hidup (biodata), pas foto berwarna ukuran 4 x 6 cm, foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) pengurus provinsi yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara masing-masing sebanyak 1 lembar; (g) formulir isian; (h) data lapangan; (i) foto tampak depan dengan papan nama alamat kantor/sekretariat; (j) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); (k) Surat Keterangan Domisili ditandatangani Lurah dan Camat; (l) surat kontrak/ izin pakai tempat bermaterai cukup; (m) surat keterangan organisasi tidak sedang terjadi konflik internal dengan bermaterai cukup yang ditandatangani Ketua dan Sekretaris; (n) surat keterangan bahwa organisasi tidak berafiliasi dengan partai politik dengan bermaterai cukup yang ditandatangani Ketua dan Sekretaris.
Organisasi Penghayat Kepercayaan berdasarkan UU No. 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, termasuk Organisasi Kemasyarakata, yaitu organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat Warganegara Republik Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kegiatan, profesi, fungsi, agama, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, untuk berperanserta dalam pembangunan dalam rangka mencapai tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
2. Pemakaman
Penghayat Kepercayaan yang meninggal dunia dimakamkan di tempat pemakaman umum. Dalam hal pemakaman Penghayat Kepercayaan ditolak di pemakaman umum yang berasal dari wakaf, Pemerintah Daerah menyediakan pemakaman umum atau dapat disediakan oleh Penghayat Kepercayaan.
Sejalan dengan kewajiban tersebut di atas, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berkoordinasi dengan Dinas Pertamanan dan Pemakaman, yang secara operasional sesuai dengan Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2007 tentang Pemakaman.
3. Sasana Sarasehan atau sebutan lain
Penyediaan sasana sarasehan atau sebutan lain didasarkan atas keperluan nyata dan sungguh-sungguh bagi Penghayat Kepercayaan, dapat berupa bangunan baru atau bangunan lain yang dialih fungsikan. Sasana sarasehan atau sebutan lain tersebut harus memenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis bangunan gedung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Penghayat Kepercayaan mengajukan permohonan ijin mendiri-kan bangunan untuk penyediaan sasana sarasehan atau sebutan lain dengan bangunan baru sesuai rencana tata ruang wilayah (RTRW) kepada Kepala Daerah dalam hal ini Gubernur. Surat izin Mendirikan Bangunan (IMB) tersebut paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sejak diterima permohonan pendirian sasana sarasehan atau sebutan lain yang telah memenuhi persyaratan.
Penyediaan sasana sarasehan atau sebutan lainnya yang telah mendapat IMB dari Kepala Daerah, ternyata mendapat penolakan dari masyarakat, Pemerintah Daerah berkewajiban memfasilitasi pelaksanaan pembangunan sasana sarasehan dimaksud. Dalam hal fasilitasi Pemerintah Daerah tidak terlaksana, Pemerintah
Daerah berkewajiban memfasilitasi lokasi baru untuk pembangunan sasana sarasehan atau sebutan lain.
Dalam melaksanakan kewajiban tersebut di atas, tidak terlepas dari Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2010 tentang Bangunan Gedung, dan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah 2030.
Kewajiban lain yang harus dilaksanakan Pemerintah Daerah kepada Penghayat Kepercayaan, meliputi:
a) Penyelesaian Perselisihan
Perselisihan antara Penghayat Kepercayaan dengan bukan Penghayat Kepercayaan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat antar kedua belah pihak. Dalam hal musyawarah untuk mufakat tidak tercapai, Kepala Daerah dalam hal ini Gubernur berkewajiban memfasilitasi penyelesaian perselisihan tersebut. Dalam hal fasilitasi penyelesaian perselisihan tidak tercapai, maka penyelesaian perselisihan dilakukan melalui proses peradilan.
b) Pembinaan dan Pengawasan
Pembinaan dan pengawasan kepada Penghayat Kepercayaan menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Daerah. Pemerintah Pusat dimaksud yaitu Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.
Menteri Dalam Negeri dalam melakukan pembinaan dan pengawasan atas pelayanan kepada Penghayat Kepercayaan, berkoordinasi dengan Gubernur.
Bentuk pengawasan umum yang dilakukan Gubernur melakukan pemantauan dalam pelayanan kepada penghayat kepercaya-an. Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan secara operasional menjadi tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata melakukan pembinaan dan pengawasan teknis atas pelayanan kepada Penghayat Kepercayaan, meliputi: (a) pemberian pedoman; (b) pemberi-an bimbingan teknis, konsultasi, supervisi; (c) dokumentasi dan publikasi. Pengawasan teknis tersebut dilakukan dengan pemantauan dan evaluasi terhadap pelayanan Penghayat Kepercayaan.
c) Pelaporan
Pelaporan atas kewajiban yang dilaksanakan Pemerintah Daerah termasuk kegiatan pembinaan dan pengawasan kepada Penghayat Kepercayaan secara berjenjang. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan melaporkan Gubernur, untuk selanjutnya dilaporkan kepada Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Laporan tersebut disampaikan setiap 6 (enam) bulan sekali pada bulan Januari dan Juli atau sewaktu-waktu jika diperlukan.
d) Pendanaan
Pendanaan pembinaan dan pengawasan terhadap pelayanan Penghayat Kepercayaan menjadi tanggung jawab bersama. Secara nasional dibebankan
pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan pendanaan pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan terhadap pelayanan Penghayat Kepercayaan yang dilakukan Pemerintah Daerah berasal dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Kewajiban dalam pendanaan pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan terhadap pelayanan Penghayat Kepercayaan tersebut di atas harus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.
Mencermati uraian tersebut di atas, bahwa tugas dan kewajiban Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pelestarian Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada Penghayat Kepercayaan, meliputi:
pelayanan administrasi organisasi Penghayat Kepercayaan, penyediaan lahan pemakaman, pelayanan dan/atau memfasilitasi sasana sarasehan atau sebutan lain, dan memfasilitasi penyelesaian perselisihan.
Di bawah ini disajikan arah kebijakan dan indikasi program mengenai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Tabel 4.7.
Arah Kebijakan dan Indikasi Program mengenai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
No Strategi Arah Kebijakan Indikasi Program
Target Capaian (thn) Short
(1-2)
Middle (3-5)
Long (>5) 6.1. Perlindungan
• Pembentukan sistem “pewarisan”
dan kaderisasi budayawan Betawi berbasis komunitas Betawi yang
berketuhanan YME
• Menumbuhkan motivasi
masyarakat Betawi dalam memegang nilai- nilai luhur budaya yang berketuhanan YME secara mandiri
• Integrasi materi nilai-nilai luhur budaya yang berketuhanan YME dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah sebagai muatan lokal
• Penguatan ketahanan kepercayaan terhadap Tuhan YME bagi masyarakat DKI Jakarta
• Memotivasi masyarakat Betawi dalam pengaalan nilai- nilai ketuhanan YME
• Fasilitasi forum lintas budaya dan agama di DKI Jakarta
6.2. Pemanfaatan • Memotivasi • Program
No Strategi Arah Kebijakan Indikasi Program
Target Capaian (thn) Short
(1-2)
Middle (3-5)
Long (>5)
• Optimalisasi pengamalan nilai- nilai luhur di kalangan
masyarakat DKI Jakarta yang berdasarkan ketuhanan YME
pengamalan nilai-nilai luhur budaya Betawi di kalangan
masyarakat DKI Jakarta
Penguatan keyakinan terhadap ketuhanan YME di Kalangan Masyarakat DKI Jakarta
• Fasilitasi pengamalan nilai-nilai luhur budaya Betawi di kalangan
masyarakat DKI Jakarta
• Program Pembinaan keyakinan terhadap ketuhanan YME di lingkungan Pemda DKI Jakarta 6.3. Pengembangan
• Optimalisasi pengamalan nilai- nilai luhur di berbagai bidang kehidupan masyarakat DKI Jakarta
• Memotivasi masyarakat Betawi untuk mempertahakan keyakinan terhadap Tuhan YME
• Apresiasi masyarakat Betawi terhadap keyakinan ketuhanan YME di Kalangan Masyarakat DKI Jakarta
• Memotivasi berkembangnya pengamalan keyakinan terhadap Tuhan YME
• Apresiasi pemerintah daerah terhadap keyakinan ketuhanan YME di lingkungan pemda DKI Jakarta