• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN GHAYANA ADITYA PUTRA 010002100166[2]

N/A
N/A
Ghayana Aditya

Academic year: 2024

Membagikan " LAPORAN PENELITIAN GHAYANA ADITYA PUTRA 010002100166[2]"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

PENGATURAN TENTANG PEMBAYARAN ROYALTI DALAM PENGGUNAAN KARYA CIPTA ORANG LAIN BERUPA LAGU DAN PANDANGAN MASYARAKAT FH USAKTI TENTANG PENGGUNAAN KARYA CIPTA LAGU TANPA PEMBAYARAN ROYALTI KEPADA PEMILIK KARYA CIPTA.

Dosen Pembimbing :

Dr. Novina Sri Indiraharti, S.H.,M.Hum.

Oleh :

Ghayana Aditya Putra (010002100166)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

2023

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang (TIDAK BOLEH JUSTIFY)

Kreativitas manusia semakin tidak terbatas dalam penciptaan berbagai macam karya. Karya yang dimaksud tersebut dihasilkan dari olah pemikiran seseorang yang dituangkan melalui berbagai bentuk, diantaranya seperti lagu, buku dan film. Kreativitas dan aktivitas manusia menjadi salah satu faktor penyebab dalam kelahiran Hak Cipta. Dalam penciptaan suatu karya merupakan hal yang tidak mudah bagi seorang pencipta karya. Oleh karena itu, perlindungan hukum di bidang Hak Cipta sangatlah diperlukan. Dengan demikian hak cipta memberikan hak milik eksklusif atas suatu karya si pencipta, setiap orang yang ingin melakukan atau memperbanyak hasil ciptaan orang lain, wajib terlebih dahulu minta izin kepada pemiliknya atau si pencipta yaitu pemegang hak cipta lagu.1

Di dalam Undang-Undang Hak Cipta, diatur mengenai Hak Cipta. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Hak Cipta menyebutkan “Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.”

Selanjutnya, sebagaimana telah dicantumkan dalam Pasal 4 Undang- Undang Hak Cipta, yaitu Hak Cipta merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Berkaitan dengan hak ekonomi, pemanfaatan ekonomi suatu karya cipta yang dapat dilisensikan kepada pihak lain, agar pihak lain tersebut dapat menikmati manfaat ekonomi dari suatu ciptaan.

Lisensi adalah suatu bentuk pemberian izin untuk memanfaatkan suatu hak atas kekayaan intelektektual yang dapat diberikan oleh pemberi lisensi kepada penerima lisensi agar penerima lisensi dapat melakukan suatu bentuk kegiatan usaha, baik dalam bentuk teknologi atau

1. Gautama, S. Segi-segi Hukum Hak Milik Intelektual. (Jakarta, Eresco, 1990)

(3)

pengetahuan (knowhow) yang dapat dipergunakan untuk memproduksi menghasilkan, menjual, atau memasarkan barang tertentu, maupun yang akan dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan jasa tertentu, dengan mempergunakan hak kekayaan intelektual yang dilisensikan tersebut2 untuk keperluan tersebut penerima lisensi diwajibkan untuk memberikan kontraprestasi dalam bentuk pembayaran royalti yang dikenal juga dengan license fee3. Pengaturan mengenai pengelolaan hak cipta musik, ditemukan bahwa hak-hak khusus pencipta atau penerima hak, seperti: diatur dalam UUHC4 harus dihormati, jadi semuanya atau tubuh menggunakan musik dan lagu atau sebagai perusahaan atau sebagai bagian dari komersial, harus mendapatkan izin dan membayar royalti pencipta dan yang menerima5.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan industri musik terbesar di Asia Tenggara telah meratifikasi berbagai macam konvensi internasional menjadi hukum nasional yang bersifat mengikat bagi seluruh warga negaranya, disamping itu Indonesia juga telah melahirkan hukumnya sendiri mengenai hak cipta yang melibatkan Lembaga Legislatif bersama Lembaga Eksekutif, juga para pakar di bidang yang terkait. Ditambah dengan perkembangan dari ekonomi industri ke ekonomi kreatif ini disikapi oleh pemerintah

diberbagai negara berkembang untuk mengembangkan masyarakatnya yang berbasis kreativitas dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih sustainable dibandingkan ekonomi industri yang sudah sangat

bergantung pada resource.6

Menurut Gatot Soepramono, seseorang yang menciptakan sesuatu merupakan hasil karya ciptaannya pada umumnya selain untuk digunakan sendiri, juga kemudian diperbanyak untuk dapat dimanfaatkan kepada

2. Munandar, H., & Sitanggang, S. Mengenal Hak Kekayaan Intelektual. Hak Cipta, Paten, Merek, Dan Seluk Beluknya, (Esensi, Jakarta. 2008)

3. Widjaja, G. Seri Hukum Bisnis Lisensi. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001)

4. Muhammad Firmansyah. Tata Cara Mengurus HaKI Hak atas Kekayaan Intelektual. (Jakarta:

Visimedia, 2008)

5. Hasibuan, O. Hak cipta di Indonesia: tinjauan khusus, hak cipta lagu, neighbouring rights, dan collecting society. (Jakarta, Alumni. 2008)

6. Audah, H. Hak Cipta dan Karya Cipta Musik. (Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa. 2004)

(4)

orang lain. Sebuah hasil karya cipta biasanya dapat diperbanyak oleh orang lain karena orang yang menciptakan kemampuannya terbatas, sehingga tidak mampu dikerjakan sendiri dalam jumlah yang banyak sesuai permintaan masyarakat.7

Mengingat banyaknya pencipta lagu yang sangat berbakat tentu hal ini memiliki implikasi dalam dunia hukum dengan tujuan melindungi para pencipta lagu tersebut dari kejahatan dalam dunia Hak Kekayaan Intelektual karena Hak Kekayaan Intelektual ini sangat rentan dalam hal plagiasi, pencurian, pengklaiman oleh pihak lain.

Dalam penegakan hukum dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia khususnya Hak Cipta, tidak selalu berjalan mulus karena tidak sedikit kasus yang dapat kita lihat dalam praktiknya. Salah satu contohnya pada kasus Ahmad Dhani dengan Once Mekel yang baru-baru ini viral di media sosial. Peneliti tertarik membahas topik tersebut untuk mengetahui bagaimana penyelesaian masalah tersebut.

B. Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaturan tentang royalti terhadap karya cipta lagu dalam sudut pandang hukum di Indonesia?

2. Bagaimana pandangan Mahasiswa dan Dosen FH Trisakti tentang penggunaan karya cipta lagu milik orang lain tanpa pembayaran royalti?

3. Apakah pandangan Mahasiswa dan Dosen FH Trisakti terhadap penggunaan karya cipta lagu milik orang lain tanpa adanya

pembayaran royalti sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu Undang-Undang No. 28 Tahun 2018?

7. Supramono, G. Hak cipta dan aspek-aspek hukumnya. (Jakarta: Rineka Cipta. 2010)

(5)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Menggambarkan pengaturan tentang royalti dalam penggunaan karya cipta milik orang lain berupa lagu yang ditinjau dari sudut pandang hukum di Indonesia.

2. Mengetahui pandangan masyarakat FH Trisakti terhadap penggunaan karya milik orang lain berupa lagu tanpa adanya pembayaran royalti terhadap karya cipta yang dimaksud.

3. Mengetahui kesesuaian/ketidaksesuaian ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dari pandangan masyarakat FH Trisakti terhadap penggunaan karya cipta lagu milik orang lain tanpa pembayaran royalti.

D. Metode Penelitian 1. Tipe Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, tipe penelitian dari penelitian ini adalah :

a. Tipe penelitian untuk permasalahan pertama adalah tipe penelitian normatif. Penelitian normatif adalah Penelitian hukum normatif merupakan studi dokumen, yang menggunakan sumber-sumber berupa peraturan perundang-undangan, keputusan/ketetapan pengadilan, kontrak/perjanjian, teori hukum, beserta pendapat para sarjana termasuk penelitian Pustaka yang mengkaji studi dokumen menggunnakan berbagai data sekunder seperti peraturan

Perundang-Undangan, Keputusan Pengadilan, Teori Hukum, dan sebagainya.

(6)

b. Tipe penelitian untuk permasalahan kedua adalah tipe penelitian empiris. Penelitian empiris adalah penelitian yang menggunakan fakta-fakta empiris yang diambil dari perilaku manusia, baik perilaku verbal yang didapat dari wawancara maupun perilaku nyata yang dilakukan melalui pengamatan langsung.

c. Tipe penelitian untuk permasalahan ketiga adalah campuran yaitu normatif dan empiris. Tipe penelitian ini mengkaji pelaksanaan ketentuan hukum positif dan dokumen tertulis pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi.

2. Sifat Penelitian (DIJELASKAN TIAP RUMUSAN MASALAH MENGGUNAKAN SIFAT PENELITIAN YANG MANA)

Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan eksploratif. Sifat penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya. Tujuan dari penelitian deskriptif yakni untuk mempertegas hipotesa-hipotesa yang mana untuk membantu memperkuat teori-teori lama untuk menyusun teori-teori baru

Sifat penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah ini berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan oleh penulis dalam rumusan masalah yaitu sebagai berikut :

a. Sifat penelitian untuk permasalahan pertama adalah penelitian yang bersifat deskriptif;

b. Sifat penelitian untuk permasalahan kedua adalah penelitian yang bersifat eksploratif;

c. Sifat penelitian untuk permasalahan ketiga adalah penelitian yang bersifat eksploratif.

3. Data yang digunakan (DIJELASKAN TIAP RUMUSAN MASALAH MENGGUNAKAN DATA SEPERTI APA)

(7)

Data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini dapat diuraikan berdasarkan masing-masing rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu sebagai berikut :

a. Untuk permasalahan pertama, penulis menggunakan data sekunder.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan-bahan Pustaka yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Data sekunder dibagi menjadi :

 Berbahan hukum primer

Data sekunder berbahan hukum primer dalam rumusan masalah pertama ini merupakan data yang berbahan hukum berupa peraturan perundang-undangan atau peraturan mengikat lainnya. Data sekunder berbahan hukum primer yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan Peraturan Pemerintah nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau musik;

 Berbahan hukum sekunder

Data sekunder berbahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang ditemukan melalui studi kepustakaan (literature research), buku-buku, jurnal, naskah akademik dan

sebagainya;

 Berbahan hukum tersier

Data sekunder berbahan hukum tersier adalah data yang memberikan petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang meliputi kamus dan

ensiklopedia.

b. Untuk permasalahan kedua, penulis menggunakan data primer. Data primer adalah data yang merupakan fakta-fakta yang diperoleh secara langsung dari sumber data yang bersangkutan yaitu dari para mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah HAKI Fakultas

(8)

Hukum Universitas Trisakti dan dosen yang pernah menjadi praktisi hukum dan/atau yang mengajar di bidang HAKI atau hukum bisnis.

c. Untuk permasalahan ketiga, penulis menggunakan data primer dan sekunder berbahan hukum primer, sekunder, dan/atau tersier.

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : a. Data Primer

Data primer adalah data yang merupakan fakta-fakta yang diperoleh secara langsung dari sumber data yang bersangkutan yaitu dari para mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah HAKI dan dosen yang pernah menjadi praktisi hukum / Dosen yang mengajar di bidang HAKI atau Hukum Bisnis

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bahan-bahan Pustaka yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Data sekunder dibagi menjadi :

1) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan atau peraturan mengikat lainnya. Dalam hal ini yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

2) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang ditemukan dalam literatur, buku-buku, jurnal, naskah akademik, dan sebagainya.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier adalah data yang memberikan petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang meliputi kamus dan ensiklopedia.

4. Cara Memperoleh Data

Dalam mengumpulkan data untuk mendapatkan penjelasan mengenai pokok permasalahan, penulis memperoleh data sebagai berikut:

(9)

1) Untuk rumusan masalah pertama diperoleh dengan cara pengumpulan data sekunder melalui studi kepustakaan.

2) Untuk rumusan masalah kedua diperoleh dengan cara pengumpulan data primer melalui wawancara/angket atau kuisioner/observasi terhadap mahasiswa yang sedang mengikuti mata kuliah HAKI yaitu sebagai berikut :

a. Hendrianto Rozaq

b. Muhammad Hasya Ghani

c. Muhammad Yusuf Diko Prasetyo d. Muhammad Adrian Ilham Ramadhan e. Melinda

Selain itu pengumpulan data juga dilakukan melalui wawancara kepada dosen yang pernah menjadi praktisi hukum/ dosen yang mengajar di bidang HAKI atau Hukum Bisnis dalam hal ini Bapak Dr. Asep Iwan Irawan, S.H.,M.H. Populasi yang telah disebutkan diatas telah dipilih menggunakan Teknik sampling, yaitu

Purposive Sampling design. (DISERTAKAN POPULASINYA BESERTA TEKNIK SAMPLINGNYA)

3) Untuk rumusan masalah ketiga diperoleh dengan metode penelitian hukum Normatif yang diselaraskan dengan Empiris.

5. Cara Menganalisis Data

Cara mengolah dan menganalisis data menggunakan cara pengolahan Data Kualitatif, dianalisis secara deskriptif dan eksploratif. Metode

kualitatif adalah analisis data dengan lebih menekankan pada kualitas atau isi dari data tersebut, melalui data sekunder pendekatan kualitatif tersebut sebenarnya merupakan tata cara penelitan yang menghasilkan data deskriptif.

6. Cara Penarikan Kesimpulan

Cara penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh peneliti yaitu, penarikan kesimpulan secara deduktif. Penarikan kesimpulan secara deduktif adalah

(10)

metode yang digunakan untuk menyimpulkan suatu hasil penelitian dari yang bersifat umum (abstrak) menjadi bersifat khusus (konkret). Metode ini dilakukan dengan cara menganalisis pengertian-pengertian atau konsep-konsep umum, antara lain mengenai pengertian dan konsep tentang perlindungan hak cipta dan hak terkait serta lisensi dan royalti hingga pada jawaban atas permasalahan. Pembahasan terhadap konsep yang sifatnya umum akan dianalisis secara khusus menggunakan Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

E. Kerangka konsepsional

Kerangka konsepsional, merupakan suatu kerangka yang

menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti. 8 Kerangka konsepsional termasuk suatu pengarah maupun pedoman yang terdiri atas konsep-konsep yang terdiri atas definisi-definisi operasional yang menjadi pegangan konkret dalam suatu penulisan.9

Hak atas Kekayaan Intelektual (“HaKI”) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (“IPR”), sebagaimana diatur dalam undang- undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan WTO (Agreement Establishing The World Trade Organization). Pengertian IPR sendiri adalah pemahaman mengenai hak atas kekayaan yang timbul dari

kemampuan intelektual manusia, yang mempunyai hubungan dengan hak seseorang secara pribadi.

HaKI adalah hak eksklusif yang diberikan suatu hukum atau peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Pada intinya HaKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HaKI adalah karya-karya yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Setiap hak yang digolongkan ke dalam HaKI harus mendapat kekuatan hukum atas karya atau ciptannya. Berikut merupakan prinsip-prinsip Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) adalah sebagai berikut :

8. Soerjono Soekanto, Op.Cit., h. 68

9 Soerjono Soekanto, Ringkasan Metodologi Hukum Empiris, (Jakarta: Indonesia Hill-Co, 1990)

(11)

1. Prinsip Ekonomi

Dalam prinsip ekonomi, hak intelektual berasal dari kegiatan kreatif dari daya pikir manusia yang memiliki manfaat serta nilai ekonomi yang akan member keuntungan kepada pemilik hak cipta.

2. Prinsip Keadilan

Prinsip keadilan merupakan suatu perlindungan hukum bagi pemilik suatu hasil dari kemampuan intelektual, sehingga memiliki kekuasaan dalam penggunaan hak atas kekayaan intelektual terhadap karyanya.

3. Prinsip Kebudayaan

Prinsip kebudayaan merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan, sastra dan seni guna meningkatkan taraf kehidupan serta akan memberikan keuntungan bagi masyarakat, bangsa dan Negara.

Berdasarkan permasalahan yang diangkat, objek yang dibahas

merupakan lagu yang dalam HaKI tergolong dalam Hak Cipta. Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta untuk mengumumkan atau

memperbanyak ciptaannya. Termasuk ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra dan seni.

Hak cipta diberikan terhadap ciptaan dalam ruang lingkup bidang ilmu pengetahuan, kesenian, dan kesusasteraan. Hak cipta hanya diberikan secara eksklusif kepada pencipta, yaitu “seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya lahir suatu ciptaan

berdasarkan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan atau keahlian yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Hak cipta merupakan hak yang termasuk kedalam bagian dari Hukum Kekayaan Intelektual (“HKI”) yang melindungi ciptaan manusia pada lingkup seni, sastra, dan ilmu pengetahuan. Dalam ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta,

(12)

dinyatakan bahwa: “Hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi

pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Tujuan dari hak cipta ialah untuk melindungi hak pembuat dalam mendistribusikan, menjual atau membuat turunan dari karya yang dibuat. hak ekonomi merupakan hak untuk mendapatkan manfaat

ekonomi atas ciptaan serta produk hak terkait.10Sehubungan dengan hak tersebut terdapat teori yang menjadi dasar pemikiran yaitu the theory of natural law (the natural right). Menurut Arthur R. Miller dan Michael H. Davis teori tersebut berkenaan dengan kekayaan intelektual yang merupakan milik dari pencipta sehingga menjadi adil apabila pencipta diberikan perlindungan terhadap setiap hak yang melekat pada ciptaannya.11

Royalti bertujuan untuk memberikan perlindungan dan kepastian kepada pencipta dan pemilik hak terkait atas ciptaan yang

dipergunakan untuk memperoleh keuntungan. Prosedur penarikan, penghimpunan, dan pendistribusian royalti dikenakan kepada suatu karya lagu dan/atau musik yang digunakan secara komersial

sebagaimana telah diatur dalam PP No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik.12

Adanya royalti ini untuk melindungi hak ekonomi13 dimana nantinya pencipta atau pemilik hak terkait akan mendapat bayaran atau manfaat ekonomi atas karya lagu dan/atau musik dari mereka

10. Hendra Tanu Atmadja, “Konsep Hak Ekonomi dan Hak Moral pencipta Menurut Sistem Civil Lawdan Common Law”, JURNAL HUKUM, Vol. 10, No. 23, 2003, hlm. 154.

11. Prasetyo Hadi Purwandoko dan M. Najib Imanullah, “Application Of Natural Law Theory (Natural Right) To Protect The Intellectual Property Rights”, Yustisia, Vol. 6, No. 1, 2017, hlm. 143.

12. Nafisah Muthmainnah, Praxedis Ajeng Pradita, Cika Alfiah Putri Abu Bakar, Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Bidang Lagu dan/atau Musik Berdasarkan PP Nomor 56 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik, Bandung : Padjajaran Law Reviw, h. 2

13. Stim, Richard (2001), Intellectual Property : Patens, Trademarks, and Copyright. Thomson, Newyork

(13)

yang menggunakan karya tersebut untuk hal yang bersifat komersial.

Pengguna yang bersifat komersial dan memperoleh keuntungan akan dikenakan pembayaran royalti kepada pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik.

Alasan dikeluarkannya peraturan tersebut adalah untuk menanggapi banyaknya keluhan serta menyikapi pentingnya pemberian perlindungan kepada pencipta dan pemilik hak terkait atas lagu dan/atau musik.

Beberapa pencipta lagu dan/atau musik sering kali tidak mendapatkan royalti namun karyanya digunakan dan didengarkan baik untuk komersial maupun hiburan hingga saat ini. Payung teduh merupakan contoh grup musik yang tidak mendapatkan royalti dari kegiatan menjual atau membuat turunan atas karya lagu yang diciptakan.

Istilah cover version dari sebuah lagu dapat diartikan sebagai

menyanyikan lagu dari artis atau penyanyi terkenal tanpa mengubah lirik dan lagu aslinya. Perlindungan hak cipta adalah untuk produk ciptaan yang sudah ada, tidak mengacu pada “Konsep” atau pengetahuan yang

diperoleh dari produk ciptaan.14

Melihat ketentuan Pasal 1 angka 1 PP No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik dinyatakan bahwa “Royalti adalah imbalan atas pemanfaatan hak ekonomi suatu ciptaan atau produk hak terkaityang diterima oleh pencipta atau pemilik hak terkait.”Pembayaran royalti dilakukan oleh setiap pengguna lagu dan/atau musik”

Berdasarkan pernyataan diatas, maka Adapun beberapa definisi dan konsep yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin

14. Santos, G., Doiro, M., Félix, M. J., Mandado, E., Sá, J. C., Gonçalves, J., & Teixeira, P.

(2020). On the concept of an integrated and lean model of product development proposed for intellectual property creation and competitive economies. New york, 2021

(14)

untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasanpembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan

kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

3. Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra.

4. Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut.

5. Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran, atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apapun baik elektronik atau non elektronik atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain.

6. Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif bagi Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan

pertunjukannya; bagi Produser Rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya; dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau menyiarkan karya siarannya.

7. Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu.

F. Pembahasan

1. Pengaturan Royalti menurut Hukum di Indonesia

Zaman yang terus berkembang mendorong teknologi juga

mengikuti arus perkembangan hingga tercipta kecerdasan buatan atau

(15)

artificial intelligence (AI) untuk karya seni, termasuk musik, belakangan jadi perdebatan. Apalagi, teknologi itu kini mampu menciptakan lagu dengan suara tokoh-tokoh tertentu. Salah satunya adalah rapper asal Amerika Serikat, Travis Scott, yang baru-baru ini suaranya dipakai untuk sebuah album musik buatan AI. Diketahui, sebanyak 16 lagu masuk ke album berjudul "UTOP-AI" tersebut.

Selain Travis Scott15, ada juga vokal dari beberapa nama seperti Drake, Baby Keem, dan Playboi Carti. Sehingga membuat kebingungan mengenai pengaturan pembayaran royalti dan pengaturan Hak Cipta tersebut.

Vice melaporkan album itu sudah diunggah ke platform YouTube dan SoundCloud. Album lagu AI ini diketahui sempat mendapatkan 17 ribu kali pemutaran di YouTube dan 150 ribu kali diputar di

SoundCloud, sebelum akhirnya dihapus oleh Warner Music Group karena pelanggaran hak cipta. Moderator AI Hub, server Discord khusus produser musik buatan AI, mengatakan kepada Insider melalui email, bahwa proyek itu awalnya adalah candaan antara dirinya dengan admin lain di server tersebut bernama Rec. Album lagu AI ini bahkan menyertakan visual, serta membutuhkan waktu sekitar sepekan untuk pembuatannya.

Seorang pencipta ataupun juga bagi para pemegang dari suatu hak terkait dengan hasil karya yang diciptakan berupa seni, ilmu

pengetahuan, atau keduanya dapat dikatakan memiliki hak cipta, yang merupakan hak pribadi, hak material yang secara eksklusif menjadi milik mereka.16

Hak cipta, juga dikenal sebagai hak eksklusif yang timbul dari daya kreasi individu, baik melalui "proses berpikir" maupun "proses

15. Pakai Suara Travis Scott, Album Lagu Buatan AI Dihapus dari YouTube dan SoundCloud (online), tersedia di: https://www.liputan6.com/tekno/read/5274237/pakai-suara-travis-scott- album-lagu-buatan-ai-dihapus-dari-youtube-dan-soundcloud?page=3 (28 November 2023) 16. Kusumaningtyas, Rindia Fanny. “Perkembangan Hukum Jaminan Fidusia Berkaitan dengan Hak Cipta.” Pandecta Research Law Journal, Vol. 11 No. 1 (2016). 103.

(16)

perasaan," termanifestasi dalam bentuk karya konkret atau abstrak.

Seorang individu harus melewati proses yang melibatkan waktu yang cukup lama untuk menciptakan karya yang memiliki kualitas dan nilai tinggi; kreativitas tidak dapat dicapai secara instan. Oleh karena itu, memberikan hak eksklusif dan penghargaan kepada pencipta hak cipta menjadi langkah yang masuk akal.

Adanya kerangka hukum yang dapat diterima oleh pemilik hak cipta sangat penting untuk memotivasi penulis agar terus berkreasi, mendukung pengembangan karya baru, dan menghidupkan sektor ekonomi di Indonesia. Ketika melihat pengalaman negara-negara industri, perlindungan hak cipta yang efektif dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor kreatif, memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Dengan diabaikannya hak eksklusif yang dimiliki oleh pencipta atau tidak diterapkannya, diasumsikan sebagai tindakan pelanggaran terhadap hak cipta. "Hak untuk menyalin atau mereproduksi sebuah karya yang sudah ada sebelumnya, yang kemudian dapat dijual kembali, merupakan hak eksklusif dari pemilik hak cipta." Pencipta yang memiliki hak cipta atas karyanya juga memiliki hak dan kebebasan untuk mendistribusikan karyanya, menampilkan dan memamerkannya kepada publik, menjual, atau mentransfer hak dari karya tersebut. Ini mengindikasikan bahwa pemilik hak cipta dapat dan memiliki hak untuk memonopoli, terutama bagi pencipta asli dari suatu karya yang berhak dan mampu memanfaatkannya.

Jika suatu karya dikategorikan sebagai musik, karya tersebut dilindungi oleh hak cipta meskipun bersifat tak berwujud. Proses penciptaan lagu dan musik tidaklah sederhana karena melibatkan proses berpikir yang panjang agar pencipta dan pemilik hak dapat memiliki hak ekonomi ketika karya tersebut dipublikasikan. Hak cipta dianggap sebagai hak ekonomi, yang melibatkan hak pencipta untuk

(17)

menerima manfaat finansial dari karya produksinya serta hasil dari hak-hak terkait. Hak-hak seperti distribusi, adaptasi, reproduksi, dan komunikasi semuanya termasuk dalam hak ekonomi tersebut. Hak reproduksi adalah hak legal bagi pencipta untuk mereproduksi karyanya, yang menjadi elemen penting untuk memahami hak

ekonomi sang pencipta. Dalam penggandaan atau reproduksi ini, dapat dilakukan dengan cara tradisional maupun menggunakan peralatan modern.

Hak untuk mengadaptasi suatu karya seni mencakup kemampuan untuk mengubahnya sesuai dengan gaya musik yang berbeda,

menerjemahkannya ke dalam bahasa lain, dan lainnya. Baik Konvensi Universal maupun Konvensi Berne mencakup semua elemen ini yang dijelaskan di atas. Hak distribusi adalah hak berikutnya, merujuk pada kemampuan seniman untuk membuat karyanya tersedia untuk

khalayak yang lebih luas melalui penyewaan, penjualan, atau

pengaturan lainnya, dengan harapan karya tersebut akan dikenal secara luas.

Regulasi mengenai kewajiban pembayaran royalti untuk lagu dan/atau musik terdapat dalam Pasal 80 ayat (3) UUHC, yang

esensinya menetapkan bahwa penerima lisensi harus menyediakan atau membayar pemilik hak cipta sejumlah royalti tertentu. Penting dicatat bahwa ayat (4) mengatur jumlah royalti yang harus dibayarkan kepada pemegang hak cipta penerima lisensi; meskipun demikian, pihak-pihak dapat sepakat untuk jumlah yang berbeda.

Pemerintah telah mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik. Dalam Pasal 1 angka 3, pengelolaan royalti hak cipta lagu dan/atau musik diartikan sebagai "penarikan, penghimpunan, dan pendistribusian royalti." Peraturan ini bertindak sebagai tindak lanjut terhadap UUHC dalam Pasal 87, 89, dan 90 untuk memastikan adanya

(18)

regulasi khusus terkait pengelolaan royalti pada lagu dan musik.

Orang-orang di bawah ini adalah para pemilik hak perbanyakan diantaranya seperti, Penulis lirik, Komposer dan Publisher. Untuk melahirkan karya musik atau lagu diperlukan pengorbanan tenaga, pikiran, biaya dan waktu yang tidak sedikit, sehingga kepada pencipta lagu atau komposer diberikan hak eksklusif untuk jangka waktu tertentu mengeksploitasi ciptaan atau karyanya. Dan untuk sahnya pengalihan ciptaan, hukum memberi fondasi berupa perjanjian lisensi yang harus dibuat secara tertulis dan khusus untuk itu. Lisensi merupakan suatu izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta kepada siapapun, baik untuk mengumumkan maupun

memperbanyak ciptaannya. Sesuai yang tercantum dalam pasal 82 Undang-Undang Hak Cipta yaitu perjanjian lisensi dilarang memuat ketentuan yang mengakibatkan kerugian perekonomian Indonesia. Isi perjanjian lisensi dilarang bertentanga dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perjanjian lisensi dilarang menjadi sarana untuk menhilangkan atau mengambil alih seluruh hak pencipta atas ciptaannya.Menurut Pasal 89 Undang-Undang Hak Cipta, untuk pengelolaan royalti hak cipta di bidang lagu dan/atau musik dibentuk dua Lembaga Manajemen Kolektif Nasional yang masing-masing merepresentasikan keterwakilannya.

Meskipun UUHC memberikan kerangka umum, regulasi lebih rinci tentang pengelolaan royalti dalam industri lagu dan musik tidak

dijelaskan secara tuntas. Untuk menjaga kelangsungan hak cipta dalam jangka panjang pada industri tersebut, pemerintah memandang perlu adanya undang-undang ini. Sesuai dengan UUHC, Menteri

membentuk LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional) sebagai lembaga non-APBN yang memberikan bantuan dan mengelola royalti.

LMKN bertanggung jawab atas pengelolaan royalti dari semua lagu dan musik yang terdaftar di pusat data yang dikelola oleh Direktorat

(19)

Jenderal. Selain itu, LMKN juga bertanggung jawab atas pembayaran royalti kepada pemilik hak, pemegang hak cipta, dan pencipta yang terkait dengan lagu dan/atau musik.

Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 87, Pasal 89, dan Pasal 90 UUHC, sebagaimana disebutkan dalam pertimbangan, menghasilkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 (PP 56/2021) sebagai upaya maksimal dalam mengelola royalti dari hak cipta musik dan lagu. PP ini, sebagaimana diuraikan dalam Pasal 1 angka 10, mendefinisikan LMK sebagai "institusi berbentuk badan hukum nirlaba yang memiliki wewenang dari pemegang hak cipta, pemilik hak terkait, dan pemegang hak cipta untuk mengelola hak ekonominya dengan mengumpulkan dan mendistribusikan royalti." Sementara itu, pada angka 11 pasal yang sama, LMKN didefinisikan sebagai

"lembaga yang dibentuk oleh Menteri berdasarkan UU Hak Cipta, merupakan lembaga bantu pemerintah non-APBN dengan kewenangan menarik, mengumpulkan, mendistribusikan royalti, serta mengelola hak ekonomi pemilik hak terkait dan pencipta di bidang musik dan/atau lagu."

2. Pandangan mahasiswa dan dosen FH Universitas Trisakti tentang penggunaan karya cipta lagu milik orang lain tanpa pembayaran royalti

Berdasarkan penjelasan mengenai Hak cipta dan pembayaran Royalti sebelumnya. Penulis melakukan survei kepada masyarakat Fakultas Hukum Universitas Trisakti khsusnya Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti yang memberi pandangan-pandangan pribadi mengenai penggunaan karya cipta lagu milik orang lain tanpa pembayaran royalti. Hasil dari survei tersebut adalah sebagai berikut:

(20)

a) Platf orm

Musik yang Sering Digunakan Statistik 2.1

Berdasarkan statistik tersebut, mahasiswa FH Universitas Trisakti 90% persen menggunakan platform Spotify untuk streaming musik atau lagu secara online dan 10% lainnya merupakan pengguna Youtube music yang merupakan platform lainnya dari youtube b) Menurut anda, apakah pembayaran royalti dalam penggunaan

karya cipta lagu itu penting? sertakan alasannya!

Hak Ekonomi Sebagai penghormatan

Statistik 2.2

Menurut masyarakat Universitas Trisakti, pembayaran royalti dalam penggunaan karya cipta lagu merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan, dengan 50% suara mempertegas pentingnya

pembayaran royalti karena royalti tersebut merupakan hak ekonomi

Spotify Youtube music

(21)

yang harus didapatkan oleh pencipta lagu sedangkan 50% lainnya mempertegas bahwa pembayaran royalti merupakan suatu bentuk untuk menghargai ciptaan itu sendiri beserta dengan penciptanya.

c) Sejauh mana pemahaman anda tentang hak cipta dalam konteks penggunaan lagu di berbagai media, seperti YouTube, TikTok?

cukup baik tidak terlalu signifikan

Statistik 2.3

Berdasarkan data yang diperoleh 50% responden menjawab

pemahamannya cukup baik mengenai hak cipta dan dapat menjelaskan alur pendapatan royalti dan hak cipta melalui platform yang berfokus di musik atau lagu. Sedangkan 50% lainnya mengatakan tidak terlalu signifikan memahami mengenai hak cipta maupun royalti pada lagu.

d) Apabila anda seorang musisi dan karya cipta lagu anda digunakan pihak lain tanpa seizin anda dan tanpa pembayaran royalti,

bagaimana sikap anda menanggulangi masalah tersebut?

(22)

Diselesaikan jalur damai laporan/gugatan

Statistik 2.4 Berdasarkan data yang diperoleh 70% responden menyetujui untuk diselesaikan lewat jalur damai dan kekeluargaan sedangkan 30%

persen lainnya memilih untuk melaporkan atau mengajukan gugatan atas pelanggaran hak cipta dan royalti tersebut.

e) Menurut anda, apakah pembayaran suatu royalti terhadap karya cipta lagu itu wajib meskipun terdapat beberapa pemilik karya?

Wajib tidak wajib

Statistik 2.5

Mengenai kewajiban pembayaran royalti ini 20% responden setuju bahwa pembayaran royalti ini tidak menjadi suatu kewajiban apabila pencipta tidak mempermasalahkan hal tersebut, tetapi terlihat cukup signifikan 80% responden lainnya sepakat bahwa pembayaran royalti dan kepentingan hak ekonomi berupa royalti

(23)

atas suatu karya lagu merupakan sesuatu yang wajib diberikan kepada pencipta karya.

f) Seiring perkembangan teknologi, penggunaan AI (Artificial Intelligence) pun semakin meningkat, Berikan pandangan anda terkait maraknya cover lagu menggunakan sistem AI ini di platofrm-platform media sosial seperti TikTok, Instagram,

Youtube, Spotify, dan platform social media atau Streaming music lainnya. Apakah hal tersebut diperbolehkan tanpa adanya

pembayaran sejumlah royalti kepada pemilik karya cipta?

Tidak Boleh Boleh

Statistik 2.6 Responden yang sepakat mengatakan tidak terdapat masalah atau boleh saja penggunaan AI ini sepakat bahwa hal tersebut tidak masalah apabila memiliki tujuan komersial sedangkan untuk responden lainnya sepakat tidak diperbolehkan apabila tanpa adanya pembayaran royalti dan bersepakat bahwa pembayaran royalti diwajibkan.

Berdasarkan pemaparan data responden masyarakat Fakultas Hukum Universitas Trisakti, dapat dipahami beberapa poin bahwa dari segi pandangan masyarakat penegakan hukum mengenai hak cipta dan pembayaran royalti merupakan sesuatu yang penting dan wajib dalam berbagai keadaan apapun tanpa terkecuali sebagai

(24)

suatu bentuk tanda penghormatan dan menghargai ciptaan lagu oleh pencipta lagu.

3. Pandangan ahli terhadap penggunaan karya cipta lagu milik orang lain tanpa pembayaran royalti

Responden-responden dari masyarakat Fakultas Hukum

Universitas Trisaksi mayoritas sudah tergolong peduli dan turut aktif menyampaikan pendapat bahwa penegakan hak cipta dan pembayaran royalti sangat penting. Maka selain itu penulis mewawancarai ahli yaitu Bapak Dr. Asep Iwan Iriawan, SH., MH. Selaku Dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti.

Menurut beliau pembayaran royalti sangat penting, karena lagu merupakan suatu karya ciptaan yang sangat esensial bagi penciptanya dan tidak semua orang dapat menciptakan lagu sehingga pembayaran royalti itu sebagai bentuk apresiasi apabila konsumen ingin

menggunakan karya cipta lagu tersebut. Untuk kepatuhan sendiri pada saat ini belum ada kepatuhan secara utuh pada praktik Masyarakat yang menggunakan karya ciptaan lagu, sebab banyak tempat usaha yang memutar lagu-lagu milik orang lain tanpa membayar royalti.

Bila terdapat karya cipta lagu anda digunakan pihak lain tanpa seizin anda dan tanpa pembayaran royalti, pengusahaan penyelesaian dapat dilalui diluar pengadilan, tetapi apabila tidak selesai maka saya akan menempuh tata cara penyelesaian litigasi. Untuk pembayaran royalti atas karya cipta lagu bukan sebuah kewajiban jika Pencipta atau pemilik karya cipta tersebut tidak mempermasalahkan pembayaran royalti tersebut.

A. Penutup

1. Kesimpulan (UNTUK PERMASALAHAN PERTAMA DISIMPULKAN TIAP RESPONDEN, BEGITU JUGA PERMASALAHAN KEDUA DAN KETIGA)

(25)

Subjek royalti terkait hak cipta dalam industri lagu dan/musik merujuk pada setiap individu yang menggunakan lagu dan/atau musik dalam konteks layanan publik yang memiliki unsur komersial, dengan dasar perjanjian lisensi yang dapat dikecualikan, terutama ketika digunakan untuk pertunjukan. Sementara itu, objek royalti adalah layanan publik dengan sifat komersial, sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (2) PP No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/Musik. Prosedur penarikan, penghimpunan, dan pendistribusian royalti dirancang dengan tujuan melindungi hak ekonomi para pencipta atau pemegang hak cipta dan pemilik hak terkait. Proses ini dimulai dengan pengguna atau pengguna layanan yang melakukan pembayaran berdasarkan tarif dasar royalti yang telah ditetapkan.

Tanggapan dari masyarakat Fakultas Hukum Universitas Trisakti dan juga tanggapan Ahli sama-sama mengedepankan pentingnya penegakan hukum dan perlindungan hukum atas suatu lagu mengenai perihal hak cipta dan pembayaran royalti yang sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Dan sepakat bahwa penegakan atas hak cipta dan royalti tersebut merupakan suatu bentuk penghormatan dan menghargai pencipta lagu.

Dapat disimpulkan berdasarkan data hasil survei bahwa pandangan dari Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Trisakti dan juga

pandangan ahli dimana pandangan mereka mengedepankan pentingnya penegakan hukum dan perlindungan hukum atas suatu penggunaan karya cipta lagu terkait dengan hak cipta dan pembayaran royalty.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pandangan Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Trisakti dan pandangan ahli sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Gautama, S. (1990). Segi-segi Hukum Hak Milik Intelektual. Eresco.

Munandar, H., & Sitanggang, S. (2008). Mengenal Hak Kekayaan Intelektual. Hak Cipta, Paten, Merek, Dan Seluk Beluknya, Esensi, Jakarta.

Widjaja, G. (2001). Seri Hukum Bisnis Lisensi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Muhammad Firmansyah. (2008). Tata Cara Mengurus HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual). Jakarta : Visimedia

Hasibuan, O. (2008). Hak cipta di Indonesia: tinjauan khusus, hak cipta lagu, neighbouring rights, dan collecting society. Alumni.

Audah, H. (2004). Hak Cipta dan Karya Cipta Musik. Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa.

Supramono, G. (2010). Hak cipta dan aspek-aspek hukumnya. Jakarta:

Rineka Cipta.

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: 2021) Soerjono Soekanto, Ringkasan Metolodogi Hukum Empiris, Jakarta:

Indonesia Hill-Co, 1990)

Nafisah Muthmainnah, Praxedis Ajeng Pradita, Cika Alfiah Putri Abu Bakar, Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Bidang Lagu dan/atau Musik Berdasarkan PP Nomor 56 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik, Bandung : Padjajaran Law Reviw

(27)

Hendra Tanu Atmadja, “Konsep Hak Ekonomi dan Hak Moral pencipta Menurut Sistem Civil Lawdan Common Law”, JURNAL HUKUM, Vol. 10, No. 23, 2003

Prasetyo Hadi Purwandoko dan M. Najib Imanullah,

“Application Of Natural Law Theory (Natural Right) To Protect The Intellectual Property Rights”, Yustisia, Vol. 6, No. 1, 2017 Kusumaningtyas, Rindia Fanny. “Perkembangan Hukum Jaminan Fidusia

Berkaitan dengan Hak Cipta.” Pandecta Research Law Journal, Vol.

11 No. 1 (2016). 103.

Santos, G., Doiro, M., Félix, M. J., Mandado, E., Sá, J. C., Gonçalves, J.,

& Teixeira, P. (2020). On the concept of an integrated and lean model of product development proposed for intellectual property creation and competitive economies.

Stim, Richard (2001), Intellectual Property : Patens, Trademarks, and Copyright. Thomson, Newyork (SESUAI ALPHABET)

Referensi

Dokumen terkait

Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pihak lain yang

Terlihat dari ketentuan Pasal 18 Undang- Undang Hak Cipta yang menyatakan ciptaan buku, dan/atau semua hasil karya tulis lainnya, lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks

Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pihak lain yang

memperbanyak lagu dan/atau musik tanpa adanya izin resmi/lisensi atau dengan melanggar isi perjanjian lisensi yang telah diperoleh dari Pencipta, Pemegang Hak Cipta,

Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Anggoro Dasananto NIP.196412081991031002 REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Dalam rangka