• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Keragaman Usaha Tani dan Teknologi Budidaya Tanaman Kedelai di Pancatengah, Tasikmalaya

N/A
N/A
Syahrul Rizki

Academic year: 2025

Membagikan "Laporan Keragaman Usaha Tani dan Teknologi Budidaya Tanaman Kedelai di Pancatengah, Tasikmalaya"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN

KERAGAAN USAHA TANI DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI DI KECAMATAN PANCATENGAH KABUPATEN

TASIKMALAYA

(Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Teknologi Produksi Tanaman Polong dan Umbi)

Disusun Oleh :

Silvi Fauziah 215001020

Suhendar Nurdiansah 215001022

Aji 215001024

Flaifa Hafitri Nuryohani 215001025

Leli Anggara 215001026

Intan Cahyaningrat 215001028

Sahla Sania Hasanatunnisa 215001029

Luthfi Chaerul Fikri 215001031

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA

2024

(2)

i DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 2

BAB II KERAGAAN USAHATANI KEDELAI ... 3

A. Status ... 3

B. Pola Tanam ... 3

C. Skala Usahatani ... 3

D. Tipe Usahatani ... 4

E. Pengelolaan Tanaman ... 4

F. Gangguan Hama dan Penyakit Tanaman ... 4

G. Kesesuaian Agroekosistem ... 4

BAB III TEKNOLOGI BUDIDAYA ... 6

A. Kesesuaian Syarat Tumbuh ... 6

B. Teknologi Budidaya Berdasarkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) ... 7

C. Permasalahan dan Kendala ... 8

D. Peluang ... 8

BAB IV KESIMPULAN ... 10

A. Kesimpulan ... 10

DAFTAR PUSTAKA... 11

LAMPIRAN ... 12

(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan utama dan menjadi komoditas unggulan yang sangat strategis pada pembangunan perekonomian Indonesia (Zakaria, 2010). Kedelai (Glycine max (L) Meril) menjadi salah satu komoditas utama kacang-kacangan yang menjadi sumber protein nabati yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Tanaman kedelai menjadi tanaman penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat karena merupakan sumber protein nabati yang relatif murah bila dibandingkan sumber protein lainnya seperti daging, susu, dan ikan.

Kandungan protein biji kedelai lebih kurang 35%, karbohidrat 35%, dan lemak 15%. Selain itu, kedelai juga mengandung mineral seperti kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan B (Rohmah dan Saputro, 2016). Kedelai dikenal sebagai komoditas pertanian yang multiguna, karena dapat dikonsumsi dalam bentuk muda sebagai hortikultura yaitu kacang sisil maupun diolah sebagai bahan industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack dan sebagainya. Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai (LIPI, 2020).

Permintaan kedelai di Indonesia terus menunjukkan peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan pendapatan masyarakat.

Besarnya permintaan kedelai belum diimbangi dengan produksi kedelai di dalam negeri. Hal ini menyebabkan sebagian besar kedelai di Indonesia harus diimpor dari luar negeri. Produksi rata-rata kedelai di Indonesia yang masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya cara bercocok tanam yang kurang baik, proses fisiologis tanaman yang tidak sempurna, pemeliharaan yang tidak intensif, serta adanya serangan hama dan penyakit (Simatupang, 2019). Sementara itu, produksi kedelai nasional dari tahun ke tahun terus merosot. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) Pada tahun 2018 kedelai nasional hanya mencapai 650.000 ton, menurun pesat pada tahun 2019 yang hanya 424,189 ton, tahun 2020 produksi kedelai naik dengan hasil kedelai 632.236 ribu ton dan tahun 2021 menurun yaitu dengan hasil dalam negeri 613.318 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kedelai mencapai 2,2 juta ton dimana sangat jauh dari kebutuhan konsumsi kedelai nasional (Jayani 2021).

Dilain pihak secara umum minat petani untuk mengembangkan tanaman kedelai masih rendah jika dibandingkan dengan komoditas pangan lain seperti padi, jagung, dan ubi kayu. Menurut hasil survei pendahuluan, petani mengeluh pendapatan yang diperoleh dari usahatani kedelai masih tergolong rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya pendapatan

(4)

2 petani sebagai akibat dari faktor harga jual yang tidak menentu. Tidak adanya jaminan harga yang stabil merupakan salah satu faktor tidak menentunya harga. Kondisi seperti ini merupakan salah satu faktor kurang termotivasinya petani untuk bertanam kedelai. Selain itu, terjadi karena kedelai bukan komoditas utama petani. Dikarenakan kedelai merupakan tanaman tambahan yang ditanam setelah tanaman utama habis masa panennya. Ditambah lagi kedelai bukan berasal dari negara teropis sehingga butuh perawatan khusus agar terhindar dari gagal panen. Kurangnya minat petani dan rentannya kedelai terhadap hama dapat membuat produksi dalam negeri berkurang (Setyawan dan Huda, 2022).

Berdasarkan data yang telah disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa kedelai (Glycine max (L.) Merr.) memiliki prospek yang bagus baik itu sekarang maupun di masa depan untuk kebutuhan pangan di Indonesia. Upaya pemenuhan pangan dan industri pengolahan akan terus mengalami pertumbuhan. Pertanian menjadi satu-satunya tumpuan pemerintah maupun swasta dalam upaya pemenuhan pangan baik untuk kebutuhan pemenuhan energi maupun nutrisi seperti protein, vitamin, dan mineral. Peningkatan produktivitas kedelai nasional saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah terkait teknik budi daya yang belum dikuasai oleh petani.

Oleh karenanya, komitmen pendampingan dan pelatihan petani kedelai membutuhkan sinergitas dari para penyuluh, akademisi, dan pelaku agribisnis.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis melakukan kunjungan survei lahan kedelai yang menjadi salah satu daerah sentra kedelai yang berada di Tasikmalaya tepatnya di Kp. Ciwatin II, Kelurahan Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya untuk mengetahui keragaan budidaya kedelai yang terjadi di lapangan serta teknologi budidaya yang diterapkan oleh petani.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari observasi lapangan ini adalah:

1. Untuk mengetahui keragaan usaha tani kedelai di Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya.

2. Untuk mengetahui teknologi budidaya kedelai di Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya.

(5)

3 BAB II

KERAGAAN USAHATANI KEDELAI A. Status

Budidaya kedelai yang dilakukan di Desa Ciwatin Kecamatan Pancatengah merupakan budidaya selingan sebagai upaya pemanfaatan masa kosong penanaman padi sehingga kedelai bukan merupakan komoditas utama.

Status kepemilikan lahan di Desa Ciwatin rata-rata merupakan lahan milik pribadi, lahan yang dikelola oleh Bapak Wahab adalah lahan milik pribadi seluas 80 bata atau sekitar 1.120 m2, diolah secara mandiri, dan sudah berlangsung selama dua tahun.

B. Pola Tanam

Saat dilakukan survey di lapangan sebagian lahan hanya ditanami dengan kedelai atau monokultur, sebagian juga diterapkan tanam tumpangsari kedelai dengan jagung seperti yang dilakukan Bapak Wahab, tetapi penanaman jagung sebagai tanaman tumpangsari yang dilakukan Bapak Wahab masih merupakan percobaan dan tidak dikelola sepenuhnya sebagai tumpangsari.

C. Skala Usahatani

Berdasarkan luas lahan, produktivitas, dan pasar penjualan skala usaha tani di Desa Ciwatin tergolong skala kecil. Disebutkan bahwa petani di Desa Ciwatin umumnya kurang meminati budidaya kedelai karena sulitnya pengolahan hasil panen kedelai, petani harus melakukan perontokan kedelai secara manual dengan tangan karena belum banyak mesin yang bisa digunakan untuk mempermudah pengerjaan. Selain itu, kedelai lokal disebutkan sulit untuk mendapatkan pasar penjualan karena pengrajin tahu dan tempe lebih memilih kedelai impor dari pada kedelai lokal sehingga semakin menurunkan minat petani untuk melakukan budidaya kedelai.

Bapak Wahab mengungkapkan bahwa BPP menampung kedelai hasil panen petani sebagai solusi kurangnya pasar penjualan kedelai lokal. Petani dapat menjual kedelai hasil panen mereka kepada pihak BPP dengan harga Rp9000/kg kedelai. Disebutkan juga bahwa petani mendapatkan bantuan benih dan pupuk bahkan insektisida gratis dari BPP jika program bantuan sedang berlangsung. Dengan demikian meskipun kurangnya pasar penjualan sebagian petani tetap melakukan budidaya kedelai untuk mengisi kekosongan produksi.

(6)

4 D. Tipe Usahatani

Tanaman kedelai yang ada di lahan pak Wahab sudah termasuk kedalam usaha pribadi petani itu sendiri dan diperjual belikan. Artinya budidaya kedelai ini sudah termasuk kedalam budidaya komersial karena terdapat upaya untuk meningkatkan hasil panen secara masif. Adapun hasil penan kacang kedelai ini didistribusikan dan dibeli oleh pihak BPP.

E. Pengelolaan Tanaman

Pengelolaan tanaman kedelai yang ada dilapangan sudah terbilang intensif karena pak Wahab sendiri selaku pemilik lahan seringkali melakukan pengamatan dan pengendalian terhadap OPT terutama hama wereng putih.

Pengendaliam wereng putih inipun dapat dilakukan lebih dari dua kali disesuaikan dengan intensitas serangan hama. Adapun untuk pemupukan pak Wahab menuturkan tidak terlalu sering dikarenakan lahan kedelai ini sebelumnya merupakan lahan persawahan. Kalaupun dilakukan pemupukan frekuensinya yaitu 3 kali pertanaman kedelai dapat dipupuk hanya satu kali diawal pertanaman (NPK).

F. Gangguan Hama dan Penyakit Tanaman

Hama yang paling dominan dalam budidaya kacang kedelai di Pancatengah ini yaitu serangan hama wereng putih dan gangguan ini sangat merugikan petani karena menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil panen.

Serangan wereng putih ini sulit dikendalikan oleh petani meskipun telah menggunakan beberapa pestisida dengan berbagai bahan aktif. Selain itu, terdapat ulat yang menyerang kedelai namun dengan intensitas yang tidak terlalu tinggi dibanding wereng putih. Untuk penyakit tanaman terlihat seperti bercak pada daun, tetapi hal ini tidak diperhatikan oleh petani karena serangan penyakit ini tidak meluas dan dirasa tidak merugikan petani.

G. Kesesuaian Agroekosistem

Kesesuaian agroekosistem dalam usahatani kedelai yang ada di pancatengah tidak cukup sesuai dimana suhu yang ada daerah tersebut mencapai 34°C, dimana kacang kedelai dapat tumbuh pada suhu (23°C-30°C).

Begitupun dengan kelembaban, di daerah pancatengah mencapai 50% dimana untuk tanaman kedelai dibutuhkan (60%-70%) Namun, jika dilihat dari ketinggian diatas permukaan laut, wilayah pancatengah sudah sesuai untuk dilakukan usahatami karena berada pada ketinggian 213 mdpl (<600 mdpl).

Hal inilah yang membuat produktivitas kedelai petani di daerah Kecamatan Pancatengah ini cukup rendah yakni kurang lebih 1 ton/ha , hasil tersebut tidak lebih dari 50% potensi yang seharusnya didapatkan yakni berkisar 2.03- 2.25 ton/ha. Maka daripada ituperlu dikaji lebih lanjut terkait kesesuaian

(7)

5 lahan dengan komoditas yang akan di budidayakan untuk memaksimalkan potensi hasil.

Budidaya kedelai ini dilakukan karena para petani tidak mempunyai penghasilan karena dalam beberapa bulan terakhir lahan sawah mereka tidak mendapatkan pasokan air karena panjangnya kemarau dan suhu tinggi yang terjadi setiap harinya , sehingga para petani di bimbing untuk mendapatkan penghasilan dengan menanam komoditas yang tebilang baru yakni kedelai.

Para petani ini tidak perlu membeli benih dan terkadang ada pula pupuk yang diberikan langsung oleh pihak BPP sehingga banyak petani yang menanam kedelai ini meskipun hasilnya belum maksimal.

(8)

6 BAB III

TEKNOLOGI BUDIDAYA A. Kesesuaian Syarat Tumbuh

Karakteristik

Lahan Cibongas

Kesesuaian Lahan Aktual

Kedelai

Usaha Perbaikan

Kesesuaian Lahan Potensial

Kedelai Temperatur rata-

rata tahunan (oC) 34 N N

Kelembaban (%) 50 S1 S1

Curah hujan

tahunan (mm) 3500 N N

Ketinggian (m

dpl) 213

Drainase S S1 S1

Lereng (%) <1 S1 S1

Batuan

dipermukaan (%) 0 S1 S1

Singkapan

batuan (%) 0 S1 S1

Tingkat Bahaya

Erosi S S1 S1

Bahaya banjir F0 S1 S1

Kelas Kesesuaian

Lahan Aktual N tc, wa Potensial N tc, wa

Berdasarkan tabel kesesuaian lahan komoditas kedelai di wilayah Cibongas, Kecamatan Pancatengah untuk kelas kesesuaian lahan aktual adalah N (tc, wa), begitu pula dengan kelas kesesuaian lahan potensialnya yaitu N (tc, wa). Berdasarkan penyesuaian kelas tersebut, faktor yang menjadi pembatas pada lahan kedelai yaitu temperatur rerata dan ketersediaan air berupa curah hujan yang terlalu tinggi. Faktor pembatas temperatur dan ketersediaan air (curah hujan) tidak dapat diperbaiki karena termasuk ke dalam unsur-unsur iklim atau alam yang bersifat permanen sehingga sulit untuk dimodifikasi dan diatur oleh manusia. Sehingga pada hasil akhir ketika dilakukan upaya perbaikan, pada kelas kesesuaian lahan potensial lahan Cibongas, Kecamatan Pancatengah menjadi N (tc, wa) dengan faktor pembatasnya yaitu temperatur dan curah hujan. Meskipun demikian tingkat kelas kesesuaian lahan N menunjukkan bahwa lahan pada Cibongas, Kecamatan Pancatengah tidak sesuai karena mempunyai faktor pembatas yang sangat berat atau sulit diatasi dan dapat bepengaruh terhadap produktivitas tanaman kedelai.

(9)

7 B. Teknologi Budidaya Berdasarkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)

Varietas yang digunakan dalam budidaya kedelai di Kec. Pancatengah yaitu kedelai Varietas Anjasmoro. Penanaman kedelai ini dilakukan diantara periode penanaman padi, yang mana pada saat ini cuaca yang tidak menentu yang membuat periode penanaman padi agak terhambat karena tidak adanya air untuk proses penanaman padi. Oleh karena itu, para petani di Kec.

Pancatengah ini berusaha supaya lahan sawah tetap produktif dan bisa menghasilkan penghasilan bagi para petani dengan cara menanam kedelai sebagai komoditas perantara periode penanaman padi di sawah. Berikut langkah-langkah proses penanaman tanaman kedelai di lahan sawah:

1. Pengadaan Benih

Benih yang digunakan atau diperoleh petani di Kedelai yang dibudidayakan di Kampung Ciwatin 2 Kelurahan Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya merupakan benih yang diberikan secara gratis oleh BPP Pancatengah dengan jenis kedelai Varietas Anjasmoro, untuk kebutuhan benihnya yaitu 50 kg/hektar, dengan luas tanah yang diolah sekitar 80 blok (1.120m²). Di lahan yang dikelola oleh Pak Wahab yang ditanami kedelai, jadi untuk kebutuhan benih keseluruhan yaitu 5,6 kg/1.120m². Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa benih yang digunakan merupakan benih unggul dengan salah satu syaratnya yaitu bersertifikat dan diketahui juga varietas benihnya. Beberapa varietas unggul kedelai Balitbangtan yang dikembangkan dalam demfarm dan dalam bentuk superimpos sebagai objek pengkajian bagi peneliti antara lain Burangrang, Dena 1, Anjasmoro, Grobogan, Devon-1, Argomulyo, Dering dan Dewah (Kementan, 2022).

2. Persiapan Lahan

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Wahab, lahan yang digunakan oleh Pak Wahab di Kampung Ciwatin 2, Kelurahan Cibongas, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya adalah lahan bekas sawah, sehingga untuk persiapan lahannya yaitu dilakukan pengolahan tanah dengan mesin pembajak lahan mini yang didapatkan oleh para petani dari pihak BPP setempat.

3. Penanaman

Benih kedelai ditanam dengan cara melubangi tanah sedalam 3-5 cm dengan masing-masing 2-3 benih dalam 1 lubang tanam. Jarak tanam yang diterapkan oleh para petani sekitar 40×30 cm dengan diberikan jalur lebar 80 cm di pertengahan rumpun penanaman kedelai untuk jalur pemupukan dan pemanenan. Pada lahan yang dikelola oleh Pak Wahab kedelai ditanam dengan sistem tanam tumpang sari, yaitu dengan tanaman jagung.

(10)

8 4. Pemupukan

Pemupukan yang dilakukan yaitu dalam 1 kali periode penanaman, Pak Wahab mengaplikasikan pupuk NPK sesuai dengan dosis yang dianjurkan dengan metode tabur atau larikan diantara barisan tanaman.

5. Pengairan

Pak Wahab melakukan pengairan dengan memanfaatkan adanya hujan untuk proses pengairan lahan sawah yang ditanami kedelai tersebut.

Jadi para petani di sana tidak melakukan proses pengairan secara merata dan terpadu setiap hari nya.

6. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Pengendalian Hama dan Penyakit yang dilakukan oleh para petani menggunakan insektisida sebanyak 3 kali selama periode penanaman tanaman kedelai guna mengendalikan hama wereng putih dan hama ulat.

Selain pengendalian dilakukan penyiangan dimana penyiangan dilakukan secara mekanis, yaitu dengan membersihkan gulma dengan tangan atau alat penyiang.

C. Permasalahan dan Kendala

Terdapat beberapa permasalahan dan kendala yang ditemui dalam penerapan teknologi budidaya kedelai di Kecamatan Pancatengah, diantaranya yaitu:

1. Harga jual kedelai yang tergolong rendah, sehingga kurang menguntungkan bagi petani.

2. Produsen tahun dan tempe yang lebih memilih untuk membeli dan menggunakan kedelai impor dikarenakan ukurannya yang lebih besar dan kualitasnya lebih terjamin apabila dibandingkan dengan hasil panen kedelai dari petani lokal.

3. Banyak petani yang enggan menanam kedelai dikarenakan pemeliharan kedelai lebih sulit dibandingkan tanaman lainnya. Khususnya pada saat pasca panen petani mengalami kesulitan untuk merontokkan/memisahkan biji kedelai dari polongnya.

4. Ancaman serangan hama lebih banyak, sehingga perlu perawatan yang lebih intensif.

D. Peluang

Peluang dalam budidaya kedelai di daerah Pancatengah sangat tinggi, walaupun dalam proses budidayanya mengalami banyak hambatan yang terjadi, salah satunya yaitu hama yang menyerang tanaan kedelai. Akan tetapi, apabila dilihat dari segi peluang dapat menghasilkan produksi yang terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini tentu dipengaruhi dengan adanya peran dari BPP Pancatengah sendiri. BPP Pancatengah sangat membantu petani dalam membudidayakan kedelai. Hal tersebut terbukti dengan pengadaan

(11)

9 program-program bantuan berupa benih, pupuk, insektisida, dsb. yang setiap tahunnya pihak BPP selalu berperan mendukung petani dalam budidaya kedelai supaya produktivitasnya dapat terus meningkat setiap tahun.

(12)

10 BAB IV

KESIMPULAN A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis keragaan usahatani dan penerapan teknologi budidaya kedelai di Kecamatan Pancatengah, terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk perbaikan budidaya kedelai tersebut, diantaranya yaitu:

1. Meningkatkan penyediaan sarana produksi pertanian untuk menunjang kebutuhan petani dalam pelaksanaan budidaya kedelai, salah satunya yaitu dengan menyediakan alat perontok biji kedelai sehingga perontokan kedelai tidak dilakukan secara manual dan bisa berjalan dengan lebih efektif dan efisien.

2. Membatasi pasokan kedelai impor di pasaran, agar konsumen khususnya pengrajin tahu dan tempe lebih memilih untuk membeli dan menggunakan kedelai lokal dibandingkan dengan kedelai impor.

3. Perlu adanya upaya untuk mengendalikan dan membasmi serangan hama wereng putih, salah satunya dapat dilakukan melalui riset atau penelitian yang bertujuan mencari formulasi bahan yang tepat agar hama wereng putih yang menyerang kedelai dapat terbasmi secara permanen dan tidak kembali menyerang lagi, sehingga hasil produksi kedelai bisa lebih optimal.

4. Memanfaatkan limbah usahatani sebagai bahan pupuk organik, tidak menggunakan pestisida jika belum ada serangan hama penyakit, penyesuaian jadwal tanam untuk mengantisipasi perubahan iklim, pembuatan embung sebagai cadangan kebutuhan air, perawatan dan perbaikan saluran air untuk mengantisipasi kelebihan/kekurangan air, meningkatkan penggunaan pupuk/pestisida hayati, penanaman kedelai memiliki manfaat untuk memperbaiki dan menjaga kesuburan lahan.

(13)

11 DAFTAR PUSTAKA

Jayani, H. D. 2021. “Produksi Kedelai Diproyeksi Turun hingga 2024,” Databoks, 2021. produksi-kedelai-diproyeksi-turun-hingga-2024.

Kementerian, Pertanian. 2022. Statistik Pertanian-Agricultural Statistic 2022.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. ISBN: 979-8958-65-9.

Kementrian, Pertanian. 2022. Teknologi Varietas Unggul Dukung Swasembada Kedelai. https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&actview&id=1.

Diakses tanggal 06 Maret 2024.

Rohmah, EA. dan Saputro, TB. 2016. Analisis Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max L.) Varietas Grobogan pada Kondisi Cekaman Genangan.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember: Surabaya. Vol.5(2):2337-3520.

Setyawan, G. & S. Huda. 2022. Analisis pengaruh produksi kedelai, konsumsi kedelai, pendapatan per kapita, dan kurs terhadap impor kedelai di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Manajemen, 19 (2): 215-225.

Simatupang, M. I. 2019. Pemberian Kompos Eceng Gondok Dan Poc Limbah Udang Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kedelai (Glycine Max L. Merr). Jurnal Skripsi.

Zakaria AK. 2010.Kebijakan pengembangan budidaya kedelai menuju swasembada melalui partisipasi petani. Analisis Kebijakan. 8(3):259-272.

(14)

12 LAMPIRAN

(15)

13

Referensi

Dokumen terkait

Pada tabel 14, dapat diketahui bahwa lama usaha tani dalam budidaya padi organik tidak mempengaruhi tingkat penerapan teknologi budidaya padi organik, karena tingkat penerapan

Penelitian pada tanaman kedelai melalui keragaman somaklonal untuk mendapatkan galur unggul yang produksi tinggi dan umur genjah telah dilakukan oleh Mariska et al (2012),

uji coba teknologi budidaya tanaman padi melibatkan seluruh anggota kelompok tani (100 % anggota kelompok tani). Budidaya tanaman padi yang mendapat prioritas

Sehubungan di Taruna tani Kami (Gapoktan Mangkubumi jaya} Kelurahan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi Kata Tasikmalaya pada saat ini sedang melakukan usaha budidaya ternak

Berdasarkan hasil observasi pada budidaya tanaman buah tomat di Desa Langensari-Lembang maka dapat disimpulkan bahwa komoditas hortikulura atau sayuran buah khususnya

Uji validitas instrument penelitian persepsi petani muda pada usahatani budidaya tanaman tomat di Kabupaten Pacet Kecamatan Cianjur ini dilakukan terhadap 15 orang

Bedasarkan hasil survei yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan Indeks keragaman (H’) serangga hama pada tanaman asparagus di sentra budidaya tanaman

Usaha alih teknologi budidaya pembenihan tanaman pangan berupa tanaman padi, jagung dan kedelai di Desa Krejengan diharapkan mampu memberikan dan menambah wawasan pengetahuan dan