PENDAHULUAN
Masalah Penelitian
- Identifikasi Masalah
- Pembatasan Masalah
- Perumusan Masalah
Perhatian utama dari penelitian ini adalah pembentukan sistem manajemen risiko operasional yang efektif di bank. Diperlukan definisi operasional yang tepat tentang sistem manajemen risiko operasional berdasarkan praktik perbankan.
Tujuan Penelitian
Bank memerlukan suatu sistem manajemen yang dirumuskan untuk menjalankan fungsi manajemen risiko operasionalnya secara efektif. Menyempurnakan model penerapan sistem manajemen risiko operasional yang efektif bagi bank berdasarkan faktor kunci keberhasilan.
Manfaat Penelitiaan
Sistematika Pembahasan
Landasan Teori
- Risiko Operasional
- Alasan mengelola risiko operasional
- Definisi risiko operasional
- Posisi risiko operasional diantara risiko lainnya
- Komponen dan karakter risiko operasional
- Regulasi dan Standarisasi Manajemen Risiko Operasional
- Regulasi dan standarisasi International
- Regulasi di Indonesia
- Manajemen Risiko Operasional
- Identifikasi risiko
- Pengukuran risiko
- Pemantauan risiko
- Penanganan/pengendalian risiko
Permasalahan utama dalam proses identifikasi risiko dan penyusunan sistem manajemen risiko operasional adalah tersedianya database kerugian risiko operasional. Departemen manajemen risiko harus melakukan pemantauan risiko operasional secara berkelanjutan terhadap seluruh risiko operasional dan kerugian (loss event) yang mungkin timbul.
Penelitian Sebelumnya
- Sistem Manajemen Risiko Operasional (Thitima 2008)
Gagasan utama penelitian Thitima (2008) adalah merumuskan teori (konstruksi teori) tentang seberapa efektif penerapan manajemen risiko operasional pada perusahaan. Untuk itu, dilakukan studi literatur secara komprehensif dan diskusi mendalam dengan pakar manajemen risiko. Sistem manajemen pengelolaan kerugian dari proses operasional didasarkan pada kepemimpinan, perencanaan dan penyelarasan strategis, implementasi, pemantauan dan perbaikan berkelanjutan, pelatihan dan penilaian kinerja. penilaian), keterlibatan dan pemberdayaan karyawan, dan komunikasi.”
Menurut Thitima (2008), banyak penelitian tentang sistem manajemen menunjukkan bahwa sistem manajemen yang efektif mempunyai hubungan langsung dengan peran dan sikap manajemen puncak dalam organisasi. Menerapkan sistem manajemen risiko operasional berarti sistem dijalankan sesuai rencana berdasarkan tujuan organisasi (Zhang 2000 dalam Thitima 2008). Terziovski (dalam Thitima 2008) menyatakan bahwa harus ada komunikasi dua arah antara karyawan dan manajemen mengenai sistem manajemen risiko operasional untuk memastikan pengambilan keputusan yang tepat setiap saat.
Kerangka Pemikiran
Dari penelitian ini kemudian dapat dirumuskan model sistem manajemen risiko operasional yang menyempurnakan model sebelumnya. Departemen Manajemen Risiko Operasional mempunyai divisi khusus yang bertanggung jawab terhadap sistem informasi manajemen risiko operasional. Sementara itu, penelitian yang merumuskan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan penerapan sistem manajemen risiko operasional masih sangat terbatas.
Dalam penelitian ini telah dilakukan kajian komprehensif mengenai penerapan sistem manajemen risiko operasional pada Bank X di unit treasury. Kajian yang dilakukan berhasil menjawab pertanyaan penelitian pertama dengan mendefinisikan (definisi operasional) sistem manajemen risiko operasional. Pengujian statistik model manajemen risiko operasional dengan menggunakan kuesioner akan semakin memperkuat hasil penelitian yang dilakukan.
METODE PENELITIAN
Metodologi Pengumpulan Data
Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung, yang dalam penelitian ini meliputi: jurnal, buku, hasil penelitian yang berkaitan dengan objek penelitian, laporan tahunan dan laporan kerja Bank.
Teknik Perolehan Data
Dalam penelitian ini analisis data digunakan untuk menyimpulkan dan merekomendasikan berbagai hal terkait dengan tujuan penelitian sistem manajemen risiko operasional. Kedua hal inilah yang menjadi alasan Bank melakukan hal tersebut, Komite Manajemen Risiko bertindak sebagai manajemen senior dalam konteks penerapan manajemen risiko operasional.
Pada akhirnya, regulasi perbankan perlu lebih ketat dalam mendorong perbaikan dan pengembangan manajemen risiko operasional. Bank sedang mengembangkan lingkungan yang mendukung manajemen risiko operasional dan kerangka kerja manajemen risiko yang efektif dan sukses. Audit internal mempunyai fungsi yang sangat penting dalam sistem manajemen risiko operasional, yaitu dalam hal pengendalian dan pengembangan berkelanjutan terhadap penerapan manajemen risiko operasional yang efektif.
Inisiatif dari manajemen senior inilah yang kemudian menjadi faktor kunci keberhasilan pengelolaan risiko operasional pada aktivitas bisnis treasury. Perencanaan teknis pengelolaan risiko operasional (metode teknis dalam dokumentasi, identifikasi, pengukuran dan mitigasi risiko operasional) merupakan tugas Market and Operational Risk Group khususnya Kepala Departemen ORM. Treasury Operation Department, ORM Department dan Internal Audit Group juga memiliki fungsi pemantauan terhadap kinerja manajemen risiko operasional Bank X (Continuous Monitoring and Improvement).
Modul manajemen proses mengimplementasikan proses-proses utama dalam sistem manajemen risiko operasional, yaitu perencanaan dan koordinasi strategis, implementasi, pemantauan dan perbaikan berkelanjutan pada keseluruhan sistem.
Metodologi Analisa Data
Analisis Model Sistem Manajemen Risiko Operasional
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thitima (2008), sistem manajemen risiko operasional diartikan sebagai “suatu sistem manajemen untuk mengelola kerugian dari proses operasional berdasarkan kepemimpinan, perencanaan dan penyelarasan strategis, implementasi, pemantauan dan perbaikan terus-menerus (monitoring dan perbaikan berkelanjutan), pelatihan dan penilaian kinerja, keterlibatan dan pemberdayaan karyawan, dan komunikasi.” Dengan kata lain, untuk menerapkan sistem manajemen risiko operasional secara efektif, diperlukan tujuh elemen (faktor kunci keberhasilan) yang disebutkan dalam definisi tersebut. Ketujuh elemen tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga modul utama, manajemen puncak, manajemen proses, dan manajemen sumber daya manusia. yang dilakukan oleh Thitima (2008) dilakukan, memandang sistem manajemen risiko operasional sebagai bagian dari sistem manajemen yang tujuannya untuk memastikan bahwa bisnis berjalan dengan baik (doing things right) sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan. operasi harus dibatasi seminimal mungkin.
Dalam kuesioner (khususnya yang berbentuk pertanyaan tertutup), fungsi responden hanya sebagai pihak yang membenarkan teori yang dirumuskan peneliti, namun tidak mempunyai kesempatan untuk merevisi teori tersebut. Pada subbab selanjutnya akan digunakan metode kajian di bidang perbankan untuk mengadaptasi teori sistem manajemen risiko operasional yang dirumuskan oleh Thitima untuk diterapkan pada perbankan.
Gambaran Umum Bank X
Saat ini berkat kerja keras 22.408 karyawan yang tersebar di 1.027 kantor cabang dalam negeri dan 5 kantor cabang luar negeri termasuk perwakilan dan didukung oleh anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang: perbankan investasi, perbankan syariah dan bancassurance untuk klien swasta dan perusahaan milik. pelanggan pemerintah, komersial, usaha kecil dan mikro serta konsumen. Unit usaha treasury dipilih karena merupakan unit kerja yang sangat spesifik dan jumlah pegawainya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pegawai keseluruhan. Meski bekerja di bawah tekanan tinggi, staf bendahara tidak boleh melakukan kesalahan yang berdampak buruk.
Elemen Sistem Manajemen Risiko Operasional (Bank X Unit
- Operational Risk Committee
- Operational Risk Management Departement
- Treasury Operation Departement
- Settlement & Investigation Section
- Accounting and Information System Section
- Pooling Banknote Section
- Derivative Control and Treasury System Development
- Internal Audit Group
- Human Capital Group
- Technology & Operational Group
Elemen Sistem Manajemen Risiko Operasional (Unit Treasury Bank X). misalnya dalam kasus Bank Bearing dan Bank Duta). Risiko dari Risk and Capital Committee (RCC) yang meliputi o dan risiko operasional dengan tujuan mencapai keuntungan yang maksimal sesuai dengan strategi kehati-hatian bank Basel II dengan el II Compliance sel II Accord yang. Setiap unit kerja bertanggung jawab untuk memahami dan melaksanakan proses manajemen risiko operasional secara terukur, proaktif dan efisien, sesuai dengan prinsip pencegahan.
Pengelolaan bank yang terbuka dapat menunjukkan kepada pemangku kepentingan bahwa bank mampu menjalankan fungsi manajemen risiko operasional dengan baik. Voting di Bank Risiko operasional yang timbul dapat berdampak pada satu, dua, tiga, atau keempat jenis dampak tersebut.
Terkait dengan manajemen risiko operasional pada bisnis unit treasury, Departemen Operasional Treasury mempunyai peran yang sangat penting dalam memastikan seluruh aktivitas di unit treasury berjalan sesuai aturan. Risiko operasional disebabkan oleh kegagalan sistem pemantauan dan pengelolaan atau karena kesalahan manusia.
Definisi Operasional Sistem Manajemen Risiko Operasional
Salah satu tugas manajemen puncak adalah memastikan independensi operasional dan pelaporan unit manajemen risiko dari unit bisnis. Pengendalian internal bersifat independen dan obyektif terhadap fungsi manajemen risiko dan manajemen bisnis, begitu pula sebaliknya. Departemen ORM berkewajiban memantau pelaksanaan strategi manajemen risiko operasional yang disetujui oleh direksi bank dan BI, memantau seluruh tingkat risiko yang ditanggung oleh bank dan.
Yang dimaksud dengan manusia adalah keterampilan manajemen dan keterampilan lain yang dibutuhkan sumber daya manusia Bank X dalam melakukan manajemen risiko operasional. Dalam hal pengelolaan risiko operasional pada unit bisnis treasury, teknologi informasi mempunyai peran penting pada seluruh level proses manajemen risiko operasional (identifikasi, pengukuran, pemantauan dan penanganan/pengendalian risiko). Berdasarkan kajian terhadap penerapan sistem manajemen risiko operasional di Bank, penerapan, pemantauan dan perbaikan berkelanjutan, pelatihan dan evaluasi kinerja, keterlibatan dan pemberdayaan pegawai, komunikasi dan budaya risiko (culture and communications) serta dukungan teknologi informasi.
Penyempurnaan Sistem Manajemen Risiko Operasional
- Elemen Dalam Sistem Manajemen Risiko Operasional
- Elemen 1: Leadership
- Elemen 2: Planning and strategic alignment
- Elemen 3: Implementation
- Elemen 4: Monitoring and continuous improvement
- Elemen 5: Training and performance appraisal
- Elemen 6: Employee involvement and empowerment
- Elemen 7: Culture and communication
- Elemen 8: Information technology support
- Model Sistem Manajemen Risiko Operasional
- Modul 1: Top management
- Modul 2: Proces management
- Modul 3: Human resources management
- Modul 4: Technology management
- Rangkuman model
Karena risiko operasional lebih banyak berasal dari faktor internal, maka beberapa peneliti menyimpulkan bahwa penerapan sistem manajemen risiko operasional yang terintegrasi dengan proses manajemen perusahaan dapat mengurangi kerugian akibat risiko operasional. Penelitian yang dilakukan oleh Thitima (2008) memberikan model kunci keberhasilan sistem manajemen risiko perusahaan dari hasil studi literatur dan studi empiris pada perusahaan non-keuangan di Australia. Langkah selanjutnya adalah merumuskan model kunci keberhasilan sistem manajemen risiko operasional perbankan berdasarkan definisi operasional yang diperoleh dari studi kasus Bank X, sehingga pertanyaan penelitian kedua juga terjawab.
Dari hasil kajian sistem manajemen risiko operasional ini, penulis menyarankan agar bank (khususnya Bank X) memperkuat sistem manajemen operasionalnya dengan memperhatikan 8 faktor keberhasilan yang dirumuskan dalam penelitian ini. Mengingat penerapan sistem manajemen risiko operasional sangat bergantung pada situasi dan kondisi masing-masing organisasi, maka sebaiknya manajemen bank menyesuaikan modelnya dengan keadaan dan keunikan masing-masing organisasi. Penelitian ini menjawab aspek “apa” pada sistem manajemen risiko operasional, namun seperti penelitian sebelumnya tidak dapat menjawab aspek “mengapa” pada sistem manajemen risiko operasional.
KESIMPULAN
Saran Operasional
Penelitian ini hanya melakukan studi kasus terhadap Bank di Indonesia secara umum. Komite Basel tentang Pengawasan Perbankan, 2001, Risiko Operasional – Makalah Konsultasi, Makalah Dukungan untuk New Basel Capital Accord, Bank for International Settlements, Basel. Komite Basel Pengawasan Perbankan, 2002, Latihan Pengumpulan Data Risiko Operasional – 2002, Bank for International Settlements, Basel.
Operational Risk Management: 20 Firm-Wide Best Practice Strategies, John Wiley and Sons. 2000, Operational Risk Management in Financial Markets, Butterworth-Heinemann. British Bankers' Association, ed. 2001): Loss Categorization of the BBA Operational Risk Database, Operational Risk Database Association, www.bba.org.uk, London. 2002, Process Management Operational Risk: Developing a Concept for Adapting Process Management to Operational Risk Needs in the Basel II Framework.
Keterbatasan dan Saran Untuk Penelitian Selanjutnya