• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan - SIMAKIP

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "laporan - SIMAKIP"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

1 LAPORAN

PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI)

IMPLEMENTASI ASSESSMEN BERBASIS MULTIPLE REPRESENTASI DALAM EVALUASI PERKULIAHAN ELEKTRONIKA

TIM PENGUSUL

Tri Isti Hartini, S.Pd., M.Pd NIDN. 0313097506 Martin, S.Pd., M.Pd NIDN. 0307039102

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

2020

(2)

i

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI)

(3)

ii

SURAT KONTRAK PENELITIAN

(4)

iii

(5)

iv RINGKASAN

Telah dilakukan penelitian mengenai implementasi assesmen berbasis Multiple Representasi dalam evaluasi perkuliahan elektronika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas assesmen berbasis Multiple Representasi dalam proses perkuliahan dan evaluasi mata kuliah elektronika. Metodologi penelitian yang digunakan pre-experimental design (nondesigns). Adapun tahap penelitian ini meliputi studi pendahuluan, meliputi survey lapangan dan studi literatur.

Tahap pengembangan assesmen berbasis multiple representasi (MR). Berdasarkan hasil validasi oleh ahli evaluasi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 86,11 %, hasil validasi oleh ahli materi diperoleh rata- rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 87,5 %. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 82,25 %. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa assesmen yang dikembangkan layak digunakan sebagai alat evaluasi pada perkuliahan elektronika. Setelah diterapkan pembelajaran berbasis multiple representasi, assesmen berbasis MR kemudian dijadikan alat evaluasi untuk melakukan pretest dan postest. Dari hasil pretest dan postest, kemampuan representasi mahasiswa pada materi transistor melalui format verbal tergolong sedang dengan gain 44, format matematik sedang dengan gain 48, format grafik sedang dengan gain 64,23, format gambar juga sedang dengan N=gain 54,9.

Kata Kunci: Multiple Representasi (MR), Hasil belajar Elektronika

(6)

v DAFTAR ISI

IMPLEMENTASI ASSESSMEN BERBASIS MULTIPLE REPRESENTASI

DALAM EVALUASI PERKULIAHAN ELEKTRONIKA... 1

HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN PENGEMBANGAN IPTEK (PPI) . i SURAT KONTRAK PENELITIAN ... ii

RINGKASAN ... iv

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 2

D. Urgensi Penelitian ... 2

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 4

A. State of The Art ... 4

Pengaruh Pendekatan Multi Representasi dalam Pembelajaran Fisika Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa SMA ... 5

B. Multiple Representasi (MR) ... 5

C. Hasil Belajar ... 7

E. Road Map Penelitian ... 11

BAB III METODE PENELITIAN ... 12

A. Tujuan Penelitian ... 12

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 12

C. Metode Penelitian ... 12

E. Desain Penelitian ... 12

F. Teknik Pengumpulan Data ... 13

G. Teknik Analisis Data ... 13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15

A. Pengembangan Assesment Berbasis Multiple Representasi ... 15

B. Uji Kelayakan Assesment Berbasis Multiple Representasi ... 19

1. Validasi Ahli Evaluasi ... 19

2. Validasi Ahli Materi ... 20

3. Uji Coba Kelompok Kecil ... 22

(7)

vi

C. Implementasi Assesment Berbasis Multiple Representasi dalam Evaluasi

Perkuliahan Elektronika ... 23

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 22

A. Kesimpulan ... 22

B. Implikasi ... 23

C. Saran ... 23

BAB VI LUARAN YANG DICAPAI ... 24

BAB VII RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI ... 26

DAFTAR PUSTAKA ... 27

LAMPIRAN 1 ... 29

LAMPIRAN 2 ... 30

LAMPIRAN 3 ... 33

LAMPIRAN 4 ... 34

THE IMPLEMENTATION OF MULTIPLE REPRESENTATION BASED ASSESSMENT IN THE EVALUATION OF ELECTRONICS COURSE ... 34

(8)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Elektronika merupakan bagian dari ilmu fiiska yang mempelajari mengenai semikonduktor dan rangkaian-rangkaian terkait seperti OP-Amp. Jika mahasiswa memahami konsep-konsep listrik dan magnet dengan baik, maka dengan mudah dapat mempelajari cabang fisika lainnya, seperti elektronika. Oleh karena itu, dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa mahasiswa mengungkapkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep tentang elektronika.

Dari paparan tersebut, dapat diketahui bahwa pembelajaran elektronika perlu memperoleh perhatian, bagaimana mengantar mahasiswa memahami konsep-konsep elektronika secara komprehensif. Dalam konteks ini, seorang dosen perlu menghadirkannya dalam berbagai format representasi. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami persoalan elektronika dengan berbagai representasi. Misalnya dengan cara memberikan tugas dan kuis dengan representasi matematis, gambar, grafik, dan verbal.

Oleh karena itu diperlukan suatu pembelajaran yang dapat mengantar mahasiswa memahami konsep-konsep elektronika dengan baik. Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran multi representasi yang dapat melatih kemampuan mahasiswa memahami dan menjelaskan konsep secara verbal, grafik, diagram, dan matematis. Fredlund, et.al (2015) melalui penelitiannya memperoleh hasil bahwa ketika mahasiswa bekerja dengan menggunakan pendekatan multi representasi, hal ini dapat meningkatkan pembelajarannya. Dari beberapa penelitian yang lain seperti Abdurrahman, Liliasari, A. Rusli, dan Bruce Waldrip (2011), Rosita Fitri Herawati , Sri Mulyani, Tri Redjeki (2013) dan Laras Widianingtiyas, Siswoyo, Fauzi Bakri (2015) juga mengungkapkan bahwa pembelajaran multi representasi telah mengatasi kesulitan mahasiswa memahami konsep.

(9)

2

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti ingin mengimplementasikan pembelajaran berbasis Multiple Representasi pada perkuliahan Elektronika. Setelah diimplementasikan, maka peneliti juga mengembangkan instrumen berbasis Multiple Representasi untuk mengevaluasi perkuliahan elektronika tersebut. Diduga dengan pembelajaran Multiple Representasi akan ada pengaruh positif terhadap hasil belajar mahasiswa.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian mengenai Implementasi Assesmen Berbasis Multiple Representasi Dalam Evaluasi Perkuliahan Elektronika.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah sebelumnya, maka rumusan masalah yang dirancang peneliti, adalah bagaimana pengaruh pembelajaran berbasis multiple representasi pada mata kuliah elektronika terhadap hasil belajar mahasiswa?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pembelajaran berbasis multiple representasi pada mata kuliah elektronika terhadap hasil belajar mahasiswa.

D. Urgensi Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengambil beberapa manfaat, yaitu sebagai sarana yang dapat digunakan untuk mengevaluasi, baik pada penilaian formatif maupun penilaian sumatif seperti ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS) pada mata kuliah elektronika.

(10)

4 BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. State of The Art

Hasil penelitian sebelumnya ditunjukkan pada tabel 2.1 untuk kajian teoritis yang mendukung penulisan tentang Implementasi Assessmen berbasis Multiple Representasi.

Tabel 2.1 State of The art Review No Judul Penelitian Penulis (Tahun

Penelitian) Metode 1 Implementasi Pembelajaran

Berbasis Multi Representasi Untuk Peningkatan Penguasaan Konsep Fisika Kuantum

Abdurrahman, Liliasari, A.

Rusli, dan Bruce Waldrip (2011)

Penelitian ini

menggunakan

pendekatan metode campuran atau mixed- method. Pengumpulan data, baik yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan melalui suatu studi tunggal (Creswell

& Clark, 2007:5). Desain sequential embedded mixed-method digunakan dalam studi ini untuk menggali informasi secara lengkap subjek penelitian.

2 Pembelajaran Kimia Berbasis Multiple Representasi Ditinjau Dari

Kemampuan Awal

Terhadap Prestasi Belajar Laju Reaksi Siswa Sma Negeri I Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012

Rosita Fitri Herawati , Sri Mulyani , Tri Redjeki (2013)

Penelitian ini

menggunakan metode quasi eksperimental dengan rancangan penelitian desain faktorial 2x2. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling.

Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes objektif untuk prestasi belajar kognitif, metode angket untuk prestasi belajar afektif

(11)

5

dan metode observasi untuk prestasi belajar psikomotor. Analisis data menggunakan Analisis Variansi Dua Jalan Sel Tak Sama.

3 Pengaruh Pendekatan Multi Representasi dalam Pembelajaran Fisika Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa SMA

Laras

Widianingtiyas, Siswoyo, Fauzi Bakri (2015)

Penelitian ini

menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain nonrandomized control group pretest- posttest. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan dengan teknik purposive

sampling. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 7 Bekasi dengan subjek penelitian siswa kelas X MIA 3 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X MIA 1 sebagai kelas kontrol.

Berdasarkan tabel state of the arts yang ditampilkan di atas, maka peneliti bermaksud untuk menggunakan multiple represantasi dalam perkuliahan elektronika.

B. Multiple Representasi (MR)

Multirepresentasi Representasi adalah suatu konfigurasi (bentuk atau susunan) yang dapat menggambarkan, mewakili atau melambangkan sesuatu dalam suatu cara (Goldin, 2002). Representasi merupakan sesuatu yang mewakili, menggambarkan, atau menyimbolkan objek dan/atau proses. Multirepresentasi juga berarti merepresentasi ulang konsep yang sama dengan format yang berbeda, termasuk verbal, gambar, grafik, dan matematik (Prain & Waldrip, 2007).

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa multirepresentasi adalah suatu cara menyatakan suatu konsep melalui berbagai cara dan bentuk.

(12)

6

Multirepresentasi memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai pelengkap, pembatas interpretasi, dan pembangun pemahaman (Ainsworth, 1999).

Fungsi pertama adalah multireprsentasi digunakan untuk memberikan representasi yang berisi informasi pelengkap atau membantu melengkapi proses kognitif. Kedua, satu representasi digunakan untuk membatasi kemungkinan kesalahan menginterpretasi dalam menggunakan representasi yang lain. Ketiga, multirepresentasi dapat digunakan untuk mendorong siswa membangun pemahaman terhadap situasi secara mendalam.

Tabel 2.1 Beberapa Representasi, proses ilmiah, dan Affordances

Tipe Contoh

Representasi Proses Ilmiah Affordances Verbal-

tekstual,

Metafora

proposisi lisan, teks tertulis

Mengajukan pertanyaan Membangun Penjelasan Mengevaluasi informasi

Biarkan siswa untuk Menghasilkan dan pertanyaan hadir

Merumuskan penjelasan dari penyelidikan

Mengembangkan kriteria untuk menilai penjelasan Menafsirkan bukti Symbolic-

matematika

Persamaan, formula, struktur

Menganalisis dan menafsirkan data Membangun penjelasan

Biarkan siswa untuk Menganalisis data dan menginterpretasikan hasil Visualisasikan dan mewakili temuan Ringkas dan

mengatur informasi quantitativ Merumuskan penjelasan untuk hasil.

Visual-grafis animasi, simulasi, diagram, grafik, tabel

Perencanaan dan melakukan penyelidikan Menganalisis dan menafsirkan data Membangun penjelasan

Biarkan siswa untuk melakukan investigasi dengan mengubah variabel yang sulit atau tidak mungkin untuk

memanipulasi di dunia fisik mengidentifikasi kesalahan pengukuran Menafsirkan data dengan menggunakan grafik , grafik dan vektor memvisualisasikan hubungan antara variabel Actional- Demonstrasi, Perencanaandan Izinkan siswa untuk Desain

(13)

7 Operasional gerak tubuh,

Manipulatif, fisikmodel

melakukan

investigasi dan melakukan penyelidikan konteks Pengalaman nyata- kata dan memanipulasi fenomena dengan Ukur tangan dan mengumpulkan data.

Asesmen hasil belajar menggunakan multirepresentasi dapat digunakan dalam tes formatif atau tes sumatif. Pada masing-masing jenis tes, penggunaan multirepresentasi dapat menggunakan beberapa bentuk.

1. Tes formatif (a) Memberikan satu representasi, meminta siswa membuat representasi lain yang setara. (b) Memberikan dua atau lebih representasi, meminta siswa menguji kesetaraaan representasi-representasi itu. (c) Memberikan satu representasi, meminta mahasiswa memilih representasi kedua yang setara dari pilihan ganda yang tersedia.

2. Tes sumatif Multirepresentasi ini dapat digunakan sebagai alternatif dalam tes konvensional dengan menggunakan metode di atas (pada tes formatif).

C. Hasil Belajar

Belajar pada hakekatnya adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan tingkah laku dan biasanya dilakukan secara sadar oleh seseorang. Perubahan tingkah laku ini disebabkan karena manusia berinteraksi dengan sesamanya ataupun dengan lingkungannya. Apabila karena interaksi ini seseorang mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya, maka dikatakan ia telah mengalami suatu proses belajar.

Dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka mahasiswa memperoleh suatu hasil belajar. Di samping tinjauan dari segi proses, keberhasilan dalam belajar dapat dilihat dari segi hasil. Proses belajar yang baik memungkinkan hasil belajar yang baik pula. Dimyati dan Mudjiono mengungkapkan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.

Dari sisi Dosen, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar.

Dari sisi mahasiswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Hasil belajar, untuk sebagian adalah berkat tindak Dosen, suatu

(14)

8

pencapaian tujuan pengajaran. Pada bagian lain, merupakan kemampuan peningkatan mental mahasiswa.

Dari kutipan di atas jelas bahwa hasil belajar berhubungan erat dengan proses belajar. Dimana proses belajar adalah proses kegiatan mahasiswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan dan pengalaman belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil belajar merupakan gambaran kemampuan yang ditunjukkan oleh adanya perubahan tingkah laku setelah mahasiswa mengikuti proses belajar.

Menurut Bloom dalam buku Nana Sudjana, hasil belajar dapat diklasifikasikan menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Adapun masing-masing ranah tersebut diuraikan sebagai berikut ranah kognitif meliputi kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah dipelajari dan kemampuan intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan empat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni aspek penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Sedangkan ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotorik, yakni (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perceptual, (d) keharmonisan atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.

Berdasarkan ranah yang telah di klasifikasi oleh Bloom tersebut maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan bagian dari pengalaman yang melekat pada mahasiswa dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap yang tidak dapat diamati secara fisik, tetapi dapat diukur yang mana termaktub dalam keenam ranah bloom. Oleh sebab itu hasil belajar juga dapat disimpulkan sebagai penguasaan terhadap materi pelajaran tertentu yang diperoleh dari hasil tes belajar yang dinyatakan dalam bentuk skor.

Sejalan dengan pengertian di atas, Gagne dalam buku Dimyati dan Mujiono berpendapat bahwa hasil belajar berupa kapabilitas, karena setelah

(15)

9

belajar orang akan memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.

Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari:

1) Stimulasi yang berasal dari lingkungan, 2) Proses kognitif yang dilakukan oleh pebelajar.

Dengan demikian hasil belajar akan terlihat setelah diberi perlakuan pada proses belajar yang dianggap sebagai proses pemberian pengalaman belajar. Hasil belajar mengharapkan terjadinya perubahan tingkah laku yang terjadi pada diri mahasiswa.

Abdurrahman dalam buku Asep Jihad dan Abdul Haris mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Maksudnya ketika seorang anak telah melakukan aktivitas belajar tertentu, maka ia akan memperoleh hasil belajar tertentu pula. Misalnya ketika seorang mahasiswa telah belajar mengenai hukum 1 Newton, maka ia akan memperoleh pengetahuan tentang hukum 1 Newton. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, biasanya Dosen menetapkan tujuan belajar. Mahasiswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil akhir dari proses kegiatan belajar yang telah dilakukan yaitu berupa pola-pola perbuatan, kemampuan, sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dapat terus mengalami perubahan untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan prestasi baik dari kemampuan akademik maupun kemampuan non akademik.

Adapun Nana Sudjana menyatakan hasil belajar dinilai melalui tes, baik tes uraian maupun tes objektif. Pelaksanaan penilaian bisa secara lisan, tulisan, dan tindakan atau perbuatan. Maksud dari penjelasan di atas yaitu keberhasilan mahasiswa tergantung pada pembelajaran seorang Dosen dalam memilih pendekatan dan metode untuk mencapai prestasi yang optimal, sehingga dapat mengubah perilaku mahasiswa tersebut. Perubahan yang dimiliki mahasiswa

(16)

10

seperti mengingat bahan ajar yang dipelajari dan dapat memecahkan masalah adalah hasil belajar secara terus menerus, sehingga menghasilkan proses belajar menjadi efektif dan bermakna. Kemudian hasil belajar tersebut dapat diukur dengan menggunakan suatu alat pengukur yang disebut tes.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh mahasiswa setelah mengalami pembelajaran. Hasil tersebut dapat berupa pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap, perkembangan mental, nilai maupun perilaku yang diperoleh mahasiswa setelah berinteraksi dengan sesamanya ataupun dengan lingkungannya. Hasil belajar digunakan oleh dosen untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Hasil belajar yang baik merupakan tujuan utama dalam pembelajaran maka untuk mencapainya perlu adanya cara atau teknik yang baik pula dalam prosesnya, karena hasil belajar dapat dijadikan tolak ukur apakah ia berhasil atau tidak dalam melaksanakan proses pembelajaran.

(17)

11 E. Road Map Penelitian

BATCH 2 TAHUN 2018

pengaruh Pemberian Soal Hots (High Order Thinking Skill) Berbasis Hipotesis Deduktif Pada Mata Kuliah Fisika Dasar 2 Terhadap Hasil Belajar

Mahasiswa

BATCH 1 TAHUN 2019

Implementasi Assesmen Berbasis Multiple Representasi Dalam Evaluasi

Perkuliahan Elektronika

BATCH 1 TAHUN 2018

Pengembangan Instrumen Soal Hots (High Order Thinking Skill) Berbasis Hipotesis Deduktif Pada Mata Kuliah

Fisika Dasar 1

(18)

12 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Tujuan operasional penelitian ini adalah menganalisis pembelajaran berbasis Multiple Representasi pada mata kuliah elektronika terhadap hasil belajar mahasiswa.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Prodi Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA dan akan diberikan pada mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika semester 3. Pembelajaran berbasis multiple representasi pada mata kuliah elektronika akan dilakukan pada November 2019 dan penerapan pembelajaran multiple representasi dilakukan pada bulan Oktober 2019.

C. Metode Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan pre-experimental design (nondesigns).

Dikatakan pre experimental design, karena metode ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh. Selain itu, disebut demikian karena pada jenis desain eksperimen ini juga terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Jadi hasil eksperimen yang merupakan dependen itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen.

E. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan desain penelitian one group pretest-posttest design. Pada penelitian ini hanya terdapat satu kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan (treatment) pada proses pembelajarannya yaitu dengan menggunakan pembelajaran Multiple Representasi. Tes dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Instrumen yang digunakan adalah assessmen berbasis Multiple Representasi juga. Desain

(19)

13

penelitian One Group Pretest-Posttest Design ditunjukkan pada Tabel 3.1 di bawah ini:

Tabel 3.1

Desain Penelitian One Group Pretest-Posttest Design Kelompok Pretest Treatment Posttest

Eksperimen O1 X O2

Sumber: Buku Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, Sugiyono (2008, 75)

Keterangan:

X = mahasiswa yang diberikan pembelajaran MR (treatment) O1 = Kelompok mahasiswa yang diberikan pretest

O2 = Kelompok mahasiswa yang diberikan posttest.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes hasil belajar berbasis Multiple Representasi. Untuk mendapatkan data yang tepat dan sesuai, maka dipilih responden dan sampel penelitian sebagai berikut:

1. Validator Soal berbasis Multiple Representasi (MR) : dosen Pendidikan fisika UHAMKA

2. Sampel Penelitian: Mahasiswa semester 3 Pendidikan Fisika UHAMKA

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data terhadap assessmen berbasis Multiple Representasi yang digunakan sebagai instrumen dalam penelitian ini adalah validitas isi.

Teknik untuk validitas isi yaitu meminta kepada ahli/expert, dalam hal ini sebagai validator, untuk memeriksa ketepatan dan memberikan penilaian antara kesesuaian butir soal dengan indikator-indikatornya dan redaksi penulisan soal.

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan memberikan seperangkat soal pretest dan posttest. Oleh karena itu data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data nilai tes. Setelah data diperoleh, kemudian dianalisis untuk mengetahui kemampuan Multiple

(20)

14

Representasi mahasiswa. Adapun teknik pengolahan data untuk melihat kualitas peningkatan kemampuan Multiple Representasi mahasiswa digunakan data indeks Gain. Indeks Gain adalah Gain ternormalisasi yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Indeks Gain (g) = skor posttest − skor pretest skor maksimum − skor pretest

Indeks Gain diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria dari Hake sebagai berikut:

Tabel 3.2

Interpretasi Indeks Gain Indeks Gain Kriteria

g > 0,7 Tinggi

0,3 < g ≤ 0,7 Sedang

g ≤ 0,3 Rendah

(21)

15 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengembangan Assesment Berbasis Multiple Representasi 1. Representasi Verbal

Kemampuan multiple representasi yang pertama adalah representasi verbal. Kemampuan ini merupakan metafora proposisi lisan maupun teks tertulis yang dalam instrument penilaian biasanya dapat berupa mengajukan pertanyaan yang bersifat teoritis maupun deskriptif. Representasi verbal juga biasanya digunakan untuk membangun penjelasan, mengevaluasi suatu informasi. Secara umum representasi verbal digunakan untuk menghasilkan dan pertanyaan hadir, merumuskan penjelasan dari penyelidikan, mengembangkan kriteria untuk menilai penjelasan dan menafsirkan bukti.

Dalam penelitian ini, telah dikembangkan assessment berupa soal kemampuan representasi verbal pada Capaian Pembelajaran Mata kuliah atau CP- MK: Mahasiswa dapat memahami rangkaian transistor dua kutub. Soal yang dikembangkan berupa soal pilihan ganda beralasan. Adapun soal yang dikembangkan sebagai berikut:

Gambar 4.1 soal Representasi Verbal

(22)

16 2. Representasi Matematik

Representasi matematik biasanya kemampuan yang direpresentasikan melalui persamaan, formula atau struktur. Dalam kemampuan ini, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis dan menafsirkan data dan membangun penjelasan secara matematik. Biarkan mahasiswa untuk menganalisis data dan menginterpretasikan hasil, memvisualisasikan dan mewakili temuan ringkas dan mengatur informasi quantitatif serta merumuskan penjelasan untuk hasil.

Dalam penelitian ini, telah dikembangkan assessment berupa soal kemampuan representasi matematik pada Capaian Pembelajaran Mata kuliah atau CP-MK: Mahasiswa mampu memahami dan menganalisa rangkaian penguat basis bersama, emitor bersama dan kolektor bersama. Soal yang dikembangkan berupa soal uraian. Adapun soal yang dikembangkan sebagai berikut:

Gambar 4.2 soal Representasi Matematik

3. Representasi Gambar

Representasi dalam bentuk gambar merupakan salah satu kemampuan dalam multipel representasi. Representasi gambar memiliki ciri-ciri mahasiswa dapat melakukan demontrasi, gerak tubuh, manipulatif dan fisikmodel. Berikan kesempatan kepada mahasiswa untuk untuk mendesain dan melakukan

(23)

17

penyelidikan konteks, pengalaman nyata-kata dan memanipulasi fenomena dengan ukur tangan dan mengumpulkan data.

Dalam penelitian ini, telah dikembangkan assessment berupa soal kemampuan representasi gambar pada Capaian Pembelajaran Mata kuliah atau CP-MK: Mahasiswa mampu memahami dan menganalisa rangkaian penguat basis bersama, emitor bersama dan kolektor bersama. Soal yang dikembangkan berupa soal pilihan ganda beralasan dan soal uraian. Adapun soal yang dikembangkan sebagai berikut:

Gambar 4.3 soal Representasi Gambar

4. Representasi Grafik

Representasi grafik merupakan salah satu kemampuan yang dapat diuraikan dalam bentuk animasi, simulasi, diagram, grafik dan tabel. Dalam kemampuan ini

(24)

18

terjadi proses ilmiah seperti melakukan perencanaan dan melakukan penyelidikan, menganalisis dan menafsirkan data serta membangun penjelasan. Berikan mahasiswa kesempatan untuk melakukan investigasi dengan mengubah variabel yang sulit atau tidak mungkin untuk memanipulasi di dunia fisik, mengidentifikasi kesalahan pengukuran, menafsirkan data dengan menggunakan grafik , grafik dan vektor dan memvisualisasikan hubungan antara variabel.

Dalam penelitian ini, telah dikembangkan assessment berupa soal kemampuan representasi grafik pada Capaian Pembelajaran Mata kuliah atau CP- MK: Mahasiswa mampu memahami dan menganalisa rangkaian penguat basis bersama, emitor bersama dan kolektor bersama. Soal yang dikembangkan berupa soal uraian. Adapun soal yang dikembangkan sebagai berikut:

Gambar 4.4 soal Representasi Grafik

(25)

19

B. Uji Kelayakan Assesment Berbasis Multiple Representasi

Uji kelayakan Assesment Berbasis Multiple Representasi dilakukan dengan uji empiris menggunakan metode penyebaran angket kepada ahli evaluasi dan ahli materi. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan uji coba kelompok kecil untuk memperoleh tanggapan pada mahasiswa.

1. Validasi Ahli Evaluasi

Validasi oleh ahli evaluasi bertujuan untuk mengetahui tingkat keabsahan soal Berbasis Multiple Representasi yang dikembangkan dari segi kegunaan soal sebagai evaluasi pembelajaran. Ahli evaluasi yang dilibatkan adalah dosen S1 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UHAMKA. Penilaian diberikan melalui angket validasi ahli evaluasi. Dalam kesempatan ini, ahli evaluasi juga memberikan revisi terhadap soal yang dikembangkan. Berdasarkan rekapitulasi data hasil ahli evaluasi sebagai berikut:

Tabel 4.1 Hasil Validasi oleh Ahli Evaluasi

No Aspek

Penilaian

Persentase Keseluruhan

(%)

Interpretasi

1 Konstruksi 87,5 Sangat Baik

2 Substansi 83,33 Sangat Baik

3 Bahasa 87,5 Sangat Baik

Persentase rata-rata 86,11 Sangat Baik

Keterangan :

0% - 25% : Tidak Baik 25,1% - 50% : Kurang Baik 50,1% - 75% : Baik

75,1% - 100% : Sangat Baik

(26)

20 87.5

83.33

87.5

81 82 83 84 85 86 87 88

Persentase (%)

Hasil Validasi Ahli Evaluasi

Konstruksi Substansi Bahasa

Adapun diagram batang dari hasil uji validasi soal soal Berbasis Multiple Representasi sebagai evaluasi perkuliahan elektronika dasar materi transistor oleh ahli evaluasi adalah sebagai berikut:

Gambar 4.5 Diagram Batang Hasil Validasi soal oleh Ahli Evaluasi

Berdasarkan hasil validasi oleh ahli evaluasi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 86,11 %. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen soal Berbasis Multiple Representasi ditinjau dari aspek substansi, konstruksi, dan bahasa memiliki interpretasi sangat baik. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa alat penilaian pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan dalam evaluasi perkuliahan elektronika dasar.

2. Validasi Ahli Materi

Validasi oleh ahli materi bertujuan untuk memperbaiki soal jika terdapat kekeliruan dan miskonsepsi materi elektronika dasar khususnya pada CP MK Transistor yang dikembangkan dari aspek ketepatan, kesesuaian dan bahasa. Ahli materi yang dilibatkan adalah dosen S1 Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UHAMKA. Penilaian diberikan melalui angket validasi ahli materi. Dalam kesempatan ini, ahli materi juga memberikan masukan dan revisi terhadap soal yang dikembangkan. Berdasarkan rekapitulasi data hasil ahli materi sebagai berikut:

(27)

21 85

87.5

90

82 84 86 88 90 92

Persentase (%)

Hasil Validasi Ahli Materi

Ketepatan Kesesuaian Bahasa Tabel 4.2 Hasil Validasi oleh Ahli Materi

No Aspek

Penilaian

Persentase

Keseluruhan (%) Interpretasi

1 Ketepatan 85 Sangat Baik

2 Kesesuaian 87,5 Sangat Baik

3 Bahasa 90 Sangat Baik

Persentase Rata-rata 87,5 Sangat Baik

Keterangan :

0% - 25% : Tidak Baik 25,1% - 50% : Kurang Baik 50,1% - 75% : Baik

75,1% - 100% : Sangat Baik

Adapun diagram batang dari hasil uji validasi soal oleh ahli materi adalah sebagai berikut:

Gambar 4.6 Diagram Batang Hasil Validasi soal oleh Ahli Materi

Berdasarkan hasil validasi oleh ahli materi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 87,5%. Hal ini menunjukkan bahwa soal ditinjau dari aspek kesesuaian, ketepatan, dan bahasa memiliki interpretasi sangat

(28)

22

baik. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa alat penilaian pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan untuk evaluasi perkuliahan elektronika dasar .

3. Uji Coba Kelompok Kecil

Tujuan dari uji coba kelompok kecil adalah untuk mengidentifikasi kekurangan soal setelah direvisi berdasarkan hasil validasi ahli evaluasi dan ahli materi. Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 4 mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika semester 5. Penilaian diberikan melalui angket uji coba lapangan. Berdasarkan rekapitulasi data, hasil uji coba kelompok kecil adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Uji Coba Kelompok Kecil

No Aspek

Penilaian

Persentase

Keseluruhan (%) Interpretasi

1 Ketertarikan 86,25 Sangat Baik

2 Materi 81,25 Sangat Baik

3 Bahasa 79,25 Sangat Baik

Persentase rata-rata 82,25 Sangat Baik

Keterangan :

0% - 25% : Tidak Baik 25,1% - 50% : Kurang Baik 50,1% - 75% : Baik

75,1% - 100% : Sangat Baik

Adapun diagram batang dari hasil uji kelompok kecil adalah sebagai berikut:

(29)

23 86.25

81.25

79.25

74 76 78 80 82 84 86 88

Persentase (%)

Hasil Uji Coba Kelompok Kecil

Ketertarikan Materi Bahasa

Gambar 4.7 Diagram Batang Hasil Uji Kelompok Kecil

Hasil uji coba lapangan, diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 82,25 %. Hal ini menunjukkan bahwa soal yang dikembangkan memiliki interpretasi baik.

Dari hasil validasi dan uji coba menunjukkan bahwa soal layak untuk diimplementasikan sebagai alat evaluasi perkuliahan eektronika dasar pada materi transistor. Sebelum digunakan sebagai alat penilaian pembelajaran, soal terlebih dahulu direvisi sesuai dengan saran ahli materi, ahli evaluasi, guru fisika, dan mahasiswa pada uji coba kelompok kecil.

C. Implementasi Assesment Berbasis Multiple Representasi dalam Evaluasi Perkuliahan Elektronika

Dalam proses pembelajaran elektonika dasar dalam penelitian ini telah berhasil melibatkan mahasiswa dalam berbagai pengalaman belajar. Seluruh mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempelajari konsep-konsep transistor melalui penyajian dan pengembangan berbagai format representasi seperti representasi verbal baik oral (melalui diskusi dan presentasi) maupun tulisan (menulis sejumlah argumentasi tentang hasil kajian konsep transistor), representasi visual baik yang bersifat statik (gambar, grafik, tabel, atau diagram) maupun yang bersifat dinamik (simulasi dan animasi rangkaina transistor),

(30)

24

representasi simbolik dan matematika, serta aktivitas laboratorium virtual menggunakan aplikasi Live Wire.

Sebelum diberikan pembelajaran berbasis multiple representasi, peneliti terlebih dahulu memberikan pretes, untuk mengetahui seberapa besar kemampuan mahasiswa dalam memahami materi yang akan dipelajari dan kemampuan representasi mereka. Kemudian setelah diberikan proses pembelajaran berbasis multiple reperesentasi, maka peneliti memberikan posttest. Data ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.8 Diagram Batang Kemampuan Representasi Mahasiswa

1. Kemampuan Pemahaman Representasi Verbal

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal verbal, dari nilai rata-rata skor pretest dan postest mengalami kenaikan dari 10,625 menjadi 14,75 dengan gain 0,44. Kemampuan pemahaman mahasiswa pada format soal verbal terjadi pada keterampilan mengklasifikasi dan menarik kesimpulan. Dalam representasi verbal, mahasiswa sedikit mengalami permasalahan dalam memberikan alasan dalam setiap pertanyaan. Mahasiswa masih belum mampu memberikan kesimpulan dengan baik. Berdasarkan data

10.625 9.3 9.175

5.6

14.75 15.175 14.375 14.85

44

54.9

48

64.23

0 10 20 30 40 50 60 70

Verbal Gambar Matematik Grafik

Skor Rata-rata

Kemampuan Representasi Mahasiswa

Pretes Posttes Gain

(31)

25

tersebut, rata-rata skor posttest mahasiswa mengalami kenaikan gain format verbal pada kategori sedang.

2. Kemampuan Pemahaman Representasi Gambar

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal gambar, dari skor rata-rata pretest dan postest menangalami kenaikan dari 9,3 menjadi 15,175 dengan gain 0,549. Berdasarkan data tersebut, rata-rata skor posttest mahasiswa mengalami kenaikan gain format gambar pada kategori sedang. Pada kemampuan representasi verbal, beberapa mahasiswa sedikit mengalami kesulitan dalam menganalisis gambar rangkaian bipolar junction transistor pada soal. Hal ini disebabkan mahasiswa belum mampu dalam ketrampilan mengklasifikasikan gambar sehingga tidak mampu merepresentasi ke dalam bentuk matematis. Sejalan dengan penemuan Setyandaru dkk. (2017) mengatakan rendahnya representasi gambar disebabkan siswa terlalu fokus dalam mengerjakan soal matematis, verbal dan grafik.

3. Kemampuan Pemahaman Representasi Matematik

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal matematik, dari rata-rata skor pretest dan postest mengalami kenaikan dari 9,175 menjadi 14,375 dengan gain 0,48. Dalam kemampuan matematik, mahasiswa sepertinya sudah terbiasa dalam menghapal persamaan atau rumus dan simbol-simbol untuk suatu besaran tertentu. Seperti mata kuliah yang lain, mereka menganggap elektronika juga masih berliterasi dengan rumus. Jika dari hasil pretes dan posttes, terdapat peningkatan skor rata-rata yang cukup baik, dengan gain yang sedang.

(32)

26

4. Kemampuan Pemahaman Representasi Grafik

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal verbal, dari nilai rata-rata skor pretest dan postest mengalami kenaikan dari 5,6 menjadi 14,85 dengan gain 0,642. Dari data tersebut, kita dapat melihat bahwa kemampuan awal mahasiswa dalam kemampuan grafik sangat rendah. Dari skor maksismum 20, hasil pretes hanya mendapat skor rata-rata 5,6. Rendahnya kemampuan mahasiswa dalam merepresentasi grafik dapat diimplikasikan bahwa kemampuan awal siswa masih lemah sehingga dapat memungkinkan mereka kurang menerima informasi grafik dalam pembelajaran sebelumnya. Materi tentang transistor salah satu materi yang informasinya banyak mengandung grafik.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Purwanti dkk. (2016) bahwa kesalahan dalam mengambil informasi grafik berdampak sangat fatal. Oleh karena itu pemahaman grafik siswa dengan multi representasi dalam pembelajaran khususnya materi transistor menjadi penting sebagaimana fungsi multi representasi yaitu untuk membangun pemahaman siswa yang lebih dalam (Ainsworth, 2006).

(33)

22 BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Assesmen soal berbasis multiple representasi yang dikembangkan berjumlah 8 soal, dengan masing-masing 2 soal untuk kemampuan representasi verbal, representasi gambar, representasi matematik dan representasi grafik.

2. Soal yang dikembangkan memiliki kualitas yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis kualitatif yang dilakukan oleh ahli dan uji coba kelompok kecil. Soal yang dikembangkan layak digunakan sebagai alat evaluasi perkuliahan elektronika dasar khususnya pada materi transistor. Hal ini ditunjukkan dari hasil uji kelayakan kepada ahli evaluasi dan ahli materi adalah 86,8 dengan interpretasi sangat baik, sedangkan respon mahasiswa kelompok kecil didapatkan rata-rata persentase secara keseluruhan adalah 82,25 % dengan intepretasi baik.

3. Kemampuan representasi mahasiswa pada materi transistor melalui format verbal tergolong sedang dengan gain 44, format matematik sedang dengan gain 48, format grafik sedang dengan gain 64,23, format gambar juga sedang dengan N=gain 54,9.

4. Nilai rata-rata posttest siswa tertinggi pada format gambar, sedangkan ketiga format lainnya masih rendah, namun tidak terlalu besar selisihnya. Skor rata- rata pretes pada format grafik masih sangat rendah, hal ini disebabkan kemampuan awal pada format grafik dan pada mata kuliah lainnya masih belum maksimal dan rendah. Akan tetapi setelah diterapkan pembelajaran dengan pembelajaran multiple representasi diperoleh gain sedang dan sangat berpengaruh pada kemampuan pemahaman mahasiswa pada format grafik.

(34)

23 B. Implikasi

Assesmen berbasis multiple represantasi yang sudah dikembangkan dapat dijadikan alat evaluasi untuk mengukur hasil belajar mahasiswa. Soal uraian multiple representasi juga dapat digunakan pada penilaian formatif maupun penilaian sumatif seperti ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS). Pembelajaran berbasis multiple representasi juga dapat diimplementasikan pada perkuliahan elektronika, terutama perkuliahan yang banyak berorientasi pada gambar, persamaan matematis dan grafik.

C. Saran

Terdapat beberapa hal yang disarankan oleh peneliti, yaitu:

1. Pada penelitian ini produk yang dihasilkan berupa model soal berbasis multiple representasi sebagai alat penilaian pada mata kuliah elektronika dasar makadisarankan untuk pengembangan selanjutnya pada mata kuliah lainnya.

2. Dalam penelitian ini soal yang dikempangkan masih dalam paper test, selanjutnya disarankan untuk mengembangkan soal berbasis multiple representasi pada aplikasi CBT atau full berbasis android.

3. Agar dikembangkan assesmen yang lebih luas dalam setiap kemampuan represantasi.

(35)

24 BAB VI

LUARAN YANG DICAPAI

Luaran yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

A. Luaran Wajib

IDENTITAS JURNAL

1 Nama Jurnal Jurnal Pendidikan Fisika-Universitas Muhammadiyah Makasar

2 Website Jurnal https://journal.unismuh.ac.id/

3 Status Makalah Submitted

4 Jenis Jurnal Jurnal Nasional terakreditasi Sinta 3 4 Tanggal Submit 11 April 2020

5 Bukti Screenshot submit

B. Luaran Tambahan

IDENTITAS JURNAL

1 Nama Jurnal Jurnal Pendidikan Fisika dan Keilmuan-Universitas PGRI Madiun

2 Website Jurnal http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPFK 3 Status Makalah Submitted

4 Jenis Jurnal Jurnal Nasional terakreditasi Sinta 3 4 Tanggal Submit 02 Mei 2020

(36)

25 5 Bukti Screenshot submit

(37)

26 BAB VII

RENCANA TINDAK LANJUT DAN PROYEKSI HILIRISASI

Setelah penelitian ini selesai, maka rencana selanjutnya peneliti akan melakukan penelitian multiple representasi untuk keterampilan yang lain. Selain itu peneliti juga akan memperkuat penelitian ini dengan instrumen yang lebih banyak dan komprehensif.

(38)

27

DAFTAR PUSTAKA

Ainsworth, S. (1999). “The Functions of Multiple Representations”. Computers and Education, 33, 131-152.

Etkina, E., et.al. (2006). “Scientific Abilities and Their Assessment”. Physical Review Special Topics- Physics Education Research. 2, 020103

Goldin, G.A. (2002). Representation in Mathematical Learning and Problem Solving. Dalam L.D English (Ed). Handbook of International research in Mathematics Education (IRME). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Izhak and Sherin, M.G. (2003). Exploring the Use of New Representation as a Resource for Teaching Learning. The University of Georgia and North Western University, Journal School Science and Mathematics.103, (1).

Meij, J. V. D., & Jong, T. D. (2001).“The Effects Of Directive Self-Explanation Prompts To Support Active Processing Of Multiple Representations In A Simulation-Based Learning Environment”. Journal of Computer Assisted Learning, 27, 411–423

Murtono, Setiawan, D. & Rusdiana, D. (2014). “Fungsi Representasi dalam Mengakses Penguasaan Konsep Fisika Mahasiswa”. JRKPF UAD. 1 (2)

Kohl, P. B. (2007). Towards An Understanding Of How Students Use Representations In Physics Problem Solving. Dalam Tesis Doktor pada Faculty of the Graduate School of the University of Colorado

Prain, V., and Waldrip, B.G. (2007). “An exploratory study of teachers’ perspectives about using multi-modal representations of concepts to enhance science learning”. Canadian Journal of Science, Mathematics and Technology Education.

Purwanti, A, Sutopo, & Wisodo, H. (2016). Penguasaan Konsep dan Kemampuan Representasi Materi Gerak Lurus Siswa SMA Kelas XII. Prosiding Seminar Pendidikan IPA Pascasarjana UM, 1(1); 53-58

Reif, F. (1995). “Understanding and Teaching Important Scientific Thought Processes”.

American Journal of Physics. 63, (1), 17-32

Rosyid, Jatmiko, B., & Supardi, Z. A. I. (2013). “Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Menggunakan Model Orientasi IPA (PBL dan Multi Representasi) pada Konsep Mekanika di SMA”. Pancaran, 2 (3), hlm. 1 – 12

Rosengrant, D. R. (2007a). Multiple Representations and Free-Body Diagrams: Do Students Benefit From Using Them?. Dalam disertasi doktor pada School of Education Rutgers, The State University of New Jersey.

Savinainen, A., dkk. (2013). “Teaching and Evaluating Materials Utilizing Multiple Representations in Mechanics”. IOP Publishing.

(39)

28

Setyandaru, T.A., Wahyuni, S., & Putra, P.D.A. (2017). Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Multirepresentasi pada Pembelajaran Fisika di SMA/MA. Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(3): 218-224.

Wu, H. K., & Puntambekar, S. (2012). “Pedagogical Affordances of Multiple External Representations in Scientific Processes”. J Sci Educ Technol. 21:754-767

Wong, D. dkk. (2011). “Learning with multiple representations: an example of a revision lesson in mechanics”. Phys. Educ. 46 178

(40)

29 LAMPIRAN 1

Susunan Organisasi Tim Peneliti / Pelaksana Dan Pembagian

No Nama / NIDN Instansi Asal

Bidang

Ilmu Uraian Tugas 1 Tri Isti Hartini, M.Pd /

0313097506

UHAMKA Fisika

Penanggung Jawab dalam penelitian dan pembuat instrumen validasi ahli

2 Martin S.Pd., M.Pd

UHAMKA Fisika

Pengembang instrument berbasis MR dan

pengimplementasian di kelas

(41)

30 LAMPIRAN 2

Biodata Ketua Peneliti

(42)

31 Anggota Peneliti

(43)

32 1. Nama Lengkap : Martin, S.Pd., M.Pd 2. Tempat tgl Lahir : Manggar, 07 Maret 1991 3. Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Nomor Pokok Dosen : D.19.1376

5. Pangkat/Gol : Penata Muda Tingkat I, III/B 6. Bidang Keahlian : Pendidikan Fisika

7. Kantor/unit kerja : FKIP / Pendidikan Fisika UHAMKA 8. Alamat kantor : Jl Tanah Merdeka Jak-Tim

9. Telepon : -

10. Alamat Rumah : Jl. Asmat Ari, No. 57, RT/RW: 009/01, Kel. Tugu Selatan, Kec. Koja, Jakarta Utara

11. No Hp : 087870878677

12. Email : [email protected] 13.Riwayat Pendidikan :

No Jenjang Tahun Lulus Asal PT Prodi/Jurusan

Bidang Keahlian (peminatan)

1 S.1 2013 UHAMKA Pend. Fisika Pend. Fisika

2 S.2 2018 Universitas

Negeri Jakarta

Pend. Fisika Pend. Fisika

3 S.3 --- --- --- ---

4 Lainnya --- --- --- ---

Demikian biodata ini dibuat dengan sebenarnya.

Jakarta, 15 Januari 2018

Martin, S.Pd., M.Pd.

(44)

33 LAMPIRAN 3

(45)

34 LAMPIRAN 4

THE IMPLEMENTATION OF MULTIPLE REPRESENTATION BASED ASSESSMENT IN THE EVALUATION OF

ELECTRONICS COURSE

Tri Isti Hartini1), Martin

Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA1) Email: [email protected]

Abstract. A research about implementation of Multiple Representation based assessment has been conducted in electronic lectures evaluation. The purpose of this research is to find put effectiveness of Multiple Representation based assessment in lecture process and evaluation of electronic lecture. The research method used is pre- experimental design (nondesigns). The research stages include initial study including field survey and literature study. Development stage of multiple representation (MR) based assessment. Based on result of validation by evaluation experts, assessment percentage average of all aspects obtained is 86,11 %, validation result by material experts, assessment percentage average of all aspects obtained is 87,5 %. Based on field testing result, the assessment percentage average of all aspect is 82,25 %. From those results, show that the assessment that is being developed is appropriate to be used as evaluation tool in electronic lecture. After multiple representation- based learning is implemented, MR based assessment is then used as evaluation tool to conduct pretest and postest. From result of pretest and postest, representation ability of student in transistor material through verbal format is categorized as medium with gain 44, medium mathematical format with gain 48, medium graphical format with gain 64,23, figure format is also medium with N=gain 54,9.

Keywords: Multiple Representation (MR), Electronic learning outcomes

Abstrak. Telah dilakukan penelitian mengenai implementasi assesmen berbasis Multiple Representasi dalam evaluasi perkuliahan elektronika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas assesmen berbasis Multiple Representasi dalam proses perkuliahan dan evaluasi mata kuliah elektronika. Metodologi penelitian yang digunakan pre-experimental design (nondesigns). Adapun tahap penelitian ini meliputi studi pendahuluan, meliputi survey lapangan dan studi literatur. Tahap pengembangan assesmen berbasis multiple representasi (MR). Berdasarkan hasil validasi oleh ahli evaluasi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 86,11 %, hasil validasi oleh ahli materi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 87,5 %. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 82,25 %. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa assesmen yang dikembangkan layak digunakan sebagai alat evaluasi pada perkuliahan elektronika. Setelah diterapkan pembelajaran berbasis multiple representasi, assesmen berbasis MR kemudian dijadikan alat evaluasi untuk melakukan pretest dan postest. Dari hasil pretest dan postest, kemampuan representasi mahasiswa pada materi transistor melalui format verbal tergolong sedang dengan gain 44, format matematik sedang dengan gain 48, format grafik sedang dengan gain 64,23, format gambar juga sedang dengan N=gain 54,9.

Kata Kunci: Multiple Representasi (MR), Hasil belajar Elektronika

PENDAHULUAN

(46)

26

Elektronika merupakan bagian dari ilmu fiiska yang mempelajari mengenai semikonduktor dan rangkaian-rangkaian terkait seperti OP-Amp. Jika mahasiswa memahami konsep-konsep listrik dan magnet dengan baik, maka dengan mudah dapat mempelajari cabang fisika lainnya, seperti elektronika. Oleh karena itu, dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa mahasiswa mengungkapkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep tentang elektronika.

Dari paparan tersebut, dapat diketahui bahwa pembelajaran elektronika perlu memperoleh perhatian, bagaimana mengantar mahasiswa memahami konsep-konsep elektronika secara komprehensif. Dalam konteks ini, seorang dosen perlu menghadirkannya dalam berbagai format representasi. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi kesulitan mahasiswa dalam memahami persoalan elektronika dengan berbagai representasi. Misalnya dengan cara memberikan tugas dan kuis dengan representasi matematis, gambar, grafik, dan verbal.

Oleh karena itu diperlukan suatu pembelajaran yang dapat mengantar mahasiswa memahami konsep-konsep elektronika dengan baik. Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran multi representasi yang dapat melatih kemampuan mahasiswa memahami dan menjelaskan konsep secara verbal, grafik, diagram, dan matematis. Fredlund, et.al (2015) melalui penelitiannya memperoleh hasil bahwa ketika mahasiswa bekerja dengan menggunakan pendekatan multi representasi, hal ini dapat meningkatkan pembelajarannya. Dari beberapa penelitian yang lain seperti Abdurrahman, Liliasari, A. Rusli, dan Bruce Waldrip (2011), Rosita Fitri Herawati , Sri Mulyani, Tri Redjeki (2013) dan Laras Widianingtiyas, Siswoyo, Fauzi Bakri (2015) juga mengungkapkan bahwa pembelajaran multi representasi telah mengatasi kesulitan mahasiswa memahami konsep.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti ingin mengimplementasikan pembelajaran berbasis Multiple Representasi pada perkuliahan Elektronika. Setelah diimplementasikan, maka peneliti juga mengembangkan instrumen berbasis Multiple Representasi untuk mengevaluasi perkuliahan elektronika tersebut. Diduga dengan pembelajaran Multiple Representasi akan ada pengaruh positif terhadap hasil belajar mahasiswa.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian mengenai Implementasi Assesmen Berbasis Multiple Representasi Dalam Evaluasi Perkuliahan Elektronika.

METODE PENELITIAN

(47)

27 87.5

83.33 87.5

80 82 84 86 88

Persentase (%)

Hasil Validasi Ahli Evaluasi

Konstruksi Substansi Bahasa

Metode penelitian ini menggunakan pre-experimental design (nondesigns), menggunakan desain penelitian one group pretest-posttest design. Adapun sampel melibatkan 20 mahasiswa yang dipilih secara random. Sedangkan analisis data mengacu pada persamaan N-gain.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Uji Kelayakan Assesment Berbasis Multiple Representasi

Uji kelayakan Assesment Berbasis Multiple Representasi dilakukan dengan uji empiris menggunakan metode penyebaran angket kepada ahli evaluasi dan ahli materi. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan uji coba kelompok kecil untuk memperoleh tanggapan pada mahasiswa.

Validasi Ahli Evaluasi

Gambar 1 Diagram Batang Hasil Validasi soal oleh Ahli Evaluasi

Berdasarkan hasil validasi oleh ahli evaluasi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 86,11 %. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen soal Berbasis Multiple Representasi ditinjau dari aspek substansi, konstruksi, dan bahasa memiliki interpretasi sangat baik. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa alat penilaian pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan dalam evaluasi perkuliahan elektronika dasar.

(48)

28 85 87.5 90 80

85 90 95

Persentase (%)

Hasil Validasi Ahli Materi

Ketepatan Kesesuaia n

Bahasa

86.25 81.25

79.25 75

80 85 90

Persentase (%)

Hasil Uji Coba Kelompok Kecil

Ketertarikan Materi Bahasa Validasi Ahli Materi

Gambar 2 Diagram Batang Hasil Validasi soal oleh Ahli Materi

Berdasarkan hasil validasi oleh ahli materi diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 87,5%. Hal ini menunjukkan bahwa soal ditinjau dari aspek kesesuaian, ketepatan, dan bahasa memiliki interpretasi sangat baik. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa alat penilaian pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan untuk evaluasi perkuliahan elektronika dasar.

Uji Coba Kelompok Kecil

Gambar 3 Diagram Batang Hasil Uji Kelompok Kecil

Hasil uji coba lapangan, diperoleh rata-rata persentase penilaian keseluruhan aspek adalah 82,25 %. Hal ini menunjukkan bahwa soal yang dikembangkan memiliki interpretasi baik.

Dari hasil validasi dan uji coba menunjukkan bahwa soal layak untuk diimplementasikan sebagai alat evaluasi perkuliahan eektronika dasar pada materi transistor. Sebelum digunakan sebagai alat penilaian pembelajaran, soal terlebih

(49)

29

dahulu direvisi sesuai dengan saran ahli materi, ahli evaluasi, guru fisika, dan mahasiswa pada uji coba kelompok kecil.

Implementasi Assesment Berbasis Multiple Representasi dalam Evaluasi Perkuliahan Elektronika

Gambar 4 Diagram Batang Kemampuan Representasi Mahasiswa

5. Kemampuan Pemahaman Representasi Verbal

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal verbal, dari nilai rata-rata skor pretest dan postest mengalami kenaikan dari 10,625 menjadi 14,75 dengan gain 0,44. Kemampuan pemahaman mahasiswa pada format soal verbal terjadi pada keterampilan mengklasifikasi dan menarik kesimpulan. Dalam representasi verbal, mahasiswa sedikit mengalami permasalahan dalam memberikan alasan dalam setiap pertanyaan. Mahasiswa masih belum mampu memberikan kesimpulan dengan baik. Berdasarkan data tersebut, rata-rata skor posttest mahasiswa mengalami kenaikan gain format verbal pada kategori sedang.

6. Kemampuan Pemahaman Representasi Gambar

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal gambar, dari skor rata-rata pretest dan postest menangalami kenaikan dari 9,3 menjadi 15,175 dengan gain 0,549. Berdasarkan data tersebut, rata-rata skor posttest mahasiswa mengalami kenaikan gain format gambar pada kategori sedang. Pada kemampuan representasi verbal, beberapa mahasiswa sedikit mengalami kesulitan dalam menganalisis gambar rangkaian bipolar junction transistor pada soal. Hal ini disebabkan mahasiswa belum mampu dalam ketrampilan mengklasifikasikan gambar sehingga tidak mampu merepresentasi ke

10.625 9.3 9.175

5.6

14.75 15.175 14.375 14.85

44

54.9

48

64.23

0 10 20 30 40 50 60 70

Verbal Gambar Matematik Grafik

Skor Rata-rata

Kemampuan Representasi Mahasiswa

Pretes Posttes Gain

(50)

30

dalam bentuk matematis. Sejalan dengan penemuan Setyandaru dkk. (2017) mengatakan rendahnya representasi gambar disebabkan siswa terlalu fokus dalam mengerjakan soal matematis, verbal dan grafik.

7. Kemampuan Pemahaman Representasi Matematik

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal matematik, dari rata-rata skor pretest dan postest mengalami kenaikan dari 9,175 menjadi 14,375 dengan gain 0,48. Dalam kemampuan matematik, mahasiswa sepertinya sudah terbiasa dalam menghapal persamaan atau rumus dan simbol-simbol untuk suatu besaran tertentu. Seperti mata kuliah yang lain, mereka menganggap elektronika juga masih berliterasi dengan rumus. Jika dari hasil pretes dan posttes, terdapat peningkatan skor rata-rata yang cukup baik, dengan gain yang sedang.

8. Kemampuan Pemahaman Representasi Grafik

Berdasarkan hasil analisis data, kemampuan pemahaman siswa pada format soal verbal, dari nilai rata-rata skor pretest dan postest mengalami kenaikan dari 5,6 menjadi 14,85 dengan gain 0,642. Dari data tersebut, kita dapat melihat bahwa kemampuan awal mahasiswa dalam kemampuan grafik sangat rendah. Dari skor maksismum 20, hasil pretes hanya mendapat skor rata-rata 5,6. Rendahnya kemampuan mahasiswa dalam merepresentasi grafik dapat diimplikasikan bahwa kemampuan awal siswa masih lemah sehingga dapat memungkinkan mereka kurang menerima informasi grafik dalam pembelajaran sebelumnya. Materi tentang transistor salah satu materi yang informasinya banyak mengandung grafik.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Purwanti dkk. (2016) bahwa kesalahan dalam mengambil informasi grafik berdampak sangat fatal. Oleh karena itu pemahaman grafik siswa dengan multi representasi dalam pembelajaran khususnya materi transistor menjadi penting sebagaimana fungsi multi representasi yaitu untuk membangun pemahaman siswa yang lebih dalam (Ainsworth, 2006).

KESIMPULAN

5. Assesmen soal berbasis multiple representasi yang dikembangkan berjumlah 8 soal, dengan masing-masing 2 soal untuk kemampuan representasi verbal, representasi gambar, representasi matematik dan representasi grafik.

6. Soal yang dikembangkan memiliki kualitas yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis kualitatif yang dilakukan oleh ahli dan uji coba kelompok kecil. Soal yang dikembangkan layak digunakan sebagai alat evaluasi perkuliahan elektronika dasar khususnya pada materi transistor. Hal

(51)

31

ini ditunjukkan dari hasil uji kelayakan kepada ahli evaluasi dan ahli materi adalah 86,8 dengan interpretasi sangat baik, sedangkan respon mahasiswa kelompok kecil didapatkan rata-rata persentase secara keseluruhan adalah 82,25 % dengan intepretasi baik.

7. Kemampuan representasi mahasiswa pada materi transistor melalui format verbal tergolong sedang dengan gain 44, format matematik sedang dengan gain 48, format grafik sedang dengan gain 64,23, format gambar juga sedang dengan N=gain 54,9.

8. Nilai rata-rata posttest siswa tertinggi pada format gambar, sedangkan ketiga format lainnya masih rendah, namun tidak terlalu besar selisihnya. Skor rata- rata pretes pada format grafik masih sangat rendah, hal ini disebabkan kemampuan awal pada format grafik dan pada mata kuliah lainnya masih belum maksimal dan rendah. Akan tetapi setelah diterapkan pembelajaran dengan pembelajaran multiple representasi diperoleh gain sedang dan sangat berpengaruh pada kemampuan pemahaman mahasiswa pada format grafik.

DAFTAR PUSTAKA

Ainsworth, S. (1999). “The Functions of Multiple Representations”. Computers and Education, 33, 131-152.

Etkina, E., et.al. (2006). “Scientific Abilities and Their Assessment”. Physical Review Special Topics- Physics Education Research. 2, 020103

Goldin, G.A. (2002). Representation in Mathematical Learning and Problem Solving. Dalam L.D English (Ed). Handbook of International research in Mathematics Education (IRME). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Izhak and Sherin, M.G. (2003). Exploring the Use of New Representation as a Resource for Teaching Learning. The University of Georgia and North Western University, Journal School Science and Mathematics.103, (1).

Meij, J. V. D., & Jong, T. D. (2001).“The Effects Of Directive Self-Explanation Prompts To Support Active Processing Of Multiple Representations In A Simulation-Based Learning Environment”. Journal of Computer Assisted Learning, 27, 411–423

Murtono, Setiawan, D. & Rusdiana, D. (2014). “Fungsi Representasi dalam Mengakses Penguasaan Konsep Fisika Mahasiswa”. JRKPF UAD. 1 (2) Kohl, P. B. (2007). Towards An Understanding Of How Students Use

Representations In Physics Problem Solving. Dalam Tesis Doktor pada Faculty of the Graduate School of the University of Colorado

(52)

32

Prain, V., and Waldrip, B.G. (2007). “An exploratory study of teachers’

perspectives about using multi-modal representations of concepts to enhance science learning”. Canadian Journal of Science, Mathematics and Technology Education.

Purwanti, A, Sutopo, & Wisodo, H. (2016). Penguasaan Konsep dan Kemampuan Representasi Materi Gerak Lurus Siswa SMA Kelas XII. Prosiding Seminar Pendidikan IPA Pascasarjana UM, 1(1); 53-58

Reif, F. (1995). “Understanding and Teaching Important Scientific Thought Processes”. American Journal of Physics. 63, (1), 17-32

Rosyid, Jatmiko, B., & Supardi, Z. A. I. (2013). “Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Menggunakan Model Orientasi IPA (PBL dan Multi Representasi) pada Konsep Mekanika di SMA”. Pancaran, 2 (3), hlm. 1 – 12

Rosengrant, D. R. (2007a). Multiple Representations and Free-Body Diagrams:

Do Students Benefit From Using Them?. Dalam disertasi doktor pada School of Education Rutgers, The State University of New Jersey.

Savinainen, A., dkk. (2013). “Teaching and Evaluating Materials Utilizing Multiple Representations in Mechanics”. IOP Publishing.

Setyandaru, T.A., Wahyuni, S., & Putra, P.D.A. (2017). Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Multirepresentasi pada Pembelajaran Fisika di SMA/MA. Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(3): 218-224.

Wu, H. K., & Puntambekar, S. (2012). “Pedagogical Affordances of Multiple External Representations in Scientific Processes”. J Sci Educ Technol.

21:754-767

Wong, D. dkk. (2011). “Learning with multiple representations: an example of a revision lesson in mechanics”. Phys. Educ. 46 178

(53)

33

Gambar

Tabel 2.1  State of The art Review  No  Judul Penelitian  Penulis (Tahun
Tabel 2.1 Beberapa Representasi, proses ilmiah, dan Affordances
Gambar 4.3 soal Representasi Gambar
Gambar 4.4 soal Representasi Grafik
+7

Referensi

Dokumen terkait

[77] [78] [79] [80] [81] [82] [83] [84] [85] [86].. számú határozatból indult ki. cikk g) pontja nemzetközi szokásjogot tükröz. A testület kimondta, hogy a nemzetközi

-Venosa BEDAH ORTHOPAEDI 83 Dislokasi Bahu 84 Fraktur Klavikula 85 Fraktur Humerus 86 Fraktur Cruris 87 Fraktur Galeazi 88 Fraktur Montegia 89 Fraktur Radius-Ulna 90 Fraktur Colles.

Technology 83 Teen Friends 84 Term of office 84 Treasurer 85 Tributes 86 Trustees 86 Vice president 87 Volunteers 87 Appendix A: Resource Websites for Friends 89 Appendix B: State

83 84 85 86 87 88 89 90 memiliki inisiatif belajar memiliki kemampuan untuk mengetahui kebutuhan belajarnya merancang tujuan pembelajaran yang hendak mereka capai memilih sumber

82 JUMI AMBARYATI KALIGESING 83 NI'MATUL KHOLIFAH KALIGESING 84 SUBAGYO KALIGESING 85 ZEIN SAIFUL ISLAM KALIGESING 86 ALI ACHMADI PURWOREJO 87 AMANDA LUKY ERNAWATI

81 Herlambang Aulia Rachman Non-Kredit 82 Hafshah Farah Fadhilah Non-Kredit 83 Muhammad Dwiky Alfira Non-Kredit 84 Sharon neysa Non-Kredit 85 Ronald Grant Non-Kredit 86 Ihsan

82 MUHAMMAD MUNTOLIB PURWOREJO 83 SUKUR PURWOREJO 84 AMBROSIUS HARI SUSETYO PURWOREJO 85 ANTONIUS WIDODO PURWOREJO 86

82 AGAS SUTISNA PURWOREJO 83 AGUNG RIATNO PURWOREJO 84 ANGGA ADHITYA PURWOREJO 85 ARI RUDATIN, SE PURWOREJO 86 ARWIN TRIAS NUSANTARA PURWOREJO 87 BAGAS SANDIKA