• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Perfilman

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN - Repository Unpak (Halaman 97-101)

Film atau gambar hidup terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

1. Film Dokumenter

Film dokumenter adalah rekaman atas realitas. Documentary yang telah disebutkan oleh John Grierson dari tahun 1926 merupakan perwujudan karya cipta yang tersusun dari berbagai realitas. Pernyataan tersebut dengan jelas mem- perlihatkan ruang penciptaan yang luas dan menginter-pretasikan kenyataan, sehingga lebih mengarah pada keberagaman film dokumenter yang dianggap sebagai bagian dari dunia fiksi.16 Intinya, film dokumenter tetap berpijak pada hal- hal yang senyata mungkin.

Di Indonesia, produksi film dokumenter untuk televisi dipelopori oleh stasiun televisi pertama yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI). Memasuki era televisi

swasta tahun 1990, pembuatan film dokumenter tidak lagi dimonopoli TVRI.

Semua televisi swasta menayangkan program film dokumenter, baik produksi sendiri maupun membelinya dari sejumlah rumah produksi. 17

2. Film Cerita Pendek

Durasi film cerita pendek biasanya dibawah 60 menit. Di banyak negara seperti Jerman, Australia, Kanada dan Amerika Serikat, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi cerita panjang.

3. Film Cerita Panjang

Film dengan durasi lebih dari 60 menit, lazimnya berdurasi 90-100 menit namun ada pula yang berdurasi lebih dari 100 menit, seperti film-film produksi India rata- rata berdurasi hingga 180 menit. Film yang diputar di bioskop umumnya termasuk dalam kelompok ini.

4. Film Profil Perusahaan

Film jenis ini diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, misalnya tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi.

5. Iklan televisi.

Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk (iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat). Iklan produk umumnya menampilkan produk yang diiklankan secara eksplisit (gamblang, tegas; terus terang; tidak berbelit-belit).18 Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara tidak gamblang.

6. Program televisi

Program ini diproduksi untuk dikonsumsi pemirsa televisi. Secara umum program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan non cerita. Jenis cerita dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok fiksi dan kelompok non fiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial, film televisi/FTV (populer lewat stasiun televisi SCTV) dan cerita pendek. Kelompok non fiksi menggarap aneka program pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap tv quiz, talkshow dan liputan/berita.

7. Video klip

Video klip sebenarnya merupakan sarana bagi para produsen musik untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali oleh

17 Heru Effendy, Mari Membuat Film Panduan Menjadi Produser, Hal. 12, Panduan dan Yayasan Konfidens, Jakarta, 2002.

18 Drs. Yandianto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, M2S, Bandung, Sepetember 2001.

saluran televisi MTV tahun 1981. Di Indonesia, tidak kurang dari 60 (enam puluh) video klip diproduksi setiap tahunnya.19

Seperti diuraikan di atas bahwa film dokumenter merupakan rekaman atas realitas atau kenyataan dan untuk mendukungnya ternyata diperlukan 5 (lima) persyaratan yang harus dipenuhi agar film tersebut dapat digolongkan ke dalam jenis film dokumenter, yaitu film harus menceritakan kisah nyata tidak didramatisir, menghadirkan bukti yang nyata, tidak merekayasa kebenaran, objektif, dan semaksimal mungkin menunjukkan bukti nyata dalam konteks riilnya.20 Arah kebijakan dan indikasi program aspek perfilman selengkapnya disajikan dalam table berikut ini.

Tabel 4.9.

Arah Kebijakan dan Indikasi Program Aspek Perfilman

No Strategi Arah Kebijakan Indikasi Program

Target Capaian (thn) Shor

t (1-2)

Middl e (3-5)

Lon g (>5) 7.1. Perlindungan

• Pembentukan sistem

“pewarisan” dan kaderisasi artis dan sineas perfilman budaya Betawi berbasis komunitas Betawi agar tetap bertahan

• Menumbuhkan motivasi

masyarakat perfilman untuk menjaga

eksistensi film- film Betawi

• Apresiasi terhadap eksistensi

masyarakat perfilman budaya Betawi

7.2. Pemanfaatan

• Peningkatan produksi film-film nasional yang bersumber dari budaya Betawi

• Fasilitasi masyarakat perfiman dalam memproduksi film-film yang mengangkat budaya Betawi

• Mendorong masyarakat perfilman untuk memasukkan unsur-unsur budaya betawi

• Memperkaya produk-produk budaya Betawi untuk mendukung perfilman yang mengangkat budaya Betawi

19 Heru Effendy, Mari Membuat Film Panduan Menjadi Produser, Hal. 12, Panduan dan Yayasan Konfidens, Jakarta, 2002.

No Strategi Arah Kebijakan Indikasi Program

Target Capaian (thn) Shor

t (1-2)

Middl e (3-5)

Lon g (>5)

• Optimalisai penggunaan teknologi informasi dalam promosi dan pemanfaatan film- film Betawi 7.3. Pengembangan

• Peningkatan variasi dan kualitas film- film yang bersumber dari budaya Betawi supaya dapat bersaing dengan film- film asing

Memotivasi kreativitas masyarakat perfimlan dalam

memproduksi film-film yang mengangkat budaya Betawi

• Festival film budaya betawi

• Memotivasi masyarakat perfimlan dalam berkreasi di bidang film- film yang mengangkat budaya Betawi

• Fasilitasi

pembuatan film budaya betawi

Delapan aspek persyaratan tersebut di atas dalam rangka pelestarian kebudayaan, Pemerintah Daerah dapat membuat film dokumenter budaya Daerah.

Film dokumenter memiliki beberapa kelebihan antara lain mampu mengajak penonton untuk mendapatkan pengalaman pribadi secara langsung dari apa yang disampaikan dalam film tersebut serta dapat menambah pengetahuan. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan.

Namun film dokumenter tetap tidak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu.

Selain itu, Pemerintah Daerah dapat juga membuat film semi dokumenter salah satu jenis film dokumenter. Semi berarti setengah21 yang berarti dalam film semi dokumenter proses pengambilan gambar tidak semuanya diambil pada waktu kejadian berlangsung dan terdapat alur cerita yang telah dibuat terlebih dahulu demi tujuan- tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Walaupun film tersebut

21 Drs. Yandianto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, M2S, Bandung, Sepetember 2001.

setengah dokumenter namun antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat film semi dokumenter tidak jauh berbeda karena dalam film semi dokumenter, realita tetap menjadi pedoman.

Dalam rangka pelestarian kebudayaan daerah, Pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi pembuatan film dokumenter tentang warisan budaya bangsa di daerahnya. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut, Pemerintah Daerah mempunyai tugas menetapkan serta melaksanakan kebijakan dan rencana perfilman daerah, serta menyediakan sarana dan prasarana untuk pengembangan dan kemajuan perfilman di daerah terutama film dokumenter budaya daerah. Atas dasar itu, Pemerintah daerah memberikan insentif berupa keringanan pajak daerah dan retribusi daerah tertentu untuk kemajuan perfilman di daerah.

Sejalan dengan uraian tersebut di atas, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempunyai tanggung jawab membuat film dokumenter kebudayaan Betawi. Tanggung jawab tersebut tidak hanya pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saja melainkan juga diperlukan peranserta masyarakat. Untuk itu, keberadaan Peraturan Daerah Pelestarian Kebudayaan yang didalamnya termasuk perfilman yang menceritakan budaya daerah (Betawi) menjadi penting untuk menceritakan sejarah, atau profil tokoh Betawi.

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN - Repository Unpak (Halaman 97-101)