• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Lahirnya Tafsir At-Tanwir

N/A
N/A
Nurul Amalia

Academic year: 2024

Membagikan " Latar Belakang Lahirnya Tafsir At-Tanwir"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Quran adalah sumber ajaran Islam. Laksana samudera yang keajaiban dan keunikannya tidak pernah sirna di telan masa, sehingga lahirlah bermacam-macam tafisr dengan metode yang beraneka ragam. Para ulama telah menulis dan mempersembahkan karya-karya mereka dibidang tafsir ini, dan menjelaskan metode-metode yang digunakan oleh masing-masing tokoh penafsir, metode-metode yang dimaksud adalah metode tahliliy, ijmali, muqaran, dan maudhu’i.Tafsir At-Tanwir hadir sebagai bahagian penting dari pemikiran tafsir progresif di abad ini. Karya ini dibidani oleh Tim Penyusun Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP), Muhammadiyah. Kontribusi gagasan yang ada di dalamnya menjadi komplemen bagi keragaman khazanah tafsir nusantara. Lahirnya Tafsir At-Tanwir ini penting dan menarik tuntuk dikaji, mengingat bahwa Tafsir At-Tanwir adalah tafsir yang lahir dari salah satu Ormas Islam terbesar dan tertua di Indonesia (1912). Kontribusi Muhammadiyah dalam pemikiran dan pengembangan Islam di Indonesia tidak dapat dipungkiri telah menampilkan diri sebagai sebuah fenomena unik dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Lahirnya Tafsir At-Tanwir dari Muhammadiyah ini tentu penting untuk dikaji.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja sistematika Literatur tafsir Al-Quran di Muhammadiyah?

2. Sebutkan dan jabarkan apa itu Kajian terdahulu terhadap tafsir Al-Qur’an di Indonesia 3. Apa saja macam-macam tafsir Al-Quran berdasarkan metodenya?

4. Apa saja Karakteristik yang di tandai oleh Tafsir?

5. Apa saja Semangat Membangkitkan Jihad dan Infak di jalan Allah SWT.

BAB 2 PEMBAHASAN

1. Sistematika Literatur Tafsir Al-Quran di Muhammadiyah

a. Sistematika Penyajian RuntutSistematika penyajian runtut adalah model sistematika penyajian penulisan tafsir yang rangkaian penyajiannya mengacu pada: (1) urutan surah yang ada dalam model mushaf standar, dan atau (2) mengacu pada urutan turunnya wahyu. Literatur tafsir secara umum menggunakan model yang pertama.

Dalam model ini, literatur tafsir disusun utuh 30 juz. Tafsir al-Bayan, di setiap awal surah, diurai dengan ringkas masalah yang berkaitan dengan surah yang dikaji.

Misalnya tentang jumlah ayat, tematema yang menjadi pokok kajian dalam surah,

(2)

nama-nama lain dari surah tersebut, dan seterusnya. Model sistematika penyajian runtut dalam Tafsir Al-Bayan ini tidak jauh berbeda dengan Tafsir Al-Azhar karya Prof. Dr. HAMKA. Dalam Tafsir Al-Azhar. Mirip dengan TafsirAl-Bayan, tafsir ini di setiap surat juga dimulai dengan “mukadimah”. Dalam mukadimah ini, diuraikan seluk beluk seputar surat yang akan ditafsirkan. Bedanya, di Tafsir Al Azhar

penjelasannya lebih rinci. Dalam surah Al-Fātiḥāḥ misalnya, diuraikan secara panjang lebar mengenai selukbeluk dan tema-tema yang menjadi pokok kajian surat, nama- nama lain surat, bahkan disertakan pula hal-hal lain yang berkaitan dengan surah, seperti Al-Fātiḥāḥ sebagai rukun sembahyang, antara jahar dan sir, dan lain sebagainya.

b. Sistematika Penyajian Tematik

Bagian kedua dari sistematika penyajian karya tafsir adalah sistematika penyajian tematik. Sistematika penyajian tematik yang dimaksud di sini adalah suatu bentuk rangkaian penulisan karya tafsir yang struktur paparannya diacukan pada tema tertentu atau pada ayat, surah, dan juz tertentu. Tema atau ayat, surah dan juz tertentu ini, ditentukan sendiri oleh penulis tafsir. Dari tema-tema ini, mufasir menggali visi Al-Quran tentang tema yang ditentukan itu.Dalam model penyajian tematik ini, mufassir biasanya mengumpulkan seluruh kata kunci yang ada dalam Al-Quran yang dipandang terkait dengan suatu tema kajian yang dipilih. Dari segi ayat yang dikaji, cakupannya bersifat spesifik dan mengerucut. Itu sebabnya, model penyajian tematik yang sebenarnya lebih bersifat teknis

ini, mempunyai pengaruh pada proses penafsiran yang bersifat metodologis. Bila dibandingkan dengan model penyajian runtut, sistematika penyajian tematik ini mempunyai kelebihan. Salah satunya adalah membentuk arah penafsiran menjadi fokus dan memungkinkan adanya tafsir silang antar ayat secara komprehensif dan holistik.

2. Kajian terhadap tafsir Al-Qur’an di Indonesia a. Kajian Tafsir Al-Qur’an di Indonesia

Ada banyak penelitian tentang tafsir Al-Qur’an di Indonesia yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu. Di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh A. H. Johns yang terbit pada tahun 1984 dengan judul Islam in the Malay World: An Exploratory Survei with Some Reference to Quranic Exegesis. Pada tahun 1991, hasil penelitian M. Yunan Yusuf dengan judul Perkembangan Metode Tafsir Indonesia.6Penelitin yang dilakukan oleh Yunan Yusuf ini hanya mengkaji

perkembangan metode-metode tafsir al-Qur’an di Indonesia. Sehingga dari segi kekayaan literatur masih belum tersentuh. Kemudian pada tahun 1992 Yunan Yusuf kembali

menerbitkan hasil penelitiannya yang lebih sedikit mendalam dan mencakup beberapa literatur tafsir

di Indonesia dengan judul Karakteristik Tafsir al-Qur’an di Indonesia Abad Keduapuluh.

(3)

Selain A. H. Johns, pada tahun 1996 ada juga sarjana barat yang meneliti kajian al-Qur’an dan tafsir di Indonesia, yaitu Howard M. Federspiel dalam bukunya Popular Indonesian Literature of the Qur’an8 dan R. M. Feener dalam artikelnya yang terbit pada tahun

1998 dengan judul Notes Towards he History of Qur’anic Exegesis in Southeast Asia. Kajian yang dilakukan oleh Howard M. Federspiel memuat 60 literatur buku-buku seputar kajian al- Qur’an, seperti ‘ulum al-Qur’an, terjemahan al-Qur’an, kutipan al-Qur’an, peranan Al- Qur’an, cara membaca al-Qur’an dan indeks Al-Qur’an. Penelitian yang dilakukan Federspiel ini lebih mengarah kepada pengayaan leteratur yang berkenaan dengan kajian al-Qur’an secara umum. Secara literatur

kajian yang dilakukan oleh Federspiel ini sangat kaya. Namun jika dilihat dari segi ke dalaman dalam mengkajinya masih sangat terbatas. Selain itu, kajian yang dilakukan oleh Federspiel ini belum menyentuh

sisi metodologi kajian tafsir al-Qur’annya.

Pada tahun 1998 A. H. Johns kembali menerbitkan hasil

peneltiannya dengan judul “Qur’anic Exegesis in The Malay World: In Search of a Profile”.

Johns dalam artikelnya ini berusaha untuk mengungkap sejarah awal kajian tafsir al-Qur’an di Indonesia. Pendekatan yang ia gunakan adalah pendekatan historis. Johns sendiri

mengakui bahwa kajiannya tidak lebih dari membuat profil perkembangan kajian ini berdasarkan beberapa karya-karya yang masih bertahan. Ada beberapa tokoh yang ia kaji dalam penelitiannya tersebut, di antaranya dalah Hamzah Fansuri seorang ulama yang hidup antara tahun 1550-1599. Pada tahun 1998 ini A. H. Johns juga menerbit artikel hasil

penelitiannya tentang seorang tokokh tafsir di Indonesia, yaitu Abd al-Ra’uf Singkili dengan judul The Qur’an in The Malay World Reflection on ‘Abd al-Ra’uf of Singkel. Jika

dibandingkan dengan penelitian-penelitannya terdahulu, penelitinnya kali ini lebih fokus dan terbatas pada satu satu tokoh saja.

Pada tahun 2000, Indal Abror menulsi artikel dengan judul Potret Kronologis Tafsir

Indonesia.13 Dalam artikel ini, Indal Abror secara historis membagi kronologi kemunculan tafsir di Indonesia menjadi beberapa periode. Fokus kajian Indal dalam penelitiannya ini adalah pemetaan sejarah periodesasi kemunculan dan perkembangan tafsir Al-Qur’an di Indonesia. Kemudian pada tahun 2002 Moch. Nur Ichwan juga pernah menerbitkan hasil penelitiannya dengan judul Literatur

Tafsir Quran Melayu-Jawi di Indonesia: Relasi Kuasa, Pergeseran dan Kematian. Penelitian ini mengungkap bagaimana relasi kuasa mempengeruhi proses penafsiran Al-Qur’an di dunia Melayu-Jawi di Indonesia.

b. Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah

Muhammadiyah, sebagai salah satu ormas Islam tertua dan terbesar di Indonesia, laku geraknya tidak bisa dipisahkan dari sumber ajarannya (Al-Qur’an dan Al-Hadis). Dengan slogan Ar-Ruju’ Ila Al-Qur’an wa As-Sunnah, tentu Muhammadiyah menjadikan kedua sumber tersebut sebagai rujukan utama. Sehingga, penafsiran AlQur’an dan Persyarikatan Muhammadiyah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

(4)

Usaha untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an sebenarnya telah dilakukan oleh Muhammadiyah sejak persyarikatan tersebut mulai berdiri. Surat Al-Ma’un dapat dikatakan sebagai salah

satu surat yang mula-mula ditafsirkan oleh KH Ahmad Dahlan pada saat itu. Berawal dari penafsiran yang dilakukan oleh Kyai Dahlan inilah kemudian Muhammadiyah dikenal sebagai ormas Islam yang

konsen bergerak dalam bidang filantropi terbesar di dunia.

Namun, usaha dalam menafsirakan Al-Qur’an oleh Muhammadiyah yang terwujud dalam bentuk kitab tafsir baru muncul pada tahun 1924 dengan ditemukannya Tafsir Al-Qur’an beraksara Honocoroko. Kemduian disusulkan dengan terbitnya Qoer’an dan Wetenschap (1929); Tafsir Al-Ashr (1930-an); Tafsir Al Qur’an: Djoez ke Satoe (1930-an); Tafsir

Tematik Al-Qur’an tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama (2000); dan terbaru adala Tafsir At-Tanwir Jilid 1 (2016) yang

dikaji dalam buku ini. Khusus tafsir yang disebut terakhir merupakan tafsir monumental milik Muhammadiyah. Walaupun penulisannya belum genap 30 juz, namun hal tersebut tidak mengurangi minat para pemerhati studi Islam di Indonesia untuk mengkaji.

Pada tahun 2017, Syamsul Hidayat telah mengkaji Tafsir At-Tanwir dengan judul “Tafsir Jama’i untuk Pencerahan Umat: Telaah Tafsir AtTanwir Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah”.23 Kajian yang dilakukan oleh Hidayat bertujuan untuk melihat posisi Tafsir At-Tanwir

dalam peta kajian tafsir al-Quran di Indonesia pada masa kini. Kajian difokuskan pada bentuk, metode dan corak penafsiran yang digunakan oleh tafsir tersebut. Namun hasil penelitian Hidayat menyebutkan bahwa kelemahan dari Tafsir At-Tanwir adalah tidak atau belum

mengemukakan karakteristik tafsir yang dilakukan ini dibanding dengan tafsir yang lainnya.

Padahal menurut hemat penulis, setelah melakukan kajian mendalam telah ditemukan bahwa Tafsir At-Tanwir memiliki karakteristik dan corak yang kuat dan jelas. Termasuk corak tafsir ilmi yang begitu kental, khusunya ketika menafsirkan ayat-ayat kauniyah, seperti penciptaan alam semesta, penciptaan manusia dan lain-lainnya. Kajian yang dilakukan oleh Hidayat dapat dikatakan masih lemah dalam analis dan masih belum komprehensif.

Pada tahun 2019 Tafsir At-Tanwir juga dikaji oleh Arivaie Rahman dengan judul “Tafsir At- Tanwir Muhammadiyah dalam Sorotan: Telah Otoritas Hingga Intertekstualitas Tafsir”.

Penelitian ini berfokus pada penulisan di balik layar Tafsir at-Tanwir. Selain itu, penelitian tersebut juga mengkaji gagasan untuk mengembangkan interpretasi

Al-Qur'an, dalam bentuk arahan dan pentingnya penafsiran, sistematis dan teknis, dan sumber-sumber referensi dalam penafsiran. Beberapa kesimpulan didapat dalam penelitian tersebut: pertama, para penulis

Tafsir At-Tanwir adalah akademisi dan aktivis Muhammadiyah, mereka bekerja di universitas-universitas Islam terkemuka di Indonesia.

(5)

Dari sini kemudian Rahman menyebut Tafsir At-Tanwir merupakan tafsir akademik. Kedua, pentingnya menulis Tafsir At-Tanwir adalah memobilisasi ideologi puritan Muhammadiyah.

Selain itu, Tafsir AtTanwir tafsir yang responsif, menghasilkan dinamika, dan mengandung etos Muhammadiyah, dalam bentuk etos ibadah, ekonomi, sosial, dan sains. Penelitian tersebut tampak belum mengeksplor lebih jauh terhadap karakteristik, tujuan dan corak tafsir.

3. Macam-macam Tafsir Al-Qur'an Berdasarkan metodenya a. Tafsir bil Ma’tsur/Tafsir Riwayah

metode menafsirkan Alquran dengan Alquran, hadits, atau perkataan para sahabat.

Alasannya, para sahabat mendengar penjelasan langsung dari Rasulullah SAW dan merupakan saksi atas turunnya ayat-ayat Alquran.

Hukum Tafsir bil-ma'tsur adalah harus diikuti dan dijadikan pedoman, karena merupakan jalan pengetahuan yang benar, serta merupakan cara paling aman untuk menjaga diri dari tergelincir dan kesesatan dalam memahami Kitabullah.

Beberapa yang termasuk ke dalam kitab-kitab Tafsir bil Ma’tsur adalah sebagai berikut:

● Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an (Tafsir Ath-Thabary) karya Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yajid bin Katsir ibnu Ghalib Ath-Thabari.

● Ma’alimut Tanzil karya Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al- Farra’ Al-Baghawi.

● Al Muharrir al Wajiz fi Tafsir Al Kitab Al ‘Aziz karya Abdul Haqq bin Ghalib bin Abdi Rauf bin Tamam bin Abdillah bin Tamam bin Athiyyah Al-Andalusi Al- Gharnathi.

b. Tafsir bi Ra’yi/Tafsir Dirayah Tafsir ini terbagi menjadi dua metode, yaitu:

● Tafsir bir-ra'yi al mahmud (diperbolehkan)

Ini adalah metode penafsiran Alquran dengan cara ijtihad yang disandarkan kepada ilmu-ilmu ushul, baik dari ilmu lughah atau ilmu syar'i dan juga ulumul Quran.

Metode ini didasarkan pada firman Allah SWT, “Maka tidakkah mereka menghayati Al- Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Adapun beberapa kitab yang termasuk dalam Tafsir Bir-ra’yi Al-Mahmud, yaitu:

° Mafatihul Ghaib karya Muhammad bin Umar bin Husain Ibnu Al-Hasan bin Ali At-Tamimi Al-Tabaristani Ar-Razi.

° Al-jami’ Liahkami Qur’an karya Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh Al-Anshary Al-Khazraji Al-Andulisy.

(6)

°Madarikut Tanzil wa Haqa’iqut Ta’wil karya Syeikh Al-Alim Az-Zahid Abdullah bin Ahmad An Nasafi.

● Tafsir al Mazhmum (tercela/terlarang)

Ini adalah penafsiran berdasarkan Alquran tanpa ilmu atau mengikuti hawa nafsu dan kehendak pribadi, tanpa disandarkan dengan kaidah-kaidah bahasa atau ulumul Quran.

Hukum tafsir ini adalah haram, sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS.

Al-Isra:36). Kitab-kitab Tafsir al Mazhmum di antaranya adalah sebagai berikut:

● Tafsir MuMu’tazilah.

● Tafsir Syi’ah.

● Tafsir Zayidiyah.

● Tafsir KhKhawarij.

c. Tafsir Bil-isyarah/Tafsirul Isyari

Ini adalah tafsir yang menggunakan metode penafsiran melalui isyarat suci yang timbul dari riyadhah ruhiyah. Orang sufi meyakini bahwa riyadhah ruhiyah bisa mengantarkan seseorang ke dalam derajat yang bisa membuka isyarat-isyarat suci.

Tafsir ini biasa disebut tafsir sufi atau tasawuf. Hukum tafsir ini adalah ikhtilaf, ada yang melarang, namun ulama yang memperbolehkan mengajukan beberapa syarat sehingga tafsir ini bisa diterima. Berikut adalah beberapa kitab Tafsir Bil-isyarah, yaitu:

● Tafsir Al-Qur'an Al Karim karya Sahal bin Abdullah At Tistari.

● Haqaiqut Tafsir karya Abu Abdurrahman As Sulami.

● AI Kasfwal Bayan karya Ahmad bin Ibrahim An Nisaburi.

● Tafsir Ibnu 'Arabi karya Muhyiddin Ibnu Arabi.

● Ruhul Ma'ani karya Syiha- buddin Al Alusi.

d. Tafsir Fuqaha

Tafsir Fuqaha adalah metode penafsiran dengan menonjolkan penafsiran hukum-hukum yang terkandung dalam Alquran. Tafsir ini diperbolehkan untuk dijadikan pedoman jika

penafsirnya telah disepakati.

Namun, tafsir ini juga ada yang terlarang jika penafsirnya adalah dari kalangan ulama

mazhab Ahmadiyah, Zayidiyah, Syiah, serta mazhab terlarang lainnya. Di antara tafsir fuqaha adalah:

● Ahkamul Quran karya Abu Bakar Ahmad bin Ali Ar-Razy.

● Ahkam Al-Qur’an karya Abu Bakr Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Ma’afiri Al Andalusi.

(7)

● Aljami’ Li Ahkamil Quran karya Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji al-Andulisi.

e. Tafsir Kontemporer

Tafsir ini ditulis oleh ulama-ulama kontemporer. Yang termasuk dalam kitab tafsir tersebut adalah:

● Jawahir fi Tafsiril Qur'an karya Tanthawi Jauhari.

● Tafsir Almanar karya Rashid Ridha.

● Fi Zhilalil Qur'an karya Sayid Quthb.

● Tafsir Almaraghy karya Musthafa Almaraghy.

● Tafsir Al-Bayani lil Qur’anil Karim karya Dr. Aisyah Abdurrahman.

f. Tafsir Maudhu’I (Tematik)

Ini merupakan penafsiran Alquran dengan metodemenyusun ayat-ayat Alquran menjadi sebuah tema atau judul. Salah satu karya besar dari Tafsir Maudhu’I adalah Al-Futuhat Al- Rabbaniyyah fi Al-Tafsir karya Dr. Al-Husain Abu Farhah.

4. Karakteristik yang di tandai Tafsir a. Responsivitasalam

tafsir ini diharapkan respons terhadap situasi konkret lebih ditonjolkan sehingga tafsir ini tidak hanya sekedar kumpulan dan kliping terhadap tafsir-tafsir yang sudah ada, melainkan diupayakan sebagai pencerminan dari dialog dan pergulatan dengan persoalan konkret yang sedang berkembang.

b. Membangkitkan dinamika.

Dalam tafsir ini diharapkan bahwa uraiannya (tafsirnya) tidak hanya sekedar menyajikan petunjuk-petunjuk kehidupan secara normatif, meskipun ini sangat penting dan tidak boleh diabaikan, tetapi juga berisi gagasan-gagasan dan pikiran yang dapat menjadi inspirasi bertindak kepada pembacanya dan sumber motivasi berbuat dalam membangun kehidupan masyarakat

yang lebih baik sehingga karena itu dimensi kedalaman ruhani, sensitivitas nurani dan kesadaran kalbu yang dijalin dengan rasionalitas pemikiran menjadi titik sasar penting dalam kupasan tafsir.

c. Membangkitkan etos.

Tafsir ini diharapkan juga dapat membangkitkan etos yang sangat perlu dalam mendorong kehidupan masyarakat dalam membangun diri dan melampaui ketertinggalannya.

● Etos ibadah, berupa pembaruan nilai-nilai ibadah yang tidak sekedar mekanis-ritualis yang berujung pada kesalihan individual semata, melainkan mampu melahirkan tindakan praksis dalam bingkai kesalihan sosial. Ibadah, selain sebagai wujud

penghambaan diri kepada Allah swt juga harus dapat memberi pengaruh positif yang

(8)

riil dalam masyarakat, seperti halnya pernah dicontohkan oleh KHA Dahlan dengan konsep teologi amal dengan spirit al-Mā’ūn.

● Etos ekonomi, termasuk di dalamnya etos kerja, perlu mendapat penekanan di mana ada kesempatan untuk menguraikannya. Konsep-konsep semangat kerja, disiplin, tepat waktu, orientasi hasil, hemat walau tidak kikir, kerjasama, selalu meningkatkan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan, tanggung jawab, senantiasa menjadi fokus perhatian dalam tafsir. Tentu saja hal itu dikemukakan pada saat menafsirkan ayat yang relevan.

● Etos sosial berupa solidaritas, persaudaraan, toleransi, demokrasi, orientasi

kepentingan bersama, kesadaran lingkungan baik sosial maupun fisik, penghargaan kepada orang lain, pengendalian diri, kepedulian sosial, semangat berkorban di jalan Allah, untuk menyebut beberapa saja sebagai contoh menjadi perhatian dan fokus kupasan tafsir. Termasuk ke dalam pengembangan etos sosial adalah etos pengelolaan organisasi berupa kemampuan menarik partisipasi masyarakat, amanah, transparansi, keadilan, akuntabilitas, visioner dan seterusnya.

● Etos keilmuan perlu mendapat perhatian sesuai dengan semangat agama Islam sendiri yang meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu.

5. kkk

BAB 3 PENUTUP

KESIMPULAN

1. Sistematika Literatur Tafsir Al-Quran di Muhammadiyah terbagi menjadi 2 yaitu:

a. Sistematika Penyajian Runtut Sistematika

(9)

b. Sistematika Penyajian Tematik

2. Kajian terhadap tafsir Al-Qur’an di Indonesia terbagi menjadi 2 yaitu:

a. Kajian Tafsir Al-Qur’an di Indonesia b. Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah

3. Macam-macam Tafsir Al-Qur'an Berdasarkan metodenya terbagi menjadi 6 yaitu:

a. Tafsir bil Ma’tsur/Tafsir Riwayah b. Tafsir bi Ra’yi/Tafsir Dirayah c. Tafsir Bil-isyarah/Tafsirul Isyari

° Tafsir Al-Qur'an Al Karim karya Sahal bin Abdullah At Tistari.

° Haqaiqut Tafsir karya Abu Abdurrahman As Sulami.

° AI Kasfwal Bayan karya Ahmad bin Ibrahim An Nisaburi.

° Tafsir Ibnu 'Arabi karya Muhyiddin Ibnu Arabi.

° Ruhul Ma'ani karya Syiha- buddin Al Alusi.

d. Tafsir Fuqaha e. Tafsir Kontemporer

° Jawahir fi Tafsiril Qur'an karya Tanthawi Jauhari.

° Tafsir Almanar karya Rashid Ridha.

° Fi Zhilalil Qur'an karya Sayid Quthb.

° Tafsir Almaraghy karya Musthafa Almaraghy.

° Tafsir Al-Bayani lil Qur’anil Karim karya Dr. Aisyah Abdurrahman.

f. Tafsir Maudhu’I (Tematik)

4. Karakteristik yang di tandai Tafsir terbagi menjadi 2 yaitu:

a. Membangkitkan dinamika.

b. Membangkitkan dinamika.

c. Membangkitkan etos.

° Etos ibadah

° Etos ekonomi

° Etos sosial

° Etos keilmuan

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan judul skripsi “ Peran Kiai Haji Muhammad Sholeh dalam mengembangkan Pondok Pesantren At-Tanwir Talun Sumberrejo- Bojonegoro pada Tahun 1954- 1992” ini

Kajian ini menyingkap tentang aspek penulisan dan aspek hermeneutik dari kelima tafsir tersebut, meskipun belum rinci dan mendalam.59 Tulisan serupa dalam versi yang lebih

Dalam penelitian ini penulis akan membahas salah satu kitab tafsir yang monumental pada abad V H karya Imam Ibnul Jauzi (597 H) yang secara sempurna membahas

Sebuah perjalanan panjang tentang lahirnya istilah andragogi dalam pendidikan, namun pemikiran-pemikiran yang lebih fokus baik dari segi konsep teori, filsafat

Selain itu dalam konteks lokal Pondok Pesantren Muhammadiyah at-Tanwir Kota Metro lahir dari sebuah kegelisahan dan kekhawatiran atas gejala semakin langkanya kader umat dalam

Dokumen ini membahas hubungan antara ilmu Qiraat (variasi bacaan Al-Qur'an) với việc giải thích (tafsir)

Dokumen ini membahas pentingnya filsafat dalam pendidikan, khususnya pemikiran Thomas Aquinas di zaman abad

Dokumen ini membahas tentang konsep ayat-ayat pedang dalam tafsir al-Azhar karya