 1. Model tersebut juga mempengaruhi tekanan perut (abdominal pressure) dimana abdominal pressure berfungsi untuk menjaga kestabilan badan saat dikenai momen dan gaya yang diberikan dari pekerja. Dalam menjaga keseimbangan tubuh tersebut, gaya tekan pada L5/S1 dapat diimbangi dengan gaya otot pada spinal erector atau FM dan gaya perut atau FA sebagai pengaruh dari tekanan perut (PA) untuk menjaga kestabilan badan karena pengaruh momen dan gaya (Tayyari & Smith., 1997).
Setiap batasan gaya angkat memiliki batasan tersendiri yaitu Action Limit atau AL.
Action Limit merupakan nilai batas gaya angkat beban normal yang telah direkomendasikan oleh NIOSH. Adapun istilah MPL atau Maximum Permissible Limit yaitu nilai batas gaya tekan pada segmen L5/S1. Nilai dari AL atau MPL memiliki satuan Newton yang telah distandarkan oleh NIOSH. Penggunaan titik L5/S1 sebagai penentuan batasan gaya angkat karena L5/S1 merupakan salah satu titik rawan pada kerangka manusia saat sedang bekerja. Titik L5/S1 memiliki disc atau selaput yang berisi cairan. Disc berfungsi untuk meredam terjadinya pergerakan antar ruas di L5/S1. Jika hasil gaya tekan dari suatu aktivitas kerja melebihi batas MPL, maka akan terjadi kelumpuhan dikarnakan pecahnya disc (Nurmianto., 1991).
Gambar 1. Klasifikasi gaya tekan pada L5/S1 (Siregar dkk., 2018)
Kenyamanan yang dirasakan pekerja sangat menunjang dalam meningkatnya produktivitas pekerja baik itu kinerja maupun dari perusahaannya, sehingga pihak yang bertanggung jawab di bidang keselamatan dan kesehatan kerja harus mempertimbangkan faktor bahaya yang ditimbulkan. Salah satunya adalah aktivitas pengangkatan pekerja.
Sebaiknya aktivitas manual material handling tidak membahayakan pekerja dan tidak menimbulkan rasa sakit pada pekerja (Mas'idah dkk., 2009). MMH (manual material handling) atau aktivitas pengangkatan secara manual adalah aktivitas yang tergolong sebagai kerja berat. Teknis dari pengangkatan suatu pekerjaan menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan pada aktivitas pengangkatan.
Salah satu faktor resiko yang terjadi jika terdapat kesalahan cara pengangkatan suatu beban adalah otot merasakan beban yang sangat berat saat terangkat sehingga menyebabkan robeknya intervertebral discs yang terdapat pada punggung pekerja (Grandjean., 1986).
Dalam MMH, dibutuhkan rekomendasi dari analisis nilai batas beban yang dapat diangkat oleh pekerja tanpa menimbulkan resiko cidera tubuh baik pekerjaan tersebut dilakukan berulang dan jangka waktu lama yang dapat disebut RWL (Recommended Weight Limit). Penyelesaian nilai RWL diperoleh dengan persamaan yang direkomendaiskna oleh NIOSH:
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
Keterangan:
LC = konstanta pembebanan = 23 kg HM = Faktor pengali horizontal VM = Faktor pengali vertikal DM = Faktor pengali perpindahan AM = Faktor pengali asimetrik
FM = Faktor pengali frekuensi
CM = Faktor pengali kopling
Setelah mengetahui besar nilai RWL yang dipengaruhi oleh 7 faktor sesuai dengan rumus RWL, dilakukan perhitungan Lifting Index untuk mengetahui angka index pengangkatan agar tidak menimbulkan resiko cidera tulang belakang.
LI =Jika nilai LI melebihi 1 maka berat beban yang diangkat melebihi batas pengangkatan yang direkomendasikan. Sehingga aktivitas tersebut dikatakan beresiko cidera tulang belakang. Jika LI kurang dari 1, berat beban yang diangkat tidak melebihi batas pengangkatan yang direkomendasikan sehingga aktivitas tersebut tidak mengandung resiko cidera tulang belakang.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat suatu perumusan masalah yaitu
“Bagaimana Mengangkat Galon Air Mineral Dengan Posisi Badan yang Ergonomis?”
sehingga dapat mengurangi resiko-resiko yang muncul akibat postur kerja yang tidak ergonomis pada saat mengangkat galon air mineral serta meletakkan ke atas dispenser tanpa menggunakan alat bantu.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sesuatu yang akan dicapai oleh peneliti setelah penelitian selesai, adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.) Menghasilkan troli pemindahan galon air mineral yang ergonomis berdasarkan data antropometri orang indonesia perempuan dengan memperhatikan aspek potur kerja.
b.) Menghitung estimasi biaya produksi sebuah troli pemindahan galon air mineral.
Batasan Masalah
Dalam melakukan sebuah penelitian, diperlukan batasan agar pembahasan lebih terarah. Adapun batasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.) Galon yang dijadikan dasar dalam perancangan ini adalah galon dengan volume 19 liter, galon menggunakan penutup yang langsung dapat terbuka ketika masuk kedalam dispenser.
2.) Jenis dispenser yang dijadikan dasar dalam perancangan ini adalah dispenser dengan tinggi 95 cm.
3.) Troli pemindahan galon digunakan untuk tangga standar dengan tinggi maksimal anak tangga 17 cm.
4.) Penelitian ini menggunakan data antropometri orang indonesia perempuan 1. Hitunglah Recommended Weight Limit (RWL) dan Lifiing Index (LI) ?
RWL ( Recommended Weight Limit ) DIK : HM = 15 Cm
VM = 35 Cm
Posisi awal
Berat Objek
Lokasi tangan Jarak Vertikal
Sudut asymmetric
Frekuensi Durasi (jam)
Origin Origin
LC HM VM DM AM FM CM
Lantai 19 1,6 0,88 0,86 1 0,88 0,90
Skenario 1 jarak = 7 meter
RWL = LC X HM X VM X DM X AM X FM X CM = 19 ×1,6×0,88×0,86×1×0,88×0,90 = 18,22
LI ( Lifiing Index )
LI = BERAT BADAN / RWL
= 19 / 18,22
= 1,042
2. Jelaskan hasil dari pengangkatan galon tersebut dengan mengutip minimal 5 landasan teori terkait penjelasan tersebut yang dikutip dari jurnal.
a.) California Department of Industrial Relations, 2007, Ergonomic Guidelines For Manual Material Handling, NIOSH Publication, Cincinnati.
Air minum merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu dijaga kualitasnya. Untuk menjaga kualitas air minum diperlukan tempat penyimpanan yang baik terutama pada tempat dengan keterbatasan persediaan.
Anjungan lepas pantai merupakan salah satu tempat dengan persediaan air minum yang terbatas. Oleh karena itu, air minum dipasok dengan kemasan galon (botol poli- etilen berkapasitas 19 liter) dan ditempatkan dalam tempat atau rak penyimpanan yang dapat menjaga kualitasnya. Pada proses penyimpanan air minum, banyak melibatkan aktivitas penanganan material secara manual, berupa pengangkatan, penurunan, penarikan, penggeseran botol galon air minum.
Menurut California Department of Industrial Relations (2007) penanganan
didefinisikan sebagai pergerakan tangan pekerja pada suatu barang secara manual dengan mengangkat, menurunkan, mengisi, mengosongkan atau membawa barang.
Penanganan material secara manual berpotensi terhadap risiko cedera pada pekerja apabila tidak dilakukan dengan benar.
Pekerjaan yang berulang dan berkelanjutan akan menyebabkan kelelahan dan ketidaknyamanan, dan seiring waktu akan menyebabkan Musculoskeletal Disorders (MSDs) .
b.) Hignett, S., Wilson, J. R., & Morris, W., 2005, Finding Ergonomic Solutions – Participatory Approach. Occupational Medicine, Vol. 55 pp 200-207
Upaya untuk menurunkan risiko MSDs pada penanganan material terutama pengangkatan, perlu dilakukan penilaian risiko pekerjaan.
National for Occupational Safety and Health (NIOSH) memberikan metode
perhitungan risiko kerja berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melakukan aktivitas pengangkatan berupa lifting equation (Waters, et al., 1994; Lu, et al., 2016).
Tujuan perhitungan lifting equation adalah untuk mendapatkan perbandingan berat beban yang akan diangkat dengan batas berat yang direkomendasikan. Selain penilaian risiko kerja penanganan material, hal lain yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ketidaknyamanan dalam bekerja adalah perancangan ulang alat dan penambahan alat bantu.
Perancangan alat yang baik perlu melibatkan seluruh pihak yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Metode pelibatan seluruh pihak ini dikenal dengan ergonomi partisipatori. Metode ergonomi partisipatori adalah sebuah konsep melibatkan
penggunaan teknik partisipatif dan bentuk-bentuk partisipasi lainnya di suatu tempat .
c.) Santoso, D. (2006). Kapasitas Angkat Beban Untuk Pekerja Indonesia. Jurnal Teknik Industri, 8(2), 148–155.
Bobot galon air minum rata-rata yang digunakan dalam kehidupan seharihari mempunyai berat 20 liter atau 19 kg (Ghufrani, 2010). Galon biasanya diletakkan diatas dispenser dengan total ketinggian rata-rata adalah 1 meter.
Energi yang diperlukan untuk mengangkat galon tersebut tergolong cukup besar, dan jika terjadi kesalahan dalam proses pengangkatannya dapat menimbulkan risiko cidera pada beberapa bagian tubuh seperti punggung, tangan, dan tulang belakang (Yudhistira, 2019).
Menurut tabel beban angkat yang telah diklasifikasikan berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Transmigrasi dan Koperasi maka bobot maksimum yang mampu ditopang oleh wanita adalah 10-12 kg dan laki-laki adalah 10-15 kg dengan interval pengangkatan hanya sesekali .
d.) Stevenson, D. L., & Baker, D. P. (1987).
menyatakan bahwa repetitive lifting dapat menyebabkan comulative trauma atau repetitive strain injures.Batasan angkat secara psiko-fisik,Metode ini berdasarkan pada sejumlah eksperimen yang berbahaya untuk mendapatkan berat pada berbagai keadaan dan ketinggian yang berbeda-beda.
Ada tiga kategori posisi angkat yang didapat, yaitu:
a.Permukaan lantai ke ketinggian tangan ke ketinggian bahu (shoulder height).
b.Ketinggian bahu ke maksimum jangkauan tangan (vertikal).
c.genggaman tangan (knuckle height).
e.) Grandjean, E., Kroemer, 2000. Fitting the Task to the Human. A textbook of Occupational Ergonomics. 5 th edition. Piladelphie: Taylor & Francis.
Sikap kerja duduk mengakibatkan munculnya keluhan pada punggung bagian bawah, karena pada saat duduk maka otot bagian paha tertarik dan bertentangan dengan bagian pinggul. Akibatnya tulang pelvis akan miring ke belakang dan tulang belakang bagian lumbar L3/L4 akan mengendor. Kondisi ini akan membuat sisi depan
invertebral disk tertekan dan sekelilingnya melebar. Hal ini menyebabkan rasa nyeri pada punggung bagian bawah dan menjalar ke kaki. Ketegangan dan rasa sakit saat bekerja dengan sikap duduk dapa dikurangi dengan merancang tempat duduk yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi duduk tanpa sandaran menaikkan tekanan pada invertebral disk sebanyak sepertiga sampai setengah lebih banyak daripada posisi berdiri.
3. Antropometri apa saja yang digunakan dalam pengangkatan galon?
a.) Dimensi struktural (statis)
Dimensi struktural ini mencakup pengukuran dimensi tubuh pada posisi tetap dan standar. Dimensi tubuh yang diukur dengan posisi tetap meliputi berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri, maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut berdiri maupun duduk, panjang lengan dan sebagainya.
b.) Dimensi fungsional (dinamis)
Dimensi fungsional mencakup pengukuran dimensi tubuh pada berbagai posisi atau sikap. Hal pokok yang ditekankan pada pengukuran dimensi fungsional tubuh ini adalah mendapatkan ukuran tubuh yang berkaitan dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
Data antropometri dapat dimanfaatkan untuk menetapkan dimensi ukuran produk yang akan dirancang dan disesuaikan dengan dimensi tubuh manusia yang akan menggunakannya.
Pengukuran dimensi struktur tubuh yang biasa diambil dalam perancangan produk maupun fasilitas.
4. Analisa perbedaan dari kedua operator perempuan dan laki-laki.
Untuk menganalisis perbedaan hasil antara operator perempuan dan laki-laki dalam pengangkatan galon, perlu mempertimbangkan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kemampuan dan hasil pengangkatan, antara lain:
1. Kekuatan Fisik: Umumnya, laki-laki memiliki kekuatan fisik yang lebih besar dibandingkan perempuan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan komposisi tubuh, ukuran otot, dan tingkat hormon antara kedua jenis kelamin. Oleh karena itu, dalam hal pengangkatan galon yang membutuhkan kekuatan fisik, laki-laki mungkin memiliki keunggulan dalam mengangkat galon yang lebih berat atau dalam jangka waktu yang lebih lama.
2. Teknik dan Keterampilan: Selain kekuatan fisik, teknik dan keterampilan juga berperan dalam pengangkatan galon. Operator yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam pengaturan postur tubuh yang tepat, penggunaan otot yang tepat, dan teknik pengangkatan yang efisien akan memiliki hasil yang lebih baik.
Jika seorang perempuan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang sama dengan seorang laki-laki dalam hal teknik pengangkatan yang benar, perbedaan hasil
mungkin tidak signifikan.
3. Faktor Lain: Selain kekuatan fisik dan keterampilan, terdapat faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi hasil pengangkatan galon, seperti tingkat kebugaran, tingkat kelelahan, ukuran tubuh, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Semua faktor ini dapat bervariasi antara individu perempuan dan laki-laki, dan dapat memengaruhi hasil pengangkatan galon.
Perlu diingat bahwa perbedaan hasil antara operator perempuan dan laki-laki dalam pengangkatan galon bersifat umum dan dapat bervariasi di antara individu. Tidak semua laki-laki memiliki kekuatan yang lebih besar dari semua perempuan, dan tidak semua perempuan memiliki keterampilan yang lebih rendah dari semua laki-laki.
Setiap individu memiliki keunikan dan kemampuan yang berbeda. Sehingga dalam menentukan hasil yang seksama dapat terlihat secara langsung ketika sebuah penelitian dilakukan secara langsung.
5. Analisa faktor penentu perbedaan yang terjadi hasil antara kedua operator berdasarkan faktor penentu variabilitas antropometri .
a. Usia
Usia merupakan faktor yang dapat menunjukkan secara jelas mengenai terdapatnya variasi dimensi tubuh manusia. Secara kasat mata dapat terlihat adanya perbedaan ukuran dimensi tubuh anak balita dengan orang dewasa. Akibat adanya faktor usia tersebut, ukuran peralatan yang dibutuhkan antar manusia dengan perbedaan usia ini menjadi berbeda.
b. Jenis Kelamin
Selain faktor usia, faktor lainnya yang menyebabkan terdapatnya variasi pada ukuran dimensi tubuh manusia adalah jenis kelamin. Secara umum dimensi tubuh pria lebih besar dibandingkan dimensi tubuh wanita. Namun pada beberapa bagian tubuh seperti bagian pinggul hal tersebut tidaklah berlaku.
c. Suku Bangsa
Setiap suku bangsa memiliki karakteristik yang khas terkait dengan dimensi tubuh mereka. Pengaruh faktor suku bangsa terhadap dimensi tubuh manusia terekam dalam penelitian yang dilakukan oleh Ashby (1979).
Dalam penelitiannya, Ashby merancang suatu peralatan yang sesuai untuk digunakan oleh 90% populasi pria di Amerika Serikat dan kemudian mengenakan peralatan terkait pada populasi pria di negara lainnya.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa peralatan tersebut hanya mampu digunakan oleh 90% populasi pria di Jerman, 80% populasi pria di Perancis, 65% populasi pria di Italia, 45% populasi pria di jepang, 25% populasi pria di Thailand, dan 10%
populasi pria di Vietnam.
d. Nutrisi dan Kondisi Lingkungan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa nutrisi yang baik akan mendukung pertumbuhan tubuh manusia. Hal mengenai pengaruh faktor nutrisi dengan perbedaan ukuran tubuh manusia ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Annis (1978). Penelitian oleh Annis (1978) terhadap penduduk Amerika Serikat menunjukkan bahwa terdapat perubahan tren pada ukuran dimensi tubuh dan perubahan tersebut berupa peningkatan sekitar 1 cm per dekade sejak 1920.
e. Postur Tubuh
Faktor ini biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan sikap seseorang yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ukuran dimensi tubuh seseorang.
f. Jenis Pekerjaan
pekerjaan khususnya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fisik dapat melatih otot pada bagian-bagian tubuh tertentu. Hal tersebut kemudian menyebabkan ukuran yang berbeda pada bagian tubuh tertentu dengan ukuran tubuh manusia pada umunya.
Akibat perbedaan ini, maka terbentuklah variasi pada ukuran tubuh manusia.
6. Berdasarkan proses pelaksanaan skenario dan hasil yang telah didapatkan sebagai calon sarjana Teknik Industri , apa solusi yang anda berikan ? Pada penilaian dengan RWL atau Recommended Weight Limit dikhususkan untuk evaluasi teknis pengangkatan galon baik dari postur tubuh maupun beban yang diangkat. Evaluasi RWL yang ditetapkan oleh NIOSH dapat memberikan rekomendasi teknis pengangkatan barang dengan batasan yang sesuai untuk postur pekerja dan beban yang diangkat oleh pekerja. Setelah menilai pengangkatan galon pekerja berdasarkan REBA dan biomekanika, pengangkatan tersebut membutuhkan rekomendasi mengenai tata cara mengangkat agar beban yang diangkat oleh pekerja tidak melebihi batas pengangkatan yang telah direkomendasikan. Perhitungan RWL dilakukan dengan mengetahui ketinggian benda dari lantai, jarak benda dari lantai, rata-rata jarak perpindahan, dan sudut perputaran tubuh saat membawa benda.
Sehingga untuk nilai lifting index yang dihasilkan pekerja maksimal 1. Hindari mengangkat galon atau barang berat dengan posisi 90 derajat atau 45 derajat, Usahakan badan setegak mungkin posisi tulang belakang (punggung). Karena tulang belakang itu bukan untuk penahan beban, tapi hanya sebatas penopang.Penopang itu bicep, tricep, bahu, otot-otot paha dan bawah, itu untuk penahan beban.Tapi tulang belakang hanya untuk penopang. Teknik yang benar adalah, posisikan badan kita setegak mungkin, buat ancang-ancang.Lalu bersihkan galon dulu. Kemudian, galon angkat ke bagian paha kita, air galon akan ada di paha kanan, karena paha bisa digunakan untuk penahan beban.Selain itu, bicep juga dapat dijadikan untuk penahan beban.Jadi otot yang berperang bukan tulang belakang, tapi otot bicep dan otot paha.
7. Membuat rancangan gambar manual material handling.
Lampiran