Perfilman adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan, jasa teknik, pengeksporan, pengimporan, pengedaran, pertunjukan, dan/atau penayangan film.
Pelestarian kebudayaan tersebut di atas dilakukan melalui:
a) Perlindungan
Perlindungan adalah upaya pencegahan dan penanggulang-an yang dapat menimbulkan kerusakan, kerugian, atau kepunahan kebudayaan berupa gagasan, perilaku, dan karya budaya termasuk harkat dan martabat serta hak budaya yang diakibatkan oleh perbuatan manusia ataupun proses alam.
b) Pengembangan
Pengembangan adalah upaya dalam berkarya, yang memungkinkan terjadinya penyempurnaan gagasan, perilaku, dan karya budaya berupa perubahan, penambahan, atau penggantian sesuai tata dan norma yang berlaku pada komunitas pemiliknya tanpa mengorbankan keasliannya.
c) Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah upaya penggunaan karya budaya untuk kepentingan pendidikan, agama, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan itu sendiri.
Bab - 6
Kesimpulan
Bab ini memuat kesimpulan dan rekomendasi dari hasil penyusunan naskah akademik. Salah satu rekomendasi yang disampaikan dalam bentuk Draft Rancangan Peraturan Daerah yang disajikan
dalam lampiran.
Hasil kajian naskah akademik tentang Pelestarian Kebudayaan sebagai berikut:
1. Latar belakang/urgensi kebutuhan Peraturan Daerah tentang Pelestarian Kebudayaan sebagai berikut:
a) Kebudayaan suatu bangsa merupakan indikator dan menciri-kan tinggi atau rendahnya martabat dan peradaban suatu bangsa. Kebudayaan tersebut dibangun oleh berbagai unsur, seperti bahasa, sastra dan aksara, kesenian, dan berbagai sistem nilai yang tumbuh dan berkembang dari masa ke masa.
Kebudayaan nasional dibangun atas berbagai kebudayaan daerah yang beragam warna dan corak, sehingga satu rangkaian yang harmonis dan dinamis. Oleh karena itu, tidak disangkal bahwa bahasa, sastra, aksara daerah, kesenian dan nilai-nilai budaya daerah merupakan unsur penting dari kebudayaan yang menjadi rangkaian kebudayaan nasional.
Nilai-nilai dan ciri budaya kepribadian bangsa merupakan faktor strategis dalam upaya mengisi dan membangun jiwa, wawasan dan semangat bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
b) Kebudayaan Betawi merupakan bagian dari budaya nasional dan sekaligus menjadi asset nasional memiliki sejumlah nilai dan norma sosial budaya yarg melandasi pemikiran dan prilaku warganya. Sikap dan filosofi hidup orang Betawi tergambar jelas dalam upacara adat pindah rumah. Pada upacara tersebut perabotan yang harus dibawa antara lain tempayan atau kendi berisi air, bumbu dapur, dan kaca. Air melambangkan kehidupan. Dahulu orang Betawi meletakkan tempayan atau kendi berisi ari di depan rumah untuk musafir yang lewat supaya bisa sekedar minum atau cuci muka dan kaki. Sikap tersebut melambangkan kepedulian orang Betawi sesama, serta gairah dan optimisnya dalam menjalani hidup yang mengalir seperti sifat air membasahi tempat yang lebih rendah. Bumbu dapur jadi perumpamaan hidup dengan beragam rasa, melambangkan kesadaran orang Betawi yang hidup mandiri tetapi tidak sendirian melainkan dengan beragam etnik lain. Sedangkan kaca melambangkan kerendahan hati orang Betawi dimanapun berada mampu menempatkan diri pada posisi yang tidak bersinggungan dengan orang lain.
Sikap dan filosofi hidup merupakan contoh gambaran pandangan hidup masyarakat Betawi yang memiliki nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang luhur dan sangat penting untuk dipelihara, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus, dan harus dipertahankan keberadaannya walaupun terjadi perubahan global.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, mengingat kebudayaan Betawi termasuk didalamnya adat istiadat, falsafah hidup, sejarah, peristiwa sejarah, sejarah lokal dan sejarah daerah serta benda-benda yang bernilai budaya merupakan kebanggaan masyarakat Betawi yang mencerminkan jati diri masyarakat Betawi, perlu dilakukan serangkaian upaya-upaya dalam rangka memelihara, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Betawi yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan peranan nilai-nilai budaya tersebut dan lembaga adat/budaya di DKI Jakarta sebagai mitra Pemerintah Daerah dalam menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan, kelangsungan pembangunan dan peningkatan ketahanan daerah dan nasional, serta mendorong upaya mensejahterakan warga masyarakat Jakarta, sekaligus menunjang dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk turut serta dan bertanggungjawab dalam menjaga dan memelihara kebudayaan daerah.
2. Landasan filosofis, sosiologi, dan yuridis dibentuk Peraturan Daerah tentang Pelestarian Kebudayaan, sebagai berikut:
a) Kebudayaan daerah di Provinsi DKI Jakarta adalah Budaya Betawi merupakan bagian dari budaya nasional dan merupa-kan asset bangsa, maka keberadaannya perlu dijaga, diberdayakan, dibina, dilestarikan, dan dikembangkan sehingga berperan dalam upaya menciptakan masyarakat yang memiliki jati diri, berakhlak mulia, berperadaban dan mempertinggi pemahaman terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa secara maksimal berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b) Bahwa dalam rangka menjamin terpeliharanya kebudayaan Betawi dan untuk mewujudkan maksud sebagaimana dimaksud di atas, perlu dilakukan upaya dan langkah konkrit untuk berdayaguna dan berhasilguna dalam pelestarian kebudayaan daerah bagi masyarakat Betawi dan Jakarta;
c) Dalam rangka pelaksanaan Pasal 26 ayat (6) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melestarikan dan mengembangkan budaya masyarakat Betawi serta melindungi berbagai budaya masyarakat daerah lain yang ada di daerah Provinsi DKI Jakarta.
Pelaksanaan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 42 Tahun 2009 dan Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan, yang memberikan
“perintah” kepada Pemerintah Daerah untuk melaksanakan pelestarian kebudayaan di daerah.
3. Tujuan Pelestarian Kebudayaan sebagai berikut: (a) melindungi, mengamankan dan melestarikan budaya daerah; (b) memelihara dan mengembangkan nilai-nilai
tradisional yang merupakan jati diri dan sebagai perlambang kebanggaan daerah dan masyarakat Betawi; (c) meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap sejarah daerah; (d) meningkatkan kepedulian, kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap budaya daerah; (e) membangkitkan motivasi, memperkaya inspirasi dan meningkatkan aktivitas di bidang kebudayaan.
4. Ruang Lingkup yang diatur dalam Peraturan Daerah Pelestarian Kebudayaan meliputi aspek kesenian daerah, kepurbakalaan dan permuseuman, kesejarahan, kebahasaan dan kesusastraan, nilai-nilai tradisi daerah, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keputstakaan dan kenaskahan, dan perfilman budaya daerah. Atas-aspek tersebut dilakukan melalui :
a) Perlindungan, yaitu upaya pencegahan dan penanggulangan yang dapat menimbulkan kerusakan, kerugian, atau kepunahan kebudayaan berupa gagasan, perilaku, dan karya budaya termasuk harkat dan martabat serta hak budaya yang diakibatkan oleh perbuatan manusia ataupun proses alam.
b) Pengembangan, yaitu upaya dalam berkarya, yang memungkin-kan terjadinya penyempurnaan gagasan, perilaku, dan karya budaya berupa perubahan, penambahan, atau penggantian sesuai tata dan norma yang berlaku pada komunitas pemiliknya tanpa mengorbankan keasliannya.
c) Pemanfaatan, yaitu upaya penggunaan karya budaya untuk kepentingan pendidikan, agama, sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan itu sendiri.
Lampiran
1. Peta Sebaran Sanggar di Wilayah Jakarta Barat
a
2. Peta Sebaran Sanggar di Wilayah Jakarta Timur
3. Peta Sebaran Sanggar di Wilayah Jakarta Utara
4. Peta Sebaran Sanggar di Wilayah Jakarta Selatan
5. Peta Sebaran Sanggar di Wilayah Jakarta Pusat