• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTIK ANALISIS KORELASI ANTARA CURAH HUJAN DAN KELEMBABAN UDARA DI KOTA PALEMBANG PADA TAHUN 2022

N/A
N/A
Rindah

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTIK ANALISIS KORELASI ANTARA CURAH HUJAN DAN KELEMBABAN UDARA DI KOTA PALEMBANG PADA TAHUN 2022"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTIK

ANALISIS KORELASI ANTARA CURAH HUJAN DAN KELEMBABAN UDARA DI KOTA PALEMBANG PADA TAHUN 2022

Stasiun Klimatologi Kelas 1

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) – Sumatera Selatan

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Kelulusan Mata Kuliah Kerja Praktek

Oleh : RINDAH NIM. 08021182025011

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2023

(2)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTIK MAHASISWA JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA

DI STASIUN KLIMATOLOGI KELAS I BMKG – SUMATERA SELATAN

2023 Judul :

ANALISIS KORELASI ANTARA CURAH HUJAN DAN KELEMBABAN UDARA DI KOTA PALEMBANG PADA TAHUN 2022

Disusun Oleh : RINDAH

NIM : 08021182025011 Telah Diperiksa dan Disetujui

Palembang, 22 Agustus 2023 Dosen Pembimbing

Sutopo, S.Si., M.Si.

NIP. 197111171998021001

Pembimbing Lapangan

Ishak, S.P., M.Si.

NIP. 196511191991021001 Mengetahui,

Kepala Jurusan Fisika

Dr. Frinsyah Virgo, S.Si., M.T.

NIP.197009101994121001

(3)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta'ala, yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya. Penulis ingin menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan menyelesaikan Laporan Kerja Praktik dengan topik "Analisis Korelasi Antara Curah Hujan dan Kelembapan Udara di Kota Palembang pada Tahun 2022.

Laporan Kerja Praktik ini merupakan salah satu persyaratan dalam kurikulum yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan mata kuliah wajib di Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya. Penyusunan laporan ini didasarkan pada pengalaman dan ilmu yang didapatkan selama melakukan Kerja Praktik.

Laporan ini dapat terwujud berkat dukungan, arahan, bantuan dari banyak pihak yang penulis hargai, meskipun tidak dapat disebutkan satu per satu. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan untuk setiap urusan dan proses yang dijalani selama mengerjakan laporan kerja praktik ini sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan lancar.

2. Kepada kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selalu mendoakan dan membantu segala keperluan dan menjadi penyemangat.

3. Kepada Bapak Prof. Hermansyah, S.Si., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya.

4. Bapak Frinsyah Virgo, S.Si., M.T. selaku Ketua Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya.

5. Bapak Sutopo. selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek di Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya.

6. Bapak Ishaq., S.P. Msi., selaku pembimbing lapangan di Stasiun klimatologi kelas I Sumatera Selatan yang telah memberi pengarahan dan memberi dukungan moral pada proses kerja praktek.

7. Bapak Raga S.Kom yang telah membantu dan tempat kami bertanya terkait laporan kerja praktek ini.

8. Segenap karyawan dan karyawati di Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan yang telah membantu selama kerja praktek.

9. Anggi Yurikhe, Nurmasitoh dan Abdul Zafri yang telah sama-sama

(4)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

berjuang dan saling membantu selama melakukan kerja praktik di Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan.

10. Seluruh teman-teman yang sudah membantu dalam doa maupun bantuan lainnya.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, ketulusan, bimbingan dan dukungan dengan pahala yang berlipat ganda. Penulis juga menyadari bahwa laporan ini mungkin masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar laporan ini dapat menjadi panduan yang baik bagi pembaca lainnya.

Palembang, 5 Agustus 2023

Rindah

NIM. 08021182025011

(5)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Kegiatan ... 2

1.3 Manfaat Kegiatan ... 2

BAB II PROFIL INSTANSI 2.1 Profil BMKG ... 4

2.2 Profil Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan ... 9

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ... 11

3.1 Curah Hujan ... 11

3.2 Kelembapan Udara ... 12

3.3 Metode Regresi Linier Sederhana ... 13

BAB IV PEMBAHASAN ... 15

4.1 Data Curah Hujan Tahun 2022 di Kota Palembang ... 15

4.2 Data Rata – Rata Per Bulan Kelembapan Udara di Kota Palembang ... 15

4.3 Analisis Korelasi antara Data Curah Hujan dan Data Kelembapan Udara di Kota Palembang Tahun 2022. ... 16

(6)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BAB V KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan ... 20 DAFTAR PUSTAKA ... 21 LAMPIRAN KEGIATAN KERJA PRAKTIK ... 22

(7)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Universitas Sriwijaya memiliki peran penting dan tanggung jawab dalam membentuk individu menjadi sarjana berkualitas, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi dalam masyarakat global. Visi dan misinya adalah menjadi perguruan tinggi terkemuka dengan fokus riset unggul dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai pada kurikulum di program studi Fisika, pada semester 7, mahasiswa diwajibkan untuk menjalani Kerja Praktik di lembaga, organisasi, atau instansi yang relevan dengan penerapan ilmu yang telah mereka pelajari selama di program studi Fisika.

Maka dari itu, penulis sebagai mahasiswa semester 7 (tujuh) mengikuti program Kerja Praktik tersebut. lnstansi yang dipilih penulis untuk memenuhi matakuliah Kerja Praktik (KP) adalah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan yang terletak di Musi II. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan memiliki tugas dan fungsi di bidang iklim dan kualitas udara. Bertindak juga sebagai stasiun koordinator di mana pada beberapa urusan menjadi respresentasi BMKG Provinsi Sumatera Selatan. Jenis layanan iklim dan kualitas udara pada BMKG Sumatera Selatan – UPT Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan antara lain adalah data iklim meliputi curah hujan, suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, awan, radiasi matahari dan juga agrometeorologi.

Di kawasan tropis, curah hujan merupakan salah satu unsur iklim dengan tingkat variasi yang sangat signifikan. Sifat curah hujan dapat berbeda di berbagai wilayah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ini meliputi faktor geografis, topografis, dan orografis. Terlebih lagi, struktur dan arah kepulauan juga berperan. Dampaknya adalah pola penyebaran curah hujan cenderung tidak merata di wilayah yang luas antara satu daerah dengan daerah lainnya (Swarinoto & Sugiyono, 2011). Curah hujan merupakan elemen utama dalam kehidupan manusia yang erat hubungannya dengan faktor-faktor cuaca lain seperti temperatur, tingkat kelembaban, kecepatan angin, dan arah angin.

Keterikatan antara curah hujan dengan aspek-aspek cuaca ini tercermin dalam siklus air

(8)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

yang juga dikenal sebagai hidrologi Menurut BMKG, hubungan antara curah hujan dan tingkat kelembapan udara didefinisikan sebagai konsep klimatologi. Konsep klimatologi adalah penjelasan mengenai pola cuaca dan komponen atmosfer dalam jangka waktu yang lebih panjang, yang akhirnya dianalisis secara statistik untuk menetapkan pengaruh-pengaruh cuaca dan iklim yang terjadi dalam waktu lama, serta untuk meramalkan cuaca/iklim di suatu daerah. Oleh karena itu, studi tentang hubungan antara curah hujan dan kelembapan udara melibatkan pemahaman tentang proses cuaca dalam skala waktu yang luas, baik itu dalam rentang bulanan maupun tahunan (Wildan et al., 2019).

Dalam penelitiannya Azkia, dkk (2005) menganalisis temperature dan kelembapan terhadap curah hujan di Kabupaten Sleman dengan menggunakan metode regresi berganda dan disimpulkan faktor yang paling berpengaruh terhadap curah hujan adalah kelembapan. Dalam penelitiannya, Rohmawati (2009) menginvestigasi situasi atmosfer selama banjir terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelembapan udara di identifikasi sebagai salah satu faktor yang berperan dalam meningkatkan curah hujan selama peristiwa banjir.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan analisis korelasi antara curah hujan dan kelembapan udara dengan menggunakan data curah hujan dan kelembapan rata-rata perbulan di Palembang dengan menggunakan metode regresi linier sederhana. Analisis ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang hubungan antara kedua parameter ini.

1.2 Tujuan

1. Menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama masa kuliah dan mengadaptasikan dalam lingkungan kerja untuk pengembangan kemampuan dan keterampilan mahasiswa.

2. Menambah wawasan serta ilmu dunia kerja di Stasiun Klimatologi Kelas 1 Sumatera Selatan.

3. Memahami dan menganalisa korelasi data curah hujan dan data kelembapan udara di stasiun klimatologi kelas 1 Palembang.

4. Memahami Metode pengukuran koefisien korelasi pearson untuk mengukur tingkat hubungan antara Curah hujan dan Kelembaban udara di kota Palembang.

1.3 Manfaat Mahasiswa:

(9)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

 Pengalaman praktis yang menerapkan pengetahuan teori ke dalam kerja lapangan.

 Pengembangan keterampilan dan peningkatan daya saing di pasar kerja.

 Peluang membangun jaringan profesional untuk karier masa depan.

Perguruan Tinggi:

 Peningkatan reputasi dan daya tarik bagi calon mahasiswa.

 Kolaborasi dengan perusahaan yang memperkuat hubungan dan pertukaran pengetahuan dan meningkatkan kerjasama.

BMKG:

 Terwujudnya kerjasama yang erat dengan perguruan tinggi untuk saling menguntungkan.

(10)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BAB II

PROFIL INSTANSI 2.1 Profil BMKG

2.1.1 Sejarah BMKG

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dibentuk dari sejarah panjang kegiatan pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia. Riwayat pengamatan cuaca dan geofisika di Indonesia dimulai pada tahun 1841 ketika Dr.

Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor, mulai melakukan pengamatan individu.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan ini berkembang sesuai dengan meningkatnya kebutuhan akan data cuaca dan geofisika. Pada tahun 1866, Pemerintah Hindia Belanda meresmikan kegiatan pengamatan ini dengan nama "Magnetisch en Meteorologisch Observatorium" atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi yang dipimpin oleh Dr. Bergsma. Pada tahun 1879, dibangun jaringan 74 stasiun pengamatan hujan di Jawa. Tahun 1902, pengamatan medan magnet bumi dipindahkan dari Jakarta ke Bogor. Pengamatan gempa bumi dimulai tahun 1908 di Jakarta dengan seismograf horisontal Wiechert, dan seismograf vertikal dipasang pada tahun 1928.

Pada tahun 1912, dilakukan reorganisasi pengamatan meteorologi dengan penambahan jaringan sekunder. Pada tahun 1930, jasa meteorologi mulai digunakan untuk penerangan. Selama masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945, nama instansi meteorologi dan geofisika diubah menjadi "Kisho Kauso Kusho."

Setelah Indonesia meraih kemerdekaan pada tahun 1945, instansi ini dibagi menjadi dua: Biro Meteorologi di Yogyakarta dan Jawatan Meteorologi dan Geofisika di Jakarta. Pada tahun 1947, Jawatan Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan diubah namanya menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst. Namun, ada juga Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang tetap ada di Jakarta di bawah Pemerintah Republik Indonesia.

Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, Meteorologisch en Geofisiche Dienst kembali menjadi Jawatan Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum. Indonesia bergabung dengan Organisasi Meteorologi Dunia pada tahun 1950. Pada tahun 1955, Jawatan

(11)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Meteorologi dan berganti nama menjadi Lembaga Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan. Nama ini kemudian berubah menjadi Direktorat Meteorologi dan Geofisika pada tahun 1965, dan pada tahun 1972 menjadi Pusat Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan. Pada tahun 1980, statusnya ditingkatkan menjadi Badan Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan. Kemudian, pada tahun 2002, struktur organisasi berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dengan tetap mempertahankan nama Badan Meteorologi dan Geofisika.

Akhirnya, pada tahun 2008, badan ini berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008. Pada tanggal 1 Oktober 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

2.1.2 Visi dan Misi 2.1.2.1 Visi

Mewujudkan BMKG yang handal, tanggap dan mampu dalam rangka mendukung keselamatan masyarakat serta keberhasilan pembangunan nasional, dan berperan aktif di tingkat Internasional.

Terminologi di dalam visi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pelayanan informasi meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika yang handal ialah pelayanan BMKG terhadap penyajian data, informasi pelayanan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika yang akurat, tepat sasaran, tepat guna, cepat, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan

b. Tanggap dan mampu dimaksudkan BMKG dapat menangkap dan merumuskan kebutuhan stakeholder akan data, informasi, dan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika serta mampu memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa;

2.1.2.2 Misi

Dalam rangka mewujudkan Visi BMKG, maka diperlukan visi yang jelas yaitu berupa langkah-langkah BMKG untuk mewujudkan Misi yang telah ditetapkan yaitu :

(12)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

1. Mengamati dan memahami fenomena meteorologi, klimatologi, kualitas udara dan geofisika.

2. Menyediakan data, informasi dan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas udara dan geofisika yang handal dan terpercaya.

3. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi kegiatan di bidang meteorologi, klimatologi , kualitas udara dan geofisika.

4. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan internasional di Bidang meteorologi, klimatologi , kualitas udara dan geofisika.

Secara lebih rinci, maksud dari pernyataan misi di atas adalah sebagai berikut : a. Mengamati dan memahami fenomena meteorologi, klimatologi, kualitas

udara, dan geofisika artinya BMKG melaksanakan operasional pengamatan dan pengumpulan data secara teratur, lengkap dan akurat guna dipakai untuk mengenali dan memahami karakteristik unsur-unsur meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika guna membuat prakiraan dan informasi yang akurat;

b. Menyediakan data, informasi dan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika kepada para pengguna sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka dengan tingkat akurasi tinggi dan tepat waktu;

c. Mengkoordinasi dan Memfasilitasi kegiatan sesuai dengan kewenangan BMKG, maka BMKG wajib mengawasi pelaksanaan operasional, memberi pedoman teknis, serta berwenang untuk mengkalibrasi peralatan meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika sesuai dengan peraturan yang berlaku

d. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan internasional artinya BMKG dalam melaksanakan kegiatan secara operasional selalu mengacu pada ketentuan internasional mengingat bahwa fenomena meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika tidak terbatas dan tidak terkait pada batas batas wilayah suatu negara manapun.

2.1.3 Tugas dan Fungsi

BMKG mempunyai status sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), dipimpin oleh seorang Kepala Badan.

2.1.3.1 Tugas

(13)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BMKG mempunyai tugas: melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

2.1.3.2 Fungsi

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyelenggarakan fungsi :

a. Perumusan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

b. Perumusan kebijakan teknis di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

c. Koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

d. Pelaksanaan, pembinaan dan pengendalian observasi, dan pengolahan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

e. Pelayanan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

f. Penyampaian informasi kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan perubahan iklim

g. Penyampaian informasi dan peringatan dini kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan bencana karena faktor meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

h. Pelaksanaan kerja sama internasional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

i. Pelaksanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

j. Pelaksanaan, pembinaan, dan pengendalian instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

k. Koordinasi dan kerja sama instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

l. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keahlian dan manajemen pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

m. Pelaksanaan pendidikan profesional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

(14)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

n. Pelaksanaan manajemen data di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika;

o. Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi di lingkungan BMKG;

p. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BMKG;

q. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BMKG;

r. Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya BMKG dikoordinasikan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang perhubungan.

2.1.4 Struktur Organisasi

Gambar 2.1 Struktur Organisasi BMKG Pusat

(15)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

2.2 Profil Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Gambar 2.2 Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Stasiun Klimatologi Klas I Sumatera Selatan adalah salah satu Unit pelaksana Teknis (UPT) di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang

memiliki tugas pokok dan fungsi dalam bidang klimatologi di Sumatera Selatan. Stasiun Klimatologi Klas I Sumatera Selatan merupakan stasiun koordinator UPT-UPT BMKG yang ada Sumatera Selatan. Karenanya, Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan bersifat sebagai representasi BMKG Provinsi Sumatera Selatan. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Stasiun Klimatologi Klas I Sumatera Selatan mengacu pada visi dan misi BMKG.

2.2.1 Visi dan Misi Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan 2.2.1.1 Visi

Terwujudnya Layanan Informasi perubahan iklim yang handal, tanggap dan terpercaya dalam Rangka Mendukung Keselamatan Masyarakat serta Keberhasilan Pembangunan di daerah / provinsi Sumatera Selatan

2.2.1.2 Misi

1. Mengamati dan memahami fenomena iklim di provinsi Sumatera Selatan.

2. Menyediakan data dan Layanan Informasi perubahan iklim yang handal dan terpercaya di Provinsi Sumatera Selatan.

(16)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

3. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi kegiatan dibidang iklim dan kualitas udara di Provinsi Sumatera Selatan.

(17)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Curah Hujan

Curah hujan adalah tetesan air atau kristal es berukuran kecil yang jatuh atau keluar dari awan atau kumpulan awan. Jika curah tersebut mencapai permukaan bumi, fenomena itu disebut sebagai hujan. Jika tetesan tersebut dilepaskan dari awan namun tidak sampai ke permukaan bumi, disebut sebagai virga. Untuk bisa mencapai permukaan bumi, tetesan air harus memiliki diameter minimal sekitar 200 mikrometer (1 mikrometer = 0,001 cm). Tetesan air yang lebih kecil dari ukuran ini akan menguap di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi. Banyaknya air hujan yang mencapai permukaan bumi dalam jangka waktu tertentu dapat diukur dengan cara mengukur tinggi air hujan menggunakan metode tertentu. Hasil pengukuran ini dikenal sebagai curah hujan, di mana nilai ini tidak mempertimbangkan jenis atau bentuk air hujan saat mencapai permukaan bumi dan tidak memperhitungkan endapan yang meresap ke dalam tanah, hilang akibat penguapan, atau aliran (Swarinoto & Sugiyono, 2011).

Di kepulauan maritim Indonesia, yang berada di wilayah tropis, curah hujan dalam setahun cenderung tinggi, dan kecenderungannya semakin meningkat di daerah pegunungan. Curah hujan yang tinggi di wilayah tropis biasanya disebabkan oleh proses konveksi dan pembentukan awan hujan panas. Dasar dari curah hujan adalah pergerakan massa udara yang kaya akan kelembapan ke arah atas. Agar pergerakan ke atas ini terjadi, atmosfer harus dalam kondisi yang tidak stabil. Kondisi tidak stabil muncul ketika udara yang naik memiliki kelembapan, dan lapse rate udara sekitarnya berada antara lapse rate adiabatik kering dan lapse rate adiabatik jenuh (Mulyono, 2016).

Dalam hal bentuk dan karakteristiknya, terdapat jenis hujan yang dikenal sebagai "shower" atau hujan tiba-tiba. Jenis hujan ini ditandai oleh dimulai dan berakhir secara mendadak, dengan variasi intensitas yang umumnya cepat. Hujan ini terdiri dari titik-titik air atau partikel yang lebih besar dibandingkan dengan hujan biasa. Hujan tiba-tiba ini turun dari awan-awan jenis Cumulus (Cu) atau Cumulonimbus (Cb), yang pertumbuhannya melibatkan perpindahan panas secara konvektif. Di sisi lain, hujan

(18)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

kontinyu memiliki awal dan akhir yang tidak terjadi secara tiba-tiba. Intensitasnya cenderung konstan dan tidak terjadi perubahan yang drastis sepanjang periode hujan.

Jenis hujan ini turun dari awan-awan yang umumnya memiliki bentuk yang lebih merata, seperti awan Stratus (St), Altostratus (As), atau Nimbustratus (Ns). Pada dasarnya curah hujan merupakan perbandingan volume air hujan dengan luas alasnya (Fadholi, 2013)

3.2 Kelembaban Udara

Kelembapan udara adalah jumlah uap air yang terdapat dalam atmosfer atau udara.Kuantitasnya bergantung pada masukan uap air ke dalam atmosfer melalui proses penguapan dari sumber-sumber seperti lautan, danau, sungai, serta air tanah. Selain itu, kelembapan udara juga terbentuk melalui proses transpirasi, yaitu penguapan dari tumbuhan. Kandungan air dalam udara bervariasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Beberapa di antaranya adalah ketersediaan air, sumber uap air, suhu udara, tekanan udara, dan kecepatan angin. Uap air di atmosfer memiliki kemampuan untuk mengalami perubahan bentuk menjadi cair atau padat, dan akhirnya turun ke permukaan bumi, salah satunya sebagai hujan. Kehadiran kandungan uap air yang cukup tinggi memberikan indikasi langsung bahwa udara mengandung banyak uap air atau dalam keadaan lembab (Fennani Arpan, Dewi Galuh Condro Kirono, 2004)

Kelembaban udara diukur dalam berbagai satuan seperti persen relatif (% RH), gram per meter kubik (g/m³), atau titik embun (suhu di mana uap air mulai mengembun). Kelembaban udara berhubungan erat dengan proses penguapan dan kondensasi. Ketika suhu udara meningkat, ia memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk menampung uap air, yang dapat mengakibatkan peningkatan kelembaban relatif. Ketika kelembaban udara mencapai 100% RH pada suhu tertentu, udara tidak lagi dapat menampung uap air tambahan dan terjadi kondensasi, yang dapat menghasilkan embun atau kabut. Kelembaban udara juga memiliki dampak pada persepsi suhu. Pada kelembaban tinggi, orang cenderung merasa lebih panas daripada yang ditunjukkan oleh suhu sebenarnya karena kesulitan tubuh untuk mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Sebaliknya, pada kelembaban rendah, penguapan keringat lebih efektif,

(19)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

sehingga orang cenderung merasa lebih nyaman pada suhu yang sama (Winarno et al., 2019)

Dalam konteks cuaca, tingginya kelembaban udara dapat meningkatkan peluang pembentukan awan dan hujan. Daerah dengan kelembaban udara tinggi lebih mungkin mengalami hujan lebat dan badai. Oleh karena itu, pemantauan kelembaban udara merupakan fa ktor penting dalam meramalkan perubahan cuaca dan mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem (Winarno et al., 2019).

Alat pengukur kelembaban udara secara umum dikenal sebagai hygrometer, sementara yang menggunakan prinsip termodinamika disebut psikrometer. Umumnya, alat ini ditempatkan di dalam wadah penyimpanan seperti dry box, di mana penting untuk menjaga tingkat kelembaban tertentu agar mencegah pertumbuhan jamur pada barang-barang tertentu. Hygrometer beroperasi dengan dua termometer: yang pertama mengukur suhu udara dan yang kedua mengukur kelembaban udara. Kelembaban mutlak merujuk pada jumlah aktual uap air yang hadir dalam suatu volume udara. Ini diukur dalam gram uap air per meter kubik udara (g/m³) dan memberikan gambaran tentang kandungan absolut uap air dalam udara, tidak bergantung pada suhu atau tekanan. Kelembaban mutlak penting dalam situasi di mana perhitungan jumlah uap air yang sebenarnya diperlukan, seperti dalam perawatan kesehatan atau ketika menghitung tingkat evaporasi dalam proses industri. Sementara itu, kelembaban nisbi adalah rasio antara kandungan uap air aktual dalam udara dan jumlah maksimum yang bisa diampuni oleh udara pada suhu tertentu. Diukur sebagai persentase, kelembaban nisbi mengindikasikan sejauh mana udara sudah jenuh dengan uap air relatif terhadap kapasitasnya pada suhu tersebut (Winarno et al., 2019)

3.3 Metode Regresi Linier

Metode Regresi Linier adalah salah satu pendekatan statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua atau lebih variabel. Regresi linier sederhana adalah bentuk paling dasar dari metode ini, yang berfokus pada hubungan antara satu variabel independen (variabel prediktor) dan satu variabel dependen (variabel respon).

Tujuan utama dari regresi linier sederhana adalah untuk memahami dan mengukur

(20)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

tingkat hubungan linier antara variabel independen dan dependen, serta untuk membuat prediksi berdasarkan hubungan tersebut (Almumtazah et al., 2021)

Pada regresi linier sederhana, model yang dihasilkan mengambil bentuk persamaan garis lurus yaitu (Y = aX + b ), di mana "Y" merupakan nilai dari variabel dependen, "X" merupakan nilai dari variabel independen, "a" adalah gradien garis (yang mengukur seberapa besar perubahan dalam "Y" yang diharapkan akibat perubahan satu unit dalam "X"), dan "b" adalah intersep garis di sumbu Y. Metode ini memanfaatkan prinsip "metode kuadrat terkecil" (ordinary least squares) untuk menemukan nilai-nilai parameter "a" dan "b" yang memberikan garis regresi yang paling baik menyesuaikan dengan data observasi. Nilai-nilai parameter ini ditemukan dengan meminimalkan jumlah selisih kuadrat antara nilai observasi aktual dan nilai yang diprediksi oleh model (Almumtazah et al., 2021)

Pengujian kualitas model regresi linier sederhana dapat dilakukan dengan berbagai metrik, salah satunya adalah koefisien determinasi (R2) yang mengindikasikan sejauh mana variasi dalam variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam model. Namun, perlu diperhatikan bahwa regresi linier sederhana hanya cocok untuk menggambarkan hubungan linier antara variabel. Jika hubungan antara variabel bersifat non-linier atau kompleks, metode regresi yang lebih canggih atau alternatif lain perlu dipertimbangkan. Dengan menggunakan metode regresi linier sederhana, penelitian ini berupaya untuk memahami dan menganalisis hubungan antara kelembaban udara (variabel independen) dan curah hujan (variabel dependen) (Pradipta et al., 2013)

(21)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Data Jumlah Curah Hujan Tahun 2022 di Kota Palembang

Berdasarkan hasil dari Kerja Praktik yang telah dilaksanakan diperoleh data curah hujan tahun 2022 sebagai berikut.

Bulan Curah Hujan (mm)

Januari 287

Februari 231

Maret 306

April 398

Mei 248

Juni 138

Juli 125

Agustus 200

September 164

Oktober 554

November 251

Desember 335

4.1 Tabel Curah Hujan Tahun 2022 di Kota Palembang

4.2 Data Rata-Rata Per Bulan Kelembaban Udara Tahun 2022 di Kota Palembang Berdasarkan hasil kerja praktik yang telah dilaksanakan diperoleh data rata-rata per bulan kelembaban udara tahun 2022.

Bulan Kelembaban (%)

Januari 87

Februari 86

Maret 86

(22)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

April 87

Mei 85

Juni 86

Juli 80

Agustus 84

September 86

Oktober 88

November 88

Desember 88

4.2 Tabel Rata-Rata Per Bulan Kelembaban Udara Tahun 2022 di Kota Palembang

4.1 Grafik Curah Hujan dan Kelembaban Udara

4.3 Analisis Korelasi Curah Hujan dan Kelembaban Udara Tahun 2022 di Kota Palembang

Berdasarkan data curah hujan dan data kelembaban udara maka analisis dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linier sederhana. Adapun bentuk persamaannya yaitu (Y = aX + b ),

79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89

0 100 200 300 400 500 600

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Curah Hujan dan Kelembaban Udara

Curah Hujan (mm) Kelembaban (%)

(23)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Dimana :

Y = Variabel dependen (Nilai yang akan diperkirakan) X = Variabel independen

a = Konstanta

b = Koefisien regresi

Dari keterangan diatas maka digunakan analisis regresi linier sederhana dengan variabel X adalah kelembaban udara, sedangkan variabel Y adalah curah hujan. Pada penelitian ini menggunakan aplikasi Excel untuk melakukan pengolahan data, sehingga didapatkan persamaan :

Y = - 2603,83 + 33,45 X

Dari persamaan diatas dapat diketahui untuk variabel kelembaban udara besarnya 33,45 menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 dalam kelembaban udara maka akan mempengaruhi curah hujan bertambah sebesar 33,45. Sehingga terlihat hubungan positif yang menunjukkan korelasi antara kelembaban udara dan curah hujan itu berbanding lurus, semakin meningkat kelembaban udara maka semakin meningkat pula curah hujan. Begitupun sebaliknya semakin menurun kelembaban udara maka semakin menurun pula curah hujan. Nilai intersep adalah -2603.83. Ini menunjukkan bahwa ketika kelembaban udara (X) adalah 0, diperkirakan curah hujan (Y) akan memiliki nilai -2603.83. Nilai intersep adalah nilai Y ketika variabel independen (X) bernilai 0.

Uji Determinasi (R2).

Multiple R 0,62

R Square 0,38

Adjusted R Square 0,32

Standard Error 99,18

Observations 99,18

(24)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

4.3 Tabel Koefisien Determinasi (R2)

Kemudian untuk koefisien korelasinya atau Multiple R = 0,62 = 62%, multiple R ini adalah nilai korelasi antara kelembaban udara dan curah hujan yang artinya termasuk dalam kategori kuat karena mendekati 1. Dalam analisis regresi linier jika semakin dekat dengan angka 1, semakin kuat korelasi antara curah hujan dan kelembaban udara.

Selanjutnya juga di dapatkan nilai R square sebesar 0,38 atau 38% ini menunjukkan bahwa kelembaban (X) memiliki pengaruh kontribusi terhadap curah hujan sebesar 38%

dan sebesar 62 % tidak dipengaruhi oleh kelembaban, ini mengindikasikan bahwa masih ada faktor-faktor lain yang memengaruhi curah hujan, seperti suhu udara, kecepatan angin, pola aliran angin, tekanan atmosfer, atau variabel lainnya (Pradipta et al., 2013).

Uji F (Uji Signifikansi)

Selanjutnya dilakukan uji signifikansi, uji signifikansi membantu untuk memahami apakah variabel independen benar-benar memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Ini membantu untuk mengidentifikasi apakah hubungan antara variabel tersebut ada atau hanya terjadi akibat kebetulan semata. Tingkat kepercayaan 95% atau a = 0.05, dengan ketentuan yaitu :

 Jika Fhitung < Ftabel, makaH0 diterima.

 Jika Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak.

 H0 = tidak ada pengaruh signifikan terhadap curah hujan.

 H1 = adanya pengaruh signifikan terhadap curah hujan.

Model Df SS MS F

Significance F

F tabel Regression 1,00 61432,18 61432,18 6,25 0,03 4,96

Residual 10,00 98368,07 9836,81

Total 11,00 159800,25

4.4 Tabel Uji F

(25)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Dapat dilihat pada tabel 4.4 bahwa nilai Fhitung sebesar 6,25 dan Ftabel sebesar 4,96 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,03. Sehingga Fhitung > Ftabel dan 0,05 > 0,03 menunjukkan ada bukti yang cukup kuat bahwa variabel independen (kelembaban udara) memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap variabel dependen (curah hujan) dalam model regresi yang sudah dilakukan atau dapat dikatakan jika lebih rendah dari ambang signifikansi (0.05 % = 5%) dianggap signifikan secara statistik.

Uji t (Hipotesis Parsial)

Model Coefficients

Standard

Error t Stat P-value t tabel

Intercept -2603,83 1150,24 -2,26 0,05

Kelembaban (%) 33,45 13,38 2,50 0,03 2,20

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dikatakan bahwa kelembaban udara berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap curah hujan karena terlihat pada tabel nilai thitung 2,50 ttabel 2,20 dan nilai signifikan 0,03 lebih kecil dari 0,05, maka berarti jika variabel kelembaban udara meningkat sebsar 1 kg/m3 sehingga curah hujan akan meningkat sebesar 33,45. Dapat dikatakan kelembaban udara berpengaruh signifikan terhadap curah hujan.

4.5 Tabel Uji T

(26)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

BAB V KESIMPULAN

Berdasarkan pengolahan data dengan regresi linear sederhana korelasi antara variabel kelembaban dan curah hujan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelembaban dan curah hujan. Hasil analisis regresi linear menunjukkan bahwa saat kelembaban meningkat, curah hujan juga cenderung meningkat. Oleh karena itu, ada kecenderungan positif antara kedua variabel ini.

Hasil ini menunjukkan bahwa ada korelasi atau hubungan yang saling berpengaruh dan dapat dijelaskan dengan persamaan garis regresi antara kelembaban dan curah hujan. Koefisien regresi dalam model linear sederhana dapat menggambarkan seberapa besar curah hujan diperkirakan berubah ketika kelembaban berubah sebesar satu unit, untuk setiap unit perubahan dalam kelembaban.

Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun ada hubungan yang signifikan, ini tidak berarti bahwa hubungan kausalitas pasti terjadi. Dalam arti lain, peningkatan kelembaban tidak selalu menyebabkan peningkatan curah hujan secara langsung. Ada kemungkinan bahwa faktor lain juga dapat mempengaruhi curah hujan, seperti kecepatan angin, suhu udara dan lain – lain.

(27)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

DAFTAR PUSTAKA

Almumtazah, N., Azizah, N., Putri, Y. L., & Novitasari, D. C. R. (2021). Prediksi Jumlah Mahasiswa Baru Menggunakan Metode Regresi Linier Sederhana. Jurnal Ilmiah Matematika Dan Terapan, 18(1), 31–40.

https://doi.org/10.22487/2540766x.2021.v18.i1.15465

Fadholi, A. (2013). Persamaan regresi prediksi curah hujan bulanan menggunakan data suhu dan kelembapan udara di Ternate. Jurnal Statistika, 13(1), 7–16.

https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/statistika/article/view/1068

Fennani Arpan, Dewi Galuh Condro Kirono, S. (2004). 13268-27301-1-SM.pdf. In Majalah Geografi Indonesia (Vol. 18, Issue 2, pp. 69–79).

Matematika, S., Pradipta, N. S., Sembiring, P., & Bangun, P. (2013). ANALISIS PENGARUH CURAH HUJAN. 1(5), 459–468.

Mulyono, D. (2016). Analisis Karakteristik Curah Hujan Di Wilayah Kabupaten Garut Selatan. Jurnal Konstruksi, 12(1), 1–9. https://doi.org/10.33364/konstruksi/v.12- 1.274

Swarinoto, Y. S., & Sugiyono, S. (2011). Pemanfaatan Suhu Udara Dan Kelembapan Udara Dalam Persamaan Regresi Untuk Simulasi Prediksi Total Hujan Bulanan Di Bandar Lampung. Jurnal Meteorologi Dan Geofisika, 12(3), 271–281.

https://doi.org/10.31172/jmg.v12i3.109

Wildan, M., Azkia, A., Hitayuwana, N., Khusna, Z. A., & Indonesia, U. I. (2019).

Analisis Temperature Dan Kelembaban Terhadap. Prosiding, 1–10.

Winarno, G. D., Harianto, S. P., & Santoso, R. (2019). Klimatologi Pertanian. In Pusaka Media.

(28)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

LAMPIRAN

(29)

BMKG-Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

LAMPIRAN KEGIATAN

Gambar

Gambar 2.1 Struktur Organisasi BMKG Pusat
Gambar 2.2 Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan curah hujan, suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin dengan kejadian diare di Kota Jakarta Pusat periode tahun

mempengaruhi curah hujan adalah tekanan udara, kelembaban udara dan kecepatan angin. Dari pembahasan di atas, maka penulis melakukan penelitian dengan judul

Kesimpulan yang diperoleh adalah curah hujan perbulan dan pertahun tidak berhubungan dengan kasus DBD di Kota Medan, sedangkan kecepatan angin, kelembaban udara,

Untuk mengetahui hubungan curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin dengan kejadian kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Medan selama kurun

Analisis curah hujan ini menggunakan data dari stasiun klimatologi Banjarbaru Melalui analisis karakteristik curah hujan di Kota Banjarbaru diharapkan dapat memberikan gambaran untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan curah hujan, suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin dengan kejadian diare di Kota Jakarta Pusat periode tahun

Curah hujan yang dikategorikan ekstrim berdasarkan sebaran data adalah curah hujan intensitas lebih dari 50 mm/hari. Pola sebaran intensitas curah hujan Kota Palembang relatif stabil

Hal ini berarti 32,6% faktor-faktor yang mempengaruhi curah hujan di kota Me- dan dapat dijelaskan oleh variabel tekanan udara, kelembaban udara, kecepatan angin dan suhu