Dosen Pengampu : Suhardi, S.T. MPSDA Disusun oleh Kelompok 5 :
1 Malik 23100
2 Adinda Azaria Fazilatun Nisa 231016
3 Tegar Pambudi 231020
4 Aulia Nazwa 231024
5 Nur Ainun Awaluddin 231025
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
PRODI TEKNOLOGI KONSTRUKSI BANGUNAN AIR POLITEKNIK PEKERJAAN UMUM
SEMARANG
2025
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Praktikum
Rekayasa Geoteknik Bangunan Air Semester III Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Air
Politeknik Pekerjaan Umum
Telah diperiksa dan disetujui pada:
hari :
tanggal :
Mengetahui, Ketua Laboratorium Mekanika
Tanah
Daru Jaka Sasangka, S.T., M.Eng NIP. 198808182014021001
Dosen Pembimbing
Suhardi, S.T . MPSDA NIP. 197510072005021001
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan praktikum Rekayasa Geoteknik Bangunan Air dan menyajikannya dalam bentuk laporan.
Laporan praktikum ini disusun berdasarkan dari hasil pengambilan sampel, uji lapangan, uji laboratorium, dan stratifikasi tanah guna untuk merencanakan sebuah pondasi melalui pengolahan data dan mengunakan software. Penyusunan laporan ini tidak lepas dari bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Suhardi, S.T . MPSDA, selaku dosen pengampu mata kuliah Rekayasa Geoteknik Bangunan Air.
2. Bapak Daru Jaka Sasangka, S.T., M.Eng, selaku Ketua Laboratorium Mekanika Tanah.
3. Bapak Akhdan Zufar Faiz, A.Md. dan Bapak Muhammad Dzikron Jaelani, A.Md.T., selaku Asisten Laboratorium Mekanika Tanah.
4. Serta teman-teman kelompok 5 yang terlibat dalam pembuatan laporan ini dan seluruh pihak yang membantu dalam pelaksanaan praktikum Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Semarang, ... Januari 2025
Kelompok 5
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang1.1.1 Pengujian Bor Geoteknik
Pengeboran tanah adalah proses penyelidikan geoteknik yang melibatkan berbagai peralatan dan teknik untuk mendapatkan sampel tanah dan data yang ada di bawah permukaan atau di kedalaman tanah. Dengan memahami susunan lapisan tanah, mengambil sampel tanah terganggu (Disturb) dan tak terganggu (Undisturb), serta melaksanakan pengujian SPT, kita dapat mengumpulkan informasi penting yang berguna untuk berbagai keperluan konstruksi dan analisis geoteknik.
Berbagai metode digunakan dalam pengujian bor geoteknik, termasuk pengujian penetrasi standar (SPT), uji penetrasi konus (CPT), dan pemboran inti.
Metode SPT, misalnya, adalah salah satu cara yang paling umum dan ekonomis untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi bawah permukaan tanah.
Dalam metode ini, sebuah alat penembus dipukul ke dalam tanah untuk mengukur ketahanan tanah terhadap penetrasi. Data yang diperoleh dari pengujian ini kemudian digunakan untuk menghitung daya dukung tanah dan merancang pondasi bangunan.
Hasil dari pengujian bor geoteknik akan sangat berpengaruh pada berbagai aspek konstruksi, termasuk perencanaan konstruksi jalan, gedung-gedung bertingkat, dan struktur lainnya. Dengan memahami karakteristik tanah secara mendalam, para insinyur dapat merancang pondasi yang sesuai dengan kondisi tanah aslinya, sehingga meningkatkan keselamatan dan keberlanjutan proyek konstruksi. Selain itu, data yang diperoleh juga berguna untuk analisis risiko geohidrologi seperti potensi longsor atau penurunan permukaan tanah yang dapat terjadi.
1.1.2 Pengujian Sondir
Tes sondir atau yang biasa disebut CPT atau Cone Penetration Test.Tes ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur daya dukung tanah. Dalam pengujian CPT ini digunakan kerucut (konus) penetrometer. Alat tersebut memiliki bentuk ujung kerucut yang lancip dengan sudut 60 derajat dan luasan ujung dengan ukuran 10 cm2. Metode ini dilakukan dengan mendorong batang sondir ke dalam tanah atau batuan menggunakan mesin sondir. Data yang diperoleh. dari uji sondir dapat digunakan untuk menentukan sifat mekanik tanah dan batuan, seperti uji kuat tekan, modulus elastisitas, dan permeabilitas.
Pada penggunaan friction sleeve atau adhesion jacket type (bikonus), nilai konus dan hambatan lekat keduanya dapat diukur. Hasil penyelidikan ini dinyatakan dalam bentuk grafis, nilaikonus digambar dalam kg/cm2 dan hambatan lekat (skin friction) digambar sebagai jumlahkedalaman yang bersangkutan per cm keliling, yaitu dalam kg/cm.
Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap kedua ujung yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas. Hambatan lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus. Akan tetapi ada pula kerugian pada penggunaan alat ini yaitu tidak dapat dipergunakan untuk lapisan tanah yang berbutir kasar, terutama untuk lapisan tanah keras yang mengandung kerikil dan batu. Juga hasil penyondiran bisa saja tidak sesuai apabila letak alat tidak vertikal, atau jika konus/bikonus tidak bekerja dengan baik.
1.1.3 Pengujian Properties Tanah
Pengujian tanah di laboratorium adalah proses pengujian yang dilakukan terhadap semua contoh tanah yang diperoleh dari lapangan berupa contoh tanah disturb dan contoh tanah undisturb. Pengujian- pengujian yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh data dan informasi parameter sifat fisik dan sifat mekanika tanah, selanjutnya parameter-parameter tersebut akan digunakan sebagai bahan analisis dan pertimbangan dalam perencanaan dan desain tipe penanganan longsoran.
Praktikum pengujian sifat tanah tidak hanya tentang pemahaman teoritis tetapi juga pengalaman praktis dalam mengolah dan menganalisis sampel tanah.
Dengan melakukan pengujian ini, mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi jenis tanah dan memahami bagaimana sifat-sifat tersebut berinteraksi dengan beban yang diterima oleh struktur. Hasil dari praktikum kemudian akan menjadi acuan penting dalam perencanaan proyek konstruksi, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya analisis geoteknik dalam menjamin keberhasilan dan keamanan suatu Pembangunan.
1.1.4 Pengujian Geolistrik
Geolistrik adalah metode geofisika yang digunakan untuk mempelajari kondisi bawah permukaan tanah dengan mengukur variasi resistivitas (hambatan jenis) batuan. Prinsip kerjanya adalah dengan mengalirkan arus listrik ke dalam tanah melalui elektroda, kemudian mengukur tegangan yang dihasilkan.
Berdasarkan data tegangan dan arus yang diperoleh, dapat diinterpretasikan distribusi resistivitas batuan di bawah permukaan, yang kemudian dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan air tanah, jenis batuan, dan struktur geologi.
Resistivitas batuan dapat diukur dengan memasukkan arus listrik ke dalam tanah melalui 2 titik elektroda di permukaan tanah dan 2 titik lain untuk mengukur beda potensial di permukaan yang sama. Hasil pengukuran geolistrik dapat berupa peta sebaran tahanan jenis baik dengan jenis mapping atau
horisontal maupun sounding atau kedalaman. Hasil pengukuran geolistrik mapping maupun sounding disesuaikan dengan kebutuhan diadakannya akuisisi data serta jenis konfigurasi yang digunakan.Terdapat 3 metode pengambilan data geolistrik, yaitu :
a) Metode Geolistrik Tahanan Jenis (Method Resistivity) b) Self Potential (SP)
c) Induce Polarization (IP)
1.1.5 Pengujian Daya Dukung Langsung
Daya dukung tanah adalah kemampuan tanah untuk menahan beban yang diteruskan oleh struktur bangunan melalui pondasi. Dalam konteks teknik sipil, pemahaman yang mendalam mengenai daya dukung tanah sangat penting untuk memastikan keamanan dan stabilitas suatu konstruksi. Jika beban yang diteruskan melebihi kapasitas dukung tanah, maka dapat terjadi penurunan berlebihan atau bahkan keruntuhan struktur. Oleh karena itu, pengujian daya dukung tanah menjadi salah satu langkah yang perlu di perhatikan dalam perencanaan pondasi.
Daya dukung tanah pada pondasi dengan beban sentris diperoleh hasil bahwa sebaiknya yang digunakan metode Terzaghi karena selain rumusnya yang sederhana, nilai daya dukung tanah yang relatif lebih kecil dibanding metode yang lain, sehingga dapat dikatakan lebih aman. Untuk beban miring sebaiknya digunakan perhitungan daya dukung tanah pada pondasi dangkal dengan metode Meyerhof karena memperoleh nilai daya dukung tanah yang relatif lebih stabil kenaikannya yaitu semakin besar lebar fondasi maka semakin besar pula daya dukungnya.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari praktikum ini adalah proses pengujian tanah dilakukan untuk menganalisis kekuatan dan stabilitas tanah di lokasi Lapangan Voli Kampus I Politeknik Pekerjaan Umum dan beberapa Workshop mekanika tanah. Pengujian ini melibatkan penilaian kemampuan tanah untuk menghitung beban struktural bangunan, identifikasi potensi penyusutan atau pergeseran tanah, serta penentuan jenis pondasi yang sesuai untuk kondisi tanah tertentu.
Tujuannya untuk memastikan bahwa pondasi dapat memberikan dukungan yang aman dan kokoh bagi struktur bangunan.
1.3 Tujuan Praktikum
1.3.1 Pengujian Bor Geoteknik
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang sifat material geologi di bawah permukaan tanah, seperti jenis, komposisi, kekuatan, dan struktur. Informasi ini dapat membantu tim konstruksi dalam merencanakan dan melaksanakan proyeknya.
1.3.2 Pengujian Sondir
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui daya dukung tanah pada setiap lapisan serta mengetahui kedalaman lapisan pendukung yaitu lapisan tanah keras.
1.3.3 Kadar Air
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan kadar air yang terkandung di dalam tanah menggunakan sampel tanah yang diuji.
1.3.4 Pengujian Volume Tanah
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui berat isi, angka pori, derajat kejenuhan suatu contoh tanah.
1.3.5 Pengujian Berat Jenis Tanah
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan berat jenis tanah lolos saringan 4,75 mm (No. 4) menggunakan alat piknometer.
1.3.6 Pengujian Geser Tanah (Triaxial)
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk menentukan besarnya nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam (ϕ), daricontoh tanah yang diuji.
BAB 2 PENGOLAHAN DATA BOR GEOTEKNIK
2.1 Tujuan PraktikumTujuan pengujian Bor N-SPT (Standart Penetration Test) dalam Geoteknik untuk mengetahui lapisan tanah, untuk menentukan nilai daya dukung tanah, mengetahui sifat-sifat fisik dan lapisan tanah disturb dan undisturb, untuk mengetahui muka air tanah serta konsistensi tanah, Sebagai acuan untuk bahan yang akan digunakan dalam perencanaan struktur, pondasi, atau biaya.
2.2 Denah Lokasi Bor Geoteknik
Gambar 2.1 Denah Area Pengeboran dilapangan Politeknik PU
2.3 Identifikasi Alat dan Fungsi
Pada pengujian Pemboran Geoteknik yang berlokasi di Lapangan Voli Kampus I Politeknik PU terdapat beberapa peralatan yang digunakan seperti pada gambar dibawah
Gambar 2.2 Alat mesin bor Model YBM
Berdasarkan gambar diatas didapatkan identifikasi alat dan fungsi sebagai berikut:
1. Mode drum: untuk mengaktifkan mode panel naik turun kabel baja.
2. Mode spindle: untuk mengaktifkan mode couple.
3. Tuas: tuas kiri untuk naik turun kabel baja dan tuas kanan untuk rem.
4. Hand rem: untuk memutar couple (untuk dinetralkan dulu).
5. Panel speed: untuk mengatur kecepatan putaran dari couple.
6. Panel spindle: untuk mengatur naik turunnya spindle.
7.Speed spindle: untuk mengatur naik turun spindle sekaligus banyaknya oli.
8. Suplai oli: untuk suplai oli dan selalu terbuka, ditutup jika sudah selesai.
Gambar 2.3 Mesin Diesel Penggerak
Gambar 2.3 Mesin penggerak diesel berfungsi untuk mengaktifkan gear box harus balance.
Gambar 2.4 Spindle dan kople
Satu rangkaian alat dengan sistem hidraulik berfungsi untuk memompa pipa besi agar dapat memasukkan dan mengeluarkan pipa saat pengeboran.
Gambar 2.5 Tripod
Hammer berfungsi sebagai beban dengan berat 63,5 kg
2.4 Langkah Kerja Pemboran Geoteknik
Pada pengujian pemboran dilakukan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Pilih tempat untuk pengeboran dan kolam penampungan air.
Gambar 2.6 Pemilihan tempat pengeboran 2. Gali kolam penampungan dan kemudian isi dengan air.
Gambar 2.7 Kolam penampung kemudian isi dengan air
3. Pasang peralatan pengeboran geoteknik dengan bantuan Tim Pengeboran, Driller, dan Pembantu.
Gambar 2.8 Pemasangan alat Mesin Bor Gambar 2.8 Pemasangan mesin pompa YBM
4. Pasang Tripod letak pemasangan pipa besi.
Gambar 2.9 Pemasangan Tripod
5. Mulai proses pengeboran awal menggunakan sirkulasi air hingga mencapai kedalaman 1 meter, lalu ambil sampel yang terjaring saat pengeboran awal sebagai sampel tanah dari kedalaman 0 hingga 1 meter.
Gambar 2.10 Pengeboran Awal
6. Kemudian, ganti mata bor dengan core drill barrel untuk kedalaman 1 hingga 2 meter.
Gambar 2.11 Pemasangan Core Drill
7. Lanjutkan pengeboran pada kedalaman 1 hingga 2 meter, karena sampel yang diambil merupakan sampel disturb, maka teknik pengambilan dapat dilakukan dengan cara memutar.
Gambar 2.12 Proses Pengambilan Sampel Disturb
8. Setelah sampel diambil, angkat mata bor untuk mengeluarkan sampel dari alat bor dengan cara mendorongnya menggunakan air.
Gambar 2.13 Mengeluarkan Sampel Disturb dari pipa
9. Selanjutnya, ganti mata bor dengan SPT Drilling core barrel, Anvil, Guide pipe, Donut hammer, dan pipa Penarik hammer untuk melakukan pengujian SPT.
Gambar 2.14 Proses Pemasangan Pipa Penarik Hammer 10. Tandai pipa tiap 15 cm pertama, kedua, ketiga kemudian
Gambar 2.15 Penandaan tiap 15 cm pada pipa
11. Turunkan pipa dan lakukan pengujian SPT hingga kedalaman 45 cm pada kedalaman 2 - 2,5 meter.
Gambar 2.16 Melakukan Pengujian SPT
12. Keluarkan sampel dari alat bor dengan cara mendorongnya menggunakan air.
Gambar 2.17 Proses Mengeluarkan Sampel SPT dari pipa
13. Ganti mata bor dengan core drill barreling dan lanjutkan pengambilan sampel dari kedalaman 2,5 hingga 3 meter.
14. Ulangi langkah keenam dan ketujuh untuk mengambil sampel dari kedalaman 3 hingga 4 meter.
15. Lakukan kembali langkah sembilan sampai sebelas untuk pengujian SPT dari kedalaman 4 hingga 4,5 meter.
16. Ganti mata bor dengan core barrel untuk mengambil sampel undisturb dari kedalaman 4,5 hingga 5 meter.
Gambar 2.18 Pengambilan Sampel Undisturbed
1. 18 . Masukkan sampel undisturbed kedalam wadah yang tertutup rapat.
Gambar 2.19 Sampel Undisturb
17. masukkan sampel ke dalam kotak inti dan ambil foto untuk keperluan dokumentasi.
Gambar 2.20 Hasil keseluruhan sampel pengujian bor
18. Terakhir, masukkan sampel ke dalam kotak inti dan ambil foto untuk keperluan dokumentasi.
Gambar 2.21 Mendeskripsikan hasil tanah pengeboran.
2.5 Langkah Kerja Pengambilan Sampel Undisturb
Berikut adalah langkah kerja pengambilan sample undisturbed : 1. Pengambilan sampel undisturb dilakukan pada kedalaman 5 - 5.5 meter.
2. Ketika kedalaman pengeboran mencapai 5 meter, mata bor dialihkan dengan core barrel yang digunakan untuk pengambilan sampel undisturb. Mengingat sifat sampel yang tidak boleh terganggu, proses pengambilannya harus dilakukan dengan cara ditekan.
Gambar 2.22 Pemasangan Core Barrel untuk Sampel Undisturbed
3. Setelah pengambilan, angkat mata bor dan tutup pipa sampel menggunakan lakban.
Gambar 2.24 Menyimpan sampel Undisturbed ke dalam wadah kemudian ditutup rapat
4. Simpan sampel tersebut dalam core box untuk keperluan dokumentasi.
Gambar 2.25 Meletakkan sampel Undisturbed ke dalam Core Box
2.6 Langkah Kerja Pengambilan NSPT
Berikut adalah langkah langkah pengambilan NSPT:
1. Uji NSPT dilakukan pada kedalaman per 1 m. Pada pengeboran 1 m tidak dipakai untuk pengolahan data karena tanah tersebut sudah terganggu campuran air.
Gambar 2.26 Pemboran awal permukaan tanah sebelum pengujian SPT
2. Pada kedalaman 2 m, pipa bor akan diangkat dan digantikan dengan SPT drilling core barrel.
Gambar 2.27 Pergantian mata bor menggunakan Driling Core Barrel 3. Pipa kemudian dimasukkan, dilanjutkan dengan pemasangan Anvil, Guide
Pipe, dan Donut Hammer, yang memiliki berat 63,5 kg, beserta pipa penarik hammer di atas pipa pengeboran.
Gambar 2.28 Pemasangan Hammer berat 63,5 kg beserta pipa penarik Hammer di atas pipa pengeboran.
4. Untuk pengujian NSPT, langkah pertama adalah memberikan patokan garis pada pipa pengeboran pada ketinggian 15 cm untuk setiap kali pengujian.
Mengingat pengujian dilakukan sebanyak tiga kali, total ketinggian yang diukur adalah 45 cm.
Gambar 2.29 Penandaan tiap 15 cm Pada pipa untuk Pengujian NSPT 5. Pada saat pengujian NSPT pertama, lakukan penumbukkan pada 15 cm yang
pertama. Caranya adalah dengan menurunkan pipa penarik hammer setelah pipa tersangkut pada hammer, kemudian mengangkat pipa hingga hammer mencapai batas ketinggian Guide Pipe, di mana hammer akan terjatuh dan membentur anvil. Hitung per berapa kali tumbukkan.
Gambar 2.30 Proses Penumbukkan Hammer Tiap 15 cm percobaan pertama 6. Ulangi langkah 5 hingga mencapai 15 cm yang pertama dan catat jumlah
tumbukkan tersebut sebagai N1.
7. Lanjutkan dengan mengulangi langkah 5 dan 6 untuk mendapatkan N2 dan N3. N value yang digunakan adalah hasil penjumlahan dari N2 dan N3.
8. Selanjutnya mengeluarkan sampel, dorong menggunakan extruder.
Gambar 2.31 Pengeluaran sampel dari pipa bor.
9. Simpan sampel kedalam plastik.
Gambar 2.32 Memasukan sampel ke dalam plastik.
10. Kemudian disimpan didalam Core Box lalu dokumentasikan.
Gambar 2.33 Sampel Disimpan didalam Core Box kemudian dokumentasi
2.7 Penyajian Data Bor Geoteknik
2.7.1 Form lapangan pengujian pengeboran
Gambar 2.34 Form lapangan pengujiian bor Geoteknik
2.8 Interpretasi dan Profiling Tanah Berdasarkan Pemboran
BAB 3 PENGOLAHAN DATA SONDIR
3.1 Denah Lokasi Sondir3.2 Langkah Kerja dan Pengambilan Data 3.2.1 Alat dan Bahan
• Sondir
• Manometer 2 buah, kapasitas 0– 50 kg/cm 2 dan 0 – 250 kg/cm2
• Satu set batang sondir lengkap dengan stang, panjang masing-masing batangadalah 1 meter.
• Satu buah paten konus dan satu buah bikonus.
• Satu set angker (terdiri dari 2 buah angker)
• Pelat persegi 2 batang.
• Landasan kayu 2 batang.
• Waterpass.
3.2.2 Langkah Kerja
1. Menentukan lokasi tanah yang akan di pasang angkur, lalu membuat lu
2. Masukkan angkur ke dalam tanah dengan cara diputar searah jarum jam sambil di tekan kebawah.
3. Mengukur jarak antara angkur satu dengan angkur lainnya menggunakan meteran, dengan jarak yang ditetapkan sebesar 90 cm. Kemudian gali lubang di tengah antara 4 angkur sedalam 20 cm.
4. memasang alat sondir di tengah lubang dan kencangkan kunci angkur di
keempat sisi.
5. Menyelaraskan alat menggunakan waterpass pada bagian bawah dan atasnya agar posisin seimbang.
6. Pasang bikonus pada alat sondir, kemudian memasang kunci ring di bagian atas pipa.
7. Memutar alat perlahan hingga bikonus dapat masuk kedalam tanah perlahan.
8. Memulai pembacaan kedalaman alat dengan interval 20 cm, kemudian menggunakan selisih 4 cm sebanyak dua kali untuk pembacaan konstannya.
9. Membaca manometer arloji setiap kali terjadi penurunan, dan ulangi proses tersebut hingga memperoleh data yang diinginkan.
3.3 Penyajian Data Sondir
PENGUJIAN SONDIR
Denah = Tembalang, Semarang Waktu =
Tempat = Lapangan Voli Politeknik PU Team =Kelompok 5 Api (Luas Penampang Piston) = 8.14 cm²
Ac (Luas Penampang Konum) = 10.12 cm² Ls (Tinggi Selimut) = 13.28 cm² As (Luas Selimut Geser) = 149.78 Cm²
Kedala man
Pembac aan Manome
ter Pertama
(Cw)
Pembac aan Manom
eter Kedua
(Tw)
Cleef Kw = Tw – Cw
Perlawa nan Konus
Qc = (Api*C
w)/Ac
Local Friction
Fs = (Kw*A
pi)/As
Total Friction
Fs*20c m
Cummul ative Total Friction
Friction Ratio (Fs/Qc)*1
00
(cm) (kg/cm²) (kg/cm²) (kg/cm²) (kg/cm²) (kg/cm²) (kg/cm) (kg/cm²) (%)
0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 10 11 1 8,043 0,054 1,087 1,087 0,676
40 15 20 5 12,065 0,272 5,435 6,522 2,252
60 25 27 2 20,109 0,109 2,174 8,695 0,541
80 49 58 9 39,413 0,489 9,782 18,478 1,241
100 90 100 10 72,391 0,543 10,869 29,347 0,751 120 95 120 25 76,413 1,359 27,173 56,520 1,778 140 140 160 20 112,609 1,087 21,739 78,259 0,965 160 180 185 5 144,783 0,272 5,435 83,693 0,188
Gambar 3.2 Grafik Friction Ratio
Gambar 3.3 Grafik Hambatan Konus
Gambar 3.4 Grafik Total Friction
Gambar 3.5 Grafik Cumulatife Friction
3.4 Intrepretasi dan Profiling Tanah
Gambar 3.6 Penentu jenis tanah secara empirik berdasarkan tahanan konus dan rasio gesekan
Dari tabel diatas, interpretasi pengujian sondir yang di lakukan didapatkan tanah:
1. Pada kedalaman 0-20m mempunyai jenis tanah lempung, dengan
perlawana konus (qc) sebesar 8,043 kg/cm² dan friction rasio sebesar 0,676%
2. Pada kedalaman 20-40m mempunyai jenis tanah lempung, dengan perlawana konus (qc) sebesar 12,065 kg/cm² dan friction rasio sebesar 2,252%
3. Pada kedalaman 40-60m mempunyai jenis tanah lempung, dengan
perlawana konus (qc) sebesar 20,109 kg/cm² dan friction rasio sebesar 0,541%
4. Pada kedalaman 60-80m mempunyai jenis tanah lempung, dengan
perlawana konus (qc) sebesar 39,413 kg/cm² dan friction rasio sebesar 1,241%
5. Pada kedalaman 80-100m mempunyai jenis tanah lempung, dengan perlawana konus (qc) sebesar 72,391 kg/cm² dan friction rasio sebesar 0,751%
6. Pada kedalaman 100-120m mempunyai jenis tanah lempung, dengan perlawana konus (qc) sebesar 76,413 kg/cm² dan friction rasio sebesar 1,778%
7. Pada kedalaman 120-140m mempunyai jenis tanah lempung, dengan perlawana konus (qc) sebesar 112,609 kg/cm² dan friction rasio sebesar 0,965%
8. Pada kedalaman 140-160m mempunyai jenis tanah lempung, dengan perlawana konus (qc) sebesar 144,783 kg/cm² dan friction rasio sebesar 0,188%
BAB 4 PENGUJIAN LABORATORIUM
4.1 Pengambilan Sampel Tanah Disturb / UndisturbPengambilan sampel tanah pada kedalaman 1-3m mendapatkan hasil tanah disturb lempung lunak dan pada kedalaman 4-5m mendapatkan hasil tanah lempung berpasir. Pada pengambilan sampel tanah undisturb kita menggeser alat bor ke titik sebelah karena saat pengeboran pada titik 1 kita tidak mendapatkan tanah undisturb.
4.2 Langkah Kerja Uji Berat Volume dan Hasil Uji
4.2.1 Langkah Kerja
1. Bersihkan dan timbang ring sample
2. Ukur diameter dan pangjang ring sample menggunakan jangka
sorong,kemudian masukan sampel tanah kedalam ring lalu ditimbang dan masukkan ke dalam oven selama 24 jam.
3. Setelah kering keluarkan dari oven lalu timbang untuk
mendapatkan nilai massa tanah kering
4.2.2 Hasil Uji
No. Sampel 1 2 3
Densitas
Volume tanah V1 cm³ 35.45 35.44 34.94
.86Massa tanah dan0.0 tabung basah
M6 gram 102.10 100.10 101.50
Massa tanah dan tabung kering
M7 gram 84.60 82.70 85.50
Massa tabung M8 gram 37.40 36.50 36.60
Massa tanah basah
M9 M6-M8 gram 64.70 63.60 64.90
Massa tanah kering
M10 M7-M8 gram 47.20 46.20 48.90
Densitas total (bulk)
ρb M9/V1 gram/cm³ 1.83 1.79 1.86 Densitas kering ρd ρb/(1+w) gram/cm³ 0.05 0.05 0.06 Kandungan air
volumetrik
v w*ρd/0,981 % 1.81 1.78 1.84
Rasio pori,Porositas,dan Saturasi
Rasio pori e [V1-(M10/Sg)]/(M10/Sg) 0.98
Porositas n e/(e+1)*100 % 49.45
Saturasi S w*Sg avg/e % 97.40
4.3 Langkah Kerja Uji Berat Jenis dan Hasil Uji
4.3.1 Langkah Kerja
1.Ambil 3 buah piknometer dengan ukuram 100 ml dan timbang beratnya
2.Ayak sampel tanah menggunakan ayakan nomor 4 dan
3.Masukan sampel tanah hasil ayakan tai
sebanyak 20 gram pada tiap-tiap piknometer
4.Kemudian timbang berat piknometer + benda uji (W2)
5.Isi piknometer dengan air suling sebanyak 2/3
6. Panaskan piknometer yang berisi benda uji sampai mendidih,bila gelembung udara sudah tidak muncul ambil piknometer dan diamkan selama 10 menit
7.Masukkan piknometer dalam desikator dan diamkan hingga suhunya dibawah 30 derajat
8.Setelah dingin,ukur suhu piknometer untuk mendapatkan Faktor Koreksi (K)
9.Kemudian timbang berat
piknometer+air+tanah (A3)
10.Bersihkan piknometer dengan bersih lalu isi dengan air suling hingga batas leher
piknometer,kemudian timbang berat
piknometer + air suling (A4)
4.3.2 Hasil Uji
NO. Sampel 1 2 3
Specific Gravity Berat
Tabung/Piknometer W1 gram 41.1 43.0 59.5
Massa piknometer dan
Contoh W2 gram 61.5 63.2 79.7
Berat Tanah Wt W2-W1 gram 20.4 20.2 20.2
Temperatur C 28.0 28.0 28
Berat piknometer + air + tanah pada
temperatur Uji
A3 gram 155.0 155.0 170
Berat piknometer +air
temperatur Uji A4 gram 142.0 142.0 158
K 0.998 0.998 0.998
Berat piknometer + air + tanah pada
temperatur 20 C
W3 = K x (A3-W1)
+ W1 gram 154.77 154.78 169.779
Berat piknometer + air temperatur 20 C
W4 = K x (A4-W1)
+ W1 gram 141.80 141.80 157.803
Berat tanah dan air W5 Wt + W4 gram 162.20 162.00 178.003
Isi Tanah W5 - W3 cm³ 7.43 7.23 8.224
Specific gravity Sg Wt/ W5 - W3 2.75 2.80 2.456
Rata-rata Sg avg 2.666
4.4 Langkah Kerja Uji Kadar Air dan Hasil Uji
4.4.1 Langkah Kerja
1.Siapkan 3 cawan dan timbang berat masing- masing cawan kering yang kosong (M1)
2.Masukkan benda uji kedalam cawan dan timbang cawan + tanah basah (M2)
3.Kemudian oven selama 24 jam
4.4.2 Hasil Uji
NO. Sampel Disturb
1 2 3
Kandungan Air
Massa wadah M1 gram 11.10 9.00 10.90
Massa wadah dan tanah
basah M2 gram 43.90 42.60
42.60 Massa wadah dan tanah
kering M3 gram 35.60 33.40
34.50 Massa lengas (moisture) M4 M2-M3 gram 8.30 9.20 8.10 Massa tanah kering M5 M3-M1 gram 24.50 24.40 23.60 Kandungan air w M4/M5*100 % 33.88 37.70 34.32
Rata-rata w avg % 35.30
4.5 Penyiapan Sampel Uji Geser
1.Siapkan sampel tanah disturb yang akan diuji
2.Oleskan oli pada cetakan silinder dan masukkan sampel tanah
3.Keluarkan sampel tanah dari cetakan silinder kemudian timbang beratnya dan ukur diameter panjang benda uji
4.Pasang karet pada benda uji yang sudah disiapkan menggunakan tabung hisap dan pompa vakum
5.Pasang batupori dan kerja pori pada benda uji
4.6 Langkah Kerja Uji Geser dan Hasil Uji
4.6.1 Langkah Kerja
1.letakkan benda uji pada alas mesin triaxial kemudian ikat bagian atas dan bawah menggunakan karet
2. lalu kencangkan tiga mur saat pemberian tegangan sel agar air tidak keluar
3. pastikan alat sudah
kencang dan beri air didalam tabung
4.kencangkan bagian atas alat setelah karet dan mur sudah di pastikan sesuai pada posisi
5.setting arloji pembacaan dan arloji geser pada angka 0 jika posisi alat sudah kencang
6.beri tegangan sel pada benda uji pertama
7.setelah semua katup tertutup kemudian tegangan air pori di naikan
8.nyalakan mesin hingga menyentuh atas tanah
sampel,kemudian lakukan pembacaan arloji setiap waktu yang sudah ditentukan dan catat pembacaan arlojinya
9.setelah selesai melakukan pengujian,timbang berat sampel dan karet
10 timbang sampel tanah yang sudah diuji untuk
menghitung kadar airnya kemudian catat beratnya
11.Kemudian
masukkan oven selama 24 jam
12. setelah 24jam ibang kembali sampel yang telah di oven dan catat hasilnya
4.6.2 Hasil Uji Geser
BENDA UJI 1
Diameter contoh = 3,48 cm Berat volume = 2,111 gr/cm³ Tinggi contoh (Lo) = 7 cm Kadar air mula- mula = 35,29 % Luas contoh mula- mula (Ao) = 9,507 cm² Derajat kekenyangan = Volume contoh (Vo) = 66,547 cm³ Kadar air sesudah uji = 43,52 %
Berat contoh = 140,5 gr Berat sesudah uji = gr
BENDA UJI 2
Diameter contoh = 3,48 cm Berat volume = 2,002 gr/cm³ Tinggi contoh (Lo) = 7 cm Kadar air mula- mula = 35,29 % Luas contoh mula- mula (Ao) = 9,507 cm² Derajat kekenyangan = Volume contoh (Vo) = 66,547 cm³ Kadar air sesudah uji = 29,61 %
Berat contoh = 133,2 gr Berat sesudah uji = gr
BENDA UJI 3
Diameter contoh = 3,48 cm Berat volume = 1,949 gr/cm³ Tinggi contoh (Lo) = 7 cm Kadar air mula- mula = 35,29 % Luas contoh mula- mula (Ao) = 9,507 cm² Derajat kekenyangan = Volume contoh (Vo) = 66,547 cm³ Kadar air sesudah uji = 29,74 %
Berat contoh = 129,7 gr Berat sesudah uji = gr
Waktu detikRegangan (%)1- ε A= A0/(1-ε)Pembacaan Dial P (kg)
σ1 - σ ẟ= (P/A)σ3σ1 = σd+σ3(σ1- σ3)/2(σ1+σ3)/2ΔLPenurunan Lo-ΔL 70.100.9999.51762.7490.2890.50.7890.1440.6440.0076.993 140.200.9989.52662.7490.2890.50.7890.1440.6440.0146.986 210.300.9979.5366.52.9780.3120.50.8120.1560.6560.0216.979 280.400.9969.5456.52.9780.3120.50.8120.1560.6560.0286.972 350.500.9959.5556.52.9780.3120.50.8120.1560.6560.0356.965 701.000.9909.60373.2070.3340.50.8340.1670.6670.076.93 1051.500.9859.65262.7490.2850.50.7850.1420.6420.1056.895 1402.000.9809.70162.7490.2830.50.7830.1420.6420.146.86 1752.500.9759.75162.7490.2820.50.7820.1410.6410.1756.825 2103.000.9709.80162.7490.2800.50.7800.1400.6400.216.79 2804.000.9609.90362.7490.2780.50.7780.1390.6390.286.72 3505.000.95010.0075.72.6110.2610.50.7610.1300.6300.356.65 4206.000.94010.1145.32.4280.2400.50.7400.1200.6200.426.58 4907.000.93010.22341.8320.1790.50.6790.0900.5900.496.51 5608.000.92010.33420.9160.0890.50.5890.0440.5440.566.44 6309.000.91010.4471.50.6870.0660.50.5660.0330.5330.636.37 70010.000.90010.5631.10.5040.0480.50.5480.0240.5240.76.3 84012.000.88010.8030.90.4120.0380.50.5380.0190.5190.846.16 98014.000.86011.0550.50.2290.0210.50.5210.0100.5100.986.02 112016.000.84011.31700.0000.0000.50.5000.0000.5001.125.88 126018.000.82011.59400.0000.0000.50.5000.0000.5001.265.74 140020.000.80011.88400.0000.0000.50.5000.0000.5001.45.6
Tabel uji geser tekanan 0,5
Waktu detikRegangan (%)1- ε A= A0/(1- ε)
Pembacaan Dial P (kg)σ1 - σ ẟ= (P/A)σ3σ1 = σd+σ3(σ1- σ3)/2(σ1+σ3)/2ΔLPenurunan Lo - ΔL 70.100.9999.517115.0390.529511.5300.26481.26480.0076.993 140.200.9989.526156.8720.721311.7210.36071.36070.0146.986 210.300.9979.5362210.0781.056912.0570.52851.52850.0216.979 280.400.9969.5452511.4531.199812.2000.59991.59990.0286.972 350.500.9959.5553114.2011.486312.4860.74311.74310.0356.965 701.000.9909.6033516.0341.669612.6700.83481.83480.076.93 1051.500.9859.65238.517.6371.827312.8270.91371.91370.1056.895 1402.000.9809.7014219.2401.983312.9830.99171.99170.146.86 1752.500.9759.7514520.6152.114113.1141.05712.05710.1756.825 2103.000.9709.8015424.7372.524013.5241.26202.26200.216.79 2804.000.9609.9035726.1122.636713.6371.31842.31840.286.72 3505.000.95010.0075525.1962.517713.5181.25882.25880.356.65 4206.000.94010.11454.524.9662.468513.4691.23432.23430.426.58 4907.000.93010.2235525.1962.464713.4651.23232.23230.496.51 5608.000.92010.3345927.0282.615513.6161.30782.30780.566.44 6309.000.91010.4476027.4862.630913.6311.31552.31550.636.37 70010.000.90010.5635424.7372.341813.3421.17092.17090.76.3 84012.000.88010.8035625.6542.374613.3751.18732.18730.846.16 98014.000.86011.0555424.7372.237713.2381.11892.11890.986.02 112016.000.84011.31851.523.5922.084513.0851.04232.04231.125.88 126018.000.82011.5945123.3632.015113.0151.00762.00761.265.74 140020.000.80011.8845123.3631.966012.9660.98301.98301.45.6
Tabel uji geser tekanan 1,0
Waktu detikRegangan (%)1- ε A= A0/(1- ε)
Pembacaan Dial P (kg)σ1 - σ ẟ= (P/A)σ3σ1 = σd+σ3(σ1- σ3)/2(σ1+σ3)/2ΔLPenurunan Lo - ΔL 70.100.9999.51762.7490.2891.51.7890.14441.64440.0076.993 140.200.9989.526177.7880.8181.52.3180.40881.90880.0146.986 210.300.9979.536219.6201.0091.52.5090.50442.00440.0216.979 280.400.9969.5452210.0781.0561.52.5560.52792.02790.0286.972 350.500.9959.55532.514.8881.5581.53.0580.77912.27910.0356.965 701.000.9909.6033817.4081.8131.53.3130.90642.40640.076.93 1051.500.9859.6524219.2401.9931.53.4930.99672.49670.1056.895 1402.000.9809.70146.521.3022.1961.53.6961.09792.59790.146.86 1752.500.9759.75149.522.6762.3261.53.8261.16282.66280.1756.825 2103.000.9709.80155.525.4252.5941.54.0941.29702.79700.216.79 2804.000.9609.90358.526.7992.7061.54.2061.35312.85310.286.72 3505.000.95010.00759.327.1652.7151.54.2151.35732.85730.356.65 4206.000.94010.11461.528.1732.7861.54.2861.39282.89280.426.58 4907.000.93010.22360.527.7152.7111.54.2111.35562.85560.496.51 5608.000.92010.3346429.3182.8371.54.3371.41862.91860.566.44 6309.000.91010.4476529.7772.8501.54.3501.42512.92510.636.37 70010.000.90010.5636529.7772.8191.54.3191.40942.90940.76.3 84012.000.88010.80366.230.3262.8071.54.3071.40352.90350.846.16 98014.000.86011.05567.130.7392.7811.54.2811.39032.89030.986.02 112016.000.84011.31867.530.9222.7321.54.2321.36612.86611.125.88 126018.000.82011.59468.331.2882.6991.54.1991.34932.84931.265.74 140020.000.80011.88471.432.7082.7521.54.2521.37622.87621.45.6
Tabel uji geser tekanan 1,5
Keterangan gambar : ɸ = 12°
Cu = 0,7 kg/cm²
BAB 5 PENGUJIAN GEOLISTRIK
5.1 Denah Lintasan Geolistrik5.2 Alat dan Bahan
Palu Kabel Power Capit
Meteran Kabel Resistivitymeter
MAEX612EM
Elektroda ` Aki
5.3 Langkah Kerja Pengujian Geolistrik 2D
1. Panjangkan gulungan kabel secara memanjang dengan patok bor.
2, Ambil jarak 2 meter pada setiap patok yang akan dipasang.
3. Setelah di ukur, Pasang elektroda dengan cara ditancapkan pada tanah menggunakan palu.
4. setelah elektroda dipasang ketentuan, pendekkan kabel yang terdapat sambungannya (5meter menjadi 2 meter)
5. Pasang capit yang menghubungkan elektroda dengan sambungan kabel.
6. Setelah semua kabel Siap, hubungkan ujung kabel ke resisitivity meter sesuai banyaknya patok. 1-24 tanpa pembalik arus dan 24- 48 menggunakan pembalik arus.
7. Hubungkan kabel yang menghubungkan resisitivity meter ke aki ke resisitivitymeter.
8. Setelah semua perkabelan selesai nyalakan alat
resisitivitymeter lalu pilih menu XB12-EM Bericon listrik.
9. Pilih Electroda Test dan tunggu sampai 24 untuk mengeck elektoda yang sudah terpasang.
5
10. Pilih multielectrode measurement
11. .Lalu pilih Dipole 24.sem dan tekan open
12. Ganti electrode spacing menjadi 2
13. Kemudian pilih seguence start dan tunggu beberapa saat (terdapat 112 data)
14. Setelah selesai kita bisa melihat datanya menjadi 2d dengan memilih pseudosecrtion
15. Jika sudah klik save dan pilih tempat untuk menyimpan file, dan beri format DAT.
5.4 Langkah Pengolahan Data Pengujian Geolistrik 2D
1. Siapkan file data hasil geolistrik dan buat salinan dari hasil data tersebut
2. Buka file dengan menggunakan notepad dan ganti elevasi sesuai dengaan kondisi di lapangan
3. Buka aplikasi
Res2dinv, klik file, read file, dan klik ok
4. Kemudian, klik Inversion >> Carry out inversion
5. Setelah muncul tampilan seperti ini, beri nama file dan simpan
6. Klik Display >> Show Inversion Result
7. Pilih Display Section lalu pilih include topography in model display
8. Lihat nilai eror jika nilai error terlalu tinggi, klik Edit data dan klik RMS error statistic
9. klik garis berwarna hijau dengan menekan tombol panah kiri pada keyboard
10, Geser garis hijau jangan terlalu banyak karena mempengaruhi nilainya, jika sudah kllik save dengan format dat.
11. Jika sudah save dalam format jpeg.
5.5 Hasil dan Pembahasan Pengolahan Data Geolistrik
UJi Geolistrik merupakan salah satu metode yang penting dalam dalam bidang keilmuan geofisika, dimana keadaan bawah permukaan tanah dapat diketahui menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan dengan cara mengalirkan arus listrik DC (Direct Current) yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah.
Injeksi arus listrik ini menggunakan dua buah elektroda arus A dan B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak tertentu. Semakin panjang AB maka aliran arus listrik dapat menembus lapisan batuan lebih dalam. Sedangkan dua buah elektroda potensial yang berada di dalam konfigurasi digunakan untuk mengukur beda potensialnya. Beberapa sifat kelistrikan adalah resistivitas, konduktivitas, dan lainnya.
Dalam pengolahan praktikum geolistrik kami menggunakan software Res2dinv agar didapatkan model 2d dari hasil pengukuran di lapangan. Software Res2dinv merupakan salah satu aplikasi yang tingkat kesulitannya tergolong cukup rendah dan mudah. Dalam geolistrik memiliki banyak konfigurasi seperti konfigurasi Schlumberger, Dipole-dipole, Pole-pole, Wenner, Gradient, dan Multipole. Berdasarkan hasil pengujian dan hasil pengambilan data di Kampus 1 Politeknik Pekerjaan Umum didapat konfigurasi dipole-dipole dan Schlumburger.
Jobsheet Geolistrik di Lapangan ID :
Lokasi Uji : Kampus 1 Politeknik PU, Tembalang Konfigurasi : 2
Jumlah Elektroda : 24
Nama Elektroda Jarak dengan elektroda sebelumnya
Elevasi
1 2 0.00
2 2 0.00
3 2 1.50
4 2 3.50
5 2 3.50
6 2 3.50
7 2 3.50
8 2 3.50
9 2 3.50
10 2 3.50
11 2 3.50
12 2 3.50
13 2 3.50
14 2 3.50
15 2 3.50
16 2 3.50
17 2 3.50
18 2 3.50
19 2 3.50
20 2 3.50
21 2 3.50
22 2 3.50
23 2 3.50
24 2 3.50
Data Pengolahan dipole-dipole
Berdasarkan hasil inversi dengan software Res2dinv didapatkan profil penampang 2D yang menunjukkan kedalaman dan sebaran resistivitas semu nya.
Penampang resistivitas hasil inversi memberikan nilai RMS eror saat diiterasi didapatkan 14.0%. Pada lapangan voli dalam wilayan Kampus 1 Politeknik Pekerjaan Umum Semarang hingga kedalaman ±6 meter di dominasi oleh warna biru hingga hijau yang memiliki nilai resisivitas 12.0 - 68.6 ohm sedangkan pada kedalaman ±6-12 meter didominasi oleh warna kuning hingga merah yang memiliki nilai resivitas186 – 254 ohm. Adapun untuk mengetahui jenis batuan di setiap lapisan kami mencari referensi sebagai berikut :
1. Nilai tahanan jenis yang berkisar 12.0 - 60.0 dinterpretasikan sebagai lapisan lempung hingga pasir.
2. Nilai tahanan jenis yang berkisar 60.0 - 165 diinterpratsiikan sebagai lapisan lanau hingga pasir.
3. NIlai tahanan jenis yang berkisar 165-300 diinterpretasikan sebagai lapisan batuan dasar berkekar terisi tananh lembab
Dapat diketahui bahwa konfigurasi Dipole dipole dapat mengidentifikasi 3 tanah yang didominasi oleh tanah lempung.
BAB 6 PENGUJIAN DAYA DUKUNG LANGSUNG
6.1 Denah Pengujian TVA dan Proving Penetrometer6.2 Langkah Kerja Pengujian TVA dan Hasil Uji
6.2.1 Langkah Kerja Pengujian TVA
1. Menentukan titik untuk dilakukan pengujian TVA
2. Berdirikan alat tegak lurus dan kedua tangan memegang alat bersiap menekan alat.
3. Tusuk dan tekan alat TVA ke dalam tanah secara bertahap tiap 3 cm.
4. Baca arloji pada TVA pada saat alat ditekan kebawah dengan maksimal
5. Jika kedalaman alat tidak melewati konus dihitung surface
6. Catat hasil pembacaat manometer pada alat TVA
6.2.2 Hasil Uji
Tabel 6.2 hasil pengujian TVA Kedalaman
(cm) Beban (kg)
Luas Penampan
g (cm²)
Beban Penetrasi
(kg/cm²) Keterangan No
1 3 6 9 3 12 19 2.9804 8.941 35.765 56.628 2 3 6 9 13 28 37 2.9804 38.745 83.451 110.27 3 3 6 9 18 20 23 2.9804 53.647 59.608 68.549 4 3 6 9 11 15 20 2.9804 32.784 44.706 59.608 5 3 6 9 4 11 15 2.9804 11.922 32.784 44.706 6.3 Langkah Kerja Pengujian Proving Penetrometer dan Hasil Uji
6.3.1 Langkah Kerja Pengujian Proving Penetrometer
1. Menentukan titik untuk dilakukan pengujian proving ring
2. Berdirikan alat tegak lurus dan tekan alat proving ring ke dalam tanah secara bertahap tiap 5 cm.
3. Baca arloji pada TVA pada saat alat ditekan kebawah dengan maksimal
4. Baca arloji pada alat proving ring pada saat alat ditekan kebawah dengan maksimal dan catat hasil pembacaan arloji proving ring.
Tabel 6.4 hasil uji proving penetrometer
NO. Kedalaman (cm) Beban Peneterasi (kg/cm²)
Kalibrasi
(kgf) Beban (kg)
Luas Penampang
Conus Penekan
(cm²)
5 10 15 5 10 15 5 10 15
1 5 10 15 92 0 0 0.5265 48.44 0.00 0.00 2.980
2 5 10 15 130 0 0 0.5265 68.45 0.00 0.00 2.980
3 5 10 15 85 0 0 0.5265 44.75 0.00 0.00 2.980
4 5 10 15 140 0 0 0.5265 73.71 0.00 0.00 2.980
5 5 10 15 55 110 0 0.5265 28.96 57.92 0.00 2.980
Tekanan (kg/cm²) Tekanan (kpa) f x 98 CBR Tekanan / 68.6
5 10 15 5 10 15 5 10 15
144.35 0.00 0.00 14145.83 0.00 0.00 206.21 0.00 0.00 203.97 0.00 0.00 19988.68 0.00 0.00 291.38 0.00 0.00 133.36 0.00 0.00 13069.52 0.00 0.00 190.52 0.00 0.00 219.66 0.00 0.00 21526.27 0.00 0.00 313.79 0.00 0.00 86.29 172.59 0.00 8456.75 16913.50 0.00 123.28 246.55 0.00
BAB 7 PEMBAHASAN
7.1 Denah Lokasi Semua Pengujian7.2 Perhitungan Stabilitas Lereng
7.2.1 Langkah Perhitungan Stabuilitas Lereng 1. Buka software Slope stability,
2. Pilih menu setting lalu klik setting administator.
3. Kemudian klik ”Select Setting" kemudian memilih standard yang digunakan dalam analisis, untuk kasus ini mengunakan “ Standard- Safety Factor”.
4. Kemudian klik “Edit” lalu menentukan kategori aman, untuk stabilitas lereng kali ini SF untuk “Permanent design situation” 1,5. Nilai transient 1,0. Nilai accdidental 1,1. Nilai seismic 1,1.
5. Cek “Method of Analysis” cek list yang biasanya dipakai.
6. Lalu klik menu “Interfarences”, klik “File” kemudian “Import” dan klik
“CAD File Into Interface”.
7. Pilih file yang akan diimport, lalu pastikan dimension unit sesuai dengan yang ada di file yang diimport, lalu klik “Yes”.
8. Interface akan otomatis terinput.
9. Klik menu “Soil” lalu klik “Add” kemudian isi data properties tanah sesuai hasil uji lab.
10. Kemudia klik “Assign”, kemudian masukan sesuai dengan data tanah yang dibuat.
11. Selanjutnya pergi ke menu “Analysis”, dan klik “Input Grapically”
12. Tarik garis krusos antara 2 permukaan maka akan membentuk garis lengkung.
13. Lalu mulai analis mengunakan metode Bishop dan analysis type Standard dan Optimization.
7.3 Perhitungan dan Desain Dinding Penahan Tanah
7.3.1 Langkah Perhitungan Dinding Penahan Tanah 1. Buka software Gravity Wall di Geo5,
2. Pilih “Setting”, lalu masuk ke “Setting Administrator”, pastikan standard yang akan digunakan sudah cek list,
3. Pilih “Select Setting”, pilih “Standard-safety factors” klik ok,
4. Pilih “Edit”, kemudian “setting materials and standards dan Wall analysis”,
5. Kemudian pilih “Slope Stability”,
6. Lalu klik “Methods of analysis”, pastikan metode-metode yang umum digunakan sudah cek list,
7. Setelah setting “Slope Stability” selesai kemudain lakukan setting “Spread Footing”,
8. Kemudain Setting untuk tabs “Pile”,
9. Lakukan juga setting pada “Pile CPT”,
10. Kemudian setting “Pile group”,
11. Setelah setting semua selesai langkah selanjutnya adalah memastika “Consider minimum preasure” sudah cek list,
12. Pilih menu “Geometry”, kemudian pilih bentuk DPT lalu masukan dimensinya
13. Kemudian pilih “Material”, material structure ganti dengan stone masonry dan tentukan strenght dari materialnya,
14. Pilih “Profile”, klik “Add” lalu masukan kedalaman lapisan,
15. Pilih menu “Soil” kemudian klik “add” untuk memasukan properties tanah setiap lapisan yang ada,
16. Kemudian masuk ke menu “Assign” untuk mencocokan antara profil dan jenis tanah yang dijumpai di lapangan,
17. Lalu pilih “Fondation” pilih “Soil from geological profile”,
18. Pilih menu “Backfill” pilih material timbunan di belakang dinding dan sudut timbunan terhadap tanah eksisting,
19. Kemudian ke menu “Terrain” lalu pilih terrain sesuai kondisi lapangan,
20. Pilih menu “Water”, kemudian sesuaikanjika memang ada muka air tanah dari hasil penelidikan lapangan,
21. Selanjutnya pilih “Surcharge” untuk memasukan parameter beban yang bekerja di belakang dinding (jika ada),
22. Pilih menu “FF Resistence” untuk memasukan parameter perlawanan tanah pasif (jika ada),
23. Pilih menu “Stage Setting”,
24. Pilih menu “Verivication” untuk melakukan analysis,kemudian klik “in detail”
untuk mengetahui FK yang ada,
25.
26.
27.
7.4 Hasil Perhitungan Dinding Penahan Tanah
BAB 8 PENUTUP
8.1 Kesimpulan 28. Bor Geoteknik 29. Sondir
30. Kadar Air 31. Berat Volume 32. Berat Jenis
33. Uji Geser Triaxial UU 34. Daya Dukung Langsung
35. Nilai Safety Factor yang didapat 8.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN