LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI PADA PASIEN CA MAMAE DENGAN TINDAKAN EKSISI DI RUANG IBS RUMAH SAKIT SULTAN AGUNG
SEMARANG
Disusun Oleh : Nabilayasmin Naila Putri
012021040121
DIV KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI FAKULTAS ILMU KESEHATAN ITS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2024
A. Konsep Teori Penyakit 1. Definisi
Ca mammae adalah kondisi ketika sel kanker terbentuk di jaringan payudara.
Kanker bisa terbentuk di kelenjar yang menghasilkan susu (lobulus), atau di saluran (duktus) yang membawa air susu dari kelenjar ke puting payudara. Kanker juga bisa terbentuk di jaringan lemak atau jaringan ikat di dalam payudara. Ca mammae terbentuk saat sel-sel di dalam payudara tumbuh tidak normal dan tidak terkendali.
Sel tersebut umumnya membentuk tumor yang terasa seperti benjolan (Willy, 2019).
Carsinoma mammae merupakan gangguan dalam pertumbuhan sel normal mamae dimana sel abnormal timbul dari sel-sel normal, berkembang biak dan menginfiltrasi jaringan limfe dan pembuluh darah (Nurarif & Kusuma, 2015) 2. Etiologi
Penyebab ca mammae sangat beragam, tetapi ada beberapa faktor risiko yang dihubungkan pada kemungkinan seorang wanita dapat mengalami ca mammae, diantaranya adalah :
a. Gender
Lahir sebagai wanita merupakan faktor risiko utama ca mammae. Pria juga dapat menderita ca mammae tetapi penyakit ini sekita 100 kali lebih umum dialami wanita disbanding pria.
b. Pertambahan usia
Lebih dari 80% ca mammae terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas dan telah mengalami menopause.
c. Riwayat ca mammae dari keluarga
Memiliki hubungan darah satu tingkat pertama (ibu, saudara wanita, atau anak wanita) yang menderita ca mammae, meningkatkan risiko sekitar dua kali lipat.
d. Riwayat pribadi ca mammae
Seorang wanita dengan kanker pada satu payudara memiliki 3-4 kali lipat peningkatan risiko mengembangkan kanker baru pada payudara sebelahnya atau di bagian lain dari payudara yang sama.
e. Paparan hormon esterogen
Wanita yang mulai mengalami menstruasi dini (menarche) di usia yang sangat muda atau memasuki masa menopause lebih lambat daripada umumnya memiliki risiko lebih tinggi menderita ca mammae. Ini karena tubuh lebih lama terpapar hormone esterogen.
f. Paparan radiasi
Wanita yang pernah terpapar radiasi di bagian dada berisiko menderita ca mammae. Risiko tertinggi ca mammae terjadi jika radiasi diberikan selama masa remaja, ketika payudara masih berkembang.
g. Paparan dietilstilbestrol
Obat untuk mencegah keguguran dan berisiko terkena kanker (Savitri et al., 2015)
3. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala umum Ca mamae ialah :
a. Teraba adanya massa/benjolan pada payudara.
b. Payudara tak simetris/mengalami perubahan wujud & ukuran karena semenjak muncul pembengkakan
c. Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut & adanya ulkus pada payudara d. Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan, panas
e. Ada cairan yg keluar dari puting susu
f. Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh & kadar kalsium darah berkembang/berubah naik
g. Adanya rasa nyeri / sakit pada payudara.
h. Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d’ Orange).
i. Benjolan menyerupai bunga kobis & gampang berdarah.
j. Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar & alat tubuh lain 4. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan Penunjang Terkait
Pemeriksaan yang perlu dilakukan menurut (Kemenkes, 2015a):
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Tes darah rutin dan tes kimia darah 2) Tumor marker
b. Mammografi Payudara
Mammografi adalah gambar x-ray terkompresi dari jaringan payudara.
Bertujuan untuk mengontrol pencegahan kanker payudara, diagnosa kanker payudara dan kontrol dalam pengobatan.
c. USG Payudara
Keuntungan USG ialah deteksi massa kistik.
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CT-Scan
MRI dapat dilakukan pada klien yang memiliki risiko penyakit payudara yang tinggi, misalnya wanita muda yang memiliki payudara tebal dan memiliki payudara implan.
e. Pemeriksaan Patologi
Pemeriksaan patologi kanker meliputi pemeriksaan sitologi, pemeriksaan morfologi (histopatologi), pemeriksaan Immunohistokimia, pemeriksaan hibridisasi in situ, dan pemeriksaan susunan gen.
f. Biopsi
Biopsi Jarum halus, Biopsi Apus dan Analisa Cairan Evaluasi sitologi dilakukan dengan biopsi jarum halus. biopsi apus dan analisa cairan.
Tru-cut Biopsi atau Core Biopsy Tru-cut biopsi dan core biopsy dilakukan untuk evaluasi histopatologi dengan menggunakan jarum khusus no G12-16.
Biopsi Terbuka dan Spesimen Operasi Biopsi terbuka dan spesimen operasi mengarah pada evaluasi histopatologi. Biopsi terbuka adalah pengangkatan sebagaian atau seluruh tumor menggunakan pisau bedah dengan anestesi lokal atau umum.
g. Pemeriksaan Imunohistokimia
Tes yang digunakan untuk memeriksa antigen dengan menggunakan antibodi pada jaringan atau sel lainnya.
5. Penatalaksanaan Medis a. Penatalaksanaan Terapi
- Kemoterapi
Kemoterapi merupakan terapi yang diberikan dengan menggunakan obat- obatan sitostatik yang dimasukkan kedalam tubuh melalui intra vena atau oral. Pengunaan obat- obatan kemoterapi dapat memberikan efek toksik dan disfungsi sistemik hebat meskipun bervariasi dalam keparahannya. Efek samping dapat timbul karena obat-obatan tidak hanya menghancurkan sel- sel kanker tetapi juga menyerang sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat seperti membran mukosa, sel rambut, sumsum tulang dan organ reproduksi (ACS, 2014 dalam Wahyuni et al., 2015).
- Radioterapi
Radioterapi adalah proses terapi untuk memusnahkan sisa sel-sel kanker dengan dosis radiasi yang terkendali. Proses ini biasanya diberikan sekitar satu bulan setelah operasi dan kemoterapi agar kondisi tubuh dapat pulih terlebih dahulu (Savitri et al., 2015).
- Terapi hormon untuk mengatasi ca mammae
Terapi hormon di khususkan untuk ca mammae yang pertumbuhannya dipicu esterogen dan progesteron alami, terapi hormon digunakan untuk menurunkan tingkat atau menghambat efek hormone tersebut (Savitri et al., 2015).
b. Penatalaksanaan Operatif
- Operasi untuk menyelamatkan payudara Operasi ini adalah pengangkatan tumor dimana payudara secara keseluruhan tidak diangkat melainkan dibiarkan seutuh mungkin.
- Mastektomi (pengangkatan payudara) Proses operasi ini adalah mengangkata seluruh jaringan payudara termasuk putting. penderita dapat menjalani mastektomi bersamaan dengan biopsi noda limfa sentinel jika tidak ada indikasi penyebaran kanker pada kelenjar getah bening.
Sebaliknya, penderita dianjurkan untuk menjalani proses pengangkatan kelenjar getah bening di ketiak jika kanker sudah menyebar ke bagian itu.
- Operasi plastik rekonstruksi
Operasi ini adalah pembuatan payudara baru yang semirip mungkin dengan payudara aslinya. Operasi pembuatan payudara baru ini bisa dilakukan dengan menggunakan implan payudara atau jaringan dari bagian tubuh lain (Savitri et al., 2015).
B. Pertimbangan Anestesi 1. Definisi anestesi
Anestesi (pembiusan berasal dari Bahasa Yunani an- “tidak, tanpa” dan aesthetos, “persepsi, kemampuan untuk merasa”), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Olivier Wender Holmes Sr pada tahun 1846.
2. Jenis Anestesi a. General Anestesi
Anestesi umum atau biasa disebut bius total adalah prosedur pembiusan yang membuat pasien menjadi tidak sadar selama operasi berlangsung. Anestesi jenis ini sering digunakan untuk epersai besar, seperti operasi jantung terbuka, operasi otak, atau transplantasi organ. Anestesi ini bisa diberikan melalui dua cara, yaitu melalui gas untuk dihirup (inhalasi) dan obat yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah (intravena). Anestesi umum dianggap cukup aman untuk sebagian besar pasien.
Namun pada kelompok tertentu, seperti lansia, anak-anak, atau pasien yang kondisinya sangat buruk, pemberian anestesi jenis ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Pemilihan dan pemberian anestesi akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien, prosedur medis yang akan dijalani, dan lamanya prosedur yang akan dilakukan.
b. Regional Anestesi
Anestesi regional dilakukan dengan memblokir rasa sakit di sebagian anggota tubuh. Seperti halnya anestesi lokal, pasien akan tetap tersadar selama operasi berlangsung, namun tidak dapat merasakan sebagian anggota tubuhnya. Pada anestesi regional, obat akan diberikan dengan cara disuntikkan di dekat sumsum tulang belakang atau di sekitar area saraf. Suntikan ini akan menghilangkan rasa sakit pada beberapa bagian tubuh, seperti pinggul, perut, lengan, dan kaki. Terdapat beberapa jenis anestesi regional, yaitu blok saraf perifer, epidural, dan spinal.
Anestesi regional yang peling sering digunakan adalah epidural, yang umum digunakan saat persalinan.
3. Teknik Anestesi
Teknik anestesi umum
Menurut Mangku dan Senapathi (2010), dapat dilakukan dengan 3 teknik, yaitu 1) Anestesi umum inhalasi salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi yang berupa gas dana tau cairan yang mudah menguap melalui alat/mesin anestesi langsung ke udara inspirasi. Obat-obat anestesi umum di antaranya nitrous oksida (N2O), halotan, enfluran, isoflurane, sevoflurane, dan desfluran. Berdasarkan khasiatnya, obatobat tersebut dikombinasikan saat digunakan. Kombinasi obat tersebut diatur sebagai berikut • N2O + halotan atau, • N2O + isofluran atau, • N2O + desfluran atau, • N2O + enfluran atau, • N2O + sevofluran. Pemakaian N2O harus dikombinasikan dengan O2 dengan perbandingan 70 : 30 atau 60 : 40 atau 50 :50. Menurut Goodman & Gilman (2012), cara pemberian anestesi dengan obat-obatan inhalasi dibagi menjadi empat sebagai berikut
a. Open drop method Cara ini dapat digunakan untuk zat anestetik yang menguap, peralatan sederhana dan tidak mahal. Zat anestetik diteteskan pada kapas yang ditempelkan di depan hidung sehingga kadar zat anestetik dihirup tidak diketahui karena zat anestetik menguap ke udara terbuka.
b. Semi open drop method Cara ini hampir sama dengan open drop, hanya untuk mengurangi terbuangnya zat anestetik digunakan masker.
Karbondioksida yang dikeluarkan pasien sering terhisap kembali sehingga dapat terjadi hipoksia, untuk menghindari hal tersebut, pada masker dialirkan oksigen melalui pipa yang ditempatkan di bawah masker.
c. Semi closed method Udara yang dihisap diberikan bersama oksigen murni yang dapat ditentukan kadarnya, kemudian dilewatkan pada penguap (vaporizer) sehingga kadar zat anestetik dapat ditentukan.
Sesudah dihisap pasien, karbondioksida akan dibuang ke udara luar.
Keuntungan cara ini, kedalaman anestesi dapat diatur dengan memberikan kadar tertentu zat anestetik sehingga hipoksia dapat dihindari dengan pemberian O2.
d. Closed method Cara ini hampir sama dengan semi closed, hanya udara ekspansi dialirkan melalui absorben (soda lime) yang dapat mengikat karbondioksida, sehingga udara yang mengandung zat anestetik dapat digunakan lagi. 2) Anestesi Umum Intravena Salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan jelas menyuntikkan obat anestesi parental langsung ke dalam pembuluh darah vena. Obat-obat anesthesia intravena diantaranya ketamine HCL, tiopenton, propofol, diazepam, deidrobenzpridol, midazolam, petidin, morfin, fentanyl/sufetanil. 3) Anestesi Imbang Teknik anestesi dengan menggunakan kombinasi obatobatan baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi atau kombinasi teknik anestesi umum dengan analgesia regional untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang.
2) Anestesi Umum Intravena Salah satu teknik anestesi umum yang dilakukan dengan jelas menyuntikkan obat anestesi parental langsung ke dalam pembuluh darah vena. Obat-obat anesthesia intravena diantaranya ketamine HCL, tiopenton, propofol, diazepam, deidrobenzpridol, midazolam, petidin, morfin, fentanyl/sufetanil.
3) Anestesi Imbang Teknik anestesi dengan menggunakan kombinasi obatobatan baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi atau kombinasi teknik anestesi umum dengan analgesia regional untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang.
Jenis Anestesi Regional
Menurut Pramono (2017) digolongkan sebagai berikut: 13 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
a) Anestesi Spinal
Penyuntikan anestesi lokal ke dalam ruang subaraknoid disegmen lumbal 3-4 atau lumbal 4-5. Untuk mencapai ruang subaraknoid, jarum spinal menembus kulit subkutan lalu menembus ligamentum supraspinosum, ligamen interspinosum, ligamentum flavum, ruang epidural, durametar, dan ruang subaraknoid. Tanda dicapainya ruang subaraknoid adalah dengan keluarnya liquor cerebrospinalis (LCS). Menurut Latief (2010) anestesi spinal menjadi pilihan untuk operasi abdomen bawah dan ektremitas bawah. Teknik anestesi ini popular karena sederhana, efektif, aman terhadap sistem saraf, konsentrasi obat dalam plasma yang tidak berbahaya serta mempunyai analgesia yang kuat namun pasien masih tetap sadar, relaksasi otot cukup, perdarahan luka
operasi lebih sedikit, aspirasi dengan lambung penuh lebih kecil, pemulihan saluran cerna lebih cepat (Longdong, 2011). Anestesi spinal memiliki komplikasi. Beberapa komplikasi yaitu hipotensi terjadi 20-70% pasien, nyeri punggung 25% pasien, kegagalan tindakan spinal 3-17% pasien dan post dural puncture headache di Indonesia insidennya sekitar 10% pada pasien paska spinal anestesi (Tato, 2017).
b) Anestesi Epidural
Anestesi yang menempatkan obat di ruang epidural (peridural, ekstradural).
Ruang ini berada di antara ligamentum flavum dan durameter. Bagian atas berbatasan dengan foramen magnum di dasar tengkorak dan bagian bawah dengan selaput sakrokoksigeal. Kedalaman ruang rata-rata 5 mm dan di bagian posterior kedalaman maksimal terletak pada daerah lumbal. Anestetik lokal di ruang epidural bekerja langsung pada saraf spinal yang terletak di bagian lateral. Onset kerja anestesi epidural lebih lambat disbanding anestesi spinal. Kualitas blockade sendoris dan motoriknya lebih lemah.
c) Anestesi Kaudal
Sebenarnya sama dengan anestesi epidural, karena kanalis kaudalis adalah kepanjangan dari ruang epidural dan obat ditempatkan di ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Hiatus sakralis ditutup oleh ligamentum sakrokoksigeal. Ruang kaudal berisi saraf sakral, pleksus venosus, felum terminale, dan kantong dura. Teknik ini biasanya dilakukan pada pasien anakanak karena bentuk antominya yang lebih mudah ditemukan dibandingkan daerah sekitar perineum dan anorektal, misalnya hemoroid dan fistula perianal.
4. Rumatan Anestesi
Rumatan anestesi dapat menggunakan antara lain obat pelumpuh otot, obat analgetic opioid, obat hipnotik sedative dan obat inhalasi sesuai kebutuhan. Obat rumatan anestesi: obat anestesi inhalasi - obat anestesi intravena – suplemen opioid.
Rumatan anestesi
a) Menggunakan oksigen dan obat anestesi inhalasi dengan maupun tanpa pelumpuh otot atau rumatan dengan obat intravena kontinyu, menggunakan dosis sesuai umur dan berat badan.
b) Titrasi dan pemantauan efek obat dan dijaga kadar anestesi aman selama prosedur tindakan.
c) Pernafasan control atau assisted sselama perjalanan operasi.
d) Suplemen analgetik opioid sesuai kebutuhan, setelah dilakukan anestesi umum.
e) Monitoring fungsi vital dan suara nafas dengan precordial, memperhatikan posisi endotracheal tube selama operasi berlangsung secara berkala.
f) Evaluasi pemberian cairan dan kebutuhan untuk mengganti kehilangan cairan pada saat prosedur tindakan.
g) Pastikan tidak ada sumber perdarahan yang belum diatasi.
h) Menjaga suhu tubuh pasien tetap hangat selama prosedur tindakan.
5. Resiko
Seperti juga prosedur medis lainnya, anestesi berisiko menimbulkan efek samping, baik ringan maupun berat. Berikut ini adalah efek samping yang bisa terjadi akibat pemberian anestesi, berdasarkan jenis anestesinya:
Efek samping anestesi lokal:
- Rasa nyeri, ruam, serta perdarahan ringan di area suntikan - Sakit kepala
- Pusing Kelelahan
- Mati rasa pada area yang disuntik - Kedutan pada jaringan otot - Penglihatan kabur
Efek samping anestesi regional:
- Sakit kepala - Reaksi alergi - Nyeri punggung - Perdarahan - Kejang
- Sulit buang air kecil - Penurunan tekanan darah - Infeksi tulang belakang.
Efek samping anestesi umum:
- Mual dan muntah - Mulut kering - Sakit tenggorokan - Suara serak - Rasa kantuk - Menggigil
- Timbul nyeri dan memar di area yang disuntik atau dipasang infus.
- Kebingungan - Sulit buang air kecil - Kerusakan gigi
Risiko untuk mengalami efek samping anestesi akan semakin tinggi apabila pasien memiliki penyakit atau kondisi kesehatan tertentu, misalnya penyakit jantung atau obesitas. Usia yang terlalu muda atau lebih tua, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alcohol, serta konsumsi obatobatan tertentu juga akan meningkatkan risiko terjadinya efek samping anestesi. Untuk mencegah munculnya efek samping, dokter atau perawat akan melakukan pemeriksaan lengkap dan memberitahukan hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum operasi berlangsung.
C. Web Of Caution (WOC)
D. Daftar Pustaka
IPAI (2023). Asuhan Keperawatan Anestesiologi / Asuhan Kepenataan Anestesi.
Edisi 1. Jakarta : DPP IPAI.
Meiliani, Nurafni. 2024. LAPORAN PENDAHULUAN CA MAMMAE. Tersedia di https://www.academia.edu/37805525/LAPORAN_PENDAHULUAN_CA_
MAMMAE. Diakses pada hari Senin, 16 September 2024.
Dwi, Febrina. 2022. ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN CA MAMAE DI RUANG BAITUL IZZAH 1 RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG. Universitas Sultan Agung, Semarang : Prodi DIII Keperawatan.
Miftahurrahmah, 2021. KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CA MAMMAE DENGAN KEMOTERAPI DI RSUD dr. KANUJOSO DJATIWIBOWO. Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan, Samarinda : Prodi DIII Keperawatan.