• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTEK PELAKSANAAN PEKERJAAN SALURAN PENGELAK PADA PROYEK WADUK PIDEKSO DI KABUPATEN WONOGIRI JAWA TENGAH

N/A
N/A
Sota Mona

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTEK PELAKSANAAN PEKERJAAN SALURAN PENGELAK PADA PROYEK WADUK PIDEKSO DI KABUPATEN WONOGIRI JAWA TENGAH"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PELAKSANAAN PEKERJAAN SALURAN PENGELAK PADA PROYEK WADUK PIDEKSO

DI KABUPATEN WONOGIRI JAWA TENGAH

Disusun sebagai syarat kelulusan mata kuliah SA-4098 Kerja Praktek

Dosen Pembimbing Ir. Hernawan Mahfudz, MT

Disusun oleh:

Dhimas Boy Anggun Pribadi 15815002 Diki Maulana Ichsan 15815038

PROGRAM STUDI TEKNIK DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2018

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN SA- 4098 KERJA PRAKTEK

“Pelaksanaan Pekerjaan Saluran Pengelak pada Proyek Waduk Pidekso di Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah”

Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan Mata Kuliah Kerja Praktik (SA- 4098)

Disusun oleh:

Dhimas Boy Anggun Pribadi 15815002 Diki Maulana Ichsan 15815038

Bandung, Desember 2018

Mengetahui dan menyetujui,

Koordinator Kerja Praktek Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Yadi Suryadi, MT Ir. Hernawan Mahfudz, MT

NIP. 111 000 078 NIP. 196401191990011001

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Kerja Praktek mengenai Pekerjaan Konduit pada Proyek Waduk Pidekso di Kabupaten Wonogiri.

Penyusunan Laporan Kerja Praktek ini merupakan syarat kelulusan mata kuliah SA- 4098 Kerja Praktek di Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Untuk itu kami selaku penulis mengucapkan terimaksih sebanyak-banyaknya kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa.

2. Orang tua yang senantiasa mendoakan dalam segala hal, termasuk dalam menyelesaikan tugas ini

3. Dr. Ir. Yadi Suryadi, MT selaku dosen koordinator kerja praktik 4. Ir. Hernawan Mahfudz MT. selaku dosen pembimbing kerja praktik yang

senantiasa membimbing dan memberikan arahan kepada kami selama melakukan kerja praktik

5. Budi Agus Cahyo ST selaku pembimbing lapangan yang senantiasa membimbing dan memberikan arahan kepada kami selama melakukan kerja praktik

6. Kepada Pak Lilik, Mas Tio, Mas Sanul yang senantia memberikan tugas kepada kami.

7. Seluruh rekan-rekan PT. PP Pidekso yang bersedia menerma kami untuk melakukan kerja praktik selama 1 bulan.

8. Bapak Kost yang berkenan menyediakan akomodasi tempat tinggal selama kami melakukan kerja praktik.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan kerja praktek ini tidak luput dari berbagai kekurangan baik dari segi materi maupun dari segi metode penulisan. Oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca yang sifatnya membangun sangat Penulis harapkan.

Bandung, Desember 2018 Penulis

(4)

DAFTAR ISI

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Lokasi Proyek Waduk Pidekso ... 12

Gambar 2. 2 Jalan akes menuju area Proyek Waduk Pidekso ... 12

Gambar 2. 3 Lingkup pekerjaan proyek ... 13

Gambar 2. 4 Kondisi jalan akses menuju area proyek ... 13

Gambar 2. 5 Layout proyek ... 15

Gambar 2. 6 Penampang tubuh Bendungan Utama ... 16

Gambar 3. 1 Kondisi Topografi area Bendungan ... 19

Gambar 3. 2 Kondisi pada area As Bendungan Pidekso ... 20

Gambar 3. 3 Kurva massa volume dan luas tampungan ... 21

Gambar 3. 4 Area DAS dan tampungan waduk ... 22

Gambar 3. 5 Curah hujan rata-rata bulanan ... 24

Gambar 3. 6 Analisis hujan rancangan ... 27

Gambar 3. 7 Hidrograf banjir masuk waduk pidelso ... Error! Bookmark not defined. Gambar 3. 9 Penampang konduit sesuai DED ... 35

Gambar 3. 10 Hidrograf masuk dan keluar debit Q25 ... 36

Gambar 3. 11 Modifikasi penampang konduit ... 37

Gambar 3. 12 Hidrograf masuk dan keluar debit Q25 ... 38

Gambar 4. 1 Layout pekerjaan proyek ... 44

Gambar 4. 2 Lokasi pekerjaan konduit ... 44

Gambar 4. 3 Flowchart pekerjaan pengelak ... 45

Gambar 4. 4 Penampang konduit ... 45

Gambar 4. 5 Kegiatan toolbox meeting ... 49

Gambar 4. 6 Proses menggali menggunakan excavator... 50

Gambar 4. 7 Hasil galian tampak atas ... 50

Gambar 4. 8 Pengikisan tebing menggunakan breaker ... 51

Gambar 4. 9 Area pekerjaan pengelak ... 51

Gambar 4. 10 Sketsa area pengelak tampak atas ... 51

Gambar 4. 11 Pembersihan permukaan tanah ... 52

Gambar 4. 12 Pembersihan permukaan tanah menggunakan air compressor ... 52

Gambar 4. 13 Penuangan beton untuk lantai kerja ... 53

Gambar 4. 14 Curring beton... 53

Gambar 4. 15 Jalur aktivitas truk mixer selama pengerjaan konduit ... 54

Gambar 4. 16 Rencana penulanagan konduit tipe 1 ... 55

Gambar 4. 17 Rencana penulangan konduit tipe 2 ... 55

Gambar 4. 18 Proses pemotongan besi ... 56

Gambar 4. 19 Sketsa pemasangan tulangan tahap 1 ... 56

Gambar 4. 20 Proses penulangan konduit ... 57

Gambar 4. 21 Perletakan tulangan konduit ... 57

Gambar 4. 22 Pemasangan waterstop ... 59

(6)

Gambar 4. 23 Bekisting yang sudah terpasang ... 59 Gambar 4. 24 Slump test ... 60 Gambar 4. 25 Pengecoran konduit tahap 1 ... 60 Gambar 4. 26 Proses uji tekan beton ... Error! Bookmark not defined.

Gambar 4. 27 Curring beton sebelum dlakukan iuji tekan... 62 Gambar 5. 1 kurva s bulanan proyek waduk Pidekso ... 63

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Daftar kuantitas dan harga Amandemen X ... 14

Tabel 3. 1 Curah hujan rata-rata bulanan ... 24

Tabel 3. 2 Analisis hujan rancangan metode Gumbel... 29

Tabel 3. 3 Koefisien pengaliran ... 30

Tabel 3. 4 Curah hujan harian maksimum efektif ... 30

Tabel 3. 5 Persebaran hujan jam-jaman ... 32

Tabel 3. 6 Debit banjir puncak berbagai metode yang digunakan ... 33 Tabel 3. 7 Debit inflow waduk Pidekso ... Error! Bookmark not defined.

(8)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keja Praktik

Kerja praktek merupakan salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung dengan nama mata kuliah SA-4098. Kerja praktek memiliki tujian untuk memberi pengalaman kepada mahasiswa tentang kondisi lapangan/visual pelaksanaan konstruksi dan administrasi suatu proyek dalam upaya memperkenalkan profesi serta pengalaman kerja dalam bidang Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air. Lingkup kerja dibatasi pada tahap observasi yang diharapkan dapat memberikan wawasan/pengenalan awal bagi mahasiswa terhadap situasi nyata di lapangan.

Dalam pelaksanaan kerja praktik, mahasiswa di tuntut aktif dalam melakukan pengamatan pekerjaan di lapangan. Dengan keaktifan di lapangan, mahasiswa di harapkan dapat mengerti metode pelaksanaan dan proses pekerjaan lapangan termasuk kendala yang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.

Selain itu, kerja praktik ini dimaksudkan untuk menjalin hubungan komunikasi antara mahasiswa dengan pihak-pihak yang bekerja pada suatu proyek. Oleh karena itu, dengan melakukan pengamatan di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu mengetahui situasi dan kondisi pihak-pihak yang bekerja dilapangan secara langsung.

1.2 Tujuan Kerja Praktik

Tujuan dari kerja praktek ini adalah :

1. Memberikan pengalaman visual dan pengenalan bagi mahasiswa tentang suatu kegiatan pembangunan fisik yang nyata dan segala aspeknya yang meliputi aspek kerekayasaan, kontraktual dan administratif serta pelaksanaannya di lapangan, agar mahasiswa mempunyai pengetahuan dan pemahaman atas masalah tersebut.

2. Membina kemampuan dan keterampilan mahasiswa dengan cara melibatkan mahasiswa secara langsung dalam hal pengenalan masalah,

(9)

pemecahan masalah, team work, koordinasi, penyampaian hasil penyelesaian masalah/ tugas dengan komunikasi lisan maupun tulisan dalam dunia kerja di bidang sumber daya air.

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktik

Kerja Praktik dilaksanakan di Proyek Pembangunan Waduk Pidekso, Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupataten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah dan dilaksanakan selama x hari kerja diantara tanggal 10 Juli – 9 agustus 2018. Presensi kehadiran terlampir.

1.4 Sistematika Penulisan Laporan

Laporan kerja praktik ini disusun dengan sistematika pelaporan sebagai berikut BAB I Pendahuluan

Bab ini mencakup bahasan mengenai latar belakang kerja praktik, tujuan kerja praktik, serta waktu dan tempat pelaksanaan kerja praktik

BAB II Informasi Proyek

Bab ini mencakup bahasan umum tentang proyek pembangunan Waduk Pidekso seperti latar belakang proyek, tujuan pelaksanaan proyek, manfaat proyek, lokasi proyek, lingkup pekerjaan proyek, serta pendanaan proyek.

BAB III Proses Perencanaan

Bab ini membahas perencanaan bangunan pengelak serta data pendukung seperti survei dan investigasi dan analisis hidrologi.

(10)

BAB II

INFORMASI PROYEK 2.1 Latar Belakang Proyek

Kabupaten Wonogiri merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur dan ujung selatan Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini mempunyai potensi di bidang pertanian yang cukup potensial untuk dikembangkan. Luas areal pertanian di Wonogiri mencapai 98.082 ha atau 53.82% dari luas wilayah secara keseluruhan dengan rincian 32.071 ha untuk tanah persawahan dan 6.381 ha untuk palawija (tegalan).

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang perlu diperhatikan pemerintah Indonesia untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan nasional sehingga dapat mengurangi jumlah bahan makanan pokok yang diimpor. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional adalah dengan membangun sarana dan prasarana pertanian, seperti waduk dan jaringan irigasi untuk mengairi areal persawahan.

Saat ini, Kabupaten Wonogiri telah memiliki waduk, yaitu Waduk Gajah Mungkur. Namun waduk yang notabene terletak di Kabupaten Wonogiri tersebut kurang memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Wonogiri. Manfaat waduk justru dirasakan oleh masyarakat di daerah hilir seperti Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Untuk itu Kementrian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) berencana membangun waduk yang terletak di Desa Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri.

Rencana pembangunan waduk pidekso ini merupakan salah satu kegiatan prioritas pemerintah dan sudah masuk dalam RPJM 2010/2014 implementasi dari amanat perpres no. 5 tahun 2010.

Pembangunan waduk pidekso sangat diperlukan dalam rangka pengembangan infrastruktur irigasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan penyediaan air baku di wilayah Kabupaten Wonogiri, disamping memiliki beberapa manfaat lain (menaikan intensitas tanam, pengendalian banjir, konservasi, dan pariwisaata) dalam rangka pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan untuk kesejah teraan masyarakat.

(11)

Studi Waduk Pidekso dimulai sejak tahun 1980 dan telah dilakukan detail engineering desain (DED) pada tahun 2011 serta studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada tahun 2012, dan tender dilaksanakan pada tahun 2014 yang dipercayakan kepada PT. Pembangunan Perumahan (persero) Tbk.

2.2 Tujuan Pelaksanaan Proyek

Tujuan pembangunan waduk pidekso ini adalah sebagai upaya meningkatkan ketahanan air dan produktivitas pertanian bagi masyarakat Wonogiri.

2.3 Manfaat Proyek

Pembangunan waduk pidekso memberikan manfaat yaitu : 1. Penyediaan air irigasi 1500 Ha

2. Penyediaan air baku 300 lt/dt 3. Pengendalian Banjir

4. Konservasi dan Pariwisata 2.4 Lokasi Proyek

Waduk pidekso merupakan salah satu proyek pembangunan bendungan dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) yang membendung aliran Sungai Bengawan Solo bagian hulu. Proyek tersebut berada di Desa Pidekso, kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri dengan koordinat 8o 02’11.1” LS dan 110o59’46.4” BT, berjarak sekitar 53 km dari pusat kota wonogiri.

(12)

Gambar 2. 1 Lokasi Proyek Waduk Pidekso

Gambar 2. 2 Jalan akes menuju area Proyek Waduk Pidekso

2.5 Lingkup Pekerjaan Proyek

Lingkup pekerjaan proyek pada waduk pidekso terdiri dari beberapa bagian dengan pembobotan yang berbeda dari tiap-tiap lingkup pekerjaan.

Berikut lingkup pekerjaan yang ada pada proyek pembangunan waduk pidekso:

1. Pekerjaan persiapan

2. Pekerjaan konduit pengelak dan bangunan pengambilan (intake) 3. Pekerjaan bendungan pengelak (cofferdam)

4. Pekerjaan bangunan pelimpah 5. Pekerjaan bendungan utama

6. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal 7. Pekerjaan instrumentasi dan meteorologi

8. Pekerjaan Relokasi Saluran Udara Tekanan Tinggi (SUTT) 9. Pekerjaan fasilitas lain-lain

(13)

10. Pekerjaan Lansekap dan Pembersihan Areal Genangan Waduk

Gambar 2. 3 Lingkup pekerjaan proyek

Pekerjaan persiapan pada proyek waduk pidekso dilakukan mulai dari perbaikan jalan akses menuju area proyek sepanjang 8,125 km, pembuatan akses jalan menuju area pekerjaan, dan pekerjaan persiapan lainnya.

Gambar 2. 4 Kondisi jalan akses menuju area proyek

2.6 Pendanaan Proyek

Kontrak Pengadaan Pekerjaan Konstruksi waduk Pidekso di kabupaten Wonogiri dibiayai dari APBN dengan Multi Years Contract (MYC) dengan rencana anggaran:

(14)

Tahun I/2014 : Rp 2.135.434.000 Tahun II/2015 : Rp 66.246.182.000 Tahun III/2016 : Rp 134.713.408.000 Tahun IV/2017 : Rp 144.809.000.000 Tahun V/2018 : Rp 102.095.976.000

Total pendananaan untuk pekerjaan konstruksi Waduk Pidekso adalah RP 450.000.000.000 (termasuk PPN). Pekerjaan Konstruksi ini dapat diberikan uang muka sebesar 15% (lima belas persen) dari nilai kontrak. Dana tersebut digunakan untuk pendanaan proyek pembangunan Waduk Pidekso dengan rincian pekerjaan dan harganya sebagai berikut:

Tabel 2. 1 Daftar kuantitas dan harga Amandemen X

(Sumber: Kontrak Amandemen X Waduk Pidekso Nomor : HK 02 03- An/PPK.PBII/Pidekso/14)

(15)

2.7 Data Teknis Proyek

Gambar 2. 5 Layout proyek

Data teknis proyek pembangunan Waduk Pidekso antara lain : 1. Hidrologi

Sungai : Bengawan Solo

Luas DAS : 55 km2

Curah Hujan Tahunan Rata-Rata : 1.637 mm Debit Banjir Desain Q1000th : 417 m3/det Debit Banjir Desain PMF : 892 m3/det Inflow Tahunan Rerata : 45,24 juta m3 Laju Sedimen Rerata : 165.000 m3/tahun 2. Waduk

Elevasi Genangan Normal (MAN) : +185.00 m

Luas Genangan MAN : 209 Ha

Elevasi Muka Air Banjir (MAB) : +186.60 m

Luas Genangan MAB : 232 Ha

Luas Genangan MAB + Sempadan 50 m : 325 Ha Elevasi Muka Air Rendah : +174.50 m Elevasi Muka Air Banjir Maksimum : +188.02 m

Elevasi Dasar Sungai : +157.00 m

(16)

Volume Tampungan Total : 25 juta m3 Volume Tampungan Efektif : 17 juta m3 Volume Tampungan Mati : 8 juta m3 3. Saluran Pengelak

Debit Banjir Inflow Q25 : 295.65 m3/detik Debit Banjir Outflow Q25 : 44,03 m3/detik

Tipe Pengelak : 2 lubang segi empat D 2,5 m

Elevasi Ambang Inlet Konduit : +159,00 m Elevasi Dasar Outlet Konduit : +157,38 m

Pintu Pengelak : Stop Log, 2,50 m x 2,50 m

4. Bendungan Pengelak Utama (Main Cofferdam)

Tipe Bendungan : Urugan Random Tanah

dengan Inti Miring

Elevasi Puncak : +172,50 m

Tinggi dari Dasar Galian : 16,00 m Tinggi dari Dasar Sungai : 12,50 m Kemiringan Lereng Hulu : 1V:1,7H

Lebar Puncak : 10,00 m

Panjang Puncak : 31100 m

5. Bendungan Utama

Gambar 2. 6 Penampang tubuh Bendungan Utama

Tipe : Urugan Random Tanah

dengan Inti Tegak

Panjang Puncak : 387,0 m

Lebar Puncak : 10,00 m

(17)

Elevasi Puncak : +189,00 m Kemiringan Lereng Hulu : 1V:3,0H Kemiringan Lereng Hilir : 1V:3,0H Tinggi dari Dasar Galian : 44,00 m Tinggi dari Dasar Sungai : 32,00 m

Dinding Halang Beton Plastis : Dalam 30,0m; Panjang ±80m Kedalaman Tirai Sementasi : 35 m

6. Bangunan Pelimpah

Tipe Mercu Pelimpah : Ogee Tanpa Pintu Banjir Desain Outflow PMF : 604 m3/detik Banjir Desain Outflow Q1000 : 255 m3/detik Banjir Desain Outflow Q100 : 195 m3/detik Elevasi Mercu Pelimpah : +185,00 m Elevasi Dasar Saluran Pengarah : +183,00 m Elevasi Dinding Pelimpah : +189,00 m

Lebar Mercu Pelimpah : 56,00 m

Lebar Saluran Transisi : 56,00 s/d 40,00 m Elevasi Mercu Control Section : +180,80 m

Lebar Mercu Control Section : 40,00 m 7. Kolam Olak

a. Tipe Kolam Olak : USBR Tipe-II

b. Lebar Kolam Olak : 40,00 m

c. Panjang Kolam Olak : 22,00 m d. Elevasi Lantai Kolam Olak : +153,50 m 8. Saluran Pelepas

a. Tipe Saluran : Trapesium, Dasar Tanah

b. Lebar Saluran : 33,00 m

c. Panjang Saluran : 429,00 m

d. Elevasi Dasar Saluran : +156,50 s/d 155,80 m 9. Bangunan Pengeluaran

a. Luas Area Irigasi : 1.500 Ha b. Debit Irigasi Maksimum : 1,80 m3/detik

(18)

c. Debit Air Baku : 0,3 m3/detik 10. Instrumentasi Bendungan

a. Patok Bench Mark (MK : 4 buah b. Patok Geser Puncak Dam (CS) : 8 buah c. Patok Geser Lereng Dam (SS) :14 buah d. Inklinometer Tegak (IT) : 2 buah e. Plat Penurunan Multi Titik (MS) : 14 titik f. Pisometer pada Pondasi (FP) : 8 titik g. Pisometer pada Timbunan (P) : 12 titik h. Pisometer Pipa Tegak (OP) : 18 titik

(19)

BAB III PERENCANAAN 3.1 Survei dan Investigasi

3.1.1 Kondisi Topografi

Kondisi topografi pada area waduk pidekso memiliki karakteristik perbukitan batu lapuk dengan lembah antara bukit yang datar serta memiliki elevasi yang beragam. Secara visual site rencana tampungan waduk ini ideal untuk digunakan sebagai waduk, terlihat terdapat dataran yang diapit oleh bukit kiri dan kanan dengan bentang rencana as bendungan sekitar 400 meter. Kondisi rencana tampungan mempunyai lereng yang terjal menutup kearah hulu dengan kapasitas tampunga mencapai 25 juta m3 dan ketinggian bendungan sekitar 32 m.

Kemudian pada bagian tengah-tengah bukit tersebut terdapat aliran sungai dengan lebar 15 m dan tinggi tebing lereng sungai mencapai 4-5 m, yaitu sungai Bengawan Solo. Sungai tersebut dapat mengalirkan air secara kontinyu sekitar 100 lt/det saat musim paling kering.

Gambar 3. 1 Kondisi Topografi area Bendungan

Sumber : Google Street View

(20)

Gambar 3. 2 Kondisi pada area As Bendungan Pidekso

Sumber : Dokumentasi Pribadi

3.1.2 Kondisi Geologi

Batuan yang berada di daerah sekitar tebing dan dasar sungai hingga lereng bagian atas sekitar punggung perbukitan rencana abutmen kanan adalah berupa tuf. Batuan yang berada di river bed adalah alluvial sungai, yang terdiri dari lanau, pasir dan kerikil-kerikil serta pada tebing bantaran sungai terdapat lempung hitam bercampur kerikil-kerikil. Batuan yang tersingkap di daerah sekitar tebing hingga lereng bagian atas sekitar punggung perbukitan rencana abutmen kiri adalah berupa tuf yang menumpang dibagian atas dari tuf breksi.

3.1.3 Kondisi Daerah Genangan

Kondisi daerah genangan pada umumnya merupakan daerah persawahan, kebut penduduk dan sebagian pemukiman/perkampungan.

Persawahan pada umumnya merupakan sawah musiman dengan memanfaatkan air secara gravitasi dari anak-anak sungai Bengawan Solo Hulu dan sebagian langsung dari induk sungai menggunakan pompa.

Daerah genangan waduk pidekso mencakup 3 desa yaitu Desa Pidekso dan Desa Tukulrejo, Kecamatan Giriwoyo serta Desa Sendangsari, kecamatan Batuwarno. Ketiga desa tersebut merupakan daerah persawahan, kebun penduduk dan perkampungan terutama dusun meriang, Desa Pidekso daerah tergenang banyak yang merupakan perkampungan dengan pemukiman yang

(21)

cukup padat, sedangkan di desa lainnya yaitu Desa Sidangsari areal tergenang sebagian besar sawah dan kebun masyarakat. Bentuk genangan Waduk Pidekso melebar kearah kiri dan kanan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo dimana pelebaran cakupan genangan lebih besar dari pada pelebaran cakupan genangan kearah kiri. Cakupan luas genangan secara keseluruhan sebesar ±210 ha pada saat Muka Air Normal (MAN) sedangkan pada saat Muka Air Banjir (MAB) cakupan luas genangan sebesar ±250 ha.

Gambar 3. 3 Kurva massa volume dan luas tampungan

3.1.4 Karakteristik DAS

DAS adalah suatu daerah yang dibatasi oleh pemisah yopografi, yang menerima hujan, menampung, menyimpan dan mengalirkan ke sungai dan seterusnya ke danau dan laut (Suripin, 2002:183). Penentuan luas dan karakteristik DAS dapat dilakukan dengan analisa topografi.

(22)

Gambar 3. 4 Area DAS dan tampungan waduk Sumber : Laporan Hidrologi Waduk Pidekso

3.2 Analisis Hidrologi

Metode analisa yang digunakan antara lain :

 Analisa curah hujan rancangan : Metode Gumbel (terpilih), Normal, Log Pearson III

 Analisa debit banjir rancangan : Metode Gamma I(terpilih), Snyder, Nakayasu

 Analisa distribusi hujan jam-jaman : Metode PSA

 Analisa debit inflow andalan : Metode Mock

 Analisa sedimen : Metode SNI

3.2.1 Curah Hujan Wilayah

lokasi kajian berada di kabupaten Wonogiri Kec. Giriwoyo, sehingga stasiun hujan yang digunakan adalah stasiun hijan yang berada di Bengawan Solo hulu, untuk lokasi stasiun hujan yang berdekatan dengan daerah wonogiri diantaranya :

(23)

1. Sta. Wd.Krisak, 2. Sta. Kepathan, 3. Sta. Nguntoronadi, 4. Sta. Kedung Uling, 5. Sta. Eromoko,

6. Sta. Wonogiri Pengairan, 7. Sta. Giriwoyo,

8. Sta. B. Ngancar, dan 9. Sta. Girimarto.

Dari sembilan stasiun hujan data yang ada, sedikitnya 3 stasiun yang berada dekat dengan lokasi kajian, yaitu stasiun Eromoko, Stasiun B. Ngancar dan Stasiun Giriwoyo. Namun dari ketiga stasiun tersebut, pencatatan data hujannya yang lengkap adalah stasiun B. Ngancar dengan pertimbangan : 1. Periode pencatatan data curah hujan di Stasiun B. Ngancar cukup

panjang, yaitu selama 20 tahun (tahun 1990 s/d 2009)

2. Periode pencatatan data curah hujan di stasiun lainnya juga cukup panjang, yaitu 18 tahun (tahun 1990 s/d 2007), namun datanya banyak yang kosong.

3. Dari hasil uji homogenitas data hujan pada stasiun Giriwoyo, Eromoko dan B. Ngancar masing-masing didapat :

No Stasiun Fcal Fcr Hasil Test

1 Giriwoyo 42.7 2.77

Fcal > Fcr, data tidak homogen, data tidak diterima

2 Eromoko 0.33 2.77 Fcal < Fcr, data homogen, data dapat diterima 3 B.Ngancar 0.01 2.77 Fcal < Fcr, data homogen, data dapat diterima 4. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa stasiun yang

digunakan auntuk analisis selanjutnya adalah Stasiun B. Ngancar, yang lokasinya lebih dekat dengan lokasi studi.

Hujan rata-rata tahunan Stasiun B. Ngancar sebesar 1.542 mm dengan data rata-rata bulanan adalah sebagai berikut :

(24)

Tabel 3. 1 Curah hujan rata-rata bulanan

Gambar 3. 5 Curah hujan rata-rata bulanan

Data meteorologi yang tersedia meliputi data temperatur udara, kecepatan angin, kelembapan udara, penyinaran matahari, berdasarkan pencatatan data stasiun klimatologi Wonogiri.

Tabel 4. 1 Data klimatologi stasiun Wonogiri

Sumber : Data stasiun Klimatologi Wonogiri 2002-2008

3.2.2 Analisis Hujan Rancangan

Analisis curah hujan dilakukan dengan probabilitas kala ulang 1.01, 2, 5, 10, 25, 50, 100, 200, 500, 1000 dan PMP. Beberapa metode analisis frekuensi curah hujan yang digunakan adalah : Metode Normal, Metode Log Normal, Metode Gumbel Tipe I dan Metode Log Person III. Berikut data hujan harian maksimum yang dapat digunakan selama 20 tahun, mulai tahun 1990 sampai 2009.

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des

275.5 296.35 236.45 206.45 59.05 43.6 29.15 12.5 7.05 39.5 115.95 225.2

0 50 100 150 200 250 300 350

Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nov Des

Curah Hujan (mm)

Bulan

Curah Hujan Rata-rata Stasiun Waduk Ngancar

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

Temperatur Udara C 27.7 27.3 27.4 27.7 27.4 26 24.6 25.6 26.8 27.2 27.3 26.9 26.825

Kecepatan Angin m/det 3 3 2 3 5 4 5 6 6 4 2 2 3.75

Kelembapan Udara % 80 81 81 82 79 83 82 82 80 84 84 83 81.75

Penyinaran Matahari % 46 48 66 68 70 73 72 74 72 69 63 59 65

Data Klimatologi

Rerata Satuan

Uraian

(25)

Tabel 4. 2 Curah hujan harian maksimum bulanan

1. Pemilihan Distribusi Sebaran

Kala ulang (return periode) didefinisikan sebagai waktu hipotetik dimana hujan atau debit dengan suatu besaram tertentu akan disamai atau dilampaui sekali dalam jangka waktu tersebut. Analisis frekuensi ini didasarkan pada sifat statik data yang tersedia untuk memperoleh probabilitas besaran hujan (debit) dimasa yang akan datang.

Berdasarkan perhitungan uji sebaran data curah hujan harian maksimum, didapat hasil uji sebaran untuk masing-masing distribusi sbb. :

a. Distribusi Normal

Cs = 0,034 > -0.05 &< 0.05  Memenuhi syarat Ck = 4.604 > 3.3  Tidak memenuhi syarat b. Distribusi Log Normal :

Cs = Cv3 + 3Cv = 0.800 > 0.034  Tidak memenuhi syarat Ck = Cv8 + 6Cv6 + 15Cv4 + 16Cv2 + 3 = 4.17 < 4.604  Memenuhi syarat

Cs/Cv = 0.13 < 3

c. Distribusi Gumbel Tipe 1 :

Cs = 0.034 < 1.1396  Tidak memenuhi syarat Ck = 4.604 < 5.4002  Tidak memenuhi syarat

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des

1990 115 0 37 51 39 13 27 0 0 3 42 99 115

1991 51 62 50 53 13 0 0 0 0 0 43 72 72

1992 60 74 58 41 58 19 58 34 11 32 34 89 89

1993 80 43 26 59 25 28 0 3 0 3 48 80 80

1994 65 46 80 15 37 2 0 0 0 0 22 80 80

1995 65 84 80 53 31 32 32 0 0 45 67 84 84

1996 56 0 39 34 21 9 0 77 0 0 57 77 77

1997 82 80 21 49 43 0 0 0 0 6 11 82 82

1998 28 98 115 61 25 44 52 9 31 47 18 115 115

1999 75 45 75 36 22 0 4 0 15 32 70 75 75

2000 45 73 40 41 16 35 0 335 0 23 41 73 335

2001 51 55 47 43 20 59 4 0 - 0 42 59 59

2002 0 0 0 37 49 0 0 3 0 0 83 83 83

2003 114 103 64 10 20 4 0 0 0 65 0 114 114

2004 - - 0 0 13 31 10 - - - - 31 31

2005 75 50 88 64 3 48 61 0 11 22 33 88 88

2006 0 80 0 48 0 0 0 0 0 0 0 80 80

2007 38 68 50 98 48 0 0 0 0 0 0 132 132

2008 93 96 54 72 8 0 0 0 0 0 0 96 96

2009 58 70 0 52 37 19 0 0 0 0 66 70 70

Tahun Curah Hujan Harian Maksimum Bulanan (mm) R24Max

(mm)

(26)

Dari ketiga distribusi sebaran tersebut tidak ada yang memenuhi syarat uji sebenarnya, yang agak mendekati adalah distribusi Normal dan Log Normal. Namun mengingat perbedaan antara parameter statik hasil hitungan dan nilai persyaratan tidak begitu besar, maka untuk lebih meyakinkan dilakukan juga uji lainnya, yaitu Chi-Kwadrat dan Smirnov-Kolmogorov.

2. Distribusi Rancangan

Metode-metode yang digunakan dalam menentukan distribusi rancangan adalah metode Distribusi Normal, Log Normal, Log Pearson tipe III, dan Gumbel. berikut hasil rekapitulasi perhitungan analisis distribusi hujan rancangan dengan metode-metode tersebut dapat dilihat pada table dan grafik dibawah berikut :

Tabel 4. 3 Analisis hujan rancangan

Sumber : Hasil Analisis Konsultan 2011

(27)

Gambar 3. 6 Analisis hujan rancangan

3. Hasil Uji Distribusi Frekuensi

Untuk mengetahui apakah data tersebut benar sesuai dengan jenis sebaran teoritis yang dipilih maka perlu dilakukan pengujian lebih lanjut. Untuk keperluan analisis uji kesusaian dipakai 2 (dua) metode statistik yaitu uji Smirnov-Kolmogorov dan Uji Chi Kuadrat (X2). Hasil dari uji masing-masing distribusi hujan rancangan didapat sebagai berikut :

a. Hasil dari Uji Chi Kuadrat (X2)

 Distribusi Normal : X2hitung = 10.0 < X2cr = 10.597  distribusi diterima

 Distribusi Log Normal : X2hitung = 4.0 < X2cr = 5.991  distribusi diterima

 Distribusi Gumbel : X2hitung = 4.0 <X2cr = 5.991  distribusi diterima

 Distribusi Log Pearson III : X2hitung = 14 < X2cr = 10.597  distribusi tidak dapat diterima

b. Hasil Uji Smirnov-Kolmogorov

Berdasarkan tabel harga kritis uji smirnov-kolmogorov, untuk jumlah data n = 20 bh dan a = 5%, didapat nilai delta kritis (∆cr) =

0 50 100 150 200 250

1 10 100 1000

Hujan Maksimum (mm/hari)

Kala Ulang (Tahun)

Normal Log Normal Log Pearson Tipe-III Gumbel

(28)

0.29, sementara dari hasil perhitungan delta maksimumnya (∆Maks) untuk masing-masing distribusi sbb. :

 Distribusi Normal : ∆Maks = 0.111 < ∆Kritik  distribusi diterima

 Distribusi Log Normal : ∆Maks = 0.127 < ∆Kritik  distribusi diterima

 Distribusi Gumbel : ∆Maks = 0.158 < ∆Kritik  distribusi diterima

 Distribusi Log Pearson III : ∆Maks = 0.133 < ∆Kritik  distribusi diterima

Dari keempat distribusi yang digunakan untuk analisis curah hujan harian maksimum tersebut diatas, hasil ujinya semuanya masuk kriteria dan yang ∆Maks-nya paling kecil adalah Distribusi Normal.

Meskipun hasil uji dengan Distribusi Normal nilainya ∆Maks paling kecil, namun hujan garian maksimum hasil analisisnya tidak dipilih, karena besaran curah hujannya kala ulang 25, 100, dan 1000 tahun relatif lebih kecil. Sehingga untuk pertimbangan keamanan, maka analisis banjir rancangan selanjutnya dipilih hujan harian maksimum hasil hitungan Distribusi Gumbel.

4. Analisa Hujan Maksimum Boleh Jadi (PMP)

Curah hujan yang mungkin terjadi disuatu daerah pegaliran sungai dalam suatu periode tertentu merupakan data untuk menaksir besarnya hujan maksimum boleh jadi (PMP) dan dihitung dengan persamaan Hersfield, sbb :

𝑋𝑚 = X + 𝐾𝑚 ∗ 𝑆𝑛 Dimana :

Xm = curah hujan PMP (mm)

Xn = curah hujan maksimum rata-rata tahunan (mm) Km = konstanta,

Sn = standar deviasi curah hujan harian maksimum

(29)

Hasil perhitungan curah hujan maksimum (PMP) berdasarkan curah hujan harian maksimum dengan metode Hersfield besarnya adalah 418 mm, sementara berdasarkan hasil perhitungan dengan peta isohyet terbaru (th-2011) besarnya adalah 522.5 mm, sehingga untuk perencanaan selanjutnya dipilih PMP yang lebih besar, yaitu 522.5 mm.

Dari hasil penentuan curah hujan diatas, didapat curah hujan rancangan dengan metode terpilih (Metode Gumbel) pada tabel dibawah berikut :

Tabel 3. 2 Analisis hujan rancangan metode Gumbel

Sumber : Lapora Hidrologi Waduk Pidekso

3.2.3 Analisis Debit Banjir Rancangan

Untuk menganalisa debit banjir rancangan dapat dilakukan dengan menggunakan metode hidrograf dan metode non hidrograf. Anilsa debit banjir rancangan dengan metode hidrograf dilakukan dengan menggunakan bantuan model hidrograf satuan sintetis, sedangkan analisis debit banjir rancangan dengan metode non hidrograf dilakukan dengan menggunakan teknik analisis frekuensi. Namun untuk menentukan debit banjir rancangan dengan analisis frekuensi ini diperlukan ketersediaan data debit tahunan pada lokasi yang dikaji, sedangkan permasalahan umum yang sering timbul di lapangan adalah tidak tersedianya data debit untuk keperluan tersebut.

Karena tidak tersedianya data debit pengamatan di Sungai Bengawan Solo Hulu, penentuan debit banjir rencangan dilakuakan dengan menggunakan tiga pendekatan metode hidrograf satuan sintetis, yaitu HSS

5 10 20 50 100 200 500 1000 PMP

203.69 218.19 522.5 120.85 140.67 155.37 169.96 184.51 Kala Ulang

(tahun)

Hujan Rancangan (mm) 105.16

(30)

Nakayasu, HSS Gamma-I dan HSS Snyder. Namun akan dibandingkan dengan data pengamatan debit dikali lanang yang tercatat selama 5 tahun berturut-turut (2001-2006).

1. Hujan Harian Maksimum Efektif Rancangan

Dengan asumsi bahwa proses transformasi hujan menjadi limpasan langsung mengikuti proses linear dan tidak berubah oleh waktu (Iinear and time invariant process), maka hujan harian netto (Rn) atau hujan harian efektif dapat dinyatakan sebagai berikut :

𝑅𝑛 = 𝐶 × 𝑅24 Dengan :

Rn = curah hujan harian netto (mm)

C = koefisien pengairan atau limpasan (lihat tabel dibaawah) R24 = curah hujan harian maksimum (mm)

Tabel 3. 3 Koefisien pengaliran

Sumber : (Jearson Loebis, 1987)

Kondisi Daerah Tangkapan Air (DTA) untuk rencana Bendungan Pidekso berupa daerah pegunungan tersier, untuk itu besarnya koefisien pengaliran (runn-off coefficient) diambil sebesar 0.75

Tabel 3. 4 Curah hujan harian maksimum efektif

1 Daerah pegunungan yang curam 0.75 - 0.90

2 Daerah pegunungan tersier 0.70 - 0.80

3 Daerah bergelombang dan hutan 0.50 - 0.75

4 Daerah dataran yang ditanami 0.45 - 0.60

5 Persawahan yang dialiri 0.70 -0. 80

6 sungai di daerah pegunungan 0.75 - 0.85

7 Sungai kecil di daerah dataran 0.45 - 0.75

8 Sungai yang besar dengan wilayag Pengaliran yang

lebih kecil dari seperduanya terdiri dari dataran 0.50 - 0.75 Koefisien Pengaliran C

No Kondisi Daerah Tangkapan Air

T 1.01 2 5 10 25 50 100 200 500 1000 1/2PMP PMP

41.84 81.47 105.16 120.85 140.67 155.37 169.96 184.51 203.69 218.19 285.00 522.50

C 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75 0.75

31.38 61.1025 78.87 90.6375 105.5025 116.5275 127.47 138.3825 152.7675 163.6425 213.75 391.875 Hujan Harian Maksimum Efektif untuk Berbagai Kala Ulang

𝑅 𝑅24

(31)

2. Distribusi Hujan Rancangan

Pada perencanaan bendungan, untuk memeperkirakan hidrograf banjir rancangan dengancara hidrograf sauan (unit hydrograph) perlu diketahui dahulu sebaran hujan jam-jaman dengan suatu interval tertentu.

Dalam stidi yang dilakukan, karena data pengamatan sebaran hujan tidak tersedia maka perhitungannya digunakan rumus Tanimoto/Borema, sebagai berikut :

𝑅𝑡 = 𝑅24 𝑡 (𝑡

𝑇)

2 3

𝑅𝑇 = 𝑡 × 𝑅𝑡 − (𝑡 − 1) × 𝑅(𝑡 − 1) Dengan :

Rt = curah hujan rata-rata sampai jam ke-t(mm) R24 = curah hujan harian maksimum rancangan (mm) T = jumlah dari jam, 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 (jam) Rt = distribusi curah hujan pada jam ke-t (mm)

Pada perencanaan bendungan, untuk memperkirakan hidrograf banjir rancangan dengan hidrograf satuan (unit hydrograph) perlu diketahui dahulu persebaran hujan jam-jaman dengan suatu interval tertentu. Sebaran jam-jaman dipilih dengan durasi hujan 6 jam yang menghasilkan debit banjir maksimum, setelah sebelumnya dicoba-coba dengan durasi hujan lainnya seperti 9 jam dan 12 jam.

(32)

Tabel 3. 5 Persebaran hujan jam-jaman

Sumber : Laporan Ringkas Pidekso

Untuk metode perhitungan debit banjir rencana digunakan Metode HSS Gamma I, sedangkan metode lainnya digunakan sebagai pembanding.

Karena tidak tersedianya data banjir dilokasi bendungan, maka untuk perhitungan Hidrograf banjir digunakan hidrograf satuan sintetis. Dalam studi ini dilakukan perhitungan hidrograf banjir dengan tiga metode yaitu HSS Nakayasu, Gamma-1 dan Snyder.

Dari ketiga metode tersebut, harga hasil hitungan dengan metode Gamma 1 yang dipilih sebagai hidrograf debit banjir rancangan, kemudian dicek dengan hasil hitungan metode HSS Nakayasu dan HSS Snyder pada perhitungan penelusuran banjir. Harga hasil hitungan Gamma 1 untuk debit PMF jika diplot pada kurva Creager bisa diterima sebagai banjir rancangan.

Rekapitulasi debit banjir puncak hasil perhitungan ketiga metode tersebut untuk berbagai kala ulang dan debit banjir rancangan yang terpilih untuk desain bendungan Pidekso dapat dilihat pada tabel dibawah berikut :

(33)

Tabel 3. 6 Debit banjir puncak berbagai metode yang digunakan

Sumber : Hasil Analisis Konsultan

Cara perhitungan banjir rancangan dengan menggunakan Metode Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Gamma-1 ini dilakukan oleh Sri Harto pada tahun 1985. Setelah mengadakan penelitian terhadap ±30 DAS di Pulau Jawa.

Cara ini disajikan dalam bentuk persamaan-persamaan empiris tenang sifat dasar hidrograf satuan, yaitu waktu naik hidrograf (TR), waktu dasar hidrograf (TB) dan debit puncak hidrograf (Qp).

Gambar 3. 7 Hidrograf banjir waduk pidekso metode HSS Gamma I 0

100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000

0 5 10 15 20 25 30

Hidrograf Banjir Waduk Pidekso Metode HSS Gamma I

Q25 Q100 Q1000 QPMF

(34)

3.3 Perencanaan Bangunan Pengelak (Konduit)

Bangunan pengelak merupakan bagian dari bangunan pelengkap Bendungan Pidekso. Desain bangunan pengelak dengan tipe konduit gali-tutup (cut & cover conduit). Bangunan ini selain memiliki fungsi untuk mengelakkan sungai selama pelaksanaan konstruksi juga berfungsi untuk mengeluarkan air irigasi dan air baku. Dari pertimbangan aspek lokasi daerah layanan, kondisi topografi dan geologi, lokasi bangunan pengelak diletakkan di bukit sandaran kiri.

Sebagai konduit pengelak, elevasi inlet dipasang pada EL. 159 m dan panjangnya kurang lebih 215 dengan bentuk penampang semi lingkaran ber- diameter 2.5 m. Setelah fungsi sebagai sarana pengelakkan sungai seleian inletnya ditutup dengan beton (concrete plugging). Selanjutnya untuk keperluan pengeluaran air irigasi dan air baku dibuatkan menara sadap dengan elevasi ambang pengambilan EL. 174.5 m.

Bangunan pengelak konduit yang difungsikan juga menjadi bangunan pengeluaran direncanakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sbb :

1. Sebagai bangunan pengelak sungai direncanakan berdasarkan debit rencana Q25, bangunan ini berfungsi untuk mengalirkan air musim hujan maupun musim kmarau selama pelaksanaan konstruksi tubuh bendungan.

2. Sebagai pengeluaran air untuk irigasi mengaliri areal seluas 1500 Ha dengan debit maksimum sebesar 1800 l/det dan air baku maksimum sebesar 300 l/det, dengan cara mengatur bukaan pintu sadap yang dipasang di menara pengambilan, dan

3. Sebgai sarana untuk pengosongan waduk apabila terjadi sesuatu yang membahayakan bendungan dan untuk itu harus dikosongkan, dengan kapasitas maksimum pengeluaran pada kondisi muka air normal adalah sebesar 18,8 l/det.

Pada perencanaan bangunan konduit pengelak di waduk pidekso awalnya pengelak memiliki tipe semi lingkaran dengan 1 buah lubang (berdasarkan DED) namun karena berbagai pertimbangan dari pihak konsultan supervisi

(35)

akhirnya dilakukan modifikasi desain penampang konduit menjadi persegi dengan 2 buah lubang.

3.3.1 Konduit Sesuai Detail Engineering Design (DED)

Berdasarkan gambar desain yang telah dikerjakan pada saat perencanaan terdahulu, konduit sesuai dengan DED secara garis besar dapat diketahui sebagai berikut :

 Debit banjir rencana masuk (inflow) Qi25 : 249.08 m3/det

 Debit banjir rencana keluar (outflow) B : 43.85 m3/det

 Diameter (D) : 2.5 m

 Tinggi (H) : 2.5 m

 Tinggi (h) : 1.25 m

 Lebar (B) : 2.5 m

 Luas tampang basah (A) : 5.58 m2

 Kemiringan dasar saluran (I) : 0.002

 Koefisien kekasaran Manning (n) : 0.014

Gambar 3. 8 Penampang konduit sesuai DED

Data debit banjir rencana yang keluar (Outflow) didapat dari hasil routing yang dilakukan berdasarkan kondisi topografi serta debit masuk rencana (Inflow) pada saluran pengelak. Hasil tersebut didapat Output maksimal sebesar 43.85 m3/det yang terjadi pada jam ke 10, sementara itu elevasi muka air banjir (MAB) didapat berdasarkan limpasan yang terjadi (luasan hidrograf) menandakan

(36)

luasan area genangan dan dihubungkan dengan kurva massa hasil dari survei lokasi waduk. Penentuan elevasi MAB pada perencanaan saluran pengelak dimaksudkan untuk menentukan tinggi Cofferdam yang digunakan untuk membendung aliran sungai agar aliran dapat diarahkan ke saluran pengelak.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari Hidrograf inflow – outflow Q25 hasil dari analisis konsultan sebagai berikut :

Gambar 3. 9 Hidrograf masuk dan keluar debit Q25

3.3.2 Dimensi dan Struktur Saluran Modifikasi Desain Konduit

Dimensi susulan modifikasi konduit adalah berupa konstruksi beton bertulang berbentuk kotak dengan dua lubang (double barrel conduit).

Adalun dimensi susulan modifikasi konduit dapat dilihat pada gambar dibawah berikut :

(37)

Gambar 3. 10 Modifikasi penampang konduit

 Tipe Pengelak : 2 lubang segi empat

 Elevasi Ambang Inlet Konduit : +159,00 m

 Elevasi Dasar Outlet Konduit : +157,38 m

 Debit banjir rencana masuk (inflow) Qi25 : 249.08 m3/det

 Lebar (B) : 2.5 m

 Tinggi (H) : 2.5 m

 Tinggi (Ht) : 4.5 m

 Lebar (B) : 2.5 m

 Lebar (Penampang atas) : 8 m

 Lebar (Penampang bawah) : 10.25 m

 Luas tampang basah (untuk 1 lubang) : 6.07 m2

 Luas tampang basah (untuk 2 lubang) : 12.14 m2

 Kemiringan dasar saluran (I) : 0.00447

 Koefisien kekasaran Manning (n) : 0.014

Sama seperti pada desain awal, debit outflow dihitung menggunakan routing dan menghasilkan debit sebesar 115.3 m3/det dengan elevasi genangan +168.29 m serta luas genangan 63.4 ha pada kondisi 2 lubang.

sedangkan jika hanya digunakan 1 lubang didapat debit maksimal sebesar 64.02 m3/det dengan elevasi genangan +170.094 m serta luas genangan 77.24 ha.

(38)

Gambar 3. 11 Hidrograf masuk dan keluar debit Q25

Dengan adanya susunan modifikasi desain konduit dari satu lubang menjadi dua lubang maka berdasarkan analisis piha konsultan, dapat disimpulkan secara ringkas sebagai berikut :

- Ketinggian elevasi genangan di dalam waduk bisa turun sedalam 2.4 m, dari EL +170.69 turun ke EL +168.29 m.

- Luas genangan di dalam waduk menjadi lebih kecil yaitu seluas 63.4 ha.

- Kapasitas pengeluaran melalui konduit menjadi naik dari 43.85 m3/det menjadi 115.30 m3/det, sehingga ada kenaikan kapasitas sebesar 263%

- Pada saat pemasangan hidro mekanikal air dari tampungan waduk masih bisa mengalir maksimum sebesar 64.02 m3/det (melalui satu lubang konduit masih bisa difungsikan untuk pengelakkan) , sehingga dampak sosial dapat dieliminir yang terkait dengan kebutuhan air sungai pada bagian hilir bendungan.

- Biaya konstruksi khisis untuk konduit akan terjadi kenaikan dari Rp.

16.118.573.981 menjadi Rp. 29.739.162.669 atau hampir dua kali kenaikannya.

(39)

Gambar 3. 12 Penampang memanjang konduit

(40)

3.4 Peralatan Hidromekanikal – Elektrikal

Peralatan hidromekanikal proyek pembangunan bendungan dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan : fungsi, adanya alternatif, biaya konstruksi, struktur sederhana, bebas dari gangguan (trouble free), rehabilitas dan mudah baik dalam pengoperasian maupun perawatannya berdasarkan kondisi operasi dan fungsinya. Peralatan hidromekanikal-elektrikal Bendungan Pidekso terdiri dari :

1. Menara Sadap, terdiri dari :

 Pintu Pemeliharaan sebanyak 2 buah, berupa pintu sorong 1.5 m x 1.5 m

2. Rumah Katup No. 1, terdiri dari :

 Pintu darurat/penguras : Pintu sorong 0.8 m x 0.8 m, 1 bh

 Pintu pengaman : Pintu Katup Ø 0.6 m, 1 bh

 Pintu pengatur irigasi : Pintu Jetflow Ø 0.6 m, 1 bh

 Pintu pengatur air baku : Stop Valve Ø 0.3 m, 1 bh 3. Rumah Katup No. 2, terdiri dari :

 Pintu darurat/penguras : Pintu sorong 0.8 m x 0.8 m, 1 bh

 Pintu pengaman : Pintu Katup Ø 0.6 m, 1 bh

 Pintu pengatur irigasi : Pintu Jetflow Ø 0.6 m, 1 bh

 Pintu pengatur air baku : Stop Valve Ø 0.3 m, 1 bh

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pola operasi, dimensi dan kondisi desain, maka untuk Bendungan Pidekso direncanakan peralatan

hidromekanikal sebagai berikut : 3.4.1 Pintu Pemeliharaan

a. Tipe : Pintu Stoplog

b. Jumlah : 1 (satu) set.

c. Lebar bentangan : 1.5 m.

d. Tinggi bentang pintu : 1.5 m.

(41)

e. Ketinggian air normal (NWL) : EL. 185.0 m.

f. Elevasi dudukan pintu : EL. 174.5 m.

g. Ketinggian air desain : 12.5 m

h. Metode karet perapat : 4 permukaan sisi karet di posisi hilir

i. Maksimum lendutan balok : 1/800 j. Persyaratan karat : 2.0 mm 3.4.2 Pintu Operasi Intake

a. Tipe : Pintu Stoplog

b. Jumlah : 1 (satu) set.

c. Lebar bentangan : 1.5 m.

d. Tinggi bentang pintu : 1.5 m.

e. Ketinggian air normal (NWL) : EL. 185.0 m.

f. Elevasi dudukan pintu : EL. 174.5 m.

g. Ketinggian air desain : 12.5 m

h. Metode karet perapat : 4 permukaan sisi karet di posisi hilir

i. Maksimum lendutan balok : 1/800 j. Persyaratan karat : 2.0 mm Kapasitas Alat Angkat Pintu

1. Spesifikasi alat angkat pintu

Tipe alat angkat pintu : Tipe spindel dengan penggerak listrik/manual

Jumlah : 1(satu) set

Kecepatan angkat : 0.3 m/min

Daya listrik : 400V, 50 Hz, 3 Phase, 4 kawat.

Material Spindel : Sus 304 dengan diameter 80 mm 2. Kapasitas motor yang digunakan.

𝑁 = 𝐹 × 𝑉 6.12 × 𝜂

(42)

𝑁 = 8 × 0.3

6.12 × 0.25= 1.57 𝑘𝑊 = 2.2 𝑘𝑊

3.4.3 Pintu Pengelak

a. Tipe : Pintu Stoplog

b. Jumlah : 1 (satu) set.

c. Lebar bentangan : 2.5 m.

d. Tinggi bentang pintu : 2.5 m.

e. Ketinggian air banjir (FWL) : EL. 185.0 m.

f. Ketinggian air normal (NWL) : EL. 185.0 m.

g. Elevasi dudukan pintu : EL. 159.0 m.

h. Ketinggian air desain : 26.0 m

i. Metode karet perapat : 4 permukaan sisi karet di posisi hilir

j. Maksimum lendutan balok : 1/800 k. Persyaratan karat : 0 mm

3.4.4 Desain Saringan Sampah

a. Tipe Saringan : Bar Elemen Tetap

b. Jumlah : 1 (satu) unit

c. Lebar Bentangan : 3.0 m.

d. Tinggi Bnetangan : 5.0 m.

e. Gradien : 90o (0o)

f. Pit bar elemen : 100 mm. (center ke center)

g. Tinggi bar : 12 mm.

h. Lebar bar : 100 mm.

i. Elevasi : 2 mm

j. Lendutan : Maksimum 1/600 dari bentangnya

k. Material : Material JIS. G 3101 – SS 400;

i. σϒ = 2,400 kg/cm2 ii. σb = 1,200 kg/cm2

(43)

3.4.5 Perhitungan Tebal Dinding Pipa

a. Tipe Penstok : Terbuka

b. Jumlah : 1 (satu) Set

c. Diameter : 800 mm.

d. Panjang : ±200 meter

e. Ketinggian air banjir (FWL) : EL. 187.0 m f. Ketinggian air normal (NWL) : EL. 185.0 m

g. Elevasi dudukan senter pipa : EL. 159.4 m h. Ketinggian air desain : 27.6 m

i. Persyaratan karat : 2.0 mm

j. Material : Material JIS. G 3101 – SS400;

i. σϒ = 2,400 kg/cm2 ii. σb = 1,200 kg/cm2 Tebal Dinding

Tebal dinding pipa dapat dihitung dengan rumus : 𝑡 =𝑃 × 𝐷𝑝𝑖𝑝𝑎

2 × 𝜎𝑖𝑗𝑖𝑛 + 0.2

Dimana :

P = Tekanan didalam pipa = 2.76 kg/cm2

D = Diameter pipa = 800 mm

σa = Tegangan ijin = 1200 kg/cm2

t = Tebal dinding pipa = cm 𝑡 =2.76 × 80

2 × 1200 + 0.2 = 0.29 𝑐𝑚 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖 0.8 𝑐𝑚 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝟖 𝒎𝒎 Catatan :

Untuk Pintu Jet Flow dan Pintu Bonneted diasumsikan beli atau dari pabrikan

(44)

BAB IV

PELAKSANAAN PEKERJAAN SALURAN PENGELAK 4.1 Umum

Pada pembangunan suatu bendungan diperlukan beberapa tahapan, diantaranya adalah pengelakan aliran sungai. Proses pengelakkan sungai ini bertujuan untuk mengalihkan aliran sungai agar air tidak menggenangi lokasi pembangunan selama periode pelaksanaan kontruksi bendungan. Pada proses pengelakkan aliran sungai tersebut diperlukan saluran pengelak yang berfungsi untuk mengelakkan aliran sungai. Saluran pengelak pada proyek pembangunan Waduk Pidekso ini menggunakan saluran tertutup berupa conduit.

Gambar 4. 1 Layout pekerjaan proyek

Gambar 4. 2 Lokasi pekerjaan konduit

Proses pekerjaan conduit pengelak dibagi menjadi 19 sekmen dengan masing masing sekmen memiliki panjang yang berbeda. Untuk pelaksanaan

(45)

pekerjaan saluran conduit pengelak kali ini, sekmen yang ditinjau adalah khusus sekmen 17.

Proses pelaksanaan pekerjaan konstruksi konduit pengelak memiliki alur pekerjaan mulai dari galian tiap sekmen sampai pada akhirnya tahap pengecoran. Untuk lebih jelasnya dapat dillihat pada flow chart dibawah ini:

Gambar 4. 3 Flowchart pekerjaan pengelak

Data Teknis Konduit

Gambar 4. 4 Penampang melintang konduit

(46)

Debit Banjir Inflow Q25 : 295.65 m3/detik Debit Banjir Outflow Q25 : 44,03 m3/detik

Tipe Pengelak : 2 lubang segi delapan diameter 2,5 m Elevasi Ambang Inlet Konduit : +159,00 m

Elevasi Dasar Outlet Konduit : +157,38 m 4.2 Alat dan Material

Alat dan material yang digunakan pada pekerjaan conduit pengelak adalah sebagai berikut:

Alat

4.1 Alat Ukur

Alat ukur adalah alat yang bertujuan untuk kebutuhan pemetaan seperti menentukan titik koordinat dilapangan dan menentukan elevasi suatu tempat. Dalam pekerjaan conduit pengelak ini, alat ukur digunakan untuk menentukan lokasi as conduit dan elevasi dasar conduit pengelak. Alat ukur yang digunakan meliputi electronic station, waterpass, pole prisma, dan tripod.

4.2 Excavator

Excavator adalah jenis alat berat yang digunakan untuk membuat kemiringan (sloping), memuat dumptuck (loading material), pemecah batu (breaker), dan sebagainya. Dalam pekerjaan conduit pengelak ini, jenis excavator yang digunakan ada 3 yaitu:

 Excavator bucket, untuk memindahkan material ke dump truck

 Ripper, untuk membuat kemiringan

 Breaker, untuk memecahkan batu atau material keras lain

(47)

Jumlah excavator yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan conduit pengelak adalah masing-masing satu untuk excavator bucket, ripper, dan breaker.

4.3 Dump Truck

Dump truck digunakan untuk memindahkan dan mengangkut material hasil galian menuju ke tempat pembuangan sementara (disposal).

4.4 Truck Mixer

Truck mixer merupakan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut adukan beton ready mix dari tempat pencampuran beton kelokasi proyek dimana selama dalam pengangkutan mixer terus berputar dengan

kecepatan 8-12 putaran permenit agar beton tetap homogen serta tidak mengeras. Selain itu pada saat penuangan beton, digunakan concrate pump agar beton tidak mengalami segregasi mengingat pengecoran dilakukan pada sebuah lubang konduit dengan kedalaman sekitar 5 m 4.5 Peralatan bekisting

Bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Material 1. Semen

Semen merupakan bahan perekat dari agregat untuk membuat beton.

Dalam pekerjaan konstruksi conduit pengelak Waduk Pidekso, semen yang digunakan adalah semen Portland tipe I.

2. Admixture

Admixture merupakan bahan kimia campuran beton yang digunakan untuk memodifikasi sifat dan karakteristik beton. Dengan adanya admixture, diharapkan dapat meningkatkan kekuatan beton dan meningkatkan sifat kedap air pada beton.

3. Agregat

Agregat merupakan material campuran beton yang paling penting dan terdiri dari agregat kasar (batu dan kerikil) dan agregat halus (pasir).

4. Tulangan

(48)

Fungsi utama baja tulangan pada struktur beton bertulang adalah untuk menahan gaya tarik agar beton terhindar dari keretakan. Dalam pekerjaan konstruksi conduit pengelak Waduk Pidekso, tulangan baja yang digunakan adalah tulangan ulir dengan diameter sebagai berikut:

 D13

 D16

 D19

 D22

 D25

4.3 Persiapan Kerja

Sebelum melakukan segala kegiatan pekerjaan proyek, setiap harinya kecuali hari jumat diadakan kegiatan “Toolbox Meeting” yaitu kegiatan semacam pengarahan kepada para pekerja yang akan melakukan pekerjaan pada hari itu. Arahan-arahan yang disampaikan berupa informasi terkait pekerjaan apa saja yang akan dilakukan serta himbauan kepada para pekerja agar tetap berhati-hati dalam bekerja dan tetap mengutamakan keselamatan kerja. Arahan disampaikan dari pihak K3L, pengawas lapangan atau mandor baik itu dari pihak kontraktor utama maupun dari sub kontraktor. kegiatan Toolbox Meeting dilaksanakan pada 2 bagian pekerjaan, masing-masing pekerjaan tersebut yaitu pekerjaan bagian tumpuan kiri dan kanan bendungan.

Kegiatan tersebut dijadwalkan pukul 07.30. Selain itu ada pula apel pagi yang diadakan setiap hari jumat pukul 07.30. berbeda dengan dengan Toolbox Meeting yang dilakukan terpisah antara bagian pekerjaan tumpuan kiri dan kanan bendungan, kegiatan apel pagi dilakukan pada tempat yang sama yaitu di halaman Site Instalation.

(49)

Gambar 4. 5 Kegiatan toolbox meeting

Setelah kegiatan Toolbox Meeting atau apel pagi selesai dilaksanakan yang ditandai dengan teriakan jargon yang dilontarkan oleh semua pekerja, selanjutnya para pekerja melakukan mobilisasi ke tempat pekerjaannya masing- masing.

4.3 Pekerjaan Galian Tanah

Pekerjaan galian tanah untuk konstruksi koduit pengelak dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian tebing tumpuan kiri tubuh bendung dan bagian tiap sekmen conduit. Tebing tumpuan kiri bendung perlu di gali karena as konduit pengelak memotong sepanjang tebing tersebut dari segmen 4 sampai segmen 19.

Dalam pekerjaan galian tanah untuk konstuksi pengelak, galian yang mahasiwa tinjau adalah galian pada sekmen 17 yang memiliki penampang trapesium. Sekmen tersebut digali sepanjang 12.2 m, dengan kedalaman 5 meter, lebar atas 10 meter, dan lebar bagian bawah 5 meter. Dengan demikian, volume galian pada sekmen 17 adalah 468 m3. Pekerjaan galian tanah untuk sekmen 17 dilakukan dengan bantuan alat excavator bucket dan ripper (kuku bima).

Selanjutnya, material galian hasil dari sekmen 17 di angkut menggunakan dump truck menuju tempat pembuangan sementara (disposal).

Tempat pembuangan material hasil galian terdiri dari dua tempat, yaitu disposal 3.1 dan disposal 3.2. Hasil material dihampar di area disposal, lalu

(50)

dipisahkan dengan material yang dapat dipakai dengan yang tidak dapat dipakai kembali. Setelah itu diratakan menggunakan bulldozer.

Gambar 4. 6 Proses menggali menggunakan excavator

Gambar 4. 7 Hasil galian tampak atas

(51)

Gambar 4. 8 Pengikisan tebing menggunakan breaker

Gambar 4. 9 Area pekerjaan pengelak

Gambar 4. 10 Sketsa area pengelak tampak atas

(52)

4.4 Pengecoran Lantai Kerja

Pekerjaan lantai dasar merupakan bagian awal pekerjaan konstruksi bangunan konduit. Pekerjaan ini meliputi pengecoran bagian dasar/lantai kerja yang akan digunakan untuk tahap konstruksi lain pada bagian atasnya. Fungsi utama dari lantai kerja adalah untuk memudahkan konstruksi yang dilakukan, membersihkan area kerja serta pada konduit memiliki fungsi utama yaitu untuk penentuan elevasi dasar. Pada umumnya pekerjaan lantai dasar dilakukan dengan melakukan pengecoran beton setebal 10 cm sepanjang area yang akan dilakukan pengerjaan konstruksi. Sebelum memulai pengecoran, dilakukan pembersihan terlebih dahulu permukaan tanah yang akan dituangkan beton dari debu atau butir tanah dengan cara menyapu, menyemprotkan air (Water Compressor), atau dengan menggunakan kompresor (Portable Air Compressor).

Gambar 4. 11 Pembersihan permukaan tanah

Gambar 4. 12 Pembersihan permukaan tanah menggunakan air compressor

(53)

Setelah melakukan pembersihan permukaan tanah, langkah berikutnya adalah mulai tahap pengecoran. Dalam pelaksanaan yang dilakukan, terdapat 2 jenis mutu beton yang digunakan dalam pekerjaan lantai dasar, yaitu mutu beton K125 untuk area kerja segmen 1-12 dan mutu beton K225 pada area kerja segmen 13-19.

Gambar 4. 13 Penuangan beton untuk lantai kerja

Gambar 4. 14 Curring beton

Berikut merupakan estimasi waktu yang dibutuhkan selama pelaksanaan pekerjaan lantai dasar dalam 1 segmen (L=12.2 m)

Tabel 4. 4 Estimasi waktu pengecoran lantai kerja

(54)

Pengecoran menggunakan readymix yang dibawa dari Batching Plant PT. Unggul Sejati Indonesia kemudian dialirkan ke dalam lubang galian conduit sedalam 5 m menggunakan talang.

Berikut jalur truk mixer pada saat melakukan aktivitas pengecoran dari batching plant ke area konduit.

Gambar 4. 15 Jalur aktivitas truk mixer selama pengerjaan konduit

4.6 Penulangan Struktur

Perakitan struktur konduit dilakukan dilapangan atau di area kerja.

Sebelumnya besi tersebut telah dipotong terlebih dahulu di area site instalation sesuai bagian-bagian yang telah ditentukan, kemudian diangkut untuk dirakit di lapangan dengan cara disambung dan diikat menggunakan kawat bendrat.

Penulangan konduit terbagi menjadi 2 tipe yaitu tipe 1 dan 2. Struktur penulangan tipe 1 digunakan untuk segmen 1-12 (bagian hulu) dan tipe 2 untuk segmen 13-19 (bagian hilir). Adanya perbedaan 2 tipe tersebut dikarenakan pada tipe 1 tidak hanya menahan beban tanah pada bagian atas, tetapi terdapat beban tambahan yaitu air yang akan menggenang pada waduk.

(55)

Gambar 4. 16 Rencana penulanagan konduit tipe 1

Gambar 4. 17 Rencana penulangan konduit tipe 2

(56)

Gambar 4. 18 Proses pemotongan besi

Gambar 4. 19 Sketsa pemasangan tulangan tahap 1

Gambar

Gambar 2. 1 Lokasi Proyek Waduk Pidekso
Gambar 2. 3 Lingkup pekerjaan proyek
Gambar 2. 4 Kondisi jalan akses menuju area proyek
Gambar 2. 5 Layout proyek
+7

Referensi

Dokumen terkait