• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kasus Interaksi Obat Antidiabetik

N/A
N/A
Fariz Arya

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Kasus Interaksi Obat Antidiabetik"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MAKALAH

INTERAKSI OBAT DAN MONITORING EFEK SAMPING OBAT

Dosen pengampu : apt. Lisa Sofitriana, M.Farm

Disusun Oleh : Kelompok 3

1. Dhianisa Salsabila 22013001 2. Aulia Rahmah 21011034 3. Fariz Arya Mahesya 21011080

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG PADANG

2025

(2)

Daftar isi

BAB I... 4

PENDAHULUAN... 4

1.1 Latar Belakang... 4

1.2 Tujuan... 6

BAB II... 7

PEMBAHASAN... 7

2.1 Kasus...7

2.2 Data Laboratorium...8

2.3 Pengobatan...8

2.4 interaksi obat... 9

BAB III...13

PENUTUP... 13

3.1 Kesimpulan...13

3.2 Saran... 13

Lampiran Jurnal...16

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Interaksi Obat dan Monitoring Efek Samping Obat tentang Case Report Interaksi Obat Antidiabetik dengan lancar dan tepat waktu.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Interaksi Obat dan Monitoring Efek Samping Obat. Oleh karena itu, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu apt. Lisa Sofitriana, M. Farm yang telah memberikan tugas ini, sehingga memberikan wawasan dan pengetahuan untuk kami.

Keterbatasan kemampuan kami dalam membuat makalah ini menyebabkan masih banyak kekurangan dari teknik penulisan maupun isi makalah. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk membangun penulisan yang lebih baik kedepannya.

Padang, 15 Januari 2025

Penulis

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stroke merupakan defisit neurologis (fokal atau global) yang disebabkan iskemik (sumbatan) atau perdarahan yang dapat menimbulkan kecacatan maupun kematian pada seseorang5. Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan oleh adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah6. Stroke sendiri terbagi menjadi 2, yaitu ada stroke hemoragik dan stroke iskemik. Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak, sehingga terjadi pendarahan di otak. Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi jika aliran darah ke otak terhambat atau tersumbat (Kumar et al., 2021)

Stroke menjadi penyebab kematian terbanyak ketiga di dunia. Di rumah sakit, penyakit stroke merupakan penyebab kematian kedua di dunia setelah penyakit jantung koroner3. Di Indonesia prevalensi stroke berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun 2013 meningkat dari 7% menjadi 10,9%. Secara nasional, prevalensi stroke di Indonesia tahun 2018 berdasarkan kelompok umur kejadian penyakit stroke lebih banyak terjadi pada kelompok umur 55-64 tahun (33,3%) (Kemenkes RI, 2018)

Stroke hemoragik biasanya terjadi akibat dari pembuluh darah yang melemah kemudian pecah dan menyebabkan pendarahan di sekitar otak. Ada dua tipe stroke hemoragik, yaitu intracerebral hemorrhage dan subarachnoid hemorrhage. Intracerebral hemorrhage (ICH)

(5)

biasanya disebabkan hipertensi yang menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah, disfungsi autoregulatory dengan aliran otak yang berlebihan, arteriopathy, aneurisma intrakranial (biasanya juga terjadi pada perdarahan subarachnoid), arteriovenous malformation, trombosis vena sinus serebral dan infark vena, tumor otak dan tumor SSP primer, dan penyalahan penggunaan obat (misalnya, kokain dan amfetamin) (De Oliveira Manoel, et al., (2016).

Faktor yang dapat menimbulkan stroke dibedakan menjadi faktor risiko yang tidak dapat diubah atau tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat diubah atau dapat dimodifikasi.

Faktor risiko yang tidak dapat diubah diantaranya peningkatan usia dan jenis kelamin laki-laki.

Faktor risiko yang dapat diubah antara lain hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia.

Hipertensi diartikan sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang melebihi batas tekanan darah normal. Hipertensi merupakan faktor risiko yang potensial pada kejadian stroke karena hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah otak atau menyebabkan penyempitan pembuluh darah otak. Pecahnya pembuluh darah otak akan mengakibatkan perdarahan otak, sedangkan jika terjadi penyempitan pembuluh darah otak akan mengganggu aliran darah ke otak yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel-sel otak (Dinata et al.,2013)

Hipertensi merupakan penyakit yang mana nilai tekanan darah melebihi normal, yaitu apabila nilai tekanan darah sistolik ≥ 140mmHg dan/atau nilai tekanan darah diastolik ≥ 90mmHg. Klasifikasi tekanan darah dikategorikan berdasarkan tingkat tekanan darah, adanya faktor risiko kardiovaskular, kerusakan organ yang dimediasi hipertensi, atau penyakit penyerta Tekanan darah yang lebih dari 180 mmHg/110 mmHg bisa disebut dengan hipertensi krisis (Alldredge et al., 2018). Hipertensi krisis dibedakan menjadi dua, yaitu hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi (Alldredge et al., 2018). Hipertensi emergensi yaitu kondisi hipertensi dengan kerusakan organ akut atau progresif yang mana pada hipertensi berat (grade 3) disertai dengan

(6)

Hypertension Mediated Organ Damage (HMOD) akut yang sering mengancam nyawa, sehingga membutuhkan intervensi segera namun dalam menurunkan tekanan darah perlu hati-hati karena apabila tekanan darah diturunkan secara drastis dapat menurunkan aliran darah ke otak dan menyebabkan kerusakan sel-sel otak lebih lanjut (Alldredge et al., 2018).

Interaksi obat didefinisikan jika efek suatu obat berubah karena pemberian obat lain yang dapat mengakibatkan terjadinya efek farmakodinamik dan farmakokinetik. Interaksi farmakokinetik obat dapat meningkatkan toksisitas atau penurunan efektivitas jika kadar plasma dua obat meningkat atau menurun apabila dipengaruhi proses absorpsi, distribusi, metabolisme atau ekskresi. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang mempunyai efek yang sama atau saling berlawanan antar obat (Ganiswara, 2000) oleh karena itu jika dua macam obat atau lebih diminum secara bersamaan dapat mengakibatkan interaksi obat (Katzung, 2012)..

1.2 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk melihat keamanan penggunaan kombinasi terapi dari obat antihipertensi golongan CCB (chalcium chanel blocker) yakni Nimodipine dan Nicardipine pada pasien Cerebrovascular Accident Subarachnoid Hemorrhage (CVA SAH).

(7)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kasus

Seorang perempuan usia 59 tahun mengalami kehilangan kesadaran, memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus, dan riwayat penyakit hipertensi. Riwayat pengobatan yang didapatkan pasien Ceftriaxone IV 2x1g, Omeprazole IV 1x40mg, Citicoline IV 1x250mg, Tranexamic Acid IV 2x500mg, Acetazolamide PO 3x250mg, Nimodipine PO 4x60mg, Novorapid SC 3x10 IU, Ezelin SC 0-0-20 IU. Selama rawat inap pasien mendapat terapi infus NaCl 0.9% 20 tetes per menit, Manitol 200cc→6x100cc→5x100cc (tapp off setiap 3 hari), Citicoline IV 2x250mg, Ranitidine IV 2x50mg, Antrain IV 3x1g, Nicardipine (drip) bila TD>180/105 dengan target tekanan darah sistolik 140- 160mmHg IV 5-15mg, Acetazolamide PO 3x250mg, Nimodipine PO 4x60mg, Ceftriaxone IV 2x1g, Azithromycin NGT 1x500mg, NAC NGT 3x200mg, Valsartan 0-0-80mg→80-0-80mg, Amlodipine PO 1x10mg, Insulin Rapid drip 0,14IU/kgBB/jam IV 6IU/jam dan selama drip insulin diberikan infus WIDA KN 1500cc/hari karena risiko hipokalemia, infus KCl 50 mEq dalam infus NS 500cc habis dalam 5 jam, Insulin Lantus drip IV10cc drip, dan Insulin Apidra SC 6x2IU.

(8)

2.2 Data Laboratorium

Parameter 11 Desember 2023 15 Desember 2023

Hb (g/dL) 12,9 12,1

Leukosit (/uL) 21,87 15,46

Hematokrit (%) 40,70 40,30

Natrium (mmol/L) 138 144

Kalium (mmol/L) 3,33 5,27

Klorida (mmol/L) 108 119

Suhu (°C) 37,0 -

pH 7,44 -

pCO2 (mmHg) 18,9 -

pO2 (mmHg) 103 -

HCO3 (mmol/L) 13,0 -

O2 Saturasi (%) 98,4 -

Base Excess (-)11,3 -

2.3 Pengobatan

Terapi Dosis/Frekuensi Keterangan Indikasi

Infus NaCl 0.9% 20 tetes/menit - Rehidrasi, pemeliharaan cairan

Manitol 200 cc → 6x100 cc →

5x100 cc Tapp off setiap 3 hari Penurunan tekanan intrakranial

Citicoline IV 2x250 mg - Neuroproteksi,

mendukung fungsi otak Ranitidine IV 2x50 mg - Gastritis, profilaksis ulkus

stress

Antrain IV 3x1 g - Antibiotik spektrum luas

Nicardipine

(drip) IV 5-15 mg bila TD

>180/105 Target tekanan darah

sistolik 140-160 mmHg Hipertensi akut, kontrol tekanan darah Acetazolamide

PO 3x250 mg -

Penurunan tekanan intrakranial atau

intraokular

Nimodipine PO 4x60 mg - Mencegah vasospasme

otak

Ceftriaxone IV 2x1 g - Infeksi bakteri

Azithromycin 1x500 mg - Infeksi saluran

(9)

Terapi Dosis/Frekuensi Keterangan Indikasi

NGT pernapasan atau lain

NAC NGT 3x200 mg - Antioksidan, mendukung

fungsi hati

Valsartan 0-0-80 mg → 80-0-80 mg - Hipertensi, perlindungan kardiovaskular

Amlodipine PO 1x10 mg - Hipertensi

Insulin Rapid (drip)

0.14 IU/kgBB/jam IV 6 IU/jam

Risiko hipokalemia, diberikan infus

tambahan Hiperglikemia akut Infus WIDA KN 1500 cc/hari Selama drip insulin Pencegahan hipoglikemia Infus KCl dalam

NS

50 mEq dalam NS 500 cc,

habis dalam 5 jam - Koreksi hipokalemia

Insulin Lantus

drip IV 10 cc drip - Pengendalian glukosa

darah Insulin Apidra

SC 6x2 IU - Pengendalian glukosa

darah

2.4 interaksi obat

Interaksi obat berdasarkan drugs.com

Nama Obat Kategori

Interaksi Mekanisme Interaksi Tindakan yang

Disarankan Monitoring

Potassium Chloride, Valsartan

Moderat

Kombinasi ARB dan garam kalium dapat meningkatkan risiko hiperkalemia karena penghambatan angiotensin II yang menyebabkan retensi kalium.

Gunakan dengan hati- hati. Monitoring kadar kalium serum dan fungsi ginjal secara teratur.

Berikan edukasi pasien tentang tanda-tanda hiperkalemia (lemas, mual, detak jantung lambat).

Kalium serum dan fungsi ginjal sebelum dan selama terapi.

Acetazolamide, Insulin

Glargine(lantus)

Moderat

Efikasi insulin dapat menurun oleh obat seperti diuretik yang meningkatkan kadar glukosa darah.

Monitoring ketat kadar glukosa darah.

Sesuaikan dosis insulin jika diperlukan. Edukasi pasien mengenai tanda hiperglikemia (haus berlebihan, peningkatan buang air kecil).

Glukosa darah setelah memulai atau

menghentikan terapi obat penyerta.

Acetazolamide, Insulin

Glulisine(apidra)

Moderat Sama dengan interaksi acetazolamide dan insulin glargine.

Monitoring ketat kadar glukosa darah.

Sesuaikan dosis insulin

Glukosa darah setelah memulai atau

(10)

Nama Obat Kategori

Interaksi Mekanisme Interaksi Tindakan yang

Disarankan Monitoring jika diperlukan. Edukasi

pasien mengenai tanda hiperglikemia (haus berlebihan, peningkatan buang air kecil).

menghentikan terapi obat penyerta.

Acetazolamide, Insulin Inhalasi

(Rapid Acting) Moderat

Sama dengan interaksi acetazolamide dan insulin glargine.

Monitoring ketat kadar glukosa darah.

Sesuaikan dosis insulin jika diperlukan. Edukasi pasien mengenai tanda hiperglikemia (haus berlebihan, peningkatan buang air kecil).

Glukosa darah setelah memulai atau

menghentikan terapi obat penyerta.

Valsartan, Insulin

Glargine(lantus) Moderat

ARB dapat

meningkatkan efek hipoglikemik insulin dengan meningkatkan sensitivitas insulin atau menurunkan resistansi insulin.

Monitoring ketat hipoglikemia. Edukasi pasien tentang tanda- tanda hipoglikemia (lemah, lapar, keringat berlebihan). Sesuaikan dosis insulin jika diperlukan.

Kadar glukosa darah sebelum dan selama terapi kombinasi.

Valsartan, Insulin

Glulisine(apidra) Moderat

Sama dengan interaksi valsartan dan insulin glargine.

Tidak ada tindakan spesifik, tetapi perlu pemantauan untuk hipoglikemia..

Kadar glukosa darah selama terapi.

Valsartan, Insulin Inhalasi (Rapid Acting)

Moderat

Sama dengan interaksi valsartan dan insulin glargine.

Tidak ada tindakan spesifik, tetapi perlu pemantauan untuk hipoglikemia..

Kadar glukosa darah selama terapi..

Potassium Chloride, Insulin Glargine(lantus)

Minor

Pengisian kalium dapat meningkatkan toleransi glukosa pada pasien dengan sirosis hati.

Tidak ada tindakan spesifik, tetapi perlu pemantauan untuk hipoglikemia.

Kadar glukosa darah selama terapi.

Potassium Chloride, Insulin

Glulisine (apidra) Minor

Sama dengan interaksi potassium chloride dan insulin glargine.

Tidak ada tindakan spesifik, tetapi perlu pemantauan untuk hipoglikemia.

Sama dengan monitoring pada interaksi

potassium chloride dan insulin glargine.

Potassium Chloride, Insulin Inhalasi (Rapid)

Minor Sama dengan interaksi potassium chloride dan insulin glargine.

Sama dengan tindakan pada interaksi potassium chloride dan insulin

Sama dengan monitoring pada interaksi

(11)

Nama Obat Kategori

Interaksi Mekanisme Interaksi Tindakan yang

Disarankan Monitoring

glargine. potassium

chloride dan insulin glargine.

Dari kasus yang dipaparkan di atas pasien mendapatkan pengobatan untuk hipertensi pada SAH dapat digunakan golongan Calcium Channel Blocker (CCB). Calcium Channel Blocker (CCB) memiliki mekanisme kerja menghambat masuknya Ca2+ ke dalam sel sehingga terjadi relaksasi otot polos vaskular dan menurunkan kecepatan nodus SA (sinoatrial) serta konduksi AV (atrioventricular). Berdasarkan studi perbandingan Primary Stroke Prevention and Hypertension Treatment: which is the first line strategy, antihipertensi golongan CCB dapat menurunkan insiden stroke 38% pada pasien stroke dengan hipertensi (Bell, 2015).

Terdapat dua kategori utama dalam Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu derivat dihidropiridin dan non-dihidropiridin. Untuk Calcium Channel Blocker derivat dihidropiridin (seperti nifedipin, nikardipin, nimodipin dan amlodipin) merupakan golongan selektif peripheral CCB yang memberikan efek antihipertensi dengan menghambat masuknya kalsium di sepanjang otot polos vaskular. Penghambatan ini mencegah kontraktilitas otot polos sehingga menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah sistemik. Golongan Calcium Channel Blocker derivat dihidropiridin ini secara istimewa berikatan dengan saluran perifer kalsium dalam otot polos vaskuler serebral, koroner dan perifer, serta ginjal. Calcium Channel Blocker derivat non- dihidropriridin juga dapat menurunkan denyut jantung dan memperlambat konduksi nodus atrioventricular (Wells, 2009).

(12)

Kombinasi CCB dihidropiridin dapat digunakan sebagai agen anti hipertensi karena memiliki daya ikatan dan farmakologisnya yang berbeda karakteristik dari setiap obat meskipun berasal dari golongan CCB, sehingga penggunaan kombinasi dua obat dalam golongan ini dapat digunakan untuk mengatasi hipertensi (Sica, 2001). Interaksi dua obat pada golongan CCB menunjukkan hasil vasodilatasi yang lebih besar dibandingkan jika hanya menggunakan satu obat golongan CCB (Sica, 2001).

Penggunaan kombinasi terapi Nimodipine dan Nicardipine menunjukkan bahwa outcome yang muncul tidak hanya dapat mengurangi kejadian vasospasme serebral, tetapi juga mengurangi risiko munculnya hasil yang buruk, baik yang menyebabkan kematian atau ketergantungan obat (R et al., 2005).

Nimodipine dengan pemberian oral maupun intravena terbukti dapat menurunkan kejadian infark serebral dan dapat meningkatkan hasil perbaikan setelah SAH aneurisma dan traumatis, sedangankan Nicardipine memiliki sifat vasodilator kuat dan juga profil serebrovaskular yang khas. Oleh karena itu, penggunaan kombinasi Nicardipine dengan Nimodipine memiliki efek yang menguntungkan bagi pasien dengan menghindari risiko kejadian interaksi atau efek samping yang disebabkan oleh kedua obat (Karinen et al., 1999).

(13)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada pasien SAH dengan hipertensi yang diberikan terapi kombinasi Nimodipine dan Nicardipine memberikan penurunan tekanan darah yang optimal meskipun kedua obat tersebut dari satu golongan yang sama dengan mekanisme kerja yang sama, yaitu golongan Calcium Channel Blocker (CCB). maka dapat dinilai bahwa tekanan darah pasien cenderung stabil, sehingga penggunaan kombinasi Nimodipine dan Nicardipine aman tidak menyebabkan munculnya efek samping hipotensi yang membahayakan pasien

3.2 Saran

Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi ang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

Daftar pustaka

(14)

Alldredge, B. K., Corelli, R. L., Ernst, M. E., Guglielmo, B. J., Jacobson, P. A., Kradjan, W. A.,

& Williams, B. R. (Eds.). (2018). Koda-Kimble & Young’s Applied Therapeutics (10th Ed.). Lippincott Williams & Wilkins.

Bell, K., Twiggs, J., and Olin, B. R. 2015. Hypertension: The Silent Killer: Update JNC-8 Guideline Recommendations. Alabama Pharmacy Association, 1-8.

De Oliveira Manoel, A. L. et al. The critical care management of spontaneous intracranial hemorrhage: A contemporary review. Crit. Care 20, (2016).

Dinata, C. A., Syafrita, Y. & Sastri, S. Artikel Penelitian. J. Kesehat. Andalas 2, (2013).

Ganiswara, S.G. (2000). Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, 800, Bagian Farmakologi FKUI Jakarta

Katzung, Bertram G. (2012). Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. EGC. Jakarta

Karinen, P., Koivukangas, P., Ohinmaa, A., Koivukangas, J., & Öhman, J. (1999).

CostEffectiveness Analysis Of Nimodipine Treatment After Tahun 2024 “[MAHESA:

MALAHAYATI HEALTH STUDENT JOURNAL, P-ISSN: 2746-198X E-ISSN: 2746- 3486 VOLUME 4 NOMOR 10 TAHUN 2024] HAL 4610-4620 4620 Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage And Surgery. Neurosurgery, 45(4), 780–785.

Kemenkes RI. Stroke Dont Be The One. 10 (2018).

Kumar, A., Montaño, A., Hanley, D. F. & Hemphill, J. C. Hemorrhagic stroke. Handb. Clin.

Neurol. 176, 229– 248 (2021)

(15)

R, D. M., Rinkel, G., Feigin, V., Algra, A., Van Den Bergh, W., Vermeulen, M., & Van Gijn, J.

(2005). Calcium Antagonists For Aneurysmal Subarachnoid Haemorrhage. Cochrane Database Of Systematic Reviews, 3, 1–50.

Sica, D. A. (2001). Combination Calcium Channel Blocker Therapy In The Treatment Of Hypertension. Jthe Journal Of Clinical Hypertension, 3(5), 322–327.

Wells, B. G., DiPiro, J. T., Schwinghammer, T. L. & DiPiro, C. V., 2009. Pharmacotherapy Handbook Seventh Edition. United States: McGraw-Hill Education.

(16)

Lampiran

(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

Referensi

Dokumen terkait

Pada beberapa kasus, interaksi ini terkadang dapat menimbulkan perubahan efek pada kedua obat, sehingga obat mana yang mempengaruhi dan mana yang dipengaruhi, menjadi tidak

Kasus interaksi obat tertinggi kedua adalah digoksin dengan kaptopril sebanyak 19 kasus, dan menempati level signifikansi 5 karena itu interaksi kedua obat

Telah dilakukan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif yang bersifat retrospektif mengenai " Pemantauan Interaksi Obat pada Peresepan

Bila obat ketiga ada interaksi dengan obat pertama ataupun obat kedua, akan tampil di layar sebuah alarm windows untuk setiap kasus interaksi seperti di atas..

Bila obat ketiga ada interaksi dengan obat pertama ataupun obat kedua, akan tampil di layar sebuah alarm windows untuk setiap kasus interaksi seperti di atas..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya potensi interaksi obat antidiabetik oral , frekuensi potensi interaksi obat, pola mekanisme interaksi, jenis obat

Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat lainnya sehingga meningkatkan atau mengurangi

2.Interaksi farmakokinetik terjadi jika salah satu obat mempengaruhi ADME obat kedua, sehingga kadar plasma obat kedua meningkat atau menurun toksisitas efektivitas Interaksi fk