• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPSUS EKLAMPSIA

N/A
N/A
Sal

Academic year: 2024

Membagikan "LAPSUS EKLAMPSIA"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

BAGIAN ILMU OBSTETRI & GINEKOLOGI LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN APRIL 2024

UNIVERSITAS HALU OLEO

EKLAMPSIA

Oleh:

Salwa Rafh Wahwa, S.Ked K1B1 22 146

Pembimbing:

dr. Indra Magda Tiara, M.Kes., Sp.OG., Subsp. KFM

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU OBSTETRI & GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

2024

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Salwa Rafh Wahwa, S.Ked

Nim : K1B1 22 146

Judul laporan kasus : Eklampsia

Telah menyelesaikan Laporan Kasus dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo

Kendari, April 2024 Mengetahui,

Pembimbing

dr. Indra Magda Tiara, M.Kes., Sp.OG., Subsp. KFM

(3)

BAB I STATUS PASIEN A. IDENTITAS

Nama : Ny. RN

Tanggal Lahir : 15 Juni 1998

Umur : 25 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Tobori, Poleang Utara

Agama : Islam

Pekerjaan : IRT

Pendidikan : SMA

Status : Menikah

Tanggal masuk : 18 Maret 2024 No. Rekam Medik : 06 46 xx

B. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama

Kejang 3 kali sejak 4 jam SMRS 2. Anamnesis Terpimpin

Pasien rujukan dari PKM Lambandia dengan keluhan kejang pukul 15.30 dengan durasi 15 menit, setelah kejang pasien tidak sadar dan keluar busa dari mulut. Pasien langsung dibawa ke puskesmas lambandia, dan saat di Puskesmas pasien mengalami kejang dengan durasi 3 menit.

(4)

Kemudian saat perjalanan ke RS pasien mengalami kejang dengan durasi 5 menit.

Keluhan lain: keluar lendir dari jalan lahir (+), darah (-), air-air (-).

Nyeri perut tembus belakang (-), pusing dan nyeri kepala (+) sejak 3 hari SMRS dan memberat 1 hari SMRS, nyeri ulu hati (+) 1 hari SMRS, penglihatan kabur (-). Kaki bengkak (+) 1 minggu SMRS. BAB dan BAK dalam batas normal.

3. Riwayat Penyakit Sebelumnya

Hipertensi (-), epilepsi (-), diabetes melitus (-) asma (-) 4. Riwayat Alergi

Obat (-), Makanan (-)

5. Riwayat Penyakit Keluarga

a. Hipertensi (+) ayah pasien, DM (-), Asma (-) b. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-) 6. Riwayat Pengobatan

Saat di Puskesmas diberikan IVFD RL 28 tpm, Inj. MgSO4 40% 10 cc (IV) jam 18.07 WITA, Inj. MgSO4 2,5 cc (IV) jam 18.22 WITA, Nifedipin 10 mg Sublingual jam 18.30 WITA.

7. Riwayat Operasi Tidak ada

8. Riwayat Psikososial Merokok (-), Alkohol (-) 9. Riwayat Haid

(5)

Menarche umur 14 tahun, siklus haid 28-30 hari, lama haid 4-6 hari dengan 2-3 kali ganti pembalut/hari. HPHT: 29/07/2023.

10. Riwayat Perkawinan

Pernikahan sejak tahun 2023 dan merupakan pernikahan pertama 11. Riwayat KB

Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan kontrasepsi 12. Riwayat ANC

Riwayat ANC 2 kali di Posyandu, Riwayat USG (-) 13. Riwayat Obstetrik

G1P0A0

C. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan Umum a. Sakit berat

b. Kesadaran apatis GCS E4M6V5

2. TandaVital

a. Tekanan Darah : 200/140 mmHg b. Frekuensi Nadi : 82 x/m

c. Frekuensi Nafas : 22 x/m d. Suhu : 37,1 oC 3. Status Gizi

BB : 62 kg TB : 155 cm

IMT : 25 kg/m2 (Overweight)

(6)

4. Status Generalisata

a. Kepala : Normocephal

b. Mata : Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-), pupil isokor (+/+) c. Hidung : Septum deviasi (-/-), sekret (-/-)

d. Telinga : Liang telinga lapang, serumen (-/-) e. Mulut : Bibir pucat (-), Sianosis (-), stomatitis (-) f. Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-) g. Thorax

1) Paru

a) Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris b) Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris c) Perkusi : Sonor pada ke 2 lapang paru

d) Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-) 2) Jantung

a) Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat b) Palpasi : Ictus cordis teraba,Trill (-) c) Perkusi :

Batas atas = ICS III linea parasternalis sinistra Batas kanan = ICS IV linea parasternalis dextra Batas kiri = ICS V linea midclavicularis sinistra d) Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II reguler, murmur (-) h. Abdomen

1) Inpeksi : Cembung, ikut gerak napas (+)

(7)

2) Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal.

3) Palpasi : Nyeri tekan (-) 4) Perkusi : Timpani (+) i. Ekstremitas

1) Atas : turgor kulit baik, udem (-/-), akral hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik

2) Bawah : turgor kulit baik, udem (+/+), akral hangat, sianosis (-), CRT < 2 detik

D. PEMERIKSAAN OBSTETRI 1. Pemeriksaan Luar

a. L1: 4 jari dibawah proc. Xyphoidues b. L2: Punggung disebelah kanan c. Bagian terbawah kepala d. Belumvmasuk PAP e. His

f. TFU g. LP h. TBJ

2. Pemeriksaan Dalam Tidak dilakukan

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 1. Darah Rutin (19/03/2024)

(8)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

WBC 21.2 4.0 - 10.0 103/µL

RBC 4.54 4.0 - 6.0 106/µL

HB 14.2 12 – 16 g/dL

HCT 39.7 37 – 48 %

PLT 142 150 – 450 103/µL

Tabel 2. Kimia Darah (19/03/2024)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

GDS 131 < 200 mg/dl

CT 7’44’’ 1.00 - 9.00 menit

BT 2’56’’ 1.00 - 3.00 menit

Tabel 3. Imunoserologi (19/3/2024)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

HbsAg Kualitatif Non Reaktif Non Reaktif

HIV Non Reaktif Non Reaktif

Tabel 4. Urin Rutin (19/3/2024)

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan Makroskopis:

Warna

Dark

yellow Kuning

Glukosa urine Negatif Negatif mg/dL

Protein urine 300 Negatif mg/dL

Bilirubin Positif 1+ Negatif mg/dL

Urobilinogen 0.2 Normal (<1.0)

pH 6.0 4.5-8.0

Berat jenis 1.030 1.000-1.030

Eritrosit Positif 4+ Negatif mg/dL

Keton Negatif Negatif mg/dL

Nitrit Negatif Negatif

Leukosit Negatif Negatif Leu/uL

F. RESUME.

Pasien Ny. RN, 25 tahun rujukan dari PKM Lambandia dengan keluhan kejang pukul 15.30 dengan durasi 15 menit, setelah kejang pasien tidak sadar dan keluar busa dari mulut. Pasien langsung dibawa ke puskesmas lambandia, dan saat di Puskesmas pasien mengalami kejang dengan durasi 3 menit.

(9)

Kemudian saat perjalanan ke RS pasien mengalami kejang dengan durasi 5 menit. Keluhan lain: keluar lendir dari jalan lahir (+), pusing dan nyeri kepala (+) sejak 3 hari SMRS dan memberat 1 hari SMRS, nyeri ulu hati (+) sejak 1 hari SMRS, kaki bengkak (+) sejak 1 minggu SMRS.

Riwayat penyakit sebelumnya tidak ada. Riwayat alergi obat dan makanan (-). Riwayat penyakit dalam keluarga: Hipertensi (+) ayah pasien.

Riwayat pengobatan: di Puskesmas diberikan . Riwayat Operasi (-). Riwayat merokok dan alkohol (-). Menarche umur 14 tahun, lama haid 4-6 hari dengan 2-3 kali ganti pembalut. HPHT: 29/07/2023. Riwayat ANC 2x di Posyandu, Riwayat USG (-) Riwayat KB (-). Riwayat Obstetrik G1P0A0

Kondisi umum Ibu sakit berat dan kesadaran apatis GCS , pemeriksaan tanda vital tekanan darah 200/140 mmHg, Nadi 82 x/m, pernapasan 20x/m, suhu 36,6oC. Pemeriksaan fisis umum didapatkan edema pada tungkai bawah.

Pemeriksaan penunjang didapatkan leukosit meningkat, protein urine 300 mg/dL

G. DIAGNOSA KERJA

 G1P0A0 gravid 36 minggu + Eklampsia H. TERAPI

1. Observasi KU dan TTV 2. CITO SC

3. Farmakologi:

a. IVFD RL 20 tpm

(10)

b. Inj. Asam Tranexamat 500mg/8 jam c. Inj. Ceftriaxone 2 gr/12 jam

d. Oxytocin

e. Ketorolac 30mg/8 jam/IV f. Ranitidin 50mg/12 jam/IV g. MgSO4

I. DOKUMENTASI

Gambar 2. Dokumentasi operasi J. OBSERVASI PASIEN

Hari /

Tanggal Perjalanan Penyakit Rencana Terapi Senin, 01

Januari 2024

S : Nyeri perut bawah tembus ke belakang

O : KU baik, Composmentis TD : 120/80 mmHg N : 82 x/m

P : 20 x/m S : 36,6 oC

Pemeriksaan fisis: Teraba massa dan Nyeri tekan di regio LLQ

-Observasi KU dan TTV -Cek lab

Planning :

-IVFD RL 20 tpm -Inj. Ketorolac 1

amp/8J/IV -Inj. Ranitidine 1

amp/12J/IV

-Siapkan PRC 2 Zack -Rencana laparotomi,

(11)

A : Kista Ovarium sinistra Selasa, 02/01/2024 -Informed consent pasien

dan keluarga Selasa, 02

Januari 2024

Tindakan Salpingo- oophorectomy 1. Persiapan operasi

2. Pasien dibaringkan di meja operasi dengan posisi supine 3. Spinal Anastesi

4. Asepsis dan antisepsis 5. Insisi midline

6. Kista ovarium ukuran 7 cm SO kiri

7. Jahit dinding abdomen lapis demi lapis

Operasi selesai

Planning : Instruksi pre op

- Pasang kateter urin - IVFD RL 20 tpm - Ondansentrone 1

amp/IV

- Ranitidine 1 amp/IV - Dexamethasone 1

amp/IV

Instruksi post op - Inj. Cefotaxime 1

gr/12J/IV

- Inj. Asam tranexamat 1 amp/8J/IV

-Inj. Ketorolac 1 amp/8J/IV Rabu, 03

Januari 2023

S : Nyeri luka bekas operasi O : KU baik, Composmentis

TD : 110/70 mmHg N : 73 x/m

P : 20 x/m S : 36,5 oC Verban : Kering

Pemeriksaan fisis dbn

BAB belum, BAK Kateter (+) (Urine bag 600cc)

A : Post Op H-1 Salpingo- oophorectomy Sinistra

Planning :

-Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien

-Inj. Cefotaxime 1 gr/12J/IV

-Asam mefenamat tab 500 mg 3 x 1 PO

Kamis, 04 Januari 2024

S : Nyeri luka bekas operasi berkurang

O : KU baik, Composmentis TD : 100/60 mmHg N : 76 x/m

P : 21 x/m

Planning :

-Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien

-Asam mefenamat tab 500 mg 3 x 1 PO

(12)

S : 36,5 oC Verban : Kering

Pemeriksaan fisis dbn BAB (+), BAK dbn

A : Post Op H-2 Salpingo- oophorectomy Sinistra

-Sulfas Ferosus tab 1 x 1 PO

-Aff Infus -Aff Kateter -Boleh pulang

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi

Eklampsia merupakan kasus dimana penderita preeklampsia mengalami kejang dan/atau koma, dimana kejang yang ditimbulkan tidak disebabkan oleh kemungkinan penyakit atau kondisi lain. Kejang bersifat generalisata dan dapat timbul sebelum, selama dan setelah persalinan. Pada penderita yang akan mengalami kejang umumnya ditemukan gejala-gejala subjektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan penglihatan, muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan darah. Tanda-tanda prodorma ini disebut sebagai impending eclampsia.1

(World Health Organization. 2013. Buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. 1st ed.

Jakarta: WHO Indonesia.)

Eklampsia merupakan komplikasi atau perburukan dari preeklampsia yang terjadi pada kehamilan dan dihubungkan dengan morbiditas dan mortalitas baik pada ibu maupun janin jika tidak terdiagnosa dengan benar.

Preeklampsia dan eklampsia merupakan bagian dari empat kategori hipertensi dalam kehamilan. Kategori lainnya adalah hipertensi kronik, hipertensi gestational, serta superimposed preeklampsia pada hipertensi kronik.

(Magley M, Hinson MR. Eclampsia. 2023 Jan 30. In:

StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan–. PMID: 32119279.)

(14)

Preeklampsia merupakan kondisi spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan adanya disfungsi plasenta dan respon maternal terhadap adanya inflamasi sistemik dengan aktivasi endotel dan koagulasi. Diagnosis preeklampsia ditegakkan berdasarkan adanya hipertensi spesifik yang disebabkan kehamilan disertai dengan gangguan sistem organ lainnya pada usia kehamilan diatas 20 minggu. Preeklampsia, sebelumya selalu didefinisikan dengan adanya hipertensi dan proteinuri yang baru terjadi pada kehamilan (new onset hypertension with proteinuria). Meskipun kedua kriteria ini masih menjadi definisi klasik preeklampsia, beberapa wanita lain menunjukkan adanya hipertensi disertai gangguan multsistem lain yang menunjukkan adanya kondisi berat dari preeklampsia meskipun pasien tersebut tidak mengalami proteinuri. Sedangkan, untuk edema tidak lagi dipakai sebagai kriteria diagnostik karena sangat banyak ditemukan pada wanita dengan kehamilan normal.

(POGI. PNPK Diagnosis dan Tatalaksana Preeklampsia.

2016;1–48.) B. Epidemiologi

Hipertensi dalam kehamilan, termasuk hipertensi kronis, hipertensi gestasional, preeklamsia, eklampsia, dan superimposed preeklampsia, mempengaruhi sebanyak 10% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia.

(Sutton ALM, Harper LM, Tita ATN. Hypertensive Disorders in Pregnancy. Obstet Gynecol Clin North Am. 2018 Jun;45(2):333-347.)

(15)

Secara pasti angka kejadian endometriosis sulit diketahui, namun diduga berkisar antara 2−10% pada populasi perempuan umum. Penentuan secara kuantitas kejadian endometriosis sulit, hal ini disebabkan beberapa faktor, yaitu didapatkan endometriosis yang asimtomatis. Telah dilaporkan angka kejadian endometriosis per tahun berdasarkan penggunaan tindakan pembedahan, yaitu 1,6 kasus per 1000 perempuan usia 15−49 tahun. Kejadian endometriosis pada perempuan dengan keluhan dismenorea (nyeri haid) adalah 40−80%, sedangkan pada perempuan dengan infertilitas sekitar 20−50%.2

WHO-Reproductive Health Library (2014) mencatat bahwa angka kejadian endometriosis dengan manifestasi klinis infertilitas adalah sekitar 10

%. Pada tahun 2012, Practice Committee of The American Society For Reproductive Medicine (ASRM) melaporkan bahwa kejadian endometriosis pada winita infertil adalah lebih dari 50 %. Menyatakan bahwa wanita dengan endometriosis hampir 30-50% mempunyai kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Di Indonesia sendiri didapatkan angka kejadian endometriosis dengan manifestisi klinis infertilitas adalah sekitar 20 – 60 %.3

Endometriosis paling sering ditemukan pada wanita yang melahirkan di atas usia 30 tahun disertai dengan gejala menoragia dan dismenore yang progresif. Pada studi yang dilakukan RSUD dr. Soetomo Surabaya didapatkan bahwa rentang usia wanita yang terbanyak menderita endometriosis yaitu usia 30-39 tahun (39,2%). sedangkan penelitian yang dilakukan di RSUP Prof. Dr.

(16)

R. D. Kandou Manado rentang usia 36-45 tahun adalah yang terbanyak yaitu 50%.4

C. Etiologi

Etiologi pasti dari eklamsia saat ini masih belum diketahui secara pasti. Etiologi yang paling mungkin adalah karena adanya peningkatan permeabilitas dari blood- brain barrier selama preeklamsia, yang menyebabkan perubahan aliran darah serebral akibat autoregulasi yang kurang baik (Magley dan Hinson, 2023).

Preeklamsia onset dini dikaitkan dengan defek plasentasi, sedangkan preeklamsia onset lambat dikaitkan dengan ketidaksesuaian antara perfusi ibu dan kebutuhan fetoplasenta, bersama dengan predisposisi ibu terhadap penyakit kardiovaskular.

Beberapa etiologi yang berperan antara lain disfungsi sel endotel, peradangan intravaskular, stres sinsitiotrofoblas, serta infeksi maternal seperti penyakit periodontal dan infeksi SARS-CoV-2 (Jung, 2021).

D. Tanda dan Gejala

Menurut ACOG (2020), diagnosis preeklamsia berat ditegakkan berdasarkan nilai tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg pada dua kali pengukuran dengan rentang waktu pengukuran minimal 4 jam serta disertai salah satu kriteria berikut :

1) Trombositopenia: Jumlah trombosit kurang dari 100.000 x 109 /L

2) Gangguan fungsi hati yang tidak dapat diperhitungkan sebagai diagnosis lain dan seperti ditunjukan dengan peningkatan konsentrasi enzim hati

(17)

(lebih dari dua kali dari konsentrasi normal) atau nyeri epigastrik atau kuadran kanan atas yang tidak berespon terhadap obat-obatan

3) Insufisiensi ginjal: Konsentrasi kreatinin serum lebih dari 1,1 mg/dL atau dua kali lipat konsentrasi kreatinin serum tanpa adanya penyakit ginjal lainnya.

4) Edema paru

5) Sakit kepala dengan onset baru tidak responsif terhadap pengobatan dan tidak didiagnosis penyakit lainnya

6) Gangguan visual atau serebral onset baru

7) Proteinuria, dapat dengan kadar protein urin pada pengambilan urin 24 jam

>300 mg, atau rasio protein : kreatinin urin 0,3, atau tes dipstick ≥ +2 E. Patofisiologi

Preeklampsia berkembang dalam 2 tahap yaitu; (1) tahap pertama, abnormal plasentasi yang terjadi pada awal trimester I, diikuti oleh; (2) sindrom maternal (kumpulan gejala) pada trimester II dan III, yang ditandai dengan faktor antiangiogenik yang berlebih.

1) Tahap 1 : Disfungsi Plasenta

Mekanisme tahap pertama (plasentasi abnormal) masih sangat kontroversial. Sejumlah teori telah diajukan untuk menjelaskan proses terjadinya disfungsi plasenta (Rana, dkk., 2019). Teori-teori tersebut antara lain adalah :

a) Teori Abnormal Plasentasi

(18)

Preeklampsia pada dasarnya adalah penyakit yang terkait dengan plasenta.

Secara fisiologi, rahim mendapat vaskularisasi dari cabang arteri uterina dan arteri ovarika. Kedua arteri ini kemudian menembus myometrium berupa arteri arkuata. Arteri arkuata akan memberikan cabang arteri radialis yang menembusi endometrium menjadi arteri basalis. Arteri basalis kemudian akan memberikan cabang menjadi arteri spiralis (Prawihardjo, 2016).

Pada kehamilan normal, trofoblas melakukan invasi ke dalam lapisan otot arteri spiralis, kemudian mengalami remodeling, sehingga arteri spiralis berubah dari arteri yang kecil, berotot, dan memiliki resistensi tinggi menjadi arteri yang lebih besar dengan kapasitas tinggi dan aliran darah yang lebih bebas. Hal ini memungkinkan aliran darah utero plasenta meningkat karena arteri dapat mengakomodasi peningkatan aliran darah secara independenuntuk memberi makan janin yang sedang berkembang. Selain itu juga tekanan darah menjadi turun. Serangkaian proses ini dikenal dengan istilah “remodeling arteri spiralis”. Proses ini biasanya dimulai pada akhir trimester pertama dan selesai pada usia kehamilan 18-20 minggu (Phipps, dkk., 2016; Prawihardjo, 2016;

Khalil dan Hameed, 2017).

Kegagalan proses remodelling arteri spiralis ini mengakibatkan resistensi arteri spiralis tetap tinggi. Lapisan otot arteri spiralis tetap dalam keadaan kaku dan keras. Kemampuan untuk vasodilatasi terbatas, sehingga menghalangi perfusi plasenta, dan menyebabkan hipoksia. Selanjutnya terjadi pelepasan bahan antiangiogenik, yang pada keadaan lebih lanjut mengakibatkan disfungsi

(19)

sel endotel sistemik pada ibu. Disfungi sel endotel ini mengakibatkan terjadinya kerusakan multiorgan (Khalil dan Hameed, 2017).

Gambar 2: Invasi trofoblas pada preeklampsia

b) Teori Imunologi

Teori ini berkaitan dengan paparan antigen paternal/janin yang dianggap asing oleh tubuh ibu. Dugaan ini terlihat dari beberapa bukti diantaranya (Prawihardjo, 2016; Khalil dan Hameed, 2017) :

(20)

Pada kehamilan normal, imun tubuh ibu tidak menolak adanya hasil konsepsi yang notabenenya adalah benda asing. Hal ini karena terdapat Human Leukocyte antigen protein G (HLA-G). Peran HLA-G ini adalah mengendalikan respon imun tubuh agar tidak menolak hasil konsepsi, dengan cara melindungi trofoblas janin dari sel Natural Killer (NK) dari proses lisis.

Selain itu, HLA-G ini juga berperan dalam proses invasi trofoblas ke jaringan desidua. Terjadinya preeklampsia diduga karena terjadi penurunan ekspresi dari HLA-G (Prawihardjo, 2016).

Referensi lain menjelaskan bahwa implantasi plasenta ditentukan oleh proses interaksi antara antigen trofoblas ekstra vili dan sel Natural Killer uterus (uNK). Tidak seperti NK perifer, uNK tidak bersifat sitotoksik. Sebaliknya, dalam desidua, sel-sel UNK mengatur kedalaman plasentasi, pembentukan kembali arteri spiralis, dan invasi trofoblas. Pada preeklampsia terdapat kelainan implantasi plasenta yang diduga karena aktivitas sel NK yang meningkat. Hal ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah (Khalil dan Hameed, 2017; Rana dkk., 2019).

(21)

Gambar : HLA-G Pada Kehamilan

c) Teori Inflamasi

Bagian permukaan plasenta janin dan maternal dibentuk oleh syncytium dari syncytiotrophoblasts multinukleat, yang merupakan hasil dari fusi sitotrofoblas mononukleat. Telah diketahui selama >100 tahun bahwa fragmen trofoblas multinukleat tersebut terlepas dari permukaan plasenta dan memasuki sirkulasi maternal pada preeklampsia, fragmen trofoblas yang terlepas tersebut disebut debris trofoblas. Hal ini sebenarnya terjadi pada kehamilan normal tetapi pada tingkat yang jauh lebih rendah. Apoptosis dan nekrotik mungkin

(22)

dan nektorik yang terjadi pada trofoblas tersebut akibat reaksi stress oksidatif.

Debris ini dianggap sebagai benda asing tubuh yang dapat menginduksi terjadinya reaksi inflamasi. Pada kehamilan normal jumlah debris ini ada dalam batas yang wajar, sehingga reaksi inflamasi yang terjadi berada dalam batas wajar pula (Dechend dan Staff, 2012).

Pada kondisi preeklampsia, terjadi peningkatan stress oksidatif, sehingga produksi debris apoptosis juga meningkat. Akibatnya, reaksi inflamasi yang terjadi juga jauh lebih berat dibandingkan dengan kehamilan normal. Respon inflamasi ini akan menyebabkan disfungsi endotel (Prawihardjo, 2016).

Debris Trofoblas

Disfungsi endotel yang terjadi, akan kembali memperberat respon inflamasi, dan merangsang sekresi berbagai sitokin proinflamasi dan anti inflamasi. Beberapa sitokin seperti interleukin-6 (IL-6), tumor nekrosis faktor- α (TNF-α), IL-10 dianggap memiliki peran utama dalam eklampsia. Pada kondisi preeklampsia, terjadi peningkatan IL-6. Sebagai sitokin pro-inflamasi, IL-6 mempengaruhi fungsi pembuluh darah, salah satunya adalah dapat

(23)

meningkatkan resistensi pembuluh darah, sehingga memperberat kondisi hipertensi. Sedangkan defisiensi IL-10 sebagai faktor anti inflamasi dan peningkatan ekspresi TNF-α pada plasenta dan desidua banyak ditemukan pada kasus preeklampsia dibandingkan dengan kehamilan normal. Namun, tidak ada perbedaan tingkat IL10 yang ditemukan berdasarkan tingkat keparahan preeklampsia. Beberapa penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio IL-6: IL-10 pada preeklampsia dibandingkan dengan kehamilan normal. Semakin tinggi rasio IL-6: IL-10, semakin tinggi pula tingkat keparahan penyakit (Setiawati, 2020).

d) Teori Genetik

Faktor genetik dianggap berperan dalam preeklampsia. Wanita hamil yang memiliki riwayat keluarga preeklampsia memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak memiliki riwayat keluarga preeklampsia (Prawihardjo, 2016).

Sebuah studi menunjukkan bahwa desidualisasi uterus yang buruk mempengaruhi perkembangan preeklampsia. Desidualisasi yang buruk tersebut menunjukkan adanya kelainan genetik dasar atau modifikasi genetik. Sel desidua yang rusak mungkin merupakan kontributor penting untuk invasi sitotrofoblas downregulated pada preeklampsia (Rana, dkk., 2019).

Tidak ada penyebab tunggal atau varian genetik khusus yang akan menjelaskan semua kasus preeklampsia. Untuk sebagian besar populasi, bagaimanapun, preeklamsia tampaknya mewakili kelainan genetik yang sangat

(24)

kompleks, dan muncul sebagai hasil dari banyak varian umum di lokus berbeda, yang secara individual, memiliki efek kecil tetapi secara kolektif berkontribusi pada kerentanan individu terhadap preeklampsia. Eksposur lingkungan, termasuk usia dan berat badan, juga menentukan apakah varian penetran rendah ini menghasilkan fenotipik manifestasi penyakit. Meskipun tidak ada varian genetik khusus yang akan menjelaskan semua kasus preeklampsia, namun dapat dipastikan bahwa adanya gangguan genetik yang kompleks mempengaruhi sebagian besar populasi (Williams dan Pipkin, 2011).

Ujung tombak dari semua teori di atas adalah disfungsi plasenta, yang akhirnya menyebabkan hipoksia. Hipoksia merupakan pusat patogenesis dari preeklampsia. HIF (Faktor yang dapat diinduksi hipoksia) -1α dan -2α, adalah faktor penanda kekurangan oksigen seluler (hipoksia), yang diekspresikan pada plasenta wanita dengan preeklampsia. Selain itu juga disfungsi plasenta yang terjadi menyebabkan pelepasan sFLT1 (soluble fms-like tirosin kinase 1), suatu faktor antiangiogenik kuat yang diketahui berkontribusi pada sindrom maternal. Pada preeklampsia terjadi juga stress oksifatif yang diduga bersumber dari ketidakseimbangan ROS dan enzim pada tingkat molekular plasenta akibat stress mitokondria. Selain itu stress oksidatif berasal dari stres retikulum endoplasma yang disebabkan oleh cedera reperfusi iskemia.

Akibatnya, stres oksidatif ini mendorong transkripsi faktor antiangiogenik seperti sFLT1 (Rana, dkk., 2019). Perhatikan gambar di bawah ini yang memperlihatkan skema patogenesis preeklampsia. Faktor genetik, faktor imunologi, faktor maternal lainnya menyebabkan disfungsi plasenta yang pada

(25)

gilirannya menyebabkan pelepasan faktor antiangiogenik (seperti sFLT1 [soluble fms-like tyrosine kinase 1] dan sENG [soluble endoglin]) dan mediator inflamasi lainnya untuk menginduksi preeklampsia (Cerdeira dan Karumachi, 2012).

Skema Patogenesis Preeklampsia

2) Tahap 2 : Sindrom Maternal F. Faktor Risiko

Dari penelitian yang dilakukan oleh Frank dkk. (2020), berikut adalah beberapa faktor risiko preeklamsia dan eklamsia:

(26)

2. Belum menikah

3. Berat badan lebih dan obesitas 4. Hipertensi kronik

5. Anemia maternal 6. Multiparitas G. Gejala Klinis

Terdapat dua gejala klinis yang paling sering menjadi keluhan pada wanita dengan endometriosis yaitu nyeri dan infertilitas. Nyeri yang terjadi dapat berupa nyeri panggul kronis, dysmenorrhea, dyspareunia, dan dyschezia.5 Nyeri panggul kronis yang terjadi dapat berulang. Biasanya timbul 24-48 jam sebelum menstruasi dan mereda beberapa saat setelah timbul menstruasi.

Dysmenorrhea yang disebabkan oleh endometriosis tidak berhubungan langsung dengan jumlah penyakit yang terlihat. Pada wanita dengan endometriosis, kebanyakan dismenore memburuk dari hari ke hari.

Endometriosis harus menjadi pertimbangan sebagai etiologi yang mungkin terjadi pada pasien yang datang dengan dismenore yang tidak respon dengan kontrasepsi oral atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).5

Lokasi endometriosis dapat mempengaruhi keluhan yang timbul. Deep Infiltrating Endometriosis (DIE) yang berlokasi di panggul posterior dapat meningkatkan keluhan terjadinya dyschezia, sedangkan endometriosis di septum rektovagina dapat menyebabkan dyspareunia dan dyschezia. Nyeri pada dispareunia dapat bersifat tajam, seperti terbakar atau kram yang

(27)

menyebabkan otot – otot panggul cenderung menjadi kencang dan membuat rasa nyeri semakin bertambah.5

Gejala-gejala klasik pada endometriosis, antara lain:14 1. Dysmenorrhea atau nyeri haid

2. Nyeri panggul saat tidak haid

3. Dyspareunia atau nyeri saat berhubungan 4. Infertilitas

5. Lelah

6. Keluhan saluran pencernaan yang bersifat siklik: kembung, diare, atau konstipasi secara berkala

7. Dyschezia siklik, nyeri atau kesulitan untuk buang air besar 8. Disuria siklik, nyeri saat buang air kecil

9. Hematuria siklik, adanya darah pada urine 10. Perdarahan rectum siklik

Gejala siklik adalah gejala yang muncul beberapa hari sebelum wanita mengalami haid dan gejala biasanya akan hilang atau berhenti beberapa hari setelah haid berhenti. Dengan demikian, gejala hanya timbul selama siklus haid.14

Beberapa gejala juga seringkali dikeluhaka oleh wanita penderita endometriosis. Akan tetapi, masih belum dapat dipastikan apakah gejala yang dikeluhkan tersebut terkait dengan endometriosis. Beberapa gejala tersebut dapat merupakan indikasi penyakit lain atau efek samping terapi, tetapi

(28)

beberapa juga diketahui berhubungan dengan endometriosis (meskipun belum diteliti dalam studi klinis). Adapun gejala-gejala tersebut antara lain:14

1. Perdarahan haid yang sangat banyak 2. Migrain

3. Insomina

4. Nyeri punggung bagian bawah 5. Rasa nyeri yang menyebar 6. Nyeri saat ovulasi

7. Mual

Infertilitas yang terjadi pada penderita endometriosis disebabkan karena terjadinya gangguan pada lingkungan uterus sehingga perlekatan sel telur yang sudah dibuahi pada dinding uterus menjadi terganggu. Pada endometriosis yang sudah parah, terjadi perlekatan pada rongga panggul, saluran tuba, atau indung telur yang dapat menggangu transportasi embrio. Pada beberapa kasus, infertilitas dapat menjadi satu-satunya keluhan, dan endometriosis ditemukan pada saat evaluasi laparoskopi sebagai bagian dari pemeriksaan infertilitas.

Munculnya endometriosis pada pasien infertilitas asimptomatik bervariasi antara 30% dan 50%.13

H. Diagnosis

Dalam menegakkan diagnosis endometriosis didasari oleh anamnesis, pemeriksaan fisik, dan dapat melalui teknik pencitraan. Adanya nyeri perut pada wanita saat haid, disertai nyeri panggul, dan infertilitas merupakan trias klasik gejala yang digunakan untuk mendiagnosis endometriosis. Gejala lain

(29)

termasuk sakit punggung, diskezia, disuria, mual, lesu, dan kelelahan kronis dapat dikeluhkan.15

Pemeriksaan fisik ginekologi, biasanya tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan inspekulo lesi endometriosis terlihat sekitar 14,4% dan 43,1% lesi teraba pada pemeriksaan manual.15 Pemeriksaan vagina dilakukan dengan perabaan pembesaran ovarium/ endometrioma/kista di adneksa. Pemeriksaan rektal atau colok dubur mengevaluasi nodul di daerah kavum douglasi dan sakrouterina yang sering disertai rasa nyeri.11 Pada pemeriksaan juga kadang didapatkan benjolan-bejolan di kavum Douglasi, dan daerah ligamentum sakrouterina yang sangat nyeri pada penekanan. Uterus biasanya sulit digerakkan. Jika terdapat kista, di parametrium dapat teraba adanya massa kistik yang terasa nyeri bila disentuh.16

Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka selanjutnya dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan pencitraan berguna untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai panggul, dapat dilakukan USG, CT Scan, dan MRI.15

1. Ultrasonografi (USG). Pada USG dapat dilihat adanya uterus yang membesar secara difus dan gambaran penebalan dinding uterus terutama pada bagian posterior dengan fokus-fokus ekogenik, rongga endometriosis eksentrik. (Iskandar). Kista endometriosis atau endometrioma adalah kista ovarium yang terbanyak ditemukan saat operasi dan menjadi penyebab morbiditas paling banyak di bidang ginekologi. Endometrioma dideteksi

(30)

menggunakan USG transvagina dengan gambaran ground-glass, homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic.6,11

Gambar 4. Tampilan USG: Tampak endometrioma1

2. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Terlihat adanya penebalan dinding miometrium yang difus.

Gambar 5. Kista endometriosis dengan pemeriksaan MRI.11

3. Serum CA 125. Serum CA 125 merupakan tumor marker yang umum digunakan pada kanker ovarium. Pada endometriosis juga terjadi peningkatan kadar CA 125. Pemeriksaan ini memiliki sensitifitas yang rendah, karena kadar CA 125 juga meningkat pada keadaan infeksi radang panggul, mioma, dan trimester awal kehamilan. Sehingga CA 125 biasanya

(31)

hanya digunakan sebagai monitor prognostik pascaoperatif endometriosis.

Apabila kadar CA 125 tinggi berarti prognostik kekambuhannya tinggi. Bila didapati CA 125 > 65 mIU/ml praoperatif menunjukkan derajat beratnya endometriosis.13

4. Laparoskopi merupakan alat diagnostik baku emas untuk mendiagnosis endometriosis. Pada endometriosis yang tumbuh di ovarium dapat terbentuk kista yang disebut endometrioma. Biasanya isinya berwarna cokelat kehitaman sehinggga juga disebut juga kista cokelat.13

5. Pemeriksaan patologi anatomi. Pemeriksaan pasti dari lesi endometriosis yaitu didapatkan adanya kelenjar dan stroma endometrium.13

I. Penatalaksanaan

Tatalaksana yang dapat diberikan pada pasien endometriosis adalah obat- obatan, hormonal, bedah, serta kombinasi obat dan bedah. Pilihan pengobatan tergantung pada keadaan individu pasien, yang meliputi (1) gejala yang muncul dan keparahannya, (2) lokasi dan keparahan endometriosis, dan (3) keinginan untuk memiliki anak selanjutnya. Belum ada pengobatan endometriosis yang menjanjikan kesembuhan yang permanen. Penatalaksanaan medis yang dapat diberikan: 12,13,

1. Pengobatan Simtomatik. Pengobatan dengan memberikan antinyeri seperti paracetamol 500 mg 3 kali sehari, Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs (NSAID) seperti ibuprofen 400 mg tiga kali sehari, asam mefenamat 500 mg tiga kali sehari. Tramadol, parasetamol dengan codein, Gamma Amino Butiric Acid (GABA) inhibitor seperti gabapentin.

(32)

2. Kontrasepsi Oral. Penanganan terhadap endometriosis dengan pemberian pil kontrasepsi dosis rendah. Kombinasi monofasik (sekali sehari selama 6–12 bulan) merupakan pilihan pertama yang sering dilakukan untuk menimbulkan kondisi kehamilan palsu dengan timbulnya amenorea dan desidualisasi jaringan endometrium. Kombinasi pil kontrasepsi apa pun dalam dosis rendah yang mengandung 30–35 μg etinilestradiol yang digunakan secara terus-menerus bisa menjadi efektif terhadap penanganan endometriosis. Membaiknya gejala dismenorea dan. Tingkat kambuh pada tahun pertama terjadi sekitar 17 – 18%. Kontrasepsi oral merupakan pengobatan dengan biaya lebih rendah dibandingkan dengan lainnya dan bisa sangat membantu terhadap penanganan endometriosis jangka pendek, dengan potensi keuntungan yang bisa dirasakan dalam jangka panjang.

3. Progestin. Progestin memungkinkan efek antiendometriosis dengan menyebabkan desidualisasi awal pada jaringan endometrium dan diikuti dengan atrofi. Medroxyprogesterone Acetate (MPA) adalah hal yang paling sering diteliti dan sangat efektif dalam meringankan rasa nyeri. Dimulai dengan dosis 30 mg per hari dan kemudian ditingkatkan sesuai dengan respons klinis dan pola perdarahan. MPA 150 mg yang diberikan intramuskuler setiap 3 bulan, juga efektif terhadap penanganan rasa nyeri pada endometriosis. Pemberian suntikan progesterone depot seperti suntikan KB dapat membantu mengurangi gejala nyeri dan perdarahan. Efek samping progestin adalah peningkatan berat badan, perdarahan lecut, dan nausea.

Pilihan lain dengan menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)

(33)

yang mengandung progesteron, levonorgestrel dengan efek timbulnya amenorea dapat digunakan untuk pengobatan endometriosis. Strategi pengobatan lain meliputi didrogestron (20 – 30 mg perhari baik itu terus- menerus maupun pada hari ke 5 – 25) dan lynestrenol 10 mg per hari.

4. Danazol. Danazol dapat menyebabkan level androgen berada dalam jumlah yang tinggi dan estrogen dalam jumlah yang rendah sehingga menekan berkembangnya endometriosis dan timbul amenorea yang diproduksi untuk mencegah implant baru pada uterus sampai ke rongga peritoneal. Cara praktis penggunaan danazol adalah memulai perawatan dengan 400 – 800 mg per hari, dapat dimulai dengan memberikan 200 mg dua kali sehari selama 6 bulan. Dosis dapat ditingkatkan bila perlu untuk mencapai amenorea dan menghilangkan gejala-gejala. Efek samping yang paling umum adalah peningkatan berat badan, akne, hirsutisme, vaginitas atrofik, kelelahan, pengecilan payudara, gangguan emosi, peningkatan kadar LDL kolesterol, dan kolesterol total.

5. Gestrinon. Gestrinon bekerja sentral dan perifer untuk meningkatkan kadar testosterone dan mengurangi kadar Sex Hormon Binding Globuline (SHGB), menurunkan nilai serum estradiol ke tingkat folikular awal (antiestrogenik), mengurangi kadar Luteinizing Hormone (LH), dan menghalangi lonjakan LH. Amenorea sendiri terjadi pada 50 – 100%

perempuan. Gestrinon diberikan dengan dosis 2,5 – 10 mg, dua sampai tiga kali seminggu, selama enam bulan. Efek sampingnya sama dengan danazol tapi lebih jarang.

(34)

6. Gonadotropin Releasing Hormone Agonist (GnRHa). GnRHa akan menciptakan keadaan yang hipogonadotropik hipogonadisme, dimana ovarium tidak aktif sehingga tidak terjadi siklus haid. GnRHa dapat diberikan intramuskular, subkutan, intranasal. Biasanya dalam bentuk depot satu bulan ataupun depot tiga bulan. Efek samping antara lain vagina kering, kelelahan, sakit kepala, pengurangan libido, depresi, atau penurunan densitas tulang. Berbagai jenis GnRHa antara lain leuprolide, busereline, dan gosereline. Untuk mengurangi efek samping dapat disertai dengan terapi add back dengan estrogen dan progesteron alamiah. GnRHa diberikan selama 6 - 12 bulan.

7. Aromatase Inhibitor. Fungsinya menghambat perubahan androgen menjadi estrogen. Aromatase P450 banyak ditemukan pada perempuan dengan gangguan organ reproduksi seperti endometriosis, adenomiosis, dan mioma uteri.

Selain penatalaksanaan medis, dapat juga dilakukan penatalaksanaan bedah. Pembedahan pada endometriosis adalah untuk menangani efek endometriosis itu sendiri, yaitu nyeri panggul, sebfertilitas, dan kista.

Pembedahan bertujuan menghilangkan gejala, meningkatkan kesuburan, menghilangkan bintik-bintik dan kista endometriosis, serta menahan laju kekambuhan. Penanganan bedah yang dapat dilakukan antara lain

1. Penanganan Pembedahan Konservatif. Tujuan dari pembedahan ini adalah untuk mengangkat semua sarang endometriosis dan melepaskan perlengkatan serta memperbaiki kembali struktur anatomi reproduksi.

(35)

Sarang endometriosis dibersihkan dengan eksisi, ablasi kauter, ataupun laser. Sementara itu kista endometriosis < 3 cm di drainase dan di kauter dinding kista, kista > 3 cm dilakukan kistektomi dengan meninggalkan jaringan ovarium yang sehat. Penanganan pembedahan dapat dilakukan secara laparotomi ataupun laparoskopi. Penanganan dengan laparoskopi menawarkan keuntungan lama rawatan yang pendek, nyeri pasca operatif minimal, lebih sedikit perlengkatan, visualisasi operatif yang lebih baik terhadap bintik-bintik endometriosis. Penanganan konservatif dapat menjadi pilihan pada perempuan yang masih muda, menginginkan keturunan, memerlukan hormon reproduksi, mengingat endometriosis ini merupakan suatu penyakit yang lambat progresif, tidak cenderung ganas, dan akan regresi bila menopause. Terapi obat-obatan dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah endometriosis sebelum operasi, dan untuk memfasilitasi penyembuhan segera dan mencegah kekambuhan setelah operasi

2. Penanganan Pembedahan Radikal. Dilakukan dengan histerektomi dan bilateral salfingo-ooforektomi. Ditujukan pada perempuan yang mengalami penanganan medis ataupun bedah konservatif gagal dan tidak membutuhkan fungsi reproduksi. Setelah pembedahan radikal diberikan terapi substitusi hormone.

3. Penanganan Pembedahan Simtomatis. Dilakukan untuk menghilangkan nyeri dengan presacral neurectomy atau LUNA (Laser Uterosacral Nerve Ablation).

J. Komplikasi

(36)

Kista endometriosis jika tidak segera diobati akan menyebabkan beberapa komplikasi seperti endocrynopathy yang memungkinkan terjadinya infertilitas. Infertilitas dapat disebabkan karena adanya adhesi atau perlengketan sehingga menghambat transportasi oosit oleh tuba falopi. Selain infertilitas, komplikasi kista endometriosis yang lain yaitu obstruksi. kolon, obstruksi ureter, peritonitis, ruptur dan infeksi kista coklat.8

K. Prognosis

Endometriosis sulit disembuhkan kecuali perempuan sudah menopause.

Setelah diberikan penanganan bedah konservatif, angka kesembuhan 10-20%

pertahun.14

(37)

BAB IV ANALISIS KASUS A.Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Kasus Teori

1. Pasien Ny. S, 37 tahun Angka kejadian endometriosis per tahun, yaitu 1,6 kasus per 1000 pada perempuan usia 15−49 tahun.11

Endometriosis paling sering ditemukan pada wanita yang melahirkan di atas usia 30 tahun disertai dengan gejala dismenore yang progresif. Pada studi yang dilakukan RSUD dr.

Soetomo Surabaya didapatkan bahwa rentang usia wanita yang terbanyak menderita endometriosis yaitu usia 30-39 tahun (39,2%).13

Endometriosis sebagian besar didapatkan pada perempuan usia reproduksi dan tidak terjadi pada perempuan usia pascamenopause yang sudah tidak memproduksi hormon estrogen.

Hormon estrogen berperan pada proliferasi endometrium saat terjadinya proses menstruasi yang normal, keadaan ini sama dengan endometriosis dimana hormon estrogen menstimulasi proliferasi endometrium ektopik dan meningkatkan respon jaringan endometriosis terhadap estrogen.13

2. Nyeri pada perut kiri bagian bawah nyeri dirasakan hilang timbul dan menjalar sampai di pinggang. Nyeri dirasakan pertama kali muncul sekitar 3 tahun yang lalu, nyeri terutama dirasakan saat pasien mengalami menstruasi

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang didapatkan sesuai dengan teori mengenai tanda dan gejala kista endometriosis. Nyeri panggul kronis yang terjadi dapat berulang. Biasanya timbul 24-48 jam sebelum menstruasi dan mereda beberapa saat setelah timbul menstruasi. Dysmenorrhea yang disebabkan oleh endometriosis tidak berhubungan langsung dengan jumlah penyakit yang terlihat. Pada wanita dengan endometriosis, kebanyakan dismenore memburuk dari hari ke hari.13

Dismenorhea bersifat siklik yaitu gejala yang muncul beberapa hari sebelum wanita mengalami haid dan gejala biasanya akan hilang atau berhenti beberapa hari setelah haid berhenti. Dengan demikian, gejala hanya timbul selama siklus haid.13

B. Pemeriksaan Penunjang

Kasus Teori

Pada USG abdomen tampak massa hipoechoic ukuran L

Pada USG dapat dilihat rongga endometriosis eksentrik. Kista Endometrioma dideteksi menggunakan USG transvagina

(38)

dengan gambaran ground-glass, homogen, internal echo difus dengan latar belakang hipoechoic.13

C.Penatalaksanaan

Kasus Teori

Tindakan Salphingo

oophorectomy sinistra dengan pembedahan laparotomi

Pembedahan dapat dilakukan apabila kista berukuran cukup besar sehingga menimbulkan gejala ataupun pada kecurigaan keganasan.

Pembedahan yang dapat dilakukan berupa cystectomy ataupun oophorectomy. Pada cystectomy hanya dilakukan pengangkatan kista tanpa mengangkat seluruh ovarium.

Sedangkan untuk lesi yang lebih besar lebih dianjurkan untuk dilakukan oophorectomy yaitu metode dnegan mengangkat seluruh ovarium karena pada kista yang berukuran lebih besar lebih rendah untuk terjadi ruptur pada saat dilakukan enukleasi. Pembedahan masih tetap menjadi pilihan untuk penanganan kista endometriosis. Telah diketahui endometrioma dengan ukuran sama atau lebih besar dari 3 cm tidak memberikan respons pada terapi medis, pembedahan endometrioma dibersihkan dengan eksisi, ablasi kauter, ataupun laser. Sementara itu kista endometriosis < 3 cm di drainase dan di kauter dinding kista, kista > 3 cm dilakukan kistektomi atau Salphingo oophorectomy.13

Pembedahan definitif kista endometriosis meliputi histerektomi abdominal total, salpingo- ooforektomi, lisis adhesi, dan pengangkatan lesi endometriotik.13

Modalitas pembedahan awalnya dilakukan secara laparotomi terbuka, namun dengan perkembangan teknologi endoskopi mulai berubah menggunakan teknik laparoskopi.

Berdasarkan data yang ada tindakan pembedahan laparoskopi dan laparotomi sama efektif untuk mengatasi nyeri endometriosis.11

(39)

DAFTAR PUSTAKA

1. European Society of Human Reproduction and Embriology (ESHRE).

Management of women with endometriosis. Guideline of the European Society of Human Reproduction ad Embriology. ESHRE Endometriosis Guideline Development Group. 2013.

2. Razzaghi MZ, Mazloomfard MM and Jafari AA. Endometriosis in : Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 3-30.

3. Baziad, A. 1992. Endometriosis and abnormal bleeding. Jakarta: Bina.

Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

4. Wenqian X, Ling Z, Lan Y, Wei X, Yicun M, Yao X, et al. Estradiol Promotes Cells Invasion by Activating b-Catenin Signaling Pathway in Endometriosis. Reproduction. 2015;150:507–16.

5. Rahmawati DS. Gambaran Karakteristik dan Pencarian Pelayanan Kesehatan pada Penderita Endometriosis di Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr. Soetomo Surabaya. Universitas Airlangga; 2016.

6. Bagaria SJ, Rasalkar DD and Paunipagar BK. Imaging Tools for Endometriosis: Role of Ultrasound, MRI and Other Imaging Modalities in Diagnosis and Planning Intervention in : Chaudhury K and Chakravarty B. Endometriosis–Basic Concepts and Current Research Trends. Intech, Croatia 2012: 437-446.

7. Luqyana SD, Rodiani. Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Endometriosis.

JIMKI. 2019;7(2):67–75.

(40)

8. Tifanni NU. 2020. Karakteristik Endometriosis di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2017 – 2019. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia. 1(3) : 289-295

9. Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Anwar M, editor. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2011. 239-249 p.

10. Adnyana P. 2020. Buku Ajar Endometriosis. 1(1) : 1-64

11. Hendarto H. 2015. Endometriosis dari aspek klinis sampai penanganan klinis. Surabaya : Airlangga University Press. 2015;1(1) : 1-47

12.Luqyana SD, Rodiani. 2019. Diagnosis Dan Tatalaksana Terbaru Endometriosis. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia. 7(2) : 67- 74

13.Iskandar. 2021. Endometriosis. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh. 7(2) : 1-12

14. Djuwantono T. 2015. Manjemen Endometriosis untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Wanita Penderita Endometriosis. Management of Accurate Endometriosis Treatment.

15. Andalas M, Maharani MK, Shafithri. 2019. Nyeri perut berulang saat haid, berisiko mandul. Jurnal Kedokteran SyiahKuala. 19(2) : 115-121

16. Suparman E. 2012. Penatalaksanaan Endometriosis. Jurnal Biomedik. 4 (2) : 69-77

Gambar

Tabel 2. Kimia Darah (19/03/2024)
Tabel 3. Imunoserologi (19/3/2024)
Gambar 2. Dokumentasi operasi J. OBSERVASI PASIEN
Gambar 2: Invasi trofoblas pada preeklampsia
+4

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Kejadian demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengamatan selama kurun waktu 20 sampai 25 tahun sejak awal ditemukan kasus DBD

Kejadian demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengamatan selama kurun waktu 20 sampai 25 tahun sejak awal ditemukan kasus DBD

Kejadian hipertensi pada remaja juga ditemukan di Indonesia.7 Berdasarkan pedoman JNC VII 2003 dalam laporan Riskesdas tahun 2013 didapatkan prevalensi hipertensi terbatas pada usia

Angka kejadian abortus yang banyak dialami oleh wanita dari rentang usia 15-44 tahun berdasarkan analisis global yang dikemukakan oleh The Lancet, Indonesia berada di urutan ke empat