ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS PADA BAYI DENGAN PERAWATAN TALI PUSAR DI KLINIK
AZMI MEDIKA CIRUAS TAHUN 2023
OLEH :
VENA WULAN NOIVIANITA 220706332
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
ABDI NUSANTARA JAKARTA 2023
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS PADA BAYI DENGAN PERAWATAN TALI PUSAR DI KLINIK
AZMI MEDIKA CIRUAS TAHUN 2023
Telah disetujui, di periksa, dan siap diujikan dihadapan Tim Penguji
Pembimbing 1
(
Melisa Putri Rahmadhena, SST.,MClin Mid ) NIDN: 0504058805
i
Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul “ Asuhan Kebidanan NEONATUS PADA NY.
A DENGAN PERAWATAN TALI PUSAT Klinik Azmi Medika Ciruas Tahun 2023”. Dalam penyusunan Laporan ini, penulis banyak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu DR. Maryati Sutarno, S.Pd, S.ST, Bd, MARS, MH ketua Yayasan Abdi Nusantara Jakarta.
2. Ibu Lia Idealistiana, SKM, SST, MARS, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara Jakarta.
3. Ibu Melisa Putri Rahmadhena,SSt.,M.CLIN Mid Pembimbing yang telah banyak memberikan masukan, pengarahan, dan bantuan kepada penulis dalam melakukan perbaikan- perbaikan untuk ke sempurnaan laporan penulis
4. Ibu/Bapak Penguji yang telah banyak memberikan masukan, pengarahan, dan bantuan kepada penulis dalam melakukan perbaikan- perbaikan untuk kesempurnaan laporan penulis.
5. Kedua orangtua tercinta, suami, adik adiku tersayang serta keluarga besar yang selalu mendoakan, memotivasi dan membantu dengan tulus dan kasih sayang serta selalu memberi semangat kepada penulis.
Dalam penulisan laporan, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang. Penulis berharap semoga laporan kasus ini dapat berguna bagi pembaca umumnya dan profesi kebidanan khususnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua.
Serang, 06 Juli 2023
Vena Wulan Novianita
ii
DAFTAR ISI
COVER...i
LEMBAR PESETUJUAN...ii
LEMBAR PENGESAHAN...iii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI...v
BAB I PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penulisan...3
D. Manfaat Penulisan...3
E. Ruang Lingkup...4
BAB II LANDASAN TEORI...5
A. Tinjauan Umum Tentang Neonatus...5
B. Tinjauan Umum Tentang Tali Pusat...12
C. Tinjauan Umum Tentang Perawatan Tali Pusat...16
D. Kewenangan Bidan...17
BAB III TINJAUAN KASUS...18
A. KASUS...18
B. Refleksi Kasus...24
BAB IV PEMBAHASAN...26
A. Pengkajian Data...26
B. Asessment...26
C. Asuhan Kebidanan, Rasionalisasi Kebidanan, dan Evaluasi...26
BAB V PENUTUP...28
A. Kesimpulan...28
B. Saran...29 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
iii
A. Latar Belakang
Bayi baru lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37- 42 minggu atau 294 hari dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram, bayi baru lahir (newborn atau neonatus) adalah bayi yang baru dilahirkan sampai dengan usia empat minggu. Angka Kematian Bayi (AKB) usia dibawah 1 tahun (0 - 11 bulan) per 1.000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Dalam rentang 50 tahun (Periode 1971 - 2022), penurunan AKB di Indonesia hampir 90%. AKB tertinggi berada di Provinsi Papua, yaitu sebesar 38,17 kematian per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB terendah berada di Provinsi DKI Jakarta sebesar 10,38 kematian per 1.000 kelahiran hidup (Said, 2013).
Salah satu ancaman pada bayi adalah terjadinya infeksi tali pusat dikarenakan perawatan tali pusat yang tidak baik dan benar dan adanya ketidak sesuaian dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang telah ditentukan. Angka kejadian infeksi neonatus di Indonesia berkisar antara 24%
hingga 34% dan hal ini merupakan penyebab kematian yang kedua setelah asfiksia neonatorum yang berkisar antara 49% - 60%. Sebagian besar infeksi neonatorum yang ditularkan melalui tali pusat karena pemotongan dengan alat yang tidak steril, infeksi juga dapat melalui pemakaian obat, bubuk, dan daun-daunan yang digunakan masyarakat dalam merawat tali pusat (Febrianti, 2020).
Tali pusat merupakan jalan masuk utama infeksi sistemik pada bayi baru lahir. Perawatan tali pusat adalah tindakan yang bertujuan untuk merawat tali pusat pada bayi baru lahir agar tetap kering dan mencegah terjadi infeksi serta mempercepat putusnya tali pusat. Teknik perawatan tali pusat yang tidak benar akan menimbulkan infeksi tali pusat. Adapun tanda- tandanya antara lain suhu tubuh bayi panas, bayi tidak mau minum, tali pusat bengkak, merah dan berbau. Perawatan tali pusat yang baik merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya infeksi neonatal, yaitu Tetanus
1
2
Neonatorum (Shella, 2021).
Infeksi tali pusat pada dasarnya dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar, yaitu dengan cara perawatan steril, bersih dan kering. Tujuan asuhan kebidanan ini adalah untuk membantu mengatasi terjadinya infeksi pada tali pusat bayi baru lahir.
Perawatan tali pusat dengan cara merawat tali pusat yang berarti menjaga agar luka tersebut tetap bersih, tidak terkena air kencing, kotoran bayi atau debu. Pemakaian popok bayi diletakkan di sebelah bawah tali pusat (Santi dan Sari, 2022).
Berdasarkan latar belakang tersebut, sehingga penulis ingin mengetahui
“Bagaimana Asuhan Kebidanan Neonatus Pada Bayi Ny. “A” Dengan Perawatan Tali Pusat Di Klinik Azmi medika ciruas tahun 2023 .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui “Bagaimana penatalaksanaan Asuhan Kebidanan Neonatus Pada Bayi Ny. “A” Dengan Perawatan Tali Pusat Di klinik Azmi medika Ciruas tahun 2023 .
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan neonatus pada bayi Ny. “A”
dengan perawatan tali pusat di klinik azmi medika ciruas dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan, pendokumentasian metode SOAP dan Pathway.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data pada bayi Ny. “A” dengan perawatan tali pusat dengan asuhan kebidanan neonatus.
b. Mampu merumuskan diagnosa asuhan kebidanan neonatus pada bayi
Ny. “A” dengan perawatan tali pusat.
c. Untuk merencanakan asuhan kebidanan neonatus pada bayi Ny. “A”
dengan perawatan tali pusat .
d. Mampu melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan neonatus pada bayi Ny. “A” dengan perawatan tali pusat .
e. Mampu melakukan evaluasi asuhan kebidanan neonatus pada bayi Ny.
“A” dengan perawatan tali pusat .
f. Mampu melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan neonatus pada bayi Ny. “A” dengan perawatan tali pusat.
D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Penulis
Menambah wawasan penulis tentang asuhan kebidanan secara komprehensif guna meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan memberikan asuhan kebidanan pada ibu dan bayi.
2. Bagi Praktik Mandiri Bidan
Dapat dijadikan sebagai acuan dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan, terutama mutu pelayanan kebidanan pada neonatus.
3. Bagi Institusi Kesehatan
Hasil penulisan laporan kasus ini diharapkan dapat dijadikan contoh asuhan kebidanan neonatus yang sehat dalam penerapan pelayanan kebidanan sesuai dengan standar.
E. Ruang Lingkup
Studi Kasus dilakukan di Kabupaten Serang di wilayah kerja Klinik azmi medika ciruas tahun 2023 Data subjektif diambil melalui anamnesa langsung ke pasien bayi By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan. Sedangkan data Objektif diambil melalui pemeriksaan fisik.
Kemudian berdasarkan data Subjektif dan Objektif dapat disimpulkanlah diagnosa serta perencanaan dari diagnosa .
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Umum Tentang Neonatus 1. Definisi
Bayi Baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai 42 minggu, dengan berat badan lahir 2500 - 4000 gram, dengan nilai apgar >7 dan tanpa cacat. Bayi baru lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42 minggu atau 294 hari dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000 gram, bayi baru lahir (newborn atau neonatus) adalah bayi yang baru dilahirkan sampai dengan usia empat minggu.
Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran danharus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin.
Tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan peoses vital neonatus, yaitu maturasi, adaptasi dan toleransi. Empat aspek transisi pada bayi baru lahir yang paling dramatik dan cepat berlangsung adalah pada sistem pernafasan, sirkulasi, kemampuan menghasilkan glukosa.
2. Ciri – Ciri Neonatus
Menurut Shella (2020) ciri – ciri neonatus (bayi baru lahir), yaitu :
a. Berat badan pada bayi baru lahir, yaitu 2.500 - 4.000 gram, Panjang badan pada bayi baru lahir 48 - 52 cm, Lingkar dada, yaitu 30 - 38 cm dan untuk Lingkar kepala pada bayi baru lahir 22 - 25 cm.
b. Bunyi jantung pada bayi baru lahir dalam menit pertama kira - kira 180 x/menit lalu menurun menjadi 120 - 140 x/menit untuk pernafasan pada bayi baru lahir dalam menit pertama kira - kira 80 x/menit.
c. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup dan diliputi vernik caseosa.
d. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
e. Kuku agak panjang dan lemas.
4
f. Genetalia perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora, untuk laki-laki testis sudah menurun.
g. Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
h. Graps reflek baik, bila diletakkan suatu benda diatas tangan bayi akan menggenggam.
i. Reflek moro sudah baik.
j. Urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium hitam kehijauan.
k. Nilai APGAR >7
Nilai apgar digunakan untuk menggambarkan kondisi bayi selama beberapa menit pertama kehidupan. Jika skor masih dibawah 7 atau bayi memerlukan resusitasi maka penilaian ini diteruskan setiap 5 menit sampai normal atau sampai 20 menit. Klasifikasi nilai APGAR :
1) Nilai 7-10 : Bayi normal
2) Nilai 4-6 : Bayi dengan asfiksia ringan dan sedang 3) Nilai 1-3 : Bayi dengan asfiksia berat
Tabel 2.1 Penilaian Umum Bayi Berdasarkan Nilai APGAR
TANDA NILAI 0 NILAI 1 NILAI 2
Warna Tidak ada Lambat <100 x/menit >100 x/menit Jantung Tidak ada Lambat, iregular Bagus, menangis Tonus Otot Lemah Sedikit fleksi pada
ekstermitas Bagus, menangis
Aktivitas Tidak ada Meringis Batuk, bersin,
menangis Pernafasan Biru atau pucat Badan merah muda,
ekstremitas biru Merah muda 3. Perubahan Pada Neonatus
a. Perubahan Sistem Pencernaan
Secara struktur sudah lengkap tapi belum sempurna, mukosa mulut lembab dan pink. Lapisan keratin berwarna pink, kapasitas lambung sekitar 15-30 ml, feses pertama berwarna hijau kehitaman.
b. Perubahan Suhu Tubuh
6
Ketika bayi baru lahir, bayi berasal pada suhu lingkungan yang lebih rendah dari suhu di dalam rahim. Apabila bayi dibiarkan dalam suhu kamar maka akan kehilangan panas melalui konveksi. Evaporasi sebanyak 200 kal/kg/BB/menit. Sedangkan produksi yang dihasilkan tubuh bayi hanya 1/100 nya, keadaan ini menyebabkan penurunan suhu bayi sebanyak 2ºC dalam waktu 15 menit. Akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan O² pun meningkat.
c. Perubahan Pernafasan
Selama dalam rahim ibu, janin mendapat O² pertukaran mill plasenta, setelah bayi lahir pertukaran gas pada paru-paru bayi. Rangsangan gas melalui paru-paru untuk gerakan pernafasan pertama.
1) Tekanan mekanik dari toraks pada saat melewati janin lahir.
2) Menurun kadar pH O² meningat kadar pH CO² merangsang kemoreseptor karohd.
3) Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang permukaan gerakan pinafasa.
4) Pernafasan pertama BBL normal dalam waktu 30 detik setelah persalinan. Dimana tekanan rongga dada bayi melalui jalan lahir mengakibatkan cairan paru-paru kehilangan 1/3 dari jumlah cairan tersebut. Sehingga cairan yang hilang tersebut diganti dengan udara. Paru-paru mengembang menyebabkan rongga dada troboli pada bentuk semula, jumlah cairan paru-paru pada bayi normal 80 – 100.
d. Perubahan Sistem Peredaran Darah
Setelah lahir darah bayi baru lahir harus melewati paru-paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik pada bayi baru lahir terjadi dua perubahan besar, yaitu :
1) Penutupan foramen ovale pada atrium jantung.
2) Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta.
e. Perubahan Kardiovaskuler
Sistem sirkulasi jantung mulai berdeyut pada minggu ketiga kehamilan.
Selama kehidupan janin, jantung mendistribusikan oksigen dan zat nutrisi yang disuplai melalui plasenta. Selama kehidupan janin darah sebagian besar melalui paru-paru dan hepar melalui duktus, venosus, voramen ovale dan arteriou. Penyesuaian sistem termoregulasi.
f. Termogeneses Berarti Produksi Panas
Temperatur pada bayi saat lahir adalah 3ºC lebih tinggi dari ibunya.
Namun, pada detik kedua, terdapat penurunan yang tajam pada temperatur tubuh yang dikeluarkan melalui konveksi, evaporasi, konduksi, dan radiasi.
g. Penyesuaian Gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup menghisap dan menelan air ketuban. Reflek gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir.
h. Penyesuain Sistem Ginjal
Ginjal bayi belum matur sehingga menyebabkan laju filtrasi glomerulus rendah dan kemampuan reabsorbsi tubular terbatas. Urin pertama keluar dalam 24 jam pertama dan dengan frekuensi yang semakin sering sesuai intake.
i. Penyesuaian Sistem Kekebalan Tubuh
Pada masal awal kehidupan janin, sel-sel yang menyuplai imunitas janin sudah mulai berkembang. Namun sel-sel ini tidak aktif selama beberapa bulan. Bayi baru lahir dilindungi kekebalan pasif yang diterima dari ibunya. Namun bayi sangat rentan terhadap mikroorganisme, oleh karena itu bayi rentan terkena infeksi.
4. Tanda Bahaya Pada Neonatus
Menurut Shella (2021) tanda bahaya neonatus antara lain : a. Pernafasan : sulit atau >60 x/menit.
b. Kehangatan : terlalu panas (>38ºC atau terlalu dingin <36ºC).
c. Warna : kuning (terutama pada 24 jam pertama), biru atau pucat, memar.
d. Pemberian makan : hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah.
8
e. Tali pusat : merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah.
Infeksi, suhu meningkat, merah, bengkak, keluar cairan (nanah), pernafasan sulit.
f. Tinja atau kemih : tidak berkemih dalam 24 jam, lembek, sering, hijau tua, ada lendir atau darah pada tinja.
g. Aktivitas : menggigil atau tangis tak bisa, lemas, terlalu mengantuk, lunglai, kejang halus, tidak bisa tenang, menangis terus-menerus
5. Reflek Pada Neonatus a. Reflek Peluk (Moro)
Bila memukul keras-keras atau menarik alas tidurnya serta mengangkat dan menurunkan tubuhnya secara mendadak, maka kedua tangan serta kakinya akan merentang dan menutup lagi. Bersamaan dengan itu, jarinya pun menggenggam.
b. Reflek Mencari (Rooting)
Begitu sudut bibir dan pipi bayi disentuh dengan tangan, bayi akan langsung memiringkan kepalanya ke arah datangnya sentuhan dengan mulut yang membuka.
c. Reflek Menghisap (Sucking)
Bila bibirnya disentuh dengan ujung jari, secara otomatis bayi akan membuka mulutnya dan mulai menghisap.
d. Reflek Menggenggam (Babinski)
Saat jari diletakkan ditengah telapak tangan atau dibawah jari kakinya, secara otomatis bayi akan menekuk dan mengerutkan jari - jarinya seolah-olah ingin menggenggam atau menjepit dengan erat.
e. Reflek Leher Asimetrik (Tonic Neck)
Baringkan bayi, lalu miringkan kepalanya ke kiri misalnya. Kemudian tangan kiri bayi akan segera merentang lurus ke luar, sedangkan tangan kanannya akan menekuk kearah kepalanya. Reflek ini dilakukan ketika bayi berusia 2 bulan.
f. Reflek Melangkah dan Berjalan (Stapping)
Bila tubuh bayi dipegang pada bagian bawah ketiaknya dalam posisi
tegak (pastikan kepalanya tertopang dengan baik), lalu kakinya menyentuh bidang yang datar, secara otomatis bayi akan meluruskan tungkainya seolah-olah hendak berdiri. Sedangkan saat dimiringkan ke depan, kakinya akan bergerak seakan ingin melangkah.
6. Komplikasi Pada Neonatus
a. Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia janin. Diagnosis anoksia/hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. Denyut jantung janin, frekuensi normal ialah antara 120-160/menit. Apabila frekuensi denyutan turun sampai bawah 100/menit diluar his dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
b. Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 ml/dl dalam 24 jam, yang menandakan terjadinya gangguan fungsional dari hepar, sistem biliary, atau sistem hematologi.
Secara klinis ikterus pada bayi dapat dilihat segera setelah lahir atau setelah beberapa hari kemudian, pada bayi denganpeninggian bilirubin indirek, kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga, sedangkan pada penderita gangguan obstruksi empedu warna kuning kulit tampak kehijauan.
c. Sindrom gangguan pernafasan (surfaktan) adalah suatu senyawa bahan kimia yang mempunyai sifat permukaan akif. Surfaktan dapat diberikan sebagaian profilaksis diberikan pada bayi prematur kurang dari 30 minggu dengan berat badan kurang dari 1.250 gram yang diberikan segara setelah lahir. Sebagai terapi diberikan untuk bayi dengan defisiensi surfaktan, salah satunya pada bayi Respiratory Distress Syndrome (RDS). Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membreane Disease (HMD), merupakan sindrome gawat nafas yang disebabkan defiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir
10
dengan masa gestasi kurang.
d. Obstipasi adalah feses yang keras akibat adanya penyakit atau adanya obstruksi pada saluran pencernaan atau bisa didefinisikan sebagai tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari atau lebih. Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama kelahiran. Jika hal ini tidak terjadi maka harus dipikirkan adanya obstipasi.
e. Hipotermia (Suhu tubuh rendah) dapat disebabkan karena terpapar dengan lingkungan yang dingin (suhu lingkungan rendah, permukaan yang dingin atau basah) atau bayi dalam keadaan basah atau tidak berpakaian. Kenaikan suhu tubuh (hipertemia) dapat disebabkan oleh karena terpapar dengan lingkungan yang hangat (suhu lingkungan panas, paparan sinar matahari atau paparan panas yang berlebihan dari inkubator atau alat pemancar panas.
f. Termoregulasi
Termoregulasi adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara pembentukan dan kegilangan panas sehingga suhu tubuh bayi dalam batas normal, bayi dapat kehilangan panas tubuhnya melalui :
1) Evaporasi, yaitu penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi sendiri karena setelah lahir tidak segera dikeringkan dan diselimuti.
2) Konduksi,yaitu melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.
3) Konveksi, yaitu pada saat bayi terpapar udara yang lebih dingin (misalnya melalui kipas angin, hembusan udara, atau pendingin ruangan).
4) Radiasi, yaitu ketika bayi ditempatkan didekatkan benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi(walaupun tidak bersentuhan secara langsung.
g. Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang menyerang neonatus dini dan disebabkan oleh Clostridium tetani I spora kuman tersebut
masuk ke tubuh bayi melalui tali pusat pada saat pemotongan dan perawatan tali pusat sebelum lepas.
7. Asuhan Kebidanan Pada Neonatus
Untuk semua bayi baru lahir, segera setelah bayi lahir, sambil meletakkan bayi diatas kain bersih dan kering yang telah disiapkan pada perut ibu, segera lakukan penilaian awal sebagai berikut :
a. Periksa apakah bayi menangis, bernafas, atau bernafas tapi megap- megap atau tidak.
b. Periksa apakah tonus otot bayi baik atau bayi bergerak aktif, yaitu : 1) Jaga bayi tetap hangat
2) Hisap lendir dari mulut dan hidung (Jika perlu)
3) Klem, dan potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi apapun kira- kira 2 menit setelah lahir (pemotongan dan pengikatan tali pusat) sebaiknya dilakukan sekitar 2 menit setelah lahir atau setelah bidan menyuntikan oksitosin kepada ibu untuk memberi waktu tali pusat mengalirkan darah (dengan demikian zat besi kepada bayi).
4) Lakukan IMD
5) Berikan suntikan vitamin K 1 mg secara intra muscular, dipaha kiri anterolateral setelah IMD.
6) Berikan salep mata antibiotika pada kedua mata
B. Tinjauan Umum Tentang Tali Pusat 1. Pengertian
Tali pusat umbilical cord merupakan saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Tali pusat disebut sebagai saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama kehamilan menyuplai zat-zat gizi dan oksigen kepada janin. Setelah janin lahir, saluran ini sudah tidak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit. Terlalu panjang atau pendeknya tali pusat (kelainan vaskularisasi) pada tali pusat dapat menyebabkan kematian pada janin dan faktor resiko terjadinya kelainan saat lahir (Saprono, 2021).
12
2. Anatomi Tali Pusat
Tali pusat bentuknya seperti tali. Biasanya melingkar-lingkar dan mempunyai sekitar 40 puntiran spiral. Tali pusat terlihat mengkilap dan bewarna kebiru-biruan, yang menunjukkan bahwa terdapat pembuluh darah di dalamnya. Tali pusat merentang dari umbilikus (pusar) janin ke permukaan plasenta dan mempunyai panjang normal kurang lebih 50-55 cm, dengan ketebalan sekitar 1-2 cm. Tali pusat dianggap berukuran pendek, jika panjangnya kurang dari 40 cm. Menurut Billa (2021) struktur tali pusat, yaitu sebagai berikut :
a. Cairan ketuban atau dikenal dengan sebutan amnion menutupi tali pusat. Di bawah balutan cairan amnion ini terlihat pembuluh pembuluh darah yang terdapat dalam tali pusat.
b. Pembuluh darah adalah bagian dari sistem sirkulasi yang mengangkut darah ke seluruh tubuh. Tali pusat mengandung beberapa pembuluh darah yang berperan menghubungkan antara janin dengan plasenta.
Pembuluh darah tersebut, yaitu 2 pembuluh darah arteri dan 1 pembuluh darah vena. Ketiga pembuluh darah ini membentuk pilinan di dalam tali pusat.
1) Pembuluh darah vena atau vena umbilicalis (pembuluh darah vena yang terdapat di tali pusat), berperan dalam membawa oksigen dan nutrisi ke sistem peredaran darah janin dari peredaran darah ibu.
2) Pembuluh darah arteri atau arteri umbilicalis (pembuluh darah arteri yang terdapat di tali pusat), berperan dalam mengembalikan produk sisa dari janin ke plasenta.
c. Pembuluh darah Jelly wharton merupakan zat yang terasa lengket.
Jelly wharton ini mengelilingi pembuluih darah, sekaligus melindungi pembuluh darah tersebut dari tekanan. Sehingga, keberlangsungan pemberian makanan dari ibu ke janin dapat terjamin dan membantu mencegah terjadinya penekukan tali pusat. Saat jelly wharton terkena udara, ia akan mengembang. Tebal atau tipisnya tali pusat, bergantung pada jumlah jelly wharton yang melapisinya.
3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pelepasan Tali Pusat
Menurut Bella (2021) faktor-faktor pelepasan tali pusat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah :
1. Timbul Infeksi Pada Tali Pusat
Salah satu penyebabnya karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan, misalnya pemotongan tali pusat dengan bambu/gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusat dibubuhi abu, tanah, minyak daun-daunan, kopi dan sebagainya.
b. Cara Perawatan Tali Pusat
Penelitian menunjukkan bahwa tali pusat yang dibersihkan dengan air, sabun, dikeringkan, diberikan ASI (Kolostrum) dan dibiarkan terbuka (tidak menutup tali pusat menggunakan kassa) mampu mempercepat pelepasan plasenta.
c. Kelembapan Tali Pusat
Tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi.
d. Kondisi Sanitasi Lingkungan
Spora Clostridium Tetani yang masuk melalui luka tali pusat, karena tindakan atau perawatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan.
e. Status Nutrisi
Bayi dengan BBLR dalam perawatan masa neonatal sering mengalami penyulit dan memberikan risiko kematian tinggi dikarenakan daya tahan tubuh yang rendah mengakibatkan tali pusat lepas lebih lama, sehingga risiko dapat menimbulkan koloni bakteri.
Pada umumnya tali pusat akan terlepas pada 5-7 hari setelah persalinan. Sisa tali pusat yang menempel diperut bayi akan terlepas dalam waktu 7-10 hari atau sampai 3 minggu.
4. Faktor – Faktor yang Memperlambat Pelepasan Tali Pusat
a. Timbulnya infeksi pada tali pusat karena tindakan atau perawatan yang
14
idak bersih misalnya, pemotongan tali pusat dengan bambu atau gunting yang tidak steril, atau setelah dipotong tali pusat dibubuhi abu, tanah, minyak, dedaunan, kopi dan lain-lain.
b. Cara perawatan tali pusat, penelitian menunjukan bahwa tali pusat yang dibersihkan dengan kassa kemudian dibiarkan terbuka cenderung lebih cepat lepas dari pada perawatan tali pusat dengan tertutup.
c. Kelembapan tali pusat, tali pusat tidak boleh ditutup rapat dengan apapun karena akan membuatnya menjadi lembab, selain memperlambat pelepasan tali pusat juga menimbulkan resiko infeksi.
d. Kondisi sanitasi lingkungan, bakteri yang masuk melalui luka tali pusat karena perawatan yang kurang bersih (Billa, 2021).
5. Tanda dan Gejala Infeksi Tali Pusat
Tali pusat yang sudah dipotong, haruslah mendapatkan perawatan yang baik agar terjaga kebersihannya dan terhindar dari kemungkinan terjadinya infeksi. Upaya untuk mencegah infeksi tali pusat sesungguhnya merupakan tindakan sederhana, yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam keadaan bersih dan kering, serta selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum merawat tali pusat. Apabila hal ini tidak diperhatikan dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya infeksi pada tali pusat tersebut. Berikut merupakan tanda dan gejala terjadinya infeksi pada tali pusat :
a. Bayi terlihat gelisah dan rewel. Hal ini sesudah dipastikan bahwa kegelisahan bayi tidak disebabkan oleh hal lain misalnya karena pipis, pup, lapar, kepanasan, atau penyebab lainnya.
b. Terlihat adanya tanda kemerahan di sekitar pangkal tali pusat dan perut bayi.
c. Daerah sekitar tali pusat tercium aroma bau dan mengeluarkan nanah (nanah merupakan salah satu indikasi terjadinya infeksi).
d. Suhu tubuh bayi meningkat, tubuh terasa hangat atau panas. Untuk lebih akurat, bisa menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh bayi. Jika suhu tubuh melebihi 38⁰C maka bayi sudah terkena
demam (Billa, 2021).
C. Tinjauan Umum Tentang Perawatan Tali Pusat 1. Definisi
Perawatan tali pusat adalah suatu usaha untuk mencegah terjadinya infeksi neonatorum yang terjadi pada bayi pada kehidupan pertama setelah kelahiran. Perawatan tali pusat pada saat kelahiran dan setelah kelahiran dianggap suatu usaha yang efektif untuk mencegah terjadinya infeksi tali pusat dan tetanus neonatorium, Perawatan tali pusat dilakukan dengan teknik aseptik, dengan demikian tali pusat tidak terkontaminasi. Saat persalinan, tangan harus dicuci dengan sabun dan air bersih sebelum persalinan dan sekali lagi pada saat sebelum memotong dan mengikat tali pusat, bayi baru lahir diletakkan ditempat yang bersih perut ibu dan tali pusat harus dipotong dengan alat yang steril. Perawatan tali pusat adalah perbuatan merawat atau memelihara pada tali pusat bayi setelah tali pusat dipotong atau sebelum puput.
Perawatan tali pusat adalah pengobatan dan pengikatan tali pusat yang menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu bayi, kemudian tali pusat dirawat dalam keadaan steril, bersih, kering, puput dan terhindar dari infeksi tali pusat. Perawatan tali pusat, meliputi kepatuhan ibu dalam membersihkan sisa tali pusat setiap hari, kebersihan ibu dalam merawat sisa tali pusat dan frekuensi ibu dalam mengganti popok. Banyak pendapat tentang cara terbaik dalam merawat tali pusat. Telah dilaksanakan beberapa uji klinis untuk membandingkan cara perawatan tali pusat agar tidak terjadi peningkatan infeksi, diantaranya, yaitu dengan membiarkan luka tali pusat terbuka, ditutup đengan kassa steril, diberikan alkohol, dan di berikan ASI (Billa, 2021).
2. Tujuan Perawatan Tali Pusat
Perawatan tali pusat bertujuan untuk mencegah infeksi dan mempercepat
16
putusnya tali pusat. Infeksi tali pusat pada dasarnya dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar, yaitu dengan perawatan kering dan bersih. Banyak pendapat tentang cara terbaik untuk merawat tali pusat.
D. Kewenangan Bidan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2017 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan. Yang termasuk dalam kewenangan bidan sebagai berikut :
1. Pelayanan Kesehatan Anak
Ruang lingkup pelayanan kesehatan anak terdiri dari pelayanan bayi baru lahir, pelayanan bayi, pelayanan anak balita dan pelayanan anak prasekolah. Kewenangan kebidanan dalam melakukan pelayanan kesehatan anak adalah sebagai berikut :
a. Neonatal esensial
b. Penanganan kegawatdaruratan c. Dilanjutkan dengan rujukan
d. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak prasekolah e. Konseling dan penyuluhan.
Pelayanan neonatal esensial meliputi inisiasi menyusui dini, pemotongan tali pusat, pemberian suntikan Vitamin K1, pemberian imunisasi HB0, pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pemantauan tanda bahaya, pemberian tanda identitas diri, dan merujuk kasus yang tidak dapat ditangani. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak prasekolah meliputi : kegiatan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar kepala, stimulasi deteksi dini, dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita dengan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).
A. ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS Nama Pengkaji : vena wulan novianita
Hari/Tanggal : 6 juli 2023
Waktu Pengkajian : 13.00 WIB
Tempat Pengkajian : Klinik Azmi Medika Ciruas 1. DATA SUBJEKTIF
a. Identitas
Nama Bayi : By. Ny. A
Umur Bayi : 3 hari
TGL/Jam Lahir : 03 Juli 2023 / 06.30 WIB Jenis Kelamin : Perempuan
Berat Badan Lahir : 3100 gram Panjang Badan Lahir : 50 cm
Jenis Identitas Ibu Ayah
Nama Ny. Anisa Tn. Eko
Umur 25 tahum 28 tahun
Suku/Bangsa Sunda Jawa
Agama Islam Islam
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Buruh
Alamat Kp.kiara, desa kiara Kp. Kiara, desa kiarav b. Keluhan Saat Ini :
Ibu mengatakan bayinya lahir 2 hari yang lalu dan ingin memeriksakan keadaan bayinya.
c. Riwayat Kehamilan
1) Paritas : 1 (Satu)
17
18
2) Abortus : Tidak ada
3) Aterm : 39 minggu
4) Anak Hidup : 1 (Satu) d. Riwayat Persalinan
1) Jenis Persalinan : Normal
2) Partus di : klinik
3) Di Tolong Oleh : Bidan
4) Lama Persalinan : 13 jam 25 menit
5) Ketuban Pecah : Spontan
6) Komplikasi Persalinan : Tidak ada
7) Keadaan Bayi Baru Lahir : Bugar, tidak ada kelainan, menangis kuat
e. Riwayat Kesehatan (Keluarga)
No Jenis Hasil Keterangan
Ada Tidak Ada
1 Jantung √
2 Hipertensi √
3 DM √
4 Asma √
5 Hipatitis B √
6 IMS/HIV √
7 TBC √
8 Ginjal Kronis √
9 Malaria √
10 Epilepsi √
11 Kejiwaan √
12 Kelainan Kongenital √
13 Alergi Obat/Makanan √
14 Kecelakaan √
15 Tranfusi Darah Q
2. DATA OBJEKTIF
a. Kesadaran Umum : Baik
b. Suhu : 36,7 ⁰C
c. Pernafasan : 48 x/menit
d. Nadi : 122 x/menit e. Berat Badan Sekarang : 3200 gram
f. Kepala : Bersih, tidak ada caput succedenum, tidak ada cephal hematoma
g. Ubun-ubun : Belum menutup
h. Muka : Simetris, tidak ada kelainan
i. Mata : Simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
j. Telinga : Simetris, tidak ada secret
k. Kulit : Kemerahan, tidak odema
l. Mulut : Simetris, tidak ada kelainan m. Hidung : Simetris, tidak ada kelainan n. Leher : Tidak ada benjolan dan massa
o. Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada p. Abdomen : Tidak ada benjolan
q. Umbilikus : Tidak ada perdarahan, tali pusat tampak basah
r. Punggung : Tidak ada spina bifida
s. Ekstremitas : Simetris, jari-jari lengkap, tidak ada kelainan t. Genetalia : Tampak lubang pada vagina, labia mayora
menutupi labia minora
u. Anus : Terdapat lubang anus
v. Refleks
1) Refleks Moro : Positif
2) Refleks Rooting : Positif
3) Refleks Walking : Tidak dilakukan
4) Refleks Graphs : Positif
5) Refleks Sucking : Positif
6) Refleks Tonic Neck : Tidak dilakukan
20
w. Antropometri
1) Lingkar Kepala : 30 cm 2) Lingkar Dada : 32 cm 3) Lingkar Lengan Atas : 12,5 cm
3. ASSESMENT :
By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan.
4. PENATALAKSANAAN :
1. Melakukan informed consent dengan ibu.
Ibu mengerti dan bersedia dilakukan pemeriksaan pada bayinya.
2. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya dalam keadaan baik.
Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan bidan.
3. Menganjurkan ibu untuk mulai menyusui bayinya dengan ASI tanpa diberi makanan atau minuman yang lain.
Ibu mengerti dan bersedia untuk melakukan anjuran yang diberikan bidan.
4. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand atau kapan saja tanpa di jadwal.
Ibu bersedia untuk menyusui bayinya secara on demand.
5. Menganjurkan ibu untuk menjaga tali pusat tetap kering dan bersih, terbuka dan mengoleskan ASI pada pangkal dan ujung tali pusat.
Ibu mengerti dan bersedia untuk melakukan anjuran yang diberikan bidan.
6. Memberikan penjelasan pada ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, yaitu tidak mau menyusu, tali pusat berdarah dan suhu bayi abnormal.
Ibu mengerti mengenai KIE tentang tanda bahaya bayi baru lahir.
7. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya.
Ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran yang diberikan bidan.
8. Menganjurkan ibu harus selalu menjaga kebersihan personal hygiene
bayinya seperti mengganti popok saat setelah BAB atau BAK.
Ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran yang diberikan bidan.
9. Menjadwalkan kembali kunjungan berikutnya atau jika ada keluhan.
Ibu bersedia untuk kunjungan ulang berikutnya.
22
Dokumentasi dalam bentuk Pathway Asuhan Kebidanan Hari dan Tanggal : Kamis, 06 Juli 2023
Tempat Praktik : klinik azmi medika ciruas tahun 2023 Nama Pengkaji : Vena wulan novianita
Program Studi : Profesi Bidan
PATHWAY ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS
Tanda/Gejala/Keluhan yang dialami pasien Ny. “A ” datang ke klinik azmi medika ciruastgl 06 Juli 2023. Ibu mengatakan bayinya lahir 2 hari yang lalu dan ingin memeriksakan keadaan bayinya. Hasil pemeriksaan umum : S: 36,7°C, R : 48 x/menit, N : 122 x/menit. BB : 3200 gr.
Patofisiologi sesuai gejala :
Tali pusat yang tertutup dengan rapat dapat membuat tali pusat menjadi lembab yang bisa meningkatkan resiko tumbuhnya bakteri serta dapat menyebabkan sekitar area tali pusat kemerahan dan bernanah (Bella, 2021).
Tanda gejala Tali Pusat Infeksi :
1. Gelisah dan rewel 2. Kemerahan di area
tali pusat
3. Berbau dan bernanah 4. Suhu meningkat
(Billa, 2021).
Asuhan yang diberikan :
1. Melakukan informed consent dengan ibu.
2. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya dalam keadaan baik.
3. Menganjurkan ibu untuk mulai menyusui bayinya dengan ASI tanpa diberi makanan atau minuman yang lain.
4. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand atau kapan saja tanpa di jadwal.
5. Menganjurkan ibu untuk menjaga tali pusat tetap kering dan bersih, terbuka dan mengoleskan ASI pada pangkal dan ujung tali pusat.
6. Memberikan penjelasan pada ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, yaitu tidak mau menyusu, tali pusat berdarah dan suhu bayi abnormal.
7. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya.
8. Menganjurkan ibu harus selalu menjaga kebersihan personal hygiene bayinya seperti mengganti popok saat setelah BAB atau BAK.
9. Menjadwalkan kembali kunjungan berikutnya atau jika ada keluhan.
Rasionalisasi dari asuhan yang diberikan :
1. Dengan melakukan informed consent untuk mengetahui pemeriksaan yang akan dilakukan.
2. Dengan melakukan pemeriksaan dapat mengetahui keluhan yang dialami ibu dan bayi (Dian, 2022).
3. Menganjurkan untuk menyusui bayi sesering mungkin untuk mencegah terjadinya bendungan ASI (Annisa, 2022).
4. Menyusui bayi secara on demand dapat membantu memenuhi nutrisi bayi dan dapat mendekatkan ibu dan bayi (Annisa, 2022).
5. Menjaga tali pusat tetap kering dan bersih agar tidak terjadi infeksi yang dapat menyebabkan Tetanus Neonatorum pada bayi (Shella, 2021).
6. Penjelasan mengenai tanda bahaya bayi baru lahir untuk mencegah bayi terkena infeksi atau masalah lainnya (Billa, 2021).
7. Menjaga kehangatan dilakukan agar bayi tidak terkena hipotermia akibat terpapar udara secara langsung (Billa, 2021).
8. Personal hygiene dilakukan untuk mencegah terjadinya ruam popok akibat terlalu lama memakai popok (Dian, 2022).
9. Menjadwalkan kembali kunjungan ulang agar dapat mengetahui perkembangannya
DIAGNOSA
By. Ny. “A ” usia 3 hari, neonates cukup bulan sesuai masa kehamilan
B. Refleksi Kasus
Hasil pengkajian dari data subjektif Ny. “A” umur 25 tahun datang ke Klinik Azmi medika ciruas pada tanggal 06 Juli 2023 mengatakan ingin memeriksakan keadaan bayinya yang rewel. Hasil pengkajian dari data Objektif, yaitu: KU Baik, Suhu: 36,7°C, Nadi: 122 x/menit, Respirasi : 48 x/menit, BB : 3200 gram. Pemeriksaan fisik pada abdomen di bagian umbilikus tampak kulit kemerahan disekitar tali pusat dan terlihat masih basah serta tidak berbau.
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yaitu By. Ny. “A ” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan. Hal ini senada dengan Billa (2021) tali pusat yang sudah dipotong, haruslah mendapatkan perawatan yang baik agar terjaga kebersihannya dan terhindar dari kemungkinan terjadinya infeksi. Upaya untuk mencegah infeksi tali pusat sesungguhnya merupakan tindakan sederhana, yang terpenting adalah tali pusat selalu dalam keadaan bersih dan kering, serta selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum merawat tali pusat. Apabila hal ini tidak diperhatikan dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya infeksi pada tali pusat tersebut.
Penatalaksaan yang akan dilakukan pada asuhan kebidanan neonatus pada By. Ny. “A”, yaitu beritahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya baik, anjurkan ibu untuk mulai menyusui bayinya dengan ASI tanpa diberi makanan atau minuman yang lain, anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand atau kapan saja tanpa dijadwal, anjurkan ibu untuk menjaga tali pusat tetap kering dan bersih, terbuka dan oleskan ASI pada pangkal dan ujung tali pusat, berikan penjelasan pada ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, anjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya, anjurkan ibu harus selalu menjaga kebersihan personal hygiene bayinya, jadwalkan kembali kunjungan berikutnya atau jika ada keluhan.
Berdasarkan hal tersebut tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik. Pada By. Ny. “A” setelah dilakukan asuhan didapatkan evaluasi, yaitu ibu mengerti dan bersedia dilakukan pemeriksaan pada bayinya, ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan bidan, ibu mengerti dan bersedia untuk melakukan anjuran yang diberikan bidan, ibu bersedia untuk menyusui
24
bayinya secara on demand, ibu mengerti dan bersedia untuk melakukan anjuran yang diberikan bidan, ibu mengerti mengenai penjelasan yang diberikan bidan tentang tanda bahaya bayi baru lahir, ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran yang diberikan bidan, ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran yang diberikan bidan, dan ibu bersedia untuk kunjungan ulang berikutnya.
A. Pengkajian Data
Pada pengkajian data ini, didapati hasil data subjektif pada tanggal 06 Juli 2023 diperoleh informasi dari hasil wawancara atau anamnesa pada Ny. “A” umur 25 tahun, Hasil pengkajian dari data Subjektif didapatkan, Ny. “A” mengatakan bayinya agak demam dan rewel. Dari hasil pengkajian Objektif didapatkan hasil pemeriksaan, yaitu KU Baik, Suhu:
36,7°C, Nadi: 122 x/menit, Respirasi : 48 x/menit, BB : 3200 gram.
Pemeriksaan fisik pada abdomen dibagian umbilikus tampak kulit kemerahan disekitar tali pusat dan terlihat basah serta tidak berbau. Dari pengkajian data diatas didapatkan hasil By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan.
B. Assesment (Menegakan Diagnosis & Masalah, Diagnosa & Masalah Potensial, dan Tindakan Segera Jika Dibutuhkan)
Berdasarkan data subjektif dan objektif maka ditegakkan diagnosis yaitu, By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan. Dan data objektif KU Baik, Suhu: 36,7°C, Nadi: 122 x/menit, Respirasi : 48 x/menit, BB : 3200 gram, abdomen bagian umbilikus tampak kulit kemerahan dan tali pusat basah.
Hal ini senada dengan Menurut Shella (2021) Perawatan tali pusat adalah tindakan yang bertujuan untuk merawat tali pusat pada bayi baru lahir agar tetap kering dan mencegah terjadi infeksi. Teknik perawatan tali pusat yang tidak benar akan menimbulkan infeksi tali pusat. Infeksi tali pusat pada dasarnya dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar, yaitu dengan cara perawatan steril, bersih dan kering.
25
26
C. Asuhan Kebidanan, Rasionalisasi Kebidanan, dan Evaluasi
1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan bayinya baik, (Ny. “A” sudah mengetahui dan mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh bidan) Rasionalisasi dengan memberitahu hasil pemeriksaan maka ibu dapat mengetahui keluhan yang dialami bayinya. Evaluasi Ny. “A” sudah mengetahui dan mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh bidan.
2. Menganjurkan ibu untuk muali menyusui bayinya dengan ASI tanda diberi makanan dan minuman yang lain. Rasionalisasi menganjurkan untuk menyusui bayi sesering mungkin untuk mencegah terjadinya bendungan ASI. Evaluasi Ny. “A” mengerti dan bersedia untuk melakukan anjuran yang diberikan bidan.
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand atau kapan saja tanpa di jadwal. Rasionalisasi menyusui bayi secara on demand dapat membantu memenuhi nutrisi bayi dan dapat mendekatkan ibu dan bayi. Evaluasi Ny. “A” mengerti dan bersedia untuk melakukan anjuran yang diberikan bidan.
4. Menjadwalkan kembali kunjungan ulang berikutnya agar dapat mengetahui perkembangan dan perubahan yang dikeluhkan Ny. “A”
terhadap bayinya sehingga asuhan yang diberikan, yaitu untuk menjaga tali pusat tetap keing dan bersih, terbuka dan mengoleskan ASI pada pangkal dan ujung tali pusat, dan berikan penjelasan pada ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, yaitu tidak mau menyusu, tali pusat berdarah dan suhu tubuh abnormal. Evaluasi Ny. “A” mengerti dan bersedia melakukan anjuran yang diberikan bidan serta mengerti tentang tanda bahaya baru lahir.
A. Kesimpulan
Asuhan kebidanan neonatus pada By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan dengan Menajemen SOAP dan Pathway, disimpulkan :
1. Telah dilakukan pengkajian data pada By. Ny. “A” usia 3 hari dengan hasil tidak adanya kesenjangan antara teori dengan kasus.
2. Berdasarkan referensi didapatkan informasi bahwa diagnosa/masalah aktual pada By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, maka didapatkan diagnosa aktual dilihat dari keadaan klinis, hasil pemeriksaan fisik bahwa pada abdomen bagian umbilikus kulit tampak kemerahan dan tali pusat masih basah
3. Melakukan perencanaan asuhan kebidanan pada By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan dengan beritahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya baik, anjurkan ibu untuk mulai menyusui bayinya dengan ASI tanpa diberi makanan atau minuman yang lain, anjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand atau kapan saja tanpa dijadwal, anjurkan ibu untuk menjaga tali pusat tetap kering dan bersih, terbuka dan oleskan ASI pada pangkal dan ujung tali pusat, berikan penjelasan pada ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, anjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya, anjurkan ibu harus selalu menjaga kebersihan personal hygiene bayinya, jadwalkan kembali kunjungan berikutnya atau jika ada keluhan.
4. Pelaksanaan yang diberikan pada By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, yaitu memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya dalam keadaan baik, menganjurkan ibu untuk mulai menyusui bayinya dengan ASI tanpa diberi makanan atau minuman yang lain, menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya secara on demand atau kapan saja tanpa dijadwal, menganjurkan ibu untuk
27
28
menjaga tali pusat tetap kering dan bersih, terbuka dan oleskan ASI pada pangkal dan ujung tali pusat, memberikan penjelasan pada ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, yaitu tidak mau menyusu, tali pusat berdarah dan suhu tubuh bayi abnormal, menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya, menganjurkan ibu harus selalu menjaga kebersihan personal hygiene bayinya seperti mengganti popok saat setelah BAB atau BAK, dan menjadwalkan kembali kunjungan berikutnya atau jika ada keluhan.
5. Evaluasi yang diberikan sudah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi dalam diagnosa. Ibu mengerti dan bersedia melakukan anjuran yang telah diberikan.
6. Pendokumentasian Pada kasus By. Ny. “A” usia 3 hari neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan sudah sesuai dengan standar pelayanan dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan penerapan di tempat praktik berdasarkan metode SOAP dan Pathway.
B. Saran
1. Bagi Tempat Pelayanan Kesehatan diharapkan dapat memberikan asuhan yang menyeluruh serta mendeteksi kelainan secara dini dan mencegah terjadinya komplikasi dalam masa neonatus dan dapat meningkatkan mutu pelayananan menambah sarana dan prasarana dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
2. Seorang bidan harus dapat menilai dan mengetahui penyulit-penyulit lewat pengetahuan yang dimiliki sehingga terjadi pertolongan secara cepat serta memberikan tindakan yang efektif dan efisien.
Annisa. (2022). Penerapan Asuhan Perawatan Tali Pusat Terbuka Dan Kering Pada Bayi Baru Lahir. Jurnal Kesehatan Mercusuar
Dian, Sari. (2022). Penerapan Asuhan Kebidanan Perawatan Tali Pusat Dengan Topikal ASI Pada Bayi Baru “R” Di Praktik Mandiri Bidan “N” Kota Padang. Jurnal Kesehatan Pijar.
Febrianti. (2020). Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Dengan Perawatan Tali Pusat Terbuka.Jurnal Komunikasi Kesehatan Vol.XI No.1 Tahun 2020.
Nurhaslinda. (2022). Perawatan Tali Pusat Terbuka Pada Bayi Baru Lahir Di PMB Ernita Kota Pekanbaru. Jurnal Kebidanan Terkini, Vol. 02 No. 1 Tahun 2022
Salabila. (2021). Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Normal Dengan Metode Perawatan Tali Pusat Terbuka Di PMB\ “K” Kota Bengkulu Tahun 2021. Poltekkes Bengkulu.
Santi dan Sari. (2021). Perawatan Tali Pusat Terbuka Pada Bayi Baru Lahir Di Klinik Pratama Amanah Ayah Bunda Tahun 2021. Jurnal Kebidanan Terkini, Vol. 02 No. 1 Tahun 2022.
Shella. (2021). Asuhan Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir Dengan Perawatan Tali Pusat Secara Terbuka Di Praktik Mandiri Bidan (PMB) “N” Kota Bengkulu.
Poltekkes Bengkulu tahun 2021.
29