• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN GASTROENTERITIS AKUT

N/A
N/A
Handa Sheira

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN GASTROENTERITIS AKUT "

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN GASTROENTERITIS AKUT

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah Dosen Koordinator : H. Hikmat Rudyana, S.Kp., M.Kep

Dosen Pembimbing : Musri, S.Kp., MN

DISUSUN OLEH :

HANDA SHEIRA NURUSABILA 2350321015

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI 2023

(2)

2 A. Pengertian Gastroititis

Gastroititis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare, denga atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar berkali-kali dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang cair, dapat disertai dengan darah atau lendir.

B. Etiologi Gastroititis

Gastroititis/GE disebabkan oleh :

1. Infeksi oleh bakteri ( salmonella spp, campylobacter jejuni, stafiloccus aureus, bacillus cereus, clastridium perfringers dan enterohemorragic escherichia coli ( EHEC ), virus (rota-virus, adenovirus enteris, virus norwalk ), parasit ( biardia lambia, cryptosporidium). Bakteri penyebab diare di indonesia adalah shigella, salmonela, campylobacter jejuni, escherichia coli, dan entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh shigella flexneri, salmonella dan enteroinvasive E.coli ( EIEC ). Infeksi oleh mikroorganisme ini menyebabkan peningkatan sekresi cairan.

2. Diare juga dapat disebabkan oleh obat-obatan seperti replacement hormone tiroid, laksatif, antibiotik, asetaminophen, kemoterapi dan antasida.

3. Pemberian makan melalui NGT, gangguan motilitas usus seperti diabetic enteropathy, scleroderma visceral, sindrom karsinoid, vagotomi.

4. Penyakit pada pasien seperti gangguan metabolic dan endokrin ( diabetes, addision, tirotoksikosis, Ca Tyroid sehingga terjadi peningkatan penglepasan calsitonin ), gangguan nutrisi dan malabsorpsi usus ( colitis ultseratif, symdrome usus peka, penyakit seliaka), paralitik ileus dan obstruksi usus.

C. Patofisiologi

Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain infeksi bakteri, malabsorpsi, atau sebab yang lain. Faktor infeksi, proses ini diawali dengan adanya mikroorganisme yang masuk ke dalam saluran perncernaan, kemudian berkembang biak dalam lambung dan usus.

Mikroorgaisme yang masuk dalam lambung dan usus memproduksi toksin, yang terikat pada mukosa usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida de dalam lumen usus yang diikuti air, ion karbonat, kation, natrium, dan

(3)

kalium. Infeksi bakteri jenis enteroinvasif seperti: E.coli, Paratyphi B.

Salmonella, Shigella, toksin yang dikeluarkannya dapat menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. Diare bersifat sekretori eksudatif, cairan diare dapat bercampur lender dan darah.

Faktor malabsoprsi merupakan kegagalan dalam melakukan absorpsi terhadap makanan atau zat yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare.

Gangguan motilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare, sebaliknya jika terjadi hipoperistaltik akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan sehigga terjadi diare. Akibat dari diare dapat menyebabkan kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis metabolic dan hipokalemi), gangguan nutrisi ( intake kurang, output berlebihan).

D. Klasifikasi gastroenteritis

1. Diare akut adalah diare yang serangannya tiba-tiba dan ber-langsung kurang dari 14 hari. Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan menjadi:

a. Diare non inflamasi. Diare ini disebabkan oleh enterotoksin dan menyebabkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah. Keluhan abdomen jarang terjadi atau bahkan tidak ada sama sekali. Dehidrasi cepat terjadi apabila tidak mendapat cairan pengganti. Tidak ditemukan lekosit pada pemeriksaan feses rutin.

b. Diare inflamasi. Diare inflamasi disebabkan invasi bakteri dan pengeluaran sitotoksin di kolon. Gejala klinis ditandai mulas sampal nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, gejala dan tanda dehidrasi. Secara makroskopis terdapat lendir dan darah pada pemeriksaan feses rutin, dan secara mikroskopis terdapat sel leukosit polimorfonuklear.

2. Diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.

Mekanisme terjadinya diare yang akut maupun yang kronik dapat dibagi menjadi diare sekresi, diare osmotik, diare eksudatif dan gangguan motilitas.

(4)

a. Diare sekresi, diare dengan volume feses banyak biasanya disebabkan oleh gangguan transport elektrolit akibat peningkatan produksi dan sekresi air dan elektrolit namun kemampuan absorbsi mukosa usus ke dalam lumen usus menurun. Penyebabnya adalah toksin bakteri (seperti toksin kolera), pengaruh garam empedu, asam lemak rantal pendek, laksatif non osmotic dan hormon intestinal (gastrin vosoactive intestinal polypeptide (VIP).

b. Diare osmotic, terjadi bila terdapat partikel yang tidak dapat diabsorpsi sehingga osmolaritas lumen meningkat dan air tertarik dari plasma ke lumen usus sehingga terjadilah diare. Sebagai contoh malabsorbsi kar bohidrat akibat defisiensi laktase atau akibat garam magnesium.

c. Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non infeksi seperti gluten sensitiue enteropathy, inflamatory bowel diseose (IBD) atau akibat radiasi.

d. Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu transit makanan/minuman di usus menjadi lebih cepat. Pada kondisi tirotoksikosis, sindroma usus iratabel atau diabetes melitus dapat muncul diare Ini.

E. Manifestasi klinis

1. Muntah-muntah dan/atau suhu tubuh meningkat, nafsu makanberkurang.

2. Sering buang air besar dengankonsistensi tinja cair, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kram perut.

3. Tanda tanda dehidrasi muncul bila intake cairan lebih kecil daripada outputnya. Tanda-tanda tersebut adalah perasaan haus, berat badan menurun, mata cekung , lidah kering , tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun dan suara serak. Hal ini disebabkan deplesi air yang isotonik 4. Frekuensi nafas lebih cepat dan dalam (pernafasan kussmaul) terjadi bila

syok berlanjut dan terdapat asidosis. Bikarbonat dapat hilang karena muntah dan diare sehingga dapat terjadi penurunan pH darah, pH darah yang menurun ini merangsang pusat pernafasan agar bekerja lebih cepat

(5)

dengan meningkatkan) pernafasan dengan tujuan mengeluarkan asam karbonas sehingga pH kembali normal. Asidosis metabolic yang tidak terkompensasi ditandai oleh base excess negative, bikarbonat standard rendah dan PaCO2 normal. Tanda-tanda dehidrasi berat dan sudah terjadi syok hipovolemik adalah tekanan darah menurun atau tidak terukur, nadi cepat,gelisah,sianosis dan exstremitas dingin. Pada diare akut dapat terjadi hypokalemia akibat kalium ikut terbuang bersama cairan feses sehingga berisiko terjadi aritmia jantung.

5. Anuria karena penurunan perfusi ginjal dan menimbulkan nenkrosis tubulus ginjal akut, dan bila teratasi , klien berisiko menderita gagal ginjal akut.

F. Faktor Resiko Terjadinya Gastroenteritis

Factor resiko terjadinya gastroenteritis adalah factor – factor yang memungkinkan terjadinya gastroenteritis:

1. Tidak diberikannya asi ekslusif (6 bulan ) 2. Gizi buruk

3. Campak

Diare dan disentri akan tambah berat pada anak yang menderita campak 4. Immunodefisiensi dan immunosupresi ( AIDS )

5. Musim

Letak geografis, diare karena bakteri lebih sering pada musim panas, sedangkan diare karena virus lebih sering pada musim hujan

6. Umur, sering pada anak usia 2 tahun dan paling tinggi pada 6-11 bulan 7. Epidemiologi / wabah / kejadian luar biasa (KLB)

Factor yang menjadi penyebab terjadinya gastroenteritis adalah makanan dan minuman, infeksi atau investsi parasit, jamur, infeksi di luar saluran pencernaan, perubahan udara dan factor lingkungan. Gastroenteritis banyak disebabkan oleh penurunan penyerapan air serta elektrolit oleh mukosa usus kedalam lumen usus, diare osmotic terjadi bila air terdorong kedalam usus oleh tekanan osmotic partikel-partikel yang tidak dapat di absrobsi, sehingga reabsorbsi air menjadi lambat, umumnya gartoenteritis terjadi karena adanya peningkatan peristaltic usus sebagai akibat adanya inflamasi usus, yang berdampak pada peningkatan frekuensi defekasi.

Factor resiko gastroenteritis dengan dehidrasi. Factor resiko yang mempengaruhi terjadinya gastroenteritis dengan dehidrasi ditinjau dari teori Blum dibedakan menjadi empat factor, yaitu: factor biologis, factor linkungan, factor pelayanan keshatan, dan factor perilaku.

(6)

Factor biologis:

- Kejadian gastroenteritis pada laki-laki sama dengan permpuan - Pada anak-anak dan lansia lebih sering

- Anak-anak dengan malnutrisi dan BBLK mendapat resiko gastroenteritis lebih besar

Factor lingkungan:

- Lingkungan yang tidak atau kurang menyediakan air bersih - Keadaan jamban yang sangat tidak memenuhi standard kesehatan - Keadaan rumah yang tidak sehat

- Pembanguna limbah di daerah pemukiman kurang baik

- Musim penghujan factor penyebab yang berasal dari infeksi mudah berkembang

Factor perilaku:

- Minimnya penetahuan ibu tentang gastroenteritis

- Minimnya pengetahuan ibu dalam mengenali keadan dehidrasi - Hiegene perorangan yang tidak baik(khusnya mencuci tangan) - Minimnya pengetahuan keluaraga mengenai pengobatan pertama

pada penderita gastroenteritis

- Kurang kesadaran untuk berobat lebih dini - Keterlambatan dalam berobat

Factor pelayanan kesehatan:

- Kurang langkah promotif yang dikakukan petugas kesehatan - Minimnya penetahuan petugas keshatan

- Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai G. Komplikasi Gastroenteritis

1. Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit memicu shock hipovolemik dan kehilangan elektrolit seperti hipokalemia ( kalium <3 Meq/liter ) dan asidosis metabolik. Pada hipokalemia, waspadai tanda-tanda penurunan tekanan darah, anoreksia dan mengantuk.

(7)

2. Tubular nekrosis akun dan gagal ginjal pada dehidrasi yang

berkepanjangan. Perhatikan pengeluaran urine <30 ml/jam selama 2-3 jam berturut-turut.

3. Sindrom gullain-barre.

4. Artitis pasca infeksi dapat terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena compylobakter, shingella, salmonella, atau yersinia spp.

Distrimia jantung berapa takikardi atrium dan ventrikel, fibrililasi ventrikel dan kontraksi ventrikel prematur akibat gangguan elektrolit terutama oleh karena hipokalemia.

H. Pemeriksaan penunjang Gastroenteritis

1. Pemeriksaan tinja

a. Makroskopis dan mikroskopis b. pH dan kadar gula dalam feses c. bila perlu diadakan uji bakteri

pemeriksaan feses : bila terdapat leukosit menunjukkan adanya inflamasi kolon ; adanya diare yang berdarah perlu dilakukan kultur feses karena dicurigai penyebabnya adalah EHEC (Enterohemorragic E. EHEC) 0157 : H7 atau bakteri/parasit/virus lainnya.

2. Pemeriksaan kimiawi darah (Ureum, kreatinin), kadar elektrolit darah (natrium, kalium, klorida, fosfat), analisa gas darah dan pemeriksaan darah lengkap perlu dilakukan pada kasus diare berat.

3. Pemeriksaan radiologis seperti sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya biasanya tidak membantu untuk evaluasi diare akut akibat infeksi.

I. Pengobatan Gastroenteritis

1. Penggantian cairan dan elektrolit

a. Rehidrasi oral dilakukan pada semua pasien yang masih mampu minum pada diare akut. Diberikan hidrasi intravena pada kasus diare hebat. Rehidrasi oral terdiri dari 3,5 g Natrium klorida, dan 2,5 g Natrium bikarbonat 1,5 g kalium klorida, dan 20 g glukosa per liter air. Cairan rehidrasi oral dapat dibuat sendiri oleh pasien dengan menambahkan ½ sendok the garam. ½ sendok teh baking soda, dan 2-4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Minum cairan sebanyak mungkin atau berikan oralit.

(8)

b. Diberikan hidrasi intravena pada kasus diare hebat. NaCl atau laktat ringer harus diberikan dengan suplementasi kalium.

c. Monitor status hidrasi, tanda-tanda vital dan output urine.

2. Pemberian antibiotik

a. Pengobatan antibiotik pada umumnya tidak dianjurkan karena akan mengubah flora normal usus dan menyebabkan diare menjadi lebih buruk. Pada diare akut infeksi, 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dan 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses. Metronidazole merupakan obatyang efektif dan aman untuk bakteri anaerob yang sering terdapat pada blind loop syndrome. Terapi antibiotic spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman. Campylobacter, salmonella/shigella diberikan ciproflaksin 500mg oral.

b. Pengobatan dengan obat antidiare, tidak perlu diberikan obat anti diare seperti kaolin, pectin, difenoksilat (lomotil)karena dapat memperlambat motilitas usus sehingga enteritis akan memanjang.

c. Pemberian nutrisi parenteral bertujuan untuk mempertahankan sirkulasi mencukupi dan mempertahankan keseimbangan air dan elektrolit, mencegah dan mengganti kehilangan jaringan tubuh dan mengurangi morbiditas dan mortalitas. Meringankan kerja usus, tidak merangsang produksi asam lambung dan dapat diberikan dalam jumlah yang tepat.

J. Pencegahan Gastroenteritis

Gastroenteritis juga dapat dicegah dengan:

1. Tidak berbagi penggunaan peralatan makan dan mandi dengan orang lain.

2. Membersihkan barang yang diduga telah terkontaminasi virus atau bakteri.

3. Menghindari konsumsi makanan mentah atau belum terlalu matang.

4. Membersihkan kamar mandi dan dapur secara rutin, terutama gagang pintu, dudukan toilet, peralatan masak, dan lantai dapur.

5. Mengonsumsi air minum kemasan dan menghindari penggunaan es batu saat sedang bepergian. Dan juga dianjurkan menggunakan air kemasan untuk menggosok gigi saat bepergian.

(9)

6. Sering-seringlah mencuci tangan, terutama setelah menggunakan kamar mandi dan sebelum menyiapkan makanan. Jika perlu, gunakan pembersih tangan sampai dapat mengakses sabun dan air.

7. Cuci buah dan sayuran sampai bersih.

8. Hindari mengonsumsi es batu yang kebersihannya tidak terjamin karena bisa jadi air yang digunakan untuk membuat es sudah terkontaminasi oleh virus.

9. Pemberian vaksin rotavirus yang efektif untuk mencegah gastroenteritis akibat infeksi rotavirus. Ada dua jenis vaksin rotavirus di Indonesia, yaitu yang diberikan 3 kali, saat bayi berusia 6-14 minggu, 18-22 minggu, dan 8 bulan; dan yang diberikan 2 kali, saat bayi berusia 10 minggu dan 14 minggu. Untuk bayi yang usianya sudah lebih dari 6-8 bulan namun belum pernah mendapatkan vaksin rotavirus, imunisasi ini tidak perlu dilakukan, sebab belum ada studi untuk memastikan keamanan vaksin ini pada bayi dan anak-anak yang usianya di atas 6-8 bulan.

K. Pengkajian

Pengkajia pasien gastroenteritis terdiri atas pengkajian anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pengkajian diagnostic. Keluhan utama yang lazim didapatkan adalah diare dengan peningkatan frekuensi dan feses menjadi cair. Pengkajian riwayat dihubungkan dengan epidemiologi dan penyebab dari gastroenteritis. Faktor epidemiologi merupakan pengkajian penting dalam menentukan penyebab, rencana intervensi, dan faktor risiko yang mungkin terjadi. Riwayat keracunan makanan akan memberikan manifestasi peradangan akut gastrointestinal yang dapat berbahaya sehingga harus dilakukan dalam kondisi gawat darurat untuk dehidrasi cairan.

Pemeriksaan fisik didapatkan sesuai dengan kondisi patologis akibat respons inflamasi dan dehidrasi akibat gangguan keseimbangan cairan dan elekrolit. Pemeriksaan fisik disesuaikan dengan usia pasien, apabila pada kasus pediatrik, maka pendekatan yang digunakan adalah head to toe,

(10)

sedangkan pada konsep keperawatan medical bedah, maka pendekatan yang digunakan sebaiknya adalah modifikasi per system (B1-B6).

Pemeriksaan lain yang penting adalah pemeriksaan kolaboratif untuk menentukan status dehidrasi. Pemeriksaan status dehidrasi esensialnya merupakan pemeriksaan medis untuk menentukan kebutuhan pengganti cairan dalam pemenuhan hidrasi, tetapi pada kondisi klinik perawat yang dapat melakukan perhitangan skor dapat melakukan peran kolaboratif dalam menentukan jumlah cairan yang akan diberikan.

Walaupun terdapat berbagai metode yang digunakan dalam menentukan tingkat kebutuhan pemenuhan hidrasi, tetapi penilaian menurut Margon-walten (1999) dapat memudahkan perawat dalam menentukan jumlah pengganti cairan dan sering digunakan pada kondisi klinik Indonesia.

Penilaian dengan menggunakan metode Margon-walten yaitu dengan menggunakan parameter BJ Plasma.

L. Pemeriksan Diagnostik

Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik yang meliputi:

1. Pemeriksaan Feses

• Makroskopis dan mikroskopis.

• pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.

• Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

• Evaluasi feses terhadap telur cacing dan parasite

• Kultur fese (jika anak dirawat di rumah sakit, pus dalam feses atau diare yang berkepanjangan), untuk menentukan pathogen.

• Evaluasi volume, warna, konsistensi, adanya mukus atau pus pada feses

(11)

2. Pemeriksaan Darah

• pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium, Kalsium, dan Fosfor ) dalam serum untuk menentukan

keseimbangan asama basa.

• Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.

• Darah samar feses, untuk memeriksa adanya darah (lebih sering pada gastroenteritis yang berasal dari bakteri)

• Hitung darah lengkap dengan diferensial 3. Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )

• Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

• Aspirasi duodenum (jika diduga G.lamblia)

4. Uji antigen immunoassay enzim, untuk memastikan adanya rotavirus 5. Urinalisis dan kultur (berat jenis bertambah karena dehidrasi;

organisme Shigella keluar melalui urine) M. Diagnosis Keperawatan

1. Aktual/risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b.d. diare, kehilangan cairan dari gastrointestinal, gangguan absorpsi usus besar, pengeluaran elektrolit dari muntah.

2. Aktual/risiko tinggi syok hipovolemik b.d. penurunan volume darah, efek sekunder kehilangan cairan dari gastrointestinal.

3. Aktual/risiko gangguan pola napas b.d. penurunan pH pada cairan serebrospinal, penekanan pacu pernapasan, pernapasan Kussmaul.

4. Aktual/risiko tinggi perubahan perfusi otak b.d. penurunan pH pada cairan serebropinal, efek sekunder dari asidosis metabolic.

5. Risiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d.

ketidakadekuatan intake nutrisi, efek sekunder dari nyeri, ketidaknyamanan lambung dan intestinal.

6. Nyeri b.d. iritasi gastrointestinal, adanya mules dan muntah.

7. Hipertermi b.d. respons inflamasi sistemik.

(12)

8. Risiko kekurangan integritas jaringan anus b.d. pasase feses yang encer dengan asam tinggi dan mengiritasi mukosa anus.

9. Kecemasan b.d. prognosis penyakit, misinterpretasi informasi.

10. Pemenuhan informasi b.d. ketidakadekuatan informasi penatalaksanaan perawat dan pengobatan, rencana perawatan rumah.

N. Rencana Keperawatan

No.

DX

Diagnosa Keperawatan

Rencana Asuhan Keperawatan

Rasional Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi

1 Devisit volume cairan dan

elektrolit b/d diare.

Batasana karateristik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 Jam diharapkan klien mampu yang dibuktikan dengan kriteria hasil :

a. Mempertahankan atau menunjukan perubahan perubahan keseimbangan cairan dibuktikan dengan :

· Tanda vital stabil

· Membran mukosa lembab

· Turgor kulit baik

b. Melaporkan penurunan efek defekasi, konsistensi kembali normal

1. Observasi dan catat frekuensi dan karakteristik defekasi.

2. Kaji tanda- tanda vital (TD, suhu nadi pernapasan).

3. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, pemurunan turgor kulit

1. Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya episode.

2. Hipotensi takikardi demam dapat menunjukan respons terhadat dan atau efek kehilangan cairan.

3. Menunjukan kehilangan cairan

berlebihan atau dehidrasi.

4. Indikator dalam menilai status cairan dan gizi seseorang.

(13)

4. Ukur BB tiap hari.

5. Kolaborasi dalam peberian IVFD.

6. Berikan obat sesuai dengan indikasi (antidiare antibiotik).

5. Untuk membantu dalam memperbaiki gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

6. Menurunkan mobilitasi usus bila diare terjadi dan untuk mengobati infeksi.

2 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi tak adekuat

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 Jam diharapkan nutrisi klien dapat terpenuhi yang dibuktikan dengan kriteria hasil :

a. Menunjukan peningkatan berat badan b. Tidak mengalami tanda mal nutrisi

c. Porsi makan dihabiskan

1. Catat stasus nutisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, integritas mukosa oral .

2. Dorong makan dan sering dengan makanan tinggi protein dan kiarbohidrat

1. Berguna dalam

mendefinisikan derajat atau luasnya masalah

dan pilihan intervensi yang tepat.

2. Maksimalkan masukan nutrisi dan menurunkan kelemahan.

3. Mengidentifikasi defisiensi, menduga

(14)

3. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.

4. Timbangan dengan ahli gizi dalam pemberian diet.

5. Kolaborasi dengan ahli g8izi dalam pemberian diet.

kemungkinan intervensi.

4. Mengawasi penurunan BB atau efektifitas

intervensi nutrisi.

5. Membantu dalam me mbuat rencana diet

untuk memenuhi kebutuhan individual.

3 Gangguan integritas kulit berhubungan dengan status metabolic.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tidak terjadi kerusakan integritas kulit yang dibuktikan dengan kriteria hasil:

a. Kulit Tak kering/bersisik b. Elastisitas kembali normal

1. Kaji kulit tiap hari (catat warna dan turgor kulit).

2. Pertahankan instruksi dalam hygiene kulit misalnya:

nmembasuh kemudian

1. Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat di bandingkan dengan melakukan intervensi yang tepat.

2. Mempertahankan kebersihan, karena kulit yang kering dapat terjadi barier kulit.

(15)

mengeringkannya dengan hati-hati.

3. Pertahankan sprei bersih, kering dan tidak berkerut.

4. Balikkan atau ubah posisi dengan sering ukur.

5. Anjurkan menggunakan pakaian yang lembut dan longgar tiap hari.

3. Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi kulit.

4. Mencegah sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit atau jaringan yang tidak perlu.

5. Mencegah terjadinya infeksi kulit.

4 Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnya kemampuan fisik.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 Jam diharapkan tidak terjadi perubahan pada tumbuh dan kembang klien yang

dibuktikan dengan kriteria hasil :

a. Menunjukan

1. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit untuk memenuhi tugas

perkembangan .

1. Membantu anak untuk berkembang sesuai usianya.

2. Membantu anak untuk mengekspresikan

(16)

perkembangan motorik sesuai dengan usianya

b. Tidak terjadi kelemahan fisik

2. Berikan mainan sesuai usia anak.

3. Anjurkan pada orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.

perasaannya.

3. Membantu anak untuk memahami tugas

perkembangannya.

5. Ansietas atau kecemasan orang tua b/d kurangnya informasi.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 Jam diharapkan klien atau orang tua tidak merasa cemas yang dibuktikan dengan kriteria hasil :

a. Menyatakan kesadaran terhadap perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapi masalah

b. Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangangi

1. Catat

petunjuk perilaku, misalnya gelisah.

2. Dorong pasien menyatakan perasaan, berikan umpan balik.

3. Berikan informasi yang

1. Sebagai indikator derajat ansietas.

2. Membina hubungan trapeutik.

3. Dilakukan agar

bisa menurunkan ansietas.

4. Membantu dalam Mengurangi mengurangi

(17)

akurat tentang kondisi pasien

4. Anjurkan untuk relaksasi.

ansietas.

O. Evaluasi

Hasil yang diharaokan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut.

1. Melaporkan pola defekasi normal.

2. Mempertahankan keseimbangan cairan.

a. Mengomsumsi cairan peroral dengan adekuat.

b. Melaporkan tidak ada keletihan dan kelemahan otot.

c. Menunjukan membrane mukosa lembap dan turgor jaringan normal.

d. Mengalami keseimbangan intake dan output.

3. Mengalami berat jenis urine normal.

4. Mengalami penurunan tingkat ansietas.

5. Mempertahankan integritas kulit

a. Mempertahankan kulit tetap bersih setelah defekasi.

b. Menggunakan pelembap atau salep sebagai barrier kulit.

6. Tidak mengalami komplikasi.

a. Elektrolit tetap dalam rentang normal.

b. Tanda vital stabil.

c. Tidak ada disritmia perubahan dalam tingkat kesadaran.

(18)

18

Daftar Pustaka

Suratun, Lusianah. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta. Trans Info Media.

Willy,Tjin. 2019. Gastroenteritis.https://www.alodokter.com/gastroenteritis

[Artikel ini diterbitkan pada:1 Agustus 2019 dan di akses pada 6 November 2019].

Fikri,Zimamul.2017.Faktor Resiko Gastroenteritis.

https://www.google.co.id/url?q=https://id.scribd.com/doc/174682382/Faktor- Resiko-Gastroenteritis&sa=U&ved=2ahUKEwiOlMPS-

9blAhVXOSsKHZvBBuEQFjAEegQICBAB&usg=AOvVaw1AJNDYacFAdI- Yo5ETuJAi

[Artikel ini diterbitkan pada:2017 dan diakses pada tanggal 6 November 2019].

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian sebelumnya kebanyakan hanya membahas tentang pemilihan obat gastroenteritis akut, sehingga penelitian ini dikembangkan bukan hanya membahas tentang pola pemilihan

Mengetahui gambaran pola pemilihan obat yang meliputi pemilihan jenis obat, golongan obat, dan bentuk sediaan obat pada pasien pediatri dengan penyakit gastroenteritis akut

Melakukan analisis data pada klien anak dengan gastroenteritis. Merumuskan diagnosa keperawatan yang mucul pada

evaluasi penggunaan antibiotik dengan metode defined daily dose pada pasien gastroenteritis akut anak di rumah sakit “x” dapat terselesaikan dengan baik..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas dan kerasionalan penggunaan antibiotik pada pasien gastroenteritis akut di instalasi rawat inap Rumah Sakit “X”

Kesimpulan penelitian ini yaitu ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan nyeri perut pada pasien gastroenteritis akut di Instalasi Gawat

Mengetahui gambaran pola pemilihan obat yang meliputi pemilihan jenis obat, golongan obat, dan bentuk sediaan obat pada pasien pediatri dengan penyakit gastroenteritis akut

KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa gambaran penggunaan terapi pada penyakit gastroenteritis atau diare pada pasien anak di rumah sakit