• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN - Repository Unpak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN - Repository Unpak"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

Bab pendahuluan berisi tentang latar belakang penyusunan naskah akademik dan urgensi yang diperlukan oleh Peraturan Gubernur tentang Rencana Induk Pelestarian Budaya Betawi. Oleh karena itu, peran aktif masyarakat baik individu maupun kelompok menjadi penting dalam pelestarian budaya Betawi.

Maksud dan Tujuan

Maksud

Tujuan

Target/Sasaran

Ruang Lingkup/Lokasi Kegiatan

Sehingga diharapkan isi rancangan Peraturan Gubernur tentang Rencana Induk Pelestarian Kebudayaan Betawi selaras dan selaras dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Bab ini memuat pendekatan yang digunakan dalam penyusunan naskah akademik dan penyusunan Raper Gubernur beserta prinsip-prinsip penyusunan Raper Gubernur.

Kerangka Pemikiran dan Pendekatan

Kerangka Pikir

Pendekatan

Berdasarkan uraian di atas, maka secara umum terdapat 2 (dua) asas yang harus diperhatikan dalam menyusun peraturan perundang-undangan, termasuk Rencana Induk Peraturan Gubernur PKB, yaitu: 2. Memperhatikan uraian di atas, pada saat menyusun Rancangan Undang-undang Peraturan Tata Usaha Rencana Induk PKB sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, menggunakan pendekatan hukum atau cara hukum normatif.

Metode Kegiatan

Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

Metode Analisis

Pelaporan

Bab ini memberikan gambaran umum kebudayaan di Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan data yang mencerminkan kondisi empiris kebudayaan Betawi di Provinsi DKI Jakarta. Bab ini memberikan gambaran umum kebudayaan di Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan data yang mencerminkan kondisi empiris kebudayaan di Provinsi DKI Jakarta.

Konsepsi Dasar

Dinamika Masyarakat

Namun ada kalanya bahasa pertama (L1) yang tidak banyak penuturnya mampu menahan pengaruh penggunaan bahasa kedua (L2) yang lebih dominan. Ada juga temuan penelitian yang menunjukkan ketidakberdayaan kelompok imigran minoritas dalam mempertahankan bahasa ibu mereka dalam persaingan dengan bahasa mayoritas yang lebih dominan.

Kebudayaan

Pengayaan merupakan upaya memperluas peran dan pemahaman budaya melalui proses eksperimen, adaptasi, dan adaptasi kreatif, tanpa mengorbankan keasliannya. Revitalisasi merupakan upaya untuk meningkatkan peran dan fungsi unsur-unsur budaya lama yang masih hidup dalam masyarakat dalam konteks baru dengan tetap menjaga keasliannya.

Betawi

12 Ardans menjelaskan bagaimana bahasa Betawi mempengaruhi karya sastra, penggunaan bahasa Betawi dalam sinetron Indonesia, media massa menjadikan bahasa Betawi sebagai gaya hidup dan 'menggeser' bahasa Indonesia. Berdasarkan uraian di atas, pelestarian budaya Betawi penting bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, meskipun jumlah penduduk Betawi sendiri sedikit.

Penduduk dan Budaya

  • Penduduk dan Permasalahannya
  • Dinamika Penduduk
  • Perkembangan dan Perubahan Kebudayaan
  • Hubungan Antara Masalah Penduduk dengan Perkembangan Kebudayaan
  • Hubungan antara Kebudayaan dengan Pendidikan

Berdasarkan prinsip ini, penduduk berpindah dari satu daerah ke daerah lain. http://sitisulziah.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/57398/2.+penbangun-community-dan-kultur.pdf). Segala karya, selera, dan ciptaan dikuasai atas prakarsa masyarakat, yang menentukan kegunaannya agar sesuai dengan kepentingan mayoritas, bahkan seluruh masyarakat. http://sitisulziah.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/57398/2.+penbangun-community-dan-kultur.pdf).

Kebudayaan di Provinsi DKI Jakarta

Berdasarkan ketentuan tersebut, dalam rangka melestarikan kebudayaan Betawi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendirikan Perkampungan Budaya Betawi di Situ Babakan melalui Keputusan Gubernur Nomor 92 Tahun 2000 tentang Peraturan Lingkungan Perkampungan Budaya Betawi di Desa Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa. , Kota Jakarta Selatan. Menariknya, sejak berdirinya Perkampungan Budaya Betawi di Kecamatan Srengseng Sawah pada tahun 2000, infrastruktur menuju kawasan tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan hingga saat ini.

Pengembangan Budaya Betawi Berbasis Kewilayahan

Jl.Belakang Al Barkah Mosque Kp.Tipar No.44 Rt.009/07 Kel.Pondok Kelapa Kec.Duren Sawit.

Aspek Kesenian

Jika dicermati gambaran aspek seninya, maka kontribusi Pemprov DKI Jakarta terhadap pelestarian kebudayaan nasional cukup besar. Namun bukan berarti kesenian daerah lain di Provinsi DKI Jakarta terabaikan; Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memfasilitasi hal tersebut sebagai implikasi dari posisi Jakarta sebagai ibu kota negara. Keinginan Pemprov DKI Jakarta untuk melestarikan budaya Betawi sudah terwujud, namun belum ada tindakan nyata yang ditindaklanjuti.

Aspek Kepurbakalaan dan Permuseuman

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala yang menangani wilayah DKI Jakarta adalah BP3 Serang, dengan wilayah kerja meliputi: Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung. Sementara itu, untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian peninggalan purbakala, Pemprov DKI Jakarta telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan komunitas pemerhati peninggalan purbakala dan sejarah. Sebagai contoh pola penanganan museum di DKI Jakarta adalah Museum Sejarah Jakarta (MSJ).

Aspek Kesejarahan Kota Jakarta

Jayakarta (1527–1619)

Batavia (1619–1942)

Djakarta (1942–1972)

9 Tahun 1999, menjadi pedoman bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dalam pelaksanaan tanggung jawab Gubernur mengenai perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan BCB. PM.13/PW.007/MKP/05 tidak merinci seluruh BCB yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0128/M/1998 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. Di Provinsi DKI Jakarta, Kelompok Ahli Daerah Cagar Budaya disebut Kelompok Pemugaran (TSP), meskipun UU No.

Aspek Kebahasaan dan Kesastraan

Karya sastra lama di DKI Jakarta tidak hanya berasal dari Betawi saja, melainkan juga karya sastra dari daerah lain. Dari uraian di atas terlihat bahwa peran pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam melestarikan bahasa dan sastra Betawi masih terbilang kecil. 32 Tahun 2004 dan kewajiban Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pelestarian kebudayaan Betawi, termasuk pelestarian bahasa dan sastra Betawi, merupakan bagian tugas dan fungsi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersama Dinas Pendidikan.

Nilai-nilai Tradisi

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tradisionalisme merupakan bagian terpenting dalam sistem transformasi nilai-nilai budaya. Artinya proses pewarisan budaya merupakan interaksi langsung (berupa pendidikan) generasi tua dengan generasi muda, berdasarkan nilai dan norma yang berlaku. Mengembangkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang ada dalam budaya Betawi.

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Pembina mengajukan permohonan izin mendirikan bangunan bengkel atau istilah lain untuk pembangunan baru sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RPP) kepada gubernur provinsi, dalam hal ini gubernur. Melaporkan kewajiban-kewajiban yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, termasuk kegiatan pembinaan dan pengawasan terhadap orang-orang yang beriman secara berjenjang. Sedangkan pendanaan pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan pelayanan Pemerhati Iman yang diberikan oleh pemerintah daerah bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. .

Aspek Kepustakaan dan Kenaskahan

43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, adalah lembaga yang mengelola secara profesional koleksi karya tulis, barang cetakan, dan/atau karya rekam dengan sistem yang baku untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, kearsipan, informasi, dan rekreasi pengguna perpustakaan. 4 Tahun 1990 tentang Pemindahtanganan Karya Cetak dan Karya Rekam adalah perpustakaan di ibu kota provinsi yang mempunyai tugas menghimpun, menyimpan, melestarikan dan mempergunakan semua karya cetak dan rekaman yang dihasilkan di daerah. 4 Tahun 1990, barang cetakan adalah segala jenis penerbitan suatu karya intelektual dan/atau seni, yang dicetak dan diperbanyak dalam bentuk buku, majalah, surat kabar, peta, brosur, dan lain-lain, yang ditujukan untuk umum. Sedangkan karya rekaman adalah segala jenis rekaman suatu karya intelektual dan/atau seni, yang direkam dan diperbanyak dalam bentuk kaset, cakram, dan bentuk lain sesuai dengan perkembangan teknologi, yang ditujukan untuk umum.

Aspek Perfilman

Atas delapan aspek persyaratan tersebut di atas, dalam rangka pelestarian budaya, Pemerintah Daerah dapat memproduksi film dokumenter budaya daerah. Selain itu, Pemerintah Daerah juga dapat membuat film semi dokumenter, sejenis film dokumenter. Sesuai dengan uraian di atas, Pemprov DKI Jakarta mempunyai tanggung jawab untuk membuat film dokumenter budaya Betawi.

Tugas dan Kewajiban Pemerintah Daerah

Tugas dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota dalam pelestarian budaya tersebut di atas sepenuhnya menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah Provinsi. Tugas dan kewajiban Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal pelestarian kebudayaan merupakan tugas dan fungsi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Arah pengembangan pelestarian budaya tersebut di atas merupakan bagian dari rencana induk pelaksanaan pelestarian budaya di Provinsi DKI Jakarta.

Hak dan Kewajiban Masyarakat dalam Pelestarian Kebudayaan

  • Kesenian Daerah
  • Kepurbakalaan
  • Kesejarahan dan Kemuseuman
  • Kebahasaan dan Kesusastraan
  • Pelestarian Nilai Tradisi
  • Pelayanan Penghayat Kepercayaan
  • Perfilman

Tujuan pelestarian bahasa, sastra, dan tulisan Betawi adalah sebagai berikut: (1) terjalinnya eksistensi dan kelangsungan penggunaan bahasa, sastra, dan tulisan Betawi, sehingga menjadi faktor pendukung tumbuhnya jati diri dan kebanggaan daerah; (2) mengetahui kedudukan dan fungsi bahasa, sastra, dan tulisan Betawi sebagai alat komunikasi masyarakat Betawi pada khususnya dan masyarakat Jakarta pada umumnya; (3) melindungi, mengembangkan, memperkuat dan menggunakan bahasa, sastra, dan tulisan Betawi sebagai unsur kebudayaan daerah yang pada gilirannya menunjang kebudayaan nasional; (4) meningkatkan kualitas kemungkinan penggunaan bahasa, sastra, dan tulisan Betawi. Tujuan pelestarian bahasa, sastra, dan tulisan Betawi adalah sebagai berikut: (1) terwujudnya kurikulum pendidikan bahasa, sastra, dan tulisan Betawi di sekolah dan kurikulum pendidikan di luar sekolah; (2) terwujudnya kehidupan kebahasaan daerah yang baik dan berkualitas; (3) melaksanakan pengkajian masyarakat terhadap bahasa, sastra, dan tulisan Betawi; (4) mewujudkan peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian bahasa, sastra, dan tulisan Betawi. Ruang lingkup pelestarian bahasa, sastra, dan tulisan Betawi adalah sebagai berikut: (1) penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan pendidikan ekstrakurikuler; (2) penyediaan bahan ajar dan bahan bacaan bahasa Betawi untuk sekolah, luar sekolah, dan perpustakaan umum; (3) menyelenggarakan pelatihan, perbaikan, lokakarya, seminar, diskusi, evaluasi dan kegiatan sejenis; (4) penyelenggaraan kompetisi bagi pelajar, tenaga pengajar, dan masyarakat; (5) pengorganisasian sistem penelitian dan pengajaran serta diseminasi hasilnya; (6) menyelenggarakan kongres bahasa Betawi secara berkala; (7) pemberian hadiah bagi karya linguistik dan sastra terpilih, serta hadiah bagi ahli bahasa, penulis, dan peneliti; (8) sosialisasi tulisan dan sastra Betawi; (9) penyediaan fasilitas kelompok belajar bahasa, sastra, dan tulisan Betawi; (10) pemberdayaan dan pemanfaatan media massa baik tertulis maupun elektronik berbahasa Betawi; (11) pengelolaan sistem komunikasi, dokumentasi dan informasi tentang bahasa, sastra, dan tulisan Betawi; (12) penggunaan bahasa dan sastra dalam transmisi keagamaan; (13) penerjemahan publikasi iptek ke dalam bahasa asing dalam bahasa Betawi dan sebaliknya; (14) pengadaan fasilitas pendukung teknologi; (15) publikasi buku, artikel, dan hasil penelitian dalam bahasa Betawi; (16) penggunaan bahasa Betawi sebagai bahasa administrasi selama 1 (satu) hari kerja dalam seminggu.

Judul Peraturan Gubernur

Landasan Filosofis, Sosiologis, dan Yuridis

Landasan Filosofis

Landasan Sosilogis

Landasan Yuridis

Dahulu, masyarakat Betawi meletakkan periuk atau kendi berisi air di depan rumahnya bagi orang yang lewat untuk sekedar minum atau mencuci muka dan kaki. Jamu kuliner merupakan perumpamaan kehidupan dengan cita rasa yang berbeda-beda, melambangkan kesadaran masyarakat Betawi untuk hidup mandiri, namun tidak sendirian, melainkan bersama berbagai suku lainnya. Sikap dan falsafah hidup tersebut mencerminkan pandangan hidup masyarakat Betawi yang mempunyai nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat dan sangat penting untuk dilestarikan, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang, dan eksistensinya harus tetap dipertahankan meskipun terjadi perubahan global. .

Dasar Hukum

Agar pelestarian kebudayaan Betawi dapat terlaksana dan berfungsi sebagaimana diharapkan, dalam rangka keamanan damai dan hukum serta sebagai pedoman dalam pelaksanaannya, maka pelestarian kebudayaan daerah perlu diatur dengan Peraturan Daerah.

Batasan/Pengertian

Tujuan dan Ruang Lingkup

Tujuan

Ruang Lingkup

Kesenian

Kepurbakalaan

Kesejarahan

Permuseuman

Kebahasaan dan Kesusastraan

Tradisi

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Kepustakaan

Perfilman

Nilai-nilai dan ciri budaya kepribadian bangsa merupakan faktor strategis dalam upaya mengisi dan membangun jiwa, wawasan, dan semangat bangsa Indonesia yang tercermin dalam nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945. Tujuan pelestarian budaya adalah sebagai berikut: a) melindungi, mengamankan dan melestarikan kebudayaan daerah; (b) pemeliharaan dan pengembangan nilai-nilai. tradisional sebagai identitas dan simbol kebanggaan daerah dan masyarakat Betawi; Ruang lingkup yang diatur dalam Peraturan Pelestarian Kebudayaan Daerah meliputi aspek seni daerah, arkeologi dan museum, sejarah, bahasa dan sastra, nilai-nilai tradisional daerah, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sastra dan aksara, serta film budaya daerah. a) Perlindungan, yaitu. upaya mencegah dan menanggulangi hal-hal yang dapat mengakibatkan rusaknya, hilang atau punahnya kebudayaan baik berupa gagasan, tingkah laku, maupun karya budaya, termasuk harkat dan martabat serta hak budaya, yang diakibatkan oleh perbuatan manusia atau proses alam.

Referensi

Dokumen terkait